BAB 2
KEPEMIMPINAN
Pada tahun 1980an, perubahan kepemimpinan, dianggap menjadi suatu permohonan
agar terbebas dari berbagai masalah nasional. Menurut Rost (1991). Di Amerika
Serikat penanganan kepemimpinan yang salah dianggap menjadi penyebab kemunduran
negara tersebut di bidang ekonomi secara global dan pada waktu yang bersamaan
menjadi sarana angkut yang diperlukan untuk memulihkan kekuasaan dan prestise
mereka yang hilang. Bennis dan Nanus (1985) menyatakan hal tersebut merupakan
"Krisis pemerintahan yang kronis sehingga tidak mampu mengatasi ekspektasi
mereka pada setiap unsur pokok yang menjadi tujuan dari setiap organisasi di
seluruh dunia" (hal .2). Burns (1978) menyebutkan bahwa "Krisis
kepemimpinan ini adalah sifat dari tidak adanya rasa tanggung jawab dalam
setiap kekuasaan baik dari para laki-laki maupun perempuan" (hal 1).
Bennis dan Nanus mengklaim “Kepemimpinan perlu mengembangkan visi-visi bahwa
setiap gerakan organisasi bertujuan untuk mengubah dari sesuatu yang tidak
berarti menjadi sesuatu yang berarti”. Pemahamam dari pengertian kepemimpinan
secara menyeluruh bisa membantu Amerika Serikat dalam hubungannya antara hilangnya kualitas moral di dunia dan
mengajarkan makna kualitas moral
tersebut secara signifikan.
Usaha-usaha ilmiah dalam meneliti makna
kepemimpinan telah menimbulkan banyak definisi, teori-teori, model-model, dan
aplikasi-aplikasi yang berbeda sehingga tidak ada kata sepakat dari
definisi-definisi kepemimpinan tersebut atau kepemimpinan yang efektif dalam
setiap organisasi. Kelihatannya, kebanyakan para sarjana akan lebih menyetujui
pendapat Burns, yang menyimpulkan bahwa "Kepemimpinan adalah sesuatu yang paling banyak
dikaji tetapi fenomena sangat minim difahami dimuka bumi" (hal 2). Rost (1991) memberikan pendapat yang
bertentangan dia mengatakan bahwa suatu kerangka yang konseptual bagi kepemimpinan tidak
bisa dibangun sampai sebuah definisi kepemimpinan dikatakan
jelas bersih, ringkas, mudah dimengerti, bisa diteliti, praktis, dan persuasif" dirumuskan; Betapapun
banyaknya definisi-definisi dan teori-teori kepemimpinan hal tersebut sudah
melayani kebutuhan-kebutuhan sementara dari para peneliti-peneliti,
organisasi-organisasi, dan masyarakat-masyarakat.
Definisi-definisi kepemimpinan semacam itu bertahan
untuk sekitar dua puluh tahun. Ketika riset membongkar defisiensi dalam teori-teori tersebut, perspektif-perspektif
baru untuk mempelajari kepemimpinan teridentifikasikan. Kompleksitas organisasi-organisasi yang modern, yang secara sangat mikrokosmik barangkali digambarkan dsalam perubahan bentuk wujud ekonomi-sosial keluarga, menyatakan bahwa
paradigma-paradigma kepemimpinan mungkin berubah dengan
cepat ketika kita memulai abad ke 21. Kondisi ini menimbulkan beberapa
pertanyaan-pertanyaan untuk para siswa; Siapa yang akan mengasumsikan
kepemimpinan di masa datang. Bagaimana nantinya paradigma-paradigma
kepemimpinan tersebut memerlukan perubahan seperti ketika para
pemimpin dan para pengikut diamati dalam peran-peran dan konteks-konteks yang
baru? Satu pengujian kepemimpinan mencerminkan satu kepemimpinan bukanlah pasti
tetapi sulit dimengerti dan terus menerus berubah. Hal tersebut mencerminkan
satu perubahan yang terus menerus pada masyarakat dunia. Bagaimana cara dan
konteks-konteks organisatoris masa kini sehingga berdampak pada teori-teori
yang ada dari kepemimpinan atau menjurus kepada kerangka-kerangka konseptual
baru mengenai kepemimpinan ?
2.1.
KEPEMIMPINAN ATAU MANAJEMEN
Buku ini menguji para pemimpin dan para
manajer dan permasalahan utama yang mereka hadapi, dan yang paling khusus, kepemimpinan atau
manajemen di dalam pendidikan. Lembaga/institusi bidang pendidikan saat ini berada dalam krisis.
Tetapi apakah Pelanggaar hukum itu pemimpin individual ataukah manager? Terlalu
sering para kepala sekolah, pengawas-pengawas,
dan para guru dipandang sebagai kambing hitam untuk permasalahan kelembagaan
yang lebih besar. Seringkali penampilan individu-individu ini diberi label
kurang. Bagaimanapun juga para pendidik, hanya dapat melaksanakan di dalam
sistim itu, di dalam proses-proses, aktivitas, dan keanggotaannya.
Bagaimana
cara kepemimpinan atau manajemen tersebut terjadi di dalam lingkungan bidang
pendidikan ini? Apakah kita mempunyai sebuah pegangan kokoh tentang pengertian kepemimpinan dan
manajemen? Apakah kepemimpinan dan manajemen itu sama? Dapatkah
pengertian-pengertian yang kita miliki meningkatkan pemahaman kita tentang
kepemimpinan, tetap bisa diadaptasikan dalam sebuah paradigma post industrial, di suatu masyarakat di mana
para pemimpin dan para manajer membantu mendesain kembali lembaga-lembaga vital
kita termasuk pendidikan?
Ketika abad ke duapuluh tutup kita menemukan bahwa kepemimpinan
dan manajemen itu telah dipelajari secara
ekstensif. Sementara studi tentang ciri-ciri leader/manager dan perilaku-perilaku
sudah memberikan pemahaman lebih besar bagi para praktisi-praktisi dan
teori-teori atau model-model dari kepemimpinan dan manajemen yang menerangkan
bahwa, tidak ada konsensus yang ilmiah pada apa yang menjadi ciri kepemimpinan
dari manajemen atau apa yang menggambarkan masing-masing. Bahwa kepemimpinan
dan manajemen bersifat beda. Tetapi alasan untuk perbedaan itu belum secara
penuh diteliti, maupun sudah ada penafsiran-penafsiran yang masuk akal untuk
menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Lalu apa kepemimpinan ? Manajemen ? Apakah
para pemimpin dan para manajer benar-benar berbeda ? Lakukan definisi-definisi
bersamaan waktu ? Apakah itu bermasalah?
Buku
dan bab ini berniat menggerakkan pemikiran siswa di bidang administrasi
pendidikan dan memprogram tujuan
atau yang lebih spesifiknya untuk meluaskan ruang lingkup pemikiran dari
pandangan kita dan menciptakan pemahaman lebih besar. sadar akan isu-isu,
permasalahan dan mereka-reka perbaikan-perbaikan dalam memahami kepemimpinan yang efektif sudah tidak lagi cukup. Ketika
kita menyertakan perkembangan teknologi dan kompleksitas yang bersifat
exponensial, kebutuhan muncul untuk pemahaman sistemik dan sistematis di dalam
bidang-bidang yang sama. Analisa, sintese, fleksibilitas dan kemampuan
beradaptasi harus melintasi bermacam tempat dan peristiwa sebelum berkembang
menjadi tindakan. Keyakinan-keyakinan kita tentang kepemimpinan harus
ditingkatkan sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat, seperti
halnya tindakan memberdayakan semua guru dan pengurus-pengurus
lingkungan-lingkungan yang baru.
Bab
ini menelaah teori-teori dan atau pendekatan kajian utama terhadap kepemimpinan. sebagaimana berikut;
a)
Kajian-kajian karakteristik/sifat yang berupaya mengidentifikasi
ciri kepribadian dan kecerdasan/inteligen para pemimpin dan mengidentifikasi hubungan-hubungan diantara dua ketrampilan-ketrampilan spesifik tersebut.
b)
Studi tingkah laku
tentang eksplorasi pola aktivitas, dan
kemampuan mengidentifikasi pola tingkah laku
c)
Hubungan antara
pengaruh dan kekuasaan adalah menyelidiki bagaimana para pemimpin menggunakan
kekuasaannya untuk mempengaruhi yang lain
d)
Situasi-situasi yang
bagaimana yang mempengaruhi hubungan perilaku pemimpin dalam efektivitas
kepemimpinan
e)
Mengembangkan hubungan
timbal balik antara para pemimpin dan para pengikut, dan
f)
Hubungan-hubungan
budaya, perilaku pemimpin dalam membangun satu kultur organisasi.
Sementara
banyak studi yang hanya fokus kepada salah satu dari pendekatan di atas tanpa
pengujian, sehingga terdapat kemungkinan pengintegrasian penemuan pendekatan
yang ganda (Yukl, 1989), harapan kita yaitu untuk memperkenalkan pembaca bahwa
terdapat banyak dimensi kepemimpinan,
dan lebih lanjut lagi untuk menjelajah setiap dimensi tersebut dengan cara yang
lebih sistemik dan sistematis.
2.2.
TEORI-TEORI CIRI KEPEMIMPINAN
Studi-studi awal tentang kepemimpinan didasarkan pada asumsi bahwa setiap individu memiliki karakteristik-karakteristik fisik tertentu, ciri
kepribadian, dan kemampuan intelektualitas yang membentuk
mereka menjadi pemimpin alami (Yukl, 1989).
Penelitian dgn menggunakan studi korelasi dalam statistik akan membandingkan
para pemimpin yang sukses dengan para pemimpin yang gagal dan untuk melihat
juga bahwa kekayaan yang ditetapkan boleh jadi suatu prasyarat untuk kepemimpinan
yang efektif. Sebaliknya, ahli teori organisasi Stogdill (Bass 1981)
mengungkapkan bahwa kepemimpinan tidak
bisa dijelaskan hanya dari segi individu atau kelompok tetapi harus
mempertimbangkan interaksi ciri-ciri pemimpin dengan variabel-variabel situational
(p.38). Kepercayaan bahwa orang-orang yang menguasai ciri-ciri kepemimpinan
efektif dapat terabaikan apabila dia sudah dalam situasi tidak lagi mendapat
dukungan (Gardner, 1990). Tambahan Smith dan Peterson meninjau ulang penelitian
dengan mengkritik terlalu sedikit pemahaman tentang keseragaman dan ciri dalam
desain kepemimpinan. Bennis dan Nanus (1985) teori Great Man dari kepemimpinan
menujukan bahwa kekuasaan lebih menunjukan kepada karakter dan membatasi
banyaknya potensi setiap pemimpin dalam regenerasi kepemimpinan. Penelitian ini
juga memberikan ide bahwa kejadian hebat dapat mentransformasi individu menjadi
pemimpin yang hebat.
2.3.
TEORI TINGKAH LAKU
Ahli teori
tingkah laku berusaha menentukan para pemimpin yang efektif dengan mengidentifikasi
kedua-duanya,baik perilaku dari para pemimpin dan akibat perilaku pemimpin pada
produktivitas bawahan; subordinat dan kepuasan pekerjaan. Studi-studi tentang
perilaku pemimpin di Universitas Iowa (White&Lippitt, 1990) menguji
pengaruh sikap bawahan; subordinat dan produktivitas sebagai gaya kepemimpinan
yang bervariasi. Para pemimpin terlatih untuk menunjukkan tiga gaya
kepemimpinan yaitu demokratis, otoriter, dan laissez faire. Setiap individual
pemimpin mempertunjukkan perilaku konsisten dengan masing-masing gaya
kepemimpinannya. Para pemimpin otoriter menentukan semua kebijakan dan
pekerjaan dengan mendikte prosedur-prosedur tugas-tugas dan tugas di dalam,
segmen-segmen yang dipisah, dan memberi pujian atau kritik dalam suatu konteks
yang pribadi. Para pemimpin demokratis menggunakan keputusan kelompok dalam
penentuan kebijakan dan diskusi dengan syarat, tugas-tugas pekerjaan dan
prosedur-prosedur alternatif untuk pencapaian sasaran, para bawahan; subordinat
yang diizinkan untuk memilih para mitra pekerjaan, dan memberi sasaran dan
memandu usul-usul ketika menawarkan pujian dan. kritik.
White dan
Lippitt (1990) menentukan bahwa gaya kepemimpinan demokratis lebih disukai oleh
para pekerja dalam arti lebih group-mindedness, keakraban, dan terdapat efisiensi
situasi-situasi demokratis. Para pekerja juga lebih menyukai gaya laissez faire
daripada gaya otoriter. Pada kasus-kasus lain, para bawahan menunjukan perilaku
dengan bersikap masa bodoh atau agresif sebagai jawaban atas para pemimpin
otoriter.
Suatu
kelompok studi kepemimpinan yang dilaksanakan di Ohio State University
mengidentifikasi dua dimensi kepemimpinan: yaitu pertimbangan dan kemampuan
untuk memulai struktur (Stogdill &Kaya, 1957). Pertimbangan digambarkan
sebagai ungkapan pemimpin itu kepercayaan, rasa hormat, kehangatan/keramahan,
dukungan, dan perhatian untuk kesejahteraan bawahan. Peneliti-peneliti
menggambarkan kapasitas itu untuk mengembangkan struktur pemicu ketika
perhatian terpusat kepada sasaran organisasi, pemimpin organisasi dan
tugas-tugas, penggambaran hubungan-hubungan bawahan yang superior, dan evaluasi
kinerja (Lunenburg &Ornstein, 1991). Korelasi-korelasi dibentuk antara dua
materi yaitu struktur-struktur pemicu dan pertimbangan, dan bawahan yang
bekerja dengan kepuasan dan performance/produktivitas seperti yang ditunjukan
oleh perilaku pemimpin itu. Bagaimanapun, hubungan sebab akibat antara perilaku
pemimpin dan kinerja bawahan tidak bisa diperkuat (Yukl, 1989). Studi-studi
Ohio State menunjukkan bahwa kepuasan bawahan dan produktivitas bisa diperbaiki
oleh para pemimpin yang menunjukkan perilaku isiatif dan pertimbangan yang
tinggi (Lunenburg &Ornstein, 1991).
Studi
kepemimpinan yang yang dilaksanakan di Universitas Michigan mencoba
mengidentifikasi hubungan antara perilaku pemimpin, proses-proses kelompok, dan
kinerja kelompok. Studi-studi ini menunjukkan tiga gaya kepemimpinan: (a)
perilaku yang berorientasi tugas serupa yang dimulai dengan struktur
kepemimpinan. (b) perilaku yang berorientasi pada hubungannya dengan pertimbangan.
(c) kepemimpinan partisipatif (Likert, 1961). Riset sebelumnya menunjukkan
bahwa kelompok kerja produktif mempunyai pemimpin yang berorientasi pada
hubungan kerja dibanding dengan pemimpin yang berorientasi tugas. Bagaimanapun
juga ketidakkonsistenan di dalam temuan penelitian, para penelit kemudian
menyimpulkan bahwa para pemimpin efektif itu adalah yang berorientasi pada
tugas dan berorientasi pada hubungan. Penemuan ini dikemukakan oleh Bowers dan
Seashore (1966) yang menentang bahwa efektivitas kelompok ditentukan oleh mutu
kepemimpinan kelompok dibanding pembedaan tugas.
Likert
(1961) empat gaya kepemimpinan adalah ekploitasi otoritas,otoritas yang
bijaksana, konsultatif, dan partisipatif
(demokratis). Likert menunjukan bahwa di dalam situasi-situasi di mana para
pemimpin menggunakan kepemimpinan partisipatif atau konsultatif, ada bukti dari
kepercayaan, penentuan sasaran kolaboratif, komunikasi dari bawah ke atas, dan
perilaku pemimpin yang mendukung. Di dalam situasi organisasi di mana kepemimpinan
exploitative yang bijaksana dalam menggunakan otoritasnya, organisasi tersebut
ditandai oleh ancaman-ancaman, ketakutan, hukuman, komunikasi, dan memusatkan
pengambilan keputusan dan kendali. Karakteristik-karakteristik ini digunakan
untuk menimbulkan penyesuaian bawahan kepada patokan-patokan sasaran dan
produktivitas organisasi. Likert juga mengusulkan bahwa para pemimpin yang menggunakan
prosedur-prosedur keputusan partisipatif lebih efektif. Rangkaian Likert sering
disebut oleh analis kepemimpinan karena menyediakan pemahaman sistematis
konsep-konsep sering kali diberlakukan untuk silang studi-studi organisasi
Dalam
berbagai riset teori kepemimpinan dilakukan percobaan untuk mengidentifikasi
satu gaya kepemimpinan yang optimal di dalam semua keadaan yang universal
(Blake & Mouton 1981; Likert 1967; Likert 1961) menyimpulkan para pemimpin
yang efektif bersifat mendukung dan berorientasi tugas. Di dalam kasus-kasus ini, orientasi
nilai, dibanding pola perilaku dari pemimpin, menjadi konsep teoritis yang
mencolok.
Sebagai
contoh, Mazzarella (Mazzarella & Grundy, 1989) mencoba untuk
mengintegrasikan riset ciri kepemimpinan dengan riset perilaku. Mazzarella
mengemukakan bahwa ciri-ciri pemimpin dan kualitas mempengaruhi perilaku
pemimpin. Ciri-ciri ini, pada gilirannya, memungkinkan para pemimpin untuk
saling berhubungan secara efektif dengan para bawahan mereka, panutan-panutan,
dan atasan-atasan atau keduanya, misalnya kemampuan untuk berkomunikasi dengan
yang lain dan situasi-situasi yang berorientasi tugas seperti kemampuan
intelektual untuk menggambarkan tugas-tugas struktur. Perilaku pemimpin itu
bisa dipengaruhi oleh suatu kelompok, hubungan yang berkualitas dengan
kepemimpinan yang efektif, sikap-sikap (keikutsertaan sosial, keahlian berkomunikasi,
dan keterampilan mendengarkan), karakteristik kualitas kepemimpinan (penentuan
sasaran, klarifikasi tujuan, visi,
keamanan, proaktif). Meski ciri-ciri dan kualitas ini dapat
dikelompokkan dan dikenali, penelitian mengungkapkan para pemimpin efektif itu
biasanya tidak memperlihatkan semua ciri
ini (Immegart, 1988, 1991).
Riset
yang ada menekankan suatu pendekatan tingkah laku dan mengidentifikasi perilaku
dan keterampilan yang bisa diajarkan kepada para pemimpin potensial. Usaha
riset berikut sudah mencoba mengidentifikasi unsur-unsur kepemimpinan, yang
didasarkan pada perilaku-perilaku sosial dalam menentukan efektivitas
kepemimpinan. Bagaimanapun juga riset perilaku, tidak mempertimbangkan dengan
seksama faktor-faktor situational (yaitu., pembedaan tugas, komposisi kelompok,
variabel-variabel lingkungan) yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan
(Lunenburg & Ornstein, 1991). Variabel tingkah laku tidak bisa diperlakukan
tetapi harus diuji dalam hubungannya
dengan faktor lain (Smith & Peterson, 1989).
2.4.
PENGARUH KEKUATAN
Usaha studi
lain untuk memahami perilaku pemimpin dari pengaruh perspektif kekuasaan.
Melukiskan kekuasaan sebagai "Suatu kekuatan yang menentukan hasil tingkah
laku dalam satu arah yang diharapkan dalam situasi yang disertai interaksi
manusia" Abbott dan Caracheo ( 1988, P.241). Kekuasaan berdasar pada
otoritas yang berasal dari posisi pemimpin yang dibentuk dalam suatu hirarki
sosial institusi dan didelegasikan oleh institusi. Gengsi kekuasaan didasarkan
pada apa yang dimiliki pemimpin itu yang diperoleh secara wajar (jujur) atau
karakteristik pribadi yang dihargai oleh orang lain. Kekuasaan ini harus
didapat oleh pemimpin melalui demonstrasi karakteristik. Mereka berargumentasi
bahwa penghargaan bukan basis dari kekuasaan, seperti yang diakui oleh Prancis
dan Raven (1968), tetapi kekuasaan yang dilatih dalam satu lingkungan
kelembagaan berdasarkan pada otoritas atau gengsi ataupun keduanya. Albott dan
Caracheo (1988) menyatakan bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang berasal
dari hak kekuasaan, para pengikut sampai kepada mereka yang memerintah,
berdasar pada otoritas dalam lingkungan kelembagaan.
Yukl (1989)
menggambarkan kekuasaan sebagai suatu kapasitas agen untuk mempengaruhi satu
atau lebih individu. Pengaruh di sini berarti untuk memiliki satu pengaruh pada
sikap target, persepsi, atau perilaku. Pengaruh kekuasaan yang digunakan
mengarah ke bawah, menyamping, atau naik dan berasal dari tiga sumber,
yaitu posisi, pribadi, dan politis (Yukl, 1989).
Posisi atau
legitimasi kekuasaan berasal dari hierarki struktur organisasi. Para pengikut
model ini termotivasi untuk mematuhi dan merasa hak kekuasaan dari pemimpin
(proses pemilihan). Para pengikut mengenali lingkup dari pemimpinnya, otoritas
dan kendali sumber daya, reward, punishment, informasi, lingkungan fisik,
dan subsistem organisasi.
Kekuasaan
personal digolongkan sebagai ahli, referensi, atau kekuasaan yang bersifat
karismatik. Penguasa yang ahli tergantung pada bagaimana para pengikut
mengenali keahlian dari seorang pemimpin yang menguasai
keterampilan-keterampilan yang jarang atau tidak bisa dengan mudah ditiru dan
siapa yang menggunakan logika dan bukti untuk membuktikan (bahwa) kemampuan
uniknya. Kekuasaan karismatik bergantung pada kemampuan pemimpin itu untuk
mengidentifikasi kebutuhan dan nilai dari para pengikut itu dan untuk
memotivasi komitmen kepada para pengikut. Tidak seperti kekuasaan karismatik
yang kuat dan dengan cepat terbentuk, kekuasaan referensi dikembangkan
pelan-pelan melalui tindakan-tindakan simbolis yang menunjukkan pertimbangan
pemimpin itu melalui pemenuhan tugas dan pembentukan sikap-sikap yang serupa
terhadap organisasi.
Suatu dasar
kekuasaan pemimpin bisa ditingkatkan melalui kuasa politis tentang
proses-proses pengambilan keputusan pengendalian, bersatu memperoleh hasil yang
diinginkan, dan meningkatkan komitmen dari orang lain dalam keputusan
melalui keikutsertaan dalam proses
pengambilan keputusan.
Satu
alternatif pandangan tentang kekuasaan dalam menggambarkan hubungannya menggunakan
suatu kuasa, spektrum kuasa sosial dalam memenuhi suatu tugas. Dari perspektif
ini, Blake dan Mouton (1961) mengenali tiga area kompetisi, kolaborasi, dan
ketidakberdayaan. Kompetisi menguraikan suatu situasi di mana masing-masing
peserta mencoba untuk mencapai atau mempertahankan kemampuan pengambilan
keputusan lengkap. Ketidakberdayaan menguraikan suatu situasi di mana
peserta-peserta tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi yang lain atau untuk
memperoleh keputusan yang memerlukan tindakan. Kolaborasi menguraikan suatu
situasi yang membiarkan para pengikut dari berbagai macam derajat tingkat
kekuasaan. Blake dan Mouton menyimpulkan bahwa suatu hubungan kekuasaan menjadi
seimbang,apabila ada kepuasan pekerjaan dan perasaan tanggung jawab yang menjadi
optimal. Dengan demikian, timbal balik pembagian tanggung-jawab pengambilan
keputusan boleh menjurus kepada yang paling tinggi keseimbangan kepuasan dan
tanggung jawabnya antara atasan dan
bawahan.
Dalam teori
kontingensi/ketidakberaturan strategis kekuasaan. Hickson, Hnnings, Lee,
Schneck, dan Pennings (1971) mengusulkan bahwa penggunaan kemampuan memecahkan
masalah dalam situasi kritis adalah keahlian yang unik yang diperlukan dalam
mimimpin dan meningkatkan kekuasaan setiap sub unit dan otoritas dalam cakupan pembuat keputusan.
Dalam model
kekuasaan kontingensi strategis lainnya Salancik dan Peffer (1977)
mengklarifikasi dan mengusulkan bahwa kuasa politis bukan sub unit kritis yang
digunakan untuk melindungi dan memelihara posisi setiap subunit meskipun
keahlian mereka sudah tidak lagi diperlukan. Kuasa dibagi bersama dalam
setiap organisasi bukan karena suatu
kepercayaan dalam pengembangan organisasi atau partisipasi demokrasi tetapi
karena tidak seorang pun orang dapat mengendalikan semua aktivitas kritis
(p.7). Tiga variabel yang mempengaruhi kuasa politis adalah kelangkaan,
kegentingan, dan ketidak-pastian. Ketika sumber daya langka atau kritis kepada
survival subunit itu dan ketika ada perselisihan paham pada sasaran atau
metoda-metoda yang organisatoris meraih sasaran hasil, subunit yang bersifat
kritis kepada organisasi menyatakan kuasa untuk mempengaruhi alokasi sumber
daya dan meningkatkan kelangsungan hidup mereka. Ketika ketidaktentuan kritis
berubah, kuasa berpegang kepada individu dan subunit berbasis kuasa.
Bagaimanapun juga, individu dan subunit-subunit ini akan menggunakan kuasa
mereka untuk mempengaruhi keputusan-keputusan organisatoris yang memastikan
kelangsungan hidup mereka. Jadi dengan demikian, kuasa menjadi yang dilembagakan
dan yang dilindungi, kemampuan pemilik untuk menetapkan struktur-struktur dan
kebijakan-kebijakan permanen bahwa memastikan posisi kuasa dan pengaruh
pemilik.
Shetty (1978)
mengemukakan bahwa tiga variabel situational dapat mempengaruhi jenis dari para
pemimpin pemegang kekuasaan. Mereka memilih untuk menggunakan variabel-variabel
yang mempengaruhi pendekatan karakteristik-karakteristik dari manajer
(otoriter, merasa yakin, dan pelatihan); karakteristik-karakteristik bawahan
(profesionalisme, kebutuhan, latar belakang budaya, dan pelatihan); dan
karakteristik-karakteristik yang organisatoris (definisi tugas, jarak
penglihatan kinerja tugas, struktur organisasi, dan kondisi-kondisi
lingkungan). Variabel-variabel ini menentukan karakteristik-karakteristik dari
kekuasaan yang sesuai di dalam situasi-situasi yang spesifik. Meski kebanyakan
para manajer berbalik ke otoritas ketika permasalahan terjadi.
Menurut Bennis
(1986), kepemimpinan melibatkan memanage hubungan-hubungan yang internal dan
eksternal. Ketika organisasi-organisasi menemukan diri mereka dalam satu
lingkungan di mana stakeholders, publik dan organisatoris, menginginkan suatu
suara di dalam pengambilan keputusan mengenai permasalahan yang dampak di
lingkungan yang berbeda, kadang-kadang berlawanan, kelompok-kelompok
masyarakat, pengambilan keputusan menjadi lebih rumit dan. tidak jelas.
Kekuasaan dihamburkan atas dasar menciptakan suatu hubungan kekuasaan yang
baru. Bennis menetapkan bahwa perubahan kuasa memerlukan kepemimpinan itu
mengetahui apa yang mereka inginkan, dan dikomunikasikan dengan niat-niat yang
sukses, memberdayakan yang lain, dan mengetahui ketika bagaimana caranya terus
tinggal dan ketika harus berubah (p.66).
Kekuasaan
transformatif tidak didasarkan oleh struktur organisasi atau manajemen, dan
fungsi-fungsi. Sumber dari kuasa adalah kemampuan para pemimpin untuk menaikkan
kesadaran, membangun maksud dan mengilhami tujuan manusia. Visi, tujuan-tujuan,
dan kepercayaan-kepercayaan dalam kultur organisasi itu memberdayakan peserta-peserta
untuk melakukan tindakan-tindakan yang rutin. Individu dan organisasi terdapat
dalam suatu hubungan saling menguntungkan (Bennis, 1986, p.71).
Sementara
pandangan-pandangan mengenai kuasa di dalam organisasi-organisasi bersifat
mengandung pelajaran, Smith dan Peterson (1989) menyatakan bahwa ada satu
"asumsi tersembunyi bahwa para pemimpin dihargai dan para anggota bersifat
membangun dari organisasi-organisasi mereka" (p. 126). Kuasa adalah
"kapasitas untuk menyempurnakan konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan
tertentu di dalam perilaku-perilaku dari orang lain," Gardner yang 1990,
mengusulkan bahwa hanya kuasa untuk memenuhi spesifik, sasaran hasil, dan bukan
suatu kuasa yang disamaratakan, fungsi-fungsi di suatu masyarakat yang keadaan
jamak seperti Amerika Serikat. Sumber dari kuasa dapat bervariasi secara luas
(harta; posisi, kepribadian; keahlian, membujuk (merayu), kemampuan-kemampuan
motivasional). Harta benda dari sumber nya boleh menyediakan layanan khusus
kepada sumber yang lain. Di dalam sistem manusia (organisasi-organisasi dan
lembaga; institusi), kuasa organisatoris diberikan kepada mereka yang menguasai
peran penting; posisi-posisi ini melembagakan sumber yang paling umum dari
kuasa di dalam dunia yang modern. Meski suatu sistem kepercayaan dengan kuat
dalam kultur-kultur boleh dengan mantap mengesahkan para pemimpin dan
mengesahkan mereka berbuat sesuatu, setiap sistem kepercayaan biasanya
menempatkan batasan-batasan dan berusaha untuk menegakkan sistem kepercayaan.
Pada akhirnya, hal ini mengurangi kuasa pemimpin itu.
Semua studi
yang tersebut diatas dari kuasa berfungsi untuk menggambarkan konsep-konsep
penting dan pemahaman kita lebih lanjut gaya-gaya kepemimpinan dan pemimpin.
Gaya kepemimpinan adalah pola dari perilaku-perilaku dari seseorang yang
mengasumsikan atau ditunjuk kepada suatu posisi pengaruh dalam satu organisasi.
2.5.
GAYA KEPEMIMPINAN
Para pemimpin
merasa para pekerja dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan mereka
mempengaruhi perilaku pemimpin itu terhadap para pekerja (Hall, 1990).
Menetapkan hubungan dengan para bawahan adalah suatu faktor yang kritis di
dalam pekerjaan mereka sebagai para pemimpin. Orang-orang bereaksi terhadap apa
yang mereka berpikir mereka lihat di pihak lain. Derajat kesaksamaan persepsi menentukan
kepantasan tindakan-tindakan itu dingambil. Ini adalah seorang perilaku
pengikut pemimpin yang timbal balik.
McGregor
(1990) memperkenalkan dua perspektif bahwa para pemimpin gunakan di dalam
berhadapan dengan para pekerja, Teori X dan Teori Y. Teori X didasarkan pada
tiga asumsi: (suatu) Manusia dengan tak terpisahkan tidak menyukai kerja dan
mencoba untuk menghindarinya. Manajemen harus menetralkan kecenderungan
alami(wajar ini), (b) Orang-orang harus dipaksa, terkendali, mengarahkan, dan
mengancam untuk mencapai sasaran organisatoris. tidak akan menjurus kepada
prestasi; hanya paksaan eksternal, kendali, dan ancaman-ancaman, (c) lingkungan
yang tidak bertanggungjawab ingin menjadi mengawasi, bersifat malas, dan sedang
mencari-cari keamanan.
Y Teori
didasarkan pada asumsi-asumsi sungguh yang berbeda: Orang-orang dengan sukarela
bekerja ketika kondisi-kondisi yang sesuai, (b) Para pekerja akan mencapai
sasaran organisatoris ke mana mereka terikat, (c) Sasaran organisatoris
kesanggupan untuk didasarkan pada pahala dari pencapaian sasaran, (d) Para
pekerja akan mencari tanggung jawab ketika kondisi yang sesuai, (d) Banyak
pekerja menguasai kemampuan itu untuk memecahkan permasalahan organisatoris,
(e) Potensi cendekiawan manusia tidak secara penuh digunakan di dalam
organisasi-organisasi.
Y Teori,
menurut dugaan orang ditemukan di dalam pertumbuhan manusia, pengembangan dan
adaptasi selektif dibanding kendali langsung, menyiratkan bahwa para pemimpin
boleh menciptakan batasan-batasan yang menghalangi para pekerja dari meraih
potensi mereka di dalam pengaturan yang organisatoris. Jadi; Dengan demikian, Y
Teori menantang banyak dari
tindakan-tindakan dan kepercayaan-kepercayaan yang rutin dari para pemimpin bahwa
operasikan dari asumsi-asumsi Teori X.
Prinsip yang
berpusat dari Teori X, prinsip hierarkhi, adalah berdasar pada kepercayaan
bahwa para pengikut memerlukan arah dan kendali melalui latihan dari otoritas
(McGregor, 1990, p.21). Prinsip pengintegrasian, prinsip Teori Y yang pusat,
adalah berdasar pada kepercayaan bahwa para pekerja dapat mencapai sasaran
terbaik mereka dengan kerja terhadap sukses organisatoris. Beberapa
karakteristik yang menyebar dari banyak organisasi-organisasi sangat dengan
kuat berurat akar di Teory X bahwa sulit karena para anggota untuk mengadopsi
suatu sudut pandang Teory Y. Satu persyaratan-persyaratan kepercayaan
organisatoris adalah bahwa ini gantikan kebutuhan individu. Dasar dari
ketenaga-kerjaan mengontrak adalah bahwa para pekerja akan menerima kendali
eksternal sebagai pertukaran dengan gaji. Bagaimanapun, prinsip pengintegrasian
mengusulkan bahwa organisasi-organisasi dapat sukses hanya jika mereka
melakukan penyesuaian kepada kebutuhan-kebutuhan dan sasaran pekerja. Dengan
cara ini, kebutuhan dari kedua-duanya organisasi dan setiap dikenal.
Meski makna
pengintegrasian yang bekerja bersama untuk sukses dari organisasi, "Asumsi
manajemen yang terkandung adalah bahwa bekerja bersama menyesuaikan kepada
persyaratan-persyaratan dari organisasi manajemen" (McGregor, 1990, p.24).
Pengintegrasian, bagaimanapun, memerlukan dorongan individu untuk berkembang
dan menggunakan kemampuan mereka dalam cara-cara yang bahwa menjurus kepada
sukses dari organisasi dan pemenuhan dari kebutuhan individu. Y Teori
didasarkan pada asumsi bahwa para pekerja akan mencapai sasaran organisatoris
yang mereka merasa terikat dengan melalui pengendalian diri dan diri sendiri.
arah. McGregor percaya bahwa derajat tingkat dari komitmen adalah yang
dipengaruhi oleh yang managerial (kepemimpinan) kebijakan-kebijakan. Oleh
karena itu, pengintegrasian, bukan otoritas adalah suatu makna yang sehat untuk
memperoleh sasaran hasil organisatoris kesanggupan untuk. Bagaimanapun, ia juga
menetapkan bahwa bahkan di kendali organisasi-organisasi Teory Y eksternal bisa
satu strategi kepemimpinan yang sesuai ketika komitmen yang asli tidak bisa
dicapai.
Asumsi-asumsi
mempunyai suatu kecenderungan untuk membatasi pandangan-pandangan dan
persepsi-persepsi kita dibanding melebarkan mereka. Asumsi-asumsi yang menginformasikan
Teori X dan Teori Y menggambarkan usaha manusia secara tertata dan diarahkan.
Tempat teori-teori ini terbatas pada strategi dan prosedur-prosedur bahwa para
pemimpin memilih untuk mengarahkan, rencana, kendali, dan mengorganisir di
dalam Situasi Kerja.
Sepertiga
unsur-unsur kombinasi teori dari Teori X dan Teori Y sudah dikembangkan untuk
mendukung klaim menawarkan jalan keluar? cara untuk memperbaiki
hubungan-hubungan antara para pekerja dan para pemimpin. 1981 Ouchi) Z Teori
menyediakan strategi dan perspektif-perspektif yang berbeda untuk mengorganisir
usaha manusia mengutamakan pengambilan keputusan konsensual dan suatu
pendekatan regu kepada proses-proses organisatoris dan berubah. Tidak Seperti X
Teori dan Teori Y, yang menggambarkan gaya kepemimpinan dari suatu atasan atau
pemimpin, Z Teori menggambarkan gaya pemimpin itu menurut kemampuan nya untuk
menciptakan satu kultur organisatoris komunikasi yang terbuka, kepercayaan, dan
sasaran organisatoris kesanggupan untuk membantu perkembangan. pengambilan
keputusan konsensual
Z Teori
memandang organisasi seperti pengembangan dari hubungan-hubungan yang informal
antara orang-orang. Pengembangan menekankan setiap orang di atas suatu
pembedaan peran yang sempit. persepsi-persepsi Z Teori para anggota
organisatoris menghapuskan dehumanisasi, authoritarianisme, dan kelas yang
istimewa di Teori X dan Teori y organisasi-organisasi bahwa pada akhirnya
mengasingkan pimpinan dan para bawahan. Untuk mengalahkan pengasingan ini, Z
Teori mendukung pengembangan gol yang dikerjakan oleh para pekerja dan
manajemen dapat berperan untuk pengembangan dari suatu kultur organisasi yang
konsisten. Proses ini membentuk suatu jenis dari asuransi untuk pemimpin yang
berharap usaha-usaha pekerja nya itu lekat dan terus menerus dibariskan dengan
sasaran dan sasaran hasil organisatoris.
Jauh sebelum Z
Teori Ouchi, pada tahun 1961. Likert mengembangkan empat sistem manajemen.
Empat sistem ini serupai sebagian dari kerangka-kerangka yang konseptual bahwa
sudah sesudah itu muncul di Teori X, Y dan Z. Likert mengusulkan miliknya itu
empat model manajemen sistem dari manajemen partisipatif mendekati satu status
negara ideal. Tiga faktor pokok dari sistim ini hubungan-hubungan yang
mendukung, keputusan kelompok yang membuat, dan sasaran kinerja ketinggian
managerial. Likert percaya bahwa para pekerja melaksanakan terbaik ketika
mereka berfungsi sebagai para anggota kerja efektif, bukan seperti individu.
Makna dari sistim Likert adalah mengakui adanya faktor yang penting dari
perilaku pekerja sebagai suatu gol kepemimpinan dan sebagai suatu faktor di
dalam memodifikasi perilaku-perilaku kepemimpinan.
X Teori-Teori
McGregor dan Y, Teori Ouchi Z dan empat sistem manajemen Likert menggambarkan
bahwa perspektif, dengan sudut pandang mana para pemimpin memandang
karakteristik-karakteristik pekerja dan sistim kebenaran yang subjektif
mengembangkan bagi mereka karakteristik-karakteristik yang menentukan gaya
kepemimpinan, strategi, dan prosedur-prosedur yang akan dipekerjakan. Para
pemimpin harus mampu mengevaluasi secara obyektif dan menantang pendekatan
bahwa mereka terbiasa dengan yakin mereka sedang mengamati para pekerja mereka
melalui suatu sudut pandang bahwa tidak menyimpangkan gambaran dari mereka para
pekerja. Z Teori menantang yang tradisional pengambil-alihan X 1'hcories dan Y dan secara rinci
menentukan suatu lensa yang baru dengan mana untuk memandang para pekerja
seperti juga struktur-struktur kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan. Adaptasi
ini boleh mengubah sasaran dan iklim organisatoris karena tanggapan pemimpin
itu kepada angkatan yang internal dan eksternal.
2.6.
KETIDAKTENTUAN DAN SITUATIONAL
Teori-Teori / model-model
Teori-teori ketidaktentuan dari efektivitas kepemimpinan
berfokus kepada lingkungan kerja pemimpin. Awal ketidaktentuan meniru
kemunculan pemimpin yang difokuskan dengan mempelajari bagaimana tugas-tugas
dan norma-norma kelompok itu menentukan ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan
dan nilai-nilai yang akan menjadi yang efektif di dalam kelompok dan bisa
diterima oleh para bawahan.
Fiedler (1967)
riset menunjukkan usaha yang pertama untuk belajar kepemimpinan dengan
pengujian situasi, orang-orang, tugas-tugas, dan organisasi. Fiedler ( Lunenburg &Ornstein, 1991;
Smith &Peterson, 1989; Yukl, 1989; Rost, 1991) menghipotesakan bahwa para
pemimpin dapat memperbaiki efektivitas mereka dengan memodifikasi
situasi-situasi untuk cocok gaya kepemimpinan mereka. Fiedler mengenali tiga
faktor situational bahwa efektivitas pemimpin pengaruh: (a) mutu hubungan-hubungan
bawahan pemimpin, (b) kuasa posisi pemimpin itu, dan (c) derajat tingkat dari
struktur tugas (Smith & Peterson. 1989, p.17).
Sebagai
hasilnya Fiedler's (1967) pekerjaan, gaya kepemimpinan sudah tidak lagi menilai
baik atau jelek. Gaya-gaya adalah agak digambarkan menurut efektivitas mereka
di dalam situasi-situasi yang spesifik. Riset Fiedler mengenal bahwa
kepemimpinan diakibatkan oleh interaksi antara gaya kepemimpinan dan
situational variabel-variabel. Pandangan ini membuka riset yang berikut bahwa
menguraikan perilaku-perilaku kepemimpinan secara holistik.
Analisa ini
perlu mengakibatkan suatu gambar atau himpunan yang jelas bersih dari tanah dan
bangunan bahwa seorang pemimpin boleh terbiasa dengan permulaan dan
menyesuaikan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur kepada sasaran
organisatoris. Berbagai strategi adalah, oleh karena itu, lebih sewajarnya
terpilih oleh seorang pemimpin mengharapkan untuk memaksimalkan komitmen
pekerja. Oleh meningkatkan kemungkinan pencapaian sasaran dan pencapaian dari
pahala, para pemimpin dapat mempengaruhi motivasi bawahan; subordinat,
kepuasan, dan pemenuhan gol. Variabel-variabel dan lingkungan menentukan jenis
dari gaya kepemimpinan pengaruh akan memiliki di motivasi, kepuasan, dan
pemenuhan gol. Analisa mengakibatkan suatu skenario terbaik antara
kebutuhan-kebutuhan organisasi itu dan gaya pemimpin itu.
Kepemimpinan
Direktif, dengan menyediakan bimbingan, prosedur-prosedur, dan koordinasi,
boleh meningkatkan motivasi bawahan dan kepuasan di dalam situasi-situasi yang
berisi kerancuan peran dukungan kepemimpinan, dengan menyediakan kesejahteraan
bawahan dan suatu atmosfer pekerjaan yang mendukung boleh meningkatkan motivasi
bawahan dan kepuasan di dalam situasi-situasi di mana tugas-tugas yang membuat
stres, atau membosankan. Kepemimpinan berorientasi prestasi boleh meningkatkan
pencapaian sasaran dengan pengaturan menantang sasaran dan patokan-patokan
selagi memelihara keyakinan pemimpin itu di dalam kemampuan-kemampuan bawahan
untuk memenuhi sasaran yang dinyatakan. Kepemimpinan partisipatif, dengan
menyediakan para bawahan dengan peluang itu untuk mengambil bagian di dalam
pengambilan keputusan tentang hal-hal yang terkait dengan tugas meningkatkan
motivasi bawahan dalam situasi-situasi di mana tugas-tugas tidak tersusun.
Teori-teori
kepemimpinan deskriptif yang muncul pada tahun 1980-an yang dilayani untuk
menerangi bidang variabel-variabel. Hersey dan 1982 Blanchard, 1988) situasi
teori kepemimpinan menyatakan bahwa perilaku pemimpin didasarkan dua dimensi
kepemimpinan, perilaku tugas dan perilaku hubungan. Dimensi-dimensi ini
dipengaruhi oleh kedewasaan bawahan (Blanchard, Zigarmi. &Zigarmi, 1987;
Rost. 1991; Smith & Peterson. 1989; Yukl. 1989). Ketika bawahan
mengembangkan keyakinan dan kemampuan, para pemimpin bertukar-tukar perilaku
mereka dengan menyesuaikan jumlah dari arah tugas dan dukungan psikologis
mereka berikan.
Variabel-variabel
perilaku di dalam para pemimpin yang mendukung saling berhubungan dengan
variabel-variabel perilaku di dalam anggota kelompok (tinggi rendahnya komitmen
dan tinggi rendahnya kemampuan/wewenang). Pemimpin memainkan berbagai
peran-peran tentang pengarahan, pelatihan, pendukung, dan mendelegasikan
seperti ketika kelompok mendewasakan dan menjadi mampu melaksanakan aktivitas
kelompok. Kedewasaan kelompok adalah tergantung di masing-masing kedewasaan.
Menguji
kebenaran Hersey dan 1982 Blanchard, 1988 teori, Hambleton dan Gumpert (1982)
menyimpulkan bahwa ada suatu hubungan penting antara gaya kepemimpinan di dalam
situasi-situasi yang spesifik dan suatu persepsi-persepsi manajer kinerja
pekerjaan bawahan. Studi mereka juga menyatakan bahwa di dalam situasi-situasi
di mana kepemimpinan situational diterapkan secara benar, kinerja pekerjaan
bawahan ditingkatkan.
Hersey dan
1982 Blanchard, (1988) situasi kepemimpinan, teori belum cukup diuji. Itu
berisi beberapa terminologi yang luas, rancu dan menghilangkan beberapa
variabel-variabel situational yang jelas nyata. Meskipun demikian, itu
mengerjakan menekankan efektivitas dari suatu gaya kepemimpinan yang fleksibel,
adaptip bahwa bervariasi perawatan dari para bawahan menurut taraf kematangan
dalam lingkungan kerja yang sama dan dalam situasi kerja yang bervariasi (Yukl,
1989).
Blake dan
Mouton (1978, 1981, 1982a, 1982b. 1990) memeriksa kembali teori kepemimpinan
menggunakan suatu dua kerangka faktor, di mana perhatian untuk produksi dan
perhatian untuk orang-orang bersifat saling tergantung tetapi tidak
menghubungkan. Mereka percaya ada satu gaya kepemimpinan terbaik: Panggangan
mereka yang managerial menyediakan “Suatu kerangka ilmu tingkah laku yang
menurut bagan untuk membandingkan sembilan teori antara hubungan-hubungan
produksi dan manusia" (Blake &Mouton, 1978). Masing-masing variabel
digambarkan di suatu sembilan titik di mana tiap titiknya menunjukkan perhatian
minimum dan sembilan menunjukkan perhatian maksimum. Model kembangkan lima gaya manajemen dan sembilan
teori dari bagaimana produksi dan orang-orang dapat terintegrasi untuk memenuhi
sasaran organisatoris. Yang didasarkan pada kepercayaan berhubungan dengan
untuk produksi.
Blake dan
Mouton (1978) mengusulkan sebagai fakta bahwa tiga teori meningkatkan: (a)
manajemen tugas (9,1) di mana fokus itu di pencapaian sasaran produksi dan di
mana manusia dipandang sebagai mesin-mesin; (b) manajemen perkumpulan olah raga
(1,9) di mana berfokus kepada hubungan-hubungan mendominasi untuk sejumlah
sasaran produksi yang mencurigakan: dan (c) menjadikan miskin/melemahkan
manajemen (1,1) di mana fokus itu adalah pada penghindaran dari pemperdayaan
Teori-teori
dari Blake dan Mouton (1978, 1981, 1982a, 1982b. 1990) mewakili; menunjukkan
suatu pendekatan situational terhadap kepemimpinan. iesearchers berasumsi bahwa
perhatian-perhatian untuk bangunan produksi dan hubungan akan konflik dan, oleh
karena itu, harus yang dipandang lebih banyak sistematik atau resiko yang
sedang dikompromikan. Dalam praktek, bersifat sistemik dari model adalah yang tercapai ini oleh gaya-gaya yang
bertukar-tukar bahwa berfokus kepada masing-masing perhatian (19 dan 9,1). Oleh
memperlengkapi kedua-duanya perhatian-perhatian melalui struktur-struktur yang
terpisah (manajemen, produksi, hubungan personil), atau dengan merasa
masing-masing faktor sebagai suatu perhatian yang terpisah bahwa dapat menangani
eksklusif produksi yang berhubungan dengan jelas dalam semua situasi manajemen,
Blake dan Mouton menetapkan bahwa teori manajemen regu adalah satu-satunya gaya
bahwa dapat secara efektif mengintegrasikan.
Vroorn dan
Yetton (1973) model sebelumnya menguji bagaimana pengambilan keputusan oleh
pemimpin, para bawahan, dan situasi untuk meningkatkan mutu keputusan; komitmen
keputusan, dan kepuasan keputusan. Model meneliti situasi-situasi keputusan dan
menentukan prosedur-prosedur keputusan yang mungkin. Vroom dan Yetton
mengevaluasi tujuh pertanyaan-pertanyaan berhadapan dengan pembagian kuasa dan
keikutsertaan di dalam proses pengambilan keputusan dan dampak mereka di gaya
kepemimpinan atau jumlah dari partisipan menentukan untuk masing-masing situasi
keputusan.
Bagaimanapun,
Vroom dan Yetton berfokus kepada hanya nya situational perilaku kepemimpinan,
pengambilan keputusan, dan asumsi mereka bahwa para pemimpin menguasai
ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan yang perlu untuk menggunakan
situasi-situasi ketrampilan dan diagnosa ini memperlemah model.
Sebagai suatu
model, Vroom-Yetton (1973) model juga mempunyai beberapa defisiensi. Model
menandai (adanya) hanya apa seorang pemimpin mestinya tidak sebagai ganti apa
seorang pemimpin perlukan, untuk memilih alternatif-alternatif ketika proses
mengakibatkan alternatif-alternatif ganda, dan itu berasumsi bahwa semua tujuh
faktor dapat digambarkan oleh "ya" atau "tanpa"
tanggapan-tanggapan. Model juga kegagalan-kegagalan untuk menunjuk variabel-variabel
situational seperti banyaknya keterangan yang diperlukan oleh para
bawahan;subordinat di dalam pengambilan keputusan, batasan-batasan waktu untuk
mencapai keputusan-keputusan, dan kemampuan dari semua peserta yang perlu untuk
secara fisik hadir di keputusan. Seperti banyak model untuk kepemimpinan.
kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari model Vroom-Yetton tingkat
kompleksitas organisasi-organisasi modem dan kompleksitas yang diintensifkan
sebagai akibat peran kepemimpinan.
Vroom (1988)
meninjau kembali model VroomYetton untuk menunjuk defisiensi nya. Sebagai
tambahan terhadap lima proses keputusan yang asli untuk permasalahan kelompok,
dua proses yang baru (satu kelompok dan satu delegative ditambahkan untuk
menunjuk permasalahan yang individu pengambilan keputusan. Untuk mengevaluasi
proses-proses permasalahan dan keputusan menurut keputusan komitmen keputusan,
dan pengembangan bawahan, penyamaan-penyamaan untuk menentukan efektivitas
keputusan. Penyamaan-penyamaan ini juga mencatat terjadi ketika ukuran dari
suatu kelompok pengambilan keputusan diberi variasi. Oleh karena pemakaian
penyamaan-penyamaan matematis dan ketenaga-kerjaan dari komputer-komputer.
model Vroom adalah penimbangan jawaban atas faktor-faktor situational (bahwa
sekarang termasuk waktu, geografis, dari tujuh sampai dua belas) sepanjang
suatu rangkaian daripada menggunakan
model sederhana "ya" dan "tanpa" jawaban. Gaya yang
baru! penggunaan dari yang berkelanjutan dibanding, pemakaian matematis
berfungsi dan memperluas situational pertimbangan faktor, boleh mengakibatkan
kebenaran lebih besar keputusan-keputusan proses pengambilan keputusan mencapai
dengan penggunaan model itu. Bagaimanapun, sampai model Vroom adalah cukup
diuji, kebenaran nya adalah lemah.
2.7.
MODEL-MODEL / TEORI DETERMINASI SITUASIONAL
Situational
teori faktor penentu menggambarkan perilaku pemimpin seperti yang ditentukan
oleh karakteristik-karakteristik situational (pengharapan peranan, misi
kelompok dan tugas-tugas, dan batasan peranan fleksibel) dan ciri-ciri pemimpin
dan kualitas. Kepribadian-kepribadian dan nilai-nilai pemimpin boleh
penyimpangan yang persepsi-persepsi mereka peran-peran mereka, menyebabkan
pertentangan peranan. Teori menyatakan bahwa harapan-harapan pemimpin
hasil-hasil tingkah laku mempengaruhi pilihan perilaku mereka (Nebcker
&Mitchell. 1974). Osborn dan Hunt. (1975) model pengaruh ganda mencoba
untuk menjelaskan interaksi-interaksi yang kompleks, yakni struktur organisasi
dan lingkungan eksternal, karakteristik-karakteristik tugas, dan karakteristik-karakteristik
bawahan dan pengaruh dari tiap di perilaku pemimpin. Hubungan timbal balik yang
bersama variabel-variabel yang ganda di dalam situasi-situasi kepemimpinan dan
manajemen menyediakan suatu gambar dari. Sering kali variabel-variabel tidak
bisa diceraikan ke dalam kategori-kategori dari yang tergantung.
Studi dari
kepemimpinan tetap kompleks seperti situasi-situasi kelihatannya yang berbeda
mengenakan pajak kemampuan analisa ahli teori. Ahli teori kepemimpinan sudah
mencoba untuk mengintegrasikan teori-teori untuk banyak dekade situasi-situasi
terus meningkat kompleks untuk analisa. 1991 Koestenbaum) model kepemimpinan
adalah satu usaha untuk mengintegrasikan riset kepemimpinan strategies,
perilaku-perilaku, ketidaktentuan-ketidaktentuan, dan situational satu model.
Teori kelihatan di luar setiap atau ciri-ciri dan lingkungan kerja atau
perilaku segera dan ketidaktentuan dan menguji interaksi-interaksi ciri-ciri
pemimpin dan perilaku dengan lingkungan makro yang internal dan eksternal.
Kepemimpinan dipandang sebagai suatu pola pikir dan suatu pola dari
perilaku-perilaku. Koestenbaum menetapkan bahwa kepemimpinan dapat diajarkan
oleh karena itu, para pemimpin perlu memberdayakan dan mendukung para bawahan
untuk mengembangkan potensi kepemimpinan mereka sendiri. Ia juga percaya bahwa
sebahagian terbesar dari suatu waktu dan energi pemimpin harus digunakan untuk
memudahkan pengembangan ketrampilan di orang-orang pada lini depan di dalam
sistim kompleks organisatoris dan di dalam interaksi-interaksi dengan
lingkungan eksternal. Koestenbaum menyamakan kepemimpinan dengan kebesaran,
bagaimanapun kepercayaan yang keliru tersebut pengabadian bahwa para pemimpin
bersifat melebihi manusia biasa.
2.8.
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL
Burns (1978)
menguji kepemimpinan di suatu konteks yang politis dengan mempelajari kekuasaan
kepemimpinan, dan kepemimpinan transformatif kekuatan atas orang-orang yang
lain dilatih ketika kuasa potensial, yang termotivasi untuk mencapai sasaran
tertentu milik mereka sendiri, menyusun di dalam sumber daya dasar kuasa mereka (ekonomi,
militer yang kelembagaan, atau ketrampilan) bahwa memungkinkan mereka untuk
mempengaruhi perilaku dari responden-responden dengan mengaktifkan alasan-alasan
dari responden-responden relevan kepada itu sumber daya dan untuk itu
sasaran" (p.18). Tujuan dari kuasa (tenaga seperti itu memegang dan
menggunakan untuk mencapai sasaran ya atau tidaknya para pengikut ikut serta
dalam itu sasaran. Bagaimanapun, Burns menggambarkan kepemimpinan seperti proses
timbal balik dari mobilisasi oleh orang-orang dengan berbagai motif dan
nilai-nilai, berbagai perekonomian, dan sumber daya lain.
Burns (1978)
lebih lanjut membedakan antara transaksional dan transformatif. Ia
berargumentasi bahwa dalam kepemimpinan. transaksional orang-orang terlibat
dalam suatu hubungan untuk tujuan berbagai hal. Mereka sadar akan kuasa satu
sama lain. biasanya mengejar tujuan-tujuan dan sasaran mereka sendiri, dan
membentuk hubungan-hubungan sementara.
Burns (1978)
lebih lanjut menegaskan "Kepemimpinan politis, bagaimanapun, dapat
digambarkan hanya dalam kaitan dengan menggunakan istilah penuh arti. Perubahan
bermakna di dalam kondisi-kondisi hidup orang-orang. Test yang terakhir dari
kepemimpinan praktis adalah perwujudan perubahan yang diharapkan, riil bahwa
temu kebutuhan-kebutuhan orang-orang"
Bass (1985)
menyatakan bahwa para pemimpin transaksional bekerja di dalam kultur
organisasi, nilai-nilai dan maksud yang dibagi bersama para anggota
organisatoris. sedangkan para pemimpin transformational bekerja untuk mengubah
nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan bawahan untuk mengubah kultur yang
organisatoris. Jadi, dengan demikian, untuk Bass "Pemimpin transaksional
mempengaruhi kinerja antar para pengikut dengan negosiasi satu hubungan
pertukaran dengan mereka dari penghargaan untuk pemenuhan. Transformational
kepemimpinan membangunkan minat transendental di dalam para pengikut dan
mengangkat kebutuhan dan cita-cita mereka" (p. 32).
Bennis dan
Nanus (1985) berargumentasi bahwa kepemimpinan transpormatif adalah kemampuan
para pemimpin untuk membentuk dan mengangkat alasan-alasan dan sasaran pengikut
untuk mencapai perubahan penting dan minat banyak orang secara kolektif
(p.217). Pemimpin menggambarkan suatu visi yang adalah sama dan sebangun dengan
kunci pengikut menilai dan membangun suatu arsitektur yang sosial, atau satu
kultur organisatoris, bahwa menyediakan maksud yang dibagi bersama di mana para
pengikut dapat mengejar tugas-tugas dan mengejar sukses. Untuk memenuhi hal ini,
para pemimpin harus mampu menciptakan suatu visi, komunikasikan visi melalui
tindakan-tindakan yang simbolis dan membagi bersama, integritas latihan melalui
pengejaran yang gigih visi itu, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan
mereka sendiri, mengevaluasi kemampuan dalam hubungan dengan syarat pekerjaan,
dan berfokus kepada sasaran positif.
2.9.
KEPEMIMPINAN DENGAN KONTEKS CULTURAL
Seperti yang
ditunjukkan, diskusi yang sebelumnya, teori-teori tentang kepemimpinan adalah
multidimensional. Tidak seorang pun teori sudah mencakup semua variabel yang
perlu untuk dengan memuaskan menggambarkan kompleksitas peran kepemimpinan atau
untuk meramalkan skenario kepemimpinan. Beberapa menyarankan suatu
konseptualisasi kembali ke kepemimpinan yang total. Sergiovanni dan Corbally
(1986) yang berargumentasi bahwa untuk mengubah kita harus bergerak "Dari
suatu konsep kepemimpinan di mana efektivitas digambarkan sebagai pemenuhan
sasaran hasil kepada satu identitas bangunan yang meningkatkan mengerti. dan
membuat pekerjaan dari orang lain lebih
penuh arti" (p.14).
Sergiovanni (1986) menggambarkan kepemimpinan mutu sebagai
suatu keseimbangan antara kepemimpinan taktis (meraih sasaran hasil secara
efektif dan secara efisien) dan kepemimpinan strategis (perolehan mendukung untuk kebijakan-kebijakan dan proses dan memikirkan
rencana-rencana jangka panjang). Kepemimpinan taktis, di mana evaluasi
adalah cepat dan sukses didasarkan pada pemenuhan-pemenuhan jangka pendek,
mempunyai fokus dari masyarakat-masyarakat yang. Sergiovanni menantang bahwa di
suatu perspektif yang budaya dari kepemimpinan "Aspek budaya organisasi
sedang ditawarkan sebagai lebih mampu untuk meliput yang tiruan, dan aspek
praktis tentang hidup organisatoris" (p. 106). Organisasi dipandang bukan
sama sistem tetapi sebagai kesatuan-kesatuan budaya. Dengan maksud memperoleh
dari tindakan-tindakan lebih penting dibanding tindakan-tindakan yang spesifik.
Kepemimpinan sebagai ungkapan budaya mencari untuk membangun kesatuan dan order
(pesanan di dalam satu organisasi dengan memperhatikan pada tujuan-tujuan,
tradisi, filosofi, dan historis, dan idaman-idaman dan norma-norma yang
menggambarkan jalan hidup di dalam organisasi dan yang menyediakan basis untuk
memasyarakatkan para anggota" (p.107).
Seperti yang
dibahas oleh Sergiovatini (1986), kepemimpinan sebagai ungkapan budaya
bersandar pada analisa dari saling mempengaruhi yang kompleks dari
ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan taktis (ketrampilan-ketrampilan manajemen)
dan anteçdents dan maksud
(arti-maksud(rti strategis di dalam suatu kerangka sepuluh prinsip bahwa
membentuk suatu peta teori untuk, kepemimpinan mutu. Untuk mencapai keunggulan
kepemimpinan, yang terdahulu dan maksud diperlukan untuk menyediakan suatu
dasar untuk dan arah keterampilan kepemimpinan. Yang terdahulu digambarkan
sebagai perspektif. kepada keputusan-keputusan pemimpin itu, tindakan-tindakan,
dan perilaku. Maksud berkembang di suatu sistem kepercayaan melalui cerminan,
perencanaan tujuan, tetap melakukan menciptakan iklim melalui perhatian kepada
isu-isu, sasaran, atau hasil-hasil, dan mempertemukan orang-orang kepada
organisasi dan sasaran hasil. Dari interaksi komponen-komponen ini, Sergiovanni
menulis bahwa suatu kultur muncul bahwa menggambarkan apa yang penting dan
mengurus perilaku. Patriotisme organisatoris, komitmen, dan kesetiaan pada
suatu himpunan yang dibagi bersama dari kepercayaan-kepercayaan yang umum dan
mengatur perilaku menciptakan suatu ikatan yang kuat antar para anggota
organisatoris dan memberi maksud organisasi yang unik. Tindakan-tindakan ini
memerlukan perilaku kepemimpinan
Smith dan
Peterson (1989) menyatakan kepemimpinan itu sebagai satu aspek perilaku
keorganisasian dapat dengan sangat baik dipelajari di suatu konteks sosial,
bukan sebagai satu hubungan pengaruh di dalam diad pengikut pemimpin. Pesta
dansa suatu perspektif yang global, kepemimpinan organisatoris dilihat sebagai
berisi[kan dua tugas aspek dan hubungan dalam satu regu struktur. Tugas dari
kepemimpinan berbuat sesuatu, berasal dari konteks yang budaya dari kelompok
atau organisasi. di dalam berasimilasi kultur-kultur, bisa lebih banyak membagi
bersama dibanding di dalam masyarakat-masyarakat yang bersifat perseorangan,
keadaan jamak. Dibanding mencari-cari satu jenis terbaik dari kepemimpinan,
teori ini menyiratkan itu mungkin ada satu kultur organisasi terbaik bahwa
dapat diciptakan melalui suatu struktur hirarki. Hirarki itu dapat
mengembangkan maksud yang dibagi bersama untuk aktivitas dan kejadian
organisatoris dan, seperti itu, membantu perkembangan visi-visi dan strategi
yang dibagi bersama untuk meraih sasaran organisatoris, suatu wujud yang budaya
dari kendali. Smith dan Peterson menyatakan suatu latihan dari pemimpin yang
berkuasa terletak pada kemampuan itu untuk memancarkan pengaruh melalui jaringan
dari maksud kultur organisasi itu. Maksud seperti itu berakar dan bersedia
menerima nasehat hanya untuk berangsur-angsur berubah" (p. 130). Bagaimanapun, di dalam suatu struktur manageinent
yang partisipatif, anggota kelompok harus mampu menggambarkan
mekanisme-mekanisme dan tujuan-tujuan melalui suatu konteks budaya.
Schein (1985)
berkata bahwa menciptakan, memanage, dan kadang-kadang mengamati kultur ketika
unsur yang betul-betul mempengaruhi bagaimana para anggota sistem berpikir,
rasa, dan berbuat sesuatu, Schein menyangkal pengambilalihan beberapa ahli
teori kepemimpinan bahwa kultur dapat diubah untuk menyesuaikan tujuan-tujuan
nya. Schein (1985) “Menggambarkan kultur
seperti suatu pola dari dasar, yang ditemukan, atau yang dikembangkan oleh suatu
kelompok yang diberi karena belajar untuk mengatasi permasalahan nya dari
adaptasi eksternal dan pengintegrasian internal bahwa sudah bekerja cukup
memuaskan untuk valid yang dipertimbangkan, dan oleh karena itu, untuk yang
diajar kepada anggota baru seperti cara yang benar untuk merasa, berpikir, dan
merasa dalam hubungan dengan itu permasalahan" (p. 8).
Karena
kondisi-kondisi lingkungan terus menerus mengubah, kepemimpinan harus mampu
mengolah kultur yang organisatoris untuk memastikan kemampuan sistim itu untuk
menyesuaikan diri dengan dan bertahan hidup di dalam lingkungan melalui evolusi
asumsi-asumsi budaya yang baru. Kepemimpinan dalam praktek menyatakan secara
lisan asumsi-asumsi nya dan melekatkan mereka secara berangsur-angsur dan
secara konsisten di dalam misi, sasaran, struktur-struktur, dan
prosedur-prosedur kerja dari kelompok" (Schein, 1985, p.317). Pemimpin
perlu untuk mengetahui bagaimana satu kultur organisasi dapat membantu atau
merintangi suatu pemenuhan misi. Para pemimpin perlu untuk menyediakan daya
dorong itu untuk menerapkan strategi intervensi perlu menyesuaikan kultur untuk
organisatoris. Meski lingkungan para pemimpin bertanggung jawab karena
menggantikan atau membuang asumsi-asumsi, para anggota organisatoris harus
dilibatkan di dalam proses perubahan untuk memastikan pengertian yang mendalam
dan motivasi mereka yang yang diperbaharui untuk mencapai misi organisatoris
baru.
Masing-masing
dari gudang teori-teori tersebut di pola-pola di dalam riset kepemimpinan
karena Perang Dunia II. Keunikan dan kompleksitas organisasi-organisasi abad ke
duapuluh yang pertengahan sudah kedua-duanya yang ditingkatkan permintaan untuk
teori-teori yang efektif dan memalukan peneliti-peneliti bekerja pada
mengembangkan itu teori-teori. Baru-baru ini, peneliti-peneliti sudah dengan
mulai mengikuti pemikiran organisatoris yang menyatakan bahwa kepemimpinan bisa
dianalisa atau yang diramalkan di suatu pertunjukan yang linier. Teori-teori
baru sedang muncul bahwa boleh membentuk suatu paradigma yang baru untuk
berpikir tentang kepemimpinan ketika kita beralih ke abad 21.
2.10. WANITA-WANITA DI
DALAM OTORITAS
Perbedaan-perbedaan
tambahan di dalam kepemimpinan dan gaya manajemen dapat dibedakan ketika
meninjau ulang literatur di wanita-wanita di dalam posisi-posisi otoritas
Sementara sekarang ini ada secara relatif terdapat beberapa wanita dalam
kepemimpinan, angka-angka itu sudah meningkat sampai ke titik yang mungkin untuk mendeteksi beberapa jalan atau
cara yang khusus bahwa para laki-laki dan perempuan berbeda di dalam
peran-peran kepemimpinan.
Fitzpatrick
(1983) menggambarkan suatu komunikator yang berkompeten sebagai orang yang
dapat dengan teliti merasa lingkungan dan menciptakan dan memahami pesan-pesan
yang didasarkan pada penafsiran berikutnya sasaran untuk komunikasi adalah; (1)
pekerjaan selesai, (2) menghindari kerusakan pada hubungan antara pengirim dan
penerima, dari pesan, dan (3)
memproyeksikan gambaran yang diinginkan selagi berkomunikasi. Accordingto
Fitzpatrick, pria secara umum operasikan dari, suatu pemecahan masalah,
agresif. dan berfokus. rutinitas dan menindas emosi kuat. Sebaliknya,
wanita-wanita cenderung untuk memberi dan mengharapkan untuk menerima yang
bersifat penghargaan menanggapi dan ditundukkan untuk menekankan relational
sasaran di dalam interaksi-interaksi.
Dari perbandingan dasar ini, Fitzpatrick (1983)
tiga model konseptual komunikator-komunikator organisatoris.
Komunikator-komunikator laki-perempuan tunggal dapat khasnya dari seperti
dominan dan tegas perilaku-perilaku tugas atau mereka dapat hangatkan dan
memelihara, mencerminkan hubungan perilaku-perilaku.
Sementara Gabler (1987) berargumentasi bahwa
wanita-wanita sukses tidak perlu memimpin dengan cara yang berbeda dibanding
orang sukses, yang lain seperti Carroll (1989) sudah menemukan wanita-wanita
itu mempunyai lebih banyak gaya pembagian dari kepemimpinan dibanding orang,
dan mengaku bahwa wanita-wanita cenderung untuk memberi lebih banyak pengenalan
dan menciptakan satu "Pemberian kuasa" atmosfer regu. Di dalam meniru
suatu studi oleh orang di dalam peran-peran kepemimpinan (Mintzberg, 1973),
Helgeson (1990) menemukan perbedaan-perbedaan terpisah; jelas di dalam gaya
kepemimpinan. Wanita-wanita di dalam studi nya bekerja di langkah yang sama dan
di bawah kondisi-kondisi yang serupa sebagai orang-orang di dalam studi
Mintzberg, tetapi mereka lebih sedikit merasakan dikendalikan oleh rencana
kerja, dengan demikian mengurangi tekanan pekerjaan. Lebih banyak waktu
digunakan dengan orang-orang, dan di sana adalah penekanan di hubungan-hubungan
penopangan aktip kerja baik. Oleh memelihara suatu jaringan yang lebih rumit,
wanita-wanita itu adalah untuk merasakan terisolasi. Di Dalam pandangan
Helgeson, para pemimpin wanita lebih mungkin untuk merasakan diri mereka di pusat
macam hal daripada mengamati diri mereka "ada di puncak," seperti
orang-orang di dalam studi itu lakukan.
Di dalam konteks yang lain, pengambilan
keputusan untuk para laki-laki dan perempuan juga menunjukkan istimewa. Putnam (1983) mengenali perbedaan dalam
cara-cara yang bahwa dua kelompok berhubungan dengan konflik cenderung untuk
sampai di suatu penyelesaian menggunakan menawar teknik-teknik,
argumentasi-argumentasi logis, dan kemarahan dalam satu usaha untuk memutuskan
konflik. Wanita-wanita cenderung untuk bekerja untuk memahami perasaan yang
lain. Konflik penanganan dengan meratakan dan mengurangi perbedaan-perbedaan
dan menekankan berfokus kepada kemerdekaan daya saing, pria sering kali
menciptakan suatu skenario menang/kalah, wanita berfokus kepada saling
ketergantungan menghasilkan suatu skenario win/win yang terjadi.
Shakeshaft (1987) berargumentasi bahwa temuan
riset tidak ada pembedaan-pembedaan antara para laki-laki dan perempuan di
dalam memanage sekolah-sekolah adalah yang keliru di itu tersebut adalah secara
konseptual didasarkan pada pria. Bagaimanapun juga ketika alasan-alasan dan
pendekatan yang tambahan dari wanita-wanita bersifat di dalam, mereka dapat
dilihat untuk melaksanakan tidak hanya juga, hanya dengan cara yang berbeda. Dia
membantah bahwa pekerjaan dari para pemimpin wanita di sekolah-sekolah
mempunyai lima unsur-unsur yang utama: (1) hubungan dengan yang lain bersifat
pusat kepada semua tindakan pengurus-pengurus wanita-wanita, (2) mengajar dan
belajar adalah foci yang utama dari pengurus-pengurus wanita-wanita, (3)
masyarakat bangunan adalah satu bagian penting dari wanita, gaya pengurus, (4)
pengurus-pengurus wanita-wanita terus menerus dibuat sadar akan marginal atau
status mereka, dan (5) baris memisahkan
hidup publik dan pribadi dari pengurus-pengurus wanita-wanita adalah jauh lebih
banyak dari sekedar untuk orang.
2.11. SUATU PARADIGMA
YANG BARU UNTUK KEPEMIMPINAN
Di dalam
mengkritik kepemimpinan sebelumnya, penekanan di aspek sekeliling, pencapaian
gol dan isi pengetahuan pemimpin. Rost (1991) menantang bahwa studi-studi ini
tidak menunjuk sifat esensi dari kepemimpinan dan proses oleh para pemimpin dan
para pengikut berhubungan dengan satu sama lain untuk mencapai tujuan-tujuan.
Ia percaya bahwa kepemimpinan belum digambarkan "Dengan ketepatan, akurat
dan singkatnya sehingga orang-orang dapat itu label secara benar ketika mereka
melihat nya kejadian atau ketika mereka terlibat dalam nya" (p.6). Ia yang
diusulkan lebih lanjut bahwa kebanyakan teori-teori dari kepemimpinan
mencerminkan satu paradigma yang industri yang tidak dapat digunakan untuk atau
yang bisa diterima. Berdasarkan pada Rost, perubahan paradigma perlu sehingga
teori kepemimpinan dan praktek dapat berhubungan dengan kebutuhan dari suatu
dunia industrial.
Kepemimpinan
seperti yang digambarkan oleh Rost (1991) adalah "Satu hubungan pengaruh
antar para pemimpin dan para pengikut yang berniat perubahan-perubahan riil
bahwa mencerminkan tujuan-tujuan mereka yang timbal balik" (p. 102). Ini
adalah berlawanan dengan manajemen, yang digambarkan sebagai satu hubungan
otoritas. Ia memelihara; memelihara bahwa empat unsur-unsur harus menyajikan
untuk suatu hubungan yang untuk dipertimbangkan suatu hubungan kepemimpinan:
(a) suatu hubungan berdasar pada pengaruh; (b) para pemimpin dan para pengikut
yang adalah peserta-peserta di dalam hubungan; (c) kedua belah pihak yang
berniat perubahan-perubahan riil dan (d) kedua belah pihak yang mengembangkan
tujuan-tujuan timbal balik. Rost menginterpretasikan kembali perubahan bentuk
seperti keterlibatan dari "aktif orang-orang, mulai bekerja
hubungan-hubungan pengaruh berdasar pada pendekatan, berniat
perubahan-perubahan riil untuk terjadi, dan meminta dengan tegas bahwa itu
perubahan-perubahan mencerminkan 213 mereka yang timbal balik tujuan. Oleh
karena itu, kepemimpinan dilihat sebagai suatu hubungan yang disertai para
pengikut ganda dan para pemimpin ganda yang terlibat dalam kepemimpinan
kolaboratif atau yang dibagi bersama. Peran-peran dari pemimpin dan
pengikut-pengikut tidak terukir; tegores di dalam batu tetapi dapat bergeser.
Manajemen
untuk Rost (1991), kontrasnya adalah satu hubungan otoritas antara sedikitnya
satu manajer dan satu bawahan yang mengkoordinir aktivitas mereka untuk
menghasilkan dan menjual barang-barang dan/atau jasa tertentu. Sebagai
tambahan, Zaleznik (1977) berargumentasi bahwa ada perbedaan-perbedaan
terpisah; jelas antara kepribadian manajer yang potensial dan pemimpin yang
potensial personalitv Managers cenderung terhadap rasionalitas dan kendali.
adopsi sikap-sikap bukan perseorangan terhadap sasaran. Mereka cenderung untuk
mengambil resiko rendah, melihat diri mereka sebagai yang efektif ketika mereka
telah mampu memperkuat institusi.
Para pemimpin
berbakat yang jadinya sangat melibatkan di dalam pengembangan internal mereka, lebih-lebih
orang-orang yang mengembangkan ke dalam para manajer, dan menguasai sikap-sikap
yang menjurus kepada kepercayaan pada diri sendiri dan harapan-harapan prestasi
yang tinggi. Wujud para manajer potensial melembutkan dan secara luas
membagi-bagikan pemasangan-pemasangan. Para pemimpin potensial, sebaliknya,
menetapkan dan putus tiba-tiba hubungan-hubungan yang intensif.
Mempertimbangkan
perbedaan-perbedaan ini antara manajer dan pemimpin. Zaleznik (1977) berargumentasi bahwa kunci
itu kepada mengembangkan para pemimpin dibanding para manajer adalah berfokus
kepada dampak dari melatih hubungan-hubungan. Apakah itu disusun dalam satu
hubungan masa pelatihan atau murid atau di dalam sambungan yang informal antara
suatu berbakat orang muda dan seorang penyelia pemeliharaan, ia percaya
pendekatan ini berdiri kesempatan terbaik melanjutkan kualitas kepemimpinan
dari seseorang dengan potensi tersebut.
Bab ini
diperkenalkan suatu kumpulan yang singkat riset kepemimpinan bahwa sudah
tercapai sampai saat ini. Itu mencoba untuk membangun suatu kerangka bahwa
dapat bertindak sebagai suatu pemandu kepada cerminan lebih lanjut tentang
bidang pendidikan dan gorganisasi kepemimpinan di masa datang. $riset
kepemimpinan tidak berdiri ujian-ujian dari waktu dengan baik. Banyak
pengarang-pengarang yang berkomentar tentang teori kepemimpinan. Teori
hendaknya menginformasikan praktek dan seperti keinginan jelas sepanjang sisa
dari buku ini. Sementara kemajuan adalah
selalu jelas, terlalu kecil berharga sudah terjadi di dalam
gelanggang-gelanggang kepemimpinan, Kita sangat membutuhkan
kombinasi-kombinasi, disiplin-disiplin dan dimensi-dimensi.
Cendekiawan
berpikir kita dapat mulai untuk menjadi kenyamanan. mampu dengan kepemimpinan
hari ini.
2.12. STUDI KASUS
Kepemimpinan: Kasus dari Pokok Yang Tak Kelihatan
Yohanes
Alvarez adalah seorang guru yang superior yang dikenal sepanjang daerah sekolah
tersebut untuk kemampuan cendekiawannya, ketenaran dengan para siswa, para
rekan kerja, dan pengurus-pengurus, dan memecahkan masalah teknik-teknik. Tidak
seorang pun dikejutkan ketika Yohanes ditetapkan pokok dari salah satu
darisekolah menengah daerah. Sangat terkejut adalah keluhan-keluhan berasal
dari, fakultas, personil bangunan, dan para siswa bahwa tidak ada apa pun
sebenarnya tercapai. Departemen mengepalai terutama sekali berkenaan dengan
suara tentang permintaan tegas Yohanes di mengetahui setiap detil dari
keputusan-keputusan mereka sebelum mengijinkan mereka untuk bergerak maju.
Mereka juga mengeluh tentang ketidakmampuan mereka untuk menyusun
pertemuan-pertemuan dengan Yohanes dan ketiadaan komunikasi nya. Hari-hari akan
lewat tanpa kata dari dia tentang keputusan-keputusan. Para guru, personil
bangunan, dan para siswa juga menemukan nya sulit untuk menyusun komunikasi
pribadi dengan pokok mereka.
Sementara
mengetahui kemampuan pengajaran atasan Yohanes, manajemen siswa sukses, dan
pemecahan persoalan, beberapa dari departemen mengepalai, fakultas; dan
personil bangunan menanya apakah Yohanes akan selamanya seorang pemimpin atau
bahkan akan memahami perbedaan antara tanggung-jawab kelas dan mereka yang
kepemimpinan. Yohanes menjawab kemampuan-kemampuan kelasnya itu adalah jenis
dari kepemimpinan yang sekolah perlu. Ia percaya yang cerdas bahwa jika
orang-orang sedang lakukan pekerjaan mereka, mereka tidak memerlukan
kontak-kontak pribadi dekat dengan para pemimpin mereka. Yohanes memandang
kepemimpinan sebagai satu perluasan kelasnya dan dibuat kagum bahwa sebagian
dari fakultasnya, personil bangunan, dan para siswa ragu-ragunya dari sumbangan
nya. Ia bisa dengan susah percaya bahwa mereka memberi label dia lnvisible
mereka Leader.
Pertanyaan-pertanyaan
1.
Apakah persepsi
Yohanes tentang kepemimpinan yang sesuai ?
2.
Apakah kelas akademis
dan sukses bukti manajemen siswa dari jenis dari kepemimpinan bahwa suatu pokok
sekolah benar-benar perlu untuk menyediakan ?
3.
Apakah itu mungkin
kedua-duanya Yohanes dan personil kelas bangunan, dan para siswa adalah benar ?
4.
Bagaimana mungkin kita
menggambarkan kepemimpinan tertentu pada
situasi ini ?
5.
Dapatkah kita
berkembang bersifat universal yang diterapkan? Mengapa atau mengapa tidak ?
Buku ini
memperhatikan para eksekutip yang diingat-ingat beroperasi di dalam dunia usaha
yang baru yang mereka sedang membantu untuk membentuk. Kesederhanaan dan
kecepatan bersifat unsur-unsur penting dalam rangka memelihara modem coi'porations dengan teliti kompetitif,
dan buku sejenis bangau berisi cerminan dan pengalaman yang dibagi bersama oleh
sebagian dari kebanyakan perusahaan yang terhormat di dalam Amerika Serikat.
Intisari dari teks ini adalah
gagasan-gagasan dan pemikiran dari menyelenggarakan di atas masa lampau tiga
tahun dengan lebih dari sekedar 150 para pemimpin bisnis kepala milik bangsa
tersebut. Pengarang adalah seorang guru maupun dan suatu praktisi, dan
mempunyai bukunya sebagai suatu pengembaraan pribadi, mengundang pengertian
yang mendalam, mengutamakan kreativitas, pengambilan resiko, and fleksibilitas
.
Isi buku ini
nilai-nilai dan seni administrasi. Ini juga tentang filsafat, sifat manusia,
dan mutu hidup di organisasi-organisasi khususnya bidang pendidikan. Pembaca
diperkenalkan dengan suatu skema teori berharga, yang sudah dikembangkan di
atas dua puluh tahun yang terakhir dan cukup dalam literatur itu suatu model
yang sempurna bahwa dapat digunakan untuk tujuan-tujuan analitis
Pengarang
mendukung suatu perspektif yang pragmatis mengenai orientasi pengetahuan
kepemimpinan dan membantah pragmatisme seperti itu yang kita tidak bisa
wujudkan? menyadari potensi dari model yang bertingkat-tingkat. Fokus dari buku
itu adalah satu penekanan di suatu sintese
yang baru dan satu pandangan yang diperluas dari kepemimpinan berdasar pada
satu pendekatan yang berpandangan terbuka kepada isi pengetahuan kepemimpinan
dan orientasi pengetahuan kepemimpinan. Pekerjaan ini adalah konsisten dengan
pekerjaan empiris dan konseptual yang dilaksanakan oleh pengarang di atas
banyak tahun, yang diharapkan untuk meluaskan orientasi pengetahuan pembaca
dalam memahami dan menjelajah kenyataan yang kita sebut sebagai kepemimpinan.
Dalam buku
ini, pengarang mencari untuk membangun suatu teori dari kepemimpinan sekolah
mempraktekkan yang didasarkan pada otoritas moral, tetapi untuk menetapkan
praktek seperti itu perlukan struktur nilai dari suatu dasar otoritas untuk
kepemimpinan sekolah untuk diperluas. Ia pandangan-pandangan kritik-kritik
tradisional dari kepemimpinan dan mendiskusikan alasan mengapa mereka tidak
bekerja sumur di masa lalu, uji apa yang memotivasi dan mengilhami para guru
dan para pemegang saham untuk memasukkan cara sebagai gantinya untuk
kepemimpinan; dan mendiskusikan pentingnya kolega di dalam membangun suatu
masyarakat sekolah secara moral mau mendengarkan.
BAB 3
KONTEKS
KEPEMIMPIN
Seandainya ada kepemimpinan yang
efektif di bidang pendidikan, sekarang ini adalah pertama kali di dalam sejarah
yang mutu pendidikan para warganegara sudah dikenal secara politik sebagai hal
yang secara strategis penting bagi sukses dan kelangsungan nasional. Sebagai
hasilnya, institusi bidang pendidikan di seluruh dunia ada di bawah penelitian,kritik
sosial dari politikus-politikus sehingga ditemukan, perubahan perubahan di bidang
pendidikan sebagai konsekwensi sudah,
Perubahan bidang pendidikan
mencerminkan perubahan-perubahan di seluruh dunia di dalam sosial, ekonomi,
politis, dan hubungan-hubungan teknologi. Alvin Toffler (1980) menggelari
angkatan ketiga dan Yohanes Naisbitt (1982, 9L) mengenali mereka seperti sudah
menunjuk industri masyarakat bisnis, apapun wujudnya yang disebut, usia sekolah
sudah sungguh berbeda dari pendahulunya. Besaran dari pergeseran sudah
dipersamakan kepada pergeseran dari feodalisme ke kapitalisme atau dari satu
ekonomi cara agraris menjadi industrialisasi. Semua institusi sosial harus
membuat penyesuaian-penyesuaian yang sesuai institusi bidang pendidikan tidak
ada perkecualian.
Ini adalah satu waktu
paradigma-paradigma pergeseran (Kuhn, 1970). Struktur sosial dan ekonomi dalam
keadaan perubahan terus menerus. Banyak dari pemerintah-pemerintah dunia
totaliter yang jatuh terlihat dalam beberapa kejadian-kejadian, kemudianberubah
menjadi lembaga atau institusi yang lebih demokratis. Kita melihat suatu
kemungkinan riil untuk damai di antara adikuasa-adikuasa dan konflik
yang tumbuh antar kelompok etnik dan persaingan-persaingan regional
kejam.
Ada optimisme dan perhatian ketika
kita mendekati millennium yang baru. Naisbitt dan Aburdene (1990), optimis,
berdasarkan Naisbitt (1982) ramalan sukses suatu dekade sebelumnya, melihat
kemenangan dari setiap dan kematian dari yang kolektif. Dengan kebebasan yang
ditemukan yang baru, mereka meramalkan suatu kenaikan harga tiba-tiba ekonomi
global di dalam era tahun 1990an, suatu Renaissance di dalam seni-seni, dan suatu
pertumbuhan akan minat berbagai hal rohani. Menurut mereka, suatu sosialisme
pasar bebas yang baru akan yang dijadikan struktur dominan ekonomi-sosial dan
negara kesejahteraan terus meningkat akan mengasumsikan peran-peran
kepemimpinan dan gaya hidup global dan nasionalisme budaya akan muncul. Biologi
akan mendominasi ilmu pengetahuan dan melingkari negara-negara yang mendominasi
hubungan-hubungan ekonomi.
Bukan setiap orang adalah sebagai yang
optimis sekitar masa depan, bagaimanapun, seperti Naisbitt dan Aburdene.
(Jalbraith, 1992), sebagai contoh, gergaji suatu perbedaan yang bertumbuh
antara golongan kaya dan golongan kaya bersuka-ria Amerika Serikat dan bahwa
golongan kaya bukan keinginan naik
di dalam pemberontakan. Perbedaan itu sedang tumbuh menurut Galbraith karena,
untuk pertama kali di dalam sejarah Amerika "Yang disenangkan"
lembagakan mayoritas populasi dan di dalam kendali sepenuhnya dari government.
"Yang disenangkan" jangan mendukung perundang-undangan sosial bahwa
membagi-bagi kekayaan melalui pajak yang
lebih tinggi di lebih besar dan kaya jasa untuk yang miskin. 1-Ic membantah
bahwa itu adalah perundang-undangan engineered yang sosial oleh Lloyd George
pada awal abad ke duapuluh bahwa amankan kapitalisme Inggris sepanjang tahun
antara kedua perang dunia dan, demikian juga, itu adalah perundang-undangan
yang sosial Franklin Roosevelt bahwa amankan kapitalisme di dalam Amerika
Serikat selama Depresi Besar. Pada setiap kejadian, perundang-undangan itu
ditentangkan oleh yang disenangkan, yang hilang. Sejak yang disenangkan dengan
kuat di dalam mayoritas, ada harapan kecil dari perundang-undangan penetapan
pemerintah untuk menghilangkan perbedaan antara golongan kaya anti golongan
kaya tidak. Gaibraith meramalkan hrcakclowr sosial-. sebagai suatu konsekuensi.
Untuk lebih baik atau untuk yang lebih buruk, sungguh,
suatu periode mengejutkan dan yang dinamis di dalam sejarah manusia oleh karena
ketidakstabilan situasi ini merupakan suatu periode peluang yang tak ada
bandingnya dan secara potensial
bahaya. Untuk berperan besar dan untuk memperkecil bahaya-bahaya menuntut
kepemimpinan bijaksana secara luar biasa di dalam semua sektor dan di dalam
semua perusahaan usaha yang termasuk pendidikan. Singkatnya, kenyataan sosial
menyebar berubah. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi orang-orang di dalam
seluruh lapisan masyarakat, ada harus lebih besar berdampak pada atas mereka
yang jarak penglihatan positionsof dan perhatian sosial lebih besar, seperti
pemilikan orang-orang pengawasan dan administratif bertanggungjawab untuk
sistem bidang pendidikan. Masyarakat berhak untuk mengharapkan kinerja
berkompeten kepada mereka posisi-posisi. Di bawah keadaan ini, kepemimpinan
berkompeten tidak bisa masalah perilaku pengcopian konvensional. Untuk membantu
pendidikan, ada suatu kebutuhan yang jelas bersih untuk para pemimpin bidang
pendidikan untuk memiliki kemampuan itu untuk memahami dinamika dari afair manusia sebagai suatu dasar untuk
relevan tindakan di bawah, kebutuhan akan pemahaman yang lebih baik bank
peredaran dan memproses di dalam institusi bidang pendidikan, dan kebutuhan
akan keaslian dan kerja sama yang lebih besar di dalam merancang
kebijakan-kebijakan strategis. Pendekatan mereka kepada peluang dan
permasalahan yang menghadapi mereka perlu untuk tinggal terbuka dan hipotetis
sehingga lebih bisa dipelajari.
Di antaranya, kepemimpinan adalah suatu fungsi konteks.
Di dalam bab ini, kita meringkas sebagian dari menyebabkan karena perhatian di
atas pendidikan yang publik seperti yang dilaporkan oleh banyak laporan dan
buku yang evaluatif menerbitkan yang lampau. Perhatian khusus diberikan kepada
kemunduran yang dilaporkan di dalam prestasi oleh para siswa Amerika dan
internasional mereka yang relatif yang berdiri. Statistik diperkenalkan
mempertunjukkan bahwa kondisi-kondisi di bawah yang banyak sekolah beroperasi
sedang menjadi semakin sulit karena populasi-populasi yang mereka melayani
bersifat sedang meningkatkan di dalam kesukuan di dalam variasi
struktur-struktur keluarga, dan di dalam proporsi anak-anak yang berasal dari
rumah-rumah yang dilemahkan. Kita lalu tanggapan-tanggapan profesional dan
politis kepada kritik-kritik dan mundur untuk mencari akar historis dari
dilema-dilema yang ada. Evolusi tradisi kendali lokal dari penguasaan sekolah dan
tantangan-tantangan zaman ini kepada tradisi itu diringkas. Bukti dari
meningkatkan isu-isu bidang pendidikan diperkenalkan. Bab menutup dengan suatu
uraian organisasi yang ada penguasaan sekolah dan statistik yang terpilih untuk
menggambarkan besaran dari perusahaan bidang pendidikan dalam kaitan dengan
menggunakan istilah orang-orang melayani anti mempekerjakan, anti dalam kaitan
dengan menggunakan istilah sumber daya dingkonsumsi.
Konteks untuk kepemimpinan bidang pendidikan adalah yang
berbeda dari waktu lain manapun di dalam sejarah Adalah penting bahwa isu-isu dan proses-proses yang zaman ini
dipahami jika kepemimpinan untuk mengakibatkan relevan tindakan. jika
optimisnya dari paling pendukung ternyata sungguh global: ada banyak pengertian
seperti bagaimana Amerika Serikat diperlengkapi untuk bersaing di dalam dunia
baru ini. Berkenaan dengan pendidikan, alarm itu pertama dibunyikan di dalam.
putaran yang ada dari perubahan oleh National Commission pada Excellence di
Education dalam laporan nya, suatu bangsa berhadapan dengan resiko. Itu bahwa
suatu pasang peningkatan dari sifat sedang telah menelan ancaman sekolah
tersebut daya saing dari negeri dan sesungguhnya sangat survival. Tema itu
diulangi dengan bertumbuh urgensi di dalam lusinan dari laporan-laporan
sepanjang 1980. Komisi pengawas dari Kekuatan pekerja Amerika itu (1990)
memfokuskan di hubungan yang integral antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi
dalam laporan nya. Pilihan Amerika:
Skills atau Low Wages. Commission mengakui kegelisahan nya
dengan muncul trend. Jepang sudah menggantikan Amerika Serikat ketika ekonomi
dunia dan Jerman. hanya seperempat dari Amerika Serikat populasi, Amerika
Serikat Equalled hampir di cxrts.
Pada waktu yang sama bahwa akan menjadi peminjam dunia yang paling besar itu,
Singapura Taiwan, dan Korea tumbuh bukan pendidikan pertama kali mempunyai
berada di suatu tatapan mata dari krisis yang. Setelah Rusia meluncurkan
terlebih dulu satelit dalam 195
pendidikan Amerika di bawah penelitian dengan cermat mendaftar buku yang
dimasukkan dengan seperti. Apa yang bersandar dari pos terdepan dunia ketiga ke
eksportir-eksportir dunia perdana menteri. Commission menunjukkan pertumbuhan
Amerika itu di dalam produktivitas mempunyai pada suatu lintas tayang dan
ofliving nya yang standar miliki, paling baik, digenangi, selagi
pesaing-pesaing nya bersifat sedang bertumbuh di dalam kedua-duanya
produktivitas dan di dalam standar-standar tinggal.
Ongkos hilangnya kemampuan secara ekonomis adalah, untuk
banyak penduduk Amerika, suatu standard hidup yang lebih rendah dibanding apa
pada suatu waktu dibenarkan. Daya beli pendapatan rata-rata minggunya untuk
para pekerja Amerika sungguh telah mampir 12% sejak 1969. Tetapi kesukaran
belum dipikul dengan sama oleh semua Orang Amerika. Kepala 30% dari
keluarga-keluarga Amerika dengan pendapatan yang paling tinggi sudah meningkat
saham mereka pendapatan negara dari 54% dalam 1967 sampai 58% di dalam. 1987
selagi landasan % menyusun terutama para
pekerja professional/technical, biasanya para lulusan dari empat tahun, yang
berhasil baik. Bagaimanapun, para pekerja garis depan sudah melihat gaji mereka
tahun demi tahun. Dari tahun 1972 sampai tahun 1987, upah yang relatif dari
para pekerja yang cerdik jatuh dari 98% yang didapat itu oleh profesional dan
para pekerja teknis kepada 73%; untuk pekerja-pekerja, pengetesan itu adalah
dari 70% ke 51%.
3.1.
NEGARA DALAM KONDISI KRITIS
Amerika Serikat itu sedang menghadapi
kemungkinan yang riil mengembangkan suatu kaum kelas bawah yang struktural dan
banyak percaya bahwa sifat alami sistem sekolah negeri adalah suatu penyebab
yang utama. Ini semua ketakutan-ketakutan telah didukung oleh penemuan di tahun 1990 oleh sensus di Amerika. Lebih
banyak orang-orang sedang tinggal di kemiskinan dibanding dalam tahun 1980 dan
kelas menengah menyusutkan selagi banyaknya yang kaya adalah pertumbuhan. % tase
dari rumah tangga yang tinggal di kurang dari ekuivalen dari 25,000$ per daging
anak lembu di dalam dolar-dolar yang ada sudah bangkit kepada 42% dari 31%
suatu dekade sebelumnya. Dalam tahun 199,
tiga perempat dari Orang Amerika sedang menyenangi pendapatan-pendapatan
pertengahan bandingkan dengan dua pertiga dalam 1989. Pada waktu yang sama, % dari Orang Amerika menggolongkan sebagai
mempunyai pendapatan-pendapatan tinggi tumbuh dari 11% ke 15% dari populasi
total. Perubahan pendidikan adalah dilihat, sebagai pusat untuk menanggulangi
kekurangan-kekurangan Amerika Serikat yang sosial dan ekonomi.
Commission di Skills percaya bahwa, jika
untuk membalikkan kemundurannya yang ekonomi, itu harus mengubah bentuk organisasi-organisasi pekerjaannya
mengurangi birokrasi dan memberi para pekerja garis depan yang tanggung jawab
itu untuk menggunakan keputusan-keputusan penghakiman dan buatan. Untuk lakukan
hal ini, memerlukan pengerahan "Kebanyakan kita, ketrampilan-ketrampilan
dari kita orang-orang tidak hanya 30% itu siapa yang akan lulus dari perguruan
tinggi. para pekerja garis depan, orang-orang yang buruh/kasir bank, petani,
sopir truk, para jurutulis eceran, operator komputer dan (p. 14). Satu unsur
esensial di dalam strategi Commission itu untuk memenuhi pengerahan ini adalah
perbaikan dari pendidikan yang diterima oleh para pekerja garis depan di dalam
elementer dan sekolah menengah, meningkat pelatihan, dan mekanisme-mekanisme
untuk memperlancar transisi. Merancang kembali elementer dan sekolah-sekolah
untuk temu tujuan ini adalah suatu tanggung jawab kepemimpinan bidang
pendidikan yang bekerja bersama dengan rekan pendamping mereka di dalam community-atlarge dan di dalam urusan
bisnis.
W T.Yayasan/pondasi Dana (1988) juga locused berada di dalam keadaan dari
"Yang dilupakan." 50% dari yang muda Amerika yang tidak teruskan ke
perguruan tinggi. Studi mereka dokumen peluang penyusutan untuk "Suatu
pekerjaan dengan suatu masa depan" untuk, daftar biaya pengiriman
barang-barang pengangguran tinggi secara luar biasa, dan suatu kemunduran yang
curam di dalam pendapatan nyata. Menyalahkan sekolah tersebut karena mempunyai
mengacaukan dari misi mereka yang utama. "Pendidik-pendidik sudah jadinya
sangat mengasyikkan dengan mereka yang teruskan ke perguruan tinggi bahwa
mereka sudah kehilangan penglihatan dari mereka yang tidak. Dan semakin banyak
dari batas yang tidak perguruan tinggi sekarang jatuh ketika mereka di sekolah,
gugur, atau lulus dengan berkekurangan mempersiapkan persyaratan-persyaratan
dari masyarakat dan tempat kerja" untuk apa Orang Amerika untuk perguruan
tinggi dan itu adalah besar. Mereka yang perguruan tinggi menerima
tunjangan-tunjangan sosial bahwa rata-rata per tahun selagi mereka tidak akan
ke perguruan tinggi sering dipandang sebagai kegagalan-kegagalan dan menerima
sedikit, jika satu dukungan yang publik. Yayasan meminta pengembangan dari
suatu pendekatan yang terintegrasi kepada pendidikan, pelatihan, dan
kebutuhan-kebutuhan layanan dari semua yang muda. lebih lanjut, itu
merekomendasikan pertalian-pertalian yang lebih kuat antara yang muda, orang
dewasa, dan akses mereka pada suatu yang penuh berpakaian tentang pengembangan,
pencegah, dan jasa perbaikan; dan dukungan publik untuk menenangkan beban
keuangan tentang anak-anak peningkatan dan anak remaja.
Kozol (1992) memfokuskan di sekolah-sekolah
diri mereka terutama sekolah-sekolah bagian tertua suatu kota. Ia dengan nyata
menguraikan kondisi-kondisi di mana banyak
dari kaum kelas bawah itu sedang dididik. sekolah-sekolah berkenaan
dengan kota adalah, umumnya, secara luar biasa menempatkan sedikit; beberapa
perkecualian-perkecualian, mereka mengingatkan aku dari "atau ourposts" di suatu bangsa
yang asing. Proyek-proyek perumahan, jangkung dan pucat, yang dikepung oleh
dinding garis keliling melapisi dengan kawat yang dimandikan, sering kali
berdiri damping kepada sekolah tersebut aku dingunjungi. Sekolah tersebut
adalah tanda-tanda bahwa menandai DRUG-FREE ZONE. Pintu-pintu mereka
dijaga. Polisi kadang-kadang meronda. Jendela dari sekolah tersebut sering
tertutup dengan baja memarut. Taksi yang dengan datar ditolak untuk mengambil
aku kepada sebagian dari sekolah ini dan akan menyimpan aku selusin blok-blok awaj di dalam daerah perbatasan beivnd yang mereka menolak pergi. Di
Boston, tekanan media pers menunjuk bidang-bidang seperti ini seperti ketika
"Zona kematian " spesifik menunjuk kepada tingkat kematian bayi di
dalam tempat tinggal minoritas tetangga merasa zone kematian" sering kali
sepertinya akan menyebar keseluruh bagian sekolah tersebut.
3.2.
PERTIMBANGAN HASIL DAN DEMOGRAFI
Sering, kritikus-kritikus mendokumentasikan
kemunduran di dalam mutu pendidikan yang diterima di sekolah dengan statistik
tentang jatuh Scholastic Aptitude score-score. perbandingan-perbandingan dengan
prestasi dari anak-anak di dalam negara-negara yang lain, ketinggian gugur
daftar biaya pengiriman barang-barang, kekerasan/kekejaman di dalam sekolah
tersebut, dan prestasi rendah dari anak-anak minoritas bandingkan dengan
anak-anak mayoritas. score-score lakukan kemunduran dengan mantap dari satu
nilai rata-rata total 980 dalam 1963 sampai 890 dalam 1981 (Pusat Nasional
untuk Education Statistics (NCES), 1991b, p.152). Mencetak prestasi merosot
untuk kedua-duanya lisan dan matematika subtests
meski mereka lebih secara dramatis untuk tes verbal. Karena 1981, score rerata
yang total dan matematika subscores mempunyai Increased sederhana selagi yang
lisan sudah dinstabilkan. score Rerata total berdiri pada 900 dalam 1990.
Sandia belajar, 1993), bagaimanapun, menyimpulkan bahwa "banyak” dipublikasikan 'kemunduran'
rata-rata SAT mencetak prestasi salah menggambarkan benar kisah tentang kinerja
SAT." Alasan untuk . itu kemunduran fakta melekat pada, itu bahwa lebih
banyak para siswa di dalam kelas membagi dua tentang kelas-kelas mereka membawa
SAT hari ini dibanding di dalam masa lampau tahun. Sebenarnya, setiap kelompok
etnik minoritas sedang melaksanakan hari ini lebih baik dari 15 bertahun-tahun
yang lalu (Huclskamp, 1993). Berlin (1993) juga menantang penafsiran yang umum
kemerosotan SAT mencetak prestasi dengan menunjukkan itu, dari kelompok para
siswa yang ada yang memenuhi karakteristik-karakteristik dari mereka yang SAT
dalam 1975 telah ada suatu 30 peningkatan titik, lebih dari sekedar sepuluh
bagian perseratus mengelompokkan.
Gabungan mencetak prestasi di Ujian Perguruan
Tinggi Amerika itu juga telah merosot, tetapi rata-rata di subscores menunjukkan suatu pola yang berbeda dibanding
pertunjukan statistik SAT. ACT subscores untuk bahasa Inggris sudah tinggal
secara relatif stablince 1970 selagi subscores untuk matematika dan ilmu
kemasyarakatan sudah merosot tajam dan subscoes untuk ilmu pengetahuan alam
sudah menunjukkan suatu peningkatan yang rendah hati (NCES. 199th. p.153).
National Assessment Educational Progress
(NAEP) tidak mendeteksi suatu kemunduran di dalam prestasi bidang pendidikan
(di) atas masa lampau 20 tahun, meski penemuan nya sungguh menyajikan penyebab
untuk sekitar yang tingkat rendah dari kecakapan rerata dari yang muda Amerika.
Dari tahun ke tahun, sekitar 40 % dari
telah digolongkan sebagai melaksanakan di Tingkatan ahli di dalam membaca
yang digambarkan, "Dapat menemukan
memahami, meringkas, dan menjelaskan secara relatif rumit informasi"
(NCES, l993a. p.202). 85 % melaksanakan
di "Intermediate/antara"
tingkatan atau lebih baik. Kinerja pada tingkatan ini digambarkan, 'Dapat mencari-cari informasi
spesifik, menghubungkan satu dng lain gagasan-gagasan, dan membuat
penyamarataan-penyamarataan." Persentase yang melaksanakan di "yang
Dikedepankan" tingkatan sudah meningkat sejak 1971 dari 6% ke 7% dalam 1990. Performarice dikedepankan digambarkan, "Dapat manyatukan dan tahu
dari material yang khusus."
Sementara kinerja rerata dari kelompok
minoritas di NAEP menguji telah menunjukkan perbaikan, itu tinggal sumur di
bawah bahwa dari para siswa mayoritas. Diatas separuh dari para siswa mayoritas
menguji dalam 1988 terminologi dasar dan hubungan-hubungan historis yang
dipahami dan susunan pemerintah dan fungsi-fungsi spesifik yang dibandingkan
dengan tentang seperempat dari African-American anc Hispanic para siswa (NCES,
1991b, p.142).
Dari perhatian lebih besar lagi kepada
beberapa analis adalah kinerja dari para siswa Amerika jika dibandingkan dengan
para siswa negara-negara. Hasil-hasil dari suatu dua puluh bangsa belajar yang
diterbitkan dalam 1992 Amerika yang ditemukan itu 13 tahun yang tua ke luar melakukan hanya mereka dari Yordan, Portugal, dan
Mozambique di dalam matematika, dan hanya para siswa dari itu negara-negara dan
Irlandia di dalam ilmu pengetahuan (Rothman, 1992a). Amerika Serikat di antara
yang paling tinggi melaksanakan dari 14 negara-negara di dalam ilmu
pengetahuan, hanya dekat dalam matematika. Hasil-hasil itu diringkas di Table
31. Sebaliknya, siswa di dalam mereka Amerika Serikat dari hampir semua negeri yang lain di suatu studi tentang
membaca melek huruf (Rothman, 1992b).
Ada mereka yang berpikir bahwa kritik-kritik
dari sekolah negeri di dalam Amerika Serikat bersifat berlebihan masa dan.
Contran untuk pendapat umum, sekolah negeri Amerika itu sungguh baik kapan pun
dan di mana saja mereka disertakan bersama manusia dan sumber daya ekonomi
untuk berhasil" (Berlin, 1993, p.36). Berlin menunjukkan, sebagai contoh,
para siswa hari ini itu sebenarnya rata-rata 14 IQ menunjuk yang lebih tinggi
dibanding kakek dan nenek mereka dan tujuh poin-poin yang lebih tinggi
dibanding orang tua mereka. Banyaknya membuat angka para siswa di dalam cakupan
hari ini yang dikaruniai; berbakat adalah tujuh kali lebih besar dari generasi
sekarang mengundurkan diri dari kepemimpinan.
Hodgkinson (1993a) simpulkan bahwa kepala 20 % dari sekolah menengah kita lulus adalah kelas
dunia dan sembuh. 40 % yang berikutnya
kebanyakan mampu melengkapi perguruan tinggi. Ada persetujuan tersebar luas
bahwa sistim pendidikan yang lebih
tinggi kita adalah satu kekuatan-kekuatan kita yang besar (Kirst. 1993) dan iri
hati dunia. Kendati jatuh rata-rata SAT mencetak prestasi, mencetak prestasi di
Graduate Record Emination (GRE) sudah bangkit 16 poin-poin (lisan), 36
poin-poin (kwantitatif), dan 30 poin-poin (analitis) karena 1981 meskipun
banyaknya test-takers sudah meningkat dengan 16 % (Hodgkinson, 1993a). . lebih lanjut. 40 % dari semua artikel riset yang ditulis oleh
sarjana-sarjana Amerika; tanpa bangsa yang lain menghasilkan lebih dari
(sekedar) 7 % .
Kegagalan dari banyak para siswa Amerika untuk
melengkapi sekolah menengah dan pertalian antara mengundurkan diri dan pengangguran
dan kejahatan adalah juga dari perhatian kepada banyak analis kebijakan. Hampir
87 % dari yang sudah menyelesaikan
sekolah menengah yang dibandingkan dengan 75 % dari para siswa African-American dan 59 % dari para siswa Hispanic (NCES, 199th, p.8). Dari satu perspektif yang
internasional, haruslah yang dicatat bahwa hanya negeri Belgia dan negara
Finlandia melebihi United States di dalam % mendaftarkan di sekolah Huelskamp, 1993).
Hanya dari sekolah menengah minoritas
menemukan pekerjaan tidak lama sesudah meninggalkan yang dibandingkan dengan
separuh dari yang putih. Bahkan lulusan sekolah menengah mempunyai kesukaran di
dalam menemukan ketenaga-kerjaan; 75 % para siswa mayoritas sukses di dalam menemukan
ketenaga-kerjaan tidak lama sesudah wisuda derajat bandingkan dengan hampir
tidak separuh dari para siswa minoritas. Sekitar 82 % dari orang-orang dalam penjara adalah sekolah
menengah; itu biaya-biaya tentang 24,000$ per tahun untuk mendukung seseorang
dalam penjara (Hodgkinson, 1993b).
Pertalian antara tingkatan pendidikan dan
ketenaga-kerjaan dan pendapatan adalah sangat kuat. Dari 25-34 tahun tua, 76 % dari hilang-data-hilang-data sekolah menengah
dipekerjakan dibandingkan dengan 87 % dari sekolah menengah lulus dan 93 % dari perguruan tinggi lulus. Pendapatan hilang-data-hilang-data yang
putih hanyalah 73 % bahwa dari sekolah
menengah yang putih lulus dan sekitar separuh bahwa dari perguruan tinggi
lulus. Kerugian pendapatan yang relatif dari sedang bertumbuh di atas masa
lampau dua dekade. Hubungan bersifat sebangun untuk wanita-wanita dan kelompok
minoritas NCES, 1991b, p.44, menguatkan perhatian-perhatian sebelumnya mengutip
tentang Commission di Skills dari Kekuatan pekerja Amerika itu satu muncul kaum
kelas bawah permanen.
Sementara statistik mungkin menganggap bahwa
sekolah-sekolah tidak melakukan pekerjaan mereka seperti juga di masa lalu, ini
juga benar bahwa pekerjaan mereka bisa
lebih sulit sekarang dibanding kenyataannya di masa lalu. Selama 1980s
karakteristik-karakteristik dari keluarga-keluarga Amerika tetap menggerakkan
dari tradisional dua, orangtua, dua anak-anak oleh 1990, hampir tidak perempat
dari satu rumah tangga berasal dari karena variasi (Hodgkinson, 1991), lebih
sedikit di dalam angka nyata, mereka dekade sebelumnya sekedar penggolongan
keluarga-keluarga untuk menunjukkan suatu kemunduran (lihat Table 3.2). Wanita
tunggal memimpin rumah tangga meningkat dengan 36% . memimpin oleh 29% , dan
laki bini tanpa anak-anak oleh 17%, 60% dari semua rumah tangga tidak memiliki
anak-anak pada semua fakta bahwa membuat pembiayaan sekolah negeri oleh pajak
harta di tempat itu mengadakan sangat sulit di mana retribusi-retribusi seperti
itu memerlukan persetujuan pemberi suara. Hampir 50% dari Amerika yang muda orang-orang akan
membelanjakan beberapa tahun sebelum mereka menjangkau 18 mahluk yang diangkat
oleh suatu orangtua, 15 juta mahluk anak-anak yang diangkat oleh para ibu yang
tunggal akan memiliki tentang sebanyak belanjaan keluarga di
kebutuhan-kebutuhan mereka sebagai anak-anak yang sedang diangkat oleh dua
orang tua, 1991). dari anak-anak sedang tinggal di rumah tangga di bawah
tingkatan kemiskinan dan 59 % dari semua
dalam kemiskinan rumah tangga dipimpin oleh (NCES, 1991b, p.200).
Proporsi sekolah negeri yang diwakili oleh
kelompok minoritas yang untuk dibinasakan oleh kemiskinan sedang berkembang.
Dalam 1976. minoritas mewakili 24% dari elementer dan pendaftaran sekunder.
Proyeksi-proyeksi menyatakan bahwa proporsi ini akan kenaikan kepada 46% oleh tahun 2020 (NCES, 199th). Pertumbuhan
dalam jumlah dan propoctions populasi minoritas adalah tiba hanya pada sebagian
kepada angka kesuburan mereka yang yang lebih tinggi sebagai yang dengan Faktor
mayoritas penting yang lain adalah satu kenaikan di dalam imigrasi dari Asia
dan Amerika Latin. Itu diperkirakan kira-kira itu lima juta anak-anak orang tua
imigran di dalam elementer dan sekolah menengah selama 1990an. mewakili lebih
dari sekedar 150 bahasa (Ifuciskamp, 1993).
Sebagai tambahan terhadap mahluk tiga kali
seperti nampaknya akan dilemahkan, anak-anak minoritas lebih mungkin memerlukan
yang lain "Faktor-faktor resiko, seperti berasal dari suatu orangtua yang
tunggal, setelah dibatasi Inggris dan mempunyai suatu orangtua atau saudara
kandung (atau kedua-duanya) sudah mundur dari sekolah. Anak-anak minoritas
adalah 3.5 kali ketika mungkin untuk memiliki dua atau lebih, ini resiko
sebagai anak-anak yang putih, itu pengaruh adalah juga intergenerational 62% dari anak-anak di bawah usia enam yang di
bawah tingkatan mempunyai orang tua yang tidak melengkapi sekolah menengah.
Jika orangtua nya menyelesaikan sekolah menengah, tingkat kepada 26% dan untuk
7% jika orangtua nya mempunyai beberapa
pendidikan yang diterima di sekolah di luar sekolah menengah dan pendidikan"
(1992).
Sementara kepala 20% dari elementer Amerika dan para siswa sekunder
yang sungguh dilayani oleh sistim arus bidang pendidikan dan 40% yang berikutnya dilayani dengan baik 40% dengan
kurang baik dilayani dan ini adalah fokus dari kebanyakan perhatian
(Hodgkinson, 1993/Kirst, 1993). Beberapa analis, menempatkan menyalahkan tidak
begitu banyak di sekolah tersebut hanya di permasalahan 40% membawa kepada pintu sekolah tersebut,
terutama sekali kemiskinan, secara emosional dan secara fisik cacat/rintangan, ketiadaan
pelayanan kesehatan, kondisi-kondisi keluarga sulit dan lingkungan-lingkungan
kejam. Memecahkan yang bidang pendidikan kita yang "Krisis akan memerlukan
koordinasi usaha-usaha sekolah dengan yang dari para agen masyarakat yang lain
kesehatan kepedulian, perumahan, transportasi, dan sosial ”(Hodgkinson, 1993a).
Jadi dengan demikian, asumsi-asumsi yang lampau yang digunakan oleh
pendidik-pendidik di dalam merancang kurikulum sekolah tidak lagi berlaku untuk
semua orang. Anak-anak bersifat lebih sedikit mungkin datang dari latar
belakang mayoritas. Mereka lebih mungkin para anggota keluarga-keluarga tidak
tradisional, dan mereka lebih mungkin lemah miskin. lducation melalui sekolah menengah dan di luar penting jika para
lulusan adalah untuk dipekerjakan di dalam selain dari pekerjaan kasar dan
untuk menyenangi yang nyaman standar-standar tinggal. Peluang ketenaga-kerjaan
yang baik bayarannya terus meningkat memerlukan ketrampilan-ketrampilan
cendekiawan canggih. Kepemimpinan bidang pendidikan sedang ditantang untuk mendesain
baru bahwa mengenali sifat dari para siswa, menyediakan dukungan yang
kelembagaan bagi mereka berhadapan dengan resiko dan menghubungkan pendidikan
yang diterima di sekolah dan ketenaga-kerjaan.
3.3.
GERAKAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN
Tanggapan terhadap
situasi saat ini menyangkut
pendidikan publik telah dilukiskan sebagai tiga gelombang. Pertama
memfokuskan di kinerja siswa dan mutu guru. Antara tahun 1980 dan tahun 1986,
hampir semua negara meningkatkan standar mereka
untuk lulusan
sekolah menengah melalui upaya
memperbanyak kursus-kursus,
kembangkan persyaratan-persyaratan distribusi mereka antar bidang-bidang hal
dan test minimum mencetak prestasi. Sepertiga dari negara memerlukan para siswa
untuk memberikan suatu test kemampuan
pada lulus dari sekolah menengah (Dewan dari Chief State School Officers, 1990)
”Patokan-patokan sertifikasi untuk para guru juga ditingkatkan,
pada tahun 1987, dua pertiga dari negara menentukan standardisasi test-test
untuk mencari guru yang bersetifikat dan sertifikasi untuk para guru dilakukan
oeh banyak negara, sedangkan yang lainnya mengikat pembaruan sertifikasi pada
pendidikan atau prestasi yang memuaskan” (Farrar, 1990).
Tetapi patokan-patokan pembuatan
undang-undang yang lebih tinggi tidak perlu menghasilkan hasil-hasil yang lebih
tinggi (Ian, 1985), dan menyatakan para gubernur diantaranya cepat untuk dingenali. Asosiasi National Governors pada
tahun 1986 mengeluarkan suatu laporan berjudul ”Waktu untuk perubahan kedua
struktural dengan mengangkat patokan-patokan tambahan”. Laporan menunjukkan
bahwa para gubernur itu adalah tersedia bagi sebagian orang "kuda model
kuno, perdagangan". Mereka mengikat negara itu untuk mengatur lebih
sedikit jika daerah-daerah sekolah-sekolah dan sekolah akan menghasilkan
hasil-hasil lebih baik.
Jenis perdagangan kuda, kita berbicara
tentang keinginan secara dramatis mengubah kebanyakan sekolah-sekolah bekerja.
Pertama-tama, para gubernur itu ingin membantu menetapkan kambing-kambing jelas
bersih dan laporan lebih baik untuk mengukur apa yang para siswa mengetahui dan
dapat melakukan. Lalu kita adalah siap untuk menyerah banyak kendali negara
pengatur bahkan untuk berjuang untuk mendapatkan perubahan-perubahan di dalam
hukum itu untuk membuat bahwa terjadi jika daerah-daerah sekolah-sekolah dan
sekolah akan bertanggung jawab untuk hasil-hasil. Perubahan-perubahan ini akan
memerlukan lebih banyak untuk sukses-sukses dan konsekuensi-konsekuensi para
guru, sekolah-sekolah para pemimpin sekolah dan sekolah distrik. Mereka akan
nilai-tengah memberi orang tua lebih pilihan di dalam sekolah negeri, anak-anak
mereka menghadiri sebagai yang satu arah mengasuransikan mutu yang lebih tinggi
tanpa yang berat kendali negara National Asosiasi Governors ( 1986, p.4).
Sebagai tambahan terhadap rangkaian komisi
pengawas nasional melaporkan dan secara pribadi membiayai studi-studi bahwa
nampak pada awal bagian dari yang delapan puluhan, Farrar (1990) mengenali dua
perubahan-perubahan penting yang lain di dalam lingkungan kebijakan pendidikan
nasional di dekade tersebut bahwa memacu/ merangsang gerakan perubahan yang
bidang pendidikan. Pertama adalah agenda pendidikan President Ronald Reagan,
itu mencari untuk mengurangi peran yang pemerintah pusat di dalam pendidikan
yang tadinya dengan mantap bertumbuh sejak Lapisan tanah teratas Besar.
President Lyndon dan prakarsa-prakarsa Poverty
dari midI 1960an. Peran pemerintah
pusat yang dikurangi yang dibujuk oleh kebijakan-kebijakan Presiden Reagan
menciptakan suatu ruang hampa di kepemimpinan di tingkatan pemerintah pusat dan
secara serempak menghimbau pemerintah-pemerintah negara dan perusahaan swasta
untuk mengisi kekosongan. Perubahan yang kedua adalah kesediaan para pemimpin
negara dan para eksekutif bisnis untuk mengambil satu peran yang aktif di dalam
perubahan bidang pendidikan.
Petrie (1990) nyatakan bahwa restrukturisasi
profesi pengajaran yang diaktifkan oleh dari perubahan mempunyai
keterlibatan-keterlibatan dalam untuk konsep kita kepemimpinan bidang
pendidikan, itu kelihatannya membersihkan bahwa jika para guru adalah untuk
memandang pelatihan praktisi-praktisi penghakiman, para pemimpin bidang
pendidikan akan mengatakan kepada harus berbuat apa para profesional seperti
itu. Disana tidak, terperinci dikenakan. Aturan-Aturan dan peraturan-peraturan
birokrasi akan terbatas pada jumlah kecil. Struktur-struktur akan dikembangkan
itu suatu jangkauan luas pertimbangan dan, tidak hanyalah di dalam patuh pada
mengajar silabus kelas bee;z
tertutup, hanya di dalam sangat itu akan dihubungkan dengan kelompok para
profesional dibanding kepemimpinan berhubungan bantuan yang disewakan, mungkin
akan lihat model-model dari pendidikan yang lebih tinggi atau dari
asosiasi-asosiasi profesional di dalam akuntansi atau perusahaan secara ilmu
bangunan, atau seperti organisasi pemeliharaan kesehatan dibanding seperti
pengaturan-pengaturan manajemen tenaga kerja Industrial (1990, P.22). Pandangan-pandangan
kompatibel dengan mereka yang Cuban (1988) yang meratap bahwa mengajar dan
sudah tidak lagi dipandang sebagai satu karier meskipun mereka bersifat di
suatu peran-peran pembagian sejarah umum yang umum. Cuban pengajaran
pandangan-pandangan sebagai pusat kepada administrasi penuh pengertian. Menurut
dia, dua gambaran mendominasi mengajar dan mengatur teknis dan moral dan mereka
berbagi tiga peran yang umum: managerial, dan politis. Sementara
gambaran-gambaran dan tingkah laku, lelah, habis, dan hampa di
pengaturan-pengaturan. Pengajaran dan administrasi dengan tak dapat dielakkan. Peran intervi adalah untuk mengajar,
tetapi ada unsur-unsur dari yang politis dan yang managerial. Peran yang
politis mendominasi dan mungkin untuk mengalami ketiga peran tersebut di dalam
ukuran secara relatif sama.
Cuban juga mengkaji arus perancangan
sekolah-sekolah dan sistem persekolahan seperti menghalangi menyediakan mutu
pendidikan kita semua menginginkan untuk anak-anak kita. Di dalam membedakan
antara para pemimpin dan para manajer, ia melihat para pemimpin seperti
orang-orang yang membentuk sasaran, motivasi-motivasi, dan tindakan-tindakan
dari orang lain selagi para manajer memelihara pengaturan-pengaturan arus
organisasi secara efisien dan secara efektif. Para pemimpin sering perubahan
permulaan untuk menjangkau sasaran baru dan yang ada menyeluruh arah manajemen
adalah terhadap pemeliharaan. Ia membantah sekolah-sekolah sebagai adalah para
guru tekanan media pers, para pemegang saham, dan pengawas-pengawas yang mengatur
dibanding memimpin, terhadap memelihara apa dibanding tentang apa yang bisa. Struktur-struktur
dari pendidikan yang diterima di sekolah dan insentif menguburkan di antara
mereka menghasilkan suatu sangat
mendesak managerial (Cuban, 1988, p.21). Cuban melihat otonomi seperti syarat
perlu untuk kepemimpinan untuk muncul.
Jacobson dan Conway (1990) antisipasi bahwa
pendefinisian ulang kepemimpinan bidang pendidikan akan mengakibatkan sepertiga
dari perubahan. Para pemimpin untuk Sekolah Amerika, laporan dari National
Commission pada Excellence di Educational Administration (1988), adalah precutsot dari usaha perubahan paling terbaru ini. Komisi
pengawas laporan, yang disponsori oleh University Council untuk Educational Administration,
alamat-alamat apa yang sekolah-sekolah harus jadinya, bagaimana mereka akan
dipimpin, dan kebijakan mengubah yang diperlukan berkenaan dengan menyiapkan
dan mendukung kepemimpinan sekolah. Pujian; rekomendasi nya untuk mengubah struktur dari sekolah-sekolah
termasuk hubungan-hubungan para guru dan pengurus-pengurus, persiapan
pengurus-pengurus bidang pendidikan, dan mereka. lisensi dan pekerjaan. utama
di dalam Leadership arus bidang pendidikan dikenali:
1.
Ketiadaan
definisi kepemimpinan bidang pendidikan yang baik,
2.
Ketiadaan
perekrutan pemimpin memprogram di dalam sekolah tersebut,
3.
Ketiadaan
kerja sama antara daerah-daerah sekolah dan universitas,
4.
Ketiadaan
minoritas-minoritas dan wanita-wanita di dalam ladang,
5.
Ketiadaan
pengembangan profesional yang sistematis untuk pengurus-pengurus sekolah,
6.
Ketiadaan calon-calon mutu untuk persiapan
memprogram,
7.
Ketiadaan
persiapan memprogram relevan kepada lapangan kerja dari pengurus-pengurus
sekolah,
8.
Ketiadaan
urutan, isi modern, dan pengalaman klinis sedang dalam persiapan
program-program,
9.
Ketiadaan
sistim untuk mempromosikan keunggulan.
10.
Ketiadaan
suatu pengertian yang nasional kooperasi di dalam menyiapkan pengurus-pengurus
sekolah.
Fuhrman, Elmore, dan Massell (1993). Juga telah
melihat bukti yang gerakan perubahan sedang menggerakkan intoa tahap ketiga
yang yang mereka dikenal sebagai "perubahan sistemik." Mereka
mengidentifikasi dua tema bahwa menandai tahap ini: (1) perubahan menyeluruh
bahwa memusat pada banyak aspek dari sistim,
dan (2) pengintegrasian kebijakan koordinasi di sekitar suatu himpunan
yang menyayangi dari hasil-hasil. Pertimbangan profesional lebih besar sedang
diizinkan di lokasi sekolah di bawah payung dari koordinasi yang dipusatkan.
Para pemimpin sekolah masa depan itu tidak
akan hanya adalah bekerja dengan seorang tubuh siswa dengan jelas yang berbeda
dari masa lampaunya hanya struktur organisasi dan profesional dan
hubungan-hubungan politis adalah juga nampaknya akan sungguh hubungan-hubungan
antara para guru dan pengurus-pengurus adalah nampaknya akan secara kolektif
dibanding otoriter. Para pemegang saham dan para guru mungkin mempunyai pertimbangan profesional lebih
besar banyak keputusan-keputusan secara formal dilakukan di daerah status
negara dan tingkatan-tingkatan pemerintah pusat ditinggalkan ke sekolah-sekolah
lokal, status negara, dan penguasa pemerintah pusat akan melanjutkan untuk
membuat parameter-parameter tertentu, bagaimanapun wakil-wakil orang tua dan
masyarakat mungkin untuk memiliki pengaruh yang lebih besar di organisasi dan
operasi sekolah tersebut melalui keanggotaan di dewan-dewan sekolah atau
melalui pilihan berkenaan dengan orangtua dari pendidikan yang diterima di
sekolah. Sebagai hasilnya, gaya kepemimpinan dan strategi yang bisa diterima
akan sungguh yang berbeda di masa datang dari apa yang mereka telah berada di
masa lampau.
Untuk membawa fokus kepada gerakan perubahan
yang bidang pendidikan, para Gubernur status negara bergabung dengan President
George Bush dalam tahun 1989 dan melafalkan enam sasaran nasional untuk
pendidikan yang publik yang untuk direalisasikan pada tahun 2000. Enam
sasaran, mula-mula yang dikenal sebagai "Amerika
2000" dan sekarang diberi label "Sasaran gol 2000" oleh
administrasi Clinton, dilaporkan di Table 33. Meski telah ada suatu perubahan
dari presiden-presiden karena 1989. Perubahan telah ada kecil di dalam
menyeluruh strategi yang haruslah dikenal bahwa ini mempunyai suatu usaha
bipartisan dan bahwa pejabat yang ada di dalam Gedung Putih apakah Chair dari
Asosiasi National Governors itu pada waktu Amerika 2000 prakarsa diumumkan
resmi dan berpengaruh di dalam membentuk desainnya.
National Education Goals Panel itu ditetapkan
untuk memonitor kemajuan yang sedang dibuat terhadap itu sasaran dan untuk
mengkoordinir usaha-usaha dari status negara dan organisasi-organisasi
nasional. Keanggotaan panel adalah secara politis seimbang membiarkan dua
anggota kepada delapan gubernur hanya sebanyak tiga yang bisa dari pesta (pihak
kepunyaan President), dan empat anggota Congress ditugaskan oleh para pemimpin
mayoritas dan minoritas House dan Senate. Semua anggota mempunyai pemungutan
suara mengistimewakan.
Dalam 1991, Goals Panel bekerja sama di dalam
ciptaan National Council di Education Standards dan Testing dan menguasakan
ujian, rekomendasi untuk nasional dan berhubungan sistem dari penilaian siswa.
Goals Panel itu merasa terikat dengan lima perubahan pemandu standards-based:
1.
Pengembangan
standar di seluruh negara adalah sangat inklusif, mencampur pengetahuan kelas
ahli dengan apa yang ada pada dan kalayak ramai.
2.
Patokan
harus tidak dipertimbangkan
3.
Patokan
harus ia dengan sengaja; seksama menetapkan pada mengukur.
4.
Patokan
yang harus dipandang sebagai, tinjauan ulang hal sangat berkala dan
5.
Pentingnya
patokan-patokan yang di seluruh negara harus (dengan) jelas dan secara efektif
kepada Amerika itu orang-orang (National
Education Goals Panel. . 1993, p.xiv.).
Sasaran 2000: Mendidik Amerika Berbuat
sesuatu, "Menetapkan dalam 1994, mendirikan suatu National Education
Standards dan Improvement Council untuk mengembangkan ukuran-ukuran dan suatu
proses untuk tinjauan ulang dan menyetujui patokan-patokan di seluruh negara.
Tiga tema yang luas menandai-pendekatan di seluruh negara ini untuk diubah
menjadi pembaharuan pendidikan harus sistemik milik bangsa tersebut kesanggupan
untuk pembaharuan pendidikan harus jangka panjang dan untuk mencapai sasaran,
negara, lokal, dan pemerintah pusat harus forman pendidikan, semua ini, peran
yang pemerintah pusat dilihat sebagai seorang pemimpin, mitra, dan katalisator
untuk perubahan yang sistemik dengan menaikkan sumber daya langka terhadap
negara dan prakarsa-prakarsa lokal dengan dampak yang luas dan manfaat jangka
panjang" (National Education Goals Panel,
1993, Hal:186). Daerah-daerah Negara dan sekolah akan diwajibkan untuk
isi kurikulum dan kinerja siswa seperti juga patokan-patokan kesempatan untuk
belajar untuk memenuhi persyaratan untuk bab pemerintah pusat 1 jo dana.
Sementara gerakan perubahan sedang mengalami
satu jumlah yang tidak biasa dari koordinasi yang sukarela di tingkatan
nasional, kebanyakan dari tindakan membawa menempatkan di status negara, daerah
sekolah, dan sekolah mengukur. Contoh terbaik dari perubahan yang sistemik di
dalam status negara dari Kentucky di mana semua unsur-unsur dari sistim
pendidikan telah dimodifikasi termasuk penguasaan dan keuangannya. Sistem persekolahan
Chicago sedang mengalami suatu wujud yang radikal penempatan desentralisasi policymaking otoritas dalam kekuasaan
meletakkan papan/meja yang dikendalikan yang dihubungkan dengan sekolah-sekolah
yang individu. Michigan sudah menghapuskan pajak kekayaan yang lokal seperti ketika
sumber utama dari dukungan keuangan dari sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah
piagam telah disahkan di dalam sedikitnya lima negara dan sejumlah busur
lingkaran/lingkungan negara yang mengadakan percobaan dengan dibatasi
rencana-rencana voucher. Berbasis
pengelolaan tapak adalah acara hari ini dan terus meningkat negara
daerah-daerah sekolah sedang membiarkan pilihan keluarga dari pendidikan yang
diterima di sekolah.
Ada juga meningkatkan keterlibatan dari
sektor swasta berkesempatan mendapatkan dukungan dari sekolah negeri. New
American Schools Development Corporation itu dibentuk oleh para pemimpin bisnis
Amecan Pada Bulan Juli dari 1991. Di paling ulangnya dari President Bush. Tujuan dari korporasi itu ke pertanggungkan
desain dan implementasi suatu generasi yang baru sekolah-sekolah. Itu sudah
berjanji untuk menaikkan 150 juta dollar amerika dari sumber pribadi antara
1991 dan 1996 untuk membiayai usaha 103 juta dollar amerika telah diangkat january
1994. Sebagai jawaban atas panggilan untuk nya, 686 regu desain menjawab dari
pengembangan atas suatu lima periode tahun lebih lanjut. Ukuran-ukuran
penolakan untuk seiection adalah kemungkinan bahwa suatu desain akan
memungkinkan semua siswa untuk menjangkau sasaran pendidikan yang nasional dan
mencapai standar kelas dunia (Olson, 1992).
Para anggota sektor swasta itu adalah juga
bekerja dengan cara-cara lain untuk mempromosikan dan untuk beruntung dari
perubahan sekolah. Usaha-usaha mereka mencakup dari partnerships bisnis sekolah
sampai menciptakan dasar dan percayakan kepada prakarsa-prakarsa bersifat
usahawan sama sekali palsu. Yang paling besar dari yang belakangan sudah
diluncurkan oleh pelaku bisnis Tennessee dan tokoh terkemuka media, Chris
Whittle. Edison dan proyeknya yang sedang bergerak di depan dengan maksud dari
suatu rantai dari karena sekolah swasta keuntungan untuk beroperasi di dalam
wilayah perkotaan ke seberang negeri 560 juta karena fase desain itu sedang
berasal dari Whittle Communications, L.P., dan pemilik-pemilik nya yang utama
Time-Warner, Inc., Phillips Electronics berbasis Belanda, N.V, dan
British-based Associated Newspapers Holdings Ltd. Benno C.Schmidt, Jr.,
presiden dari Universitas Yale berhenti posisinya pada Yale untuk memimpin
usaha.
Spekulasi-spekulasi lain ke dalam pendidikan
yang publik oleh pribadi untuk perusahaan keuntungan termasuk oper ation di
bawah kontrak dari sembilan sekolah Baltimore dan Bab 1 mengajar privat program dewan sekolah
Minneapolis sudah menyewa suatu pribadi dengan teguh untuk menjalankan sistem
persekolahan sebagai pengganti suatu pengawas yang tradisional. Di Chelsea,
Massachusetts, sekolah tersebut sudah menyerahkan ginjal itu kepada Boston
University di bawah kontrak.
Sungguh-sungguh, ada banyak perhatian atas
mutu sistim dan keterlibatan kita yang bidang pendidikan yang mempunyai untuk
kesejahteraan/kesehatan kita yang masyarakat. Perhatian sudah menghasilkan
banyak debat dan percobaan. Isu sasaran nasional, sebagai contoh, menaikkan
isu-isu banyak sekali kontroversial tambahan seperti standar nasional, suatu
kurikulum yang nasional, penilaian nasional, dan sertifikasi guru nasional. Ada
juga isu-isu dari keseimbangan antar pemerintah pusat, negara, dan
pemerintah-pemerintah lokal, antara penguasa profesional dan politis, dan
antara publik dan sektor swasta. Perubahan-perubahan struktural akan muncul
dari huru-hara yang ada, tetapi itu adalah terlalu awal untuk meramalkan
hanyalah apa mereka mungkin. Isu-isu yang terkait menghantam inti
Amtrican kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi. Orang-orang sekarang menyiapkan untuk mengasumsikan
peran-peran kepemimpinan di edue:triofl
mungkin untuk membelanjakan seluruh karier-karier mereka.
Lihat pada gejala-gejala dari rasa tidak enak
badan anti awal usaha-usaha yang dibuat untuk menunjuk mereka, kita perlu untuk
menguji sifat alami sistim pendidikan yang menghasilkan rasa tidak enak badan
karena ini adalah sistim baru di dalam mana harus mulai karier-karier mereka. Awal
dengan singkat menguji asal-muasal sejarah dari struktur yang ada sekarang dari
penguasaan sekolah.
3.4.
LINGKUP
DAN STRUKTUR DARI PENGUASAAN SEKOLAH
Di suatu analisis kritis dari pendidikan yang
publik di dalam pernyataan yang intensif dalam 1943, Morrison (1943) menunjuk
struktur nya dengan penuh penghinaan seperti (ketika "New England terlambat;
Almarhum Colrinial" (hal 258)
dan menggambarkan daerah sekolah tersebut sebagai "Suatu republik yang
kecil pada setiap persimpangan-persimpangan" (Hal 75). Morrison sedang
mengutamakan suatu karakteristik dari sistem dari pendidikan Amerika yang membuat publik yang unik di antara sistem
persekolahan dari desentralisasi dunia. Di sini kedua kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan. Sistem terpusat adalah lebih banyak ahli dibanding dengan
sangat yang dipusatkan dan mereka birokratis pada pengerahan energi-energi dari
unsur-unsur mereka dan mengadaptasikan kurikulum dan sistem intervi kepada keaneka ragaman
unsur-unsur mereka. Namun sistem desentralisasi mempunyai suatu kecenderungan
untuk menjadi yang tidak adil, menyediakan kualitas layanan yang tidak seimbang.
Sekolah-sekolah yang baik di suatu sistem desentralisasi cenderung menjadi
sangat, sangat baik; byt sistim yang
demikian juga generates-and tolerates-very sekolah-sekolah miskin. Sempurnakan
suatu derajat tingkat yang lebih besar dari hak kekayaan dan patokan-patokan
secara minimal sosial bisa diterima diatur memerlukan dari tingkat yang lebih
tingginya dari pemerintah, yaitu menyatakan andor pemerintah pusat. Ini
mempunyai sedang terjadi dengan meningkatkan frekuensi di atas lima puluh tahun
karena Morrison membuat analisa.
Perhatian kolektif di atas pendidikan formal
biji yang muda kepada permulaan penyelesaian orang Eropa dari Amerika Serikat
kontinental. Massachusetts terutama sekali berpengaruh di dalam menentukan pola
untuk pendidikan yang publik. Itu adalah Massachusetts Colony bahwa pertama
diperlukan orang tua untuk melatih anak-anak mereka di dalam membaca dan
menulis, kota-kota pertama yang diperlukan untuk menetapkan sekolah-sekolah,
pertama menyediakan dana kolonial penetapan dari sekolah-sekolah, dan pertama
diizinkan kota-kota untuk menggunakan pendapatan dari perpajakan harta untuk
mendukung pendidikan yang diterima di sekolah. dari ini tercapai di hadapan 1650. Kejadian ini,
bagaimanapun, harus yang ditafsirkan untuk memecahkan hubungan timbal balik
antara pemerintah dari Massachusetts Colony dan Congregational (Puritan)
Gereja. pemilikan Hak Pilih dan kantor dibatasi pada anggota gereja
[jantan/pria], suatu minoritas populasi yang total. Pajak kekayaan bahwa
mendukung sekolah tersebut juga, didukung gereja dan pendeta nya, "rumah pertemuan" bertindak sebagai
sekolah tersebut seperti juga gereja dan salam kota (Johnson, 1904). Hal ini
awal pola dari kendali masyarakat dari sekolah-sekolah di Mass. achusetts
meninggalkan cetakan nya atas organisasi pendidikan yang publik di dalam
Amerika Serikat hari ini meski koneksi antara gereja dan negara sudah
dipotong..
Beberapa dari pengarang-pengarang dari
Konstitusi Amerika Serikat dalam 1787 mempunyai kepercayaan-kepercayaan
dipastikan sekitar pentingnya satu keseluruhan penduduk yang dididik kepada
sukses dari republik yang baru. Tetapi .Konstitusi, tenang tentang pendidikan;
dan. Tenth Amendment itu kepada Perjanjian Hak Asasi Manusia meyakinkan bahwa
kuasa-kuasa tidak secara rinci mendelegasikan kepada pemerintah pusat itu adalah "yang terpesan kepada States
berturut-turut, atau kepada orang-orang." Tenggelam, seperti yang dikejar
ketetapan pendidikan yang publik di tingkatan status(negara. Di dalam Notes nya
di State dari Virginia, yang yang ditulis dalam 1781-1782, Jefferson (1968)
membantah ketika yang dipercayai 10 para penguasa dari orang-orang sendirian:
Orang-orang oleh karena itu hanya bank penerima deposito udara yang aman nya.
Dan untuk memandang bahkan mereka menyelamatkan, pikiran mereka jadilah Di
dalam mencari-cari dana tambahan untuk pendidikan dari New York Menyatakan
Badan pembuat undang-undang, Gubernur DeWitt Clinton (1909) mencatat pentingnya
sponsor negara pendidikan di suatu demokrasi:
Tugas yang pertama dari. dan bukti surest
dari pemerintah yang baik, adalah encow'agemeni pendidikan. Suatu jenis
pengetahuan adalah pendahuluan, tanda dan pelindung dari yang pendukung
republik dan di dalamnya kita harus mempercayai ketika couseruagice
menggerakkan bahwa akan watcb cver kebebasan-kebebasan kita. melawan terhadap
penipuan, kebusukan dan kekerasan.
Di suatu penawaran yang putus-asa dalam 1834
untuk selamatkan perundang-undangan sekolah yang ditetapkan baru-baru saja dari
pencabutan dari pemotong-pemotong pajak, Thacideus Stevens (1900), secara penuh
sadar akan hal luar pendidikan yang publik, yang dinyatakan dengan sederhana
yang umum yang untuk direalisir dari pajak Stevens meneruskan perjalanan
kekoneksi antara pendidikan dan pencegahan kejahatan dan berargumentasi bahwa nya
adalah lebih bijaksana. lebih murah dan lebih peramah untuk membantu "yang
pergi untuk mendukung sesama manusia nya dari menjadi suatu penjahat, dan untuk
menyingkirkan keperluan penghinaan itu lembaga; institusi." Ini adalah
suatu tema yang biasanya diulangi bahkan hari ini.
Jadi; Dengan demikian, dari permulaan negeri,
sosial pentingnya pendidikan dikenal oleh sebagian dari para warganegara paling
yang berpengaruh nya dan ketetapan nya dibuat dengan sengaja; seksama suatu
fungsi negara, bukan pemerintah pusat. Kendali terpusat pada status(negara atau
tingkatan-tingkatan pemerintah pusat bukan feasthle di dalam berabad-abad ke
sembilan belas dan kedelapanbelas oleh karena pembubaran populasi, makna yang
primitif komunikasi, dan yang umum ketiadaan sumber daya. Daerah sekolah
tersebut ditemukan untuk menciptakan dan mengatur sekolah-sekolah di bawah
kondisi-kondisi ini. Cubberley (1947) menafsirkan menyebarnya konsep daerah
sekolah tersebut di seluruh negara.
Sebagai satu yang administratif dan pajak menjadi
layu nya yang sungguh disesuaikan untuk kebutuhan-kebutuhan dan kondisi-kondisi
yang primitif awal hjfe nasional kita. Antar suatu populasi jarang dan penyair
pedesaan aktip kerja, antara pergaulan/perhubungan yang dibatasi dan komunikasi
satu dengan lain sulit, dan dengan yang dukungan dari sekolah-sekolah adalah
sebagai dokter hewan satu pertanyaan yang belum mapan, lokal, kendali menjawab
suatu kebutuhan Kesederhanaan dan dari sistim itu adalah satu tentangnya
pemimpin pantas menerima atau lingkungan-lingkungan yang ingin dan mau membayar
mereka bisa dengan mudah temu dan suatu daerah sekolah, suara untuk mengadakan
suatu sekolah pajak atas mereka sendiri. pekerjakan suatu teacber dan
mengorganisir dan memelihara suatu sekolah. Sebaliknya. masyarakat-masyarakat
yang tidak menginginkan sekolah-sekolah atau enggan untuk mengenakan pajak diri
mereka bagi mereka dapat melakukan, dan menyilahkan cuma-cuma gagasan sekolah
sendirian (pp. 212-213). poin-poin uraian Cubberley kepada satu sistim daerah
ketika uni versal pendidikan menjadi kebijakan dari suatu keadaan. Sistim
daerah bekerja baik bagi yang rela dan mampu, tetapi bagi mereka yang enggan,
tidak ada kepemimpinan itu untuk mengorganisir suatu daerah, dan bagi mereka
yang tidaklah mampu. tidak ada sumber daya. Ketidak-adilan sistim daerah
menjadi nyata bahkan selama periode yang kolonial, tetapi dengan meningkatkan
konsentrasi kekayaan modal dirough industrialisasi dan urbanisasi.
ketidak-adilan menjadi jauh lebih parah; sulit; keras; berat di dalam berabad-abad
yang keduapuluh dan ke sembilan belas.
Usaha-usaha untuk menunjuk ketidak-adilan ini
mulai di dalam abad yang ke sembilan belas melalui kekhilafan negara yang lebih
besar, permulaan bantuan dan dorongan dari konsolidasi daerah sekolah. Daerah-daerah
bahwa . menjadi ada, bagaimanapun. kesetiaan dengan cepat yang terlampir kepada
prestasi-prestasi mereka dan membutuhkan besar merasa bangga atas mereka dengan
hasil tiut mereka tidaklah mau mendengarkan kepada kritik dari usaha-usaha
mereka dari negara dan semua batasan menempatkan atas mereka. Mereka yang
bidang-bidang memilih bukan untuk mengoperasikan suatu sekolah umum dengan sama
resistan kepada yang eksternal pitssure untuk melakukannya, terutama ketika itu
melibatkan perpajakan.
Dalam satu usaha untuk menetapkan pesanan ke
luar dari kekacauan. nyatakan dewan pendidikan dibentuk dan yang dilengkapi
dengan satu petugas eksekutip. negara untuk mengambil tindakan seperti itu
adalah New York dalam 1812. Seperti kesaksian kepada sifat yang sensitip dari
posisi, Superintendent pertama milik New York yang Instruction melayani sampai
1821 ketika kantor itu dihapuskan. Suatu kantor yang serupa 'tidak diciptakan
di dalam New York sampai 1854. Horace Mann, Secretary yang pertama kepada Dewan
Education Massachusetts, menumbuk kesukaran yang serupa; bagaimanapun,
usaha-usaha untuk memecahkan kantor nya dan itu gagal. pergi daerah-daerah
sekolah pertama melalui konsolidasi itu di dalam kota-kota. 'Sementara Inggris
yang baru adalah dengan daerah-daerah sekolah mereka dari awal, ini tidak pada
umumnya benar dari kota-kota lebih barat. kota yang pertama untuk mempekerjakan
suatu dari sekolah-sekolah, bertindak sebagai suatu ilustrasi yang baik. Meski
itu mempunyai sekolah swasta sekolah yang pertama yang didukung oleh pajak
dibentuk dalam 1818. Oleh 1837, kota tersebut mempunyai 15,000 dan
daerah-daerah sekolah guru. Tahun itu. suatu pengawas dari sekolah-sekolah
ditetapkan untuk mensupervisi dan untuk mengkoordinir tujuh sekolah itu, untuk
menetapkan sekolah-sekolah di dalam kearah utara dari kota tersebut yang adalah
tanpa sekolah-sekolah, dan untuk menghidupi suatu sekolah menengah yang pusat.
Detroit, Chicago, dan Cleveland mengikuti pola-pola yang serupa. Beberapa
kota-kota di dalam daerah barat amerika melanjutkan praktek dari daerah-daerah
sekolah yang ganda di dalam kota tersebut membatasi.
Tradisi kendali lokal tetap kuat, hanya
ketidak-adilan yang tidak bisa dipisahkan dalam
kebijakan yang demikian adalah suatu penyebab utama dari sistim itu
(Kozol, 1991). Memuaskan perhatian-perhatian nasional bidang pendidikan selagi
mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan dan prioritas-prioritas lokal yang unik
tinggal suatu dilema.
3.5.
PENGUASAAN
SEKOLAH
Mempola penguasaan melembagakan suatu
jaringan sumber daya bidang pendidikan yang tersedia bagi masyarakat-masyarakat
sangat berbeda himpunan-himpunan berbeda dari sangat minat. Sementara
seluk-beluk bertukar-tukar dari status(negara untuk menyatakan, pola yang
dominan penguasaan bidang pendidikan yang sudah meningkatkan menyediakan lima
tingkat pengaruh pemerintah pusat, negara, , daerah-daerah sekolah, dan
Otoritas untuk membuat kebijakan dipusatkan pada dua tingkatan ini: daerah
negara dan sekolah tersebut.
Primer tingkat otoritas adalah negara,
seperti yang diwakili oleh badan pembuat undang-undang, gubernur, negara dewan
pendidikan dan pengawas, departemen pendidikan negara, dan negara meramahi.
Tingkatan ini bertanggung jawab atas menetapkan kebijakan dasar untuk sistim,
termasuk pembiayaan nya, dan mengatur dan mengkoordinir komponen-komponen nya.
Pertimbangan-pertimbangan struktural biasanya menghadiri kepada melalui
perundang-undangan formal yang disertai gubernur dan badan pembuat
undang-undang.
Kekhilafan dari hukum pendidikan di dalam
pertimbangan yang diizinkan didelegasikan kepada negara dewan pengawas
pendidikan dan negara dari sekolah-sekolah. Nyatakan dewan pendidikan paling
umum ditugaskan oleh para gubernur, walaupun beberapa terkenal dipilih. Di
Dalam New York dan Selatan Carolina mereka dipilih oleh negara legisLatures dan
di Washington, mereka dipilih oleh para anggota dewan sekolah lokal. Pemimpin
menyatakan petugas sekolah (CSSO) bertindak sebagai kepala dari departemen
pendidikan negara dan dalam banyak kasus adalah pimpinan eksekutive dari dewan
sekolah negara. CSSO itu adalah paling umum suatu pendidik yang profesional
ditugaskan oleh negara dewan pendidikan, meski dalam beberapa negara ia atau
dia ditugaskan oleh gubernur dan terkenal memilih di pihak lain.
Departemen-departemen pendidikan negara adalah para agen yang administratif
bahwa pesawat hukum pendidikan dari negara dan kebijakan-kebijakan dari dewan
sekolah negara. otoritas Berlatih negara mereka diatas pendidikan yang publik
melalui konstitusi-konstitusi laporan
umum mereka bahwa dalam beri otoritas badan pembuat undang-undang negara untuk
menetapkan suatu sistim dari sekolah negeri. Sebagai contoh, New Jersey
Constitution menyediakan bahwa negara akan menyediakan "efisien dan
saksama" sistim pendidikan. Sebagian terbesar, detil dari penguasaan
sekolah, yaitu., prosedur-prosedur untuk menetapkan, membiayai, dan mengatur
school-districts, sertifikasi guru, dll., dibentuk oleh anggaran dasar yang
ditetapkan oleh negara Legislatures atau peraturan-peraturan yang dibentuk oleh
negara dewan pendidikan; Ini mengizinkan negara banyak fleksibilitas di dalam
memperbaiki struktur-struktur penguasaan sekolah tanpa, lulus proses yang susah
perkembangan konstitutional. yang kedua tingkat otoritas adalah yang lokal yang
dipenuhi menerapkan kebijakan negara School daerah-daerah diatur oleh. dewan
pendidikan bahwa berfokus kepada penyerahan jasa bidang pendidikan. Kebanyakan
sekolah boardsare bebas secara fiskal. yaitu., mempunyai otoritas pajak
walaupun beberapa secara fiskal tergantung pada unit yang lain dari pemerintah
lçcal seperti kota tersebut atau daerah/propinsi. Timbunan sekolah, para
anggota pada umumnya dipilih di dalam, walaupun beberapa para anggota
ditetapkan, terutama di dalam kota-kota yang lebih besar. Salah satu dari
tanggung-jawab yang paling penting untuk menugaskan suatu pengawas dari
sekolah-sekolah untuk bertindak sebagai pejabat penanggungjawab dari daerah
sekolah tersebut dan untuk mensupervisi personil profesional dan dukungan nya.
Sekolah tersebut adalah unit operasi yang
dasar; tetapi tingkatan ketiga ini, sampai baru-baru ini, pertimbangan biasanya
kecil, sebagaimana yang dibatasi oleh kebijakan-kebijakan merumuskan pada yang
tingkat yang lebih tinggi. Cakupan pertimbangan di tingkatan sekolah adalah
mungkin untuk meningkat di masa datang seperti(ketika pengelolaan tapak sekolah
dan penguasaan ubah diterapkan. Pertimbangan ini mungkin tidak selalu
ditempatkan di dalam tangan-tangan profesional, bagaimanapun. [seperti] yang
telah mencatat, di Chicago, sudah dipercayakan ke tingkatan sekolah menumpang
itu mempunyai penyajian profesional, tetapi dikendalikan oleh meletakkan
orang-orang.
Unit daerah adalah eselon pertengahan di
dalam sistim suatu keadaan, bertindak sebagai satu lengan tangan dari negara
selagi melaksanakan jasa untuk bergabung daerah-daerah sekolah dari suatu
daerah. Organisasi nya aad penguasaan bervariasi dengan jelas dari negara untuk
menyatakan dan beberapa sistem negara tidak indude setiap unit. Itu pada
umumnya tidak memiliki langsung atau otoritas operasional di atas daerah-daerah
sekolah lokal, tetapi boleh memudahkan fungsi-fungsi negara pengatur. Itu
menyediakan pengawasan dan administratif tertentu berfungsi sebagai sumur
sebagai program-program dan jasa bidang pendidikan yang pengganti di mana
ekonomi substansiil dari skala dapat direalisir seperti halnya pendidikan
bersifat jabatan, pendidikan sungguh orang cacat jasmani, pengembangan staff,
dan jaringan informasi pemeliharaan dan sistem.
Yang ke lima tingkat penguasaan adalah
pemerintah pusat. Sementara Konstitusi Amerika Serikat tenang tentang
pendidikan, tanggung jawab sisa-sisa untuk itu kepada negara, dari waktu ke
waktu Congress mengerjakan lewat perundang-undangan di bawah otoritas nya untuk
menghidupi "Welfare yang umum,' pertahanan nasior, dan perlindungan
hak-hak warga negara. Office Education, lebih baru-baru ini diupgrade kepada
Department Education. diciptakan di dalam Executive Branch itu kepada hukum
adminiSter pemerintah pusat dan untuk statistik. Secretary Education, yang
memimpin Education, adalah ditugaskan
oleh presiden dengan persetujuan rapat besar. Retary itu adalah seorang anggota
presiden itu meramahi adalah diktator-diktator
Konstitusi Negara. Proses pengadilan mengenai
penghapusan perbedaan suku dan sekolah membiayai ketidak-adilan sudah
melibatkan kepada lembaga; institusi mengendalikan pemerintah pusat dari
siapapun depriving tentang hidup, kebebasan atau harta tanpa tiba proses dari
hukum" Segera sesudah itu diadopsi untuk meluas pengekangan ini kepada
negara. Perkembangan juga mengendalikan negara dan mereka, termasuk pejabat-pejabat sekolah,
dari orang perlindungan yang sama hukum."
Tidak seperti banyak negara-negara di dalam
dunia, religtously bergabung elementer dan sekunder tidak diizinkan untuk
menerima monies publik di dalam Amerika Serikat, meski anak-anak yang
menghadiri sekolah-sekolah seperti mungkin punya akses kepada jasa di depan
umum menyediakan terutama transportasi dan beberapa jasa yang mengganti rugi.
Dasar untuk pengecualian dana-dana negara ftr yang dengan taat diorientasikan
sekolah-sekolah adalah suatu penafsiran yang sempit oleh pengadilan-pengadilan
dari Pertama-tama Perkembangan yang negara itu "Konggres akan membuat
tidak ada hukum menghormati satu penetapan agama, atau melarang latihan yang
cuma-cuma daripadanya." Ketetapan ini negara tle dapat digunakan untuk
yang dibuat oleh Fourteenth Amendment; gubuk thany menyatakan Constitutions
mempunyai [ketentuan/perbekalan] mereka sendiri yang bersifat lebih sedikit
yang rancu, (dengan) jelas menyatakan larangan pemakaian dana-dana negara atau
kredit di dalam dukungan tentang segala aktivitas yang termasuk operasi
sekolah-sekolah, yang disponsori oleh kelompok-kelompok yang religius.
Variasi di dalam organisasi penguasaan
sekolah antar negara dan di dalam negara lebih besar dibanding diskusi tersebut
akan suggest4-1awaii adalah status(negara oni o berfungsi sebagai suatu unit
dan, dengan 165000 siswa. itu adalah lebih kecil dibanding sejumlah
daerah-daerah chv yang besar. Texas mempimpin negara dalam jumlah dari daerah-daerah
sekolah dengan 1,087. Dari thec. 1,061 secara fiskal trc yang mandiri. Lagi dua
puluh enam secara fiskal tergantung di
unit yang lain tersebut dari
pemerintah lokal menghidupi dukungan mereka yang keuangan. California mempunyai
1,028 daerah sekolah yang termasuk 271 yang
bersatu?dipersatukan (hidupi para murid di dalam semua kelas K-12), 645
yang operasikan sekolah dasar saja, dan 112 yang operasikan sekolah menengah
saja (Ikan salem. Dawson, Lawton. &Yohanes, 1988, p.44). (di) atas separuh
dari daerah-daerah sekolah california mendaftarkan/mengerahkan lebih sedikit
dari 500 murid.
Daerah-daerah sekolah kecil bukanlah hanya
suatu peristiwa dari daerah pedesaan yang remote; ada secara harfiah ratusan di
dalam kota-kota daerah/propinsi-daerah/propinsi utama melingkupi yang
metropolitan. Di dalam membagi-bagi masyarakat-masyarakat metropolitan, keaneka
ragaman besar ditemukan antar daerah-daerah sekolah dan kotamadya di dalam yang kesukuan mereka dan komposisi rasial
dan di dalam kemampuan mereka untuk
mendukung jabatan dalam pemerintahan. Meja 34 menggambarkan hal ini untuk
unit-unit yang terpilih di antara bagian-bagian Daerah/propinsi Los
Angeles; California (US. Departemen dari
Cornnierce, Kantor dari Census, 1992). Kotamadya ini tidak perlu coterminous
dengan daerah-daerah sekolah, tetapi suatu perbedaan yang serupa ada antar
daerah-daerah sekolah.
Pendapatan keluarga median bergerak dari
$22279 di Cudahy sampai S101,320 di Palo Verdës Estates. Populasi Cudahy
mempunyai suatu usia yang median 235 mobil;
30 -persen wei-e putih, 1 persen African-American dan 69 persen dari
yang lain rasial dan kelompok etnik. Sixtyeight persen (68%) dari populasi
orang dewasa dan 45 persen dari populasi usia sekolah tersebut berbicara bahasa
Inggris dengan kurang baik atau sama sekali tidak. Hanya 31 persen adalah
sekolah menengah lulus. Nilai tengah dari pemilik menduduki perumahan adalah
$153,500 dan sewa cOntract yang median adalah
Di dalam kontras. usia yang median itu tinggal di Palo Verdes Fstatcs wds -145
dan 85 persen putih. OnI)' 1 persen adalah AfricanAmerican dan 14 persen
mewakili kelompok minoritas lain. Thirty-foUr persen (34%) dari populasi yang
usia sekolah dan 38 persen dari populasi orang dewasa berbicara bahasa Inggris
dengan kurang baik atau sama sekali tidak. Hampir semua dari populasi orang
dewasa telah lulus dari sekolah menengah. Nilai tengah dari pemilik menduduki
perumahan selesai $500,000 dan kontrak yang median menyewa selesai $1,000 per
bulan dalam 1990.
Di examinIng meja . lebih lanjut, . lain
contoh-contoh dari pemisahan kesukuan dan yang socin-economic dengan mudah
ditemukan. Hawthorn menunjukkan keseimbangan terbaik antar kelompok etnik.
Sebaliknya, selagi 11 persen dari populasi daerah/propinsi adalah
African-American, kurang dari 3 persen dari populasi di Agoura Hills, Artesia,
Beverly Hills, Palo Verdes Estates, Cudahy, dan Baldwin Park adalah
African-American. Sementara 59 persen dari populasi daerah/propinsi putih yang
digolongkan, (di) atas 90 persen dari populasi di Agoura Hills dan Beverly
Hills bersifat putih. Thirty-two persen (32%) dari populasi daerah/propinsi
digolongkan sebagai '. lain," tetapi persentase menjangkau hampir 70
persen. di Cudahy. Dengan sekolah negeri dari daerah/propinsi membagi di suatu
pertunjukan yang serupa, idaman dari pendidikan yang diterima di sekolah yang
terintegrasi atau yang umum adalah sulit untuk diwujudkan?menyadari.
Suatu kebijakan yang berbeda dari banyak
organisasi daerah sekolah dibanding California's, hanya lebih sedikit yang umum,
digambarkan oleh Maryland. sekolah Maryland. disrrkts busur
lingkaran/lingkungan yang diorganisir oleh daerah/propinsi dan Kota Baltimore.
Itu mempunyai 24 sekolah disthcts, semua yang secara fiskal tergantung.
Daerah/propinsi organizadon berlaku di dalam. bagian tenggara regio dari
negeri; Florida, sebagai contoh, mempunyai 6scally daerah-daerah sekolah yang
mandiri dan Alabama mempunyai 129 daerah-daerah sekolah secara fiskal
tergantung. Beberapa negara yang barat juga mengikuti suatu pola yang regional
dari organisasi daerah sekolah. Nevada mempunyai 17 daerah-daerah sekolah
secara fiskal yang mandiri, dan Wyoming mempunyai 49 daerah [di/yang/ttg] mana
10 bebas secara fiskal (Ikan salem et al., 1988). Ada sangat sedikit
ketidaksamaan antar daerah-daerah sekolah sejauh keuangan dan oker proyisioris
di dalam negara daerah-daerah siapa diorganisir sepanjang bentuk
daerah/propinsi dibanding di dalam daerah-daerah status(negara siapa
diorganisir ke dalam unit-unit subcountv.
Hari ini mewakili; menunjukkan ekonomi utama,
sosial, dan komitmen-komitmen budaya di dalam Amerika Serikat. Belanjaan
tahunan di elementer dan sekolah menengah yang publik adalah tentang seperempat
dari suatu dolar-dolar yang trilyun, pembuatan pembelanjaan-pembelanjaan untuk
pendidikan komponen budgeter tunggal paling besar dari status(negara dan
pemerintah-pemerintah lokal (NCES, 1989). Empat dan three-tenths persen (43%)
dari Produk Domestik Kotor (GDP) dibelanjakan di elementer preprimary dan
pendidikan yang diterima di sekolah sekunder di dalam pribadi dan sektor publik
kombinasikan (36 persen di dalam sektor publik sendirian) bandingkan dengan 26
persen di Jepang dan Jerman, 33 persen di dalam Kerajaan Inggris, 35 persen di
Prancis, dan 38 persen di Canada (NCES, 1993c, p.140j. Sekolah-sekolah
mendaftarkan/mengerahkan 47,600,000 murid (NCES, 1993a, p.37) dan mempekerjakan
hampir 45 juta personil pendidik dan dukungan profesional (NCES, 1991a, p.ii).
Dalam 1985, daerah sekolah mempekerjakan 265 persen dari semua workers-more
yang publik dibanding yang manapun status(negara atau pemerintah pusat.
Termasuk para murid yang didaftar, tentang nya di dalam setiap lima orang di
dalam Amerika Serikat dilibatkan secara langsung di dalam elementer formal dan
pendidikan sekunder.
Gambar 33 menunjukkan trend yang nasional di
dalam sumber pendapatan untuk elementer yang publik dan pendidikan sekunder
untuk periode 1890 sampai 1990. Dalam 1890, 79 persen dari pendapatan untuk
sekolah negeri berasal dari sumber lokal, terutama pajak kekayaan. Negara menyediakan
sisanya. Oleh 1988, 47 persen dari pendapatan sekolah yang l)ubLic disediakan
oleh negara, 47 persen datang dari sumber lokal, dan 6 persen dari pemerintah
pusat. Tahun puncak untuk keikutsertaan pemerintah pusat di dalam pembiayaan
sekolah negeri adalah 1979 dan 1980 ketika itu menyediakan 98 persen dari
pendapatan mereka (NCES, 1993b, p.32).
Gambar 34 menunjukkan trend di dalam
mengoperasikan pembelanjaan-pembelanjaan per pupi[ untuk sekolah negeri karena
1971 di dalam arus dan di dalam dollar konstan menyatakan dalam kaitan
dengan?dengan menggunakan istilah 1992-93 daya beli. Di dalam dolar-dolar yang
ada, per pembelanjaan-pembelanjaan murid sudah meningkat (di) atas enam belas
[kali] lipatan dari S32() dalam 1971 sampai 55149 dalam 1993. Mempertimbangkan
barang kepunyaan inflasi, pembelanjaan-pembelanjaan sudah meningkat (di)
atas 5 kali dari $960 ke $5,149 (NCES,
1993a, p.46). Pembelanjaan meningkatkan antara 1950 dan 1970s yang terlambat;
almarhum buka peluang belanjaan bidang pendidikan untuk bisa seiring dengan
inflasi dan untuk mempertimbangkan ahli penting-grana cansions dan
perbaikan-perbaikan. Dedine yang sedikit di dalam dollar konstan pada awal
1980s (lihat Gambar 34 menandai (adanya) menurunkan habiskan. ing untuk
sekolah-sekolah sehubungan dengan peningkatan-peningkatan di dalam biaya hidup;
pertumbuhan pembelanjaan untuk pendidikan yang publik sekali lagi sudah
melewati inflasi sejak.
Data di pendaftaran-pendaftaran publik dan
sekolah swasta dipertunjukkan di dalam Gambar 35 untuk periode 1970-1989 dengan
proyeksi kepada 2001. Pendaftaran sekolah negeri di tingkatan yang dasar (K-8)
adalah di puncak mereka dalam 1970 hampir 33 juta murid; tingkatan sekunder
(9-12) pendaftaran mencapai puncak dalam 1976 pada 143 juta. Kemunduran yang
berikut di pendaftaran-pendaftaran elementarv membalikkan dalam 1985, dan
miliki sedang meningkatkan karena. Pendaftaran-pendaftaran sekunder mulai
meningkat lagi; kembali dalam 1991 (NCES, 1993c, p.321).
Pendaftaran di dalam kelas-kelas yang dasar
mencapai puncak dalam 1964 untuk sekolah swasta pada 45 juta; mereka sekarang
ini pada sekitar 43 juta :rnd diproyeksikan untuk bangkit kembali kepada 45
juta pada akhir abad. Pendaftaran di bunga mawar tingkatan yang sekunder kepada
14 juta selama periode 1981-1984, tetapi sejak itu telah merosot kepada 12
juta. Pendaftaran-pendaftaran sekolah swasta sekunder diproyeksikan untuk
menjangkau 14 juta lagi; kembali awal di dalam millennium yang baru. Persentase
of,,pupils mendaftarkan sendirian sekolah-sekolah sudah tinggal antara 10 dan
12 persen untuk periode 1970-1990 (NCES, 1993c, p.321).
Meski banyak ketakutan satu kepergian banyak
orang dari para siswa dari publik ke sekolah swasta, tidak ada bukti yang ada
bahwa ini kejadian. Persepsi pertumbuhan
sekolah swasta bisa disebabkan oleh komposisi pergeseran pribadi.
pendaftaran-pendaftaran sekolah. Dalam 1966, 875 persen dari 6.369.807 murid
sendirian sekolah-sekolah didaftar di sekolah-sekolah Katolik; oleh 1983, hanya
571 persen dari 5,305,041 murid sekolah swasta adalah dalam sekolah-sekolah yang sedemikian ( Tukang
tong, 1988). Pendaftaran di sekolah-sekolah Katolik sudah meneteskan?jatuh 46
persen selagi meningkatkan 186 persen di dalam sekolah-sekolah yang tidak katolik.
Pendaftaran di dalam sekolah-sekolah evangelis mendekati satu juta dalam 1983,
satu peningkatan karena 1966 dari 627 persen. (di) atas separuh dari sekolah
swasta dan 28 persen dari pendaftaran-pendaftaran mereka dihubungkan dengan
Protestan gereja-gereja dalam 1983.
Untuk melayani 45 juta murid di muka umum
sekolah-sekolah. daerah-daerah sekolah lokal mempekerjakan padanan fulltime
(FTH) dari 44 juta orang [di/yang/ttg] mana 23 juta adalah para guru kelas. Ada
477,000 intervi mendukung personil termasuk ajudan-ajudan, penasihat-penasihat
bimbingan, dan pustakawan-pustakawan dan 200,000 pengurus dan para penyelia.
Kesekretariatan dan pekerjaan klerk, media persà nnel, driver bus, para petugas
keamanan, para pekerja rumah makan, dll. jumlah hampir 14 juta.
Pientage dari staf total yang adalah para
guru kelas meneteskan?jatuh dari 70 persen dalam 1950 sampai 53 persen dalam
1989. Proporsi pengurus-pengurus di dalam .1989. apakah 45 persen; staf
dukungan profesional hanyalah di bawah 11 persen dan staf dukungan lain, 32
persen.. Proporsi karyawan profesional. para guru dan administrator5 miliki.
Dikurangi dari tahun ke tahun selagi proporsi personil dukungan yang tidak
bersertifikat sudah meningkat dari 23 persen dalam 1950 (NCES, 1990, p.88).
Meskipun pendaftaran-pendaftaran kemerosotan
di muka umum sekolah-sekolah karena 1971, nomor yang total pendidik-pendidik
profesional sungguh telah diningkat. Ini sudah menghasilkan suatu kemunduran
yang berkesinambungan di perbandingan-perbandingan PUPIl/Professional dari 256
sampai nya di dalam 1961 sampai 172 sampai nya dalam 1990. Ada suatu penurunan
yang sesuai ukuran kelas yang median (NCES, 1988a, pp. 102-103). Statistik ini
dilaporkan di Table 35.
Merosot pendaftaran-pendaftaran murid
mengumumkan masa surplus guru dan memperlemah dukungan untuk pertumbuhan di
dalam gaji guru. Trend di dalam gaji guru, 1960-1992, ditunjukkan di dalam
Gambar 36. Sementara gaji guru rerata tetap naik dari $10,174 dalam 1973 selama
pendaftaran-pendaftaran puncak ke(pada $34934 dalam 1992, daya beli mereka
tidak bisa seiring dengan inflasi untuk sebagian besar periode. Yang dinyatakan
dalam kaitan dengan?dengan menggunakan istilah daya beli dollar dalam 1992,
1973 gaji adalah setara dengan $33,345. Dari titik bahwa tinggi, daya beli
rerata, gaji guru merosot ke(pada suatu yang rendah dari $28,577 dalam 1981
ketika kecenderungan itu dibalikkan
(NCES, 1993a, p.419). Salaçies menyetorkan ke rekening 1992 yang diwakili suatu
nilai tertinggi baru di dalam daya beli guru. Meskipun semua guru di dalam
suatu daerah sekolah normalnya dibayar menurut suatu jadwal gaji, para guru
sekunder rata-rata tentang $1400 lebih dari (sekedar) para guru yang dasar di
dalam gaji yang mencerminkan pendidikan mereka yang formal lebih besar dan
merasakan. Gaji permulaan rerata dalam 1992 adalah $23,054. melebihi pembelian
kuasa(tenaga tentang segala periode yang sebelumnya. Dengan
pendaftaran-pendaftaran increasirig dan dengan meningkatkan angka-angka dari
pensiun-pensiun dari para guru dalam jabatan, permintaan untuk para guru yang
baru adalah mungkin untuk melanjutkan untuk bersifat kuat untuk sisa dari gaji
abad dan guru perlu melanjutkan untuk meningkatkan pada satu tingkat yang di
atas rata-rata.
Keaneka ragaman antar bagian-bagian politis
di tingkatan lokal dan dampak nya atas hak kekayaan di dalam ketetapan peluang
bidang pendidikan untuk anak-anak telah dibahas di atas. Ketidak-adilan itu
ditambah(diperparah oleh suatu pola yang serupa antar negara. Ini digambarkan
oleh 1992 statistik melaporkan di Table 36 untuk lima puluh negara. Variasi di setiap
dimensi: ukuran, kekayaan, pembelanjaan, dan usaha. Pendaftaran-pendaftaran di
dalam sistem persekolahan status(negara mencakup dari (di) atas 5,700,000 di
California kepada 105,000 di Vermont dan Wyoming. Per kapita pendapatan
pribadi, suatu ukuran kaya atau kemampuan untuk mendukung jabatan dalam
pemerintahan, cakupan-cakupan dari $26,677 di Connecticut sampai $13,740 di
Mississippi. Status(negara dengan yang paling rendah per pendapatan murid
adalah Mississippi pada $3,007; Arkansas hanyalah sedikit lebih baik pada
$3,095. Tidak termasuk Alaska, figur-figur siapa - disimpangkan oleh satu tidak
biasa mahal tentang tinggal, status(negara belanjaan yang paling tinggi adalah
New:Jerseyat $7,887-nearly S500() per murid -lebih dari (sekedar)
Mississippi dan Arkansas. Lagi; kembali tidak
termasuk Alaska, rata-rata gaji guru mencakup dari S48,229 di Connecticut
sampai $23,644 di Selatan Dakota: Perbandingan pupil/teacher adalah paling baik
di dalam New Jersey dan Vermont pada 138 sampai nya; paling sedikit yang baik
di Utah pada 249 sampai satu yang diikuti oleh California pada 228 sampai nya.
National Center untuk Education Statistics
(NCES, 1993c, p.397) ukuran menyatakan usaha untuk mendukung pendidikan publik
oleh rasio pendapatan sekolah negeri per murid dalam hubungan dengan per kapita
pendapatan. Perbandingan ini, yang disebut indeks dari Pendapatan Sekolah
Negeri, diperkenalkan di dalam kolom tangan kanan dari Table 36. Itu
mencerminkan apa yang dibelanjakan di sekolah negeri rerata Student sehubungan
dengan kesanggupan untuk membayar yang khas wajib pajak .(p. 138). Menurut
indeks, Alaska mengusahakan usaha yang terbesar pada 38,2 yang diikuti oleh
Vermont pada 349 dan Wyoming pada 345. Tennessee membuat usaha paling sedikit
pada 200. Perbandingan melaporkan .Wyoming dan Alaska bisa dipompa oleh suatu
proporsi yang tinggi minyak yang menghasilkan harta, pajak yang di atasnya
diekspor untuk meminyaki konsumen-konsumen di dalam negara yang lain dan tidak
mencerminkan pajak acmally yang dibayar oleh penduduk-penduduk dari Wyoming dan
Alaska. Dari 1930 sampai 1972, indeks yang nasional meningkat dengan 117
poin-poin, lebih dari (sekedar) penggandaan. Dari 1972 sampai 1985, indeks itu
tinggal yang relatif stabil, berkisar antara 21 dan 23. Sejak itu, indeks sudah
meningkat 30 poin-poin atau sekitar 135 persen.
Di dalam bagian ini, kita sudah menggambarkan
konteks yang struktural pendidikan di mana para pemimpin hari ini harus
berfungsi. Pola umum dari penguasaan sekolah di luar kota-kota kita(kami yang
utama adalah satu kecil, pemerintahan sendiri daerah-daerah sekolah yang fungsi
di dalam parameter-parameter umum menyimpan status(negara dan pemerintah pusat.
Karakteristik-karakteristik sosial dan kesukuan dari ekonomi, populasi-populasi
daerah sekolah cenderung menjadi secara relatif homogen di dalam
batasan-batasan mereka, hanya sangat berbeda ke seberang batasan-batasan.
Meskipun dekade-dekade dari usaha-usaha legislatif dan hal tentang pengadilan
untuk menghapuskan perbedaan suku sekolah tersebut dan membuat distribusi
sumber daya lebih, tradisi kendali lokal ini sudah mengabadikan keadaan tetap
pada suatu saat tertentu. Mengoreksi arus yang tidak adil dari sumber daya
selagi memelihara vitalitas.
Apakah Anda percaya bahwa mereka mewakili;
menunjukkan tantangan-tantangan yang paling penting kepada sekolah negeri di
dalam Amerika Serikat hari ini? Adalah mereka yang terjangkau oleh tahun 2000?
Apa yang berubah akan harus buatan .dll.. mentarv dan sekolah menengah dari
Amerika Serikat jika sasaran ini (atau sasaran yang anda berpikir lebih
penting) adalah untuk direalisir?
Pilihan Amerika adalah suatu produk The
National Center di Education dan Economj; suatu organisasi not-forprqfit yang
diciptakan untuk mengembangkan proposal-proposal fouilding satu pendidikan dan
pelatihan sstem .citfficteni untuk mendukung suatu ekonomi yang nasional yang
sangat kompetitif secara internasional This laporan memusat di meningkatkan
produktivitas bisnis-bisnis dan industri Amerika, dengan demikian melindungi
patokan tentang tinggal para warganegara Amerika. Commission mengamati bahwa
tidak ada bangsa sudah pernah; selalu menghasilkan suatu kekuatan pekerja
sangat berkwalitas u'itbout pertama menyediakan para pekerja nya dengan suatu
educalion umum yang kuat. Dua faktor dikenali sebagai berdiri di dalam U 'OP tentang menghasilkan suatu higblj'
educaied ii 'ork[orce: ketiadaan patokan ct'áear dari achieve,iwnt dan sedikit;
beberapa s(z(delzts moilvated untuk bekerja penyair di sekolah. Dokumen laporan
scrious,wss dari condiiio,z di mana Amerika Serikat menemukan iielf pujian;
rekomendasi hari ini dan buatan-buatan untuk estal,lith,aent standar prestasi
bidang pendidikan di tingkatan dan [alat; makna] nasional untuk memenuhi itu
srn,zdards.
Pendidikan Minggu adalah "surat kabar dari
pendidikan Amerika catatan." Itu riwayat-riwayat kejadian yang utama thai
mempengaruhi eJementai' dan secondaiy pendidikan sepanjang Amerika Serikat pada
semua tingkat dari pemerintah. Ini adalah suatu sumber acuan yang penting untuk
praktisi-praktisi dan para siswa bidang pendidikan yang ingin mengikuti
perkembangan [peristiwa; pemandangan] yang bidang pendidikan. Analisis dan
pendapat editorial yang mendalam tercakup di pemenuhan nya yang mingguan.
Buku berisi enam belas dokumen di
status(negara tbe dari sekolah negeri Amerika yang ditugaskan oleh Phi Delta
Kappa, pendidikan yang profesional frater"hr Keduanya kritikus-kritikus
sekolah dan pembela/pelindung-pembela/pelindung bersifat represeiited.
Penyokong-penyokong termasuk Mikhael Xi rst--a policr analis, Harold
Hod,gkinson-a deographer, Denis Doyle-a pendukung futurism dengan Hudson
Institute, Daud Berliner-a profesor pendidikan, Nathan Glazer-a sarjana
sosiologi, dan Albert Sbanker-President dari Federasi Amerika itu Teachers.
Sebagai tambahan terhadap mesin pengupas, buku merekam mendiskusikan ion
isu-isu menujukan dan conclusions tiba di. - Jacobson, S.L., & Berne, R.
Eds.). (1993). Memperbaiki pendidikan: Muncul pendekatan sys'temic. Ribu Pohon
ek, CA cotwin Press.
Para editor sudah merakit satu himpunan yang
internasional dari pendidik-pendidik, peneliti-peneliti, dan pemikir-pemikir
untuk menguji masa depannya dan saat ini perubahan bidang pendidikan, di
seluruh dunia. Potongan-potongan yang asli diorganisir ke dalam tiga bagian.
Part aku melihat perubahan sekolah iii United Slates. Bagian ini meninjau ulang
efektivitas dari insentif kinerja yang kerjasama, dci profesional elopmenl
memprogram untuk para guru, dc'ccn!ra!izalion. nuinage berbasis sekolah. mciii.
conn,liin,i' kendali dari sekolah-sekolah,
dan pilihan untuk unsur-unsur. Memisah[Kan Jika fokus-fokus di reftiriii
iniliatives luar negeri. Mereka termasuk: effoFts di ingland untuk
mendesentralisasi kuasa(tenaga pengambilan keputusan whik kurikulum
pemeliharaan nasional dan ascc'ss,nent 5 buritan; usaha-usaha Kanada untuk
menghasilkan "cbouls dengan [hati/jantung]" melalui
volunteerism; dan ('[[seni-seni
menyalakan suatu Jerman yang wzfied untuk ubah pendidikan ii, order(pesanan
untuk bisa seiring dengan politis radikal dan siuia1 trausformations.
Memisah[kan III mempertimbangkan; menganggap masa depan dari sekolah ubah untuk
memecahkan mengubah realifirS. Pengarang-pengarang mendiskusikan tingkat kepada
mana edu(w(irJIzal policj' dan praktek akan terus meningkat 1olliI&c'd. dan
like1' dampak praktis dari rliiuc'es mx sekolah-sekolah dan pendidik-pendidik.
sumber, kedua-duanya pemerintah dan pribadi, dan [menggambar/menarik] terutama
di hasil-hasil dari survei-survei dan aktivitas yang dilaksanakan oleh National
Center untuk Education Statistics. ft yang dibagi menjadi tujuh bab: .411
Levels Education, Elementer dan Secondary Education, Post-Secondary Education,
Progtams pemerintah pusat untuk Education dan Aktivitas-Aktivitas Yang
Berkaitan, Hasil-hasil Education, Internasional Education, dan Learning
Resources dan Technology. Ke(pada qua!i,fy untuk pemasukan, material harus di
seluruh negara di dalam lingkup dan [tentang] bunga(minat dan nilai yang ada.
Digest berisi informasi bermanfaat karena peneliti-peneliti pendidikan dan
pengurus-pengurus, pejabat, media, masyarakat bisnis, dan kalayak ramai.
Karena ciptaan nya Pada Bulan Juli 1990,
National Education Goals Panel sudah dibangun suatu catatan yang kumulatif
kemajuan milik bangsa tersebut terhadap pertemuan sasaran menetapkan pada Charlottesville
Education Summit dalam 1989. Pada puncak itu, para gubernur milik bangsa
tersebut dan President George Bush bermufakat enam sasaran nasional di dalam
pendidikan yang untuk dicapai oleh tahun 2000. Masing-masing tahun di hari
ultah dari Charlottesville Summit, Panel mengeluarkan suatu laporan yang
menyeluruh kepada bangsa tersebut di kemajuan itu menjadi buatan meraih
masing-masing dari sasaran. Tujuan laporan-laporan adalah ini untuk menguatkan
kesanggupan untuk sasaran memproses dengan pernyataan di mana kemajuan sudah
dibuat dan di mana lebih banyak kemajuan perlu untuk dibuat. Masing-masing
laporan tahunan consistsof dua volume: National Report dan State Reports.
Volume One melaporkan kemajuan untuk bangsa tersebut secara keseluruhan dan Volume'
Dua berisi suatu bagian yang terpisah untuk masing-masing menyatakan.
US. Depatemen Perdagangan, Kantor dari
Census. (1991). 1990 sensus populasi dan perumahan.
Washington, DC: US. Percetakan
Pemerintah. Masing-masing dekade suatu sensus yang saksama diselenggarakan b
AS. Departemen dari perdagangan dari karakteristik-karakteristik populasi milik
bangsa tersebut, termasuk notulen co,,dit di mana orang-orang tinggal. Data
dikumpulkan dilaporkan di dalam volume-volume yang terpisah pada tingkat pengumpulan
dan di var3'iilg amowits dari detil. Di verj' paling sedikit, memisahkan
voltunes ada tersedia karena masing-masing menujukan dan untuk masing-masing
bidang metropolitan utama. Di dalam masing-masing volume i,zforznation
disediakan untuk bagian-bagiannya yaitu C'ensus informasi menyediakan
pengurus-pengurus publik. termasuk sc!ool adminislrators, dengan informnauon
tentang masyarakat-masyarakat mereka yang untuk membuat keputusan-keputusan
kebijakan yang diberitahukan. Untuk peneliti, data sensus ada tersedia di tape
yang mnag,melic untuk komputer aalrsis di dalam mcb detil lebih besar dari 1m7
bentuk yang diterbitkan.
Komisi
pengawas Yayasan/Pondasi Gram di Work, Fanid v dan Citizenship. (1988). Yang
dilupakan separuh l'atbwars ke sukses untuk .4mcrica s vouth dan
jrmmzçfa,mmi/ies. Washington. DC: Pengarang. Mengenali kebutuhan dari anak
remaja yang lebih tua di suatu chan-ing socielr, W T Mewariskan(Mengabulkan
Yayasan/pondasi ('.cta!,!ishL'd conunission di lVork, Keluarga dan
t',itizemisbip dalam 1986. 411cr suatu Iwo-rear belajar, laporan itu akhir
diterbitkan didasarkan pada ,iunzerous [mengontrak/memendekkan]
sttha.zal','se.s, nta,zv [di/yang/ttg] mana adalah juga diterbitkan oleh
C'ommission.. Gommission itu tidak terlibat dalam riset baru, tetapi yang
dicari ke(pada pengetahuan cr-aluate yang ada. rangsang s,eu' gagasan-gagasan,
dan meningkatkan komunikasi antar peneliti, practit penyendiri-penyendiri, dan
policj mizakers. Fokus dari komisi
pengawas 's perhatian di 50 persen dari .4mnerican yang muda yang tidak
terus-kan ke perguruan tinggi. Komisi pengawas menyimpulkan bahwa ada terlalu
manusia' Orang Amerika muda yang menggelepar dan uhfsnatelj'fai! Di dalam usaha-usaha mereka untuk melayari jalan
lintasan dari yang muda ke kedewasaan. "Separuh dari yang muda kita(kami
dalam bahaya dari mahluk menangkap di suatu yang raksasa mengikat bahwa dapat
menyangkal mereka keikutsertaan penuh di dalam societ kita(kami dan manfaat
yang penuh dari bakat-bakat mereka sendiri" 6°. 1). Laporan menyediakan
pendukung dokumentasi bahwa statemen dan recommendat notulen kebijakan yang
dirancang untuk mencabut mengikat.
BAB 6
PENGAMATAN DAN PENCERMINAN
Kita
secara terus menerus mengamati dunia di sekitar kita. Kita melihat; namun kita
tidak melihat semua, dan kita tidak perlu memahami apa yang kita lihat. Pada
waktu yang sama dan di tempat yang sama, orang yang berbeda melihat
maksud-maksud hal-hal yang berbeda-beda dan atribut yang berbeda kepada
peristiwa yang sama. Setiap Orang berreaksi dengan cara yang berbeda kepada
peristiwa-peristiwa yang serupa yang terjadi setiap saat didalam hidup mereka,
tergantung atas perubahan-perubahan di dalam suasana hati, minat, dan
campurtangan pengalaman-pengalaman. Dengan kata lain, kita cenderung untuk
lihat atau mendengar bermacam-macam derajat tingkat dari kelengkapan dan sering
juga mengubah penafsiran kita kebagai hal yang kita sungguh lihat dan mendengar
dari waktu ke waktu. Banyak sukses kita sebagai para pemimpin pendidikan
tergantung pada kekuasaan dan kejelasan penelitian, kita kemampuan untuk lihat
dan membawa apa yang terjadi di dalam kelas, sekolah tersebut, masyarakat dan
kemampuan/wewenang kita di dalam dengan teliti mengerti apa yang kita sudah
diamati. Ketrampilan-ketrampilan kita di dalam mendengar dan melihat adalah
ketelitian siapa dan kelengkapan/keluasan dapat diperbaiki melalui pelatihan
dan cerminan.
Di
dalam buku mereka, In Search of Excellence,
Peters dan Waterman (1982) menggunakan tema management
by wondering around untuk mendeskripsikan perilaku yang administrasi dengan
merekomendasikan sedikitnya dengan memberi 50% dari waktu yang telah ditentukan
(teratur dan tidak teratur) dengan para karyawan pada semua tingkat, dengan
mencari tahu apa yang sedang terjadi, dan menerima informasi secara langsung
dibandingkan dengan memberikan kepercayaan kepada mata-mata yang menyaring
informasi melalui suatu rantaian perintah. Dengan mengembangkan tema tersebut
diatas, Peter (1988) menulis, “Jika berbicara dan memberi perintah adalah model
adminstratif tahun 50an, mendengarkan
(tindakan kepada orang-orang terdekat), adalah model sesudah dan sebelum
1980an.” (Hal 434).
Schon
(1983), di dalam mempelajari jalan berpikir para profesional, menemukan
istilah, reflective practitioner. Reflective practitioner adalah suatu
peninjau yang tajam dari suatu kejadian. Lelaki atau perempuan selalu membawa “percakapan-percakapan"
akan situasi-situasi, pengamatan, bertukar pikiran dari pengalaman-pengalaman
yang sebelumnya, mengambil tindakan bersifat percobaan, mengamati hasil-hasil,
dan selalu melanjutkan sampai situasi menerima bentuk yang diinginkan.
Di
dalam bab ini, kita mendiskusikan kebutuhan akan ketrampilan-ketrampilan
penelitian yang tajam kepada pihak para pemimpin pendidikan.
Ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan di dalam pengamatan yang efektif
digambarkan dan metoda-metoda untuk mengasah ketrampilan-ketrampilan yang diperkenalkan.
Bab menutup dengan suatu pengamatan penghubung diskusi dan praktek yang memberikan
penerangan.
6.1.
Pengamatan sebagai suatu Fungsi Administrasi
Mungkin kelihatannya ironis, dengan ketersediaan sistem
informasi yang canggih, elektronik, kita menekan pentingnya setiap Administrasi
untuk memelihara suatu derajat tingkat yang substansiil dari kebebasan dari sistem
formal ini dengan melanjutkan kontak pribadi dengan para anggota organisasi yang
lain. Yang khas sistem informasi berisi ukuran data yang kuantitatif terutama
dari masukan-masukan dan keluaran-keluaran. Ketika pengurus sekolah tersebut
bangkit dari duduk dan berhubungan dengan para siswa, para guru, staf pendukung,
orang tua, dan masyarakat, akses diperoleh kepada informasi yang kualitatif bahkan
mungkin punya arti penting untuk meningkatkan proses-proses sekolah dan meminta
perhatian mengarah arah yang salah atau melalaikan sasaran.
Masing-masing disekitar kita membawa suatu kerugian yang
melemahkan yang kita ketahui, dan
mungkin mengharapkan, apa yang kita sedang coba untuk lakukan dan prosedur yang
sudah kita kembangkan. Sebagai hasilnya, kita, dan mereka yang dekat dengan
kita di dalam organisasi adalah sistem informasi yang kita sudah rancang dengan
mengembangkan filter-filter efektif untuk hanya menerima informasi yang mendukung
penyimpangan-penyimpangan kita. Jika kita terbuka bagi jenis acak, multisources
informasi kita memperoleh melalui pencarian, kita dapat dengan mantap
mengurangi kebutaan.
Ini penting untuk para pemimpin untuk menciptakan
lingkungan-lingkungan di mana mendengarkan dan dihargai oleh semua para anggota
organisasi dan di mana peluang dan harapan-harapan untuk mengamati dan yang
dibuat ke dalam sistem. Semua manajer perlu untuk mendengarkan orang-orang di
bawah pengawasan mereka; kawan seregu perlu untuk mendengarkan satu sama lain:
setiap orang perlu untuk mendengarkan klien sekolah tersebut yaitu para siswa,
orang tua, dan masyarakat. Pada waktu yang sama ketika berkuasa pada setiap
orang adalah yang tertinggi, mendengarkan alat terbaik menjadi satu-satunya
untuk menguasai sejumlah besar dari orang lain (Peter, 1988).
Peter (1988) menekankan pentingnya memotivasi setiap orang
di dalam organisasi untuk terus berhubungan dengan klien-kliennya melalui
keterlibatan yang tidak disaring. Di dalam kasus dari sekolah, bahwa berarti
para siswa, orang tua, dan masyarakat. Mencatat bahwa 90% dari informasi yang
secara sistematis dikumpulkan oleh satu organisasi adalah internal di dalam
penekanan, ia meminta memutar organisasi-organisasi di dalam ke luar, membuat
mereka secara penuh sadar akan kemarahan banyak sekali klien. “Terlalu sedikit
orang, pada terlalu sedikit tingkatan-tingkatan, di dalam terlalu sedikit
fungsi-fungsi. dengarkan terlalu kecil dan terlalu terlambat; almarhum dan
mengabaikan apa yang mereka mendengar terlalu sering kali, dan tindakan sudah
terlambat” (Hal 156). Peter juga mengusulkan untuk memutar organisasi di dalam
ke luar menghubungkan sektor swasta, tetapi banyak menerapkan juga kepada
sekolah negeri seperti rumah mengunjungi oleh para guru dan pengurus-pengurus,
nomor telepon rumah dan sekolah terbitan dari para guru dan pengurus-pengurus,
dan membuat sekolah-sekolah dengan mudah dapat diakses kepada orang tua dan
para anggota masyarakat.
Para anggota masyarakat sekolah tersebut sudah yang di-set
keadaan jamak berharga Mei itu dari waktu ke waktu menyebabkan konflik. Untuk
mengatur, pemimpin yang bidang pendidikan perlu memahami apa yang itu yang
di-set berharga adalah dan di mana poin-poin yang mereka mungkin datang ke
dalam konflik. (Lihat diskusi berharga konflik di Bab 4). Perbedaan harus
dipandang sebagai sah, dan pemimpin itu perlu mencari uraian-uraian dan
penjelasan-penjelasan kenyataan-kenyataan yang ganda, kebenaran-kebenaran, dan
persepsi-persepsi berpegang kepada para anggota organisasi, secara individu dan
di dalam kelompok-kelompok (LeCompte & Preissle, 1993). Untuk memenuhi hal
ini, pemimpin perlu untuk mengamati sistem nilai yang bervariasi di dalam
konteks di mana mereka dinyatakan. “Itu
kenyataan-kenyataan yang ganda adalah terdapat di yang unik, yang bentuk
tunggal, yang idiosyncratic, deviant, yang pengecualian, yang tidak
biasa, persepsi-persepsi yang menyimpang individu, ketika mereka diberikan pengalaman”
(Guba & Lincoln, 1981. Hal 157). Nilai-nilai seperti itu tidak ditemukan di
dalam sistem informasi, tetapi hanya mengalami melalui pengamatan langsung.
Jadi dengan demikian, suatu tugas manajer untuk memastikan
bahwa konflik-konflik bukan circumvented
maupun yang ditindas; sedikit, mereka diperlukan “terpecahkan”. Memecahkan
konflik-konflik adalah satu proses iteratif dengan melibatkan mengembangkan
satu pemahaman kultur-kultur ganda yang menciptakan dan menghadapi organisasi,
hal yang disetujui pencarian diantara mereka kultur-kultur, proposal-proposal
percobaan pembangkit, meneliti reaksi-reaksi, membuat proposal-proposal baru.
dll., sampai konflik-konflik itu
dipecahkan (Schon, 1983). Merupakan suatu jenis dari pengambilan
keputusan yang bulat akan dibahas pada BAB 15.
Pengalaman secara langsung adalah yang paling luas untuk
digunakan test untuk kenyataan/kehidupan. Bahasa pribumi itu kaya dengan
berkata seperti itu membuktikan tentang arti penting bahwa kita sebagai sebuah
komunitas/masyarakat yang mengalami secara langsung. Sebagai contoh ; “Melihat sedang
percaya," atau, “Pengalaman itu adalah guru yang terbaik”. Manajemen
dengan pencariaannya meningkatkan kemampuan para pengurus untuk memahami
situasi-situasi yang kompleks dengan secara langsung mengamati perilaku dan kejadian.
Argumentasi-argumentasi dasar metodologis untuk
observasi, ini semua bisa diringkas: observasi (terutama sekali pengamatan
peserta) memaksimalkan kemampuan penyelidik untuk menyerap alasan-alasan,
kepercayaan-kepercayaan, perhatian-perhatian, minat, perilaku yang tak sadar, kebiasaan
dan pengamatan lainnnya (terutama sekali pengamatan peserta) mengizinkan dan membiarkan
penyelidik untuk melihat dunia mereka seperti melihat dunianya sendiri, untuk
hidup dengan batasan waktu mereka, untuk menangkap peristiwa di dalam dan atas
dirinya sendiri, dan untuk menyerap kultur dalam kepunyaan alami, pengamatan lingkungan yang berkelanjutan,
(terutama sekali pengamatan peserta) menyediakan penyelidik dengan akses kepada
reaksi yang emosional kepada kelompok secara introspektif, adalah di dalam
suatu pengertian yang riil mengijinkan peninjau untuk menggunakan dirinya sendirinya
sumber data dan pengamatan (terutama sekali pengamatan peserta) mengizinkan peninjau
untuk berdasarkan pada pengetahuan diam-diam, kedua-duanya itu milik dan
anggota kelompok. (Guba &Lincoln, 1981, Hal : 193).
6.2.
Teknik-Teknik Pengamatan
Di dalam kutipan tersebut, Guba dan Lincoln sedang menggambarkan
perolehan nilai dari pengamatan peserta di dalam perasaan pengertian formal
etnografi; namun ada ikatan kuat antara peninjau peserta dan pengurus pencarian
yang efektif. Pengurus administrasi dapat sangat memperbaiki miliknya atau
pengamatan-pengamatannya dan analisis yang berikut melalui memeluk
teknik-teknik etnografi. Menggunakan istilah dari ethnographist, pengurus itu adalah satu “instrumen evaluasi.”
Sependapat dan waktu yang sama, lelaki atau perempuan adalah instrumen,
pengurus, kolektor data, analis data, dan interpreter data dalam
situasi-situasi di mana alasan-alasan, sikap-sikap, kepercayaan-kepercayaan,
dan nilai-nilai mengarahkan banyak jika bukan kebanyakan dari aktivitas
manusia, instrumentasi paling canggih kita masih menguasai peninjau dengan seksama
seorang manusia, mahluk yang dapat mengamati, lihat, mendengarkan, pertanyaan,
pemeriksaan, dan akhirnya meneliti dan mengorganisir pengalamannya secara langsung
(Guba & Lincoln, 1981).
Sebagai satu alat, pengurus adalah yang mau mendengarkan
kepada satu lingkungan dan untuk orang-orang yang menduduki dan menciptakan
lingkungan itu. Pengurus menanggapi pada tanda/kunci rahasia yang meramalkan sesuatu
yang tak terduga tetapi juga menyediakan petunjuk-petunjuk kepada yang lain
dalam wujud-wujud pertanyaan, komentar-komentar, dan ungkapan jasmani, dan
waspada kepada tanggapan-tanggapan mahluk yang diamati, kepada
petunjuk-petunjuk yang diberi.
Salah satu keuntungan manusia yang besar ketika menjadi
alat (sebagai contoh dibanding suatu catatan dan pensil dan survei pensil)
adalah bahwa mereka adalah sangat dapat menyesuaikan diri seperti data dan alat
yang dikumpulkan, menjadi mampu menilai apapun jumlah berbagai hal dengan
segera seperti orientasi aristik dan minat intelektual
Manusia (pengurus-pengurus) ketika instrumen-instrumen
pengumpulan data bersifat holistic di dalam pendekatan dibanding yang terbagi-bagi
mereka dan dapat mengembangkan suatu perasaan/pengertian yang tergantung dari
situasi yang termasuk suasana hati, iklim, nada, langkah, susunan, dan
perasaan. Ribuan bit-bit dari data dimasukan, disaring, dan dengan segera
menghubungkan suatu proses mental bahwa data dan tempat-tempat mereka ke dalam
pola-pola bahwa membuat suatu kompleks, penuh arti, utuh. Beribu-ribu bit data ditangkap,
menyaring dan dengan segera dihubungkan kesuatu proses mental yang berurutan menempatkan
jenis-jenis data ke dalam pola teladan yang membuat suatu kompleks, tetapi
penuh arti, utuh. Di dalam proses, peninjau menarik atas kedua-duanya
pengetahuan formal dan diam-diam. Dengan seketika didapatkannya, hipotesis yang
dihasilkan dan dengan segera diperiksa dan jika perlu, arah pemeriksaan adalah
unik ke peninjauan manusia (Guba & Lincoln, 1983).
Administrasi yang peka dapat dengan segera jika
hasil/statementnya belum jelas dan segera memberi penjelasan kekurangannya.Pengurus
yang peka dapat berkata dengan segera jika statemen-statemen yang sebelumnya
belum jelas dan klarifikasi kekurangannya. Pemahaman lelaki dan perempuan mungkin
diringkas secara lisan dan menguji kembali persepsi berbicara seperti itu semua atau mengamati. Hal ini adalah menyediakan suatu
pengecekan keandalan yang berharga dan mempertimbangkan hal tersebut untuk
disangsikan dengan menunjuk materi kunci yang mungkin telah luput/kehilangan
atau salah
pengertiaan.
Instrumen manusia dapat
dibuat sama persis dengan instrumen lainnya orang-orang sudah memikirkannya, barangkali dengan suatu kecil/lebih
sedikit keandalan atau kuasa untuk membedakan, tetapi cukup memuaskan secara
bersama untuk kebanyakan tujuan dan untuk banyak tujuan.Lebih dari itu, keuntungan dimulai dengan sekedar tidak membiayai pengetahuan yang proposional tetapi juga
pengetahuan diam-diam dan kemampuan buatan untuk tidak terbatas agar dapat
menyesuaikan diri penyelidikan yang manusia situasi ideal di mana disain adalah
yang muncul,
manusia dapat merasakan
faktor-faktor luar yang, berpikir tentang cara bagaimana dapat mengikuti.
menuju di mereka, dan membuat perubahan yang berkelanjutan, selagi semua aktif
terlibat di dalam pemeriksaan diri sendiri (Lincoln & Guba, 1985, Hal : 1O7).
Tanpa masukan langsung dari
anggota suatu kelompok, hampir mustahil untuk memperoleh suatu pemahaman yang
lengkap akan norma-norma, harapan, sikap dan nilai-nilai tersembunyi dan menggolongkan pengambil-alihan.Sumberdata dapat memperingati jika terjadi kesalahan yang
besar/fatal yang akan dapat mengasingkan suatu kelompok kepada
pengurus/administrator dan menguraikan peristiwa dan perilaku yang mungkin
punya andil dalam suatu cabang kebudayaan yang tidak dikenal oleh pengurus. Hal
yang seperti tadi tidak akan dimasukkan ke
dalam sistem informasi.
6.2.1.
Taktik dari suatu
Peninjau yang Efektif
Di dalam pencarian sebagai peninjau peserta, pengurus
memainkan dua peranan. Pertama, lelaki atau perempuan harus mengindahkan
tanggung-jawab di luar situasi yang sedang diamati. Sebagai tambahan, pengurus
mempunyai suatu hubungan dengan orang atau kelompok yang saling berhubungan dan
mempunyai suatu tonggak di dalam
aktivitas mereka dan hasil-hasil mereka.
Gaya-gaya yang interaktif dapat bertukar-tukar dari
setengah tidak bersahabat, adversarial pertukaran kepada secara emosional
netral tetapi dialog secara teori yang kompleks; tetapi kebanyakan
peninjau-peninjau lebih suka melakukan mewawancarai di dalam gaya yang bersifat
percakapan dari interaksi yang sehari-hari (LeCompte &Preissle, 1993). Gaya
yang bersifat percakapan mengizinkan para pewawancara untuk menanggapi dengan
cara netral tanpa pengambilan resiko hilangnya dukungan. Pada waktu yang sama,
itu adalah hampir bisa dipastikan untuk menimbulkan kepercayaan (yang) penting
bagi menghasilkan informasi akurat dan benar.
Percakapan adalah cara yang paling tua dan cara yang
terhormat untuk saling menukarkan informasi dan mengumpulkan data. Manajer yang
efektif mencari seharusnya sangat trampil dalam pembicara/pewawancara. Suatu
karakteristik yang kritis yang diperlukan untuk menyelesaikan fungsi ini dengan
sukses sebagai pengenalan jiwa orang lain (Guba & Lincoln, 1981) Pengurus harus
menemukan yang lain pada hakekatnya menarik dan secara hati-hati mengindahkan
sosial mereka dan isyarat-isyarat tingkah laku. Pembicara/pewawancara untuk
mengefektifkannya juga memerlukan suatu pengertian yang jelas bersih dari diri
sendiri dan satu kecenderungan untuk berbicara dan mendengarkan banyak orang-orang
yang berbeda yang mungkin, termasuk yang membenci dan mencurigai (dan siapa yang
tidak menyukai dan mencurigai baik dia itu pria maupun wanita). Dalam berusaha
untuk memahami mereka yang berbagai hal bersifat tidak enak dan, barangkali,
itu yang bersifat mencela secara pribadi bukankah cukup hanya dengan berbicara dengan
mempesona dan tangguh. Pengurus yang ramah yang memelihara hubungan-hubungan yang
baik dengan para rekan kerja di sekolah tersebut mampu untuk memelihara
komunikasi-komunikasi terbuka secara alami ? Tentu saja, dengan melalui
komunikasi yang sesungguhnya diberitahukan tentang apa yang sedang terjadi di
dalam organisasi.
Sikap/perilaku adalah hal penting di dalam pencarian; jika
anda tidak percaya bahwa ada banyak, hal yang harga dengan mendengarkan di luar
sana, anda tidak akan mendengar banyak! Pengurus itu perlu untuk dengan lancar,
tetapi tidak sangat peristiwa kebetulan, ramah tetapi tidak terlalu terbiasa,
dan anak kucing curiga, dan investigasi tetapi bukan ambisius atau yang ingin
tahu. Lelaki atau perempuan perlu ditunjukkan dengan hati yang tulus dan menghormati
perasaan dan pendapat-pendapat teman sekerja, berempati tanpa menjadi
dilibatkan. Lelaki atau perempuan perlu menunjukkan kecurigaan; keingin-tahuan
dan kesenangan di dalam mendengarkan tanpa menganggu perhatian kepada dirinya
atau dirinya atau menberikan perasaan dan pendapat-pendapatnya. Pengurus berada
posisi netral dan melibatkan di dalam perasaan, menjadi merasa yakin tetapi
bukan yang dogmatis, kaku, atau yang bermoral. Lelaki atau perempuan harus berdiri
sendiri, sadar, berusaha untuk melihat narulinya seperti yang lain merusak
situasi. Administrasi itu harus bisa mengambil penyangkalan-penyangkalan tanpa
letusan/kemarahan ke dalam kemarahan, dan memaklumi mengubah suasana hati dan
pendapat-pendapat menyimpang selagi memelihara pribadi reaksi-reaksi (Tymitz
& Woll l977, Hal 39-40).
Cara merefleksikan yang terbaik adalah di mana dua orang
mencoba untuk mencerminkan dan memahami bagaimana berbagai hal yang terjadi dan
bagaimana harus berbuat. Strategi yang paling penting adalah dengan
mendengarkan seperti pada saat pertunjukan bahwa pewawancara bisa membenamkan
dirinya atau dirinya ke dalam kerangka acuan responden. “Kemampuan untuk ‘mendengar’
dengan teliti dan jelas ketika yang lain sedang berbicara, tanpa lapisan yang
berharga, perilaku, prasangka, klise, percaya atau prasangka adalah barangkali
yang paling keras “kemampuan” untuk datangi oleh penyelidik” (Guba & Lincoln,
1976, Hal 176). Dengan membuka pertanyaan yang naif yang akan menaikan suatu
isu namun tidak untuk menyarankan struktur untuk jawaban apapun adalah yang
terbaik untuk memunculkan tanggapan; koresponden itu adalah, dengan demikian, dengan
memberikan peluang untuk menjawab dalam terminologinya dan dari kerangka
acuannya.
Pengurus secara umum beroperasi pada suatu gaya penemuan
(dibandingkan dengan gaya verifikasi), mencari informasi unik atau tidak
standar, pengecualian, penafsiran yang tidak biasa. Itu cara terbaik sehingga percakapan
bebas mengalir. Di dalam percakapan-percakapan ini, bukan masalah status dari
mitra/rekan, pengurus harus berasumsi bahwa mitra mempunyai keahlian lebih tentang
materi pokok dibandingkan pengurus yang mengerjakan. Pengurus menjadi yang
ingin mempelajari.
Sebagian besar, “yang diam/bisu,” dasar
pertanyaan, yang diikuti oleh lebih
pertanyaan yang mendasar, yang akan menghasilkan harta karun…. "Tenaga ahli" adalah
mereka yang tidak harus dingganggu dengan pertanyaan dasar lagi, seperti itu, mereka gagal untuk
“persaudaraan” dengan jalur lalu lintas sumber yang benar dan sempit, dengan menghilangkan kebiasaan/rutinitas perusahaan, dengan
memberikan label “mereka punya” selalu melakukan cara tersebut. (Peters, 1988, Hal : 438)
Kapanpun suatu istilah atau konsep yang tidak jelas,
pengurus yang cerdik akan meminta klarifikasi dan tidak takut untuk menampilkan
ketidak-tahuan.
Di dalam pencarian, dan dalam berbicara dengan orang-orang,
pengurus harus hati-hati mana yang verbal
dan mana yang nonverbal, komunikasi
nonverbal adalah pertukaran informasi melalui tanda-tanda yang bukan ilmu
bahasa (Guba & Lincoln, 1981).
Yang dimasukkan adalah gerakan tubuh, isyarat, guratan
ekspresi, hubungan-hubungan khusus berkenaan dengan orang-orang dan berbagai
hal yang lain, hubungan yang berirama, pengirim dan penerima, pemakaian waktu
(lompatan, penyelidikan, jeda), karakteristik suara (volume, mutu, aksen,
modulasi suara/pembengkokan, dll.), menyentuh, dan indikator lisan yang tersembunyi/terkandung
seperti kesalahan pengucapan Freud. Analisa dari komunikasi nonverbal harus
digunakan secara bersama-sama dengan beberapa teknik yang lain; oleh karena
itu, yang pertama dianalisa adalah arti dari isyarat nonverbal adalah untuk
menguji perbedaan antar apa yang bahasa yang lisan katakan dan apa yang bahasa
yang nonverbal sarankan.
Pengarahan kepada utusan para pewawancara dapat bersumber dari
yang lain bermanfaat informasi untuk pengurus. Karyawan yang meninggalkan
organisasi karena pensiun atau ada pekerjaan yang lain, mengetahui organisasi
dengan baik. Karena mereka dapat menembus batasan organisasi dan mereka tidak
mempunyai kepentingan di dalamnya, pendapat merekan dinyatakan secara terus
terang dan pengertian yang lebih dalam. Dengan cara yang sama, membolehkan para
tamu untuk diwawancara akan menyediakan informasi yang bermanfaat, para tamu
sudah mengeluarkan waktu agar berada di sekolah seperti dalam membagi-bagi
kelas/regu, konsultasi, dan lain-lain
6.2.2.
Asstring Mutu Data
Pengurus tidak dapat menetapkan keandalan dan kebenaran
suatu data ketika data tersebut masih dalam proses “pencarian” dengan perasaan
pengertian yang formal; meskipun demikian pengendalian mutu data harus menjadi
perhatian utama. Adalah sangat sesuai jika beberapa metoda digunakan dalam
pemeriksaan naturalistic (Guba &
Lincoln 1981) menyarankan empat : pembuktian tuan rumah, triangulasi dan
bukti-bukti yang menguatkan, analisa peninjau yang mandiri, dan pengenalan
peristiwa.
Dengan memverifikasi tuan rumah akan melibatkan pemeriksaan
untuk memilih fakta yang diambil dari pengamatan pengurus yang berlawan
terhadap pengalaman dan pemahaman akan berbicara/mewawancarai orang-orang yang berada
dalam organisasi/kelompok yang sedang diamati. Menggunakan pengamat analisa
yang independen akan melibatkan dan membuat orang-orang bertanya akan
ketergantungan terhadap orang lain untuk mengamati sebuah sistuasi kemudian membandingkan
hasil dari pengamatan. Dengan mengenalkan suatu peristiwa yang akan melibakan
pengecekan pengurus “kenyataan yang tersusun” dengan mereka yang tinggal dan
meminta merekan untuk nilai dari ketelitiannya sebagai cara membawakan
pengalaman bersama mereka.
Triangulasi dan bukti-bukti yang menguatkan proses tentang perbandingan
dan pembeda informasi yang diambil dari sumber yang berbeda dan/atau menentukan
metodologi yang berbeda. Itu memerlukan menguji ketelitian
pengamatan-pengamatan dengan persons-possibly yang banyak mengetahui yang lain
di dalam, atau dekat dengan, kelompok dan mencari-cari lain membaca situasi
melalui dokumen atau data tercakup di sistem informasi manajemen. “Jika suatu
dalil dapat bertahan hidup serangan gencar dari satu rangkaian ukuran-ukuran
yang tidak sempurna, dengan semua mereka relevan kesalahan, keyakinan harus
ditempatkan di dalamnya” (Webb et al.. 1966). Dengan kata lain penting,
triangulasi mengizinkan identifikasi perspektif-perspektif nilai ganda di dalam
situasi yang sama dan mempertimbangkan presentasi dan penjelasan mereka di
samping/sepanjang satu sama lain. Dengan kata lain, fakta-fakta itu bisa
dibuktikan, hanya penafsiran-penafsiran menyangkut makna fakta-fakta itu boleh
bertukar-tukar. Yang belakangan adalah sepenting seperti pembentuk untuk
pengurus itu untuk mengetahui.
Teknik investigasi
jurnalis/wartawan dapat berguna bagi pengurus yang enggan untuk mengumpulkan data/informasi
dari penutur asli; ini sudah termasuk yang lingkaran/pusat, susah payah, saling
mengisi (Smith, 1988). Melingkar adalah suatu proses dimana data atau
informasi yang diperoleh dari sumber yang berasal dari pusat kontak untuk
reputasi atau konfirmasi. Pusat akan sesuai jika kontak ada dan bersedia untuk
koperatif.
Ketika dihapakan dengan situasi yang susah payah dimana
kontak mungkin tidak koperatif atau tidak bersahabat.
Dalam prosedur ini, kisah yang telah diceritakan narasumber
akan diuji dengan dari sumber yang berbeda, Kemungkinan seperti dalam
pertunjuan, ketika kembali atau maju sumber sebagai informasi yang baru, menghadapi
inconsistencies dalam pelaporan, dan
berusaha membatasi perbedaan yang sempit dalam persepsi. Dengan susah payah tidak hanya memverifikasi
atau memperdebatkan informasi, tetapi juga suatu proses yang bermanfaat untuk
memperoleh informasi tambahan (Williams. 1978).
Penambahan/pengisian adalah teknik yang bermanfaat bagi
pengurus dalam mencari ketika perlu dibuat batasan dan gambaran akan membuat
perhatian yang lebih spesifik. Informasi dikumpulkan, celah dicatata dan ada
suatu usaha untuk mengisi celah tersebut.
Penemuan-penemuan membuat melalui pencarian yang berulang-ulang
dan diikuti dengan berkonsultasi dengan dokumen dan catatan. Dibawah penelitian
yang cermat dokumen dan catatan akan bersifat sumber daya tidak ternilai untuk
mengusut pengambilan/transaksi yang mungkin terdapat pencerahan untuk
menghadapi kasus dan situasi. Dokumen akan menjadi berguna jika dilengkapi
dengan pengamatan secara langsung. Dokumen dan catatan-catatan cenderung untuk
tetap berlaku dari waktu ke waktu.
Dokumen dianggap sah menurut hokum atau legal, dasar dari
otoritas yang tidak dapat disangkal dari keberadaannya, informasi adalah
berasal dari sumber yang biasa saja, siap digunakan baik dengan biaya yang
kecil atau tanpa biaya. mereka dapat secara rendah hati dan kedua-duanya adalah
bukan reaktif. Mereka dapat digunakan dengan mudah dan kedua-duanya bukan aksi
untuk membangkitkan kembali. Dokumen dan catatan menyediakan tambahan dan data
kontesktual mungkin ini berguna ketika proses mengalami “kesusahan dan memutar.”
Catatan-catatan digunakan mencari suatu kejadian; dokumen
dapat digunakan untuk pengambilan keputusan/nilai, kepercayaan, perhatian,
perasaan atau sumber idiologi atau penulis dokumen (Guba & Lincoln, 1983; Smith,
1988).
6.2.3.
Memaksimalkan Nilai
dari Pengamatan
Pengurus dengan pencariannya untuk tidak mencoba menyimpan
semua hasil pengamatan ini sendirian. Detail akan dengan cepat lupa dan
peristiwa menjadi kabur dan membingungkan antara satu dengan yang lainnya. Untuk
melindungi dari hal ini, dengan merekam/menyimpan akan mempunyai ciri yang
khusus dalam memelihara. Bebagai jalan telah tersedia untuk mengedarkan ini,
tetapi tidak semua sesuai dengan situasi yang ada/keadaan.
Bidang yang sesai selalu tersedia. Ketiak dan dimana
catatan diambil tergantung dari suatu keadaan. Kadang-kadang catatan ditulis
ditempat kejadian. Dilain waktu, percakapan akan direkonstuksi ulang kemudian,
tetapi catatan yang sedikit lebih baik dibandingkan tidak ada catatan sama
sekali (LeCompte & Preissle, 1993).
Pengurus mungkin untuk tidak berkeinginan untuk mengambil
catatan sebagai kemajuan percakapan, meski ini adalah suatu cara untuk
menunjukkan rasa hormat untuk pemberi informasi dan tertarik akan pokok materi
yang sedang dibahas.
Ketika itu bukan waktu yang sesuai untuk mencatat selama
percakapan itu masih berlangsung, mereka dapat dengan segera setelah semua
memungkikan. Mungkin ini lebih baik, jika pengurus membawa suatu alat perekaman
yang mudah untuk dibawa kemana saja, pengamatan dapat dengan cepat didikte
untuk menulis petunjuk, dibuat di dalam jurnal, dan analisa kemudian. Tidak ada
percakapan yang direkam tanpa ada persetujuan yang tegas ketika mengambil
bagian dari percakapan itu sendiri. Bahkan dengan persetujuan, ketika alat perekam
dihadirkan ini akan menghambat kebebasan informasi. Kegunaan dari catatan dapat
ditingkatkan ketika mereka meliput suatu peristiwa tepat pada waktu dan tempat
kejadian, ketika siapa yang datang/hadir menyediakan, dan dibawah kejadian
informasi itu diperoleh. Informasi termasuk seperti bantu di dalam analisa yang
berikut (Fetterman, 1988).
Dengan mencatat alamat suatu kejadian akan menghasilkan
suatu perasaan hal positif atau negatif dan/atau suatu persepsi; positif, hal
negatif, atau netral. Mereka boleh memasukan segala selama kejadian tersebut
berlangsung tetapi ketika di bawa ke kantor pengurus, percakapan dengan
menggunakan telepon, mendatangkan tamu, seperti halnya ketika pencarian
menemukan suatu peritiwa. Sebagian terbesar, catatan interaksi antara pengurus
dan orang lain di dalam organisasi and pengurus reaksi yang subyektif terhadap
interaksi tersebut. Mereka juga termasuk tanda kutip lisan, mencatat tentang lingkungan
phisik, hipotesis tentang peristiwa masa depan, komentar evaluatif dan kritis tentang (orang)
yang lain, mencoba pada teori yang membangun, dan kenyataan menguji.
Bentuk catatan yang ditunjukan seperti pada table 6.1.,
dimana terdapat hanya 2 kolom : kolom pertama untuk pencatatan fakta-fakta dari
suatu peristiwa yang kritis dan kolom kedua untuk melaporkan hasil dari reksi
dan evaluasi subjektif peristiwa yang kritis. LeCompte dan Prcisle (1993)
rekomendasikan membuat perbedaan seperti itu di dalam proses pencatatan. Kolom
yang pertama berisi kesimpulan rendah dari deskripsi termasuk yang secara
harafiah dimana yang orang uraikan/perkataan mengenai perilaku dan aktivitas
mereka. Apa yang mereka katakan/uraikan harus sebisa mungkin sama dengan
kenyataannya. High-inference komentar interaktif dicatat pada kolom yang kedua.
Ini mewakili dari Menghadirkan
penafisiran dari apa yang dirasakan, maksud/artinya dan signifikan.
Tabel 6.1.
Suggest
Format For Field And Journal Page
No.
|
Narasi/Pertanyaan
(Kenyataan/Realita)
|
Reaksi Hubungan atau Evaluasi
(Pertanyaan dan Komentar)
|
Catatan utama seharusnya secara berkala di atur/tata rapi
dan dibuat dalam bentuk jurnal. Pemeliharaan suatu jurnal membantu juga memelihara pengamatan dan
juga suatu alat berharga untuk meneliti dan membuat pengertian ke luar dari apa
yang telah dan terdengar. Jurnal menyediakan suatu catatan dari kejadian
yang terjadi di masa lampau dan perubahan atau persamaan di dalam persepsi dari
waktu ke waktu. Catatan juga menyediakan: bahan pemikiran; suatu sarana kendaraan
untuk membuat koneksi antara kejadian yang tidaklah dihubungkan dengan waktu;
suatu kendaraan untuk merencanakan strategi atau tindakan untuk masa depan
berdasar pada kejadian dari masa lampau, dan suatu dasar dari kemajuan yang dimana
dapat diukur dengan mengubah perilaku administratif ke suatu arah yang
diinginkan.
Pemeliharaan jurnal pada umumnya dilakukan pada hari biasa
dimana terdapat suatu arus yang sederhana dengan kesadaran. Jurnal dibuat dari
catatan utama yang dibuat lebih teratur terbaca dan aturan organisasi. Proses
pencatatan merupakan cerminan dari kejadian/peristiwa yang terjadi pada hari
itu dan pengertian yang mendalam baru bisa diperoleh ketika memperhatikan
seluruh kejadian pada hari itu. Informasi yang muncul terlambat bisa menjadi
cerminan kejadian di pagi hari; informasi yang dikumpulkan hari ini mungkin
bisa membantu apa yang terjadi kemarin atau bahkan minggu kemarin. Analisa dan
reanalysis harus suatu yang berkelanjutan dan proses iteratif.
Diawal pengumpulan data, analisis kualitatif
dari awal sudah memutuskan apa yang menjadi arti dan berarti, tidak ada
regulasi, pola teladan, penjelasan, konfigurasi yang memungkinkan, membenarkan
arus/aliran, dan preposisi. Peneliti yang bekompeten akan memegang/menjaga
kesimpulan dengan mudah memelihara dengan terbuka dan keraguan, tapi kesimpulan
masih ada, kesimpulan yang belum selesai dan keraguan ketika dimulai,
ditingkatkan dengan tegas/eksplisit dan diturunkan,…dalam hal ini, analis data
yang kualitatif akan melakukan secara terus menerus, perusahaan interatif (Miles
& Huberman, I984, Hal 22-23)
Untuk memaksimalkan kegunaan dan pemeliharaan jurnal, suatu
tinjauan ulang yang mingguan harus dibuat. Penjaga jurnal bertanya pada dirinya
sendiri dengan beberapa pertanyaan standar ketika selesai membaca catatan yang
lama dengan fakta/bukti yang menjadi perhatian pada seminggu yang lalu. Jawaban
dari pertanyaan akan mencerminkan kegiatan obeservasi selama 1 minggu penuh dan
sudah termasuk :
1.
Apakah dulu aku
memenuhi apa yang aku merencanakan ?
2.
Bagaimana bisa aku
sudah meraih apa yang aku lakukan
a.
Lebih secara efektif ?
b.
Lebih secara efisien ?
3.
Apakah tindak lanjut
perlu pada setiap materi ?
a.
Immediately atau
kemudian ?
b.
Tindak lanjut seperti
apa diperlukan ?
4.
Bagaimana mungkin aku
memperbaiki perilaku dan tanggapan administratifku ?
5.
Bagaimana mungkin pada
1 minggu yang lalu aku berperan besar pada suatu kejadian ?
6.
Dapatkah meramalkan
setiap konsekuensi yang negatif tentang segala kejadian yang spesifik ?
a.
Apakah mereka ?
b.
Bagaimana mungkin
mereka diralat ?
7.
Adakah hubungan yang
signifikan pada setiap kejadian ?
8.
Apakah prediksi saya
pada kejadian di masa depan ?
9.
Sudahkan aku
memperlebar hal-hal yang aku amati ? dan aku lakukan secara konsisten/teratur
untuk menyaring suatu data ?
Cerminan dari suatu pengamatan akan menjadi pembimbing yang
akan membantu pertanyaan serupa dalam memperoleh pengertian yang mendalam dalam mengambil dampak dimasa lalu seperti
halnya efektivitas dan diri sendiri. Analisa akan membantu dalam mengevaluasi
strategi administrasi yang lama dan merencanakan gagasan/idea yang baru.
Cara lainya yang dapat digunakan untuk dapat meningkatkan
obersevasi dan mendengarkan keterampilan dan untuk memperbaiki kinerja
administratif termasuk :
1.
Dibaca jurnal berkala,
mencerminkan apa yang ditulis,
2.
Mengecek persepsi kita
dengan yang lain melalui tanya jawab secara langsung atau, sebagai alternatif
dengan bertanya kepada kolega yang dapat dipercaya untuk membaca jurnal dan
kritik/saran,
3.
Menggambar ? Menarik satu
set kesimpulan-kesimpulan dari suatu analisa yang bebas mengalir dan tidak
tersusun membandingkannya dengan yang menggunakan suatu himpunan pertanyaan standar
seperti sebelumnya yang sudah diusulkan,
4.
Menggunakan daftar
perilaku yang disusun berdasarkan frekuensi kebangkitan atau kecenderungan yang
akan membangkitkan suatu pola pribadi yang akan menjadikan perilaku yang dapat
membedakan konsekuensi positif dan negatif,
5.
Meneliti isi/kontent jurnal
untuk asumsi atau kerangka acuan, kesimpulan, kesimpulan, penyimpangan,
prasangka, obyektifitas, nilai-nilai, ketelitian ramalan, dll,
6.
Mencari perubahan-perubahan
di dalam persepsi-persepsi dan atau kesempurnaan pribadi dari waktu ke waktu.
Kendati variasi dari teknik-teknik yang tersedia bagi
penjaga jurnal. ada sejumlah rintangan-rintangan bahwa akan memperlemah nilai
dari hasil yang akhir. Ini termasuk: (1) Proses mengambil banyak waktu; (2) Banyak
benang/ulir yang terpisah dari pemikiran dihasilkan tanpa tema yang seragam;
(3) Informasi boleh dikhususkan untuk penjaga jurnal atau kepada satu waktu dan
tempat, dan bukan untuk semua; dan (4) Tanpa pengertian yang mendalam yang
otomatis dihasilkan.
Pemeliharaan jurnal pada dasarnya terdiri dari beberapa
teknik bantuan dan sejumlah berbagai kemungkinan yang dapat digunakan untuk
melewati rintangan. Diantaranya; (1) Membuat sejumlah pertanyaaan yang tepat;
(2) Pelatihan penjaga jurnal untuk membuat lebih banyak analisis yang
berpengalaman; dan (3) Pengguna jurnal yang manapun adalah pembaca yang naif atau
terlatih untuk bertanya kepada penjaga jurnal.
Kritik yang diberikan untuk jurnal baik itu dengan bantuan
dari pembaca dari luar, yang berikut ini harus dibaca: (1) Variasi dan
kedalaman dari pengamatan; (2) Pembedaan pengamatan antara objektif dan
subjektif; (3) Kerangka acuan jurnal atau segi pandangan: psikologis, kemasyarakatan,
antropologi, bidang pendidikan, positivistic, kritis, constructivistic, dll.; (4) Pertumbuhan atau perubahan persepsi dari
waktu ke waktu, yaitu perluasan di dalam lingkup dari analisa; (5) Penting
dimana kejadian/peritiwa dicatat dan menghasilkan pengertian yang mendalam; dan
(6) situasi yang selesai akan muncul untuk memerlukan penutup. Pemeliharaan
jurnal memakan waktu dan kadang-kadang mungkin akan frustrasi, tetapi pemberian
imbalan itu dapat substansiil jika prosedur yang sistematis diikuti dengan
teliti. Itu dapat menjurus kepada pemahaman lebih baik kepada orang itu sendiri
dan teman sekerja. Itu dapat mempertajam kesadarannya dari penyimpangan dan
kelemahan pribadi. Hal itu dapat menyerap pendengaran dan pengamatan kedalam
satu organisasi dan menolong mengembangkan kemampuan memprediksi
kejadian/peristiwa dimasa depan sekarang dan lampau. Waktu dan kesabaran akan
menghasilkan penghargaan yang lebih baik
6.3.
Cerminan Dalam Praktek
6.3.1.
Teknisi Vs Tukang Ahli
Usaha dari manajemen ditandai oleh persaingan dua persepsi
para profesional manajemen. Persepsi yamg pertama memandang manajer sebagai teknisi
yang berpraktek dengan menerapkan yang terdiri dari prinsip dan metoda yang diperoleh
dari pengetahuan manajemen ke permasalahan yang terjadi setiap hari dari
organisasi. Persepsi yang kedua melukiskan manajer sebagai yang ahli yang
menggabungkan bahwa seni manajemen tidak dapat dikurangi/dilebnr menjadi aturan
dan teori yang tegas/eksplisit. Didalam usaha untuk menggabungkan/menyatukan
pandangan ini, Schon (1983) mengembangkan konsep dari “Cerminan Praktisi.”
Di dalam menjelaskan bagaimana para profesional berpikir
dalam perang, Schon (1923) menunjuk dua macam dari pengetahuan, teori dan
teknik ilmiah (yang dihubungkan dengan teknisi) dan pemahaman diam-diam (yang
dihubungkan dengan ahli). Pembentuk (teori dan teknik ilmiah) yang mendominasi
kurikulum dalam persiapan program kedalam semua profesi, satu hasil dari
hegemony dari filsafat positivist (yang dijelaskan sebelumnya di Chapters 4 dan
5) dan ilmu pengetahuan alam di dalam universitas, dengan mengindahkan praktisi
yang berkompeten dan kesenimanan profesional (mengembangkan pemahaman yang
diam). Hal ini mengembangkan pertegangan antar praktisi kepada mereka yang
mengaku sebagai persiapan professional, namun sebagian besar tidak revalan pada
kenyataan praktek, dan fakultas universitas memandu para profesional menghadapi
program persiapan sebelum membuka jasa layanan. Praktisi profesional dari semua
kalangan yang sedag berkembang akan terus meningkat dan fakta yang menganggu
bahwa mereka belum disiapkan untuk meliputi proses dimana mereka merasa sebagai
pusat kemampuan/wewenang para profesional hal seperti ini membuat pengertian
diluar dari ketidak pastian, persiapan kesenian, identifikasi masalah, dan memilih
persaingan di antara paradigma professional. Untuk mengganti kerugian akibat ketidak
seimbangan ini. Schon (1983) meminta suatu filsafat yang
berasal dari praktek yang dimulai dengan asumsi praktisi yang berkompeten yang
pada umumnya mengetahui lebih dari mereka dapat menyatakan secara lisan, mereka memproses pahaman
diam. Pemecahan masalah teknis perlu
ditempatkan kedalam suatu konteks yang lebih luas dari pemeriksaan yang
merupakan pencerminan dan terhubung dengan seni dari praktek yang berketidak
pastian dan kondisi yang unik.
Schon menetapkan bahwa ketika seseorang berada dalam
keadaan perang, lelaki atau perempuan akan menjadi peneliti dalam konteks
praktek dan hal tersebut sama halnya dengan riset yang dilaksanakan di dalam
labolatorium ilmiah. Schon melihat berpikir dan melakukan seperti komplementer.
Jika kita memisahkan pikiran dari tindakan,
melihat memikirkan hanya sebagai suatu persiapan untuk melakukan tindakan dan
tindakan hanya sebagai implementasi dari pemikiran, lalu sangatlah mudah untuk
percaya bahwa ketika kita masuk ke daerah yang terpisah dari pemikiran kita
akan menjadi yang hilang dalam satu penanggung jawab yang tanpa batas pemikiran
tentang berpikir.... ketika suatu praktisi menyimpan pemeriksaan bergerak,
bagaimanapun, ia tidak mejauhkan diri dari tindakan untuk masuk ke dalam
pemikiran tidak ada akhirnya. Kesinambungan pemeriksaan memerlukan sesuatu yang
berkesinambungan berjalan dengan pemikiran dan melakukan. (Schon, 1983. Hal 280)
Persiapan profesional memprogram di universitas cenderung
untuk menekankan “berpikir” dan pengabaian “melakukan” pasti godaan untuk mengintegrasikan
keduanya.
Eisner (1988) mendekati tegangan antara teori dan praktek
melalui konsep “connoisseurship bidang pendidikan.” Ia lihat mengajar (dan kita
akan memperluas ini untuk termasuk administrasi) ketika satu aktivitas
memerlukan sentuhan seni “Teori berperanan sebagai sebuah aturan dalam
pengolahan seni; tapi aturan ini bukan pentunjuk, namun diagnosa. Teori yang
baik dalam pendidikan, terdapat dalam seni, menolong kita untuk melihat lebih
banyak lagi; menolong kita untuk berpikir lebih dari kualitas yang merupakan
satu set penomena (Hal 142). Teori menyediakan suatu kerangka yang mana
kecerdasan dapat dilatih untuk menginterpretasikan persepsi dan tindakan.
Schein (1973) yang menjelaskan perbedaan antara profesi akademi
dengan tidak ada logika dasar dan ilmu terapan, etos universitas, pemusatan
pengalaman praktek yang menyimpang. Ackoff
(1979) lebih grafik.
Para manajer tidak dihadapkan dengan permasalahan
yang tidak terikat satu sama lain, tetapi yang situasi dinamis terdiri atas
sistem kompleks yang mengubah permasalahan akan saling berhubungan satu sama
lain. Aku menyebutnya kotoran situasi. Permasalahan adalah asbstrak yang
diesktrak dari kotoran yang kemudian dianalisis, tidak ada kotoran dengan
bentuk atom atau tabel atau grafik,.….. manajer yang tidak memecahkan masalah,
mereka mengatur kotoran (Hal 99-100)
Komentar ini terutama penting yang berasal ackoff yang
salah satu pendiri operasi riset, gerakan untuk menerapkan metode latihan,
permasalahan operasional. Setelah 2 dekade penerapan, Ackoff (1979) menyimpulkan
bahwa “masa depan riset operasi adalah masa lampau.” Terstruktur secara formal,
sangat terukur, sangat mathematika pendekatan untuk memecahkan masalah yang diambil
dari tradisi paham positifisme tidak
cocok kepada kotoran yang dihadapi oleh para manajer profesional. Yang lebih
penting dari administrasi dibandingkan dengan keterampilan menganalisa yang
disebabkan adanya operasi riset (dan persiapan univeristas) dimana keterampilan
buatan yang didesain dengan sistem yang baru selesai. “pembicaraan dengan situasi” dan ketermpilan
politik untuk membawanya keluar. (Schon, 1983)
Dari perspektif pengetahuan teknik rasional, professional
berpraktek untuk memecahkan masalah, menggunakan rata-rata keberhasilan terbaik
yang cocok. Tapi dalam dunia nyata, prakteknya masalah tidak menyajikan diri
mereka sendiri seperti diberi, dimana pencarian definisi/gambaran yang melalui
satu proses yang interaktif dimana praktisi menetapkan berbagai hal untuk
menghadirkannya dan membingkai dalam konteks dimana mereka yang akan
mengaturnya/memanjemen. Jadi dengan demikian, praktisi harus mengidentifikasi
dan gambaran/definisi masalah sebelum ditemukannya solusi yang pantas untuk
digunakan. Di dalam dunia yang akademis, batasan dari suatu masalah dan
mengoptimalkan penetapan solusi, di luar batasan masalah tersebut akan
diabaikan. Praktisi tidak mempunyai kemewahan untuk melakukan hal ini.
Suatu perbedaan lebih lanjut antara profesional dan ilmuwan
adalah bahwa/karena; untuk profesional, masing-masing kasus adalah unik dan
tidak bisa dipecahkan hanyan dengan menerapkan teori atau teknik yang standar
(Schon, 1983). Ilmuwan, sebaliknya, berhubungan dengan contoh dan populasi dan
kelihatan untuk penyamarataan. Hal ini tidak berarti bahwa profesional yang
bertindak meskipun demikian yang bertindak meskipun demikian tidak ada mana
yang utama/lebih dulu dan pengalaman digunakan untuk menggambar/menarik.
Sungguh untuk penyimpangannya, profesional menarik unsur atau yang lain dari
pembendaharaan dari pengalaman dan menggunakan sebagai lembaran untuk situasi
yang baru. Tapi melihat satu situasi yang serupa namun tidak sama ketika
penggolongan digunakan dalam kategori yang familier dan aturan. Agak, kita
melihat bahwa situasi yang tidak familier pada waktu yang sama, serupa dan
berbeda dari situasi yang familier tanpa sanggup melihat inisial dan respek
dari situasi serupa dan berbeda. Situasi yang terbiasa bertindak sebagai suatu
sesuatu yang dapat dijadikan teladan atau suatu kiasan. Ini bisa dengan sadar
dengan membandingkan kedua situasi, atau dengan menguraikan yang situasi yang
tidak familier untuk memecahkan suatu acuan yang diam kepada yang terbiasa.
Itu adalah kapasitas kita untuk melihat situasi
yang tidak familier seperti yang familier, dan melakukan yang terlebih dahulu
seperti kita mengerjakannya dilain waktu, bahwa memungkinkan kitauntuk membawa
pengalaman di masa lalu kita untuk membawa kasus yang unik. Ini adalah
kapasitas kita untuk melihat dan melakukan untuk mempunyai perasaan terhadap
terhadap permasalahan tanpa keluar dari aturan,….. Tindakan pencerminan pada
kasus yang unik mungkin disamaratakan dengan kasus yang lain, tapi kontribusi
dari pembendaharaan parktisi yang dapat dicontoh/ditiru, pada praktek kasus
selanjutnya, mungkin dapat bervariasi. (Schon. 1983, Hal 140)
Yang didasarkan pada perbandingan dari yang familier dan
yang tidak familier, praktisi merumuskan solusi dan tes hipotetis mereka dengan
tindakan yang bersifat percobaan dimana situasi bertindak sebagai pembentukan gerakan
kembali dan ketika pemeriksaan untuk mempromosikan pemahaman situasi yang lebih
baik. Di dalam mengamati hasil yang dihasilkan oleh tindakan yang bersifat
percobaan, situasi itu ditaksir kembali, hipotesis baru dirumuskan, dll, sampai
situasi mengasumsikan suatu bentuk yang memuaskan kepada praktisi. Itu adalah
satu proses iteratif. Hubungan praktisi itu kepada situasi adalah tanggapan dimana
situasi itu terbentuk, tetapi dalam pencerminan, model dan penghargaan nya
dibentuk kembali atas dasar umpan balik. Tidak seperti ilmuwan, profesional itu
tidak perlu hanya untuk memahami situasi tetapi untuk mengubahnya. Profesional
menjadi bagian dari situasi, selagi ilmuwan tinggal “secara obyektif”
dipindahkan (Schon, 1983).
Schons (1983) kata-kata, praktisi melakukan suatu “percakapan
adalah pencerminan dari situasi” (Hal 28). Pemeriksaan dimulai dengan usaha
untuk memecahkan suatu masalah dengan pencarian definisi; tapi penyelidikan
terbuka untuk penemuan fenomena yang tidak sejenis bersamaan dengan penginisialan
pengertian permasalahan. Situasi “membantah,” dan dalam pencerminan umpan
balik, dimana pengertian baru ditemukan dan inisiatif yang baru diambil. “Proses
yang spiral dimulai apresiasi, tindakan, dan sebelum apresiasi. Situasi yang tidak
pasti dan unik datang untuk dipahami melalui usaha untuk mengubah, dan mengubah
melalui usaha untuk memahaminya” (Schon. 1983, Hal 132).
Sulit untuk mengajar pengetahuan macam ini dan untuk
mengembangkan ketrampilan seperti ini, tetapi mungkin untuk pembelajaran mereka
(Schon, 1987). Pengetahuan teknis, berbasis ilmu pengetahuan suatu profesi
adalah intisari dari kurikulum sekolah yang profesional; itu dapat dikurangi
menjadi kata dan dalam buku dan ceramah kuliah yang diperkenalkan. Pengembangan
dari pengetahuan yang diam adalah suatu perihal yang berbeda, bagaimanapun, dan
menuju untuk dilalaikan dalam kurikulum pendidikan formal. Pengetahuan diam
dipelajari melalui coba-coba dalam pengalaman. Tetapi para profesional
berhubungan dengan manusia yang sensitif seperti keluaran bahwa itu akan
menjadi meseum karena orang baru untuk mengadakan percobaan di satu klien yang
tidak menaruh curiga terutama kepada pendidikannya yang profesional lebih lanjut
dan mengerti. Untuk mengalahkan kesukaran ini, banyak profesi termasuk di dalam
program persiapan melatih mereka pengalaman seperti masa pelatihan dan tempat
kediaman. Dalam situasi-situasi seperti ini, orang baru akan diizinkan untuk
mempraktekkan, tetapi di bawah pengawasan yang dekat suatu profesional yang
bertindak sebagai suatu pelatih ? bus dan penasihat. Melalui proses ini, orang baru membangun pengetahuan
diam untuk melayani dia baik pria maupun wanita seumur hidup dari praktek
independen. Yang terdekat kita datang pada ini di dalam pendidikan adalah suatu
terbatas yang singkat sebagai asisten pengajar atau sebagai suatu dokter RS
administratif yang paruh waktu. Ada suatu bertumbuh pengenalan bahwa ini yang
berbasis ladang mengalami bersifat persiapan tidak cukup untuk guru permulaan
atau pengurus (Murphy 1993; Kebijakan Nasional Menumpang untuk Educational
Administration, 1989; Jacobson & Conway. 1990).
6.3.2.
Suatu Hubungan Pelanggan-Profesional
yang Baru
Schon (1983) menyimpulkan bahwa mengamati profesional
sebagai suatu praktisi yang refleksi perbandingan sebagai suatu “orang yang
rasional teknis,” disiratkan kebutuhan akan suatu hubungan klien profesional
yang baru. Kebutuhan akan perubahan dalam hubungan adalah sebagai yang besar
antara pengurus para guru dan sekolah dan, klien mereka sebagaimana untuk
profesi yang lain. Hubungan yang baru bisa ditandai sebagai yang simbiotik di
mana pertukaran informasi timbal balik didorong.
Schon (1983) menggambarkan hubungan klien profesional
sebagai suatu kontrak atau satu set pengaturan norma yang perilaku dari tiap
pihak yang akan khawatir interaksi yang
memungkinkan keduanya profesional dan klien untuk mengetahui apa yang dapat diharapkan
dari satu sama lain. Dalam kontrak yang tradisional, profesional yang bertindak sebagai meskipun demikian lelaki
atau perempuan sudah menyetujui untuk kirim jasa kepada klien itu kepada batas
dari wewenang yang khusus, kepada rasa hormat keyakinan yang dihibahkan oleh
klien, dan bukan untuk menyalahgunakan karena kepunyaan profesional itu
bermanfaat bagi kuasa yang khusus memberi dalam batasan dari hubungan. Klien
bertindak sebagai meskipun demikian ia atau dia sudah menyetujui untuk menerima
otoritas dan pengetahuan profesional itu, untuk menyerah pada jasa profesional itu,
dan untuk membayar dinyumbangkan yang jasa. Di bawah kontrak yang tradisional,
tanggung-jawab profesional itu adalah terutama kepada panutan profesional.
Hubungan profesional dengan klien tradisional ini adalah suatu produk dari
filsafat yang positivistic.
Dalam yang baru (dan lebih disukai) hubungan, profesional
mengenali keahliannya yang teknis pada suatu konteks dari maksud dan bahwa
klien harus dilibatkan dalam proses menemukan arti. Dibanding suatu hubungan
otoritas dan penundukan, hubungan antara profesional dan klien menjadi
simbiotik dan timbal balik.
Ia (profesional) hubungkan dengan kliennya, seperti juga
kepada dirinya suatu kapasitas untuk berarti, mengetahui dan merencanakan. Ia
mengenali tindakan-tindakannya mungkin punya maksud-arti yang berbeda untuk
kliennya dibanding ia berniat untuk mereka memiliki, dan ia memberi dirinya
tugas tentang menemukan apakah ini semua. Ia mengenali satu kewajiban untuk
membuat dirinya mengerti dapat diakses kepada kliennya, yang berarti bahwa
adalah kebutuhan sering kali untuk mencerminkan apa mengetahui walaupun praktisi
refleksi harus menjadi kepercayaan dan secara teknis klaimnya berkompeten
kepada otoritas yang pada hakekatnya didasarkan pada kemampuannya untuk
menjelma pengetahuan khususnya di dalam interaksinya dengan klien. Ia tidak miminta/bertanya
kliennya pergi mempunyai iman buta dia “kotak hitam,” tetapi untuk tinggal
terbuka bagi bukti karena munculnya kemampuan praktisi. (Schon, 1983,Hal 295-296)
Dengan kata lain, profesional harus mampu memohon dari
klien, sampai pengamatan dan percakapan, informasi yang berkait dengan
perhatian mereka yang timbal balik, untuk mengevaluasi informasi itu, dan untuk
menggunakan nya dalam meresepkan suatu perawatan atau layanan. Dalam kontrak
baru, profesional itu lebih secara langsung dapat dipertanggungjawabkan kepada
klien dibandingkan dalam kontrak yang tradisional. Dibandingkan menerima
otoritas praktisi itu, klien setuju untuk bergabung dengan praktisi pada suatu
pemeriksaan yang timbal balik ke dalam situasi di mana klien mencari bantuan.
pandangan alternatif professional untuk mencerminkan suatu filsafat constructivist.
Di bawah kontrak yang tradisional, profesional itu dikira
untuk memiliki pengetahuan teknis yang lengkap tentang keahlian dan klaim untuk
melakukan dengan mengabaikan setiap ketidak pastian. Suatu jarak profesional yang
dipelihara; dipertahankan dari klien selagi memainkan peran dari ahli
barangkali menyampaikan suatu perasaan dari keramahan sebagai suatu “pemanis;” profesional
yang tradisional menekankan suatu diferensial status antara dirinya atau
dirinya dan klien. Profesional refleksi sebaliknya, secara terbuka mengakui
adanya bahwa dia bukan satu-satunya untuk memiliki relevan dan pengetahuan
penting di dalam situasi. Ketidak pastian pandangan profesional yang merefleksikan
sebagai suatu sumber potensial terpelajar karena semua yang dilibatkan dan untuk
mencari hubungan dengan pemikiran dan pendapat klien. Hormati karena
profesional itu tidak diasumsikan tetapi diharapkan untuk bertumbuh karena
kemampuan yang ditunjukkan oleh profesional dalam penanganan situasi. Dalam perlu
untuk tidak memelihara suatu bagian muka profesional, profesional yang mereflesikannya
dengan bebas untuk mengembangkan satu hubungan yang asli dengan klien yang
meningkatkan mutu dan kuantitas informasi yang tersedia bagi diagnosa, situasi
dan pengaruh dari solusi percobaan. (Schon, 1983).
Memperhatikannya dari sudut pandang dari klien, dalam
hubungan alternatif klien-profesional, klien mengasumsikan tanggungjawab jauh
lebih besar untuk perawatan, kesembuhan, atau layanan disumbangkan, menyerahkan
keamanan berdasarkan semata-mata ada iman
di dalam kemampuan profesional itu dan bergabung dengan profesional di dalam
membuat pengertian dari kasusnya. Klien berlatih beberapa kendali atas situasi
dan mematuhi nasihat profesional hanya setelah diyakinkan bahwa itu adalah
tindakan paling masuk akal untuk mengambil.
Untuk guru, kontrak profesional baru ini berarti suatu
pengenalan bahwa tidak ada pelajaran dapat berlangsung tanpa kooperasi siswa
dan mungkin keluarga. Keduanya memiliki, mempunyai informasi-perilakiu,
pemahaman, latar belakang dan sejarah yang kritis kepada sukses dari misi
pengajaran dan tersedia untuk guru hanya bekerjasama dengan siswa dan keluarga.
Dengan cara yang sama, untuk pengurus, hubungan profesional baru ini
menyiratkan ujung yang secara sepihak, otoriter, kepala ambil badian dalam pengambilan
keputusan. Itu adalah satu pengakuan bahwa semua orang yang dipengaruhi oleh
suatu keputusan harus dilibatkan dengan penuh arti dalam membuat keputusan dan
bahwa sukses dari organisasi adalah suatu fungsi semua dilibatkan. Persyaratan
ini berjalan lancar di luar kapasitas bahkan sistem informasi paling canggih
dan menyiratkan bahwa masing-masing pemimpin bidang pendidikan perlu sudah
dengan sempurna menyetel penelitian dan mendengarkan ketrampilan dan bahwa pola
yang ada dari penguasaan sekolah perlu untuk diatur kembali ke dalam satu sistem
yang inklusif.
Untuk hubungan alternatif ini untuk berfungsi sumur dalam
sektor pendidikan yang publik, aspek paksaan yang harus dikurangi atau
dihapuskan. Hal ini menyarankan suatu struktur penguasaan yang diperbarui untuk
pendidikan bahwa mengizinkan pada suatu pihak, pilihan keluarga dari sekolah
dan sebaliknya, berbasis pengelolaan tapak. Berbasis pengelolaan tapak
menyediakan pendidikan para profesional dengan kebebasan itu perlu berlatih
ilmu pendidikan bahwa mereka menilai sifat yang paling sesuai dan untuk
mendisain sekolah-sekolah menurut permintaan penghakiman dan klien profesional.
Pilihan keluarga memastikan bahwa hubungan klien yang profesional adalah
sukarela.
Muncul gaya kepemimpinan bidang pendidikan adalah satu
kesamaan dengan para anggota yang lain organisasi. Itu memerlukan para
profesional mereflesikan mempunyai ketrampilan penelitian tekun atau tajam dan
kemampuan itu untuk menginterpretasikan dengan teliti pengamatan yang mereka
buat. Sebagai ganti bicara dan memberi pesanan, kepemimpinan yang baru
mengamati secara hati-hati, mendengarkan dengan penuh perhatian dan kemahiannya
menginterpretasikan apa yang dilihat dan didengar. Kepemimpinan adalah
interaktip dan memudahkan.
6.4.
Aktivitas Untuk Diskusi
Selama nya minggu, menyimpan(suatu jurnal dari
interaksi-interaksi mu yang profesional. Mencatatan pada suatu wujud serupa
dengan bahwa di dalam Gambar 6.1. Masuk catatan cairan mu ke dalam suatu jurnal
yang menggunakan suatu bentuk yang serupa. Teliti masukan mu menggunakan
pertanyaan serupa dengan mereka yang mengusulkan pada Halaman 183. Tukar jurnal dan
analisa kami dengan sumber yang lain di kelas, kritik satu sama lain dengan
ukuran mengusulkan pada Halaman 183.
Pertanyaan-pertanyaan
1.
Beri dua pertimbangan
mengapa mempunyai ketrampilan-ketrampilan penelitian baik adalah penting bagi
pengurus sekolah tersebut. Menjelaskan masing-masing alasan.
2.
11st dan menjelaskan
cara sebanyak tiga penyimpangan-penyimpangan mu akan mempengaruhi
pengamatan-pengamatan mu.
3.
Daftar dan menjelaskan
tiga kejadian ketika satu pengurus akan melihat berbagai hal dengan cara yang berbeda
dibanding seorang guru.
INTERAKSI DAN KOMUNIKASI MANUSIA
Komunikasi
adalah aliran dari gagasan, informasi, dan data melalui sistem pendidikan. Dari
kelas ke jaringan nasional, komunikasi yang efektif adalah suatu kunci hidup
yang fungsional terhadap usaha pendidikan. Para pemimpin di semua tingkat, dari
mereka yang bekerja sampai dengan para siswa melalui jalan yang susah dan
membingungkan dalam melaksanakan tugas pembelajaran sehari-hari sehingga berhubungan
dengan kompleksitas ditingkat lokal, regional, negara, dan birokrasi nasional
pendidikan, dimana mereka semua harus mengembangkan kemampuan maksimal untuk
memahami dan dipahami.
Pada Bagian
III, konsep yang luas tentang komunikasi dikembangkan melalui suatu diskusi
sekolah sebagai sistem organisasi dan interaksi manusia yang berlangsung di antara mereka. Untuk pemimpin
pendidikan sekarang, mereka belumlah cukup memiliki sifat trampil sebagai seorang penulis atau
pembicara. Memo yang di keluarkan dari kantor pusat untuk yang bekerja di dalam
kelas dan yang berhubungan dengan masyarakat tidaklah cukup mengikat menjadi
satu individu ke dalam suatu kepemimpinan yang efektif. Kesatuan yang berfungsi
menjaga kekompakan memerlukan kemampuan untuk menciptakan lingkungan sosial dengan
memudahkan komunikasi yang baik melalui penetapan dari rasa hormat dan
kepercayaan timbal balik kepada semua dan untuk siapa organisasi itu bergantung.
Lingkungan seperti itu mengizinkan informasi untuk mengalir dengan bebas di
dalam sistem sekolah tersebut dan semua pesan dari luar harus ditafsirkan
dengan teliti dan dilaksanakan sewajarnya dan tepat waktu.
BAB 7 memeriksa
sekolah sebagai sistem organisasi melalui pemakaian kiasan klasik yaitu
kemanusiaan dan membangun secara sistemik yang digambarkan sebagai parameter sekolah.
Kita mendorong suatu pemahaman dengan lebih seksama kepada sifat pendidikan organik
dan administrasi pendidikan dan mengusulkan keduanya adalah bebas dari disfungsional
dengan batasan birokratis.
BAB 8
menunjukan keanekaragaman di dalam teori yang berhubungan dengan komunikasi.
Semua komunikasi dilihat berkenaan dan mempengaruhi tubuh organisasi; secara
metafora komunikasi adalah nafas hidup organisasi,
membuka peluang para anggota untuk memasukkan persetujuan dengan penuh harapan
dengan suatu pengertian dari keahlian dan kesenangan untuk menjangkau ke luar
organisasi dalam hal pelayanaan.
Komunikasi
hanyalah satu aspek dari interaksi manusia. Di Bab 9, kita menunjuk aspek lain.
Hubungan antar manusia dirasa sebagai pengintegrasian orang-orang ke dalam
suatu situasi yang memotivasi mereka untuk bekerja sama secara produktif dengan
cara kerja sama yang menghasilkan secara ekonomi, psikologis, dan kepuasan
sosial. Hubungan antar manusia diharapkan dapat memotivasi orang-orang di dalam
organisasi dan mengembangkan kerjasama kelompok secara efektif untuk memenuhi
kebutuhan pribadi mereka untuk meraih sasaran organisasi.
BAB 10 pengamatan
dan konteks sosial budaya yang sedang berlangsung di dalam interaksi manusia
dan berpengaruh pada proses pendidikan.
Menyediakan
pemimpin sekolah adalah sesuatu yang kompleks dan usaha keras manusia dimana
peran eksekutif terlihat keluar kepada lingkungan di luar sekolah dan menyelenggarakan
kepemimpinan sekolah sebagai usaha yang kompleks dan usaha manusia yang
menyebar sebagai peran eksekutif terlihat keluar kepada lingkungan eksternal
dan terhadap perintah yang internal. Dilema administratif dikatakan penting karena pada suatu pihak,
pengurus harus mendamaikan sasaran pribadi dari para anggota organisasi dengan
sasaran organisasi, dan, sebaliknya, semua aktivitas sekolah harus dicocokkan
apakah menghambat, bersaing atau bagaimana terhadap tekanan dari lingkungan
eksternal. Bab ini menguji dampak bahwa lingkungan yang diciptakan oleh
keluarga, sekolah tersebut, dan masyarakat mempunyai andil besar dalam proses
pendidikan dan atas kemampuan belajar anak.
BAB 7
SEKOLAH SEBAGAI SISTEM ORGANISASI
“Aku
datang bukan untuk mengetahui administrasi pendidikan dan keraguan bahwa itu
hendaknya melanjutkan satu keberadaan sebagai satu bidang yang mandiri”
(Culbertson. in Allen, 1992, Hal 1). Pernyataan Culbertson mengambil isu
dramatis dengan pendidikan yang diterima di sekolah dan pendidikan di Amerika
Serikat. Allen (1992) menaksir petunjuk
nasional pendidikan sebagai yang tidak cukup. Kendali pemerintah atas sekolah
sangat penting, tetapi hal tersebut sudah ketinggalan jaman dan membutuhkan rekonstruksi
yang cepat. Berbicara pada poin lainnya dari pandangan pengarang terhadap laporan yang serupa.
Levine
(1992) menceriterakan sebuah penelitian dalam kelas sekolah menengah. Apa yang
ia amati dan laporkan lebih memprihatikan dari yang orang bayangkan; sekolah
seperti menghadapi kemunduran keluarga, peningkatan kemiskinan, mengubah
demografis, penggunaan obat terlarang, dan kurangnya dukungan dari orangtua.
Tetapi isu yang meragukan ekonomi atau bangsa tersebut hanyalah bagian dari
masalah. Hentschke (1992) menjelaskan
dilema sekolah yang nyata adalah permasalahan profesional yang habis masa penggunaannya:
manajemen berbasis sekolah, pengambilan keputusan dibagi bersama, performa
instruksi dasar, taksiran asli dan akuntanbilitas perbaikan guru dan orang tua.
Coombs
(1991) mengutip empat pertimbangan ramalan yang buruk yaitu: (1) Kegagalan untuk
memahami asumsi pokok tentang pendidikan yang diterima di sekolah, (2) Kegagalan
untuk bereaksi terhadap perwujudan hari ini yang dihasilkan oleh perubahan cepat
di dunia yang modern, (3) Kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan pemahaman baru
sekitar sifat alami organisme manusia, (4)
Kegagalan untuk membangun suatu sistem nilai dan fasiltas yang inovatif dan
profesionalisme yang handal, hal ini terjadi karena tidak cukupnya perhatian pada
sistem persekolahan kita. Tidak adanya siswa memusat pada tidak adanya penyesuaian
dalam mengubah kebutuhan, penjeraan inovasi, kultur kesalahpahaman, metoda
motivasi yang lemah, ketiadaan kepemimpinan dan penguasaan. pembiayaan yang
tidak cukup dan tidak adanya tujuan.
Dibutuhkan
sedikit usaha untuk membongkar daftar literatur yang luas terhadap permasalahan
di sekolah yang tidak ada habisnya. Cakupan dan skala permasalahan kelihatannya tidak terkendali. Membuka persoalan biasanya
memimpin dan menyimpulkan perubahan yang
diperlukan dalam iklim organisasi, pengembangan organisasi, perbedaan organisasi,
dan kemampuan beradaptasi organisasi. Menentukan studi dari struktur sekolah,
hubungan dengan lingkungan, manajemen, pengambilan keputusan dan tingkah laku
manusia,sementara daftar terlihat belum lengkap, sehingga dapat dengan segera
merasakan keaneka ragaman keperluan dan kompleksitas permasalahan seputar
sekolah dan performa sekolah.
Sekolah
banyak menderita penyakit yang sama ketika menemukan apa yang terjadi pada
masyarakat. Kenyataannya sekolah lebih
dekat kepada cerminan masyarakat.
Sekolah terkunci
oleh perekat berwarna merah yang besar, tidak dapat bertindak cepat dalam
mengubah lingkungannya, pemborosan sumber daya yang tidak terkendali, dan
menderita akibat bergerak kearah yang salah, ketidak cukupan dan kurang performa, PHK dan pemimpin yang
berpolitik. Sekolah adalah birokrasi tinggi. Tetapi, dengan banyak organisasi,
sekolah menbutuhkan perubahan yang signifikan. Sekolah lebih merana karena
sumber daya masyarakat, pemuda, seperti yang telah ditunjukan (Coombs, 1991;
Sergiovanni & Moore. 1989; Salomo & Hughes 1992: Levine, 1992) banyak yang
percaya bahwa sekolah sebagai organisasi yang perlu revitalisasi, bahkan pembauran
perubahan yang lengkap melintasi konteks
organisasi.
Kompleksitas
persoalan organisasi yang mengendalikan ledakan pengetahuan yang berteknologi
dan bermacam perubahan dalam nilai kemasyarakatan,
kepercayaan, dan harapan yang nyata. Sistem persekolahan berdasar pada model
Weberian, yang dideskripsikan oleh kendali, efesiensi dan rutinitas yang tidak
secara efektif memenuhi kebutuhan saat ini (Weber. 1947). Pengertian yang
berbeda, model organisasi yang lain dan teori seperti manajer pengetahuan yang
mengembangkan perspektif “bekerjanya ilmu pengetahuan” (Fayol, 1949; Taylor.
947; di Pugh & Hickson, 1989), sosiologi kemanusiaan dan psikologi perspektif
(Mayo, 1945; McGregor. 1985; Herzberg, 1968; Pugh & Hickson. 1989) bentuk
pemikiran organisasi yang meliputi banyak variable dimana tujuan pendidikan
tidak berubah dengan signifikan. Banyak pandangan dan tujuan pendidikan yang diterima di sekolah termasuk
pengembangan ketrampilan dasar, pengetahuan tentang suatu warisan yang umum,
pengembangan karakter yang baik dan persiapan untuk pekerjaan atau pendidikan
lebih lanjut (Allen, 1992; Bennett, 1992; Hentschke, 1992; Hodgkinson, 1991;
Levine, 1992; Salomo & Hughes, 1992).
Pada
waktu yang sama praktisi pendidikan sudah membentuk sekolah sebagai gambaran dari
cerminan masyarakat dan organisasi masyarakat tersebut. Tujuan dari sekolah,
seperti juga masyarakat, termasuk: keindahan hubungan dengan pemenuhan dan
kesenangan hidup; tujuan ekonomi, mencari uang; dan tujuan ideologis suatu
penyampain dari masyarakat yang berbudaya, idealistis dan ciri humanistis
(Hodgkinson, 1991). Sementara perbedaan ini memandang pendidikan yang lebih
berbeda antara jabatan; masyarkat, semua organisasi yang ada untuk mencapai tujuan
yang serupa. Sementara semboyan pemasaran yang sederhana “ini bukan mobil tua
orang tua mu,” menyatakan untuk tahun ini kualitas suatu produk yang diinginkan
dan tujuan yang didefinisikan untuk General Motor, dimana tujuan pendidikan
tidak terbatas, lebih kompleks dan lebih besar menunjukan cakupan dan skala
untuk tindakan.
Pendidikan
yang diterima di sekolah kebanyakan untuk mewakili suatu bagian yang
substansiil seumur hidupnya, namun seperti yang ditunjukkan dengan singkat, kerancuan tentang berpikir sekolah telah hadir
dan tersebar luas. Seperti organisasi, sekolah kita adalah kekacauan dalam
menyetarafkan perubahan di dalam masyarakat.
Banyak organisasi
pribadi dan organisasi public yang menjadi
“kandang besi/penjara” dimana tindakan kendali dilakukan melalui aturan dan
birokrasi yang kaku (Clegg, 1990). Sekolah mengkonsumsi sumber daya yang
terbatas dan terlalu sering kali tidak puas, bahkan bersikap masa bodoh.
Barangkali paling berat dan sedih dimana sering kali lulusannya tidak mampu
mengumpamakan peran efektif dalam masyarakat kita. Sekolah perlu memimpin
masyarakat ke masa depan. Seperti organisasi yang menggunakan sumber daya,
sekolah perlu mempersiapkan peserta didik untuk sesuatu yang positif dan
interaksi adaptasi yang kekal dengan masyarakat. Tetapi sekolah sering mengalah
kepada permasalahan yang sama, kekurangan yang sama, dan paradok yang sama yang
ditemukan dalam organisasi yang lain. Mereka mencerminkan apa yang ada dalam
lingkungan yang lebih besar.
Bab ini
menjelajah parameter yang kronis dari sekolah sebagai organisasi yang klasik, humanistis,
sistemik dan tambahan pula unsur yang menyatu mempersatukan pemikiran organisasi.
Menggunakan kiasan, kita memperhatikan sekolah sebagai organisasi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan kuantum.
7.1.
Cara Pemikiran Tradisionil tentang Organisasi
Organisasi dapat dikonsepsi dalam bermacam cara melalui definisi,
melalui persepsi kenyataan, melalui teoritis membangun, bahkan secara metafora
seperti terminologi seperti pergolakan atau kekacauan. Weber (1947) memikirkan
istilah birokrasi untuk mewakili; menunjukkan mengawasi organisasi dengan ketat.
Organisasi dipahami sebagai penggerak untuk berjalan lancar. Khusus bagian dari
mesin itu dibedakan oleh fungsi dan dikombinasikan melalui basis otoritas,
struktur hierarki, aturan, kebijakan, dan prosedur membuka peluang seni yang
khusus untuk mencapai usaha maksimum.
Woodward (1981), sebaliknya, organisasi digambarkan melalui teknologi
mereka, suatu kombinasi proses atau fungsi sebagai hasil dari operasi
teknologi. Individu, pada gilirannya, digunakan dan dikenali dalam hubungan
dengan suatu komponen teknologi. Jadi; dengan demikian organisasi dipahami
melalui suatu lensa konvergen/divergen. Pengaruh pokok organisasi yang khusus
adalah perbedaan aktivitas dalam mengintegrasikan organisasi dengan tujuan yang
umum.
Seperti pandangan deterministik, hal ini masuk akal dalam
memelihara keunggulan, ahli teori mulai menambahkan pertanyaan dan focus dalam
keterkaitan dari “berbagai hal atau kejadian.” Pengarang memvisualkan
organisasi sebagai hal yang jauh lebih kompleks
(Mintzberg, 1983; Drucker, 1987; Ouchi, 1981: Mereda, 1992; Barnard,
1938).
Fayol dan Taylor (Pugh & Hickson, 1989) organisasi dirasa sebagai
instrumen yang memaksimalkan efisiensi suatu pandangan yang deterministik yang
memberi kepercayaan lebih besar kepada manajemen “ilmu pengetahuan dari
pekerjaan” dan aplikasibilitas mereka
kepada komponen manusia.
Pekerjaan Taylor terkonsentrasi pada area manajemen ilmiah. Lima
prinsip dari desain pekerjaan yang mendukung sebagai berikut: (1) Pergeseran
tanggungjawab kerja kepada manajemen. Para manajer merencanakan desain dan pekerja
mengimplememtasikannya; (2) Gunakan analisa ilmiah untuk memikirkan tindakan
pekerja dengan tepat; (3) Pilih para pekerja terbaik untuk diberi pekerjaan;
(4) Pekerja harus bekerja secara
efektif. (5) Memonitor perkerjaan dan kinerja pekerja (Morgan, 1986). Keduanya
Gilbreth Frank dan Lillian (Spreigel, 1953) menguji sumbangan pokok Taylor:
mempelajari gerakan manusia melalui analisa studi kerja dari kinerja. Fayol (1949) menyediakan suatu penjelasan
yang menyeluruh tentang organisasi dalam diskusi manajemennya. Fungsi manajemen
adalah untuk merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinir, dan
mengendalikan. Umumnya, perspektif Fayol dilihat pada kebanyakan diskusi
organisasi sekarang. Meski Taylor dan Fayol tidak dipandang sebagai pionir hubungan
antar manusia, timbal kerja mereka untuk lebih lanjut studi dari komponen
manusia di dalam organisasi. Analisa mereka yang ilmiah dikombinasikan dengan
struktur Weberian klasik yang mempunyai suatu pengaruh dalam organisasi sekarang
ini.
Yang lain memandang organisasi sebagai tambahan sistem dari aktivitas manusia yang saling
tergantung, manusia mempertimbangkan sumber daya penting lainnya yang
diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih spesifik. Banyak
pengarang dan ahli teori memandang komponen manusia secara khusus dalam
hubungan dengan organisasi, tidak hanya sebagai konsumsi suatu sumber daya organisasi,
tetapi sebagai satu unsur perilaku siapa yang mempengaruhi kedua struktur dan
fungsi organisasi. Manusia adalah organisasi. For Mayo (1945), tugas utama dari
manajemen adalah mengorganisir suatu organisasi untuk mengamankan komitmen
individu untuk mencapai tujuan organisasi yang di dalamnya terdapat kendali
organisasi yang ketat, para pekerja perlu satu saluran, satu mekanisme informal, untuk menyerang penyakit efek birokrasi.
Mayo mencatat, pekerjaan sebagai tambahan
dan menunjukan pentingnya komunikasi pada manajemen yang sukses ketika
para manajer berhasil atau gagal berdasar pada penerimaan atau penolakan oleh
para pekerja. McGregor. (1985)
mendalilkan lebih lanjut bahwa para manajer memperlihatkan kepercayaan tentang
tingkah laku manusia dalam dua kategori asumsi yang luas: X Teori, mengamati
karyawan dengan kecurigaan, malas, dan kebutuhan kontrol dengan hati-hati; atau
Teori Y. suatu pandangan lebih positif dari karyawan. Dengan cara yang sama, Likert
(1987.) bertanya mengapa unit-unit dalam organisasi dengan penilaian maksimum
dan efisiensi yang rendah cenderung untuk berpusat pada para penyelia, selagi
para penyelia menunjukan kinerja terbaik tercatat sebagai karyawan yang muncul.
Keduanya Likert dan McGregor menganggap bahwa membangun hubungan yang mendukung
satu praktek pengawasan ideal. Blake dan Mouton (1988) mendukung pendekatan analogi
yang disamakan. “Pekerjaan manajer itu membantu perkembangan sikap dan perilaku
yang mempromosikan kinerja efisien, merangsang dan menggunakan kreativitas yang
menghasilkan kegairahan untuk percobaan dan inovasi, belajar berinteraksi dengan
orang lain” (Pugh & Hickson, 1989, Hal 183). Blake dan jaringan managerial
Mouton mengindentifikasi perilaku yang dipelajari dan diajarkan. Manusia dan perilakunya
sudah menguji bermacam aspek dari komponen manusia di dalam organisasi.
Herzberg (1968) menemukan faktor yang berbeda dengan ketidak puasan kerja dan kepuasan
berkerja. Sebagai hasilnya, ahli teori hanya memelihara selagi yang lebih
mendukung harus lebih lanjut mengenali bahwa peningkatan pekerjaan
menyempurnakan pemanfaatan lebih efektif dalam kepuasan kerja organisasi dan
peningkatan.
Pandangan lainnya, Schein (1985) memperluas asumsi sekitar aspek
manusia di luar organisasi yang rasional, sosial dan model berbasis kebutuhan. Model
kompleksnya mengenali kejadian hidup dan mengembangkan motivasi yang
mengarahkan individu dan motivasi yang berbeda/bersebrangan dengan situasi dan
waktu. Manajemen, oleh karena itu, tidak mudah untuk mengkontrol dan
menkoordinasi, maupun memberi dorongan yang besar, tetapi juga meliputi
komponen diagnostik dimana manajer belajar dan bertindak terhadap kayawan
sebagai individu dan harapan organisasi. Pada level ini ditambahkannya pemahaman
orang-orang terhadap kemungkinan organisasi untuk menanggulangi bersama secara
nyata internal dan ekstenal, mengadaptasi eksternal dan mengintergrasi
internal.
Argyris et al. (1985) mengembangkan pandangan diagnostik yang
serupa dan menarik. Di dalam organisasi, orang sering dihadapkan dengan unsur
yang berlawanan. Unsur yang berlawanan ini menyebabkan orang untuk bertahan
pada kenyamanan stabilitas mekanisme produksi dan dengan cara yang cepat/instan,
dihukum karena kekurangan prakarsa, keagresifan, atau kemampuan beradaptasi.
Perbedaan norma diperlukan dalam organisasi, norma yang akan memutuskan
keterbukaan pada komunikasi, keterbukaan kepada tindakan, dan keterbukaan untuk
belajar.
Pada titik ini, organisasi telah dipandang sebagai struktur,
manajemen, dan seperti hubungan antar manusia. Sementara masing-masing
perspektif ini menyediakan data yang berharga yang digunakan untuk mengerti
organisasi dan pendekatan lain kepada organisasi yang disediakan oleh ahli
teori sistem. Pada akhirnya pandangan organisasi ini bersifat kesatuan organik
atau himpunan dilihat dari proses yang saling berhubungan dengan lingkungan. Di
dalam tradisional rasional/deterministik, ilmiah dalam perspektif hubungan
antar manusia, usaha ahli teori untuk menghambat ketidakpastian di dalam
organisasi. Dengan kedatangan sistem teori, organisasi belajar ketidakpastian
yang bersebrangan dengan batasan. Model input-throughput-output-feedback
menjadi stakeholder pemeriksaan
organisasi.
Di dalam studi yang paling awal organisasi menggunakan lingkungan
metodologi sistem, batasan, umpan balik yang bervariasi, dan unsur lain yang
diperlukan sebagai himpunan lain dari variabel yang ilmiah dan memiliki daya
saing. Lingkungan sistem persekolahan termasuk sekolah itu sendiri, sekolah
distrik, negara, dan pemerintah pusat. Yang lain menambahkan komunitas, orang
tua, bisnis, dan berbagai profesional dan asosiasi pendidikan, dalam
permasalahan organisasi yang mekanistis dipecahkan dalam berbagai departemen
yang khusus. Ketika berubah, inovasi, dan ketidakpastian tetap tumbuh, organisasi
menjadi tidak mampu menangani variasi permasalahan yang akan datang. Dalam
jangka pendek, komunikasi organisasi itu merinci dari kesimpangsiuran dari
permasalahan yang ditemui.
Burns (1966) mengungkapkan bahwa rincian ini tak bisa terelakkan.
Fungsi organisasi di dalam sistem sosial yang berbeda, satu sistem kewenangan,
suatu sistem kerjasama, dan suatu sistem politik. Struktur organisasi dalam
pandangan Burns terlihat sebagai hasil dari suatu proses di mana pengembangan berkelanjutan
dengan tiga sistem sosial ini telah terjadi di dalam dan menyesuaikan diri
dengan selalu mengubah lingkungan.
Lawrence dan Lorsch (1986) mengutarakan bahwa persyaratan tambahan
dari organisasi itu untuk saling berhubungan dengan lingkungan yang mempersulit proses pemikiran organisasi lebih lanjut. Dengan mendukung suatu
pendekatan ketidaktentuan yang mereka tunjukan, pengintegrasian permasalahan
dan pembeda di dalam lingkungan organisasi internal dan eksternal di dalam sistem
organisasi.
Usaha organisasi untuk mengintegrasikan dan membedakan secara
efektif, resolusi konflik ditemukan di dalam kompromi dan kemampuan/wewenang
menyeimbangkan fungsi organisasi. Thompson (1967) menyebut hal ini satu fungsi
kelurusan, struktur, teknologi dan lingkungan yang saling berhubungan. Miles
dan Snow (1978) mengutip yang serupa dan berbanding lurus dengan ilmu tubuh
untuk membantu para manajer dan mengejar strategi organisasi yang lebih
efektif.
Pengarang lebih lanjut memperluas pemikiran sistem yang
diberlakukan oleh suatu organisasi. Mengerti organisasi dalam kaitan dengan
menggunakan istilah biologi dan evolusi, Hannan dan Freeman (1988) mengusulkan
suatu perspektif ekologi populasi organisasi. Mereka mencoba menjelaskan
penggantian lebih dari model yang ada dalam wujud organisasi dengan wujud yang
baru. Beberapa organisasi berhasil dengan baik dan bertahan hidup sedangkan
yang lainnya hilang dan lenyap. Emery dan Trist (1969), dalam mengerjakan
Travistock Institute, organisasi yang terkonsepsi seperti “sistem teknis socio terbuka.”
Dalam pandangan ini, organisasi dilihat sebagai sesuatu yang utama dimanis dan
menikmati suatu pertukaran yang berkesinambungan melintasi batasan lingkungan.
Pekerjaan manajemen adalah untuk mengatur pertukaran batas dibandingkan peraturan internal. Tidak ada lagi pemborosan
tradisional dari bagian umum dalam pandangan tradisional. Pada gilirannya,
suatu pemborosan fungsi di setiap individu dan unit akan mampu mengatasi
kompleksitas dan perubahan dalam melintasi batasan. Dibandingkan bersandar pada
kendali organisasi yang bervariasi harus bersandar pada mekanisme yang baru,
mengatur sendiri untuk mencapai fungsi efektif, di suatu lingkungan yang
bergolak. Sifat dinamis organisasi adalah pemahaman yang baru yang diperlihatkan.
Silverman (1971) melihat semua studi organisasi sebagai hal yang
tidak cukup dan terkonsepsi dalam satu “tindakan” kerangka acuan. Pendekatan
ini memandang organisasi sebagai hasil dari interaksi orang yang termotivasi,
yang sedang mencoba untuk memutuskan permasalahan mereka dan mengejar kebutuhan
mereka.
Sudut pandang organisasi tradisional fokus utamanya pada satu
rangkaian unsur bukan perseorangan yang menjelaskan fungsi organisasi sebagai
sudut pandang hubungan antar manusia yang memusatkan terlalu jauh ke dalam
suatu orientasi hubungan. Bagaimanapun, untuk memahami organisasi, lebih lanjut
kita perlu berpikir tentang organisasi. Hipotesa secara tradisional atau fokus pada
hubungan antar manusia hanya berfungsi untuk membatasi pemahaman kita pada
kenyataan di dalam ruang lingkup organisasi.
7.2.
Pengambilan Keputusan di dalam Organisasi
Pemikiran sekolah lainnya bahwa dengan memelihara pengambilan
keputusan adalah kunci untuk mengerti efektivitas organisasi. Efektivitas
organisasi dipikirkan untuk berada terutama dalam mengambil tindakan
managerial. Karena ahli teori keputusan, semua tindakan managerial adalah
pengambilan keputusan. Teori-teori yang lebih tua, rasionalitas dianggap
sebagai suatu batu penjuru kepada pengambilan keputusan. Pengambil keputusan
secara rasional menentukan suatu tindakan terbaik dari banyak variabel untuk
memaksimalkan berfungsi organisasi. Simon (1977) menggantikan ekonomi rasional
dengan memaksimalkan keputusan pengurus yang administratif, orang hanya “puas.”
“Memuaskan” yang di definisikan sebagai suatu situasi di mana manajer itu tidak
mengambil waktu untuk mencari resolusi yang optimal dari suatu masalah, tetapi
bersedia menerima sesuatu yang memuaskan. Tindakan organisasi didasarkan secara
individu atau secara organisasi sebagai pemilihan alternatif yang memuaskan
dengan menggunakan beberapa cara komparatif faktor yang relevan.
Organisasi, dalam sudut pandang ini, perlu bekerja keras untuk
menciptakan situasi di mana konteks keputusan yang tidak diprogramkan dan yang diprogramkan.
Berdasarkan hal ini konteks yang tidak diprogramkan, seperti kebiasaan,
rutinitas, prosedur, standar, struktur, dan kultur membiarkan pengambil
keputusan dan organisasi itu untuk berfungsi secara efektif. March (1988) dan
Simon (1977) percaya pengambil keputusan mampu membangun suatu “rasionalitas
yang dibatasi.” Batasan dari banyak pengetahuan atau satu pengetahuan
organisasi yang membatasi kemampuan organisasi. Batasan teori sebagai suatu
kelangkaan perhatian yang berhubungan dengan aspek politis dari organisasi dan
menyediakan berbagai kemungkinan tindakan melalui negosiasi dan kemajuan organisasi dalam satu batas organisasi.
Organisasi jarang memutuskan konflik karena mereka menghindari
ketidakpastian dengan menciptakan pengambilan keputusan yang bisa diterima.
Menerima pandangan jangka pendek ini mengakibatkan kebutuhan untuk mencari
lebih “kepuasan” alternatif. Setelah jangka waktu tertentu proses ini memimpin
ke arah pelajaran organisasi berdasar pada suatu cara berpendirian yang reaktif.
March (1988) menantang setiap “sampah” penuh dengan aturan diskusi dan tindakan
alternatif yang tetap dilakukan dengan tindakan untuk lingkungan dengan jangka
waktu yang pendek. Mintzberg (1989) mendalilkan individu itu ketika pengambil
keputusan jatuh ke dalam empat pola: usahawan, yang mempimpin dan menentukan
tujuan baru; gangguan tangan, yang memutuskan permasalahan lainnya, alokasi sumber
daya, membubarkan sumber daya keuangan, dan negosiasi, yang mencari kompromi.
Lindbloom (1980) menyebut versi pengambilan keputusan memisahkan incrementalism atau "ilmu
pengetahuan tentang mengatasi." Menurut
Lindbloom, untuk menemukan suatu model pengambilan keputusan yang
rasional/deterministik yang digunakan pada kebanyakan organisasi adalah pengambilan
keputusan di dalam organisasi yang menderita penyakit reaktif, terlalu sedikit
program jangka panjang, dengan kendali efektif kecil.
Tannebaum (1968) menantang pandangan ini. Sementara banyak orang
percaya bahwa kendali efektif pada organisasi terutama harus terkait dengan
bagaimana para manajer menggunakan model pengambilan keputusan tertentu atau
proses. Tannebaum secara kontras berargumentasi bahwa pengambilan keputusan
sebagai suatu proses harus dibagi bersama dengan suatu variasi yang lebih luas
dari pemain. Hal ini menyediakan suatu volume yang lebih besar dari alternatif
yang realistis ke arah “kepuasan”. Di dalam studi Tannebaum, orang di dalam
organisasi bukan tertarik pada pelatihan tetapi kendali lain. Organisasi akan
menjadi bijaksana untuk mempertimbangkan penyusutan, keserongan dari hirarki
sampai taraf tertentu dan membatasi perhatian kepada mereka yang berlatih
kekuasaan. Pada gilirannya, organisasi itu perlu mendirikan proses atau model
yang mengizinkan para anggota organisasi itu untuk meningkatkan volume
pengambilan keputusan. Hal ini membagi bersama tanggung jawab, dengan kuat
menggerakkan pemikiran organisasi menjauh dari arti tambahan penggerak kepada
suatu perspektif pengambilan keputusan yang dibagi bersama.
7.3.
Kekuatan di dalam Organisasi-organisasi
Berpikir tentang pengambilan keputusan organisasi diarahkan pada
diskusi tentang kuasa di dalam organisasi. Yang individu, unit, atau keputusan
organisasi yang didasarkan pada minat, satu orientasi untuk bertindak dalam
satu cara atau yang lain. Gerakkan di dalam organisasi menghubungkan secara
langsung kepada bagaimana minat ini dikejar dan didefinisikan, dan variasi individu
lalu posisi dan minat mereka. Berbagai agenda pemain yang berbeda
mempertahankan minat mereka. Gerakkan di dalam organisasi menghasilkan suatu
sistem secara serempak bersaing dan bekerja sama (Burns, 1966). Naik turun
organisasi yang tradisional, kekuasaan adalah suatu mekanisme dengan mana
organisasi memutuskan konflik.
Terdapat banyak sumber kekuasaan organisasi (Morgan, 1986). Di dalam tradisi Weberian,
kekuasaan berasal dari otoritas yang sah. Hak untuk aturan adalah suatu tradisi
yang dikenal banyak oleh organisasi, seperti kewenangan formal pada umumnya
dihubungkan dengan posisi atau struktur perintah/atasan. Organisasi juga
mendapatkan sumber tambahan dari kekuasaan, kendali, dan sumber daya yang
langka. Sumber ketergantungan yang dibentuk oleh kekuasaan ini adalah untuk
menyediakan kendali/kontrol. Struktur dan kebijakan atau peraturan juga adalah salah
satu sumber dari kekuasaan dalam wujud lain dari kendali di organisasi.
Peraturan birokratis, rencana, persyaratan promosi, dan aturan lain memberi
potensi kekuataan kepada berbagai pengontrol. Kemampuan untuk mempengaruhi
pengambilan keputusan melalui mekanisme
struktural ini adalah yang paling sering dilihat pada kendali pengambilan
keputusan apakah agenda keputusan pengendalian, pengambilan keputusan nyata,
atau sasaran hasil organisasi. Kendali dari pengetahuan dan informasi dan
penentuan dari menerima perhatian juga sangat penting. Para aktor kunci sering
kali memohon pertolongan kendali informasi dan pengetahuan, apakah membentuk
suatu pola dari ketergantungan melalui struktur, perubahan, penjaga gerbang,
atau membatasi kemampuan informasi atau pengetahuan. Manajemen batas juga
adalah suatu sumber dari kekuasaan. Kendali tentang mengintegrasikan mekanisme
dapat mempromosikan kemajuan selagi pengasingan dapat membatasi kemajuan.
Sumber lain dari kekuasaan termasuk jaringan, kendali hubungan daya,
persekutuan, kendali dari teknologi, mengatasi ketidakpastian memanage arti,
dan manajemen gender (Morgan, 1986).
Mengenali dan mengerti sumber dari kekuasaan ini memungkinkan
praktisi itu untuk mengatasi lebih banyak lingkungan pergaulan politis
kekuasaan. Kekuasaan masyarakat keadaan jamak yang kompleks dipandang sebagai
yang tak bisa terelakkan. Pertanyaan yang dijadikan bagaimana caranya bersaing,
bagaimana caranya bekerja sama, bagaimana caranya menghindari, bagaimana
caranya mengakomodasi, atau bagaimana caranya berkompromi (Thomas, 1977).
Sementara fraksi kecil berpandangan radikal berlawanan satu sama lain, atau minat
terintegrasikan, pandangan pada keadaan jamak bersifat alami, organisasi yang
tradisional dicek oleh saling mempengaruhi berbagai minat menggolongkan itu mempunyai
suatu pancang di dalam organisasi.
7.4.
Kultur di dalam Organisasi
Jika kekuasaan di dalam organisasi kelihatannya seperti sama, namun pasti muncul dan mengakar. Pertunjukan
yang serupa, unsur lain dari organisasi itu dapat juga menjadi kebiasaan. Ahli
teori organisasi, sosiologi, antropologi, bahkan para manajer, sudah merindukan
ciri ini di dalam organisasi. Dari satu perspektif ahli antropologi, kultur
adalah suatu sistem kompleks bahwa termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni,
akhlak, hukum, bea cukai, dan kebiasaan lain yang diperoleh oleh orang di dalam
masyarakat (Sackmann. 1991). Dalam semangat ini, suatu studi yang budaya
organisasi sudah menjadi bermakna untuk belajar komponen dari suatu organisasi.
Apakah prinsip arus utama pembongkaran, merealisir konstruksi mental yang
tersembunyi, atau mengidentifikasi bagaimana kepribadian anggota ditentukan
atau diwakili di dalam organisasi, studi budaya di dalam konteks organisasi
sudah menjadi studi dari kondisi yang menciptakan kemampuan organisasi secara
lebih pada efektifitas fungsi dan bertindak. Studi dari kultur di dalam
organisasi seperti itu menjadi suatu mekanisme pengintegrasian yang holistik
dengan ahli teori dan konsultan tentang belajar, cara berpikir, perasaan, reaksi
individu dan organisasi itu dperoleh dan bahwa bagaimanapun juga telah disimpan
dan dipancarkan melalui beberapa wujud dari simbolisme. Sebagai suatu produk
tindakan, suatu sistem yang dibagi bersama, dari maksud bahwa menyertakan orang
dan memasukkan organisasi, kultur menjadi suatu metoda untuk melakukan modifikasi
undang-undangs dan mengendalikan organisasi (Sackmann, 1991).
Schein (1985) sehubungan dengan itu ketika kultur mengintegrasikan
organisasi secara internal dan eksternal, didefinisikan secara valid. Phillips (1984)
menambahkan bahwa produk dari tindakan ini boleh jadi sangat khas sehingga
mereka menjadi diam.
Banyak pengarang membantah nilai tentang kultur pemahaman.
Permasalahan mengutip definisi akurat kultur, menentukan dimensi yang sesuai dengan
kultur, homogen melawan heterogen, dan berbagai kesulitan dengan pengukuran.
Kendati semua ini mengamati organisasi sebagai kultur waktu dan menjadi bagian
dari kosa kata organisasi (Meyerson 1991). Pandangan ini berpendapat bahwa
organisasi adalah peluang bukan satu yang oversocialized
maupun satu pandangan yang undersocialized
(Clegg, 1990). Studi kultur organisasi membuat organisasi dan perilaku sebagai
norma tindakan yang dikompilasikan dengan pemahaman organisasi dan pelajaran
yang muncul (Bolman & Deal, 1991). Kultur dalam satu organisasi yang
retorik akan membantah cara lainnya.
7.5.
Kepemimpinan di dalam Organisasi
Di zaman modern, ahli teori, pengarang, dan praktisi mencari suatu
koneksi antara kepemimpinan dan organisasi. Kepemimpinan sering dikacaukan
dengan manajemen ini. Beberapa pengarang memilih untuk menekankan persamaan,
perbedaan lainnya dalam permasalahan ini (Rost. 1991). Kepemimpinan dan
manajemen adalah proses dan unsure dalam
organisasi. Pada kerangka acuan yang humanistis, perilaku dari pemimpin atau manajer
juga menjadi suatu titik dari keterkaitan. Ketika proses dan perilaku yang
telah dibahas dari waktu ke waktu, bagaimanapun, tidak dengan jelas dipahami.
Mintzberg (Rost. 1991) diratapi bahwa ia dan rekan pendampingnya masih harus
secara menyeluruh memahami kepemimpinan dan untuk mendefinisikannya. Dengan
cara yang sama, kebanyakan pengarang dan ahli teori belum mampu dengan ringkas
tapi jelas membatasi definisi pemimpin atau manajer (Rost, 1991).
Kepemimpinan di dalam konteks manusia adalah tingkah laku dan
situasi (Yukl, 1989; Bass & Stogdill, 1990). Penemuan umum diidentifikasi
sebagai kepemimpinan yang dapat juga dipandang dari suatu orientasi fungsional:
sebagai suatu hubungan antar himpunan seperti, pengaruh, perubahan, termotivasi,
komunikasi, konflik, yang tumbuh dan berkembang (Knezevich, 1989). Demikian
juga, kepemimpinan merupakan satu set ciri kepribadian, posisi formal tertentu,
atau status. Kepemimpinan sudah dikenali sebagai satu konsep yang tidak tepat.
Itu dapat berakar di dalam nilai, dalam perang, dalam kuasa. Di atas semua, itu
adalah tak terbatas dan variabel yang melintasi banyak konteks.
Ketika kita melanjutkan untuk mencoba untuk menggambarkan
kepemimpinan di dalam konteks manusia ini, kita akan dengan tidak ragu-ragu
melanjutkan menemukan para pemimpin yang “semua di atas.” Mengenai ini. (Rost,
1991) mendefinisikan, “Kepemimpinan adalah satu hubungan pengaruh antar para
pemimpin dan para pengikut yang berniat pada perubahan riil yang mencerminkan
tujuan timbal balik mereka” (Hal 98). Tetapi ketika kita menantikan permasalahan
yang lebih besar di dalam organisasi, kepemimpinan menerima suatu fokus yang
lebih besar. Dalam semangat ini, kepemimpinan dapat lebih baik dilihat dari perspektif
Davis dan Davidson (1991) “Kepemimpinan digambarkan dalam hal yang
menghubungkan suatu visi masa depan kepada strategi untuk meraih dukungan,
pemenuhan, dan kerjasama sekelompok dalam
prestasinya yang berfungsi untuk memotivasi dan mendukung kesanggupan
pencapaian tujuan” (Hal 201). Kepemimpinan menerima satu fokus secara ilmu
bangunan (Beckett, 1971).
7.6.
Komunikasi di dalam Organisasi
Suatu bagian komunikasi yang berlangsung di dalam organisasi, dan seperti
Etzioni (1964) berkata, kita membelanjakan banyak waktu dalam organisasi yang
berbeda. Monge dan Eisenhart (1987) mengutip tiga kerangka acuan tentang
komunikasi organisasi. Zaman tradisional, kerangka acuan yang tergantung pada posisi
pandangan atas komunikasi, yang menurun, dan secara menyamping melalui yang diatur
dan diposisikan dalam hirarki yang birokratis. Di zaman modern, bingkai relasi
melihat komunikasi terjadi secara alami dalam hubungan antara peserta.
Organisasi itu dibentuk dan diberi maksud melalui interaksi ini. Di dalam pandangan lain,
bingkai budaya menekankan pentingnya kisah/cerita, upacara agama, dan bekerja
antar para anggota dan menentukan bagaimana organisasi berkomunikasi.
Organisasi yang riil dalam hal ini muncul sebagai tindakansehari-hari para
anggota di dalam pekerjaan mereka.
Little John (1989) menggunakan kiasan jaringan untuk menguraikan
secara singkat bagaimana tiga kerangka acuan yang berbeda ini mungkinkan
mengerti tentang komunikasi organisasi. Kombinasi dengan teori informasi Little
John merasa bahwa ahli teori mampu memahami yang individu, dyadic, kelompok, dan fungsi jaringan organisasi. Di dalam
organisasi yang klasik, manajemen menggunakan jaringan formal untuk mencapai
tujuan dari organisasi. Kuasa, otoritas, dan hak kekuasaan memerintah
komunikasi di dalam organisasi yang birokratis. Jaringan komunikasi yang
informal di dalam organisasi klasik dimana para anggota menurunkan usaha
hirarki untuk mendapatkan status dan kuasa mereka sendiri.
Likert (987). Empat konsep Sistem organisasi yang melebihi keduanya
tergantung pada posisi dan bingkai
relational. Di dalam Empat pendekatan sistem, satu organisasi berfungsi
sepanjang empat rangkaian: eksploitasi-kewenangan, kebaikan hati-kewenangan, konsultatif,
dan partisipatif. Likert memperlakukan komunikasi organisasi seperti satu dari
banyak variabel. Pada pokoknya, organisasi semakin berwibawa, semakin sedikit
kesetiaan individu dan kelompok kepada
manajemen dan semakin sedikit motivasi terhadap tujuan organisasi yang direalisasikan.
Dan sebaliknya, semakin partisipatif organisasi, semakin banyak kesetiaan individu
dan kelompok, kinerja, dan dukungan timbal balik kepada organisasi. Menyeluruh,
eksploitasi sistem kelihatannya untuk menghasilkan konsekuensi lebih negatif
dibanding sistem yang partisipatif. Tompkins dan Cheney (1985) menguraikan
model yang serupa dalam teori organisasi mereka yang didefinisikan. Organisasi
mempekerjakan kendali : yang sederhana, teknologi, birokratis, dan menyerukan
merealisasikan kontrol produktivitas dalam mencapai tujuan organisasi.
Paling akhir, komunikasi sudah dikonsepsi melalui relasi dan
bingkai budaya. Pentingnya bentuk komunikasi sudah diatur dan dikesampingkan
ketika ahli teori belajar pola dan interaksi yang muncul, antar para anggota
organisasi dan bagaimana orang bertindak secara benar di dalam organisasi. Di
dalam perspektif tradisional atas organisasi, kerangka acuan ini adalah satu bentuk
parameter yang tidak sesuai untuk dapat dipelajari, seperti dinamika dari
perilaku yang berkelanjutan bergantung pada bagaimana mereka mengaturnya. Dunia
sosial, adalah aktivitas orang menciptakan
organisasi (Weick. 1969). Setiap tindakan adalah komunikasi. Interaksi
berfungsi untuk mengembangkan maksud umum antar individu dan yang lain di dalam
organisasi. Ketidakpastian antar anggota akan mengurangi hubungan kedua aspek
internal dan eksternal melalui undang-undang. Hal tersebut berkelanjutan pada
individu, kelompok dan langkah-langkah organisasi dan hasil edaran (Weick.
1969). Teory Struktural (Poole & McPhee,
1983) serupa dengan teori Weick tentang pengaturan. Struktur organisasi diciptakan
pada pusat structural, yang diimplementasikan
ke dalam kode formal, dan ditetapkan (menyebut resepsi) di dalam diskusi organisasi.
Iklim organisasi, satu peristiwa intersubjective,
bangun dari proses structural melalui
interaksi anggota dan mengakibatkan hasil organisasi.
Pada setiap teori yang dibahas di atas, komunikasi mengembangkan jaringan
organisasi. Sosial, struktural, dan saluran fungsional adalah intisari
komunikasi di dalam organisasi.
7.7.
Ukuran, Struktur, dan Kompleksitas di Organisasi
Keterlibatan ukuran, struktur, dan kompleksitas di dalam
organisasi yang terbaik ditujukan oleh Mintzberg (1983, 1989). Di dalam analisa
detail/terperinci dari desain organisasi, Mintzberg mengenali lima bentuk wujud
struktural umum. Kunci pembeda dari desain organisasi terdapat pada bagian
hasil yang dominan. Pada struktur sederhana, tingkat yang paling atas
mendominasi dan menarik organisasi untuk memusatkan pemanfaatan dan pengawasan
secara langsung. Penggerak birokrasi terdapat pada struktur teknologi yang utama
dan menyebabkan standardisasi proses pekerjaan. Di dalam birokrasi yang
profesional, “operasi inti” aturan dan sebab organisasi menjadi profesional
melalui standardisasi ketrampilan. Dalam pendivisian, “garis tengah” didominasi
oleh koordinasi dan standardisasi keluaran. Akhirnya, mengkoordinir “dukungan
staf “ dan penyebab timbal balik penyesuaian di dalam organisasi.
Struktur dari organisasi yang bersifat usahawan (suatu struktur
sederhana) ditandai oleh yang kecil atau tanpa staf, pembagian kerja yang
lepas, dan hirarki kecil. Karena ukurannya kecil, kompleksitas juga menuju ke hal
sepele. Sebagai satu organisasi, perusahaan yang bersifat usahawan menuju ke
arah informal, fleksibel, mau mendengarkan, dan beroperasi dengan tujuan pengertian yang jelas. Aktivitas secara umum memutar-balik
di sekitar kepala eksekutif/pemilik. Seperti organisasi sederhana yang mendewasa,
mereka cenderung untuk bekerja terhadap penggerak birokrasi atau birokrasi
profesional. Penggerak birokrasi, spesialisasi prosedur formal, perbedaan, dan
hirarki ekstrim kasar. Dukungan staf yang tangguh dan manajemen tengah diperlukan
karena kompleksitas kendali peraturan melalui standardisasi pekerjaan.
Organisasi kukuh stabil, konsisten, dan efisien berada di lingkungan yang
relatif stabil. Lingkungan yang tidak stabil akan merawat ketidak stabilan dan
dapat berubah melalui proses dan perencanaan yang berlarut-larut/panjang. Ukuran
dari organisasi meningkat, penggerak birokrasi akan semakin jadi dan menjadi
kontrol terhadap point yang rendundansi. Desentalisasi akan berubah dan
berkembang menjadi divisi-divisi. Bebas untuk menggabungkan, permasalahan
divisi adalah pengawasan performa dan ini distandarisasikan dengan
keluaran/output, dan diatur secara langsung dari pusat atau kantor pusat.
Pembentukan ini secara umum akan membentuk pendewasaan dan pemekaran dari
konfigurasi Mintzberg.
Birokrasi yang profesional adalah suatu wujud desentralisasi dari
penggerak birokrasi. Organisasi itu
ditandai oleh kelompok kerja profesional demokratis dan yang otonomi, pada
umumnya tunduk kepada kendali dari suatu profesi. Suatu fungsi staf dukungan
yang besar sebagai satu tangan administratif untuk inti yang profesional.
Kompleksitas menjadi ekstrim organisasi ini karena berbagai individu atau
kelompok yang otonomi berbagi kesetiaan kepada organisasi dan untuk suatu
kelompok profesional eksternal. Ketika ukuran meningkat, birokrasi yang
profesional menjadi semakin banyak dan sulit untuk beroperasi.
Akhirnya, Mintzberg mendalilkan suatu cairan, organik dengan
memilih mendesentralisasi organisasi. Seperti organisasi ditandai oleh otonomi
dan demokrasi ini paling inovatif dari struktur Mintzberg. Ahli di dalam regu
pada umumnya akan memasukkan lingkungan yang kompleks dan dinamis untuk menyelesaikan
permasalahan dengan cepat tanpa mengubah persyaratan. Kompleksitas organisasi
muncul sebagai ukuran keberhasilan penyelesaian suatu kerusakan suatu
organisasi.
Masa lampau yang terbaru, Mintzberg (1989) menambahkan suatu
struktur yang keenam, organisasi misionaris. Organisasi itu ditandai oleh suatu
sistem yang kaya, berharga dan kepercayaan, dari suatu misi pengertian yang
kuat. Organisasi ini tumbuh dengan subur karena standardisasi norma, yang
diperkuat oleh pemilihan, sosialisasi, dan pengajaran paham. Organisasi ini
pada umumnya sangat mendesentralisasi dan kompleks ketika mereka menetapkan norma
amat terpengaruh oleh ideologi.
Berpikir tentang organisasi, pengarang dan ahli teori harus
mengikhtisarkan secara teratur. Sebagai contoh, Blau (1977) menggambarkan
struktur seperti “... distribusi, bermacam bentuk garis, dari orang antar
posisi sosial berperan dalam hubungan yang saling berpengaruh satu sama lain” (Hal
12). Di dalam contoh ini, struktur menyiratkan suatu pembagian kerja, posisi,
aturan, dan perilaku. Struktur menggunakan tenaga untuk mencapai hasil. Usaha
organisasi ini untuk memelihara suatu keadaan tetap pada suatu saat tertentu.
Tetapi ketika pengarang dan ahli teori mulai berpikir di luar Weberian dan lebih
baru-baru ini. Jepang contoh, mereka mencatat bahwa perubahan intisari organisasi.
Dengan demikian mengerti bagaimana struktur, ukuran, dan kompleksitas
mempengaruhi organisasi yang mempunyai krisis di masa lalu, tetapi hari ini
fokus kita harus termasuk bagaimana organisasi berubah.
7.8.
Perubahan di dalam Organisasi
Dari waktu ke waktu organisasi disemua gaya mulai mendewasa dan menurun.
Daur hidup organisasi seperti mempertimbangkan melalui berbagai penurunan-kedewasaan
dan perubahan model. Umumnya, organisasi membelanjakan banyak waktu di dalam
periode stabilitas yang diberi tanda baca oleh periode transisi yang singkat.
Ahli lingkungan hidup memasukkan peristiwa
dengan memberi tanda baca keseimbangan. Yang lain menyebutnya perubahan
bentuk atau keseimbangan dinamis (Starbach, 1981; Schön, 1987). Daur hidup
model ini biasanya formasi alamat, pengembangan, kedewasaan, dan kemunduran.
Miles dan Snow (Pugh & Hickson, 1989) melihat satu masalah yang bersifat
usahawan, administratif, dan anti rancang-bangun. Hannan dan Freeman (Pugh
& Hickson. 1989) melihat suatu pendirian anti membubarkan urutan.
Berhadapan dengan krisis, organisasi manapun cenderung untuk bergerak ke suatu
tahap perkembangan berikutnya atau mengembangkan mekanisme pembaruan atau
revitalisasi. Tergantung pada faktor lingkungan internal dan eksternal,
organisasi boleh memilih strategi dari pembaruan atau revitalisasi. Konteks
lain, organisasi mengadopsi model dari
perubahan berdasar pada suatu pergeseran
dalam kelurusan yang strategis.
(Lewin 1951) model tiga panggung yang tidak dibekukan dan
perubahannya. Dengan tidak dibakukan akan menanggulangi mekanisme pertahanan
atau memberhentikan secara kontinyu dengan membaca lingkungan dan mengubah
parameter yang tersedia. Perubahan permintaan yang lalu akan menciptakan
sesuatu untuk masuk ke lingkungan yang baru, suatu pergeseran dari pola pikir. Sebelum
dibakukan akan melibatkan pencarian visi yang baru.Pada proses ini, orang melepaskan
kerangka yang lama, memahami dan mengimplementasikan yang baru. Perusahaan kecil,
sederhana, relatif mendapat tugas yang mudah, tetapi sebagai organisasi ukuran
sedang meningkatkan proses perubahan dan tetap pada jalur.
Dengan pengalaman berdasarkan strategi perubahan yang bersifat teratur
pada suatu perspektif sistem manajemen. Menentukan sasaran baru, pemantauan terhadap
individu yang berubah dan dapat dipertanggungjawabkan mencerminkan suatu
metodologi yang khas. Pengembangan organisasi perspektif, berdasarkan empiris
untuk mencari perubahan yang berfokus kepada perubahan motivasi individu untuk
perubahan. Perspektif kuasa, berdasakan empiris bertujuntuk mengurangi konflik,
tawar menawar, dan pilihan negatif. Secara kontras, teori dasar mencari
perubahan mengambil perubahan dengan cara yang berbeda. Inovasi manajemen
berfokus kepada pengembangan faktor yang dapat memperbaiki probabilitas
pengimplentasian yang sukses. Model Sosial atau budaya memusat pada perubahan
secara langsung dalam nilai penyimpanan di daerah organisasi dan mencari
perubahan melalui pengembangan dari nilai yang telah diatur (Schein 1985). Organisasi
yang sedang belajar berfokus pada model perubahan dari sedang belajar ke
belajar. Kelainan fungsi tubuh dan kepasrahan digantikan dengan menciptakan
cara berpikir baru tentang masa depan suatu negara (Argyris, Putnam, &
Smith. 1985). Model konstruksional menekankan maksud sosial. Perubahan
melibatkan menciptakan dan merealisir perilaku baru, lambang, dan aktivitas
(Sukses & Kennedy, 1982).
Di dalam semua model ini, berbagai faktor yang mempengaruhi
perubahan keorganisasian yang sukses dipertimbangkan. Pemusatan (inti kompeten)
menekankan perubahan yang lekat diikat kepada aktivitas inti organisasi dan
yang dirasa penting. Tambahan pula, ketika perubahan lingkup dan kompleksitas perubahan
diperpanjang, pertimbangan yang harus diberikan kepada suatu periode yang lebih
besar sebelum membeku/terlambat. Perubahan program harus pula mempertimbangkan;
menganggap di mana daya dorong perubahan dimulai dari tekanan yang tidak pantas
dari konstitusi yang mempunyai efek negatif. Kultur organisasi juga menyajikan penghalang
jalanan untuk merubah program. Sementara beberapa tegangan berguna bagi semua
kultur yang berkualitas, organisasi sering kali menyajikan tekanan negatif yang
hebat. Derajat tingkat dari perubahan struktural juga penting ketika perubahan dapat
juga dipandang sebagai hanya menimbun sumber daya yang tersedia. Perubahan
sukses juga melibatkan pemikiran dari eksternal. Sangat sering kali, krisis
menciptakan lebih banyak kesediaan untuk berubah menjadi lingkup lebih besar
juga. Mengenali variasi dari stakeholders
eksternal sering kali menetapkan suatu lingkungan perubahan lebih positif dan
efektif. Pertimbangan nilai sosial yang lebih luas dapat membawa hasil positif.
Sementara tidak ada perubahan mekanisme model yang universal atau pertimbangan
yang menawarkan suatu kesempatan lebih tangguh untuk mekanisme perubahan
bekerja.
Dalam posisi sebelum modern dan contoh organisasi modern telah
ditunjukkan melintasi usia industri dan melalui gerakan sistem, penjelmaan
budaya, dan pengembangan organisasi. Pada bagian yang berikut, organisasi
modern akan diperiksa lebih secara menyeluruh dimana permasalahan utama
keraguan pada kesuksesan bidang pendidikan yang digarisbawahi. Akhirnya,
beberapa konsepsi organisasi yang baru akan dikembangkan dan dibahas. konstruksi
yang baru akan kembali dijelajahi lebih dari satu perspektif pendidikan.
Awal bab ini, organisasi diselidiki dari perspektif tradisional. Bagian
yang berikutnya, pembaca itu akan diminta untuk memikirkan organisasi secara
metafora. Pendekatan ini akan memerlukan pembaca untuk tinggal membuka dan
fleksibel, cadangan penilaian, dan pada akhirnya mengembangkan suatu
penghargaan lebih seksama dan memerinci pengertian. Pemakaian kiasan meminta
suatu cara berpikir yang berbeda dan melihat organisasi. Karena organisasi
bersifat kompleks dan berlawanan, dan tidak satu sudut pandang pun yang mutlak
relevan, kiasan dapat membiarkan kita untuk melihat perbedaan yang tidak terlihat.
7.9.
Gambaran Organisasi
Morgan (1986) dan lainnya (Clegg, 1990; Bergquist, 1993) menyoroti
pemakaian kiasan untuk memahami organisasi dan banyak dari pernyataan mereka. Apakah satu “sangkar
besi,” “mesin,” “otak,” atau “pergolakan,” organisasi hari ini disesuaikan mode
di dalam pemikiran kiasan kita.
7.9.1. Mesin
Teori manajemen klasik menekankan perencanaan berbasis perluasan,
koordinasi, pengendalian, pengarahan, dan pengaturan (Fayol, 1949; Weber,
1947). Fitur Organisasi yang utama menyerupai uraian dari zaman klasik yang makmur
dan berlimpah, dari perusahaan pabrik ubin atau perusahaan jasa yang besar
kepada hampir setiap lembaga; institusi pendidikan. Seperti kiasan penggerak
yang menyiratkan, organisasi ini sebagian besar menyerupai mesin: efisien, hirarki,
sangat dipusatkan, mengorientasikan perencanaan, sangat diatur, sangat tertata,
dan dengan ketat mengawasi (Mintzberg, 1983, 1989). Produktivitas pada suatu
derajat tingkat yang besar, ukuran penting dari kesuksesan dan efektivitas.
Juga, organisasi ini bersifat deterministik seperti yang dipertunjukkan oleh
pengembangan dari jadwal atau rencana yang sederhana kepada yang lebih besar,
lebih mencakup perencanaan strategis (Mintzherg & Quinn, 1989). Organisasi penggerak
bergerak secara perlahan dengan kebebasan.
Organisasi penggerak sangat masuk akal. Tugas bersifat langsung
dan ketepatan biasanya di atas harga sebenarnya. Organisasi menciptakan
konsistensi dan memelihara lingkungan yang stabil. Mereka diorientasikan pada
produksi massal. Perbedaan fungsi dan spesialisasi tugas adalah bagian
terpenting. Ada beberapa rekan pendamping pada zaman ini yang kuat kepada
organisasi penggerak ketika mereka hidup pada waktu masa lampau. Oganisasi ini
tetap tulisan hiasan, pembatasan keduanya secara internal dan secara eksternal
mulai merugikan fungsi mereka.Terjadinya konflik politis antara fungsi dimana
kekuasaan dicari untuk mengendalikan sumber daya, dan mekanisme informal yang
mengembangkan kekuasaan hirarki. Organisasi penggerak, komunikasi langsung atau
sistem top-down. Komunikasi juga cenderung untuk melambat ketika tingkat
hirarki perlu melintas karena pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah.
Yang paling penting, organisasi penggerak memposisikan komponen manusia pada
dua ekstremum yang sangat berbeda. Manajemen mengawasi para bawahan dengan
terkendali.
Awal ahli teori manajemen bagaimanapun juga diatur untuk percaya bahwa
mereka telah menemukan “satu yang cara terbaik” prinsip organisasi (Morgan, 1986).
Bagaimanapun tidak semua ahli teori membentuk prinsip “mesin” dasar untuk permasalahan
organisasi. Memahami organisasi dari suatu segi pandangan teknis atau masuk
akal dengan menggarisbawahi ketiadaan perhatian kepada komponen manusia. Untuk menciptakan
organisasi yang menyesuaikan diri dengan mengubah lingkungan secara perlahan,
sering tidak bertanya dan tanpa pertimbangan yang menempatkan sasaran lain dari
organisasi di atas harga sebenarnya atas biaya manusia yang berhubungan dengan
banyak kejadian, manusia dalam
organisasi penggerak menjadi puas tanpa motivasi dan hilangnya komitmen mereka.
Tetapi lebih yang penting lagi, suatu pemahaman yang seksama
tulisan ahli teori klasik adalah juga meragukan. Sebagai contoh, Clegg (1990)
percaya bahwa kepercayaan Weberian bertentangan dengan “efisiensi” pengembangan
umum di dalam kebanyakan organisasi sekarang. Suatu stakeholder dari pekerjaan Weber (1947, 1961) bukanlah efisiensi,
hanya Inefficiency (Therborn, 1976;
Albrow. 1970). Ini adalah persiapan jelas di dalam organisasi yang birokratis
sebagai pemborosan dan hal ini berlaku juga dalam organisasi sekarang.
Atau Taylor (1947) mempertimbangkan pengembangan dari efisiensi
pengaturan organisasi. Empat prinsip dasar Taylor dari manajemen, beberapa
unsur mengarahkan di komponen manusia organisasi: penghargaan tinggi untuk
pembentukan penyelesaian pekerjaan melalui analisis tugas ilmiah, pemilihan dan
pengembangan pekerja, konstan dan kooperasi menyentuh hati antara pekerja dan
manajemen (Pugh & Hickson, 1989). Trist (1969) memperkuat masing-masing
Taylorisms dengan jelas, bagian “mesin” organisasi belum diikuti sama dengan
keras seperti yang lain. Apakah kekuatan pasar, perbedaan budaya, atau variable
lain yang sedang bekerja di sini, “mesin” disini bukan mutlak
mesin” yang banyak diimpikan. Seperti Morgan (1986) menggambarkan, rasionalitas yang barangkali sebagai penolong, “orang pengepasan dan pekerjaan bersama di suatu desain yang ditetapkan” (Hal 37) perlu untuk memungkinkan kerasionalan substansial, mempertimbangkan lebih banyak cerminan dan pengaturan diri sendiri. Adalah menarik untuk mencatat di sini bahwa ketiadaan cerminan dan mengorganisasikan diri ditiadakan oleh karir yang berfokus pada organisasi penggerak ketika individu bersaing di dalam suatu sistem tertutup. Permasalahan politis muncul sering kali dilihat yang manakah yang bukan tampilan apapun seperti awal mula tujuan organisasi dibentuk. Pada akhirnya organisasi itu boleh mengerjakan tujuan yang menyimpang di dalam oposisi yang langsung kepada sasaran organisasi.
mesin” yang banyak diimpikan. Seperti Morgan (1986) menggambarkan, rasionalitas yang barangkali sebagai penolong, “orang pengepasan dan pekerjaan bersama di suatu desain yang ditetapkan” (Hal 37) perlu untuk memungkinkan kerasionalan substansial, mempertimbangkan lebih banyak cerminan dan pengaturan diri sendiri. Adalah menarik untuk mencatat di sini bahwa ketiadaan cerminan dan mengorganisasikan diri ditiadakan oleh karir yang berfokus pada organisasi penggerak ketika individu bersaing di dalam suatu sistem tertutup. Permasalahan politis muncul sering kali dilihat yang manakah yang bukan tampilan apapun seperti awal mula tujuan organisasi dibentuk. Pada akhirnya organisasi itu boleh mengerjakan tujuan yang menyimpang di dalam oposisi yang langsung kepada sasaran organisasi.
7.9.2.
Organisasi
Studi organisasi sebagai sistem terbuka sudah membawa cahaya baru
dalam menambah bermacam permasalahan selama "mesin" umur. Bertalanffy (1968), ahli teori kepemimpinan
dan peneliti dari gerakan sistem, yang dirasakan bahwa mengamati bagian dari
satu organisasi tidak membiarkan kita untuk mendapatkan suatu pemahaman yang
holistik dari organisasi itu. Pemeriksaan fungsi yang terpisah dari suatu
organisasi tidak bisa diwujudkan pada pola interaksi, saling ketergantungan,
atau pengintegrasian yang terjadi pada keseluruhan organisasi. unsur organisasi
bukanlah bebas tetapi saling tergantung ketika mereka saling berhubungan dalam
organisasi dengan berbagai batasan lingkungan. Seperti halnya semua makhluk
hidup lain, interaksi tetap, saling ketergantungan, dan pengintegrasian
terjadi. Teori Sistem Umum mencoba menjelajah organisasi dan lingkungan mereka
untuk mencari penjelasan untuk meningkatkan pemahaman organisasi.
Gambaran gerakan organisasi sebagian besar terpelihara di dalam
sumber daya manusia dan perspektif pengembangan organisasi. Penjelmaan gerakan
sistem, itu sudah diberi label seni “itu tergantung gerakan.” Dengan
mengabaikan kepercayaan yang filosofis, bagaimanapun, mengatur ramuan organik
sungguh menyediakan suatu cara berpikir yang berbeda tentang organisasi.
Pandangan yang organik, interaksi subsistem dalam satu organisasi
menerima arti penting. Proses ini sebagian besar menjelajahi “komunikasi”
hubungkan antara subsistem dan lingkungan sistem. Model input-throughput-output-feedback menyediakan metodologi. Sebagai
suatu sistem, satu organisasi secara internal disambungkan dalam lingkungan
melalui barang impor sumber daya. Sumber daya ini dari mekanisme umpan balik
internal atau dari suprasystem yang lebih besar. Masing-masing sumber
eksternal, apakah itu pelanggan, klien, masyarakat, atau pemerintah, mempunyai
suatu dramatis yang berhubungan dengan organisasi. Seperti organisasi
mewujudkan dan menggunakan sumber daya dengan masukannya yang benar, perubahan
pokok dalam keberlangsungan organisasi. Tidak lagi dapat memisahkan tindakan
unit fungsional tanpa pertimbangan eksternal juga.
Lawrence dan Lorsch (1986) menjelaskan bahwa teknologi baru dan
harapan masyarakat berbeda dan semua berdampak pada fungsi organisasi.
Organisasi “mesin” tradisi dipahami; dikandung oleh sebagian besar dalam sistem
tertutup. Pada akhirnya mereka akan merosot, hilang lenyap. Kemunduran kedewasaan
ekologi populasi dan pertumbuhan model menjelajah sistem tertutup ini.
Dengan kata lain organisasi sebagai jawaban atas keterbukaan yang
baru dan harus mampu disesuaikan secara internal. Struktur yang fleksibel,
distribusi yang mau mendengarkan, pembaruan dan revitalisasi diri sendiri,
kooperasi dan kolaborasi adalah komponen kunci dalam wujud yang lebih baru ini.
Pada pertunjukan ini, organisasi lebih mungkin mampu bereaksi terhadap
perubahan. Sebagai suatu konsekuensi dari
kemampuan reaksi yang internal dan eksternal ini, keluaran organisasi
itu juga berubah. Pelanggan, klien, dan para mitra masyarakat bereaksi terhadap
kemampuan baru di dalam organisasi.
Organisasi juga mengukur keluaran ini dengan cara yang berbeda
dibanding sebelumnya, tidak, hanya dari lini produksi atau sampai parameter biaya/penghasilan
yang hanya melalui mutu, efektivitas, dan kepuasan mengukur. Ukuran ini baru
menjadikan bagian dari sistem umpan balik organisasi itu dalam wujud masukan
internal yang baru. Pembaruan diri menjadi tetap dan konsisten. Maka, organisasi
organik baru ini, menjadi pertanyaan tentang teknologi yang sedang digunakan, apa
yang diperlukan, apa yang merupakan kultur dari organisasi, dan bagaimana cara
filsafat manajemen berhubungan dengan bentuk wujud baru ini (Morgan, 1986).
Jawaban atas pertanyaan ini adalah menemukan kekuatan organisasi yang organik:
keterbukaan, suatu proses orientasi, kepuasan kebutuhan, yang interaktif, dan
suatu cakupan luas dari opsi kedua secara internal dan secara strategis.
Suatu pembatasan kunci dari kiasan kepercayaan ini yang di
adaptasi. Banyak organisme hidup riil dapat membuat aneka pilihan, tetapi model
organik organisasi menciptakan suatu
pandangan marginal organisasi hanya
dapat berharap untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal Ini boleh
mengikis kemampuan organisasi itu untuk mengendalikan atau mengubah tujuan masa
depan sendiri. Juga, organisasi menurut sejarah tidak mampu untuk keselarasan
promosi. Sementara beberapa organisasi sudah menciptakan interaksi harmonis,
yang tidak bisa mengatur tingkat interaksi. Banyak organisasi masih juga “tinggi.”
Adaptasi organisasi boleh seperti itu sepanjang mekanisme perubahan mereka tetap
stabil.
7.9.3.
Otak
Pandangan lain organisasi adalah untuk melihatnya seperti
model-model dari otak. Praktek nyatanya ada beberapa organisasi yang mempunyai
kapasitas untuk menjadi sistemik.Tugas organisasi adalah keperluan untuk
mengukur kemampuan organisasi dalam membantu perkembangan pembaruan dan diri
sendiri (Morgan, 1986). Model ini berasal dari banyak pengarang (Argyris et,
1985; Senge, 1990; Weick, 1969). Berlawanan antara pandangan “mesin” dan pandangan
“organic, gambaran ini menyiratkan pembaruan konsepsi organisasi secara
menyeluruh. Organisasi meningkatkan variasi melalui suatu pemborosan fungsi.
Sebagai contoh, seperti benar dari otak, setiap aktivitas organisasi itu
diciptakan pada suatu bagian yang terpisah. Hal ini mengurangi alokasi
pemborosan kebutuhan yang langsung dari bagian organisasi. Yang kedua, sebagai
lawan “mesin” gambaran baru ini melalui fungsi pemborosan dalam dorongan semua
anggota organisasi itu untuk berpikir di dalam terminologi yang sama dan
sebangun. “Mesin” organisasi membatasi berpikir mengenai ini ketika sistem
politik berkembang untuk mengendalikannya. Sebagai hasilnya, batasan secara
internal dan secara eksternal menjadi lebih sulit untuk dilayani. “otak”
organisasi mendorong desentralisasi struktur dan pada waktu yang sama
meningkatkan tingkat aktivitas antar berbagai agen inti yang didesentralisasi.
Batasan antara aktivitas dan antara organisasi dan lingkungan menjadi yang
dapat menyerap.
Yang ke tiga, “mesin” organisasi mengembangkan struktur untuk
memelihara tanggung-jawab, perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan
menghukum yang tidak diketahui sebabnya,
gambaran “otak” organisasi mengurangi dan mengatur struktur bertahan,
dan sebagai hasilnya mendekati aktivitas baru dari suatu pelajaran untuk
belajar penekanan. “Otak” organisasi
menjelajah perbedaan individu dan tindakan teori organisasi dan membuktikan teori
(Argyris et al., 1985). Sebagai hasilnya, organisasi mencari cara untuk
menghadapi kondisi yang tidak pasti dari suatu perspektif organisasi yang utuh.
Organisasi self-renews dan self-organizes. Untuk jangka panjang, permasalahan
dan keputusan dibawa pada garis depan analisi organisasi.
Perbedaan juga terjadi antara gambaran “otak” dan gambaran organik.
Lebih teliti, gambaran “otak” secara penuh mewujudkan keterlibatan General Systems Theory yang merupakan penjelmaan
“yang organik” dimana organisasi sudah pada tahap implementasi yang sistematis
di dalam organisasi (modeling), “otak” organisasi lebih sistemik. Pemborosan
memungkinkan pembaharuan organisasi dan diri sendiri yang diberi makna oleh
variasi keperluan dan yang dimungkinkan oleh spesifikasi minimal (Morgan.
1986). Sementara “yang organik” menyesuaikan wujudnya agar lebih baru untuk
belajar. Sementara “yang organik” mendorong wujud keterbukaan, wujud ini
mendorong keterbukaan yang menggabungkan keduanya. Seperti organisasi “yang organik”
memelihara model dasar struktural
keluaran masukan, wujud ini menciptakan organisasi yang diatur pada tindakan.
Organisasi menggunakan dunia yang penuh dengan teori dan praktek pengenalan tentang norma,nilai dan
pertanyaan yang sama dari lambang ini untuk menghasilkan pembelajaran lebih
lanjut (Hodgkinson, 1991). Dalam hal ini, “otak” merupakan gambaran yang
mendorong pemeriksaan dan kritik. Suatu cakupan yang lebih luas dari unit dan
sasaran strategis yang dijelajahi, dipahami, dan dilaksanakan. Dari bentuk sikap
dan nilai baru yang sistemik ini muncul: aktif di atas yang reaktif, otonomi di
atas ketergantungan, fleksibilitas di atas kekakuan, kerja sama/kolaborasi di
atas kompetisi, keterbukaan atau kedekatan, dan demokratis melawan berwenang. Wujud
otak organisasi adalah sangat sulit untuk dibayangkan dalam praktek. Pertanyaan
dijadikan bagaimana caranya menciptakan
wujud ini, dan bagaimana mungkin kita menembus paradigma strategis yang lebih
tua? Ini bersifat pertanyaan yang sulit untuk dijawab. lebih meragukan dibanding “bagaimana?” adalah
pertanyaan “apa yang berikutnya?” Ini akan dijelajahi di dalam bab yang akhir
dari buku ini.
7.10.
Sistem Politik dan Kekuasaan
Banyak wujud organisasi unik saat ini yuang muncul di masyarakat.
setiap wujud harus ada pada suatu jumlah yang banyak dari angkatan yang keadaan
jamak dalam satu kejadian, organisasi mewakili kebebasan untuk setiap, persamaan berikutnya, kolaborasi perasaan
yang lain, atau kompetisi yang lain. Organisasi terus menerus ditarik oleh yang
menantang konsep, dan pada umumnya menghasilkan suatu arah bentuk tunggal.
Seperti organisasi kita yang menyesuaikan diri dengan tujuan, kekuasaan
membentuk suatu sistem politik yang baru. Gambaran baru organisasi : organisasi
dengan manajemen yang baik, sama mutu atau keunggulan, sama layanannya, atau
sebagai informasi. Ini gambaran baru yang mempengaruhi tindakan organisasi
dalam berbagai hal yang tergantung pada penekanan arus politis organisasi. Suatu
pengertian yang struktural, organisasi menjadi otokrasi (kuasa mutlak); kita
melakukan jalan yang kita duga; atau birokrasi, kita melakukan perjalanan
teknokrasi dan demokrasi dengan cara terbaik; Meneliti minatnya, pikiran sehat
organisasi dan menciptakan satu gambaran dengan sendirinya dan berlanjut untuk
memperbesar dan melindungi lingkungan. Jadi, kita dapat mengamati bagaimana
berbagai paradigma organisasi yang sebelumnya menjadi ada: fokus yang ekonomi, focus
pada hubungan antar manusia atau pada pengembangan organisasi.
Kiasan ini menunjukkan bagaimana konflik muncul dan bagaimana
organisasi ketika sistem politik berhubungan dengan konflik. Sumber dari bentuk
kekuasaan. Unit pekerjaan dan divisi fungsional, sumber daya ini menciptakan, dan
mendukung nilai atau minat. Mereka menjadi agenda yang terakhir. Seperti
organisasi yang mengadopsi agenda, organisasi mengubah bentuk diri sendiri pada
nilai yang menarik perhatian sistem. Organisasi hierarki menternakkan
pembentukan agenda yang baru. Ketika karier difokuskan pada individu yang menjadi
lebih khusus. Organisasi menuju ke kedangkalan karena kemampuannya untuk
mengetahui keperluan riil. Berbagai sumber daya melanjutkan memainkan peranan agenda mereka sendiri
sebagai pengganti pekerjaan bermakna pengajaran. Pengembangan konsensus sebagai
sumber individual yang mencari dukungan dan kebaikan untuk minat mereka
(Bergquist, 1993). Cahaya ini, angkatan politis dapat menjadi ideologi
organisasi. Pada akhirnya, mengerti “yang politis” gambaran organisasi
membiarkan kita untuk memahami batas yang riil bahwa ada organisasi politik
sosial.
7.11.
Organisasi sebagai Kultur
Sementara “yang politis” adalah kiasan setiap organisasi, banyak
orang meremehkan politisi organisasi.
Kiasan organisasi seperti “kultur,” sebaliknya, menawarkan satu pandangan ideologis
dari organisasi. Seperti nilai dan minat organisasi yang menjadi norma, lambang,
menjadi upacara agama, maksud/tujuan dan penafsiran secara terbuka atau secara
diam-diam mengurus bagaimana organisasi saling berhubungan secara internal dan
external: Organisasi tidak lagi sebagai suatu
koleksi individu atau agenda, tetapi satu koleksi yang saling tergantung maksud
dan keadaan yang dibagi bersama. Sebagai contoh, kultur Amerika adalah
individualisme dan terpisah dengan kultur tradisional Jepang di dalam badan ada
rasa harga diri melalui layanan kepada suatu sistem yang lebih besar. Di kultur
Jepang, organisasi mencari komitmen dan kesetiaan kepada yang kolektif.
Barangkali alasan terbesar untuk mempelajari kultur organisasi
adalah karena pendekatan seperti itu mengizinkan kita untuk mengamati
organisasi. Pengintegrasian, pemecahan menjadi kepingan, dan perspektif
perbedaan,dimana semuanya tersedia untuk para pengamat. Pendekatan ini
menawarkan kita suatu ilustrasi yang penting “etos” organisasi, tujuan historis,
pengutaman kuasa, memotivasi, kepercayaan, pengaturan yang informal, ungkapan
data visual simbolis, dan lebih. Kultur menjadi bagian dari organisasi, dan ia
adalah organisasi. Itu berada pada berbagai cabang kebudayaan dari organisasi
apakah mereka terkait jenis kelamin atau posisi atau oleh politis, ekonomi,
atau minat estetika. Kultur terjadi seperti komponen manusia yang menjadi
kenyataan secara objektif. Norma ini, upacara agama, atau lambang terbuka bagi
penelitian dengan cermat yang menggunakan berbagai metoda dari pemeriksaan
(Jermier, 1991).
Garfenekel (1967) mendukung skenario pengundangan sebagai satu
penjelasan kultur. Pertanyaan apakah merupakan rencana yang dibagi bersama dan
bagaimana mereka diciptakan, dikomunikasikan, dan dukungannya? Mencari jawaban
atas pertanyaan ini menjadi tugas utama dari analisa untuk praktisi organisasi.
Proses melibatkan identifikasi tentang aspek hidup dan keduniaan dari proses
konstruksi kenyataan (Morgan, 1986). Struktur organisasi memerintah, kebijakan,
sasaran, ukuran, dan apakah deskripsi mengidentifikasi kerangka acuan
organisasi yang dibagi bersama itu. Atas pemeriksaan yang bervariasi dan jumlah
keseluruhan kelompok perspektif, praktisi melihat “bahasa” dari organisasi.
Hubungan baru, proses, dan fungsi muncul seperti ketika organisasi
berkomunikasi dengan diri sendiri. Pandangan ini sering mengejutkan ketika
terlalu sedikit organisasi yang sebenarnya introspektif pada pertunjukan ini.
7.12.
Organisasi sebagai Penjara yang Mempunyai Kekuatan Batin
Kita berterima kasih kepada Kuhn (1970) karena menciptakan
penerimaan luas dari paradigma kiasan dan Barker (1992) untuk berterima kasih
kepada pemakaiannya. Morgan (1986) menerapkan kiasan itu kepada organisasi.
orang, bahkan organisasi, boleh menjadi bersangkar oleh gambaran yang tak
sadar, gagasan, pemikiran, dan tindakan. Contoh dari pemikiran ini bersifat pradominan. Program
bidang pendidikan kita adalah bunyi kepuasan yang tiba ketika kita datang untuk
bersandar pada faktor sukses, setelah faktor sukses sistem persekolahan
mengadakan spesialisasi administratif untuk menciptakan kurikulum muka
dibanding kemungkinan yang tidak pasti bahwa mereka “terdekat ke tindakan”
mungkin mengetahui terbaik apa dan bagaimana caranya mengajar. Dibanding
mengambil suatu resiko kita menciptakan kekenduran, atau kita dengan sopan, tak
bertanya mengangguk kepala kita setuju dibandingkan dengan menyatakan bahwa kita perlu untuk menjelajah
tempat peristiwa lain. Ini pakaian teori yang tak sadar, ketika merealisir,
dapat menolong kita mengamati dan meramalkan tatacara yang kita lihat (kultur),
tetapi mereka dapat juga menciptakan kebutaan dan menghapuskan pandangan lain.
Berapa lama mengambil alih organisasi Amerika
untuk bereaksi terhadap harapan konsumen, atau sebetulnya, mutu, atau
lingkungan organisasi global dari hari ini?
Mengerti penjara kita yang mempunyai kekuatan batin, lebih penting
lagi, mengizinkan kita untuk menguji bagaimana berpikir tentang organisasi kita
yang kukuh. Sudahkah kita benar menjelajahi kesulitan peraturan komponen
manusia? Kenapa kita secara terus menerus mengadopsi kepercayaan bahwa kita
sering tidak manusiawi dengan bermacam-macam tingkat derajat, akan tetapi
kegagalan untuk mengidentifikasi orientasi tindakan bahwa pemahaman hasil dan
berubah? Sudahkah kita secara penuh menjelajah dasar pemikiran kita untuk
merencanakan? Tidakkah merencanakan, pada waktu yang sama, diatur untuk masa
depan dan mengatasi masa depan yang mungkin tidak sesuai? Begitu kita
menggambarkan kultur, kedua unsur yang tersembunyi dan dikenal, apa yang kita
lakukan atas pengetahuan itu? Kita sangat mengunci ke “satu arah” bahwa kita
tidak bisa mengukur keaneka ragaman, perbedaan jenis kelamin, atau yang
dilumpuhkan? Harus kita terus menerus bersandar pada suatu “golongan yang berkuasa”
untuk melafalkan tindakan yang bisa diterima, dan lalu untuk bereaksi melawan
itu terhadap otoritas yang sama menggambarkan lagi; kembali?
Kejadian dari efek samping dari penjara kita dapat dicatat
terlihat melintasi semua fungsi organisasi.
Jacques (1955) mengungkapkan bagaimana dalam penderitaan hubungan
manajemen yang kita bayangan negatif dengan siapa kita berbeda. Chatov (1981)
membahas peristiwa yang sama pada hubungan antara pemerintah dan urusan bisnis.
Zalesznik (1970) mempertunjukkan bagaimana para pemimpin ditundukkan untuk
membagi dan menang atas suatu akibat dari ketidak-mampuan mereka untuk
membangun kesatuan. Seperti Bion (1959) mengusulkan, penanggung jawab
organisasi kepada pola belajar dari sebelumnya perilaku untuk melindungi diri
mereka. Mereka yang mundur ke dalam penjara mereka yang mempunyai kekuatan
batin.
Menentukan bagaimana organisasi dan para anggota menjelajahi
penjara mempunyai kekuatan batin adalah suatu aspek yang kritis diri sendiri organisasi.
pembaruan. Organisasi bercakap manusia studi ini mempola hubungan yang dapat
mewujudkan secara penuh perilaku etis, peran yang kritis bahwa hubungan daya
memainkan penghalang itu untuk berubah, dan overrationalisasi
tindakan kita. Sementara menjelajah penjara kita mempunyai kekuatan batin boleh
mengenangkan kejadian manusia organisasi itu bukanlah hanya pendekatan lain untuk mengendalikan fungsi organisasi.
Membawa “organisasi yang tak sadar” kepada permukaan itu dapat menolong kita
lebih lanjut memahami organisasi kita dan batas yang mereka paksakan.
7.13.
Cermin Organisasi
organisasi sekarang in adalah
pengembangan kombinasi element di masa lalu dan gambaran baru. “Tipical organisasi sekarang ini, akan menemukan variasi/varietif
yang berbeda (dan sering berlawanan) proses dan fungsi yang seperti perbedaan
wujud format dan strukturdari premodern, modern, dan postmodern, sebagian dari
yang bersifat sementara dan permanen” (Bergquist, 1993, Hal 177). Beberapa dekade
di masa lampau, para penulis sudah mencoba. untuk menguraikan hal ini untuk mengubah
pandangan: Kanter’s (1985) masukan ke dalam post entrepreneurial,
O'Toole's (1985) organisasi barisan depan,
Deming's (1986) kualitas revolusi,
Peter's (1992) membebaskan-tidak teratur organisasi, dan Cleg (1990)
tidak membedakan organisasi. Mintzberg (1990) pemberian label pemusatan perjalanan, untuk sama dan sebangun, untuk konfigurasi, untuk kontradiski,
dan untuk kreasi. “putaran kehidupan/daur ulang” seperti Bergquist membuat
perjalanan dari premodern to postmodern. Pemikiran organisasi yang didominasi
oleh penggambaran/kesan mesin, menciptakan rasionalitas melalui kepemilikan ketidakrasionalan,
melalui politiknya untuk mengurangi sistem manusia kepada keterampilan dan
penjelmaan penghancuran. Clark dan Astuto (1991) meringkas Weick (1985) sebelumnya
bekerja dengan menyatakan pedoman, organisasi:
1.
Adalah sedikit lebih rasional
dibandingkan sesuai menurutnya,
2.
Adalah sedikit kesederhanaan lebih dibandingkan sesuai
menurutnya,
3.
Adalah sedikit sequentialas dan menggabungkan lebih dibandingkan sesuai menurutnya,
4.
Adalah sedikit hubungan sebab akibat lebih dibandingkan sesuai menurutnya,
5.
Adalah sedikit ketertiban lebih dibandingkan sesuai
menurutnya,
6.
Adalah sedikit gol mengarahkan perilaku yang individu lebih dibandingkan sesuai menurutnya,
7.
Adalah sedikit pilihan mengarahkan perilaku yang individu lebih dibandingkan sesuai menurutnya,
8.
Adalah sedikit perubahan dan kemungkinan meramalkan yang
direncanakan lebih dibandingkan
sesuai menurutnya,
9.
Ada Less hirarki dibandingkan sesuai menurutnya.
(Clark & Astuto, 1991, Hal 960)
Sebagai suatu konsekuensi, pemikiran organisasi mungkin memerlukan
hidup baru, suatu generasi perspektif teoritis yang lebih luas, satu penerimaan
dari batas akhir dan variasi, dan perkakas baru untuk pemeriksaan. Dalam hal
ini, Bergquist (1993) mengusulkan bahwa pegangan masa depan banyak memberi
batasan organisasi yang baru.
7.14.
Cermin Pendidikan sebagai Organisasi
Menurut sejarah, sekolah sebagai organisasi hampir menyempurnakan gambaran
organisasi yang lebih besar di masyarakat pengindustrialisasian, Pengaruh dari
manajemen ilmiah yang lazim keseluruhannya, semua sekolah dan sistem
persekolahan (Owen, 1987). Runtutan dari Taylor, Payol, Weber, dan jelas
organisasi sekolah yang lain. Daerah sekolah mengamanatkan efisiensi melalui
standardisasi proses pekerjaan, kesetiaan sekolah dipertanyankan dengan kendali
anti mekanisme pengukuran, dan menjamin kecakapan minimum dari produk. Setelah dekade
1980 “komisi” bahwa mempertunjukkan mengulangi dan bukti tersebar luas dari kekurangan
sekolah, diperlukan banyak pencerminan sebelum kita memahami permasalahan di
sekolah. Terlalu banyak kasus, panggilan ulang untuk pembaharuan dan menyeleseikan
revitalisasi dengan penambalan sistem. Dengan cara yang sama, seperti gerakan
hubungan antar manusia menyimpan perhatian untuk pengembangan dan penggunaan
dari model sumber daya manusia, terlalu sering revitalisasi menjadikan himpunan
keheningan yang kurang baik dipahami atau dihimpunankan dan ditetapkannya satu dimensi
solusi.
pencapaian sekolah dan
performa rating berlajut selama 3 dekade kemerosotan di masa lampau, ada pengelanjutan untuk ukuran baru suatu keunggulan: sekolah
memerlukan manajemen baik, para pemimpin, tidak hanya pengurus, dan sekolah
perlu memahami dan menghadapi kultur mereka. beberapa klaim bahwa sekolah harus menciptakan
pembeda mereka sendiri ketika mereka tidak memasangkan dari pengajaran tendensi
organisasi dan menjadi pengorganisir anarki (Cohen, March,
& Olsen, 1972). Dalam konteks ini, tujuan dan definisi sekolah menjadi
cepat berlalu cairan yang tidak genap. Atau mereka menyusun kembali element
atau memperkuat penyaringan studi kepemipinan,
memperkuat kemampuan inti mereka dan memikirkan mekanisme komunikasi
lebih baik. Bagi yang lain, sekolah dipandang sebagai sistem dalam usaha untuk
menangkap unsur dari gerakan sistem. Pengurus atau penyelia di tingkatan
sekolah dipahami menjadi unsur yang integratif kepada manajemen yang bagian
atas, masyarakat, para guru, staf, dan para siswa. Getzel dan Guba (1957) ambil
pandangan sosial tingkah laku pendidikan, mengusulkan bahwa sistem sosial yang
utuh pendidikan terdiri atas sekolah tersebut, peran dan harapan berbagai para
anggota dan berbagai kepribadian dan kebutuhan yang individu saling berhubungan
dengan perkakas, teknik-teknik, dan kurikulum di suatu pengaturan teknik sosial,
bukan tidak seperti apa Emery dan Trist (1969) posited di Travistock Institute.
Selama periode sekolah ini dilihat sebagai organisma yang ada yang dinamis di
dalam banyak konteks.
Evolusi pendidikan sebagai organisasi bersifat unsur saling menyatu. Hodgkinson (1991) menguraikan tujuan historis
sekolah dari dasar pendidikan Yunani yang liberal kepada tradisi Roma akan administrasi
dan penguasaan, kepada yang religius dan cerminan etika protestan. Tambahan: ia
mengutip efek dari era agragia dan industri memberikan kebangkitan ke masa
pendidikan yang general yang masih eksis sampai dengan hari ini. Sistem pendidikan
demokratis sebagian besar untuk melindungi hak demokratis para warganegaranya.
Seperti zaman ilmiah melahirkan efisiensi produktif, sekolah menemukan diri
mereka yang disibukkan dengan menciptakan efisiensi sosial (Kowalski & Reitzug,
1993). Sekolah sama dengan industri seperti pikirkan metoda untuk
mengendalikan, koordinat, rencana, langsung, dan mengorganisir diri mereka;
karenanya, administrasi melanjutkan pengembangan di sekitar ilmiah dan prinsip
sumber daya manusia. Pawai dari literatur kepemimpinan dan manajemen
menyeberang kebatasan dengan mudah ketika pendidikan mencerminkan industri
Sergiovanni dan Moore (1989) meminjam 1981 tanggapan Burn dan
transformatif sudut pandang kepemimpinan. Para pemimpin dalam suatu pengertian
tradisional mengatur konsekuensi dari memproses pertukaran dan meyakinkan
perilaku sebagai para pelaku bawahan tinggal dalam norma yang dibentuk,
kontras, pemimpin transformatif mengatur lebih yang hakiki, moral konsekuensi,
membagi bangunan bersama komitmen, membagikan dan memudahkan kuasa, membangun
kapasitas para anggota yang lain, dan menghasut kesadaran dari diri sendiri
untuk membentuk kristal dengan kesanggupan seksama untuk bertanggung jawab.
Pendidikan, para profesional pengajaran menengahi perlawanan
permintaan melintasi keseluruhan lingkungan sekolah (Sergiovanni & Moore,
1989). Sementara guru sangat ingin memelihara tanggung-jawab mereka sendiri
yang profesional, administrasi sekolah tersebut dan sekolah meminta mereka
untuk memasukkan suatu lingkungan pabrik. Peran yang profesional adalah sulit
untuk memelihara situasi dan mengakibatkan organisasi yang informal. Guru yang
otonomi sekarang hidup, tangan yang diikat untuk mempraktekkan dan keahlian
mengajar sebagai suatu profesi, dan regu yang lain, diikat kepada kenyataan
suatu lingkungan sekolah yang birokratis. Tetapi sukses di lingkungan politis
sulit untuk menjamin dan memerlukan pemimpin dan para profesional itu bekerja
sama untuk menyadap kekuatan jelas di kedua lingkungan formal dan informal.
Masa transisi berlangsung pada beberapa sekolah selama beberapa dekade
berfungsi sebagai objektif organisasi yang masuk akal. Mereka menguji
metodologi pelatihan mereka, strategi untuk berubah, dan pengendalian biaya,
dan model kurikulum baru. Struktur dan audit tinggal, tetapi garis depan harapan
guru dan siswa sering dinyatakan tetapi tidak terdengar. Tinjauan ulang empiris
sering kali menyajikan personil baru mempraktekkan untuk pertimbangan. Tetapi
tinjauan ulang ini menjadi hancur ketika dihadapkan dengan kenyataan struktur politis
milik sekolah tersebut. Meski masa transisi berubah, kepemimpinan baru, atau
meninjau kembali kultur, praktek, mereka tidak mempunyai suatu dampak awet yang
luas. Bahkan dengan perwujudan bahwa sekolah adalah multi kultur, yang diikuti
oleh permintaan untuk perubahan keorganisasian yang sesuai, sekolah masih
menemukan diri mereka dijerumuskan; terjerumus ke dalam struktur objektif
tradisional yang masuk akal. Kultur sekolah dan iklim dinyatakan sebagai satu
lingkungan terpelajar, tetapi juga seperti terbatas, membatasi, objektif,
dimuati, dan guru yang ada tidak berhubungan lagi dengan siswa dan kebutuhan
masyarakat. Perbaikan pendidikan memerlukan lebih dari sekedar suatu perubahan
dari pensil dan dokumen, perubahan langsung tetapi dalam pola dari manusia interdependencies
kolaborasi dan komitmen (Schmuck & Runkel, 1985).
7.15.
Potret Pendidikan yang Diterima di Sekolah Zaman Ini
Pada pengertian transformational yang benar, sekolah perlu untuk
dipandang sebagai penerima dan dinamis. Sekolah dapat lingkungan alami bahwa
menunjukkan semua keadilan ciri yang diinginkan, kebebasan, tanggung jawab dan
mematangkan. Seperti Rand Corporation menemukan, dan ketika sudah kita bahas
pada bagian sebelumnya, pembaruan diri sendiri boleh dengan sangat baik adalah
suatu proses dari pengundangan dan kelurusan dan lebih secara efektif memenuhi
di tingkatan lokal (daerah sekolah tersebut atau sekolah). Belajar untuk
mengatasi krisis di atas istilah yang lebih panjang mengakibatkan suatu sekolah
atau sistem persekolahan menunjukkan kemajuan dan prestasi mantap. Tetapi
mereka yang secara terus menerus mengatur krisis hanya pengalamatan gejala
(Miles, 1967; Senge, 1990). Melalui sekolah rumusan pengembangan organisasi
dapat mengubah jika mereka mempunyai arah, kemajuan pertunjukan dan semua
pemain menjadi dilibatkan. Administrasi harus belajar lebih sedikit untuk
perintah dan kendali akan memudahkan dan mendorong keikutsertaan yang lebih
(Hoy & Miskel, 1987). Kepemimpinan lebih dari hanya manajemen atau
administrasi. Para pemimpin sekolah sekarang ini harus memiliki suatu
pengertian benar yang bersih dan mengembangkan tujuan pendidikan dan dengan
sama jelas, kerancuannya.
7.16.
Potret dari Sekolah
Kontemporer
Restrukturisasi sudah jadi tema umum di pendidikan Amerika. Istilah
restrukturisasi sekarang muncul kapan saja suatu diskusi perubahan sekolah yang
muncul (Olsen, 1988). Sebagai suatu label strategi yang baru, istilah sudah
menjadi sudah digunakan kepada tingkat
bahwa kita tidak lagi mempunyai suatu pemahaman yang jelas bersih tentang
keterkaitan.
Tyack (1990) percaya istilah menjadi bersinonim dengan pilihan,
profesionalisasi guru, mengkuasakan, desentralisasi, pengelolaan sekolah,
keterlibatan berkenaan dengan orangtua, patokan kurikulum nasional, dan
sejumlah besar mekanisme perubahan yang lain. Chubb dan Moe (1990) berpikir,
dengan cara yang sama. Mereka menyamakan merestrukturisasi kepada kelainan
fungsi tubuh birokrasi dan nilai dari otonomi. Untuk merasa kebenarannya, tren
jangka panjang yang harus dibedakan dari kecenderungan. Apa yang merupakan
kisah yang benar. Suatu tinjauan ulang bersejarah yang singkat dapat menolong
kita memahami sekolah tersebut sebagai organisasi pada diskusi ini.
Pada bagian dari abad ke duapuluh; organisasi sekolah dalam kaitan
dengan menggunakan istilah kepemimpinan telah menjadi suatu permasalahan yang
dibuat sadar politik. Selama periode yang berkenaan dengan pertumbuhan kota dan
pedesaan, sekolah didesentralisasi sebagai rasa takut yang sangat memusatkan
kendali pemerintah tersebar luas. Wali masyarakat pedesaan, orang tua, dan para
guru sangat dilibatkan di suatu struktur yang dilokalisir. Kontras, sistem
persekolahan berkenaan dengan kota yang dipusatkan dan terkendali. Mereka
adalah awal rekan pendamping dari hukuman pemusatan melihat hari ini. Suatu
kelompok sangat profesional dan melatih pengurus, lalu “menyebut” “progresif
administratif,” mekanisme inovatif yang didukung untuk memperoleh efisiensi
lebih besar; tanggung-jawab hak kekayaan, dan keahlian dari sekolah (Tyack,
1990).
Reorganisasi membutuhkan banyak pemusatan daerah pedesaan,
meningkatkan ukuran dan lingkup dari administrasi daerah, para staf agen sangat
besar, dan otonomi guru menurun. Sekolah sedang di arahkan oleh suatu himpunan
baru dari manajemen ilmiah dan prinsip ilmu pengetahuan pendidikan, barangkali
suatu ideologi yang baru. Konsolidasi terjadi dari daerah sampai status dan
untuk pemerintah pusat. Sekolah, sekolah daerah, dan menyatakan para agen
menjadi model dari struktur dan proses. Mereka mengumpulkan sejumlah data untuk
membenarkan tujuan dan dasar pemikiran mereka. Pengawas menjadi tenaga menggambarkan,
pendaftaran tumbuh, kurikulum, yang diperluas, dan usaha untuk mengurangi biaya
setiap individu menerima perhatian tetap.
Selama persamaan mengubah periode pada abad pertengahan duapuluh,
banyak tekanan masyarakat memfokuskan pada sekolah dan pendidikan yang diterima
di sekolah mempraktekkan. Pembaharu menuntut persamaan lebih besar untuk semua
segmen dari masyarakat. Ada panggilan untuk arus dan kurikulum bisa diterapkan,
lebih banyak pembiayaan yang lebih layak tanggung jawab guru, dan lebih banyak
evaluasi bermakna produk. Bila melihat peristiwa lalu, Meyer (1980) bernama zaman
“pemusatan bagi sebagai pengurus yang laissez
faire menghadapi persyaratan yang berlawanan. Lebih “kalkulasi manajemen” yang timbul
ketika sikap administrasi terhadap sekolah ketika organisasi sekolah lebih
rasionalisasi.
Banyak laporan yang terbaru sudah melukiskan suatu krisis yang di
seluruh negara di dalam pendidikan. Kembali kepada gerakan sekolah dasar
berakibat, tanggung jawab di dalam mengajar terukur dalam kaitan dengan
menggunakan istilah pengujian yang mengakibatkan perbandingan melintasi daerah,
negara bagian, seluruh negara, dan secara internasional. Permulaan pendekatan
atas bawah pada negara mengukur penguasaan. Pelajaran terukur oleh “nilai-nilai
lokal” amanatkan dihasilkan lebih kepada pemusatan pada daerah sekolah.
Birokrasi lebih besar di dalam wujud organisasi pendivisan memperhebat dan
sekolah memfokuskan kembali di ukuran untuk keunggulan.
Sekolah daerah umumnya cerminan dari yang klasik “mesin” gaya
organisasi dan mengunci dengan kuat di dalam “sangkar besi” (Morgan, 1926;
Clegg, 1990). Apa yang persisnya masyarakat menemukan bersalah dengan sekolah
hari ini? Seperti 23rd Annual Gallup Poll/Phi Delta Kappan Poll
(Elam, 1991) mempertunjukkan, bank variasi peredaran adalah yang luas. Orang
Amerika kekurangan lebih laporan kartu dari sekolah. Mereka menghendaki
tanggung-jawab. Mereka menghendaki lebih banyak pendidikan seperti yang
ditunjukkan oleh tahun pelajaran yang lebih panjang. Mereka ingin pendidikan
kepada mulai dari usia yang sebelumnya. Mereka secara umum menghendaki lebih
banyak produktivitas. Mereka ingin memilih sekolah produktif untuk anak mereka.
Mereka menghendaki mutu yang lebih tinggi dan kendali desentralisasi yang lebih.
Mereka menghendaki persamaan dan satu penggunaan yang layak dari sumber daya
dan mereka menghendaki sekolah dan sistem persekolahan untuk masuk sentuhan
dengan kenyataan yang ada. Sementara daftar ini boleh muncul tak lengkap kepada
sebagian orang, seseorang dapat menduga bahwa Orang Amerika luas tidak puas
dengan para guru, para pemegang saham, sekolah administrasi, sekolah daerah,
dan negara dan kendali pemerintah pusat.
Dewasa ini pendidikan “mesin-mesin” sistem pendidikan perlu akan
perbaikan utama yang menyeluruh. Permasalahan endemic kepada organisasi
birokratis yang dicerminkan di dalam sekolah dan sekolah kita menghubungkan.
Birokrasi yang profesional (suatu sekolah), birokrasi mesin (suatu sekolah yang
lebih besar), dan bentuk wujud pendivisian (sekolah daerah) semuanya adalah
replika yang tepat dari birokrasi ada melintasi daerah/propinsi (Mintzberg.
1989). Ketika mungkin untuk membantah tentang pembeda antara sekolah dan
bagaimana mereka melakukan itu perbandingan dengan birokrasi bisnis, permasalahan
ini sebagian besar tidak relevan. Pembedaan ini hanya melihat gejala.
Secara kontras, organisasi sekolah dan pendidikan yang diterima di
sekolah hari ini harus sebagian besar organik. Tetapi atas pemeriksaan yang
semakin dekat, kita menemukan suatu campuran dari sekolah birokratis dan membentuk
organik. Sekolah adalah magnit dari contoh campuran yang baik (AS Berita dan
World Report. 1991). Dipahami selama 1980an, ini “sekolah negeri pilihan” sudah
mencapai hasil dramatis. Seperti sekolah unggulan, mereka berwujud pada penting
perubahan pendidikan. Magnit sekolah berhasil interaktif dan saling
ketergantungan, dan mengintegrasikan yang terbaik sebagian besar diketahui
pendidikan praktek. Mereka secara umum lingkungan pelajaran teman karib
menekankan kontak pribadi, guru merancang dan mengawasi, yang interaktif dengan
banyak para mitra di dalam masyarakat, dan secara regional, kecil di dalam
ukuran, dan mempunyai tujuan yang jelas. Bagaimanapun, mereka juga dapat
menyerupai lingkungan yang birokratis dari masa lampau dan konsekuensi yang
serupa menderita penyakit telah dibahas. Reaksi publik mempunyai ilustratifnya yang
berselisih paham pada pertanyaan peningkatan magnit lingkungan tentang hak
kekayaan, pemilihan mengeluarkan biaya sangat besar, dan membiayai dukungan.
Melintasi sebagian dari populasi yang paling besar memusat,
seperti Patokan kota New York “sekolah birokratis” ada di sebelah magnit sekolah.
Sebagian terbesar, magnit sekolah mencerminkan kualitas kenyataan dan
keunggulan. Sementara sekolah semakin tradisional, pengawas dan para pemegang
saham berjuang keras untuk mengatasi masalah masyarakat, setiap masalah pengorganisasian,
masalah praktek pendidikan selamanya yang dikenal untuk mengkawaki (Tyack,
1990). Sekolah tradisional di Kota New York, Chicago, dan Los Angeles berdiri dari
kontras yang tandus; suram; tidak menyenangkan kepada sekolah pilihan Minnesota
atau Jefferson High School Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, Fairfax, Milik gelar
ningrat: Virginia (AS News dan World
Report, 1991: Ayers. 1991; Tyack, 1990). Melintasi kategori pengukuran paling
tradisional perbedaan itu bersifat penting. Tetapi lebih yang curiga lagi, ini “Sekolah yang lebih
disukai” berbeda dari yang rasakan. Pengertian bahwa pendidikan adalah
berkelanjutan dengan tangguh. Sebagai jawaban atas perbedaan organisasi antara
mereka, mengerti sifat yang organik pendidikan dan administrasi pendidikan bisa
sangat bermanfaat. Mengerti bagaimana satu organisasi sekolah yang organik
memasukkan praktek dapat sangat yang mengandung pelajaran. Pemikiran organik
memerlukan melihat di luar kumpulan pemeriksaan, pengembangan, dan implementasi
untuk menciptakan pengetahuan bermanfaat.
Keunggulan pendidikan lebih dari suatu daftar permasalahan mutu (Eisner,
1991), lebih dari sekedar langkah total yang berfokus pada kualitas (Glass,
1990), lebih dari sekedar berhubungan trend dan peramalan (Cetron & Gayle,
1990), dan lebih dari sekedar demonstrasi bagaimana terbaiknya dari terbaik melaksanakan (Gatto, 1990). Bahkan
profesionalisasi sekolah memerlukan lebih dari sekedar persiapan guru yang
lebih baik, tindak lanjut lebih baik, pelatihan yang sedang bertugas, dan
sertifikasi. Ini hanyalah kejadian lain tentang pemasangan lebih keemasan
(Sergiovanni, 1989). Meski demikian berkait dengan paradigma pendidikan
sebelumnya, memandang variasi yang diperlukan sebagai kompleksitas kepemimpinan
sebagai manajemen, nilai pengujian yang lebih tinggi muncul dan biaya yang rendah bersama corak baru efisiensi seperti,
yang tidak sesuai berubah, dan hilangnya kendali otonomi. Pada keadaan yang
sebenarnya semua unsur bersifat komponen paradoksis perlu dari batas akhir,
cara berbeda untuk sampai di sasaran yang sama. Ubah pengertian yang organik
menuntut variasi yang ditambahkan, ciptaan produk lebih dapat dipakai, otonomi
lebih besar sebagai alat kendali, dan struktur bahwa berbalik ke membentuk cairan.
Kita belum pernah benar mengadopsi pandangan pemikiran organik dan tindakan
kita. Hanya beradaptasi sebagai suatu tanggapan kepada kekuatan berbagai kuasa
yang ada dan angkatan politis, atau belajar paradigma.
7.17.
Studi Kasus
Kita harus berfokus berpikir tentang organisasi dan sekolah kita
untuk besok. Dalam proses ini, kita harus mempertimbangkan, menganggap apakah
instrumen Newtonian dan kebanyakan teknik dikenal baik oleh kita bersifat
sesuai atau apakah tubuh tentang mengembangkan pengetahuan memusat ke dalam
ilmu pengetahuan kuantum dapat mempengaruhi pemahaman organisasi kita. Ilmu
pengetahuan pada setiap disiplin perlu untuk didasarkan pada ilmu pengetahuan
dari waktu. Ilustrasi Schroedinger kucing di dalam kotak itu dapat menolong
kita menggambarkan pembedaan yang utama antara dua gaya pemikiran ini (Zohar,
1990). Masalah itu adalah sebagai berikut, tempatkan seekor kucing pada kotak
dengan dinding yang padat. Tidak seorang pun adalah mampu mengerti maksud
tersembunyi dalam kotak. Suatu mencetuskan alat pada beberapa titik yang telah
diatur untuk melepaskan, membebaskan, dengan kemungkinan sama, yang manapun
racun atau makanan. Pada beberapa titik, kucing temu nasib dan kotak dibuka
untuk menentukan nasib kucing. Di dalam dunia Newtonian, karena organisasi kita
bersifat deterministik, baik, kelihatan untuk fakta, variabel, dan bagian dalam
percobaan untuk adalah sasaran, kalkulasi, dan menemukan kebenarannya.
Organisasi kita dibangun diatas tanah dan bangunan yang sama ketika kita
mencari kesetiakawanan, identitas khusus, keistimewaan dan untuk mengeluarkan solusi
yang masuk akal. Kita akan mengukur kotak, makanan, racun, atau mencari
petunjuk lingkungan, dan mengadakan hipotesa tentang segalanya. Seperti Davies
dan Brown (1988) berkata, kita mempunyai suatu teori untuk segalanya. Pada dunia
kuantum, bagaimanapun, masalah pada kisah kucing bukan suatu masalah.
Di hadapan pengamatan, nasib dari kucing hanyalah suatu himpunan
dari beberapa kemungkinan, hanya untuk memutuskan ketika kita secara phisik
membuka kotak. Apa yang kita lihat apa yang kita dapat.
Latihan ini, peran dari peninjau itu adalah kritis. Organisasi membatasi
kita manusia, para siswa, dan yang lain, Usaha buatan organisasi ini pada
obyektifitas. Dunia ilmu pengetahuan kuantum, bagaimanapun, obyektifitas
dibangun pada suatu pengamatan. Seperti peninjau, kita boleh hanya benar adalah
peserta di dalam satu set potensi. Di sini berada salah satu dari kunci kepada
kuantum yang efektif berpikir tentang organisasi. Seperti peserta organisasi
hari ini, kita sering kali membatasi yang dapat ke “mengatakan pendapat.” Suatu
pejabat pengurus senior menginterpretasikan dan memutuskan, yang diikuti oleh
suatu penafsiran kembali oleh manajemen menengah, dan lalu para penyelia.
Tetapi pada kenyataannya masing-masing anggota organisasi menjadi bagian dari
potensi dari organisasi. Ketika kita membatasi yang mempunyai suatu berkata,
kita hilangkan mereka yang berpotensi kritis dan penafsiran penting yang pengamatan
secara spesifik. Sebagai gantinya, kita menggunakan rencana, organisasi, dan
kebijakan dari orang lain. Satu organisasi bahwa membangun kapasitas itu untuk
menggunakan semua penafsiran berkelimpahan suatu laut dari data yang kaya yang
kemudian dapat dibahas, dikombinasikan, dan dibangun atas. Menjadi lebih
bijaksana dalam hal ini dan lebih partisipatif juga kepemilikan barang
kepunyaan benar seperti ketika organisasi membangun suatu kapasitas untuk
bersifat fleksibel dan mau mendengarkan gagasan dan lalu mempromosikan lebih
lanjut ke dalam tindakan. Keikutsertaan, kepemilikan, dan data subjektif
memperkaya konstruksi hubungan dan kepemilikan segmen lebih lanjut.
Menjelajah lebih lanjut, kita menemukan dunia kuantum macam tingkat
derajat di semua sekitar kita. Sebagian orang melanjutkan untuk mencoba dan
membungkus perspektif kuantum ini ke dalam dunia yang objektif. Mengatur praktisi
dan ahli teori organisasi, bagaimanapun, sedang membuat perubahan mengejutkan
melintasi organisasi. studi kepemimpinan Hari ini berkonsentrasi pada
perspektif baru: para pengikut, kuasa pekerja, layanan khusus pemimpin dan
mengerti dan mengembangkan identitas diri sendiri. Memotivasi studi menjelajahi
faktor hakiki. Teori magnit mengusulkan bahwa kita mampu merasakan pengaruh
dari perilaku karyawan bukan sebagai suatu negara masa depan yang diinginkan,
tetapi sebagai suatu cara mengetahui dan lalu membangun visi, studi hari ini
organisasi berkonsentrasi pada belajar sebagai suatu proses pembaruan diri
sendiri. Pada pandangan ini, kita harus terus menerus menangkis usaha kita untuk
menciptakan skenario yang lain “kucing di dalam kotak.” Pilihan kita untuk
ketertiban menentukan batas di mana kekacauan bisa sebgai alat bentuk berwujud
kunci bahwa memandu stabilitas.
Weick (1969) mengusulkan satu pendekatan alternatif kepada
analysis organisasi. Sementara perencanaan adalah penting, itu yang harus
disertai oleh tindakan karena itu hanyalah melalui tindakan dan implementasi
bahwa kita menciptakan lingkungan yang organissi. Perencanaan strategis kita
hari ini, kita bisa memenuhi kebalikannya. Kita bisa merencanakan suatu
meskipun demikian kita sedang menanggapi permintaan dari lingkungan, ketika
Weick berkata, menciptakan satu lingkungan di mana strategi perlu, ia "
just-in-time...yang didukung oleh lebih banyak investasi pada pengetahuan umum,
suatu daftar ketrampilan yang besar, kemampuan itu untuk lakukan kepercayaan
studi cepat pada intuisi, dan kesempurnaan di dalam memotong kerugian” (Hal 223-229).
Metoda masing-masing pemikiran yang baru ini perlukan kita untuk memandang
hidup organisasi cara yang baru: berpikir secara holistik, mengurangi
kepercayaan kita di skenario sebab dan akibat, menghubungkan dengan para mitra
pemikiran dan rekanan dan menggunakan intuisi lebih dan determinasi lebih
sedikit. Dalam hal ini, gambaran organisasi lagi; kembali menolong kita.
Morgan (1986) mengutip tiga meyakinkan studi untuk membantu kita
lebih lanjut pahami organisasi. Ke tiga studi menyediakan pengertian yang
mendalam dari biologi untuk membantu memahami bagaimana organisasi menjadi diri
sendiri, menghasilkan, hubungan betapa lingkar boleh menyarankan suatu logika
yang baru untuk berubah, dan hubungan betapa dialektis boleh membantu ke arah
perubahan.
Maturana dan Varela (1980) berargumentasi bahwa organisasi bisa
seperti menutup, sistem biologi otonomi. Pandangan ini adalah sungguh
berlawanan dengan “yang organik” pandangan bahwa melihat sistem hidup seperti
membuka dan interaksi yang tetap dengan lingkungan mereka. Di gambarkan
organisasi seperti otonomi dan yang tertutup, tujuan pengarang untuk
menggambarkan mengapa organisasi selalu berusaha untuk bekerja keras terhadap
stabilitas. Pada pandangan sistem tertutup ini, interaksi lingkar yang internal
dibangun, dipelihara; dipertahankan, dan yang diperbaharui sebagai usaha untuk
memelihara stabilitas. Setiap perubahan di dalam perubahan sistem keseluruhan
sistem. Maturana dan pandangan Varela tidak mewakili; menunjukkan suatu
pandangan sistem tertutup seperti organisasi masih saling berhubungan dengan
lingkungan, tetapi mengerjakan menutup diri sendiri untuk memelihara dan
mengatur fungsi. Untuk belajar Organization, kita perlu untuk belajar sifat pola
alami dari sifat bertele-tele bagaimana sifat bertele-tele ini mempromosikan
pertumbuhan untuk sistem dan menyeimbangkan sistem. Senge (1990) menyebut lingkaran dari ini
hubungan sebab akibat. Sistem ini yang lingkar biasanya berubah dari dalam
seperti juga suatu konsekuensi dari kekacauan acak yang internal bahwa memimpin
ke arah pola baru dari perintah dan berubah. Prigogine dan Stengers (1984)
menyebut perubahan ini dissipative
struktur. Beberapa manusia percaya ide dan praktek boleh berkembang dengan cara
yang sama, memenuhi mengubah ketika “assa genting” dicapai. Sistem organisasi,
terjadi; dengan demikian boleh membentuk masa depan mereka sendiri melalui pola
diri sendiri yang mempunyai petunjuk.
Pandangan ini organisasi mengizinkan kita untuk melihat bahwa
seperti individu dan organisasi, interaksi bahwa berlangsung tidak perlu harus
dibumbui dengan kompetisi atau perjuangan. Organisasi seperti itu dapat menjadi
lebih sadar ketika mereka diri sendiri menemukan dan meneliti diri mereka
melalui lingkaran pemahaman dari mereka sendiri hubungan sebab akibat (Maruyama;
1963; Senge, 1990). Unsur organisasi menjadi lebih sadar akan peran dan makna
mereka saecara keseluruhan. Mereka belajar dan mengembangkan pola dari
perubahan bahwa membiarkan evolusi pada suatu sistem Larger melalui organisasi
diri sendiri.
Lingkaran dari hubungan sebab akibat menyertakan jerat positif dan
umpan balik negatif bahwa menguasai potensi itu untuk mengungkapkan pola-pola
hubungan-hubungan. Pola-pola ini hubungan-hubungan tidak hanya mengungkapkan
hubungan-hubungan tetapi juga dapat digunakan untuk menaikkan berubah. Di dalam
konteks yang organisasi, kita terus menerus melihat hubungan bahwa, jika pola
mereka dipelajari dapat mengungkapkan kedua organisasi internal dan eksternal “cara
kita berdagang.” Keseluruhan yang dinamis dari suatu organisasi dapat dipetakan
dan menyediakan suatu gambar yang lebih kaya keseluruhan sistem.
Pengembangan dari gaya penalaran
ini di dalam oposisi yang langsung kepada linear, manipulasi sebab dan akibat
yang kita sudah tumbuh terbiasa menggunakan. Lingkaran-lingkaran dari hubungan
sebab akibat mengizinkan praktisi-praktisi organisasi untuk mengidentifikasi
subsistem prinsip atau "bersarang" bahwa mempersatukan keseluruhan
dan lalu memodifikasi hubungan-hubungan yang ada melalui berubah. Pada
gilirannya, kita belajar untuk menghargai kompleksitas yang bawaan organisasi
dan demikian juga belajar untuk berubah dengan berubah. Dengan perwujudan yang
tambahan pengaruh-pengaruh masyarakat yang baru dan berubah, kita dapat
diseimbangkan sebagai detektor-detektor dan menghindari itu
kecenderungan-kecenderungan bersifat merusak dan yang bertahan bahwa sering
kali tidak dicatat; terlihat sampai mereka tidak dapat dikendalikan. Seekor
kodok akan berusaha untuk dengan segera melompat dari tangan bila ada suatu
ancaman, tetapi mungkin tidak mengenali peningkatan temperatur yang
berangsur-angsur dari lingkungan nyaman, dingin, hanya lebih hangat yang terus
meningkat sampai itu sudah terlambat.
Seperti dengan singkat
menyebutkan sebelumnya, ini bukanlah untuk menyiratkan bahwa lingkaran dari
hubungan sebab akibat adalah satu-satunya wujud penafsiran yang tersedia bagi
kita. Kita sudah tumbuh biasa sebagian besar kepada suatu pandangan organisasi
bahwa mencari mengerti dengan memperhatikan kebalikan, melalui analisa cara dialektika.
Pertumbuhan dan kemunduran, kekayaan dan kemiskinan, dan industrialisasi dan
tidak ionisasi semuanya adalah sudut pandang yang dialektis bahwa sering kali
menyebabkan kita untuk memihak. Oleh pemahaman ini angkatan yang dialektis,
kita dapat belajar arti penting mereka dan menentukan mana dari angkatan itu
bersifat penyebab utama melawan yang bersifat sekunder dan dangkal. Oleh diri
sendiri kombinasi yang menghasilkan sistem, lingkaran dari hubungan sebab
akibat, dan analisa dialektis, kita dapat lebih baik memahami logika dari
perubahan karena membentang dibanding: berhubungan dengan perubahan di dalam
pertunjukan kita yang normal sedikit demi sedikit.
Organisasi mandiri adalah menyediakan
suatu pandangan yang baru, Daripada mengamati organisasi melalui struktur sistemnya,
perenungan tentangnya dinamika system, wujud dan fungsi, menjadi penting. Kita
sering kali menyertakan mengerti peran dari umpan balik negatif sebagai suatu
sumber sangat vital/penting, tetapi melalaikan inti sari dan pentingnya umpan
balik positif. Umpan balik positif dapat mengganggu jika itu diterima,
mendorong ke arah disorganisasi dan ketakseimbangan dan mencurigakan integritas
organisasi. Ketika dengan penuh pertimbangan mempertimbangkan, umpan balik
positif bisa merupakan suatu sumber perubahan keorganisasian juga. Umpan balik
positif adalah hanyalah variasi bahwa telah ada di dalam organisasi. Gangguan
lalu adalah suatu konsekuensi yang organisasi pada akhirnya bereaksi terhadap,
seperti pengabaian yang ditambahkan membangun sampai sistem itu harus
menanggapi. Di dalam dunia kuantum, sistem disintegras ini dapat membangun
suatu sistem penting yang baru. Jadi; Dengan demikian kekacauan menciptakan
suatu perintah yang baru. Dari waktu ke waktu, jika kita memandang sistem cukup
panjang yang entropic, kita mungkin menangkapnya dengan rapi, bekerja keras
untuk menjadi sesuatu yang baru.
Memanage kekacauan ini, seperti
De Pree (1987) menulis bahwa adalah dalam satu kejadian “kepemimpinan
penjelajahan” dan poin kepada kualitas yang muncul dari organisasi, menggunakan
sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang selalu kelihatannya untuk membedakan.
Ini para anggota yang sangat dibutuhkan menciptakan “tindakan bidang” dalam
organisasi sebagai jawaban atas keperluan menghaslkan dengan segera. Anda dapat
merasakan hal ini di dalam banyak organisasi, suatu perasaan layanan pelanggan
yang baik meliputi organisasi, atau suatu perasaan itu “pelajaran sedang
berlangsung di sini.”
Begitu yang dididik untuk
merasakan bidang ini, kita lalu “mengatur” terlalu sering kali di dalam
pengertian Newtonian, pemikiran, pengendalian, dan instruksikan tujuan organisasi.
Tidak akan menciptakan visi atau tujuan ini berdasar pada merasakan ladang itu
lebih menguntungkan? Prahalad dan Hamel (1990) berargumentasi bahwa ini semua. “kendali
konseptual” dapat dibangun di sekitar organisasi “kemampuan inti,” pengaturan
diri sendiri dan sistem pembaharuan diri sendiri dibangun di sekitar
fleksibilitas dan merasakan struktur perubahan kaku. Organisasi dalam
disorganisasi yang internal menjadi yang stabil dan lebih mampu saling
berinteraksi dengan lingkungan. Ditempelkan di dalam sistem itu adalah para
aktor dengan kebebasan itu untuk bertindak secara otonomi dipandu oleh diri
sendiri, kendali yang mempunyai petunjuk, konseptual. Kebebasan dan perintah
dalam kemitraan mencapai lebih besar, dekat tindakan catalytical yang otomatis. Organisasi yang dibuat dengan ketersediaan
kebutuhan pertunjukan absolut ini informasi. Kendali hubungan pendek informasi
satu kemampuan organisasi untuk menciptakan keadaan yang diinginkan ini.
Secara filsafat kita sudah
menggambarkan suatu pandangan pemikiran organisasi untuk masa depan. Bagaimana
cara ini menerjemahkan ke sekolah-sekolah untuk masa depan? Peramalan, trend,
dan catatan sejarah itu pada tempatnya, tetapi pengundangan harus mulai (Weick.
1969). Sekolah sebetulnya harus ia mengembangkan sepanjang bentuk struktural
melawan konseptual. Banyak gagasan telah pada tempatnya dan dalam pembahasan.
Sekolah yang sebetulnya terdiri
atas suatu kemitraan di antara guru, siswa, dan belajar. Seperti pentingnya ini
hubungan partisipatif yang baru direalisir dan organisasi sekolah tersebut
mengatasi ke dalam menciptakan masa depan, sekolah tersebut dapat menggambarkan
bidang-bidang yang perlu dan baru dari ketrampilan dan pengetahuan perlu.
Administrasi yang berkelanjutan sistem sekolah tersebut akan terjadi dan
mengatur sendiri. Sistem hantaran bisa menurut kebutuhan dan harapan
menciptakan organisasi. Proses untuk kirim dapat memperluas dan menyertakan
konteks penyerahan baru. Para mitra di luar sekolah itu, seperti orang tua,
masyarakat, negara dan para agen pemerintah pusat, yang mendukung yang yang
dijadikan dan fasilitatif.
Uraian yang sebetulnya suatu
lingkungan sekolah yang didalilkan oleh Reigeluth (1987) diberi di sini sebagai
satu contoh. Mencatat bidang-bidang yang digarisbawahi bahwa konteks pajangan organisasi
masa depan.
Organisasi sekolah yang baru
menerima wujud dan fungsi baru. Di dalam sistem baru ini, para guru menjadi
penasehat, sensor, dan para manajer (self-organisasi) melawan isi disseminators dan orang yang teguh
disiplin. Sumber daya baru yang termasuk komputer yang interaktif, kaset vidio,
panutan mengajar privat, proyek, dan laboratorium pelajaran dipekerjakan untuk
membantu pengetahuan perpindahan kepada siswa. Pemandu memberitahukan
pengertian dan mengatur para siswa tetapi tambahan pula mengkoordinir usaha
dari yang lain para mitra pendidikan (keikutsertaan dan kemunculan), termasuk
asisten yang murah (murid memandu, para warganegara senior, orang tua dan
panutan mengajar privat), proyek dirancang dengan baik, diskusi menggolongkan,
laboratorium pelajaran anti orang-orang sumber daya (diri sendiri, organisasi,
dan pembaruan). Orang tua, khususnya, bantuan memutuskan sasaran intervi
bersama dengan pemandu mereka dan setiap siswa (keikutsertaan). Suatu
pengembangan siswa (secara fisik. sosial, moral, psikologis, dan cendekiawan)
dipertimbangkan (kemampuan inti). Lingkungan kelas seperti kita ketahui itu
menghilang lenyap dan suatu pemandu dan siswa atau kecil kelompok para siswa
bekerja sama untuk mencapai yang disetujui sasaran pengembangan (menciptakan
visi mereka sendiri). Suatu pemandu mengambil seorang siswa melalui satu dari
empat langkah-langkah pengembangan yang mungkin (empat di dalam K-12), sekitar
empat tahun per siswa per tahap pengembangan. Langkah-langkah pengembangan
dapat diperluas atau diubah tergantung pada kebutuhan dari daerah pemilihan
lokal (equfinalas).
Masing-masing sasaran siswa yang
yang ditarungkan ulang bidang pendidikan ke dengan uniknya cocok sumber daya
bidang pendidikan (equfinalas dan variasi) yang mengarang musik oleh suatu
pemandu dan asisten-asisten lain.
Pemandu tidak bekerja dengan
bebas, tetapi dibuat ke dalam "kelompok pemandu," tiga sampai enam
pemandu perregu (wujud). Pemandu mengambil bagian di dalam pengambilan
keputusan dan kendali di atas kelompok tertentu (fungsi). Pada setiap seikat
semua pemandu bertanggung jawab atas sukses kelompok dengan tenaga yang dapat
diperbandingkan untuk temu sasaran yang dibentuk. Seorang pemandu guru juga
melayani di dalam kelompok itu untuk menyediakan intervi “arsitektur”' untuk kelompok
(tujuan). Sukses dari kelompok bergantung pada kepuasan orangtua dan siswa rapat
sasaran. Ketika kelopok berhasil, lebih mencukupi orang tua dan para siswa
memilih kelompok tertentu. Kelompok efektif bertahan hidup sebagai .suatu
akibat dari dukungan keuangan dari daerah berdasar pada pilihan berkenaan
dengan orangtua (umpan balik negatif pertengahan positif)
Ketika pencapaian sasaran
terjadi dan para siswa menerobos sasaran siswa langkah-langkah baru
pengembangan boleh menjadi lebih spesifik. Belajar laboratorium (variasi)
sediakan keahlian yang khusus di dalam tradisional, disiplin dan melintasi
bidang teratur. Kemajuan siswa pada kelompok mereka kedepan mereka kepada
bermacam laboratorium pelajaran. Laboratorium ini operasikan bebas dari sekelompok,
hanya juga dengan cara kerja sama ketika dukungan laboratorium itu bergantung
pada para siswa menjadi yang diizinkan untuk mengambil bagian sebagai yang
ditentukan oleh suatu pemandu siswa.
Analisa yang terakhir, derajat
tingkat dari perubahan di dalam pendidikan yang diterima di sekolah untuk besok
boleh menjadi satu diskusi etis untuk masyarakat diri sendiri untuk terlibat
dalam (variasi), ketika kenyataan konsep sekolah yang baru adalah jauh dari
dikenal baik oleh paradigma yang sudah mapan bahwa kita memegang dan menghargai
hari ini.
7.17.1. Sekolah sebagai Organisasi : Kasus dari Pendidikan Masa Depan
Ketika perubahan-perubahan terjadi di dalam lingkungan yang
global, bisnis dan masyarakat mungkin harus mengambil lebih banyak tanggung
jawab, karena menyiapkan angkatan kerja yang masa depan partnerships pembentukan dengan lembaga; institusi pendidikan.
Perubahan dengan sama penting lain sedang terjadi. Sebagai contoh, angka-angka
yang tumbuh dari keluarga orangtua yang tunggal akan menantikan sekolah untuk
lebih banyak permulaan jasa di dalam sebelum, taman kanak kanak, dan lalu
sepanjang pengingat tentang pendidikan yang diterima di sekolah anak-anak
mereka menuntut lebih lagi. Pertimbangkan; menganggap sebagian dari fakta ini
di bawah:
1.
Lebih sedikit dari 4 persen dari =keluarga akan terdiri atas satu
pasangan aktif kerja, satu di rumah, dan dua anak-anak.
2.
Istilah pendefinisian ulang hukum berasal dari keluarga kini
terjadi.
3.
Pada tahun 2000, kedua mitra berada dalam keluarga ke dalam tenaga
kerja di dalam lebih dari 75 persen dari keluarga-keluarga.
4.
Di tahun 2000, hampir 75 persen dari anak usia tiga tahun akan
menghadiri kepedulian memusat.
5.
Single-parent akan melanjutkan untuk memperluas karena perceraian
dan orang tua yang memilih bukan untuk menikah.
6.
Ketenaga seumur hidup dengan pekerjaan atau perusahaan yang sama
akan menjadi suatu hal masa lampau.
7.
Banyaknya industri pabrikasi dan pertanian akan merosot.
8.
Kedatangan dari pekerja pengetahuan itu akan kerikil isian satu 43
persen yang diperkirakan dari pekerjaan oleh tahun 2000.
9.
Banyaknya orang yang mengerjakan rumah akan peningkatan sebagai
otomasi kantor menjadi lebih jinjing dan tangguh.
10.
Kekurangan di dalam pekerjaan tingkat awal akan melanjutkan yang
diikuti oleh peningkatan kepada mereka pekerjaan bahwa membayar sangat dekat
upah minimum.
11.
Dekade yang berikutnya akan membawa delapan juta pekerjaan sangat
yang baru trampil, kebanyakan eksekutif, profesional, gelanggang teknis kering.
12.
Bisnis-bisnis kecil akan mempekerjakan sebahagian terbesar dari
para pekerja oleh tahun 2000.
13.
Over-qualified, sangat pekerja trampil tidak mampu untuk menemukan
pekerjaan keinginan memindahkan para pekerja trampil lebih rendah dalam
beberapa bidang-bidang.
Seperti kejadian ini berlangsung, demikian juga harus bentuk dan
lingkup pendidikan berubah. Banyak permintaan suatu restrukturisasi yang utama
organisasi sekolah. trend perubahan Hari ini utama mungkin tidak mencukupi. Pada
bagian bawah, banyak dari pendidikan tatapan trend hari ini dikenali melintasi
beberapa bidang umum: para siswa trend umum, para guru, kurikulum dan
instruksi, pendidikan yang lebih tinggi, perubahan sekolah dan merestrukturisasi,
penguasaan dan kepemimpinan, hukum sekolah, dan pembiayaan sekolah. Setelah
membaca bagian di bawah, menunjuk pertanyaan-pertanyaan menunjukkan ujung
kasus.
»
Kasus Umum
Pendidikan
mempunyai dan akan tinggal suatu tonjolan agenda publik yang utama untuk
sebagian besar sisa dari abad ini dan permulaan yang berikutnya. Kebanyakan
keinginan memandang pendidikan sebagai suatu instrumen untuk menyembuhkan
penyakit ekonomi dan mempromosikan pertumbuhan. Kemajuan teknologi dilanjutkan
dan lingkungan kerja lebih fleksibel di rumah dan pekerjaan akan
mempertimbangkan pendidikan yang diterima di sekolah lebih produktif dan
bekerja. Tidak sepadan dengan kemampuan dari para lulusan akan melanjutkan.
Kemampuan/wewenang teknologi melek huruf, dan pemikiran kritis atau kreatif
akan ada di suatu premi.
»
Para Siswa
Pendaftaran
kemerosotan dari 1980an itu akan perhentian dan mulai untuk memanjat lagi;
kembali. Tetapi lebih kepada keinginan yang meragukan lagi adalah sejumlah
besar dari para siswa tiap tahunnya gugur tentang sekolah. Naik permasalahan
sosial (penyalahgunaan obat, kekerasan/kekejaman, kehamilan remaja) dan patokan
akademis yang ditingkatkan akan hanya menciptakan lebih lanjut mengambil resiko
untuk para siswa dan daftar biaya pengiriman barang hilang-data yang lebih
tinggi mungkin dibanding peramalan.
»
Para Guru
Permintaan
untuk para guru yang berkualitas akan peningkatan, kondisi kerja upah rendah,
dan terlalu kecil tanggung jawab yang asli akan menambah kekurangan sebagai
keluaran akan tertinggal keperluan lebih dari 40 persen. Pada sebagian,
kekurangan guru akan dipadamkan oleh implementasi sertifikasi yang lain
mengarahkan. Ketiadaan para guru minoritas yang berkualitas akan masih sebagai
yang dipandang sebagai satu rintangan kepada pendidikan yang seksama ketika
populasi para siswa minoritas meningkat secara drastis. Universitas dan sekolah
akan kombinasikan bakat partnerships
dan mengusulkan wujud baru dari pendidikan yang diterima di sekolah. Motivasi
guru akan dijelajahi sebagai rumusan untuk insentif dicari.
»
Kurikulum dan Instruksi
Pelajaran
kekal akan menjadi suatu fitur yang pokok kepada pengembangan dari kurikulum
dan sistem hantaran. Suatu kurikulum inti boleh muncul dari universitas, guru,
bisnis, sekolah, dan partnerships berkenaan
dengan orangtua bahwa berkembang. Kurikulum akan oleh keperluan menjadi lebih
global seperti para lulusan lebih berkompeten dan berbeda diperlukan oleh
masyarakat dan urusan bisnis. Pendidikan kejuruan akan yang dijadikan tertinggi
seperti para lulusan secara teknis terpelajar menjadi lebih laku oleh industri
School ubah akan perlu untuk mempertimbangkan; menganggap permintaan dari
kebutuhan sangat teknis bersama dengan pendidikan yang akademis.
»
Pendidikan yang lebih tinggi
Lebih
sedikit perguruan tinggi lulus akan diperlukan di dalam tenaga kerja, tetapi
pada waktu yang sama lebih banyak postsecondary
lulus akan masuk gambar. Perguruan tinggi dan universitas akan mengenali
kecenderungan dan kurikulum ini berubah akan menyediakan kepada para siswa yang
memerlukan pendidikan tetapi memerlukan kurang dari empat tahun dari perguruan
tinggi. Perguruan tinggi setempat akan melihat suatu penerangan yang lebih
besar dari pelaksanaan para siswa, persyaratan pendidikan ini dan bantuan
masyarakat mewujudkan potensi pertumbuhan mereka.
»
Perubahan Sekolah dan
Restrukturisasi
Suatu
kebijakan yang nasional untuk memperbaiki sekolah masih tidak akan telah
dicapai dan sedikit demi sedikit usaha akan menjadi anggota curah dari
aktivitas perubahan yang dapat dinilai kepada pendidikan yang lebih baik akan
terjadi. Suatu permintaan untuk lebih banyak pelajaran waktu akan menjadi suatu
norma dan mengakibatkan lebih banyak sekolah tersebut bulu binatang
fleksibilitas. Dengan manajemen berbasis sekolah terlalu sering kali masih
sebagai suatu pendekatan atas bawah bahwa menciptakan lebih lanjut
konflik-konflik melingkupi tanggung-jawab secara umum, tanggung-jawab yang
ditingkatkan akan hasil hanya tanpa friksi antar lokal, negara, dan para agen
pemerintah pusat.
»
Penguasaan dan Kepemimpinan
Semua
stakeholders akan permintaan lebih keterlibatan di dalam pengambilan keputusan
memproses tetapi terlalu sering kali dengan terlalu kecil pemahaman keperluan
yang riil penting bagi dirubah atau merestrukturisasi. Memusatkan menyeluruh
kendali dari keinginan yang tingkat yang lebih tinggi tinggal hanya dengan
lebih banyak garis lintang yang tersedia pada lokal dan kelas mengukur.
Kekurangan pengawas dan para pemegang saham akan terjadi karena banyak pensiun
di dalam mid-nineties. Sebagai
hasilnya, para pemegang saham baru akan yang dijadikan agen-agen perubahan yang
utama dari zaman yang baru. Birokrasi pendidikan akan mengurangi menuju ke
suatu rumusan penguasaan yang dibagi bersama tetapi bukan tanpa pemecahan
menjadi kepingan di antara berbagai para mitra bahwa telah mengikis pendidikan
yang diterima di sekolah tradisional
»
Pembiayaan Sekolah
Satu
variasi yang ekstrim dari prakarsa keuangan akan dicoba berkisar antara
privatisasi kepada lebih banyak pemusatan. Tetapi yang terpenting dari
perubahan boleh melibatkan rumusan temuan baru untuk membiayai praktek tendensi
luar. Prakarsa ini yang baru akan mungkin termasuk dengan partnerships seperti didiskusikan tadi. Perbedaan regional akan
niscaya meningkatkan selama periode perubahan.
Sebagai
hasil perbedaan, kelompok minoritas akan kurikulum sekolah tentangan,
pembelanjaan, metodologi, dan mencari akses kepada pendidikan untuk semakin
sedikit diistimewakan. Hak kekayaan mengeluarkan akan yang dijadikan rintangan
utama kepada pertumbuhan dan berubah: Keduanya isu-isu dari akses dan
pembelanjaan akan tinggal meragukan.
PERTANYAAN-PERTANYAAN
Dengan
daftar terbatas bank peredaran dan trend mengenali di atas, mempertimbangkan;
menganggap mu sendiri atau kepercayaan-kepercayaan kelompok mu sekitar masa
depan pendidikan.
1.
Apakah isu-isu bidang pendidikan yang menjadi perhatian yang
terbesar anda atau kelompok mu?
2.
Apa yang peran perlu lokal, negara, atau pemerintah pusat di dalam
perubahan bidang pendidikan?
3.
Apa yang berubah di dalam ekonomi nasional/ dunia dalam mendikte
atau mempengaruhi arah pandang anda yang penting bagi pendidikan hari ini?
4.
Apa yang faktor ekonomi Anda percaya mempengaruhi arah yang masa
depan pendidikan? Faktor sosial? Faktor-faktor lain?
5.
Adakah lebih banyak bayangan faktor sosial di dalam
pandangan Anda?
6.
Apakah Anda percaya pendidikan yang diterima di sekolah di dalam
gangguan hari ini? Pertahankan keyakinanmu.
7.
Bagaimana mungkin kita
benar-benar mengetahui persepsi-persepsi stakeholder di dalam pendidikan?
Apa yang dilakukan stakeholders ini benar-benar
mempunyai panduan? Pertahankan keyajinanmu.
INTERAKSI DAN KOMUNIKASI MANUSIA
Komunikasi adalah aliran dari gagasan,
informasi, dan data melalui sistem pendidikan. Dari kelas ke jaringan nasional,
komunikasi yang efektif adalah suatu kunci hidup yang fungsional terhadap usaha
pendidikan. Para pemimpin di semua tingkat, dari mereka yang bekerja sampai
dengan para siswa melalui jalan yang susah dan membingungkan dari tugas yang
sehari-hari pembelajaran kepada mereka yang berhubungan dengan kompleksitas
yang ditingkat lokal, regional, negara, dan birokrasi nasional pendidikan,
harus mengembangkan kemampuan itu untuk memahami dan dipahami.
Pada Bagian III, konsep yang luas tentang
komunikasi yang dikembangkan melalui suatu diskusi sekolah sebagai sistem
organisasi dan interaksi manusia yang sedang berlangsung di antara mereka.
Untuk pemimpin pendidikan sekarang, itu belumlah cukup untuk bersifat trampil
hanya sebagai seorang penulis atau pembicara. Memo yang di keluarkan dari
kantor pusat untuk yang bekerja di dalam kelas dan yang berhubungan dengan
masyarakat yang sekali-kali kepada masyarakat sebebasnya belumlah cukup untuk
mengikat menjadi satu individu ke dalam suatu kepemimpinan yang efektif.
Kesatuan yang berfungsi kekompakan memerlukan kemampuan untuk menciptakan
lingkungan sosial dengan memudahkan komunikasi yang baik melalui penetapan dari
rasa hormat dan kepercayaan timbal balik antar kepada semua untuk siapa
organisasi itu bergantung. Lingkungan seperti itu mengizinkan informasi untuk
mengalir dengan bebas di dalam sistem sekolah tersebut dan pesan dari luar
untuk ditafsirkan dengan teliti dan dilaksanakan sewajarnya dan tepat waktu.
BAB 8 menunjuk keaneka ragaman di dalam teori
yang berhubungan dengan komunikasi. Semua komunikasi dilihat berkenaan dan
mempengaruhi tubuh organisasi; secara metafora komunikasi adalah nafas tentang
hidup organisasi, membuka peluang para anggota untuk memasukkan persetujuan
dengan penuh harapan dengan suatu pengertian dari keahlian dan kesenangan untuk
menjangkau ke luar organisasi dalam hal pelayanaan.
BAB 8
KOMUNIKASI: NAFAS DARI HIDUP ORGANISASI
Administrasi pendidikan, seperti manajemen dalam
pengaturan yang lain, berdiri pada suatu hubungan kritis teori dan praktek. Komprehensif
dan aplikasi berbagai model komunikasi yang efektif adalah suatu kemampuan yang
penting yang diperlukan oleh pendidik selama periode kritis ini pendidikan
berubah. Mutu suatu komunikasi sekolah serius mempengaruhi sifat alami
efektivitasnya. Sistem teori menawarkan pendidik alat perasa pada proses
komunikasi. Pandangan sistematis diantara organisasi dan komunikasi adalah
global, abstrak, dan sedikit lebih mudah di susun dalam Undang-undang.
Pandangan yang sistemik lebih kepada presentasi bagaimana organisasi
berkomunikasi secara aktual terjadi. Kesalahan akan pemahaman tradisional tentang
komunikasi linier kepada model jaringan komunikasi di mana administrasi
sekolah, instruksi, dan fungsi kepemimpinan. Pandangan komunikasi yang
sistematis untuk melihat tindakan komunikasi yang berhubungan dan mempengaruhi
tubuh organisasi. Suatu kiasan yang sistemik untuk pandangan yang mengacu pada
komunikasi seperti “nafas tentang hidup organisasi.”
Kebijaksanaan konvensional membatasi tatacara terminologi
komunikasi dan informasi digambarkan dan digunakan di dalam organisasi. Secara
konvensional, komunikasi dimengerti sebagai suatu proses lebih atau lebih
sedikit terminologi yang dengan mahirnya terlibat dalamnya. Sedikit atau banyak
orang-orang mempunyai informasi. Informasi
menyimpan, pencarian, dan memajangnya setelah selesai di otomatiskan. Dan ada persetujuan
populer bahwa otomasi seperti itu sudah mengubah hidup manusia. Perbedaan
gagasan yang diluar kebiasaan/konvensional, data telah otomatiskan, orang-orang
telah diinformasikan melalui akses data dan elektronik memanipulasikan.
“Penginformasian” dibandingkan dengan “mengotomatiskan”
akan menjadi bahan bakar sosial dan merubah organisasi di masa datang.
Komunikasi, interaktif, yang saling bergantung, dan menyatu, tidak hanya langkah
bijak suatu model atau suatu proses bahwa kelihatannya seperti kehidupan ketika
orang-orang berkomunikasi.
“Yang diinformasikan” organisasi (Schuck. 1985),
informasi yang dapat diakses secara universal. Layanan khusus kepada informasi yang
bermanfaat memungkinkan organisasi untuk bersifat lebih responsif pada masing-masing pelaku yang berada di lingkungan
sekolah dengan berbagi informasi sama. Dikombinasikan bersama pengambilan
keputusan atau pemecahan masalah, sistem sekolah menjadi lebih fleksibel karena
bertindak secara efektif dengan informasi yang seragam. Akses dapat
diawasi/kontrol atau pengawasan oleh orang-orang yang berada di puncak dari
suatu hirarki organisasi.
“Yang diinformasikan” tidak digambarkan oleh
usia atau status semua dapat diinformasikan. Memberikan semua informasikan yang
baru mereka dapat atau dengan mudah mengakses, informasi siswa, guru, dan pengurus
tidak dengan susah untuk memahami peran mereka di dalam organisasi yang
tradisionil.Hal ini melibatkan banyak pemikir sekolah dan mengimplentasikannya
di masa depan. Dalam pengaturan pendidikan di masa depan, komunikasi pengurus
secara logika harus diatur dengan informasi dasar yang sama dapat diakses
kepada semua orang di organisasi.
Bagaimana mengubah proses dan permasalahan yang
sudah dikonsep kemudian mengirimkannya tidak hanya pada bagian penggeresan
paradigma, tetapi juga tidak boleh tidak untuk berpikir kembali dan
mencipatkan/menimbulkan kembali nilai, proses, dan struktur organisasi. Bisnis Nasional
mengklaim bahwa sekolah bukan tempat pasar dan kebutuhan buruh, para futuristis
mengatakkan bahwa bisnis dalam banya cara tidak efektif seperti mereka
mengkritik sekolah. Mungkin saja pada waktu pengedukasian publik dan organisasi
sektor swasta untuk membatasi keterbatasan mereka ketika secara tradisi
ditemukan prinsip manajemen pengetahuan. Sekarang yang perlu dilihat adalah tempat
yang tidak biasa untuk tempat untuk mendalami pengertian yang baru tentang
produktivitas dan misi mereka.
Untuk para pengurus pendidikan, tantangan untuk melihat
di luar pagar dari halaman sekolah mereka dan untuk menganut konteks dan
disiplin yang lebih luas, ketika mereka mengkonseptualisasikan permasalahan ke
dalam sistem persekolahan mereka. Di dalam banyak konteks, desa global telah
tiba. Keaneka ragaman dan sudut pandang multidisipliner adalah suatu fakta
tentang hidup yang diinformasikan. Kepemimpinan pendidikan yang inovatif
memerlukan sesuatu yang mendalami pemahaman, lebih luas di masa depan. Untuk
alasan tersebut, menerapkan isi dari bab ini dengan mempraktekkan kepada administrasi
pendidikan harus bertanggung jawab kepada setiap pembaca dengan penuh
pengertian.
Pada bab ini, pembaca diminta untuk berlanjutkan
membangitkan energi kepercayaan, dalam kasus ini untuk menahan dorongan itu
untuk melibatkan konteks yang baru seperti dalam teori. Pembaca harus
menyiapkan untuk melanjutkan mengembangkan wawasan lebih tentang apa yang
memimpin pengertian dalam informasi organisasi, apa yang perlu dalam komunikasi
yang efektif, bagaimana data dikumpulkan dan digunakan, dan bagaimana caranya
memastikan bahwa keseluruhan organisasi sedang berkomunikasi secara sistemis.
8.1.
Kiasan Sistemik dari
Komunikasi
Komunikasi adalah suatu
kompleks, peristiwa sistemik ukuran yang tak terukur seperti bahwa itu
menentang kapasitas yang bersifat menjelaskan teori komunikasi yang ada
digunakan. Tindakan komunikasi tidak dibatasi pada manusia. Dengan ekologis
yang baru dan kesadaran pengolahan informasi, kemanusiaan sudah mulai untuk
merasakan “pengetahuan” mempunyai linear, yang akurat, dan tujuan dimensi.
Transmisi genetik tinggal di dalam organisma adalah komunikasi, jadi saling
bertukar informasi dengan kendaraan “mesin cerdas” kepada yang lainnya.
Metoda transmisi akan segera
mengubah secara drastis hal akan dikhayalkan untuk berhenti memikirkannya dalam
kaitan dengan menggunakan istilah kelas dan sebagai gantinya mulai untuk
mengusulkan sebagai fakta pelajaran lingkungan yang baru dengan pelajaran
menggolongkan yang disambungkan ke suatu penyedia dari suatu tempat yang jauh. Kesempatan
dan mekanisme untuk berkomunikasi dalam waktu dekat yang akan berkembang biak
dengan kecepatan yang dapat dijadikan teladan dan intensitas. Pepatah kuno
bahwa pengetahuan adalah kekuasaan akan mengeluarkan maksud-maksud lebih baru
ketika informasi meningkat dalam ketersediaan dan layanan khusus Informasi yang
akan dijadikan kuasa. Apa yang manusia atau perlu dilakukan atas kuasa seperti
itu? berasal lebih dari sekedar minat filosofi. “Informasi” akan dilihat
sebagai bukan linear, spontan, dan mampu satu nomor yang tak tentu dalam penafsiran
dan tujuan.
Keduanya hidup dan tidak
hidup menukar sebagai kesatuan informasi pada saat pertukaran. Landasan
pemikiran bahwa komunikasi adalah dasar dan hanya menyampaikan informasi harus mulai
untuk diperbesar. Komunikasi yang harus diperlakukan sebagai suatu sistem
bersama dengan milik sistem umum.
Mengangkat komunikasi pada
tingkat yang universal mengirimkan pesan supaya organisasi manusia tidak dapat
lagi menghasilkan pemikiran yang berdiri sendiri dan independen, milik sendiri,
orang ke orang, komunitas. Komunikasi adalah jauh lebih universal, lebih
holistik. m
Membatasi komunikasi untuk
philosofi kultur, teori-tingkah laku atau paradigma sosial –psikologi menghalangi
kemampuan kita untuk memahami komunikasi secara penuh. Model mengirim-penerima-timbal balik di dalam
paradigma tidak dapat menjelaskan keperluan yang kita rasakan dalam satu
informasi lingkungan. Sistem umum berpikiran
dalam kapasitas secara teoritis untuk dihubungkan kesemua yang berhubungan
dengan komunikasi manusia paradigma, dan itu “pemasangan kawat” kepada semua
proses komunikasi diantara yang sistem tidak tinggal dengan baik.
Untuk membantah kepada yang
persentasikan terbesar secara umum dengan pemikiran sistem ke dalam pelajaran
latihan yang semu. Sebagai contoh, bagaimana para pengurus sekolah yang merasa
dan menjadikan komunikasi sebagai hasil dari bingkai referensi yang digunakan. Bagaimana
batasan, proses, dan praktek komunikasi yang disusun bergantung pada poin
individu dari pandangan tentang organisasi manusai dan manusia. Akar, komunikasi
kepercayaan dan strategi bergantung pada pandangan pribadi pengurus kepada dunia
dan keikutsertaannya dalam pandangan dunia.
Jika satu pandangan
pengurus dunia adalah sempit atau statis, diikat oleh pengalaman masa lalu dan
penyimpangan sempit yang dibatasi, paradigma tua, satu jenis lingkungan
komunikasi akan muncul di dalam sistem sekolah tersebut. Pengurus ini akan mencari
kepada tanda saraf tak sadar dan kendali dan bahkan menghalangi proses
komunikasi di dalam organisasi, jika, sebaliknya, satu filsafat; pemikiran
pengurus mempertimbangkan keaneka ragaman sistem pengembangan dunia dan evolusi
pendidikan yang diterima di dalam sistem sekolah, lingkungan komunikasi akan
ada yang berbeda. Pengurus ini akan mengenali bahwa komunikasi adalah berbadan
di suatu variasi dan himpunan dinamis dari kekayaan sistem membagi-bagikan ke seberang setiap bagian dari
sekolah tersebut dan lingkungan nya. Kendali akan diperlihatkan pada setiap
bagian dari sistem, tidak hanya yang digambarkan oleh suatu struktur yang
birokratis, tetapi pada suatu pengertian yang holographi pada setiap bagian adalah
suatu keseluruhan. Pengurus ini akan juga mengenali keperluan itu untuk
memperbesar gelanggang komunikasi sebagai pandangan mitra yang menambahkan
lebih lanjut variabilitas, energi, dan variasi
Perubahan penekanan dari
pengurus siapa yang mengkontrol nilai komunikasi untuk para pengurus siapa yang
menilai dinamika dari komunikasi yang merupakan bagian yang menentukan dan
kepemilikan untuk sebuah dinamika dan membuka persepsi dari “mengetahui.”
Mengetahui menjadi suatu syarat keperluan untuk keseluruhan sistem. Pribadi, intelektual,
dan tingkah laku. Yang berkembang sangat mendesak untuk semua anggota
organisasi.
Apakah kebutuhan para pelaku
di dalam membawa diri mereka variasi keperluan informasi dan ketrampilan untuk
berkembang secara dinamis seperti dan “mengetahui”
sekolah seperti halnya tidak pernah ada sebelumnya. Tidak ada lebih sedikit
keinginan membendung tekanan kekecewaan publik. Penjelasan, proses komunikasi sperti
dalam lingkungan yang dinamis yang akan sering kali harus “disusun” dengan
segera. Tidak ada rumusan komunikasi yang bisa diajarkan atau secara sepihak
diterapkan.
Pengurus sekolah yang bijak
adalah yang dengan cepat mengampuni dugaan mereka yang dapat memasuk sistem dan
meletakkan dengan tenang untuk semata-mata dengan yang berwenang.
Mereka belajar bahwa banyak
variabel lain “yang berkuasa” dalam satu pengertian operasional yang termasuk
kenyataan ekonomi, perasaan bosan siswa atau kegairahan, derajat tingkat
optimisme guru, energi, dan pengertian yang mendalam, dan persepsi eksternal “konsumen
pendidikan.” Banyak ketika pengurus sekolah yang ingin untuk cara lainnya,
mereka tidak semata-mata yang bertanggung-jawab atas apapun kecuali pemikiran
mereka sendiri, perilaku, dan tanggung jawab kepada mereka yang melayani. Ini
bisa suatu kegelisahan menggambarkan bagi mereka yang menyenangi perintah,
tetapi itu adalah satu peluang yang belum pernah terjadi bagi mereka yang
memandang administrasi pendidikan sebagai kepemimpinan pendidikan adalah
manusia melayani posisi yang tak
berbanding.
8.2. Keaneka
Ragaman dalam Teori Komunikasi :
Suatu Paradox Abad Ke-21
Untuk tetap menekankan
bahwa sistemik (bukan yang sistematis) epistemologi dapat menumpahkan paling
menerangi di pemahaman komunikasi pada abad ke-21 bukanlah untuk membuang atau
tak mengindahkan semua teori yang terdahulu. Basis untuk mempelajari komunikasi
manusia di dalam organisasi yang harus dibuat eksplisit. Jika dasar dari acuan
adalah suatu model hirarki dari organisasi, lalu pertanyaan atas-bawah, akar-rumput
atas komunikasi linier berasal dari minat. Jika, ditangan yang lain, satu yang mengasumsikan
suatu heterarchical atau holographis sistemik
model organisasi, lalu komunikasi dan karakteristik organisasi lain berubah
secara dramatis. Seperti kemunculan model yang tidak hierarkis, yang dihasilkan
pada sebagian masyarakat adalah yang diinformasikan melalui bagian keinginan manusai
untuk tinggal yang berguna di tempat kerja ketika siapapun tidaklah seperti
gigi roda dalam pemesinan organisasi. Schein (1989) berbicara
tentang peradaban organisasi terhadap wujud organisasi yang baru meskipun
mereka dihantui oleh hierarki dan kondisi yang percaya akan “menemukan yang
benar” dari para manajer. Stefanus
(1989) kutip ciptaan Adler dari Institute dari Future menyebutkan perusahaan virtual
yang hidup hanya dengan koneksi komputer mereka.Ciptaan Applelink Apple, jaringan
area yang luas/WAN, IBM pembelajaran jaringan inisiatif , dan Internet di setiap
sekolah bisa pertanda ciptaan “sekolah virtual.”
Kegembiraan bergerak diatas
ciptaan wujud organisasi yang baru, bagaimanapun, juga menimbulkan ketertarikan
baru penting. Berapa banyak hal yang dilakukan oleh kelompok kerja yang mengotonomikan
sendiri yang memerlukan pengurus sebagai komunikator? Dalam sebuah lingkungan
di mana segalanya dapat dinegosiasikan oleh setiap orang (Kanter, 1989), apa yang
menjadi aturan main dari manajer atau pengurus? Ini bukanlah pertanyaan yang dapat
tambatkan. Organisasi seperti itu telah ada dalam berbagai wujud pada lingkungan
yang berteknologi tinggi, lingkungan pengusaha. Mempertimbangkan pertumbuhan akan
permintaan publik untuk pilihan sekolah dan meningkat pencapaian/produktivitas
sekolah negeri, hal itu merupakan suatu peregangan yang terlalu besar untuk
pengurus sekolah untuk membayangkan diri mereka dalam lingkungan pengusaha di
masa datang.
Mengenali perubahan dengan cepat,
pada masyarakat kompleks menciptakan
kebutuhan akan teori komunikasi yang baru, teori lampau yang menjadi suatu blok bangunan yang
bermanfaat. Studi tentang segala peristiwa dengan suatu definisi yang ditemui oleh
konsensus dari waktu ke waktu. Kebanyakan peneliti setuju bahwa komunikasi
melibatkan para pengirim, penerima, transmisi informasi antara pengirim dan
penerima, dan campur tangan atau yang dapat bertindak pada transmisi tersebut. Komunikasi
manusia ditinggalkan untuk digambarkan ke dalam definisi situasi operasional
spesifik dalam penelitian tertentu. Dance (1970) menemukan 95 definisi yang
kadang berlawanan dan berbeda dengan komunikasi yang digunakan.
Maksud pesan, ketetapan
umpan balik dan keterlibatan untuk tindakan manusia adalah juga dihubungkan
dengan definisi yang banyak, komunikasi sebagai bukti dari sifat dan fungsi proses
social, umumnya disepakati secara nonverbal dipahami seperti juga informasi
lisan adalah “encode” dan “decode” dengan cara yang berbeda oleh setiap para peserta
yang berbeda pada proses komunikasi. Beberapa ahli teori dan peneliti termasuk
informasi diatas pancaindera, intuisi, dan gejala tak sadar sebagai bagian dari
peristiwa komunikasi. Yang lain lebih tertarik mendahului pesan yang putus dari
sistem yang berbeda dan bagaimana tumpang-tindihnya menjadi sama dan sebangun
dan terintegrasi di dalam pikiran manusia. Di dalam administrasi pendidikan,
seperti di dunia bisnis, komunikasi sebagai pengaruh adalah suatu tema yang
menyebar di dalam literatur riset. Sasaran pengurus manajer atau sekolah untuk mengkomunikasikan
“visi” dan gol sangat mendesak dan membujuk yang lain untuk mengikuti pemimpin
itu kepada kesuksesan suatu organisasi.
Berlo (1960) melaporkan
bahwa maksud segala komunikasi adalah pikiran dari komunikator. Pengalaman
individu mengkonfirmasikan bahwa komunikasi sering salah dipahami. Pesan ini tidak
boleh berarti kepada penerima persisnya apa yang pengirim maksudkan untuk
berarti. Mengapa? Lalu orang melanjutkan untuk berjuang dengan tujuan untuk
berbagi maksud dan menemukan hal yang disetujui, bertindak sebagai penggabungan?
Jawaban tersebut bahwa manusia bersifat mahluk sosial. Riset terbaru
kelihatannya terbayang dari luar lewat analisa ceramah bahwa kelompok orang
yang pada akhirnya bertindak sebagai penggabungan tidak dilakukan atas dasar
persetujuan penuh dengan motivasi atau dasar pemikiran tetapi lebih kepada mereka
yang sudah bermufakat dalam mekanisme komunikasi tertentu yang membiarkan
mereka mempertahankan nilai-nilai dan poin-poin otonomi dari pandangan mereka
(Donnellon, Gray, & Bougon. 1986). Jika para peneliti menemukan dan dapat
disamaratakan, lalu tujuan komunikasi bukanlah konsensus tentang isi atau
penafsiran komunikasi tetapi lebih konsensus bahwa satu maksud equifinal dapat dicapai oleh masing-masing
individu yang idiosyncratic.
Dinyatakan bahwa setiap peserta dalam satu aktivitas tidak perlu bermufakat dalam
pertimbangan mereka untuk mengambil suatu tindakan atau persepsi yang akan
manfaat. Mereka sungguh perlu untuk bermufakat dalam aksi kolektif pengambilan
keputusan. Jadi, dengan demikian, pemakaian kiasan, argumentasi logis,
mempengaruhi modulasi, dan indirection
ilmu bahasa hanyalah memahami dan menyiratkan dan mengorganisir tindakan.
Kekayaan dari pengetahuan
dan pendekatan teratur bervariasi yang dibawa kepada ladang komunikasi yang sudah
menghasilkan suatu profesi yang baru dan suatu himpunan yang baru dari keahlian
khusus yang akademis, dari ini riset meliputi komponen yang retorik, psikologi
sosial linguistik, matematika, dan yang lainnya yang merupakan ladang dari
studi. Meski ada suatu kebutuhan untuk suatu teori yang lebih sistemik dan
integratif yang menyelidiki gaya-gaya sebelumnya adalah juga sangat menolong
kepada para pendidik.
8.3.
Gaya Teori dalam komunikasi
Little john (1989)
menggambarkan empat teori komunikasi gaya dasar, masing-masing mempunyai
karakteristik bahwa menyediakan cara yang unik untuk memahami komunikasi. Ini
dikenali sebagai (1) structuralist dan functionalist, (2) teori dan tingkah
laku, (3) penginteraksian dan konvensional,
(4) interpretif dan kritis.
Masing-masing gaya berisi suatu spektrum lebar dari metodologi riset dan
aplikasi praktis kepada ilmu sosial. Masing-masing dihubungkan dengan asumsi
tertentu bahwa pengurus pendidikan boleh menemukan apapun yang lekat atau
dengan bebas dibariskan dengan sistem kepercayaan mereka sendiri.
Teori structuralist/functionalist
diindetifikasi sebagai perhatian dari sebuah seri pertukaran komunikasi yang
terjadi dan fungsi yang hampir simultan dari waktu ke waktu, suatu kecurigaan
keingin-tahuan tentang konsekuensi atas tindakan yang tidak diharapkan, dengan berbagi
kepercayaan bersama di dalam kebebasan dan realitas objek, suatu kepercayaan
yang dibagi bersama dalam kenyataan objektif dari suatu desakan/permintaan
tegas penganut pertentangan lambang separasi dan bahasa dari objek dan
pemikiran yang sedang ditandakan pada komunikasi. Gaya meminjam dari teori
sistem umum seperti juga dari filsafat structuralist dan functionalist.
Teori Cognitive/behavioral berkomunikasi
membangun dari disiplin psikologis ilmu
pengetahuan, memanfaatkan banyak hal dari asumsi yang sama tentang pengetahuan
manusia dan perilaku menemukan di gaya structuralist functionalist. Perbedaan
adalah bahwa/karena di dalam pengetahuan paradigma cognitive/behavioral
dihasilkan melalui penemuan dari mekanisme psikologis. Teori dari sifat
cognitive/behavioral menunjuk komunikasi sebagai suatu penjelmaan perilaku
individual dan memikirkan proses, termasuk dasar netral untuk penjelmaan ini.
Menurut gaya ini, variabel utama mempunyai satu dampak di teori yang berfungsi
dan penampilan di dalam perilaku, termasuk perilaku bahasa yang di luar kendali.
Meski demikian, ada komponen interactional
dari setiap perilaku yang berperan sebagai penjelmaan psikologis tertentu dalam
gaya ini.
Teori Interactional/conventional
komunikasi sebagian besar berasal dari ilmu antropologi sosiologi dan filsafat
bahasa. Konsep stokeholder di dalam
teori ini adalah interaksi simbolik. Keberadaan sosial dipandang sebagai suatu
proses dari interaksi yang berkelanjutan yang menetapkan, memelihara, dan
kadang-kadang mengubah konvensi sosial tertentu seperti bahasa dan lambang. Itu
adalah interaksi yang menciptakan aturan dan norma, menetapkan tradisi, dan
kesempatan menjatuhkan tradisi ini. Komunikasi adalah suatu proses tentang
menciptakan kenyataan sosial dan kultur nilai yang sesuai dengan norma.
Teori Interpretive/critical
dibangun dari bermacam tradisi invertigasi, termasuk interpretive sociology,
phenomenology dan hemerneutics, sekolah marxism dan frankfrut dan berbagai
analisa teks dan literal tradisi. Karakteristik umum dari teori interpretive/critical termasuk suatu
keunggulan dari kesubyektifan dan suatu nilai tinggi yang dihubungkan dengan
pengalaman individu. “Memperuntukan” dalam membangun gaya interpretive/critical
mempunyai arti yang besar. Gaya ini juga meminjam konsep dari teori sistem umum.
Haruslah jelas nyata dari
poin yang berbeda dari penekanan bahwa masing-masing gaya Littlejohn
menggambarkan sekitar konteks komunikasi yang spesifik. Seikat dan konteks ini
menyediakan suatu hierarki dari daerah riset yang digambarkan terutama oleh
ukuran dari kelompok yang melibatkan komunikasi dalam berbuat sesuatu. Dari
angka populasi yang paling rendah sampai yang paling tinggi, kelompok ini termasuk
yang berhubungan antar pribadi, kelompok, organisasi, dan komunikasi masa dari
riset.
Teori yang berhubungan
antar pribadi menunjuk komunikasi antara individu, terutama menghadiri setiap
hubungan pribadi dan proses pembelajaran. Teori komunikasi kelompok fokus
kepada perilaku dan pengaruh hubungan pribadi yang terjadi di dalam kelompok
kecil. Oleh karena itu, peneliti komunikasi kelompok tertarik akan permasalahan
yang dihubungkan dengan ilmu dinamika kelompok, interaksi di dalam kelompok,
efektivitas, pengambilan keputusan, dan langkah dari perubahan di dalam kedua
pribadi dan menggolongkan pengembangan. Peneliti komunikasi organisasi adalah hubungan pribadi dan menggolongkan teori,
tetapi perhatian mereka yang utama adalah peranan komunikasi di dalam prestasi
sasaran organisasi (Shockley-Zalabak, 1988). Komunikasi masa yang membawa
hubungan setiap pribadi, kelompok, dan teori komunikasi organisasi ke dalam
dunia publik, secara umum memperhatikan dampak dari berbagai media di pemahaman
publik dan menghasilkan tindakan publik.
Meski hubungan antar
pribadi, kelompok, dan komunikasi masa berasal dari minat kepada pengurus
sekolah tersebut, komunikasi organisasi melembagakan “nafas” tentang hidup organisasi
pendidikan. Tanpa komunikasi yang efektif, satu organisasi akan menderita/layu
dalam keadaan mati semu, tanpa bahan gizi atau energi untuk mengejar sasaran secara
kolektif. Mengerti tentang apa yang melembagakan komunikasi di dalam organisasi
yang hidup dan berasal dari pentingnya perhatian kebanyakan dari hidup kita
yang berinteraksi dengan organisasi (Etzioni, 1964).
8.4.
Kiasan dan Asumsi dalam
Komunikasi Organisasi
Asumsi komunikator
sehari-hari membuat tentang organisasi manusia dan manusia tidak terelakkan
menciptakan perbedaan dalam berkomunikasi organisasi dikonsepsi, diteliti, disesuaikan,
dan digunakan. Asumsi yang eksplisit dihubungkan dengan kiasan yang berbeda.
Sebagai contoh, suatu teori sangat utama dikonsepsi sebagai yang mekanistis di
dalam pendekatan dan istilah yang didasarkan pada kiasan dari organissasi sebagai mesin. Mesin gubuk
ada untuk menghasilkan kekayaan dalam satu pengertian ekonomi, selagi sekolah
menghasilkan penduduk pekerja yang dididik. Di dalam teori ini, alat komunikasi pembantu
yang baik untuk melaksanakan pekerjaan adalah tema tetap. Teori bahwa
menekankan pertumbuhan dan perubahan di dalam organisasi pada dasarnya
dikonsepsi di dalam dugaan organisasi
seperti organisma. Komunikasi organisasi di sini dipandang sebagai suatu
unsur yang penting dalam kehidupan organisasi yang serupa untuk kelangsungan
manusia yang memandu keseluruhan organisasi. Karena berlangsung dalam beberapa
dekade, kiasan yang lazim dan mewakili; menunjukkan perspektif yang antropologi
adalah kiasan organisasi sebagai kultur.
Komunikasi dari perspektif ini menerima karakteristik sejarah budaya. Ahli
teori lain berpikir tentang suatu kesatuan kompleks psikologis organisasi itu sebagai
organisasi psychoentas yang menggunakan
kiasan dari pikiran atau jiwa untuk menguraikan komunikasi organisasi.
Tiga kiasan yang muncul dari
minat yang pantas dipertimbangkan sebagai spesialisasi organisasi adalah (1)
kiasan organisasi sebagai seni, menyiratkan suatu pengetahuan yang
berkesinambungan dan mengasah kembali oleh angkatan luar dan dalam atau agen
pribadi (eg. Schein, 1989: Mereda, 1992); (2) kiasan organisasi sebagai otak (Morgan, 1986; Marsick, 1990), memimpikan
organisasi terutama sebagai satu pusat pengolahan informasi yang cerdas; dan
(3) kiasan dari organisasi sebagai pembelajar (Argyris & Schön, 1978)
mengusulkan pelajaran organisasi yang bersifat kritis untuk kesuksesan sebagai
arus kas atau SAT yang mencetak prestasi gugur dalam daftar biaya pengiriman
barang, dan angka dari para siswa College Bound. Pada perspektif yang lebih
baru, kekayaan yang sistemik organisasi dan komunikasi organisasi bersifat kualitatif
dan dinamis. Kekayaan sistem ini memerlukan metodologi riset baru.
Pertama sebanyak empat dari
kiasan ini: organisasi sebagai mesin, organisasi sebagai organisma, organisasi
sebgai kultur, dan organisasi sebagai psychoentas, dengan perkiraan gaya kasar
teori paralel Littlejohn. Bagaimanapun, kiasan organisasi sebagai seni, organisasi
sebagai otak, dan organisasi sebagai pembelajaran bukanlah seperti ketika
membersihkan. Kiasan ini sebagai pertanda dari mencari pandangan yang lebih
holistik, dan kiasan untuk komunikasi organisasi. Dengan cara yang sama,
literatur tentang manajemen sekolah dan pengawasan, pengembangan sumber daya
manusia (HRD), dan teori organisasi diisi dengan bersaing kiasan ketika para
penulis mencari cara baru, untuk
menampilkan dan memikirkan permasalahan di organisasi manusia. Banyak usaha
yang menggunakan General Systems Theory
(GST) dalam sistem pemikiran yang mendasar.
Watkins (1989) mendiskusikan
beberapa teori alternatif untuk pengembangan sumber daya manusia yang berdasar
pada lima kiasan dari praktek yang bertindak sebagai suatu contoh yang
terkemuka. HRD para profesional, termasuk pengembangan staf untuk lembaga;
institusi pendidikan, pada umumnya terkait dengan komunikasi organisasi. Dalam
beberapa hal mereka bisa dilihat sebagai “penjaga dari kiasan” bahwa menandai
organisasi. Di tempat kerja bangunan ketrampilan HRD, kejadian komunikasi
aturan baru, dan usaha intervensi kepemimpinan lain tidak mengecualikan
pemeriksaan dan sering juga kiasan penggunaan untuk kuasa mereka yang bersifat menjelaskan.
Sebagai satu contoh, Watkins menyebut kiasan alternatif ini untuk peran
pengembangan sumber daya manusia: (1) solusi masalah organisasi. (2) agen
perubahan keorganisasian/interventionist atau penolong, (3) perancang
organisasi. (4) pembuat empowerer/meaning organisasi, dan (5) pengembang dari modal manusia. Jika
pengurus sekolah sedang melaksanakan atau memandu kinerja dari orang lain untuk
memecahkan peran atau setiap kombinasi peran ini, lalu mereka sibuk dengan
aktivitas yang berbasis kiasan. Watkins bisa hanya menghubungkan General System Theory dengan pemecahan
masalah organisasi. Dia menghubungkan teori ladang dan intervensi dengan kiasan
dari praktisi HRD sebagai agen perubahan keorganisasian berdasarkan Kurt
Lewin's (1951) sumbangan teori medan kepada pengembangan organisasi (OD)
prinsip dan praktek.
Watkins menemukan bermacam
teori sebagai sumber teori dari dasar desain, kiasan desain organisasi. Di
dalam menggunakan kiasan ini yang baru untuk organisasi, Watkins secara
serentak mengembangkan kiasan baru untuk para pemimpin di dalam organisasi.
Yang organisasi memberdayakan adalah suatu kiasan untuk orang percaya di dalam
teori kritis, dan pengembang dari modal manusia menggunakan teori modal
manusia. Pokok bagaimana membuat kiasan-kiasan ini dan asal-muasal mereka yang
tegas/eksplisit teoritis, Watkins percaya, untuk memperkaya dan memperbesar
pemahaman ladang dari praktek.
Gambaran lain bahwa para pendidik
boleh secara menguntungkan mencerminkan atas adalah Morgan (1986) mengdefinisikan
organisasi sebagai sistem politik, penjara mempunyai kekuatan batin, perubahan
terus menerus dan perubahan bentuk, dan/atau dominasi instrumen. Hall (1991)
lebih menyukai “yang realistis” dugaan
organisasi, seperti para pelaku, dan Helgeson (1990) catat bahwa wanita yang
bertanggung-jawab atas organisasi sering kali berpikir tentang mereka sebagai penghubung
jaringan yang kompleks. Ini contoh yang terbaru yang tidak membuang secara
penumpamaan berbagai kemungkinan. Bagaimanapun, mereka sungguh memverifikasi
model fakta dugaan tunggal bahwa organisasi bersifat lazim dan, pada waktu yang
sama, berbeda secara drastis dari hidup yang ada dari organisasi yang modern.
Di tengah pengembangan kaya dari kiasan ini, merupakan suatu keperluan praktis
untuk par pendidik untuk menguji apapun juga tentang komunikasi organisasi
dengan suatu keraguan yang sehat dan mata yang untuk menemukan kiasan dan teori
yang sebenarnya adalah mahluk yang digunakan pada setiap pertukaran. Itu adalah
sesudah itu sangat mendesak untuk memahami kuasa dari kiasan sebagai alat
organisasi sekolah tersebut pengkonseptualkan karena berfungsi dan meningkatkan
dari waktu ke waktu di bawah tekanan dari konflik yang tetap. Sebagai contoh,
meski para pendidik di pengaturan sekolah boleh lebih suka berpikir tentang
diri mereka seperti pengembang dari manusia, mereka sering kali menemukan bahwa
peran yang digelapkan oleh “kendali” fungsi yang kelihatannya kontradiktori di
dalam tujuan atau penekanan.
Apa yang memandang dunia
dan apakah teori yang dihubungkan dengan “kendali,” apa yang memandang dan
teori dihubungkan dengan “pengembangan,” dan apa yang bagian dari komunikasi
memainkan ketika kita melanjutkan menyelidiki pendidikan yang diterma di
sekolah melalui kiasan ini? Pertanyaan
seperti itu perlu memandu sekolah, pengurus dan cerminan guru yang kritis
tentang sasaran, tujuan, proses, hasil, dan pemegang saham dalam komunikasi
organisasi.
8.5.
Fitur Pembeda Komunikasi Organisasi
Komunikasi terjadi dalam
konteks yang berbeda dalam organisasi. Berelson dan Steiner (1964)
menggambarkan empat kekayaan organisasi bahwa mempengaruhi konteks ini.
Pertama-tama, suatu organisasi yang khas ditandai oleh formalitas. Secara
rinci, itu mempunyai sasaran, peraturan, kebijakan, dan prosedur bahwa
mengakibatkan wujud dan menentukan bagaimana itu akan dikomunikasikan secara
resmi. Ke-dua, organisasi bersifat tersusun pada suatu cara yang hirarki.
Struktur ini mempola komunikasi multi-arah. Ketiga, ukuran organisasi menuju ke
untuk melarang pengembangan dari hubungan pribadi yang dekat dengan semua
anggota yang lain dan membatasi lingkup dari komunikasi organisasi yang informal.
Akhir, organisasi paling sering kali ada di luar batasan waktu dari suatu hidup
yang diberi anggota. Mereka memasukkan sekolah akan sungguh pasti mengenali
fitur ini ketika bersinggungan kepada organisasi bidang pendidikan. Mereka
boleh juga mengenali Berelson itu dan perumusan Steiner adalah beberapa dekade
tua dan boleh mewakili; menunjukkan aspek organisasi sekarang di dalam
perubahan terus menerus. Pada waktu yang sama, salience dari Berelson dan teori
Steiner dan struktur organisasi yang ada dari banyak sekolah di Amerika Serikat
menyatakan bahwa tantangan tatapan sekolah dari abad 21 bisa ke luar dan
struktur dan konteks mereka yang tua mungkin tidak cocok baik dengan komunikasi
dilain waktu memerlukan. Berelson dan teori Steiner melayani dengan baik,
bagaimanapun, sebagai suatu cetakan untuk mengerti unsur kunci dari organisasi
sekolah hari ini.
Jika fitur komunikasi organisasi
bahwa memisahkan dari macam lainnya komunikasi
yang sengaja berfokus kepada prestasi dari suatu tujuan kolektif atau
yang umum, lalu wujud yang spesifik tentang segala organisasi dapat diharapkan
untuk dicerminkan dalam wujud komunikasi
organisasi. Menurut Berelson dan landasan pemikiran Steiner bahwa wujud
mengikuti sasaran, berkomunikasi sasaran organisasi menjadi suatu “penyebab
yang pertama” dan pembentuk semua komunikasi organisasi. Ini adalah satu
dorongan di balik perakitan sekolah yang pertama dari tiap tahun akademi dan
penentuan sasaran yang tradisional bahwa beberapa pemimpin sekolah melakukannya
dalam forum tersebut.
Sasaran bersifat sia-sia
jika mereka tidak dikomunikasikan dalam tata cara yang bahwa mendaftarkan diri
usaha yang kerjasama dari para anggota organisasi. Tanpa niat itu untuk
mencapai sasaran, organisasi akan muncul untuk memiliki tidak ada tujuan. Tidak
mengejutkan bahwa mereka yang menulis tentang organisasi melihat pencapaian tujuan
dan komunikasi menjalin secara sistemis (Hoy & Miskel, 1987). Seperti Simon
(1957), mereka percaya tanpa organisasi tanpa komunikasi. Ini menempatkan suatu
tanggung jawab yang jelas bersih dari para pemimpin sekolah tidak hanya untuk
menetapkan dan memelihara komunikasi hanya juga untuk menjadi yakin bahwa itu
adalah yang efektif maupun dan efisien untuk pencapaian tujuan.
Banyak studi mendukung
pentingnya komunikasi dalam kepemimpinan organisasi. Hoy dan Miskel (1987)
menyatakan itu “para pengawas dan para pemegang saham membelanjakan 70% atau
lebih banyak waktu mereka untuk berkomunikasi (hal 356). Sigband dan Bell
(1989) melaporkan pejabat penanggungjawab itu di dalam korporasi pembelanjaan
78% dari waktu mereka di dalam komunikasi lisan, dengan belanjaan pada tingkat para
manajer lebih rendah di atas 80% dari waktu mereka dengan cara yang sama.
Murphy dan Peck (1980) mengutip kemampuan itu untuk mengkomunikasikan seperti
faktor yang kritis dalam promotabilas manajer. Itu akan muncul komunikasi
berkompeten bahwa dihormati lebih sangat dibandingkan dengan ketrampilan
seperti memotivasi karyawan, pengambilan keputusan, mendelegasikan,
fleksibilitas; dan latar belakang pendidikan. Dalam lembaga, institusi
pendidikan, Striplin (1987) menemukan bahwa kemampuan para pemegang saham
sekolah untuk melaksanakan secara efektif ketika intervensi para pemimpin
adalah tergantung pada derajat tingkat dari kemampuan mereka dalam berkomunikasi.
Komunikasi merupakan
sumbangan potensial kepada suksesnya organisasi yang hadir hampir pada semua
aktivitas organisasi, dari merencanakan; untuk memecahkan masalah dan
pengambilan keputusan, untuk mengkoordinir, mengendalikan, memenuhi,
mengevaluasi, dan pelaporan hasil organisasi. di sini dicoba untuk menyimpulkan
komunikasi organisasi efektif itu adalah, oleh karena itu, suatu obat mujarab
untuk semua organisasi menekankan dan berbagai kesulitan. Untuk
penyimpangannya. Hoy dan Miskel (1987) menunjukkan bahwa difusi komunikasi
memproses sepanjang organisasi membuat komunikasi organisasi sulit untuk
menguji sebagai suatu proses yang terpisah. Berbagai kesulitan dalam berkomunikasi
organisasi yang sering dicerminkan dalam permasalahan oker di sekolah tersebut yang
bersifat membangun. Sementara komunikasi dapat membantu tekad permasalahan, itu
dapat juga mengaburkan permasalahan lain tidak secara langsung dalam
pembahasan. Akhirnya, komunikasi menimbulkan tindakan meskipun mutu tindakan
itu diragukan, dan di sana tidak umum kesanggupan untuk tindakan. Para pemimpin
lemah dapat tanpa mengetahui menggunakan komunikasi untuk mempercepat rencana yang
tidak relevan atau yang tidak cukup.
Untuk meyakinkan pemimpin
sekolah tersebut efektivitas harus secara penuh sadar akan seluk beluk dari
sekolah tersebut unit kanal komunikasi di keduanya tingkatan informal dan
formal. Bagaimana pemimpin memudahkan transmisi suatu pesan yang diberi dapat
mengakibatkan suatu dengan sengaja, seksama perubahan yang mengarang musik
dalam perilaku staf atau siswa, Dengan batasan kenyataan, catatan Hoy dan
Miskel itu, pemimpin sekolah tersebut perlu untuk sadar akan kuasa/tenaga dari
semua komunikasi sebagai suatu kekuatan potensial untuk memelihara atau
menghancurkan beberapa aspek tentang hidup organisasi. Secara teoritis hal ini
meminta pengurus sekolah tersebut untuk meminjam dari Yuki's (1989) teori peran
sekitar dari seorang pemimpin melawan bahwa dari “manajer” di suatu sekolah.
Yuki mengusulkan bahwa pengurus yang efektif mungkin mengetahui untuk
komunikasi sebagai seorang manajer dan untuk komunikasikan sebagai seorang
pemimpin. pada kasus pembentuk, pengurus memilih untuk memperkecil suara gaduh
dengan pesan pengiriman, mengembangkan saluran, dan monitoring, umpan balik
dalam menentukan peran yang dengan jelas digambarkan. Sebagai contoh, suatu
pengurus sekolah akan memberi staf nya suatu daftar pertanyaan, daftar tilik
yang tertulis mengenai meminta penyediaan. Staf menulis suatu tanggapan yang
tertulis pengurus sesudah itu bereaksi kepada bentuk dari kebijakan yang ada.
Sebaliknya, sebagai satu
pengurus mencari staf pendukung di satu terbitan, yang terbaik untuk dinasehatkan
menggunakan bermacam keahlian berkomunikasi, dalam satu usaha untuk mendapatkan
komitmen sebagai satu terbitan. Ini adalah suatu fungsi kepemimpinan dan
menurut Yuki (1989), diperlukan pemahaman administratif komunikasi dan suatu
daftar lagu yang bervariasi keahlian berkomunikasi. Di dalam menguji proses
komunikasi, pengurus sekolah tersebut di suatu proses kontinyu menggeser peran
dari manajer sampai pemimpin.
8.6.
Faktor yang Mempengaruhi Kejelasan,
Kredibilitas, dan Direksional Pesan Organisasi
Khandwalla (1987)
menyatakan bahwa sasaran pokok komunikasi untuk mendapatkan perhatian dan
mendapatkan pengertian dan penyetujuan pesan. Sigband dan Bell (1989) menantang
bahwa tujuan komunikasi adalah untuk dipahami tepat seperti yang diharapkan,
untuk mengamankan tanggapan yang diinginkan, dan untuk memelihara hubungan yang
baik dengan mereka yang mempunyai satu komunikasikan. Reitz (1987) percaya
bahwa fungsi utama komunikasi adalah untuk menyediakan informasi yang membuat
organisasi dapat menyesuaikan perubahan diri untuk perintah dan instruksikan
karyawan, dan untuk mempengaruhi dan membujuk anggota organisasi. Proses
melibatkan dalam memenuhi tujuan ini yang dikenali sebagai pendukung sukses
atau kegagalan dari suatu akhir yang diberi. Seorang pemimpin manapun boleh
berlangganan dari sasaran komunikasi ini baik sebagai satu ungkapan kesanggupan
untuk organisasi dan sasaran atau sebagai satu ungkapan suatu keinginan yang
pribadi untuk kuasa dan pembesaran sendiri. Filsafat pemikiran komunikator itu
dan motivasi pribadi, oleh karena itu, mempengaruhi kredibilitas kejelasan,
direksional, dan bahkan proses komunikasi diri sendiri. Memperagakan komunikasi
sebagai suatu proses pura pura mekanis, bermakna kepada satu akhir, data daun
ke luar psikologis penting. Meskipun demikian, linear, model mekanis pesan
pengirim pengolahan informasi chanel-penerima-timbal balik, adalah titik awal
yang umum untuk pembicaraan. Ketinggalan tentang komunikasi (lihat Gambar 8.1).

Menggunakan suatu model pura-pura
mekanis komunikasi mengizinkan peneliti itu untuk menguji unsur-unsur terpisah
dari proses komunikasi tanpa beban dari analisa yang holistik. Dengan demikian,
di dalam menyatakan unsur, pengirim dan penerima, model linear membuat yang
mungkin kepada pengkonseptual, komunikasi sebagai suatu pembagian pesan,
gagasan, atau sikap yang menghasilkan suatu derajat tingkat tentang pemahaman di
antara unsur. Gagasan untuk bermaksud membagi bersama mengizinkan studi dengan
baik dengan maksud tertentu dibagi bersama. Membagi bersama maksud,
bagaimanapun, dapat meragukan ketika niat penerima itu boleh berbeda dengan
yang terbayangkan oleh pengirim.
Model linear menyediakan
suatu titik awal bukan tidak seperti titik awal psikologi tingkah laku. Ada
suatu pengirim atau “sumber” dari suatu stimulus di suatu tempat di dalam
lingkungan untuk mematuhi dan menimbulkan suatu tanggapan dari penerima. Model
komunikasi menyisipkan suatu saluran antara pengirim dan penerima sehingga
menanggapi variasi dapat ditempatkan dan dicatat. Pengenalan proses yang intrapisik
dalam pengirim dan penerima membantu ke arah yang meliputi hambatan komunikasi
manusia dan untuk pertentangan dalam pesan maksud. Pengulangan umpan balik
mengalahkan linearitas yang penting model awal, jengkalan untuk mengunjungi
lagi setiap unsur di dalam proses.
Suatu anggapan dasar
tentang komunikasi organisasi adalah karena jika pesan benar dikirim dan jika
frekuensi kejelasan dan kelengkapan pesan adalah ditingkatkan itu, kemungkinan
bahwa para anggota organisasi akan sedang bekerja terhadap suatu gol yang
dibagi bersama atau yang umum adalah ditingkatkan. Pada spesialisi komunikasi antaran
organisasi ini untuk menempatkan penekanan yang pantas dipertimbangkan wujud pesan
dan “saluran” yang membawa pesan. Niat mereka untuk menghindari saluran bahwa
hasil statis atau penyimpangan, atau, jika itu saluran harus biasa, untuk
mengurangi kejadian dari “suara gaduh,” statis, atau penyimpangan di antara
mereka. Saluran termasuk lisan, yang ditulis, dan penaklukan yang ditengahi
pesan.
Sigband dan Bell (1989)
mengenali dua kanal komunikasi, informal dan formal. Saluran komunikasi formal
termasuk alir informasi secara organisasi menghukum seperti surat elektronik,
pertemuan yang dijadwalkan, dan keperluan fungsional lain. Yang informal, “grapevine”
saluran menyediakan akses kepada informasi tidak secara normal memperoleh melewati
saluran formal. Khandwalla (1987)
mengutip telepon dan percakapan berhadapan seperti makna yang utama untuk
komunikasi yang informal. Pengurus dapat memonitor iklim organisasi dengan
menghiraukan pesan di dalam grapevine. Mereka boleh bahkan dengan sengaja “kebocoran”
statemen off-the-record kepada
saluran informal untuk memonitor komunikasi mengalirkan. Keuntungan tentang
menggunakan komunikasi yang informal adalah karena itu memindahkan informasi
sangat dengan cepat. Jaringan komunikasi yang informal mencegah suatu ruang
hampa komunikasi. Jika saluran yang formal tidak bekerja, mereka yang informal
akan pengambil-alihan. Yang menjadi masalah dengan saluran yang informal
ketidaktepatan mereka yang potensial, Ketiadaan daun sanksi resmi secara
informal menyampaikan pesan di dalam kekuasaan penyimpangan yang tidak
terkendali ketika mereka berjalan sepanjang grapevine.
Sigband dan Bell (1989)
menggolongkan hambatan komunikasi yang utama di bawah dua konsentrat: lisan dan
nonverbal. Penghalang nonverbal termasuk perbedaan di dalam persepsi, ketiadaan
minat terutama sekali pada pihak penerima, ketiadaan pengetahuan pokok atau
dasar teori spesifik untuk mengerti suatu pesan, karakteristik pribadi seperti
kepribadian, emosi, prasangka, reaksi kepada penampilan dari komunikator,
kebingungan atau campur tangan nyata, organisasi lemah, lemah mendengarkan, dan
kompetisi untuk perhatian penghalang lisan termasuk bahasa, dapat mengakibatkan
“ilmu semantik permasalahan,” atau kosa kata yang tidak cukup, keduanya yang
mempengaruhi pengertian.
Kategori yang besar dari
hambatan lain komunikasi diakibatkan oleh perbedaan budaya. Ini adalah terutama
sekali jelas di Amerika Serikat di mana para pendidik terus menerus harus
menunjuk perbedaan budaya dari populasi yang berbeda baik siswa dan masyarakat.
Hentges, Yaney, dan Shields (1990) mencatat “bahwa karena “tidak ada dua
kelompok pernah, selalu merasakan sejarah budaya sama, pesan menjadi lebih
rancu dan tidak cocok pada suatu populasi lebih heterogen. Untuk mengurangi
kemungkinan potensi kesalah pahaman atau perselisihan, pesan yang harus
diulangi banyak kali” (Hal 39-40). Kesalah pahaman muncul ke luar dari
penyimpangan mengenai aksen dan bahasa, secara kultural menggambarkan tanda dan
bahasa tubuh, derajat tingkat yang bisa diterima dari dekatnya secara fisik,
artinya suatu kontak jabat tangan dan mata, pilihan setuju atau tidak terhadap
otoritas yang kuat menggambarkan, dan sistem penggolongan membawa dari negara lainnya. Keaneka ragaman acuan budaya
kepada kekurangan-baikan atau kegembiraan boleh kelihatan tak dapat dijelaskan
atau tingkah mereka yang di luar kultur tertentu itu. Suatu budaya yang kurang
membujuk penakut orientasi saat ini juga sebagai ganti terhadap masa depan itu
bisa salah ditanggapi sebagai ketiadaan ambisi atau kemampuan untuk
merencanakan. Peran dan makna dari para anggota keluarga minoritas yang
tertentu boleh kelihatannya tidak biasa kepada kultur yang dominan. Satu siswa
Asia, sebagai contoh, tidak akan mampu menjawab suatu pertanyaan langsung
sampai banyak para anggota keluarga yang lebih tua adalah berkonsultasi.
Aneka pilihan menjadi tak
langsung atau langsung bisa secara kultural ditentukan, dan pesan simbolis
sering unik kepada negeri asal-muasal. Menaklukkan penghalang komunikasi ini
meminta memperlengkapi pengalaman yang dibagi bersama, secara teratur, sering
kali, dan variasi besar, dengan satu penekanan dibandingkan menghakimi
perbedaan. pengurus sekolah masa depan Amerika tidak bisa mengabaikan informasi
demografis bahwa mengamanatkan kesadaran multikultur.
Kredibilitas pengirim itu
adalah selalu menjadi taruhan dalam berkomunikasi organisasi. Khandwalla (1987) mencatat bahwa sumber
informasi yang harus dirasa sebagai sifat yang banyak mengetahui terpercaya.
Dengan demikian, suatu memo sekitar status keuangan suatu daerah sekolah perlu
datang dari petugas daerah yang keuangan dibandingkan spesialis kurikulum jika
itu untuk membawa kredibilitas maksimum. Bagaimanapun, kredibilitas tidak
bergantung daripada posisi sendirian. Kedua reputasi ahli dan dengan pengalaman
berkelanjutan dengan suatu komunikator menciptakan suatu angka prestasi dari
kredibilitas atau tidak kredibilitas. Begitu kredibilitas lenyap, itu adalah
sulit, bukan yang mustahil untuk memperoleh kembali organisasi di mana kerugian
terjadi.
Pesan pemula dapat menilai
tingkat di mana transmisi sukses yang terjadi dengan memberi harapan kepada
umpan balik dari penerima. Terutama kritis di pengaturan sekolah. Konsep dari
umpan balik sering dihubungkan dengan Wiener (1954) miliknya dalam diskusi awal
cybernetics. Dicybernetics, umpan balik mengacu pada kemampuan seseorang dan
tentang beberapa mesin untuk mendeteksi satu kesalahan atau penyimpangan dari
apa yang diinginkan dalam satu operasi. Umpan balik mengidentifikasi
penyimpangan dan komunikasikan penyimpangan itu untuk suatu mekanisme kendali
yang membuat suatu koreksi yang berikutnya. Sistem pakar bahkan menyarankan
tindakan alternatif baru. Di dalam praktek komunikasi yang populer, umpan balik
mengacu pada tanggapan nonverbal atau lisan menerima dari individu atau
kelompok untuk siapa pesan itu dingarahkan. Umpan balik menyiratkan sedikitnya
suatu komunikasi dua jurusan. Dengan umpan balik, pemula pesan dapat sedikitnya
membuat suatu penilaian yang kasar apakah pesan itu diterima seperti diharapkan
yang dikodekan untuk menghasilkan maksud dasar sama seperti ketika disandikan
oleh pengirim. Umpan balik membantu ke arah mendeteksi kesalah pahaman ketika
itu adalah tepat waktu dan akurat. Jika yang tertunda atau yang disimpangkan
oleh organisasi atau yang hubungan antar pribadi “suara gaduh,” umpan balik
bisa sia-sia. Umpan balik adalah paling efektif ketika diperoleh dekat dengan
waktu pesan transmisi sebagai yang mungkin (Sigband & Bel, 1989;
Hellriegel, Slocum, 1986; Shockley-Zalabak, 1988).
Mengenali fitur organisasi
bahwa mempengaruhi kejelasan pesan, kredibilitas, dan direksional adalah suatu
fungsi pengurus sekolah tersebut dalam peranan dari seorang pemimpin. Seperti
informasi mengungkapkan atas, menemukan penghalang kepada komunikasi yang
efektif memerlukan pemimpin itu untuk menguji saluran organisasi melalui lensa
multidimensional. Pengujian ini akan terjadi melalui cerminan sekolah tersebut
pemimpin peristiwa kritis dalam proses komunikasi. Pada setiap peristiwa,
pemimpin sekolah tersebut mengidentifikasi variabel situational yang
menimbulkan suatu campuran pendekatan komunikasi. Suatu model yang berdasarkan
norma dari kepemimpinan adalah yang dibangun atas latihan situational dari
berbagai ketrampilan pada berbagai waktu. Tidak seorang pun
variabel/kemampuan/pendekatan umum bekerja dengan derajat pada tingkat yang
sama dari kemanjuran pada setiap situasi kepemimpinan. Model ini kepemimpinan
yang terbaik diberlakukan sebagai praktek komunikasi. Sama seperti kejelasan,
kredibilitas, dan direksional dipengaruhi oleh perubahan keorganisasian,
persepsi pengurus organisasi yang bersih dan tenaga komunikasi sebagai suatu
agen pengutamaan harus terus menerus mempertajam. Tidak seorangpun menetapkan
rumusan untuk monitoring mutu komunikasi untuk pengaplikasian suatu organisasi
sekolah yang kompleks. Basis pengurus sekolah tersebut konteks komunikasi
memproses atas situational yang memerlukan menciptakan peristiwa komunikasi.
Smith dan Piele (1989)
percaya, aneka pilihan komunikasi yang dibuat oleh pemimpin sekolah, seperti
aspek lain dari praktek mereka, harus mencerminkan tiga kemampuan: situational
kepekaan bahwa memungkinkan mereka untuk mendiagnosa permasalahan,
fleksibilitas gaya dengan mengizinkan mereka untuk bertemu praktek tertentu
sewajarnya kepada situasi, dan ketrampilan manajemen situational bahwa
memungkinkan mereka untuk mengubah aspek dari situasi untuk gaya cocok
pekerjaan. Kepemimpinan di sekolah adalah konteks, yang terikatan. Di mana pun
juga lebih jelas dibandingkan pada kejadian komunikasi di mana pengurus harus
bertindak sesuai dengan sesuatu secara terus menerus mengubah iklim dan kultur
yang mempengaruhi ketelitian dan difusi pesan-pesan.
8.7.
Jenis dari Pesan
Direksional
Dalam hirarki organisasi,
komunikasi mengarahkan ke arah bawah, menaik, dan menyamping di kebanyakan
organisasi dan pasti paling secara tradisional merancang sekolah Amerika,
komunikasi vertikal menurunkan dominasi (Khandwalla, 1987) dan lapisan yang
bocor berurutan dari organisasi sampai itu menjangkau anak sekolah dan tidak
ada pengawasan personil. Saluran pada umumnya dari variasi yang formal. Mereka
mengarahkan, menginstruksikan, mengisi dengan ajaran, mengilhami, atau
mengevaluasi. Wujud umum komunikasi ke bawah termasuk kebijakan dan prosedur,
pesanan dan surat peringatan, pedoman dan laporan untuk berbagai stakeholders,
dan pengumuman dianggap sebagai tentang minat kalayak ramai.
Suatu masalah dengan vertikal,
komunikasi menurun adalah karena itu didasarkan di “perlu untuk mengetahui.”
Stakeholders terjauh dari kantor eksekutif yang hanya memerlukan banyak
keterangan bahwa kemungkinan mereka untuk melaksanakan yang ditugaskan kepada
mereka. Selalu lebih membatasi ketika mereka menggerakkan melalui organisasi,
sering kali meninggalkan tingkatan para anggota yang paling rendah tanpa suatu
pengertian, dari tanah mencuat ke laut yang dihubungkan kepada organisasi dan
tujuannya. Pengurus sekolah, para manajer bisnis, dan para penyelia memutuskan
berapa banyak untuk komunikasi dalam wujud aslinya, berapa banyak untuk
mengedit, menambahkan, menginterpretasikan, atau menghapuskan pada masing
tingkat berikutnya. Dalam sebuah studi, Reitz (1987) mempertunjukkan pada saat suatu pesan dari manajemen puncak di dalam
bisnis menjangkau para pekerja yang individu 80 % dari pesan yang asli sudah
disaring dari struktur formal dan
informal.
Untuk mengalahkan erosi
pesan, organisasi sekolah perlu untuk merumuskan metoda yang spesifik untuk pesan
berkomunikasi yang berbeda. Perencanaan perlu secara minimal menunjuk dasar permasalahan
seperti memberi tahu ke semua yang terkait kelompok aktivitas dan/atau
permasalahan yang berkelanjutan, mengumumkan rencana masa depan, arah, dan
sasaran memberi harapan kepada komunikasi dua jurusan memastikan ketepatan
waktu dari pesan dan menjatahkan dana untuk komunikasi bermaksud. Sigband dan
Bell (1989) memperingatkan sponsor administratif berkomunikasi ke bawah dapat
mencegah pemalsuan di dalam grapevine
dari “fakta-fakta.” Menetapkan komunikasi baik dari serangan adalah paling
sedikit mahal.
Cabang samping atau
komunikasi horizontal terjadi antara orang otoritas yang sama yang mengukur di
dalam hierarki. Panutan organisasi membelanjakan sejumlah besar waktu
memberitahukan satu sama lain, lebih banyak waktu dibanding habiskan
memberitahukan superior mereka (Reitz, 1987). Sigband dan Bell (1989)
pertanyaan efisiensi komunikasi ke samping, mempertimbangkan tekanan betapa
kecil ada dalam organisasi untuk menggunakan secara produktif. Pemecahan
masalah dan koordinasi dengan jelas ditingkatkan oleh komunikasi ke samping,
dan duplikasi usaha sering dihindarkan atas pertolongan puasa, tukar langsung
dari pesan yang terlepas dari rantai perintah. Bagaimanapun, potensi kerugian
dari komunikasi ke samping akan termasuk penggunaan berlebihan, suatu
penguburan dari panutan ke dalam memo tidak logis, atau suatu peningkatan dalam
“aktivitas” bahwa membawanya dengan suatu kesan yang palsu produktivitas. Di sana
boleh juga adalah satu pertukaran yang berbeda, dengan beberapa panutan yang
menahan informasi sebagai satu latihan dari kuasa. Karena biasanya tanpa sistem
dari tanggung-jawab melibatkan ke dalam komunikasi ke samping, arbitrer yang bertukar
karena kuasa yang terjadi dalam
pengaturan ini dapat berbahaya kepada organisasi.
Kemanjuran dan volume
komunikasi ke atas bergantung pada derajat tingkat dari stakeholders kepercayaan tingkat yang lebih rendah itu mempunyai di
dalam atasan mereka. Komunikasi ke atas berfungsi kepada atas yang siaga
tingkat manajemen sekolah kepada iklim, aktivitas, dan kinerja merosot atau
perbaikan yang berasal dari perhatian di akar rumput tingkat organisasi. Benar
begitu dengan komunikasi ke bawah, penyaringan selektif terjadi. Menyaring
terjadi karena karyawan tingkat yang lebih rendah sering kali mengatakan kepada
Superiors mereka apa yang mereka berpikir itu para penyelia ingin mendengar,
seperti itu memperkenalkan “penyimpangan yang positif” terhadap diri mereka
melalui informasi mereka lewat menaik
(Krivonos, 1982). Personil pada dasar piramida yang organisasi jarang mengambil
resiko dalam memulai komunikasi ke atas mereka sendiri menyetujui.
Mekanisme-mekanisme sering memasukkan ke dalam tempat hanya untuk mendorong
komunikasi seperti itu. Mekanisme ini akan termasuk pemakaian usul karyawan
bertinju, ciptaan mutu melingkar atau karyawan (atau siswa) dewan, dan
pemakaian berbagai karyawan dan klien meneliti teknik. Keadaan tanpa nama
adalah selalu satu terbitan dalam pertemuan data pada semua tingkat dari
organisasi.
Organisasi pendidikan
secara umum siaga kepada kebutuhan untuk berkomunikasi dengan masyarakat
sebebasnya, seperti juga kebutuhan untuk mendaftarkan diri keikutsertaan dari
bahwa lingkungan eksternal. Itu adalah pejabat administrasi sekolah untuk
memelihara “sistem terbuka” perspektif, sehingga informasi masuk dan pergi ke
luar adalah ketika berguna bagi semua yang terkait. Kefalas (1977) mempertimbangkan pemantauan
hati-hati dan tanggapan kepada komunikasi yang berikutnya satu mengidentifikasi
karakteristik dari organisasi yang efektif. Reitz (1987) menggaris bawahi
pentingnya komunikasi eksternal dengan mengutip suatu studi dari bisnis kecil
bahwa menunjukkan suatu hubungan positif yang langsung antara waktu membelanjakan
dalam komunikasi sukses dan bisnis keuangan yang keluar. Komunikasi dengan
masyarakat sebebasnya memerlukan suatu peran kepemimpinan yang terbatas untuk
pengurus sekolah tersebut. Kemungkinan untuk suara gaduh organisasi
meningkatkan seperti ukuran dari kelompok penerima meningkatkan oleh karena
campur tangan psikologis dan budaya. Sekolah harus terus meningkatkan belajar
untuk bersandar pada dukungan dari masyarakat lokal. Pengurus itu dapat
menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi bahwa dukungan. Dalam hal ini
pengurus, seperti rekan pendamping di dalam organisasi yang lain, harus proyek
suatu visi dan mencari untuk menerapkan visi itu melalui partnerships dengan masyarakat. Bagaimanapun, visi bukanlah cukup.
Sekolah harus menggunakan agen manusia apakah itu pertemuan dewan sekolah,
laporan berkala, atau penampilan publik, untuk mengerahkan para anggota
masyarakat untuk berbagi nilai dari visi. Hal ini memerlukan komunikasi
langsung dan selektif. Ciptaan kanal komunikasi yang baru dapat menerapkan
nilai yang dibagi bersama dengan masyarakat. Masyarakat dan sekolah menjadi
kongsi aktif di dalam sistem yang lebih besar, masyarakat.
Jaringan komunikasi adalah
suatu kasus yang khusus direksional yang disertai komunikasi vertikal dan
horisontal. Sebagian besar awal riset pada jaringan komunikasi diselenggarakan
dalam pengaturan laboratorium dan memfokuskan barang kepunyaan secara komparatif
dari jaringan yang didesentralisasi dan yang dipusatkan di mutu komunikasi.
Meski variasi dan pengembangan ada, dua pola dasar dapat digunakan untuk
mewakili; menunjukkan jaringan yang didesentralisasi dan yang dipusatkan dalam
kemudi dan lingkaran. Di dalam jaringan terpusat, atau pola kemudi, batasan orang
luar kemudi mengirimkan komunikasi mereka kepada pusat kegiatan yang
mengendalikan di atas distribusi informasi. Struktur dari jaringan ini
memaksakan sendiri dari hirarki, dengan pusat kegiatan yang menjadi figur
eksekutif. Di dalam jaringan yang didesentralisasi, atau pola lingkaran, semua
anggota berkomunikasi dengan mereka yang bersebelahan, dan jaringan menghindari
struktur hierarkis. 1990 Helgeson) “Jaringan“ gambaran organisasi kombinasikan
jaringan kemudi dan lingkaran, dengan komunikasi pada masing persimpangan. Web (1978)
juga mengacu pada persimpangan kanal komunikasi di dalam “hidup sistem” sebagai
suatu jaring.
Ukuran efisiensi sukses di
dalam memecahkan masalah, Hall (1991) menantang bahwa mengulangi penyelidikan
sudah menemukan pola kemudi untuk bersifat lebih pandai daripada pola
lingkaran. Khandwalla (1987) berkualitas bahwa posisi dan mengusulkan bahwa
efektivitas dari pola yang berbeda bergantung pada sifat alami tugas. Ia
menemukan bahwa dengann memusatkan pola bersifat lebih cepat dan lebih banyak membebaskan
kesalahan untuk tugas yang sederhana, selagi jaringan yang didesentralisasi
melaksanakan lebih baik jika permasalahan itu bersifat kompleks dan tak diduga.
Fisherman (1978) mencatat bahwa meski kemudi bisa merupakan suatu wujud yang
efektif dari jaringan, efektivitas adalah sebagian besar ketidak-tentuan atas
pengkodean dan memecahkan kode ketrampilan dari setiap pendudukan, pusat
kegiatan posisi.
8.8.
Faktor lain yang
Mempengaruhi Komunikasi Organisasi
Reitz (1987) mendaftarkan
variabel utama yang mempengaruhi arah, frekuensi, dan kepuasan peserta dengan
komunikasi. Ini termasuk ketersediaan peluang untuk saling berhubungan, tingkat
derajat yang lekat dengan kelompok, status dari individu atau kelompok, dan mengalirkan
komunikasi dua arah. Masing-masing mempertimbangkan pentingnya lingkungan di
sekolah.
Komunikasi diantara individu dan
kelompok dapat membantu perkembangan dengan pengaturan phisik dan jarak
psikologis sedemikian sehingga fasilitas umum bersama dan interaksi adalah
suatu kejadian alami. Campbell dan Campbell (1988) menunjukkan dalam studi dari
lingkungan dan interaksi secara fisik adalah peramal yang kuat dari penggunaan kursi
panjang/antrian dan bahwa satu pengaruh pada jenis yang informal dapat berkomunikasi,
oleh karena itu, adalah pendugaan. Bermacam studi bisnis sudah menunjukkan
bahwa para manajer saling berhubungan paling sering dengan para bawahan yang
ditempatkan di kantor dekat dengan mereka. Sudah jelas hasil ketidak adilan komunikasi
organisasi. Mengubah hubunhan tata ruang terjadi melalui kepemimpinan dari
suatu pengurus sekolah. Pengaturan ruang modeling baru boleh memperbaiki
hubungan dan bentuk komunikasi.
Keterpaduan dan komunikasi
satu sama saling menguatkan. Seperti tingkatan yang naik, demikian juga tingkat
yang lain. Status mempengaruhi keduanya frekuensi dan arah komunikasi karena
individu cenderung untuk mengarahkan komunikasi mereka kepada individu dari
sebangun atau status yang lebih tinggi. Reitz (1987) yang ditujukan ini kepada
persepsi minat banyak orang, kepada pengalaman yang dibagi bersama, atau kepada
penguatan timbal balik. Hasil yang diinginkan interaksi dengan perorangan dari
status yang lebih tinggi bisa untuk menggerakkan semakin dekat kepada orang
yang mengendalikan struktur penghargaan organisasi.
Komunikasi dua langkah mengacu
mengalirkan suatu itu tergantung kepada proses keadaan di kontak pribadi dengan
“pembentuk opini” yang pada gilirannya dipengaruhi oleh informasi yang
ditengahi dari dalam dan luar organisasi. Informasi dipancarkan kepada
pembentuk opini dihamburkan kepada sebagian besar dari orang memutar kepada
pembentuk opini untuk “berita” dan “pengetesan kenyataan” poin dari mereka
sendiri pandangan. Ini adalah satu proses yang penting untuk pengurus
pendidikan yang bergantung pada kontak seperti itu untuk alat penghubung sukses
dengan masyarakat yang lokal. Terkecuali barang kepunyaan yang dicetuskan oleh
status atau jarak, pilihan dan persepsi juga mempengaruhi pengertian dan
menyeluruh efektivitas dari suatu lingkungan komunikasi. Reitz (1988) melaporkan bahwa komunikasi
antar muka menuju ke untuk menjadi lebih efektif dibanding komunikasi tertulis
(yaitu jika isyarat nonverbal dan lisan bersifat dapat dipertukarkan) tetapi
mengakui bahwa komunikasi tertulis menuju ke untuk menghasilkan pengertian
lebih besar. Jika penerima pada umumnya bersandar pada bimbingan eksternal dan
dipengaruhi untuk mematuhi informasi yang disediakan oleh yang lain, pesan itu
akan lebih mungkin untuk memiliki pengaruh yang diinginkan. Jika, sebaliknya,
penerima itu adalah bebas, yakin, dan pengarahan diri, pesan mungkin tidak saling
mempengaruhi. Dalam isyarat nonverbal dapat mempengaruhi efektifitas komunikasi
yang manapun oleh kolaborasi atau membantah suatu pesan lisan yang diberi atau
dengan menyampaikan suatu pesan yang tidak terikat pada material lisan untuk
ujian pastel.
8.9.
Suatu Sampling Pendekatan
untuk Komunikasi Organisasi
8.9.1.
Pendekatan fungsional dan struktural
Pemenuhan produktivitas dan
tugas adalah keluaran (sasaran) dari perhatian yang utama kepada para penganjur
pendekatan fungsional struktural kepada komunikasi. Shockley-Zalabak (1988)
menyatakan bahwa ini diakibatkan karena mengadopsi prinsip dari manajemen
ilmiah, mencontoh para penulis seperti Max Weber, Henry Fayol, dan Frederick
Taylor. Pendekatan ini berasal dari suatu dasar manajemen teoritis yang
birokratis dan mengakibatkan gaya komunikasi dari kepala, bawah, formal, dari
beban yang moderat, dan tunduk kepada penyimpangan minimal.
Model ini bermanfaat
kebanyakan sekolah negeri di Amerika Serikat hari ini. Menguji pendekatan
struktural/fungsional, beserta muncul perhatian dari ahli Teory General Systems menyediakan suatu pemahaman yang lebih jelas
struktur organisasi terbenam dalam sistem persekolahan kita yang aktif. Oleh
model pemahaman ini, satu pengurus akan lebih jelas mengenali perbedaan dalam
peran, administrator sebagai manajer dan administrator sebagai pemimpin.
Seperti yang gigih panggilan untuk perubahan sekolah mengakibatkan
restrukturisasi sekolah, adalah wajar untuk konflik dari peran kepada variabel
yang mempengaruhi iklim dan kultur sekolah, ledakan pengetahuan, peningkatan teknologi
dengan cepat mengubah keluarga, dan peningkatan kemiskinan nasional dan tekanan
politis memaksa perubahan dalam pengorganisasian sekolah. Perubahan ini adalah kekuatan
pada peran pengurus sekolah. Muncul, pengurus yang sukses niscaya adalah para
pemimpin yang mempunyai suatu pemahaman yang penuh sejarah dan struktur
organisasi. Juga, para pemimpin ini tidak akan dikendalikan dalam memimpikan
mode untuk kedua pemahaman dan mengasah kembali sekolah daerah mereka untuk
sukses melalui penggunaan secara seksama komunikasi.
Lebih baru ini
struktural/fungsional teori komunikasi organisasi telah dikuasai oleh
pendekatan sistem (Kefalas, 1977: Littlejohn, 1989: Shockley-Zalabak. 1988).
Peneliti ini memandang pengolahan informasi seperti fungsionalnya primer sistem
komunikasi organisasi. Organisasi itu definisikan sebagai suatu sistem menyusun
dari unit atau subsistem yang saling berhubungan. Sistem secara keseluruhan
dapat dibedakan dari sistem lainnya atau organisasi karena memelihara batasan
organisasi. Jika, bagaimanapun, sistem bersikap terbuka, yaitu menerima dan
menggunakan informasi lingkungan dan juga berkomunikasi keluar kepada
lingkungan, kemungkinan keberhasilan akan lebih besar jika itu memelihara
batasan yang tertutup dan hanya hidup secara internal menghasilkan, informasi
lebih terbatas. Karena sekolah sangat sensitif kepada lingkungan mereka,
pendekatan sistem memohon ke pengurus sekolah sebagai suatu model untuk
mempelajari komunikasi internal dan eksternal.
Sistem komunikasi adalah tempat
terbuka, informasi yang datang berikutnya disebut masukan. Proses dengan
masukan diubah menjadi suatu wujud yang dapat dipakai oleh system yang dikenal
sebagai keluaran. Informasi memancarkan sistem keluar ke lingkungan, apakah
dengan sengaja atau tanpa disengaja, dikenal sebagai keluaran. Gambar 8.1
menunjukkan satu model keluaran masukan komunikasi. Banyak Ahli teori sistem umum
memperingatkan bahwa model yang terlalu sederhana itu memperlihatkan kekurangan
kemampuan itu untuk model unsur dan dinamika yang kompleks dari proses
komunikasi yang nyata. Ahli teori sistem menemukan figur seperti itu terlalu
linear dan jauh lebih sistematis dibanding yang sistemik, karena model
mengaburkan kesempurnaan dan orientasi holistik dalam paradigma sistem.
Barnard (1938) dihargai
oleh banyak pengarang sebagai suatu pelopor pada aplikasi konsep sistem kepada
studi organisasi dan komunikasi organisasi. Farace, Monge, dan Russell (1977)
menggambarkan satu organisasi sebagai suatu sistem yang terdiri atas para
anggota yang pengkarakteristikannya saling tergantung; kepada siapa memproses
masukan, keluaran, dan siapa yang memperlakukan informasi sebagai suatu sumber
daya kritis untuk mengurangi ketidak-pastian. Di dalam kerangka ini, komunikasi
bergantung pada pemakaian wujud simbolis yang umum bahwa sudah secara luas
memahami referensi. Di sini informasi dibagi lagi ke dalam dua jenis: informasi
absolut bahwa secara bersama mengacu pada semua informasi di dalam sistem, dan
membagi informasi yang terletak pada tempat yang berbeda sepanjang sistem.
Informasi sering dilalaikan oleh pengurus sekolah dan para manajer lain.
Farace et al. (1977)
menunjukkan bahwa konseptualisasi mempromosikan diskusi komunikasi pada tiga
tingkatan: tingkatan sistem, tingkatan yang fungsional, dan tingkatan yang
struktural. Sistem mengukur tiga pertukaran hirarkis; individu mengkomunikasikan
dalam kelompok, dan kelompok-kelompok yang saling terhubung membentuk
organisasi atau jaringan makro. Tingkatan fungsional ada bukti dari tiga
operasi organisasi: produksi, inovasi, dan pemeliharaan. Di tingkatan
struktural, unsur komunikasi dari frekuensi, keteraturan, dan pola komunikasi
direncanakan.
Di tingkatan komunikasi
yang individu, "beban" adalah satu konsep yang penting. Beban mengacu
pada kuantitas, volume, tingkat, dan kompleksitas pesan (Shockley-Zalabak,
1988). Masalah utama berhubungan dengan beban termasuk hukuman mati, yang jelas
ketika aliran pesan jatuh di bawah kapasitas setiap untuk memproses mereka; dan
beban berlebih, yang mewakili; menunjukkan suatu arus dari pesan bahwa melebihi
kapasitas pengolahan informasi setiap. Kemajuan teknologi yang membuka peluang jumlah
transmisi yang sangat banyak dari pesan pada daftar biaya pengiriman barang sangat
tinggi telah bersumber dari beban berlebih yang kronis untuk banyak individu,
menghasilkan pengambilan keputusan lemah. Beban berlebih kronis adalah suatu istilah
resonansi itu dengan para guru dan pengurus mirip. Itu adalah sangat mendesak
bahwa satu pengurus memahami teknologi dan dampak pada komunikasi.
Pada tingkat komunikasi
organisasi, konsep utama itu adalah “aturan-aturan.” Aturan bersifat eksplisit
dan norma atau aksioma terkandung untuk komunikasi dalam organisasi. Secara
umum, aturan yang manapun taktis atau yang lagu pokok. Aturan pokok bersifat
norma tingkah laku bahwa mencerminkan nilai dan kepercayaan organisasi, dan
aturan taktis menentukan perilaku relevan kepada tema lebih umum, seperti
menunjuk secara berdasarkan persamaan kepada organisasi sebagai suatu “keluarga.”
dimasyarakatkan perorangan ke dalam satu organisasi dan siapa yang belajar
untuk berempati dengan itu akan secara umum mematuhi kedua aturan taktis dan
yang pokok.
Littlejohn (1989)
mempertimbangkan tiga struktur dalam pengaturan kelompok: jaringan mikro (pola
dari interaksi kelompok), struktur kuasa, dan struktur kepemimpinan (termasuk
peran pengaruh yang hubungan antar pribadi dari anggota kelompok). Berbagai
para anggota dan sambungan mereka melembagakan jaringan komunikasi. Sambungan
mempunyai lima kekayaan yang berbeda: (1) simetri (tingkat di mana para anggota
yang terhubung sederajat), (2) kekuatan (frekuensi interaksi), (3) hal timbal
balik (tingkat di mana individu setuju sekitar sambungan), (4) isi dari
interaksi, dan (5) gaya (sarana interaksi, lisan atau komunikasi tertulis). Di
dalam mikro, jaringan, individu mempunyai peran terpisah; jelas: bertindak
sebagai hubungan dengan kelompok yang lain, menjadi terisolasi dan pada pokok “bersambung,”
atau melaksanakan ketika penjaga pintu yang mengendalikan informasi masuk ke
dalam atau yang dilepaskan oleh kelompok.
Pendekatan sistem kepada
komunikasi organisasi adalah mampu menunjukan sejumlah besar dari
variabel. Littlejohn (1989) menantang,
bagaimanapun, bahwa pendekatan seperti itu tidak cukup meliput situasi variabel
yang bukan sistem.
Tidak ada pendekatan yang
tunggal yang berfungsi untuk menjelaskan atau mengidentifikasi semua variabel
dalam proses komunikasi, oleh karena itu, tanpa metoda yang tunggal komunikasi
akan mencukupi untuk semua situasi yang suatu pengurus sekolah mematahkan.
Lagi; kembali. perhatian untuk kepemimpinan situasional (Yukl, 1989) muncul.
Semakin kompleks satu organisasi adalah komunikasi semakin komplek. Arus yang
tetap komunikasi di suatu sekolah mengharuskan suatu praktek yang tetap
bermacam ketrampilan oleh pengurus yang memutuskan untuk mendapat tugas
dilaksanakan untuk mengatur atau mempengaruhi kesanggupan untuk kepemimpinan. Kedua
peran ini, pengurus harus mempunyai suatu pengetahuan yang lebih bersih
struktur organisasi dalam praktek dan di dalam idaman.
8.9.2.
Pendekatan tingkah laku
Seperti perubahan teori
manajemen untuk mengakomodasi suatu segi pandangan lebih humanistis, perubahan
komplementer terjadi dalam cara
komunikasi organisasi dipandang. Pengaruh Hawthorne menunjukkan bahwa memberi
manajemen perhatian kepada faktor hubungan antar manusia mempunyai suatu dampak
terhadap kesuksesan organisasi. Ini adalah satu contoh awal dari banyak studi
yang mencapai kesimpulan yang sama. Ketika ahli teori komunikasi merasakan
bahwa kompleksitas tingkah laku manusia digambarkan secara salah di dalam
pendekatan structuralist-functionalist sebagai suatu buatan tangan dari
manajemen ilmiah, mereka mencari pendekatan lain.
Hubungan antar manusia ahli
teori percaya bahwa pesan perlu pindah ke semua arah, melalui kedua jaringan yang
gersang informal dan formal. Mereka menekankan lisan diatas saluran yang
tertulis dan menyarankan suatu komunikasi yang moderat memuat dengan tingkat
penyimpangan yang dapat diprediksi. Satu posisi perwakilan model teoritis ini
adalah Empat Sistem Likert. Likert
(1967) nyatakan bahwa Organisasi mengoperasikan sepanjang suatu rangkaian dari
gaya kepemimpinan kontrol dari yang tinggi kepada yang lebih rendah yang
menghubungkan ke dalam gaya komunikasi organisasi.
Gaya yang pertama, exploitative-authoritative, dihubungkan dengan kepala menurun/jatuh
manajemen. Gaya ini mengakomodasi umpan balik dan oleh karena itu membatasi
kedua arah dan frekwensi komunikasi. Gaya yang kedua, “baik hati,” “berwenang,”
adalah juga dikaitkan dengan penurunan manajemen, tetapi pola komunikasi di
sini cenderung untuk memberi sedikitnya penampilan dari kepekaan manajemen ke
karyawan. Gaya yang ketiga, yang disebut “konsultatif,” akomodasi komunikasi
vertikal mempertukarkan kedua mengarah ke bawah dan yang menaik di dalam
organisasi. Gaya yang keempat, “manajemen partisipatif.” akomodasi jumlah yang
terbesar komunikasi multi-arah, dengan karyawan yang diharapkan untuk mengambil
bagian secara penuh di dalam pengambilan keputusan organisasi. Kritikus dari
model Likert mencurigai bahwa manajemen partisipatif adalah juga dibatasi oleh
asumsi hirarki dan menyatakan bahwa mungkin ada namun lain, dari sudut bangunan
yang berbeda, gaya pembagian kuasa (Schein, 1989). Gaya ini sebelumnya dibahas
secara lebih detil di Bab 2.
Hubungan antar manusia
pendekatan ini sering dikritik oleh karena disiratkan dugaan bahwa antaran
moril yang tinggi, tanpa perkecualian, kepada produktivitas yang tinggi.
Kritikus lain lihat suatu kegagalan untuk menunjukan variabel fungsional dan
struktural penting. Mengenai ini hubungan antar perspektif manusia bisa
menderita dari pengertian yang sama dan “hamparan rumput perang” dari
pengalaman para pemikir sistem. Dengan mengabaikan kritik akademis ini, pada
kenyataannya fungsi organisasi atas dasar moril dan misi produktivitas pada
beberapa eselon. Bagaimana organisasi diperagakan selama satu pemahaman tentang
membentuk atau membawa hidup, barang kepunyaan komunikasi tidak akan ditentukan
oleh semata-mata mengamati organisasi melalui salah satu dari pendekatan yang lebih
sedikit terstruktur. Meskipun demikian, pendekatan ini menyediakan unsur
penting untuk pertimbangan dekat kepada para pengurus sekolah pekerjaan siapa
untuk mempromosikan penyerahan dari suatu layanan manusia dan memungkinkan para
guru, para siswa, dan staf. Pengurus sekolah tersebut tidak bisa mengabaikan
yang tak bisa terelakkan, manusia dari karakter milik sekolah tersebut,
terutama mencoba untuk memahami komunikasi yang
diperlukan dan ditanggapi.
8.9.3.
Pendekatan berhubungan dengan Proses pengaturan
Teori tentang pengaturan
muncul sistemik dengan satu aksen budaya atau etnografi. Seperti yang ditandai,
itu dianggap sebagai beberapa teori
komunikasi organisasi yang sesunggunhnya (Littlejohn, 1989). Weick percaya
bahwa lingkungan organisasi tidak ada sebelumnya tetapi sebagai gantinya
ditetapkan. Para anggota organisasi secara terus menerus menetapkan dan
melakukan kembali lingkungan sebagai sikap, nilai, dan surat perintah
pengalaman. Pengaturan adalah, oleh karena itu; evolusiner dan ketidak-tentuan
tidak hanya di pengundangan hanya juga pemilihan informasi dan proses ingatan.
Pengundangan menyertakan satu pengakuan dari penyamaran, tetapi pemilihan
memungkinkan kelompok itu untuk mengakui informasi terkait tertentu dan tolak
data yang tidak relevan kepada pengundangan. Ingatan memerlukan keputusan
tentang yang informasi harus disimpan karena penggunaan di masa depan. Dalam teori
Weick, perakitan memerintah dan menyambungkan perilaku beredar dipandang
sebagai mekanisme akar untuk mengorganisir. Perakitan memerintah memandu
pilihan dari rutinitas yang digunakan untuk pengundangan, pemilihan, dan
ingatan. Menyambungkan perilaku beredar bersifat himpunan dari yang saling berhubungan
perilaku bahwa memungkinkan kelompok untuk setuju yang atasnya maksud harus
dimasukkan dan yang harus ditolak. Setelah ingatan terjadi, para anggota organisasi
harus memutuskan apakah untuk melakukan kembali lingkungan dalam beberapa cara
atau untuk memodifikasi perilaku mereka untuk mencapai konsistensi dengan
informasi yang mereka jaga.
Fleksibilitas disiratkan
oleh pengembangan keputusan ini bisa dari minat yang tertentu ke pengurus
sekolah. Fleksibilitas ini menyiratkan cara perubahan dapat mengarang musik
atas dasar komunikasi pemahaman.
Poole dan McPhee (1983)
memperluas prinsip strukturisasi (mengorganisir) ke dalam dunia komunikasi organisasi.
Interaksi menciptakan norma keluarga dan aturan yang prestasi sasaran organisasi
dan dengan jelas mempengaruhi kedua struktur dan iklim. Poole dan McPhee
percaya bahwa struktur organisasi adalah suatu penyajian dan suatu produk
komunikasi organisasi. Struktur juga satu cara yang tidak langsung memberi tahu
karyawan dan sekitar organisasi yang lain. Struktur menjadi suatu wujud kommuniksi
meta dengan mana satu organisasi dapat menunjuk kebutuhan dan polanya.
Structuration dapat terjadi
pada tiga lokasi: (1) lokasi konsepsi, yaitu pada setiap lokasi di mana
individu atau keputusan kelompok dibuat sekitar apa yang terjadi di dalam
organisasi; (2) lokasi implementasi yaitu lokasi dari modifikasi formal yang
mana dan penghamburan keputusan sekitar apa yang akan terjadi di dalam
organisasi itu sedang melanjutkan dan (3) lokasi resepsi, itu poin di mana para
anggota organisasi bertindak seturuh dibuat keputusan. Meski siapapun dalam
organisasi itu dapat mengambil bagian dalam komunikasi pada manapun tiga lokasi
yang, struktur menuju ke untuk khusus. Sebagai contoh, pengurus terutama
dilibatkan pada lapangan konsepsi. Pada pengurus lokasi ini mempunyai
kebanyakan peluang untuk bertindak sebagai para pemimpin dengan rata-rata
pendirian/penetapan untuk mempengaruhi komitmen dari staf dan para siswa.
Melalui ciptaan yang sengaja saluran yaitu panitia, forum, pekerjaan, dll
pengurus boleh memimpin organisasi mereka untuk membangun sistem komunikasi yang
efisien. Sistem ini dapat mempromosikan kesehatan yang umum dari organisasi.
Satu pengurus bisa hanya menjadi staf untuk berkomitmen terhadap? Berkomitmen terhadap menggunakan
saluran. Dengan cara ini pengurus sudah memimpin mereka untuk mengikuti satu
contoh tentang komunikasi yang membawa hidup multi arah.
Dengan kata lain Poole dan
McPhee (1983) menggambarkan sikap anggota yang organisasi kolektif ketika
iklim, satu sikap yang terus menerus dipengaruhi oleh interaksi organisasi.
Iklim dipandang sebagai kedua suatu medium dan satu hasil interaksi, yang
dipengaruhi tidak hanya oleh struktur tetapi juga oleh iklim seperti itu
memodifikasi strategi seperti penerbitan laporan berkala atau memegang kontes.
Iklim juga dipengaruhi oleh gabungan dari atribut yang individu, seperti harta
benda atau ketiadaan pengetahuan dan ketrampilan.
Berlawanan dengan iklim organisasi,
kultur istilah organisasi biasanya mengacu pada kenyataan yang dibagi bersama
yang bersifat lelah, habis, hampa di dalam kinerja-kinerja yang dipertunjukkan
selama pertukaran (Pacanowsky &
O'Donnell-Trujillo, 1992). Kinerja ini dapat
digolongkan sebagai (1) ritual-personal, tugas, atau sosial secara alami, kinerja-kinerja
yang secara teratur diulangi; (2) nafsu, termasuk berceritera atau jawaban
tepat menyiksa menukar dalam interaksi lincah dan dramatis; (3) sosialis:
termasuk partisipasi sosial yang dipersembahkan kepada ciptaan suatu pengertian
kelompok dari identitas seperti senda gurauan, mempercakapkan pekerjaan, atau
membagi pengalaman pribadi; (4) politik organisasi, menciptakan dan menguatkan
kuasa dan pengaruh dan barangkali menyertakan aktivitas seperti menawar; dan (5)
sebelum pengkulturan, termasuk kinerja yang ditujukan memulai anggota baru ke
dalam kultur organisasi yang diterima. Kebanyakan pendidik berbasis sekolah
dengan mudah menerima dugaan bahwa sekolah bersifat kesatuan budaya.
Seperti kesatuan budaya,
sekolah menyajikan peluang komunikasi banyak sekali. Pengurus itu harus
memilih, dalam konteks suatu misi yang dibagi bersama, bagaimana caranya
menekankan ciri kultur sekolah yang positif pada setiap peluang. Meningkatnya
multi kultural konteks peran dari pengurus sekolah tersebut yang harus digambarkan
oleh komunikasi yang adalah yang memantulkan cahaya dari nilai sekolah dan
suatu kultur sekolah yang terbuka bagi semua stakeholders.
8.9.4.
Psikologi-Sosial Perspektif
pada Komunikasi yang Individu
Organisasi
Unsurdari dari teori
lainnya dan pendekatan kepada komunikasi organisasi disatukan pada teori psikologi-sosial.
Tertinggi dalam gaya teori komunikasi adalah barang kepunyaan atau yang
diciptakan oleh komunikasi individu yang terbuat dari sesuatu. Di sini kita
mengunjungi unsur dan proses yang berhubungan dengan dasar model komunikasi quasimechanistic untuk menambahkan
perspektif psikologis.
Perspektif psikologis
mengkonseptualisasikan komunikasi organisasi sebagai suatu pengulangan di mana
suatu pengirim memulai suatu pesan, suatu penerima memperoleh, dan lalu
mempertimbangkan; menganggap macam tindakan yang mungkin. Jika penerima
menanggapi atau menyediakan umpan balik, peran-peran dari pengirim dan penerima
membalikkan. Perilaku jengkalan ini terjadi dalam satu struktur organisasi yang
birokratis, yang adalah tunduk kepada suara gaduh dari struktur yang informal.
Itu adalah suara gaduh ucapan tambahan bahwa sering kali menghalangi pemahaman
pesan. Arti dari suatu pesan tergantung tidak hanya di isi hanya juga di
konteks yang organisasi. O'Reilly dan Pondy (1979) menggunakan maksud
Rumusan = informasi +
konteks untuk melukiskan proses ini.
Sumber pesan bisa seseorang
atau medium perantara, seperti suatu surat kabar, nota, atau suatu kesan
visual. Kredibilitas pengirim itu kritis teori penerimaan socio-psychological
boleh mengabaikan para pesuruh yang tidak terpercaya sesuka hati, dengan
mengabaikan isi pesan. Tidak hanya penafsiran ada di sana psikologis hak dari
pengirim itu untuk berkomentar, tetapi ada permintaan psikologis juga mengenai
pilihan pengirim tertentu dari media. Pengkodean dan memecahkan kode proses
keduanya mengizinkan ”mental menetapkan” untuk merugikan atau meningkatkan
komunikasi pesan. Menurut ahli teori psikologis, variabel kepribadian, nilai,
jenis kelamin atau perbedaan budaya, dan minat pribadi memastikan bahwa suatu
proses penyaringan terjadi dimana di dalam alir komunikasi.
Karena wujud pesan sering
tergantung pada saluran atau medium memilih untuk transmisi pesan, pilihan yang
individu dapat melakukan salah satu mengesampingkan sistem komunikasi atau
dikesampingkan oleh nya. Saluran atau media memilih menentukan, dalam bagian
yang besar, penaklukan mempola pesan itu akan mengikuti, yaitu apakah pesan itu
akan disampaikan dengan tegak lurus atau secara horisontal, secara formal atau
secara informal. Memformat pesan juga mempunyai keterlibatan psikologis, karena
individu sungguh mengacau merasa atau memproses informasi dalam cara yang serupa.
Para bisnis eksekutif terus meningkat keterkaitan bahwa medium terpilih boleh
menentukan kesempurnaan dan dampak dari informasi yang diproses oleh penerima
(Lengel, 1964; Lengel, 1988). Kesempurnaan dari medium adalah yang ditentukan
oleh resepsi menyeluruh suatu pesan. Pengurus sekolah adalah juga mulai adalah
selektif sekitar medium, mereka gunakan. Antara muka komunikasi lisan lebih
disukai selagi komunikasi telepon dan “pribadi yang ditulis” bersifat
berikutnya dalam urutan. “Formal ditulis” dan “klasifikasi formal” lengkapi
yang rendah akhir dari rangkaian kesempurnaan, dengan perlengkapan klasifikasi
formal, spektrum. Antar muka, yang difilmkan atau cara bicara yang ditayangkan
di televisi dipertimbangkan “lisan utama”
komunikasi, dan semua wujud komunikasi tertulis
dipertimbangkan “lisan sekunder.”
Komunikator dalam
pengaturan pendidikan menempatkan beberapa kepercayaan pada hubungan antara
pesan pilih dan medium dipilih. Pengertian pesan untuk bersifat yang lebih
tinggi dalam bentuk tulis, tetapi perubahan pendapat lebih besar ketika suatu
komunikasi antar muka dipekerjakan. Pemborosan media yaitu suatu kombinasi
lisan dan yang tertulis tingkatkan kedua-duanya kesempurnaan pesan dan
ketelitian resepsi. Komunikasi tertulis menuju keefektifan ketika pesan berisi
keterangan umum atau memerlukan tindakan masa depan. Komunikasi lisan menuju keefektifan
di dalam situasi yang menuntut umpan balik segera. Contoh dari situasi seperti
itu sedang menawarkan pujian, memberi arah prosedural, penyelesaian perdebatan,
mengeluarkan cercaan, dan bahkan sambil berkata “selamat pagi” kepada para anggota
organisasi yang lain.
Nonverbal seperti juga
isyarat lisan mempunyai maksud, dan maksud ini boleh bertikai atau menguatkan
pengiriman pesan lisan. Bahkan ungkapan bunyi yang seperti dengkuran atau
ketawa, mempersulit permasalahan ketelitian pesan. Ahli Psikologi-Sosial teori yang
kelihatannyapercaya bahwa terbaik untuk mengharapkan adalah karena pesan
diterima secara fungsional dapat diperbandingkan dengan pesan dikirim.
Karena cakupan dari pilihan
pengiriman pesan dan cakupan dari tanggapan tunduk kepada perbedaan yang
individu, umpan balik diri sendiri menjadi suatu peristiwa psikologi-sosial.
Umpan balik bervariasi bahkan dalam derajat tingkatan dari penuh arti, terutama
dalam aspek nonverbal. Sebagai contoh, satu uap yang tak sengaja dapat menyampaikan
sama sekali pesan umpan balik yang salah. Konsep dari umpan balik menyiratkan
konstan itu penyesuaian ke dalam proses komunikasi dapat dan harus dibuat atas
dasar petunjuk komunikator mendapat dari umpan balik. Umpan balik dapat
memperbaiki kinerja tugas dan secara positif mempengaruhi iklim organisasi.
Umpan balik dapat,
sebaliknya, yang manapun mencerminkan atau benar-benar menciptakan situational
suara gaduh. Jika secara fisik, sosial, atau penghalang psikologis pada
tempatnya, umpan balik dapat melakukan salah satu memperkuat atau mengurangi
itu penghalang. Menceritakan seorang mitra komunikasi bahwa suatu kereta api
barang lewat dan membantu bahwa mitra memahami situasi komunikasi mu. Umpan balik adalah suatu alat yang tangguh
untuk pengurus pendidikan yang dapat menetapkan nada dan contoh untuk
keseluruhan sistem persekolahan. Umpan balik, oleh karena itu dapat nonverbal
atau lisan dan, di dalam itu bentuk apapun harus pengsituasian yang sesuai.
Komunikasi nonverbal sudah
diteliti secara ekstensif di dalam bermacam menentukan. Untuk para pendidik,
dua gaya nonverbal berasal dari minat yang tertentu: dampak guratan ekspresi
dan pemakaian isyarat ruang. Lipham dan Francke (1966) belajar perilaku
nonverbal dari para pemegang saham sekolah ketika promotabilas pengaruh atau
nonpromotabilas. Variabel mereka menguji adalah (1) menstrukturisasikan diri
sendiri, yaitu diri sendiri, pemeliharaan, pakaian, gerakan dan perawakan
secara fisik; (2) menstrukturisasikan interaksi yang termasuk inisiasi
interaksi, jarak interaksi, dan perilaku-perilaku penghentian interaksi: dan (3) menstrukturisasikan lingkungan,
termasuk hal-hal seperti kantor dekorai pengaturan ruang, kerapian, dan tanda
kebesaran. Peneliti tersebut menemukan perbedaan penting di dalam interaksi dan
menstrukturisasikan lingkungan. Mempromosikan para pemegang saham cenderung
untuk nafkah lebih sedikit jarak di dalam
pertemuan yang hubungan antar pribadi mereka. Mereka juga cenderung
untuk tanda kebesaran penggunaan lebih biasanya sebagai contoh menggunakan
suatu papan nama meja tulis sebagai suatu penindih kertas melawan menggunakan
sebagai suatu jenis pagar psikologis.
Kepuasan komunikasi
menyatakan bahwa suatu dirasa atau riil ketiadaan komunikasi yang dua jurusan
adalah suatu variabel yang kritis di dalam lembaga; institusi pendidikan.
Situational suara gaduh juga bersikap suatu ancaman yang pantas dipertimbangkan
kepada sukses komunikasi organisasi. Komunikasi antar pribadi sepertinya selalu
lebih efektif dibanding komunikasi organisasi karena situasi antar muka mengesampingkan
banyak sumber penyimpangan, umpan balik surat izin segera, dan mendorong pesan
reframing.
Model birokratis
organisasi. yang digambarkan oleh Barnard (1938), perlukan bahwa jangkauan
saluran komunikasi setiap anggota organisasi, mengambil yang paling pendek dan
rute paling langsung, sisa tersedia bagi penggunaan yang tetap dan dibuktikan
keasliannya oleh kuasa posisi bahwa mengatakan kepada penerima yang pengirim
sudah otoritas yang diperlukan untuk menjadi pengirim. Model berasumsi bahwa
formalitas seperti itu memastikan ketelitian pesan karena itu ada di penulisan
dari atasan yang berkompeten, dan termasuk sama untuk setiap orang. Sementara
konteks mengubah untuk mengkoordinir aktivitas, menyediakan informasi,
mempengaruhi atau mengarahkan atau hanya menceritakan kisah organisasi,
formalitas adalah terkemuka. Birokrasi sekolah tampilkan dimensi di atas kepada
tingkat dimana mereka dipusatkan, secara hierarkis membentuk, dan juga kurang
lebih tergantung di teknologi informasi.
Menggali komunikasi formal
dapat membawa keduanya isi ekspresif dan yang sebagai penolong yaitu untuk
membantu sasaran jangkauan organisasi dan untuk mempengaruhi sikap, norma, dan
nilai. Saluran yang informal bersifat komplementer perasaan bahwa mereka pada
umumnya mencerminkan dampak dari isi membawa dalam saluran yang formal.
Komunikasi yang informal juga berfungsi untuk memuaskan kebutuhan sosial dari
yang sibuk orang-orang dengan membantu mereka untuk menyatakan diri mereka
secara pribadi dan secara sosial.
Untuk memahami komunikasi
informal dan formal, peneliti sudah menggunakan analisa isi, sociometry, analisis interaksi,
pengamatan peserta, sampling komunikasi pengamatan berkelanjutan, dan survey
atau jaringan umum meneliti teknik. Di dalam lembaga; institusi pendidikan,
umum dan jaringan meneliti teknik secara luas digunakan. Survey dirancang untuk
menilai ketepatan komunikasi, keterbukaan, dan frekuensi. Survei menyediakan
gambar bermanfaat dari pola komunikasi dan struktur yang informal dan sering
juga mengidentifikasi atraksi, pembalasan, atau ketiadaan peluang untuk mengkomunikasikan.
Masalah komunikasi mengenali sociometrically
dapat dengan sengaja; seksama dibawa ke dalam jaringan sehingga informasi dan
maksud sosial tidak hilang. Komunikasi pada umumnya membentuk tugas yang
memfokuskan bentuk, sehingga para anggota menggolongkan bukanlah mengkomunikasikan.
Ini dapat mencegah kewenangan formal dan jaringan sosial dari overlap, terutama
ketika pengurus sekolah ingin memperkenalkan informasi atau praktek baru, dalam
kasus yang lain, overlap bisa dengan
sengaja; seksama direncanakan untuk meningkatkan ketelitian dari resepsi pesan
8.10.Jalan Kecil kepada Masa Depan
Individu di dalam
kepemimpinan memposisikan membelanjakan mayoritas hari-hari kerja mereka yang
berkomunikasi, tetapi pada waktu yang sama keahlian berkomunikasi adalah satu
kelemahan yang diakui para pemimpin seperti (Baeshen. 1987). Di dalam Amerika
Serikat, berjuta-juta dolar dibelanjakan setiap tahun pada usaha untuk
mengembangkan kepemimpinan, komunikasi, dan ketrampilan hubungan pribadi dari
urusan bisnis, para pemimpin industri dan pemerintah (Carnevale & Winner,
1989). Manajer pertengahan terutama ditargetkan untuk pelatihan seperti itu, dengan dekat dengan
seperempat dari Fortune 500 pelatihan dan anggaran pembangunan mengalokasikan
untuk tujuan ini. Pengurus sekolah tidak mempunyai akses kepada sumber daya
pengembangan yang dapat diperbandingkan dan, setelah pendidikan profesional,
secara umum diharapkan untuk mengindahkan pengembangan mereka sendiri.
Meski personil sekolah
boleh telah waspada kepada komunikasi organisasi dan hubungan pribadi,
organisasi bisnis lebih jelas memahami dampak komunikasi memproses di yang
organisasi “garis dasar” yaitu, mengerti bagaimana proses komunikasi
mempengaruhi survivabilitas. Sekolah secara umum setuju berstandar
produktivitas, meski usaha yang ada untuk -patokan prestasi nasional dan
penekanan yang tinggi menempatkan di test mencetak prestasi menyatakan bahwa
beberapa hasil-hasil kekurangan stakeholders
lebih bisa diidentifikasi, yang secara sepihak. Di tahun 1990an, tekanan lebih
publik akan niscaya menggoda sekolah. Publik, terutama politis dan
business/industry para pemimpin, melihat sekolah seperti pabrik bahwa harus
menghasilkan terpelajar, taat terhadap hukum para warganegara yang dengan baik
disiapkan untuk masuk tenaga kerja. Pada waktu yang sama, perjuangan para
pengurus dan staf berbasis sekolah untuk memelihara lingkungan aman, efektif,
berorientasi masa depan dengan memberi variasi persepsi produktivitas dan
memberi variasi sasaran dari stakeholders,
komunikasi menjadi lebih yang penting lagi
seperti para pelaku berbeda mencari untuk menyetujui perubahan dan
merestrukturisasi usaha.
Kepuasan karyawan adalah
ketidak-tentuan atas tingkat derajat dari otonomi yang mereka alami dalam
melakukan pekerjaan mereka; namun organisasi sangat diorientasikan terhadap
hirarki sehingga pengaturan sosial dan pekerjaan yang lain belum
dipertimbangkan. Tantangan untuk pengurus sekolah untuk menguji semua
pengaturan organisasi untuk pengaruh mereka yang kritis di proses komunikasi
dan untuk pengaruh mereka yang terakhir di anak sekolah, masyarakat, dan
angkatan kerja masa depan. Pengurus sekolah diserukan untuk membayangkan unimaginable wujud dari pendidikan yang
diterima di sekolah, visi baru, rencana baru, prosedur, dan cara mengukur
sukses.
Sebelumnya di dalam bab
ini, akar sejarah teori komunikasi organisasi dicatat terlihat dan beberapa
pengarang mengutip secara ekstensif untuk pemenuhan menyeluruh yang menggejala kearah
komunikasi, teori, dan riset, terutama dalam hubungan dengan organisasi
sekolah. Ini bersifat ringkasan retrospektif dari apa yang dibahas dalam
organisasi hari ini, masa depan komunikasi organisasi masih dapat membantu
secara dramatis. Organisasi dan para pemimpin organisasi perlu untuk
menciptakan masa depan itu dengan sadar, bukan oleh tradisi atau asumsi.
Pendidik terutama sekali
tertarik akan sasaran jangka panjang dan sering juga memandang celana pendek,
siklus ribut dari perencanaan bisnis, terutama sekali dalam hubungan dengan
permintaan untuk tenaga kerja yang dilatih, terlatih dengan beberapa alarm.
Pada waktu yang sama, positivistic, linier, sebab akibat memikirkan organisasi
bisnis bisa menarik pengurus sekolah yang harus pula menemukan atau menciptakan
perintah di tengah kekacauan organisasi. Mungkin bukan paradigma pribadi maupun
sektor publik dan praktek akan mencukupi di masa depan yang bergolak. Ada suatu
kegelisahan yang bertumbuh di dalam semua sektor “berbagai hal jalan segera
selesai.” Kegelisahan ini boleh juga mengacu pada cara “berbagai hal”
dikonsepsi. Tidak di mana pun juga ada di sana suatu keperluan lebih penting
dibandingkan untuk secara penuh memahami bagaimana komunikasi mempengaruhi
organisasi kita. Keduanya komunikasi yang internal dan eksternal membantu ke
arah bentuk “kenyataan” Jika pengurus sekolah ingin menekankan prestasi
mencetak prestasi dengan mengorbankan menekankan satu pemahaman terpelajar gaya
dan langkah, mereka boleh melaporkan tes prestasi mencetak prestasi kepada staf
mereka sebagai suatu ukuran motivasi atau evaluasi. Jika pengurus sekolah
berfokus kepada nilai ini di dalam laporan berkala daerah mereka, mereka sudah
berkomunikasi penekanan mereka secara eksternal. Umpan balik eksternal boleh
memulai untuk memaksa dan membentuk yang internal kenyataan: penjadwalan
kurikulum, dan metodologi.
Kemampuan pengurus perlu untuk meneliti dan
menginterpretasikan kerangka acuan mereka yang pribadi, kiasan ahli waris,
kepercayaan, dan penyimpangan tentang -organisasi dan komunikasi organisasi.
Adalah mereka sistem manajemen ilmiah terbatas, terbatas dengan kuat yang
menggunakan mekanisme kendali terbatas? Adalah mereka membuka dinamis, holographis, “pemberlakuan ulang”
sistem yang menggunakan variasi ganda stimulasi/regulasi strategi? Yang mana
saja pengurus kasus dan para guru mirip harus mampu memahami pilihan mereka
sendiri dan bagaimana kepercayaan mereka mempengaruhi praktek.
8.11.Menyatukan Prinsip Dikenal Komunikasi Organisasi
Ketika yang dibahas di
atas, ada persetujuan umum bahwa komunikasi adalah (1) Pengharapan, (2) Psikologi-sosial,
(3) Membawa ke dalam kedua saluran informal dan formal, dan (4) Tidak lengkap tanpa umpan balik. Ada
masih perselisihan paham, bagaimanapun, sekitar pentingnya teori informasi di
pendekatan psikologi-sosial. Pada pokoknya, semua pendekatan kepada komunikasi organisasi
dapat membuat klaim yang sah ke dalam definisi komunikasi karena perspektif dan
kerangka acuan yang ganda bersifat tak bisa terelakkan. Lagi pula, semua dari
pendekatan yang digambarkan dapat ditantang karena mereka tidak menyertakan
semua perspektif yang mungkin atau meliput semua variabel komunikasi yang
mungkin. Suatu pemahaman dan penggunaan menyeluruh dari lebih General System Theory boleh membantu ke
arah mengintegrasikan perspektif ganda dan mengakomodasi dagan lebih kaya dari
variabel. Bangunan teori integratif ini sepertinya suatu tugas untuk masa
depan.
Pengiriman pesan dan
menerima ketrampilan demikian penting (Haugland, aku 987) model prosedural
bahwa telah dipikirkan untuk membantu komunikator. Khandwallas (1987) model menyarankan suatu
analisa yang awal dan akhir untuk termasuk (1) menentukan sasaran dari pesan
dan (2) meneliti variabel situational, termasuk tersedia saluran, media terbaik,
batasan waktu, dan sifat alami para penerima. Di dalam model ini, komunikator
mencari untuk mengantisipasi berbagai kesulitan komunikasi potensial dan
memikirkan strategi untuk menanggulangi mereka. Pada suatu yang minimum, kata
dan frase yang nampaknya akan “pemicu
emosional” dihindarkan, dan panggilan kepada tindakan bersifat pada keahlian dan
memahami sebagai suatu usaha yang kolektif dibanding komando militer. Pengirim
pesan memikirkan barang kepunyaan tidak menangkan komunikasi yang potensial,
meskipun tidak ada barang kepunyaan jaminan negatif bahwa tidak akan terjadi.
Pengurus sekolah tersebut akan menemukan bahwa pesan memberi harapan kepada
keikutsertaan secara umum sumur diterima, hanya itu, oleh tradisi, beberapa
anggota organisasi akan mengharapkan dan bahkan sambutan selamat datang “komando
militer.” Mengendarai melalui bidang dari perbedaan yang individu tidak pernah
gampang dan selalu suatu situational “penilaian sebut.” Dari perspektif dari
suatu pengurus yang banyak mengetahui, sasaran komunikasi yang utama siapa
untuk memelihara keadaan tetap pada suatu saat tertentu organisasi,
penyeimbangan aktif pernah; selalu angkatan dalam satu organisasi dapat
mencegah penilaian lemah dari iklim penghancuran organisasi positif.
Karyawan dan kelompok klien
menghendaki jawab langsung, informasi lurus/langsung, dan pembicaraan suci dari
para pemimpin mereka (Ragan, 1990), meskipun ada sering kali tanpa persetujuan
tentang apa persisnya hendaknya dikomunikasikan. Unsur mencerminkan keduanya
suatu takut akan komunikasi dan suatu takut akan kejujuran, tetapi suatu takut
akan tidak dikenal itu adalah jauh lebih banyak goncangan (Wartenberg, 1990).
Atmosfer dari “menunggu untuk menemukan” adalah satu atmosfer dari keraguan,
kegelisahan; rasa tidak aman dan sifat yang sinis. Stakeholders antaran tingkat yang lebih rendah ini untuk terlibat
dalam counter-productive taktik spekulasi atau pembelaan diri. Di saat-saat
seperti itu, pesan-pesan di dalam kanal komunikasi yang informal dapat secara
organisasi yang tidak menstabilkan. Pepatah kuno bahwa beberapa berita,
bagaimanapun tidak enak, menjadi lebih baik dibanding tidak ada berita tetap
benar di dalam komunikasi organisasi.
Menggunakan “bocor,” pembentuk opini, dan meningkat antar muka
komunikasi dapat membantu pengurus pendidikan membebaskan tegangan dalam situasi yang demikian. Oleh secara terbuka
menerima umpan balik dari semua bagian dari organisasi, pengurus itu dapat
membangun kesatuan dan kesehatan dari organisasi.
Sebagian dari sangat
mendesak karena komunikasi yang efektif dinyatakan di dalam petunjuk ini:
Jumlah dari pemborosan dan
umpan balik beserta jumlah dari komunikasi antar muka diperlukan adalah
situasional tergantung. Memberi pesan pendek, ringkas atau menujukan
permasalahan iklim organisasi adalah saat untuk komunikasi antar muka, selagi
mengirimkan pesan bahwa memerlukan satu pemahaman latar belakang atau konteks
bisa dengan sangat baik tercapai secara tertulis. Mungkin ada berharga di dalam
berkomunikasi di dalam kedua cara pada waktu yang sama.
Ketrampilan pribadi dan
merencanakan adalah penting bagi memberi dan menerima umpan balik bermanfaat.
Karena pengaruh yang positif, umpan balik harus sangat menolong. Haruslah
deskriptif dan sangat khusus, yang disertai oleh contoh jika yang mungkin. Haruslah
yang diberi oleh seseorang yang dirasa sebagai harus yang terpercaya, tepat
waktu, dan diperkenalkan sedemikian sehingga penerima merasakan yakin untuk
lakukan tentang sesuatu situasi. Bagaimanapun, umpan balik haruslah yang
dicatat bahwa bukanlah otomatis dan sering juga bukan yang sukarela; mungkin
perlu untuk dikejar. Umpan balik terdiri dari pesan nonverbal dan lisan bahwa
boleh atau tidak akan sama dan sebangun. Mungkin bahkan terdiri atas
menyesatkan informasi yang dimaksud untuk bersifat bijaksana. Menyesatkan
informasi boleh juga digunakan sebagai suatu strategi yang manipulatif oleh
seseorang yang kawatir akan bertahan hidup di suatu organisasi yang diberi.
Penyaringan pesan di segala
jurusan tinggal suatu masalah yang serius di dalam proses komunikasi. Jika
membuka dan kejujuran sepenuhnya adalah suatu kondisi ancaman untuk yang
manapun para pemimpin sekolah atau para pengikut, proses penyaringan dapat
gulung tikar pesan kooperasi dan hasil salah. Jika komunikasi yang terbuka dapat
berlaku para bawahan/subordinat dapat menggunakan untuk melaksanakan mereka
bekerja dengan kepuasan, dan para pemimpin akan memiliki sumber informasi dapat
dipercaya untuk memungkinkan mereka untuk mengalihkan/mencegah permasalahan organisasi.
Suatu iklim hal positif organisasi adalah hasil dari komunikasi yang terbuka.
Bagaimanapun, bahwa bahkan di dalam pengaturan saluran dan jaringan yang lebih
disukai komunikasi organisasi, sambung siar adalah leher botol yang potensial.
Ia juga mencatat yang jelas nyata: yang saluran lebih panjang, yang lebih
lambat alir informasi.
Pengurus pendidikan
melayani minat pribadi dan organisasi dengan baik jika mereka dapat memikirkan
sejumlah cara yang berbeda untuk mendorong menaik dan komunikasi ke samping.
Satu metoda sukses mempunyai pemakaian “pasak
penjaga roda di poros” atau struktur hubungan, di mana perorangan yang
komunikasikan di dalam dua atau lebih jaringan komunikasi yang terpisah adalah
dengan sengaja mentransfer informasi menaik, mengarah ke bawah, dan secara
menyamping ke seberang kelompok. Pasak penjaga roda di poros seperti itu dapat
melebihi sejumlah tingkatan-tingkatan hirarkis. Metoda penghubung lain adalah
pembentukan acuan komunikasi di mana masing-masing pengurus pendidikan
mengambil bagian di dalam sedikitnya dua subsistem formal (intervi dan seluruh sekolah). Satu harus diperingatkan,
bagaimanapun, bahwa strategi komunikasi ini bersifat efektif hanya sepanjang
mempercayai hubungan dipelihara; dipertahankan. Setiap yang serius pelanggaran
atas kepercayaan dapat perlu bertahun-tahun untuk memperbaiki karena banyak
lapisan dari jaringan komunikasi itu secara serempak dirusakkan ketika
kepercayaan dilanggar dalam satu bidang dari jaringan.
Batas yang memutar peran,
yang manapun formal atau informal, dapat dibentuk untuk membantu individu atau
kelompok membentuk hubungan komunikasi dengan lingkungan mereka. Prinsip
triangulasi menerapkan di sini: Berbagai dan sumber informasi mandiri
menyediakan data tentang hal-hal bahwa tidak akan bisa riset di dalam setiap
pertunjukan yang langsung. Menciptakan mendahului dan sistem informasi berlebih
lebihan bisa merupakan suatu makna untuk mengalahkan kemungkinan beberapa
penjaga pintu, hubungan, atau isolat boleh menyalahgunakan kuasa yang tidak
bisa dipisahkan di dalam posisi mereka. Di dalam koneksi ini bahkan isolat
mempunyai kuasa, untuk yang manapun oleh penarikan mereka yang sukarela atau
oleh lapangan kerja mereka yang tanpa disengaja, mereka boleh menghalangi
proyek yang di atasnya mereka dengan sebenarnya diperlukan. Menugaskan isolat
ke tugas menggolongkan dan mengubah tugas pekerjaan untuk membiarkan mereka
untuk mengambil bagian memungkinkan organisasi itu untuk menggunakan sebagai
sumber ketrampilan-ketrampilan dan pengalaman mereka secara efektif. Kepemimpinan
adalah suatu yang sosial berbuat sesuatu. Mengerti peran-peran dari
kelompok-kelompok dan isolat-isolat dan mengubah gaya-gaya komunikasi
peran-peran selektif via mereka adalah tanggung jawab pemimpin sekolah
tersebut. Sekolah-sekolah bersifat sosial secara alami dan misi. Apakah
kebutuhan tugas yang untuk dilaksanakan atau komitmen dimenangkan, para
pemimpin sekolah perlu harus mematuhi kesadaran mereka dari barang kepunyaan
dari interaksi sosial.
8.12.Mengkombinasikan Kiasan
Kembali ke himpunan dari kiasan
dan asumsi mengutip sebelumnya di dalam bab ini, itu menjadi membersihkan bahwa
beberapa kiasan lebih sangat menolong dibanding yang lain untuk menjelajah
wujud baru organisasi dan persyaratan baru untuk komunikasi organisasi. Kiasan
mesin telah meragukan yang berlabel. Oleh karena itu, beban berat untuk
produktivitas juga menggerakkan dari bahu dari kemanusiaan sampai data base
yang elektronik bahwa mendukung pemikiran manusia dan pengolahan informasi.
Organisasi memiliki komunikasi komponen organisasi berbasis mesin tetapi tidak
diri sendiri suatu mesin.
Model organisasi seperti
organisma masih yang sehat, dan mendukung gagasan di mana manusia dan interaksi
mereka adalah mikrokosmos dari organisasi bahwa mereka menciptakan di sekitar
diri mereka. Kiasan yang holographis meluas gagasan ini. “Asumsi budaya umum
dalam satu organisasi bisa dimengerti ketika kode genetik bahwa mengizinkan
rekonstruksi keseluruhan dari setiap bagian” (Schein, 1989, Hal 12). Acuan itu
kepada gen sebagai mikrokosmos selular reproduktif dari organisasi yang utuh
adalah biologi maupun di dalam berfungsi
dan holographis di dalam gambaran. Komunikasi organisasi dapat dilukiskan
dengan cara yang sama seperti yang ditunjukkan di dalam Gambar 8.2.

Model organik
tumpang-tindih dengan model antropologi budaya, tetapi menggerakkan fokus dari
organisma atau organisasi yang individu kepada organisasi sebagai suatu kultur
menempelkan di suatu kultur yang lebih besar. Penekanan komunikasi bergeser
secara setimpal dengan transmisi budaya menjadi dasar pemikiran yang utama.
Perspektif ini mendukung semakin banyak dari organisasi yang tertentu dan boleh
bahkan mengesahkan para pemimpin sebagai guru-guru organisasi meskipun suatu
kultur bisa diharapkan untuk bertukar waktu (lihat Gambar 8.3).

Kiasan-kiasan psikologis
mengingatkan spesialis komunikasi organisasi bahwa tidak ada dua individu
manusia mengirim, menerima, merasa, atau menginterpretasikan data bahkan data
yang berhubungan dengan perasaan di dalam tepat sama cara. Keunikan manusia psikologis
mengganggu di setiap perumusan komunikasi organisasi. Klaim ini tidak bisa
ditolak dan harus diperhitungkan dalam memperagakan (lihat Gambar 8.4).

Kiasan dari organisasi
ketika otak mengizinkan analogi dari pengolahan informasi yang seperti
komputer, sangat sedikit tergantung di struktur dan penataan bertingkat
organisasi untuk aktivitas yang produktif. Itu juga mempertimbangkan riset
sinambung, tindakan, dan riset. Sebagian orang kesukaran mempunyai dengan
kiasan ini adalah karena itu dengan mudah dikacaukan dengan pemimpin sebagai
otak dari organisasi. Tanpa gagasan seperti itu diharapkan. Agak, kiasan otak
dimaksud untuk menyampaikan suatu gambar yang lebih luas, lebih holistik, lebih
serbaguna pemikiran dan aktivitas organisasi.
Organisasi sebagai seni
dengan mudah membiarkan penafsiran komunikasi organisasi sebagai suatu daftar
lagu-lagu yang selektif dari seni-seni plastik dan media. Komunikasi lalu
menjadi drama, mengecat dan menarik prosa pahatan atau puisi, pidato,
percakapan, atau wujud seni lain manapun bahwa menyampaikan maksud sepanjang
organisasi. Seni yang tergantung sepanjang perusahaan dan kantor eksekutif lain
bisa suatu pengakuan yang kecil dari segi pandangan ini.
Kiasan organisasi ketika
pelajar berbagi banyak unsur dengan kiasan organisasi sebagai organisma, otak,
atau wujud seni.
Kiasan ini secara
optimistis mewakili suatu organisasi manusia bertindak sebagai masyarakat
pelajaran koperasi bahwa berpikir, rasa, melaksanakan, nilai, dan menimbang dan
memutus pekerjaan sendiri dan hubungan nya kepada hidup manusia pada setiap
tingkat organisasi. Dalam banyak cara, itu memerlukan sistem yang diinformasikan
bahwa menghapus gambaran dari manusia ketika mesin produksi dan mendesak suatu
gambaran yang dipulihkan dari manusia seperti ketika terus menerus belajar,
bertumbuh, menukarkan, dan memperhatikan itu pertukaran dalam keduanya
pengertian organisasi dan pribadi. Model komunikasi untuk yang holographis
seperti itu, artistik, model pembelajaran dan pertumbuhan hanya rudimenter pada
saat inilah (lihat Gambar 8.5).

Individu perlu bernafas
untuk hidup. Demikian juga organisasi, karena mereka terdiri atas tinggal
manusia. Secara metafora komunikasi menjadi “nafas” dari organisasi yang buka
peluang sistem elektronik dan manusia untuk memasukkan konser/persetujuan,
untuk menjangkau di luar organisasi itu, dan, barangkali, yang akan bekerja
bersama suatu pengertian yang baru dari kerajinan tangan. Dalam satu sakit
organisasi, satu pengurus dengan suatu pemahaman yang jelas bersih misi stakeholders itu dapat menyediakan
sistem dukungan hidup untuk mendukung nafas dari organisasi. Bahwa dukungan
hidup memerlukan pemantauan penuh perhatian, pembaharuan konstan dan perubahan
dari suatu visi. Peran dalam kehidupan ini bisa peluang untuk satu pengurus
untuk berlatih suatu peran kepemimpinan.
8.13.Bergerak Maju: Potensi ke Arah Baru
Greenfield (1987) negara
yang menurun gaya kepemimpinan adalah karakteristik institusi bidang
pendidikan. Gaya ini mengurangi penyimpangan tetapi juga mencekik komunikasi
organisasi dalam energi pengertian dan saluran kreatif yang partisipatif
menjauh dari sistem. Pemaksaan gaya pembatasan ini di komunikasi ke atas adalah
marah oleh yang merasa yakin, diri sendiri mengarahkan para profesional, dan,
di dalam sistem persekolahan, bahkan marah oleh para siswa yang menerima “kebanyakan
disaring” informasi semua. Untunglah, gaya kepemimpinan pendidikan muncul untuk
menjadi bergeser di dalam arah keterbukaan yang lebih besar dengan yang lebih
besar pembagian informasi dan memecahkan masalah terjadi antara tingkatan.
Pengurus pendidikan
mempunyai peluang untuk membuat suatu nada yang kerjasama untuk keseluruhan
organisasi dan dapat dengan sengaja; seksama model perilaku bahwa mereka ingin
lihat di pihak lain. Mereka dapat mengidentifikasi dan mengoreksi blok dan
penyimpangan kronis di dalam jaringan komunikasi dan, jika yang bersangkutan,
menetapkan saluran dan jaringan baru juga. Seperti “pintu terbuka” pengurus,
mereka dapat berkeinginan mendengarkan dengan penuh pertimbangan dan adalah
siap untuk pergi “mil yang tambahan” untuk menghargai yang lain bersama orang
dan ketika pengirim dan penerima pesan. Keterlibatan instruktur di dalam
organisasi diri sendiri dan tidak hanya di dalam kelas yang penting kepada
sukses organisasi. Catatan kejadian administrasi pendidikan bertaburan dengan
rongsokan disebabkan oleh ketiadaan keterlibatan seperti itu. haruslah Yang
diakui bahwa sebagian besar untuk bertanya keduanya para guru dan pengurus
kepada ia melibatkan secara organisasi sebagai tambahan terhadap rencana kerja
mereka yang berat; bagaimanapun, keterlibatan seperti itu adalah satu untuk
perubahan yang positif dan kepuasan pekerjaan lebih besar.
Menjadi pemimpin intervi
berarti untuk bersifat terkait sedikitnya sebanyak tentang pelajaran seperti
tentang kebijakan organisasi, aturan, dan peraturan. jika instruktur tidak
melihat bukti dari perhatian ini,
hal-hal lain yang pengurus boleh berkata atau akan secara skeptis diterima.
Pengurus itu dengan segera diturunkan kepada peran dari seorang manajer keduniaan.
Suatu yang tangguh, dan mungkin tak sengaja, pesan sudah dikomunikasikan.
Jika tampaknya peran
pengurus pendidikan akan menjadi terlalu maha besar untuk dipeluk oleh suatu
individu, ini bisa karena peran yang baru sedang diadopsi tanpa mereka
penghapusan lebih tua. Karena banyak sekolah beroperasi dari sudut bangunannya
seperti mereka merusak awal usaha-usaha restrukturisasi tahun 1900an bahwa
memperjelas peran kepemimpinan pengurus itu boleh mengurangi konflik antara
peran. Sifat amat jahat yang ada peran sekolah tersebut pengurus adalah suatu
akibat dari pengurus berusaha untuk mengatur dan memimpin pada waktu yang sama
pada setiap peran mencampur pesan-pesan dikirim di dalam dan di luar
organisasi; tidaklah mengherankan bahwa komunikasi menjadi campur aduk. “yang
diinformasikan” stakeholders mungkin
memerlukan penerjemahan untuk rekan pendamping abad ke duapuluh mereka yang
mencari organisasi “jalan mereka adalah” di pergantian abad Zuhoff (1988)
mengusulkan, di suatu buku yang sebagai hasil sepuluh tahun dari akademis yang
intensif dan riset lapangan, bahwa para pemimpin cenderung untuk membenarkan
kembali mereka “hak-hak untuk aturan” kapan pun menyapu pembelaan panggilan
perubahan sebelumnya sosial ke dalam pertanyaan. Dalam “yang diinformasikan”
masyarakat (Zuboff, 1988; Schuck, 1985), organisasi tidak bisa bersandar pada
pembelaan abad ke duapuluh. Mereka harus tidak hanya menanggapi secara efektif
untuk mengubah dalam. Mereka “gambaran,” atau lingkungan simbolis (Krippendorff
& Ellccy. 1986) tetapi juga mengubah pandangan mereka sekitar bagaimana
informasi dan pekerjaan dibagikan.
Mereka yang saling
berhubungan dengan informasi tentang “waktu nyata” dasar mereka yang di dalam
parit tentang pengajaran atau mereka yang bekerja dengan inti database,
ketrampilan cendekiawan penggunaan yang bukanlah yang berbeda dari mereka yang
memerlukan di tempat lain di dalam organisasi ia adalah konteks bahwa bertukar.
Di model ini, pembelaan untuk hirarki mulai mengikis, dan penekanan menggeser
dari “bertindak atas nama” atau “bertintak pada” kepada “bertindak dengan.”
Semua anggota organisasi sibuk dengan penafsiran data, karena ada lebih banyak
data dibanding dapat dikumpulkan dari atau menyerahkan kepada seorangpun bidang
atau tiap kader dari para pemimpin. Oleh karena itu, itu secara logika
mengikuti bahwa komunikasi menjadi multi arah. Beberapa kejadian komunikasi
bersifat linier dan berorientasi tugas. Beberapa orientasi padangan global dan
dengan pasti taklinear.
Zuboff (1988) catat bahwa
penekanan organisasi keseluruhan menyebabkan para pemimpin dan banyak karyawan
untuk merasa pada awalnya disoriented.
Berubah di dalam distribusi otoritas bersifat menakutkan. Tingkat keterlibatan dan
komitmen memerlukan tentang individu di suatu organisasi yang fleksibel yang
baru sedang menakutkan. Ada keterlibatan untuk pengintegrasian sosial bahwa
banyak ketakutan adalah suatu pendahuluan, tanda kepada hilangnya hak-hak
individu. Fakta adalah karena selagi menurun rezim mempertimbangkan kreativitas
kecil, mereka juga melindungi para anggota dari kerancuan. Orang yang berbeda
mempunyai ambang pintu yang berbeda untuk menyenangi, memaklumi, atau rinci
terpisah di bawah kondisi kerancuan. Ini bukan suatu perhatian yang sedikit
kepada perencana organisasi yang baru.
Divisi baru terpelajar
berdasar pada landasan pemikiran bahwa belajar adalah pekerjaan yang baru
organisasi adalah di inti organisasi tonggak hirarkis. Dalam organisasi yang sedemikian, Zuboff peran
kepemimpinan yang baru itu (1988) digambarkan adalah fasilitas, seperti guru,
dan sangat yang berbahaya, lemah. Resiko yang baru adalah kebutuhan terus
menerus untuk mengakui yang itu tidak mempunyai semua jawab dan bahwa jawab di
mana mereka ada sama sekali bisa ditemukan hanya oleh tindakan yang kerjasama.
Para pemimpin baru di sekolah, seperti di organisasi yang lain, akan perlu
untuk memperhatikan pengembangan ketrampilan cendekiawan, pengembangan
teknologi, perumusan strategi, dan pengembangan sistem sosial. Bagaimanapun
mereka tidak bisa sebenarnya “kendali” yang manapun dari ini di dalam
pengertian kaum tua tentang memberi perintah dan menjadi pastinya dari tindakan
yang spesifik. Para pemimpin yang baru hanya dapat mengarang musik peluang
untuk mempromosikan masyarakat dan untuk mengembangkan keahlian berkomunikasi
sepanjang organisasi.
Memainkan peran yang
berbeda ini memaksakan komunikasi sangat mendesak baru. Komunikasi optimal di
dalam birokrasi yang formal telah dihormati sebagai “dua jurusan,” hanya dalam
satu organisasi yang diinformasikan, jalan dua arah bukanlah cukup. Organisasi yang
diinformasikan satu ledakan informasi ada tersedia kepada setiap orang.
Pertanyaan komunikasi jadinya, bagaimana caranya berbagi menginterpretasikan,
dan informasi umpan balik pada poin dan waktu yang spesifik kepada tempat yang
spesifik di dalam organisasi ketika itu diperlukan. Komunikasi dalam hal ini
menjadi yang saling tergantung dan cairan. Sedikitnya beberapa ukuran dari
homogenitas ketrampilan disiratkan. Keterlibatan lain adalah karena suatu garis
belakang yang lebih tinggi dari keahlian berkomunikasi tingkat awal bisa
diperlukan tentang pemimpin. Komunikasi di dalam organisasi yang diinformasikan
mengubah yang internal berfungsi organisasi itu sendiri dengan demikian
mengubah harapan yang lingkungan organisasi.
Pengurus pendidikan boleh
secara pribadi yang manapun sisa saring atau menerima berbagai kemungkinan dan
tantangan mengundang wujud baru organisasi dan persyaratan baru untuk
komunikasi. Langkah yang awal dari paradigma yang baru telah selalu diabaikan.
Banyak yang telah berpikir dan menulis serius sekitar perubahan keorganisasian
seperti itu dan dapat jarang-jarang diabaikan. Sekarang, para pemimpin sekolah
telah berusaha untuk mengatur kompleksitas, barangkali dengan gagasan dan perkakas
yang tua, dan sungguh mungkin, dengan kurang dari menyempurnakan sukses. Hidup
sudah berubah secara dramatis berlangsung sedikit; beberapa dekade; sekolah
tidak mempunyai. Ketiadaan perubahan sudah menjerat pengurus di dalam struktur
yang dirancang agar berhasil di dalam usia yang lain. Gambaran yang populer
suatu yang sukses “rumah merah sekolah kecil” hari ini yang tidak cukup dengan
sama mempertimbangkan muncul keadaan. Hanya pengambilan resiko yang mau
memimpikan dan menciptakan struktur sekolah baru mempunyai suatu kebetulan
mengembangkan suatu model yang sukses sesuai dengan masa depan.
8.14.Studi Kasus Komunikasi: Kasus Kelumpuhan Komunikasi
Setelah forum masyarakat
dan pendidikan yang sebelumnya. Pengawas Yohanes Shapiro dengan segera
menjadwalkan satu pertemuan darurat dengan miliknya kebanyakan promosi staf
berkelanjutan yang dipercayainya suatu lingkungan sekolah yang diperbaharui dan
pengumuman kepada masyarakat itu tiba-tiba mahluk digelincirkan. visinya sedang
roboh. Para pemimpin masyarakat tersinggung dengan yang terpisah; jelas
ketiadaan kemajuan. Orang tua tetap adalah konfrontasional, mengeluh sekitar
panggilan untuk upah guru yang lebih tinggi dan daerah sekolah memerlukan.
Prestasi siswa mencetak prestasi adalah, paling baik, hampir rata-rata di dalam
masyarakat. Belakangan ini, bahkan para guru sendiri telah mulai untuk
mengorganisir. Mereka menolak kepada harapan dan tanggung-jawab yang
ditambahkan yang ditugaskan kepada mereka dan mengeluh bahwa mereka menerima
terlalu kecil pinjaman untuk tindakan yang otonomi, terlalu banyak keputusan
kebijakan yang searah, dan perangsang kecil untuk berubah.
Di pertemuan staf besoknya,
Pengawas Shapiro berbicara di suatu nada yang terkait. Terimakasih karena
membuat kamar di dalam. Anda buat jadwal pertemuan hal ini. Pagi ini, aku ingin
membuka bentuk baru dari tanya jawab. Itu muncul kita sudah mencapai satu jalan
buntu. Pertemuan forum semalam adalah suatu bencana sebagai setiap orang di
sini kaleng menjadi bukti, dan aku tidak akan duduk hal ini keheningan dan
arloji terjadi. suara menjadi lebih dengan perasaan sedihnya.
“Aku pasti tidak memahami
reaksi secara besaran negatif kepada usaha perubahan. Pada akhirnya pertemuan
forum bulan, aku memikirkan kita kerusakan dramatis tidak baik yang dibuat dan
bahwa program sekolah gelombang ketiga yang baru sebenarnya menjelma. Semalam
orang tua tak menaruh kasihan di dalam oposisi mereka kepada anggaran daerah
yang baru. Aku juga mendengar desas-desus/slentingan bahwa suatu yang kecil
kelompok para guru akan menjadi orang yang tidak menyetujui berkenaan dengan
suara kepada program. Mereka mungkin akan menaikkan perserikatan mengeluarkan
lagi kembali. Lebih buruk dibanding yang, setelah pertemuan, aku didekati oleh
walikota.” Dalam posisi ini suara bangkit satu oktaf. Ia bahkan bangun dan
mulai melangkah ketika ia berbicara. “Walikota berkata bahwa ia sedang
mempertimbangkan dukungan pemindahan nya untuk keseluruhan proyek sampai kita
mendapat dibariskannya para guru. aku berkata akan lebih baik mendapat para
guru kita di atas kapal sekarang atau pembiayaan untuk proyek itu akan
mengeringkan untuk selamanya. Karena semua yang aku ketahui, mereka mungkin
telah mendapat dana memperuntukkan untuk kampanye pemilihan kembali.”
Pengawas Shapiro berhenti,
kembali ke tempat duduk nya, dan ruji lagi; kembali lebih dengan tenang
pemikiran proyek itu sebenarnya menjelma. Kita perlu untuk membuat suatu atas
kursus dan tambalan ini. Aku merasa pasti banyak dari anda merasakan sebagian
dari pembalasan ini juga. Setiap pemikiran?
Pengawas Asisten Michelle
Glazer berkata, “Yohanes, aku tidak pertemuan baca semalam Bite bahwa pada
semua.” Michelle selalu membawa suatu perintah yang menenteramkan hati kepada
pertemuan ini.
Setelah itu, aku mempunyai
beberapa yang panjang percakapan dengan beberapa orang tua: Pukulan tidak keras
mereka semua. Bahkan Paulus Tracy, pengontrol kota tersebut, mampir untuk
berbicara. Ia dan aku mempunyai suatu diskusi panjang tentang membiayai
berbagai kemungkinan untuk proyek. Kita membahas beberapa yang baru benar-benar
panjang berjanji jalan lebar bahwa ia berkata ia akan panggil aku sekitar. Ia
ingin membentuk suatu kelompok diskusi yang kecil untuk menjelajah mereka lebih
secara penuh. Di dalam semua, aku menemukan keseluruhan agenda dan reaksi
bertahan sore sangat membuka dan meringankan. Jangan menyilahkan para guru
walikota atau mereka lebih berkenaan dengan suara melembabkan roh kita.
Perhatikan kepada reaksi mereka dengan tujuan untuk tahu dari mereka dan
gerakan, program mu maju.
“Michelle anda selalu benar
di target,” berkata niat hebat Shapiro lebih menggubah negara sekarang. “Aku
juga ruji dengan Paulus dan ia lakukan mempunyai beberapa gagasan yang menarik
sekitar mengatur pembelanjaan proyek. Charlie, bagaimana cara anda menilai pertemuan?”
Charlie Frantz, Direktur
Sumber Daya Manusia berbicara. “Aku tidak sama sekali terkait, Yohanes,” ia
berkata di suatu mengenai pokoknya lugu nada. “Seperti kita ketahui, ada banyak
variabel bahwa mengepung proyek ini, dan aku tidak melihat bahwa pertemuan
adalah setiap yang berbeda dari pertemuan-pertemuan yang lampau. Kita akan
selalu sedang menghadapi permasalahan seperti ini dan bahkan lebih di dalam
sistem gelombang yang ketiga. Aku lakukan mendengar suatu desas-desus yang
serupa. Walikota itu sedang berlari takut. Bagaimana tentang anda, Diane, anda
membaca hal ini setiap dengan cara yang berbeda?”
Diane Hall, suatu konsultan
pelatihan bekerja dengan daerah, yang yang dikatakan kepada pengawas di suatu
nada yang bermufakat, “Aku berpikir Charlie adalah pada sisi kanan jalur
Yohanes. Anda semua mengetahui bahwa proyek ini mempunyai orang yang gemar
bertengkar dari awal. Setiap orang mempunyai satu pendapat tentang proyek ini
dan sedang beroperasi dari kepercayaannya. Menanggulangi bahwa keaneka ragaman
adalah sulit. Apakah Anda mengingat satu bulan atau kira-kira segitu yang lalu
ketika aku mengusulkan kita mempertimbangkan; menganggap mengembangkan dalam
jabatan pelatihan para guru kita? Barangkali ini adalah satu peluang yang
penting bagi kita. Mereka di garis depan terus menerus dan, pada waktu yang
sama mereka adalah aset yang paling penting kita punyai. Kita perlu untuk
komunikasi dan berbagi kepercayaan kita, sekitar program dengan mereka dan
memperbaiki kami yang menyeluruh pola komunikasi. Aku mengira tentang ini untuk
sekali waktu sekarang.” Diane menjadi lebih banyak tujuan. “Barangkali kita
bisa mengembangkan beberapa seminar tambahan untuk daerah yang akan datang
mundur di musim gugur. Seminar ini bisa memperbaiki kita yang menyeluruh komunikasi
organisasi. Bagaimana pun, bagaimana kita komunikasikan adalah nafas hidup
kita. Bahwa apakah Anda berpikir? Aku bisa menguraikan secara singkat rancangan
dari seminar mengolah lagi bulan depan dan mengedarkan salinan untuk
masing-masing dari anda untuk memperhatikan.”
Pertemuan terus untuk jam
yang lain. Diane memperoleh persetujuan untuk mengembangkan dalam jabatan
sasaran hasil pelatihan lebih secara penuh. Dalam beberapa minggu selagi yang akan datang
menyiapkan draft, dia mulai berpikir lebih dengan kritis sekitar tujuan dari
seminar. Dia telah lakukan suatu jumlah yang adil dari riset dalam studi
doktoral nya tentang komunikasi dan mengetahui ladang dari studi adalah di satu
evolusiner yang penting: bahkan revolusioner, persimpangan. Dia mengetahui,
sebagai contoh, bahwa seminar akan menjadi bahan peledak jika para guru merasa
pelatihan yang baru untuk hanya yang lain kelompok yang cepat memperbaiki
daerah sekolah tersebut telah menaikkan dekade yang terakhir. Dia mengetahui
bahwa para guru perlu satu bentuk aktif dan bahwa suara mereka perlu dindengar.
Apa bisa dia termasuk di
dalam seminar pelatihan di luar gagasan untuk komunikasi sama pemecahan
masalah, seperti yang difokuskan di berubah, atau sebagai pemberdayaan?
Bagaimana bisa dia melepaskan potensi dari tiap guru yang individu dan
membangun metodologi baru bahwa akan membentuk kembali dan mempersatukan
kelompok? Bagaimana bisa metoda komunikasi baru membantu ke arah menciptakan
suatu pengertian dari keesaan atau keseluruhan tindakan di dalam para guru dan
secara efektif mengganti kerugian untuk variasi jelas di dalam kelompok berbeda
lebih. Lagi ini, dengan ketersediaan informasi hari ini lazim? Kekuatan dan
batasan yang internal dan eksternal yang lain yang penting di dalam penyelidikan,
kepemimpinan, manajemen, struktur, dan lebih?
8.14.1. Dibingungkan
Satu bulan telah lewat, dan
Diane menemukan dirinya lebih dikacaukan. Setelah satu tinjauan ulang literatur
yang luas, dia belum mampu menunjuk kesenjangan yang penting bahwa ada di
antara teori dan praktek di daerah sekolah. Dia mengetahui lebih banyak tentang
komunikasi organisasi dan telah menggambarkan daerah memerlukan. Bagaimanapun,
dia masih bukan mampu memikirkan satu dalam jabatan program pelatihan bahwa
akan menunjuk kebutuhan dari kelompok dan adalah dapat menyesuaikan diri cukup
untuk melayani daerah sekolah tersebut dengan baik ke dalam implementasi
gelombang ketiga baru. Kedua nampak secara diametris ditentangkan.
Sasaran Diane yang bersifat
sementara didaftarkan di bawah di dalam pertanyaan untuk kasus ini. Dalam
posisi ini, kelompok pembaca dan studi diundang untuk menunjuk pertanyaan
termasuk diskusi dan formalitas dalam jabatan sasaran hasil pelatihan. Anda
boleh menggunakan sistem persekolahan gelombang yang ketiga sebagai suatu
pemandu umum atau sistem persekolahan yang ada lain manapun kubah proyek yang
terbiasa.
PERTANYAAN-PERTANYAAN
1.
Pada awal naratif selama
pertemuan yang anda mungkin telah memberi label mental model actors/individual.
Mental ini model sering kali berpasangan dengan gaya teori lazim di dalam riset
komunikasi. Mental ini model juga sering kali menimbulkan kiasan-kiasan bahwa
menguraikan pendekatan teoritis tertentu. Adalah mental model yang dapat
dibedakan? Diskusikan pendekatan yang teoritis. Bagaimana cara model-model dan
kiasan-kiasan berhubungan dengan kecenderungan-kecenderungan teori?
2.
Dengan diskusi yang singkat
di antara para aktor, akan anda percaya mereka bisa berbuat pemahaman
pembedaan-pembedaan yang berikut? Mengapa atau mengapa tidak?
»
Sistematis dan sistemik
»
Yang dididik dan diinformasikan
»
Pengetahuan dan mengetahui
»
Komunikasi dan informasi
Apa yang
pembedaan-pembedaan Anda membuat?
3.
Mereka yang yang mengambil
bagian sedang rapat sepertinya adalah berhadapan dengan isu-isu kontroversial
dari suatu sudut pandang yang retrospektif. Bagaimana akan anda menyatakan
bahwa mereka menjadi lebih yang introspektif?
BAB 9
HUBUNGAN MANUSIA: DASAR PERPUTARAN BAGI
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Perhatian
tentang kepemimpinan pendidikan sudah meningkat di tahun terakhir. Pada perhatian
ini, dalam bagian, hubungan dengan para pemegang saham dan peran pengawas dalam
memainkan pencapaian keunggulan pendidikan. Pada tahun 1987 laporan pada pemimpin
sekolah di Amerika Serikat, National Commission pada Excellence di Educational
Administration (Griffiths, Stout, & Forsyth, 1988) mengklaim usaha itu
untuk mencapai keunggulan pendidikan tidak bisa sukses tanpa kepemimpinan yang
kuat, dengan baik memberi alasan kepada para pemegang saham dan pengawas (Hal 6).
Tinjauan ulang yang terbaru dari pengefektivitan sekolah mengungkapkan para
pemegang saham dan para pengawas dapat dan membantu sekolah mencapai keunggulan
(Mangieri, 1985; Sergiovanni, 1991).
Panggilan
untuk kepemimpinan yang kuat dalam mencari pendidikan sekolah yang unggul telah
sering dibantah di muka umum (Berney & Ayers,1990; Duignan & Macpherson,
1992; Guthrie & Reed, 1991; Kouzes & Posner, 1987; Maxcy 1991; Reavis
& Griffith, 1992; Schlechty, 1990; Sergiovanni & Moore, 1989).
Schlechty negara:
Para pendidik dan masyarakat yang menghargai sistem pendidikan
Amerika, dan kepada siapa yang percaya, seperti yang saya lakukan, keunggulan dalam pendidikan yang secara langsung
dihubungkan kedalam semua area keunggulan di dalam kehidupan demokrasi social, mempunyai
suatu minat yang khusus yang akan memastikan bahwa para pemimpin pendidikan di Amerika,
tidak seperti para pemimpin industri jalan kereta api, mengerti dengan jelas
bisnis mereka sebelum terlambat. (Hal 151)
Sebagai
tambahan, mencari pemimpin pendidikan yang kuat yang telah menggemakan secara
serempak/simultan ekspektasi publik terhadap sekolah. Dengan meningkatkan
kompetisi global, harapan akan sekolah publik telah bangkit. Sekolah diharapkan
sebagai tempat manusia yang dapat meningkatkan tingkat pemikiran, pengetahuan,
keterampilan, dan sosialiasi. Harapan sekolah bahwa para pemimpin pendidikan
harus menyediakan kepemimpinan yang kuat untuk memperbaiki kualitas/mutu dan
membangkitkan prestasi siswa kepada tingkat yang baru. Dengan demikian, ketika
tahun 1980an dan 1990an sudah menjadi zaman perubahan, kepemimpinan sudah teranggil untuk
selalu berhubungan dengan harapan baru yaitu keunggulan.
Keyakinan
yang berada dalam kekuatan kepemimpinan dan yang paling berpotensial untuk
membuat perubahan di sekolah yang didasari oleh sebagian besar literature
kepemimpinan untuk keunggulan pendidikan. Literatur yang mengungkapkan para pemimpin
yang terampil dalam manajerial, penginstruksian dan kepribadian yang sulit.Masa
keunggulan ini, tuntutan yang ada lebih banyak, para pemimpin sekolah harus
membentuk nilai, mengembangkan visi, membentuk peruntukan, dan mengembangkan
kultur yang unik berdasar pada nilai moral mereka (Sergiovanni, 1984. 1991,
1992). Seperti kewenangan organisasi lainnya, kepemimpinan sekolah harus tidak
hanya “lakukan berbagai hal benar.” juga “lakukan kebenaran.” Dalam sasaran mengarahkan
organisasi, interaksi manusia yang kompleks mengharuskan di semua daerah
pemilihan pendidikan, pengawas, para kepala sekolah, para guru, para siswa, dan
para mitra komunitas mempunyai pemahaman yang bersih tentang sifat manusia dan
pola tingkah laku manusia.Karenanya, keperluan itu untuk memahami hubungan sesama
manusia. Keunggulan harus pula tandingkan oleh suatu sosial yang besar dan teknik
penghargaan lingkungan pendidikan. Individu para pemimpin dan para pengikut
saling berhubungan ke seberang suatu peran yang luas dan aktivitas. Dalam
lingkungan saling tergantung dan interaktif ini yang adalah sangat mendesak
bahwa studi hubungan antar manusia diselidiki di suatu kerangka lebih terbuka.
Sebagai lawan pemeriksaan tradisional, penyelidikan sekarang ini harus
menjelajah ke dalam konteks yang lebih besar. Eksplorasi konteks yang lebih
besar ini mengakui adanya kenyataan penting dan variasi pada kenyataannya bahwa
memimpin ke arah mengerti lebih lanjut. Dengan cara yang sama, sebagai
pengarang lainmya mengusulkan sebagai fakta, studi kepemimpinan pendidikan
perlu menyertakan sumber tindakan
perspektif kepada semua unit anggota pendidikan yang dipandang dari suatu perspektif berpikir-lakukan dan
pondasi teori-praktek (Argyris, 1985; Silverman, 1971).
9.1.
Pengembangan dari Manusia
Konsep Hubungan
Meski hubungan manusia sudah hidup sejak waktu permulaan, seni dan
ilmu pengetahuan berusaha untuk membuat perjanjian dalam pengaturan pekerjaan
adalah relatif baru. Tidak sampai kepada pertengahan kedua abad yang ke
sembilan belas para peneliti mengubah perhatian kepada kebutuhan pekerja.
Evolusi konsep utama hubungan antar manusia terjadi dalam enam langkah: (1)
Pemikiran klasik, (2) Pengembangan sistematis, (3) Mengajar dan mempraktekkan,
(4) Perbaikan, (5) Kemunduran, dan (6) Perputaran (Davis, 1967; Sanford, 1977).
Langkah berpikir klasik (sebelum tahun
1930an).
Tahapan
ini ditandai oleh teori ekonomi klasik dan gerakan manajemen ilmiah. Para
penganjur teori dari manusia yang ekonomi percaya bahwa tingkah laku manusia
ditentukan oleh kebutuhan yang ekonomi dan sasaran ekonomi. Hubungan antar
manusia adalah masalah pendirian/penetapan suatu perangsang berperan untuk
keperluan hidup dan pengisian kembali dari tenaga kerja. Gerakan manajemen
ilmiah memfokuskan peningkatkan efisiensi dan produktivitas selagi menarik
perhatian kepada pentingnya orang-orang dalam situasi kerja. Taylor (1911), bapak manajemen ilmiah, adalah
salah satu dari pertama untuk memanggil perhatian kepada orang-orang dalam
situasi kerja sebagai satu faktor yang penting dalam mencari efisiensi dalam berproduksi.
Dalam permasalahan pandangan manusia adalah apa yang berdiri pada jalan
produktivitas yang lebih besar. Taylor memanggil dirinya sendiri sebagai
penyeleksi ilmiah dan pembangun tenaga kerja.
Walaupun beberapa sarjana (Dennison, 1931; Gantt, 1916; Frankel
& Fleisher, 1920; Ure, 1835) menekankan, manusia psikologis yang individu
dan kebutuhan sosial, gagasan mereka diterima sangat lama atau sama sekali
tidak. Kontras, gagasan dominan untuk riset hubungan antar manusia yang klasik
cenderung untuk memandang orang-orang yang dipekerjakan sebagai suatu alat atau
sebagai sumber daya yang khusus. Usaha untuk membuat desain birokrasi terstruktur
yang diperdaya oleh faktor kekurangan manusia. Para praktisi dan ahli teori
mengenal pentingnya orang-orang industri tetapi tidak termasuk pandangan sesama
manusia holistic. Organisasi yang effektif dan efisien ditandai seolah-olah
mereka adalah mesin. Para pekerja dirasa sebagai efisiensi perspektif atau
produktivitas sumber daya.
Langkah Pengembangan Sistematis (1930-1950).
Kebanyakan
dari pondasi bagi teori hubungan antar manusia yang modern dan praktek
mengembangkan terjadi pada tahap ini. Sebagai reaksi awal kepada interprestasi organisasi
yang mekanistis. Follett (1930) angkat
bicara tentang pemenuhan martabat dan nilai para pekerja.Pekerjaan dari Mayo
(1933) dan Roethlisberger (1939) di pabrik Hawthorne juga menyalakan minat awal
hubungan antar manusia. Menemukan pembelajaran dari Hawthorne yang
mengindikasikan bahwa produktivitas mempunyai urusan dengan sosial dan
interaksi psikologis diantar sumber daya manusia. Studi lebih lanjut
menunjukkan bahwa para pekerja berkontinyu dan menutup hubungan struktur social
mereka yang mungkin mempengaruhi produktivitasnya. Berbagai perkataan berulang
studi Hawthorne yang ditandai dengan permulaan ujung kepercayaan atas konsep
ekonomi seperti penjelasan utama memotivasi pekerjaan dan perilaku. Studi
organisasi sebagai sistem sosial di mana kebutuhan sosial yang paling penting
adalah memotivator para pekerja untuk fokus.
Taylor dan zaman ini, manusia permasalahan merintangi produksi.
Bagaimanapun, dengan sedikit perhatian yang akan dibayar pada sudut pandang
ini. Kontras Mayo dan para koleganya, permasalahan manusia menjadi ladang baru
dari studi dan peluang untuk kemajuan. Sementara Taylorisme meningkatkan
produksi dengan rasionalisasinya, Mayo dan para koleganya membeli untuk
meningkatkan produksi dengan pemanusiaannya itu.
Penyokong hubungan antar manusia yang lainnya, Barnard (1938),
organisasi dipandang sebagai sistem yang terdiri atas manusia bekerja dengan
kooperatif untuk mencapai tujuan dibandingkan dengan mekanisme formal yang
terstruktur yang bukan perseorangan. Barnard menyatakan disetiap organisasi
yang kompleks ada kelompok kecil yang beroperasi yang saling berinteraksi yang
mendorong kearah penciptaan hubungan bekerja informal dan standar di organisasi
yang formal.Barnard dengan jelas di depan waktunya,
banyak tahun terlewat sebelum konsepnya diambil serius atau dipraktekkan.
Langkah mengajar dan berpraktek (1950-1960).
Setelah kesimpulan dari riset Hawthorne disebarkan, konsep
hubungan antar manusia mulai di terapkan dalam skala signifikan. Sebagai hasil pembelajaran
Hawthorne, yang memfokuskan praktek hubungan antara manusia yang digeser dari
penekanan ekonomi sampai penekanan psikologi-sosial. Pekerja memerlukan
kepuasan yang terlihat mendorong kepada produktivitas lebih besar dan sosial
dan kebutuhan psikologis para pekerja dilihat sebagai faktor penentu yang
penting dari perilaku. Harapan karena produktivitas pekerja akan meningkatkan
jika aktivitas hubungan antar manusia dalam organisasi yang dihadirkan dan
dimanipulasi. Para pekerja akan memperoleh sosial lebih besar dan kepuasan
psikologis sebagai hasilnya.
Itu juga merupakan kepuasan sosial yang dipercaya menuntut
kebebasan untuk disosialisasikan kepada pekerjaan. Kepuasan psikologis bisa
dipenuhi dengan membiarkan para pekerja untuk mengambil bagian keputusan
managerial. Hal ini, pada gilirannya, akan mengakibatkan pemuasan kebutuhan yang
lebih besar, menghasilkan peningkatan kinerja dan produktivitas yang lebih
tinggi. Moril, suatu konsep yang terkait, juga menjadi riset topik yang
menarik. Semua konsep ini mencerminkan satu pandangan yang optimis dari sifat
manusia.
Pengembangan Riset dan teori di dalam tahap ini berlanjut.
Tannebaum dan Schmidt (1958), Blake dan Mouton ( 1964), Fiedler (1967), Likert
(1961), Herzberg et al. (1959), Maslow (1954), Argyris (1964), McGregor (1960),
Porter dan Lawler (1968), dan Vroom (1964) di antara para sarjana yang paling
penting. Mereka menekuni aspek manusia kepada organisasi seperti kebutuhan
individu dan motivasi.
Langkah Pemurnian (1960-1970).
Dalam melanjut usaha beberapa gelanggang termasuk mengembangkan
teori yang lebih baik dan memperbaiki praktek dalam menghasilkan teori sintesis
hubungan antar manusia. Tiga teori utama modifikasi termasuk Miles (1975) Model
Sumber Daya Manusia, Likert (1967) Model Pendukung, dan Tosi dan Hamner (1974)
model Ketidaktentuan.
Model Sumber Daya Manusia Miles yang berasumsi bahwa pekerjaan
tidak terpisahkan dengan rasa tidak suka dan bahwa orang ingin berkonstribusi untuk
tujuan yang penuh artu. Untuk itu Miles, perihal penting di organisasi adalah
bagaimana caranya menggunakan sumber daya manusia yang belum digunakan. Model
Likert mendukung penekanan iklim pendukung hidup organisasi. Iklim yang
mendukung yang memastikan bahwa para anggota dalam organisasi akan merasa suatu
pengertian dari nilai pribadi dan paling penting dalam hal ini adalah semua interaksi
dan hubungan dengan organisasi.
Model Ketidaktentuan Tosi dan Hamner memerlukan bahwa kita
menjelajah organisasi sebagai suatu sistem atau unit dari perilaku yang terdiri
atas subsistem atau subunit bahwa sudah mengenali batasan sistem. Perilaku dari
unit adalah hubungan lingkungan di atasnya tergantung kepada subunit yang lain
dan mempunyai beberapa kendali atas konsekuensi yang diinginkan oleh subunit.
Perilaku individu dan kelompok tergantung pada empat unsur yang terkait: faktor
penentu psikologis, faktor penentu organisasi, karakteristik internal
organisasi, dan karakteristik lingkungan.
Langkah Penurunan (1970-1980).
Riset dalam hubungan antar manusia merosot setelah 1970 ketika
peneliti menjadi tertarik akan faktor lain. Sebagian terbesar dari beberapa studi
yang teoritis dalam periode ini memfokuskan peran kepemimpinan yang berkenaan
dengan referensi untuk para pemimpin dibandingkan para pekerja itu sendiri.
Studi ini mengembangkan fungsi, prosedur dan aktivitas keluar dan dating dari hubungan
antar manusia. Tinjauan ulang yang lebih terperinci dari literature yang mengungkapkan bahwa kebanyakan dari studi dan
model berkembang pada periode ini membatasi diri mereka untuk studi dari
berbagai bagian proses kepemimpinan (misalnya, komunikasi, perencanaan,
pengambilan keputusan, evaluasi). Tidak ada usaha yang penting dibuat untuk
membangun satu kerangka yang integratif hubungan antar manusia.
Langkah Perputaran (l980-saat ini).
Dewasa ini itu kelihatannya tepat kepada tahap studi dari kinerja manajemen
Jepang sukses dan “berputar” melalui berbagai aplikasi konsep hubungan antar
manusia Jepang. Periode ini terlihat kritis pada sisi manusia organisasi. Ouchi’s
(1981) Teori Z, yang termasuk kualitas dari penghidupan pekerjaan, mengumpulkan
pengambilan keputusan dan tanggung jawab, ketenaga-kerjaan seumur hidup, kendali yang harus dipatuhi, dan lingkaran
kualitas, sekarang ini mencerminkan konsep yang sedang dijelajahi ke dalam
paradigma hubungan antar manusia (Kossen, 1987). Ouchi dihargai setelah menarik
perhatian substansiil selama 1980an itu kepada perbedaan gaya manajemen diantara
Jepang dan Amerika Utara. Model konseptualisasikan organisasi yang memelihara
kendali mekanisme yang tegas dan formal dan percaya akan perencanaan formal,
manajemen oleh sasaran, dan informasi dan sistem akuntansi canggih. Lingkaran
kualitas, mengolongkan para pekerja yang terdiri dari nilai dan hidup
dimana/siapa yang bertukar informasi untuk peningkatan timbale balik, mulai kembali
membangunan rohani dari perhatian managerial kembali kepada para pekerja.
9.2.
Mengkonseptualisasi Hubungan
Teori Manusia
Sementara langkah di atas menolong kita untuk melacak gerakan
hubungan antar manusia, adalah penting juga untuk memahami tiang penyokong
gerakan konseptual. Gerakan hubungan antar manusia menekankan peran yang
penting dari faktor manusia di organisasi. Para peneliti menggambarkan hubungan
antar manusia yang didasarkan konsep yang berikut: optimis pengambil-alihan
sifat manusia, dimensi etis dan klinis, kebutuhan manusia, motivasi manusia dan
kinerja peran manusia, moril, dan organisasi formal.
9.2.1.
Definisi Hubungan Antar Manusia
Usaha yang telah dibuat
kepada hubungan antar manusia konseptualisasi dari perspektif yang berbeda.
Saltonstall (1959) memandang hubungan antar manusia seperti “studi dari
orang-orang dalam tindakan” (Hal 3). Saltonstall juga hubungan antar manusia
seperti studi dari orang di saat berkerja, “tidak hanya orang sesama individu
hanya orang sebagai para anggota kelompok kerja yang informal, orang sebagai
para eksekutif di dalam manajemen, orang ketika anggota perserikatan, dan orang
sebagai para anggota organisasi dengan sasaran ekonomi” (Hal 4).
Dari manajemen perspektif,
Scott (1962) menggambarkan hubungan antar manusia secara operasional seperti
proses dari motivasi yang efektif dari individu pada pemberian situasi untuk
mencapai suatu objek keseimbangan supaya menghasilkan kepuasan yang lebih besar
dan membantu menyelesaikan tujuan organisasi. Memperhatikan hubungan antar
manusia yang menjanjikan produktivitas yang lebih tinggi, efektivitas
organisasi yang lebih besar, dan kepuasan para karyawan.
Seperti Scott, Halloran
(1978) menggambarkan istilah hubungan antar manusia seperti semua interaksi itu
dapat terjadi diantara orang-orang, apakah terpikir oleh mereka di dalam
situasi yang konfilk atau perilaku yang koperatif. Mempelajari hubungan antar
manusia di dalam organisasi adalah belajar bagaimana hubungan orang-orang dapat
bekerja dengan efektif dalam kelompok dalam perintah untuk kepuasan diantara tujuan
organisasi dan kebutuhan perseorangan.
Merealisirkan kompleksitas
organisasi manusia, Davis (1977) memberi suatu penjelasan yang luas istilah hubungan
antar manusia. Davis menjelaskan bahwa istilah hubungan antar manusia dapat
diterapkan dengan luas untuk interaksi orang-orang dalam segala jenis usaha,
dalam bisinis, pemerintahan, klub sosial, sekolah dan rumah.
Banyak dari interaksi
adalah organisasi bekerja, di mana orang-orang sudah mengikat bersama-sama dari
beberapa struktur formal untuk mencapai sasaran. Interaksi manusia dikembangkan
yang disebut dengan karyawan hubungan antar manusia atau organisasi hubungan
antar manusia. Oleh karena itu, hubungan antar manusia adalah pembelajaran dari tingkah laku manusia di tempat kerja dan usaha belajar manusia untuk mulai bertindak dalam mengoperasikan
situasi dalam rangka menghasilkan hasil yang lebih baik. Hubungan antar manusia
dirasa sebagai pengintegrasian orang-orang ke dalam situasi kerja bahwa
memotivasi mereka untuk bekerja sama secara produktif, koperatif, dan bersama ekonomi,
psikologis, dan kepuasan sosial. Hubungan antar manusia mempunyai potensi untuk
memotivasi orang-orang di organisasi dan mengembangkan kerjasama kelompok bahwa
secara efektif memenuhi kebutuhan mereka dan mencapai sasaran hasil organisasi.
9.2.2.
Asumsi Optimis Sifat Manusia
Persepsi alami/sifat dasar
manusia berbeda menurut pengalaman topik pengalamatan kontroversial. Studi
klasik menujukan untuk mengadopsi pandangan pesimistis dari sifat manusia.
Manusia dilukiskan sebagai yang suka menentang, tamak, agresif, dan tidak
koperatif. Ini kontras, hubungan antar manusia memeluk pandangan optimis. Para
penganjur dari pandangan ini percaya bahwa wajar untuk reaksi manusia untuk memotovasi
diri sendiri dan mengontrol diri sendiri, walaupun reaksi tingkah laku
dipengaruhi menerima perawatan dari yang lainnya (Knezevich, 1984).
Pandangan yang optimis dari
sifat manusia menekankan pada empat aspek: perbedaan individu, keseluruhan
orang, perilaku yang disebabkan, dan martabat manusia (Davis, 1967, 1977).
Davis dan yang lainnya menjaga hal tersebut meskipun banyak orang yang
mempunyai kesamaan, tiap orang dunia juga berbeda secara individu. Perbedaan
individu memerlukan keadilan dan kebenaran, oleh karena itu, ditentukan oleh
kasus dasar dan kasus dan tidak secara statistik. David juga mempertahankan bahwa ciri seseorang berbeda mungkin
dipelajari secara terpisah, tetapi analisa akhir, mereka semuanya adalah bagian dari sistem
yang membuat/menyusun secara utuh. Dengan cara yang sama, kondisi seseorang
yang secara emosional tidak terpisah dari kondisi phisik. Masing di
mempengaruhi oleh yang lain.
Studi psikologis hubungan
antar manusia mengindikasikan bahwa kebanyakan tingkah laku manusia disebabkan
oleh struktur kebutuhan Perilaku dipengaruhi dengan memotivasi orang-orang
untuk memenuhi kebutuhan mereka ketika mereka melihatnya. Bagaimanapun,
orang-orang yang tidak termotivasi hendaknya berpikir memotivasi mereka yang
lainnya, tetapi dengan apa yang mereka sendiri inginkan. Lebih penting lagi,
hubungan antar manusia menekankan martabat manusia. Orang-orang dalam kelayakan
organisasi yang untuk diperlakukan dengan cara yang berbeda dibanding aspek dari
produksi yang lain. Manusia sebagai individu menuntut bahwa dia diperlakukan
dengan rasa hormat dan martabat.
9.2.3.
Dimensi Etis dan Klinis
Studi hubungan antar
manusia dapat juga dipandang dari dua dimensi: dimensi klinis dan etis. Dimensi
klinis, hubungan antar manusia menggunakan peralatan dan data untuk memecahkan pondasi
permasalahan manusia dalam situasi di mana mereka terjadi. Hubungan antar
manusia dapat juga dipelajari dari dimensi etis, pada suatu rangkaian dari yang
bersifat perseorangan ke suatu perspektif kemasyarakatan. Yang terlebih dahulu
dalam percampuran ide/gagasan yang bersinggungan untuk kebebasan
personal/perseorangan dan keunggulan tindakan individu. Yang belakangan adalah
pernyataan nilai dari kerja kolaborasi manusia dan kesetiakawanan/solidaritas
(Scott, 1962).
9.2.4.
Pentingnya Kebutuhan Manusia
Hubungan antar manusia
kebutuhan teori dari manusia. Manusia relationists memelihara bahwa semua orang
mempunyai kebutuhan. Seperti studi manajemen klasik sudah menentukan/menetapkan,
orang-orang tidak bisa bertahan hidup karena panjang tanpa kebutuhan primer,
seperti makanan, minuman, tidur, dan udara untuk bernafas. Manajemen namun
klasik berpikir juga menunjukkan bahwa kebutuhan sekunder dengan sama pentingnya,
terutama hidup berorganisasi yang sehari-hari. Oleh karena itu, kita ingin
sekali merasa aman, untuk bersama orang lain, untuk respek, dan untuk memenuhi
potensi kita. Karena kebutuhan manusia dibangun dari biologi dan psikologi-sosial
melengkapi individu, mereka bersifat unsur penting dari tingkah laku manusia.
Dalam prakteknya, kebanyakan tingkah laku manusia dipengaruhi atau yang
termotivasi oleh kebutuhan manusia.
9.2.5.
Motivasi Manusia dan Tingkah Laku Manusia
Motivasi adalah suatu
konsep yang pusat yang digunakan oleh pemikir hubungan antar manusia pada
penjelasan tingkah laku manusia. Mereka mendidik motivasi terminologi dan perilaku
yang berhubungan erat karena tingkah laku manusia terjadi sebagai hasil
motivasi. Bagaimanapun, mereka juga mengenali motivasi dan perilaku tidak bersinonim
seperti yang mereka munculkan. Motivasi hanyalah satu mungkin kelas yang
penting dari faktor penentu dari perilaku.
Motivasi dan perilaku
dihubungkan melalui kebutuhan dan keinginan (hasrat) (lihat Gambar 9.1).
Kebutuhan menciptakan tegangan yang dimodifikasi oleh kultur atau situasi untuk
menyebabkan keinginan tertentu. Ini ingin ditafsirkan dalam kaitan dengan
menggunakan istilah positif dan negatif untuk menghasilkan suatu tanggapan atau
tindakan tertentu. Tindakan diarahkan terhadap pemenuhan atau kepuasan
kebutuhan (Davis, 1967; Halloran 1978; Sanford, 1977).

Gambar 9.1.
Motivasi dan Tingkah Laku
Tidak semua kebutuhan
menciptakan tegangan dan mengakibatkan perilaku. Di setiap individu pada waktu yang
tepat mempunyai beberapa keperluan yang secara relatif dengan baik dicukupi,
atau sedikitnya secara parsial dengan baik mencukupi, seperti juga beberapa
kebutuhan yang tidak terpenuhi/terpuaskan. Kebutuhan yang dicukupi tidak
memotivasi; kebutuhan yang tidak terpenuhi/terpuaskan adalah karena orang-orang
menciptakan ketegangan dan memotivasi perilaku.
9.2.6.
Peran Motivasi dalam Kinerja
Di dalam hidup organisasi,
sekolah hubungan antar manusia merasa memotivasi ketika salah satu dari dua
faktor utama dari sebuah konstribusi individu untuk performa tugas. Faktor yang
lain adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas. Kemampuan termasuk ketrampilan
mental dan phisik dan pengetahuan dan pengalaman bahwa perorangan meminta
berlaku bagi suatu tugas. Motivasi adalah usaha yang dapat memberlakukan
kemampuan bagi suatu tugas. Performa dipandang sebagai suatu fungsi kemampuan
interaksi dengan motivasi (Reitz, l987):
Kinerja = Æ’
(Kemampuan x Motivasi)
Secara umum, ketika
orang-orang keduanya kemampuan yang rendah dan kemampuan tinggi enggan untuk mengambil
usaha mereka ke dalam kinerja mereka, perbedaan kinerja itu akan diperkecil.
Berubah di dalam tingkat buatan usaha lebih banyak kesuatu perbedaan kinerja
dari orang-orang yang berkemampuan tinggi dibandingkan dengan orang-orang
kemampuan yang rendah (Reitz, 1987). Motivasi, oleh karena itu, adalah suatu
unsur yang penting dalam kaitan dengan? Dengan menggunakan istilah perilaku
keorganisasian.
9.2.7.
Moral dan Produktivitas
Moril adalah salah satu
dari konsep yang penting dari sekolah hubungan antar manusia. Moril, suatu
konsep berhubungan erat kepada motivasi dan kepuasan, lihat pada atmosfer yang
diciptakan oleh sikap-sikap dari para anggota dari suatu organisasi (Reitz,
1987). Sekolah hubungan antar manusia percaya bahwa ada suatu hubungan antara
produktivitas dan moril. Di bawah kondisi moril yang lemah, keluaran yang baik
adalah sulit untuk mendukung untuk periode lama. Bagaimanapun, moral yang baik
tidak perlu menyebabkan produktivitas tinggi. Meski mungkin saja satu faktor
yang penting, itu adalah hanyalah satu pengaruh di jumlah keseluruhan
produktivitas: Karena moril yang tinggi dengan baik mempengaruhi produktivitas
yang harus disertai oleh arah dan kendali yang layak. Meski moril bukan suatu
faktor bahwa dapat dibeli atau diperintah, ahli teori hubungan antar manusia
sudah memperingatkan supaya hati-hati terhadap meremehkan kekuasaannya.
9.2.8.
Makna dari Organisasi Informal
Salah satu dari kesimpulan
paling berjangkauan luas dan penting studi Hawthorne menghubungkan pentingnya
organisasi informal dan hubungan kepada situasi jumlah kerja. Organisasi
informal adalah suatu jaringan dari pribadi dan hubungan sosial bukan yang
dibentuk atau yang diperlukan oleh kewenangan formal tetapi timbul secara
spontan ketika orang-orang mengaitkan dengan satu sama lain. Organisasi formal,
otoritas bersamaan dengan suatu posisi di dalam struktur. Gerakkan di
organisasi informal berada dengan
perorangan. Karena organisasi informal ada di dalam organisasi formal, perilaku
dari individu di dalam organisasi informal dipengaruhi oleh seperti juga
organisasi formal.
Ahli teori juga menunjukkan
bahwa organisasi yang informal kadang-kadang menciptakan permasalahan untuk
organisasi. Mereka memancarkan informasi palsu melalui grapevent, lapisan pelindung yang berubah, penyesuaian penyebab
berlebihan kepada norma kelompok, dan bahkan mengembangkan sasaran bahwa
bertikai dengan mereka yang dari organisasi formal. Organisasi informal,
bagaimanapun, juga melaksanakan bermacam hal positif dan fungsi yang bermanfaat.
Itu menyediakan kebanyakan para anggota dengan peluang untuk mencukupi
psikologis dan kebutuhan sosial mereka. Banyak dari kebutuhan ini pergi yang
tak puas di dalam kerangka organisasi formal yang lebih besar
9.2.9.
Aplikasi Konsep Hubungan Antar Manusia
Hal tersebut mencatat bahwa
tidak benar dan tidak puas bagi para pekerja akan mempengaruhi produktivitas.
Apakah itu benar bahwa keikutsertaan perlu memimpin ke arah kepuasan kerja dan
produktivitas.
Manajemen hubungan antar
manusia tidak menyiratkan hanya menyenangi orang-orang. Tidak suatu kepercayaan
bahwa para pekerja dengan kurang baik mempengaruhi produktivitas atau bahwa
keikutsertaan memimpin ke arah kepuasan kerja dan produktivitas lebih besar.
Penekanan yang utama harus berjalan untuk membuat para pekerja merasa seperti
penyokong bermanfaat kepada pemenuhan tugas, dan bahwa mereka sedang lakukan
sesuatu penuh arti dan yang bersifat membangun pada bekerja hubungan
organisasi. Hubungan antar manusia ahli teori bukan suatu kelompok “lakukan-yang
terbaik,” tetapi bekerja untuk mengurangi pertentangan diantara individu dan
organisasi mereka dan untuk menggali sisa pertentangan ke dalam hasil yang
bersifat membangun. Hubungan antar manusia tidak hanya berfokus kepada suatu
kelompok khusus hanya semua orang di organisasi ( Argyris, .1957; Davis, 1967;
Sanford, 1977)
9.3.
Perspektif Teoritis
Hubungan antar manusia
Seperti yang dilihat di atas,
riset dari berbagai disiplin sudah mendukung pengembangan dari banyak konsep
hubungan antar manusia yang dapat dipakai. Meskipun demikian, kebanyakan konsep
hubungan antar manusia diakibatkan eksperimen oleh penemuan organisasi industri
dan psikologi. Studi relevan hubungan antar manusia dan hubungan mereka kepada
kepemimpinan diringkas ke dalam empat kategori dan diuji di dalam bagian berikutnya.
Kategori itu adalah sifat manusia, motivasi manusia, moril organisasi, dan
organisasi informal. Studi haruslah dicatat bahwa ini menggunakan terminologi
manajemen (para manajer) dan kepemimpinan (para pemimpin) dengan dapat
dipertukarkan.
9.3.1. Sifat Manusia
Teori X dan Teori Y. Studi
psikologis menunjukkan bahwa persepsi kita dari orang lain menentukan, sebagian
terbesar, bagaimana kita akan memperlakukan yang lain dan bereaksi terhadap
mereka. Persepsi kita adalah lensa dengan mana kita menilai dan melihat yang
lain (Hall, 1980; Hammond, 1966). McGregor (1960) menggolongkan dua lensa yang
terpisah; jelas bahwa penggunaan para manajer: Teori X dan Teori Y secara
aktual Teori X dan Teori Y membandingkan beberapa persepsi bahwa managerial
klasik dan menyertai para pemikir hubungan antar manusia.
Teori X, menggambarkan
pandangan mekanistis tradisional, mengasumsikan sebagai berikut: (1) Rata-rata
manusia mempunyai satu yang tidak bisa dipisahkan perasaan tidak suka terhadap
pekerjaan dan akan menghindari jika ia dapat; (2) Oleh karena karakteristik
manusia, kebanyakan harus dipaksa, terkendali, dingarahkan, dan mengancam
dengan hukuman mereka dapat dengan cukup mengusahakan untuk mencapai sasaran
hasil organisasi; dan (3) Rata-rata manusia lebih suka mengarahkan, berbagai
keinginan untuk menghindari tanggung jawab mempunyai ambisi kecil secara
relatif, dan menginginkan keamanan di atas semuanya. McGregor berargumentasi
bahwa meski Theory X hal ini menjelaskan hal beberapa tingkah laku manusia di
organisasi, ada banyak gejala tampak siap bukanlah konsisten dengan pandangan dari
sifat manusia.
Teori Y, menggambarkan
pandangan hubungan antar manusia menyediakan suatu asumsi dengan jelas yang
berbeda mengenai sifat manusia. Itu memelihara sebagai berikut: (1)
Pembelanjaan dari usaha mental dan phisik bekerja adalah sama alaminya seperti
permainan atau istirahat; (2) Kendali eksternal dan ancaman hukuman itu bukan
satu-satunya makna untuk menyempurnakan usaha terhadap sasaran hasil organisasi.
Orang-orang akan berlatih kearah diri sendiri dan pengendalian diri dalam
layanan dari sasaran hasil kepada mana mereka terikat: (3) Kesanggupan untuk
sasaran hasil adalah suatu fungsi pahala yang dihubungkan dengan prestasi
mereka. (4) Orang kebanyakan belajar, di bawah kondisi yang tepat, tidak hanya
untuk menerima tetapi untuk mencari tanggung jawab. (5) Kapasitas untuk
berlatih secara relatif imajinasi derajatnya lebih tinggi, kecerdikan dan
kreativitas dalam solusi permasalahan organisasi adalah secara luas, tidak
sedikit, yang dibagikan di dalam populasi. (6) Di bawah kondisi life modem yang
industri, potensi cendekiawan dari orang kebanyakan itu hanyalah secara parsial
digunakan.
Teori X menawarkan suatu
rasionalisasi untuk kinerja organisasi yang tidak efektif dan sifat alami
sumber daya manusia. Kontras, Teori Y menyatakan bahwa ketidak berhasilan
perilaku keorganisasian berada di dalam konteks dan proses organisasi yang
berbeda. Prinsip organisasi pusat jelas di Teori X adalah arah dan kendali.
Prinsip memperoleh dari Teori Y menuntut bahwa kebutuhan dari kedua organisasi
dan setiap dikenal. McGregor (1960) menyatakan bahwa karena kendali dan arah
eksternal bersifat instrumen yang sesuai di bawah asumsi keadaan yang tertentu
di Teori Y tidak menyangkal kepantasan itu dari Teori X. Teori Y hanya
menunjukkan bahwa Teori X tidak menerapkan di semua kasus.
Pygmalion Leadership. Riset sudah menunjukkan
bahwa pemilihan dari suatu gaya yang sesuai dari manajemen adalah suatu tugas
yang penting untuk para manajer. Perspektif dari suatu lensa bahwa menyaring
persepsi kenyataan kita dan menyediakan dasar untuk menginterpretasikan
pengalaman kita sendiri dengan menggunakan suatu pengaruh yang tangguh sebagai para
pekerja yag bisa ditangkap suatu pelaksanaan diri sendiri atau pengaruh
Pygmalion (Berlew & Hall, 1966; Merton, 1948; Rosenthal, 1974; Rosenthal
& Jacobson, 1968). Dengan demikian, ketika para manajer memperlakukan para
bawahan/subordinat mereka sebagai yang kreatif, terikat, orang-orang yang berkompeten,
seperti di Teori Y McGregor, dan mengatur secara setimpal, kedua manajer dan
para bawahan/subordinat itu akan menuai pahala dari pelaksanaan diri sendiri.
Ketika para manajer memfasilitasi dan menyajikan para bawahan mereka sebagai
orang-orang yang tidak cakap, para bawahan bersifat lebih sedikit mungkin untuk
melaksanakan pada potensi mereka yang penuh (Eden, 1990a; Duchon, Green, &
Taber; 1986; Scandura, Graen, & Novak. 1986). Di dalam skenario ini,
pelaksanaan diri sendiri mempunyai barang kepunyaan merugikan; Empat faktor
bahwa menengahi kepemimpinan/pengaruh Pygmalion adalah: iklim sosial-emosi,
umpan balik, masukan, dan keluaran (Brophy, 1985; Rosenthal, 1981). Faktor ini
mengungkapkan bahwa menyediakan keramahan lebih besar, penerimaan, dan
persetujuan, seperti juga peluang untuk tantangan pada pihak para manajer akan
mengakibatkan kinerja bawahan/subordinat lebih baik. Yang sama “sihir” tidak
untuk diharapkan, bagaimanapun, jika para bawahan diperlakukan tanpa menunjuk
seseorang dengan lebih sedikit umpan balik dan tantangan.
Kepemimpinan memainkan satu peran penting dalam menengahi barang
kepunyaan dari pelaksanaan diri sendiri di dalam organisasi-organisasi.
Pygmalion kepemimpinan adalah dorongan yang konsisten, dukungan dan penguatan
dari tinggi harapan para pengikutnya (lihat Gambar 9.2). Pygmalion
kepemimpinan, menurut Eden (1990), adalah satu pemimpin pendekatan boleh
mengadopsi untuk memimpin para pengikut mereka terhadap keunggulan.
Kepemimpinan/pegaruh Pygmalion dapat menciptakan suatu iklim yang mendukung
antara para pemimpin dan para pengikut melalui perilaku seperti pemandangan
mata para pengikut, mengangguk dengan jelas dan secara sepakat, tersenyum,
penyuaraan kehangatan/keramahan, dan pembicaraan secara yang mendukung.
Perilaku juga faktor yang mendasar dari Likert's (1961) prinsip dari hubungan
yang mendukung.

Gambar 9.2.
Pygmalion Leadership
Kepemimpinan/Pengaruh
Pygmalion dapat juga menyediakan lebih banyak umpan balik. Mengevaluasi kinerja
pengikut dan membiarkan mereka mengetahui di mana mereka berdiri adalah
kepemimpinan bertindak bahwa para pengikut sadar bahwa seseorang sedang
mengamati dan monitoring aktivitas mereka. Kepemimpinan/Pengaruh Pygmalion
dapat menggunakan banyak peluang pada interaksi dari hari ke hari untuk
menafsirkan kinerja pengikut, baik sebagai pujian atau sebagai koreksi-koreksi.
Umpan balik positif memelihara prestasi kerja yang baik, selagi umpan balik
negatif mendorong perbaikan kinerja (Komaki, 1986). Pygmalion kepemimpinan
memerlukan investasi meningkatkan para pekerja. Pelatihan pada setiap peluang
dipikirkan untuk membantu perkembangan pertumbuhan pekerja dan menggerakkan
mereka kepada tingkat yang lebih tinggi dari prestasi. Para pengikut dilengkapi
dengan peluang besar untuk katrol/jegalan menantang tugas. Meski gaya
kepemimpinan ini adalah penuh resiko, para pemimpin harus menentukan kemampuan
yang riil dari para pengikut mereka. Memberi kesempatan para para pekerja untuk
menunjukkan apa yang mereka dapat melakukan membantu perkembangan kinerja
tinggi baik melalui pernyataan harapan yang tinggi dan dengan membiarkan untuk menjadi
keunggulan (Eden, 1990b).
kepemimpinan Pygmalion adalah
efektif hanya ketika itu berfungsi di dalam semua empat dimensi yang saling
berhubungan, seperti yang ditunjukkan di dalam Gambar 9.2. Seorang pemimpin
yang menyediakan umpan balik berkelanjutan kepada para pengikut yang akan
memandu mereka dalam mengarahkan ke yang benar dengan keyakinan. Seorang
pemimpin yang mempertunjukkan kegairahan pelatihan pekerja akan menemukan bahwa
kemajuan para pekerja dengan baik. Jadi, dengan demikian, meningkatnya harapan
menjadi yang mungkin. Hasil dari suatu iklim yang mendukung organisasi akan merasa
hormat timbal balik antara pemimpin dan para pengikut. Rasa hormat timbal balik
ini memungkinkan para pengikut untuk menaruh lebih banyak usaha ke dalam
pekerjaan. Seorang pemimpin yang mengharapkan untuk menyediakan tugas lebih
menantang dapat menguji potensi dari para pekerja, sering tidak secara penuh
merealisir. Menantang kinerja menaikan tugas para pekerja dan memudahkan
harapan yang tinggi.
9.4.
Motivasi Manusia
Para siswa memotivasi
tingkah laku manusia dan manusia sudah mengenali dua model jenis teoritis dasar
bahwa berhubungan dengan motivasi organisasi manusia: proses model dan isi
model (Campbell & Pritchard, 1983). Proses model menjelajah bagaimana dan
mengapa motivasi secara umum bekerja. Isi model berhubungan dengan apa yang
secara rinci memotivasi orang-orang.
9.4.1. Model proses
Di antara beberapa proses
model yang berbeda motivasi adalah model pengharapan, behaviorist model, dan pelajaran sosial model.
Model Pengharapan
Model pengharapan terutama berasal dari Tolman's
(1932) Teori Kognitif dan Lewin (1938) Teori Medan. Model pengharapan menyatakan
bahwa motivasi untuk melaksanakan suatu tugas adalah suatu fungsi harapan atau
kepercayaan setiap tentang usaha, kinerja, dan hasil. Model Pengharapan Vroom
dan Model Porter dan Lawler dua pengharapan secara luas menggunakan model bahwa
menjelaskan motivasi manusia.
Vroom (1964) menantang
bahwa motivasi adalah suatu fungsi dari tiga faktor: (1) Tujuan kekuatan atau
keinginan; (2) Kemampuan yang dirasa untuk memperlihatkan perilaku yang
diperlukan, dan (3) Kemungkinan yang perilaku dirasa yang akan mengakibatkan
pencapaian tujuan/sasaran lihat Gambar (9.3). Motivasi adalah produk bagaimana
menginginkan sesuatu yang dan persepsi kemungkinan, strategi atau alat pembantu
tertentu yang mungkin untuk memenuhi keinginan. Vroom menyebut intensitas
valensi keinginan pribadi, dan kemungkinan prestasi dengan pengejaran suatu
strategi yang diberi, pengharapan.

Gambar 9.3.
Model Pengharapan Vroom
Model Pengharapan Vrooms
sudah ditiru dan disuling banyak waktu (Dachier & Mobley 1973: Feldman,
Reitz, & Hiterman, 1976; Porter & Lawler, 1968). Porter dan Lawler
mengembangkan suatu pengharapan yang kompleks dan model yang lebih lengkap
dengan menyelidiki hubungan antara kepuasan dan produktivitas. Mereka
mengusulkan bahwa memasukkan usaha perorangan ke dalam pekerjaan bergantung
pada (1) menghargai suatu tempat harapan dengan
memberi penghargaan dan
(2) Kemungkinan penghargaan yang sebenarnya akan diterima jika usaha itu
dibuat.
Proses ini diselesaikan
dalam tiga langkah (lihat Gambar 9.4). Pertama-tama, pekerja menugaskan
beberapa nilai kepada penghargaan yang mungkin untuk melaksanakan pekerjaan.
Kinerja yang didasarkan, pada setiap pengharapan untuk menerima suatu
penghargaan yang adil, dan kemudian menghadiahi manapun pada hakekatnya atau
secara ekstrinsik. Akhirnya, proses ini adalah lengkap dengan dua pengulangan
umpan balik. Satu diakibatkan oleh setiap persepsi kemungkinan bahwa usaha akan
kesungguhan menghasilkan penghargaan yang diharapkan. Pengulangan umpan balik
yang lain diakibatkan oleh penilaian setiap menyangkut nilai dari diperoleh.
model Porter dan Lawler menyatakan bahwa kinerja memimpin ke arah kepuasan dan
bahwa tingkat kepuasan memperoleh bentuk usaha masa depan untuk melaksanakan
(Owens, 1987).

Gambar 9.4.
Model Motivasi
Porter-Lawler
Teori bentuk sasaran adalah
suatu teori kepemimpinan yag menggunakan model pengharapan. Teori Garis-Tujuan,
seperti dikembangkan, termasuk empat gaya tingkah laku yang berbeda untuk
mempengaruhi kepuasan karyawan, penerimaan karyawan dari pemimpin, dan bahwa kepercayaan
akan usaha karyawan dapat mengakibatkan kinerja dan kinerja akan mengakibatkan nilai
yang dihargai (Homes & Mitchell, 1974).
Empat gaya dari
kepemimpinan yang diperoleh dari teori pengharapan bersifat arahan, dukungan,
partisipatif, dan berorientasi prestasi. Teori Garis-Tujuan berasumsi bahwa
para pemimpin bisa berbuat dengan memperlihatkan lebih dari satu gaya,
tergantung atas keadaan. Pada situasi apapun juga, pameran gaya kepemimpinan
perlu (1) Kenali dan bangkitkan kebutuhan karyawan dan usaha meningkatkan
kinerja karyawan ketika hal tersebut terjadi pemberian imbalan terhadap kinerja
yang sukses; (2) Usaha untuk mempengaruhi kepercayaan-pengharapan bawahan/subordinat
dengan membantu dengan pemenuhan dari tugas yang sulit dan menjelaskan
tugas, dan (3) Buat imbalan distribusi
tergantung pada pemenuhan yang sukses dari pekerjaan.
Model Behaviorist
Asal-muasal dari model behaviorist dapat ditelusuri balik kepada 1910 dan pendekatan yang
tingkah laku yang didukung oleh Watson.
Watson (1930) terbatas pendekatan behaviorist
bahwa untuk tindakan mengamati dapat dipercaya, apa yang seseorang katakan atau
mengerjakan. Model yang ditekuni oleh Skinner (1953, 1971, 1974), hari ini yang
digunakan mengikuti tradisi itu. Model behaviorist
didasarkan dua asumsi yang sederhana. Pertama, perilaku adalah sangat utama
ditentukan oleh lingkungan melalui proses penguatan dasar: stimuli lingkungan,
tanggapan tingkah laku, dan hasil (S-R-O). Ke dua, tingkah laku manusia,
seperti perilaku dari unsur kimia dan secara fisik, adalah tunduk kepada hukum
tertentu. Tingkah laku manusia dapat ia memodifikasi melalui penguatan.
Model Behaviorist pertanyaan konsep motivasi internal yang menyiratkan bahwa
kekuatan internal menyebabkan tidak bisa diamati secara langsung (Luthans &
Ottemann, 1977). Sebagai gantinya, menurut behaviorists,
orang termotivasi oleh bala penguat kejadian yang disebut eksternal, dan
melalui proses hal positif dan pengukuhan negatif (1974). Keduanya hal positif
dan pengukuhan negatif memperkuat kemungkinan bahwa suatu perilaku adalah
mungkin untuk terjadi. Penguatan positif meningkatkan frekuensi perilaku oleh
aplikasi beberapa keadaan, selagi pengukuhan negatif meningkatkan frekuensi
perilaku oleh kepindahan dari beberapa keadaan yang sebelumnya bagian dari
konteks lingkungan. Menurut definisi, pengukuhan negatif bukanlah hukuman. Itu
mengarahkan ke mengurangi, bukan meningkatkan, kejadian perilaku. Model
Behaviorist menunjukkan bahwa waktu pemilihan imbalan sering lebih penting
dibanding mereka. Imbalan/hadiah segera dapat mempengaruhi kinerja lebih
efektif dibanding imbalan/hadiah yang tertunda yang lebih besar, selagi
variabel penguatan dapat lebih secara efektif memelihara tingginya tingkat dari
usaha dibanding imbalan/hadiah dicampur (Reitz, 1987; Skinner, 1974).
Pengaplikasian model behaviorist oleh manajemen berasumsi
bahwa keinginan karyawan untuk hadiah/imbalan dari penguatan dan pengenalan
yang positif, sebagian besar, memotivasi mereka untuk melaksanakan dengan
memuaskan untuk mengantisipasi imbalan/hadiah seperti itu. Kepemimpinan lalu
dalam model ini memerlukan pemimpin untuk (1) Informasikan bawahan mengenai
yang perilaku bersifat diinginkan dan penghadiahan dan perilaku yang tidak
dihadiahi; (2) Sediakan umpan balik yang berkelanjutan kepada karyawan mengenai
sifat dan mutu pekerjaan mereka; (3) Kenali karyawan untuk baiknya pekerjaan;
(4) Pastikan bahwa karyawan menerima penguatan segera, tidak dijadwalkan selama
atau cepat setelah kinerja yang kuat,
dan (5) Penghargaan dengan cara yang berbeda tergantung atas tingkatan
kinerja (Hamner & Hamner, 1976).
Model Pelajaran Sosial,
Sepertiga model proses dari tingkah laku manusia di dalam organisasi disebut
pelajaran sosial model. Itu dikembangkan oleh Bandura (1968, 1976, 1977),
Mischell (1973), Mahoney (1974), dan Staats (1975) dan kombinasikan fitur dari
keduanya pendekatan teori dan penguatan untuk membantu menjelaskan tingkah laku
manusia. Itu menempatkan penekanan di pelajaran dari lainnya orang yaitu
pelajaran sosial.
Pelajaran sosial didasarkan
pada prinsip dari behaviorisme, dan
menekankan pentingnya penguatan dalam menjelaskan perilaku. Bagaimanapun, model
sosial memelihara bahwa peran dari perilaku pengetaman lingkungan yang ditengahi
oleh proses teori. Proses ini dilukiskan dalam model pelajaran sosial dengan
menambahkan satu unsur kepada penguatan S-R-O yang model dasar: proses teori
(C) tengahi barang kepunyaan dari stimuli lingkungan (S) anggapan tingkah laku
(R), yang kemudian diikuti oleh hasil (O). Model pelajaran sosial kemudian
adalah S-C-R-O. (Bandura, 1977).
Memperagakan dan
pengendalian-diri dua jenis dari perilaku bahwa menerangkan dengan contoh
proses pelajaran sosial. Memperagakan mengacu pada proses dengan mana setiap
belajar suatu perilaku dengan peniruan satu mengamati model. Perilaku mengkontrol-dirisendiri
yang diperlihatkan oleh setiap pengenalan batas yang eksternal. Riset dari
pelajaran sosial, mengungkapkan bahwa orang-orang cenderung untuk menghasilkan tindakan,
sikap, dan tanggapan secara emosional yang diperlihatkan oleh membentak
memperagakan perilaku (Bandura & Walters, 1963; Bandura, 1969 Flanders,
1968). Apakah kejadian atau keadaan jadinya menguatkan sebagian tergantung pada
mengamati atau memperagakan penguatan atau menghukum perilaku hasil dari orang
lain. Orang termotivasi tidak hanya oleh pengalaman langsung dari mereka yang
gubuk hasil tanggapan juga dengan konsekuensi pengamatan dari perilaku orang
lain. Model Pelajaran Sosial juga menunjukkan bahwa orang-orang termotivasi
tidak hanya oleh konsekuensi eksternal dari perilaku mereka tetapi oleh
konsekuensi, mereka menciptakan untuk diri mereka (Bandura, 1968; Kanfer & Karoly,
1974). Ketika diri sendiri mereka sendiri menciptakan konsekuensi tidak
dipenuhi, orang termotivasi untuk nafkah bekerja sampai hasil yang diharapkan
tercapai.
Salah satu dari
keterlibatan yang paling penting model pelajaran sosial adalah karena para
pemimpin perlu untuk terutama sadar akan perilaku mereka sendiri. Para pemimpin
yang sudah satu himpunan harapan untuk para pengikut mereka akan tetapi
bertindak dengan cara yang berbeda diri mereka bisa menentukan diri mereka atas
untuk kekecewaan. Mungkin saja para pemimpin benar paling efektif bahwa
memimpin dengan keteladanan. Suatu keterlibatan yang kedua pelajaran sosial
adalah juga mengandung pelajaran. Seperti sebelumnya yang digambarkan, kedua
struktur organisasi informal dan formal berasal dari arti penting kepada
kepemimpinan. Ketika penting karena para pemimpin memahami agenda dan memonitor
pemimpin informal yang retorik informal ini, para pemimpin boleh menemukan
bahwa yang terbaik, pengertian yang mendalam ke dalam pemahaman organisasi
informal yang lebih besar diakibatkan oleh mengamati tindakan.
Model Pelajaran Sosial dan
Tingkah Laku menyediakan makna untuk lebih lanjut mengembangkan ketrampilan
kepemimpinan. Para pemimpin disiapkan untuk bertindak sebagai penasihat, atau
orang yang ingin mempersiapkan diri mereka untuk peluang kepemimpinan yang masa
depan dapat mencari jalan positif untuk mencapai peluang ini. Kemanjuran dari
pendekatan ini miliki secara langsung dipertunjukkan di masa lampau; beberapa
dekade oleh wanita dan minoritas yang sudah mencari peran kepemimpinan. Seperti
banyak wanita dan para anggota kelompok minoritas sudah menaik kepada
kepemimpinan, kelompok, mereka sudah menyediakan peningkatkan peluang untuk
melatih dan peran modeling. Ini sudah dengan mantap meningkat akses ke
kepemimpinan memposisikan untuk ini semua ke dalam beberapa kelompok.
Mendekati Motivasi di
tempat kerja. Dua konsep disiratkan oleh proses model pertimbangan kepemimpinan
kelayakan. Dua konsep ini adalah (1)
Motivasi untuk bekerja lebih keras melawan motivasi untuk bekerja lebih pandai dan; (2) Motivasi positif
melawan motivasi negatif. Memotivasi orang-orang untuk bekerja lebih keras
memberi harapan kepada mereka untuk menerapkan energi lebih secara fisik kepada
pekerjaan mereka. Memotivasi orang-orang untuk bekerja lebih pandai memberi
harapan kepada mereka untuk berpikir dan bekerja dengan kreatif dan untuk
mengembangkan cara melakukan sesuatu lebih baik. Pendekatan pertama menawarkan
hanya dibatasi peningkatan di keluaran dan mungkin suatu penurunan kepuasan.
Pendekatan yang kedua adalah mungkin untuk menawarkan penghargaan lebih besar
tanpa keperluan pekerjaan yang lebih keras, karena cara lebih baik dan yang
baru pekerjaan dapat dikembangkan untuk menggantikan yang lama/sudah tua.
Sebagai tambahan, para pemimpin dapat menggunakan hal positif dan pengukuhan negatif
pada pembuangan mereka. Motivasi positif melibatkan penanaman suatu sikap yang
kerjasama antar sasaran para pengikut organisasi sehingga dapat diterima dan
dicapai. Karena kerja takut merangsang adalah pondasi bagi motivasi negatif.
Angkatan motivasi negatif setiap untuk memilih antara alternatif yang tidak
diinginkan. Kebanyakan para pemimpin menggunakan keduanya. Untuk memecahkan
kecenderungan terhadap pendidikan karyawan yang lebih baik dan kemerdekaan
lebih besar, para pemimpin perlu untuk mengurangi kepemimpinan negatif dan
meningkatkan hal positif. Para pengikut perlu untuk menanami bekerja lebih
pandai.
9.4.2. Model Konten Motivasi
Model proses menguraikan
bagaimana motivasi memasukkan suku umum. Pengaplikasian, para manajer perlu
untuk mengetahui lebih banyak tentang bagaimana model pekerjaan dan apa yang
secara rinci imbalan/hadiah atau menguatkan tingkah laku manusia. Model Konten membantu
memahami ke arah memahami tingkah laku manusia. lebih lanjut. Model motivasi Konten
dapat digolongkan ke dalam dua sekolah berdasar pada riset mereka yang
perhatikan. Sekolah yang pertama memusat di kebutuhan manusia yang umum selagi
sekolah, yang kedua berkonsentrasi pada motivasi manusia di tempat kerja.
9.4.3. Kebutuhan manusia umum
Psikolog yang bekerja di
model konten dari motivasi sudah mengenali sejumlah hadiah/imbalan dan memperkuat
perbedaan dan mengatur mereka ke dalam beberapa kategori untuk pemahaman
bantuan. Teori psikolog dan ahli analisa jiwa sudah lebih lanjut menyuling
kategori ini ke dalam beberapa kelas dari kebutuhan dan motivasi.
Hirarki kebutuhan Maslow.
Paling luas mengenal penggolongan kebutuhan yang dikompilasikan oleh Maslow
yang menggambarkan motivasi timbul dari lima kategori dari kebutuhan manusia. Maslow (1954) menduga bahwa ketika kultur
yang berbeda mencukupi kebutuhan ini dengan berbagai cara, kebutuhan sendiri
tinggal yang sama. Ia mengenali lima kategori dari kebutuhan.
1.
Kebutuhan fisiologis: Perlukan dasar kepada survival dari jenis
manusia, seperti rasa lapar, dahaga, pernapasan, dan seks,
2.
Memerlukan keselamatan: Kebutuhan dasar kepada perlindungan
psikologis dan secara fisik, seperti tempat perlindungan, ketertiban,
konsistensi perlindungan dari ancaman dan bahaya, dan memprediksikan ke dalam
satu lingkungan,
3.
Kebutuhan sosial: Kebutuhan dasar kepada asosiasi bersama dan
penerimaan oleh manusia lainnya, seperti kebutuhan untuk persahabatan, kasih,
dan keanggotaan,
4.
Memerlukan penghargaan: Yang dihubungkan dengan rasa hormat,
termasuk dua subset: menghargai diri sendiri dan menghargai dari orang lain. Kebutuhan
menghargai diri sendiri adalah hasrat untuk reputasi, martabat, pengakuan, perhatian,
kepentingan atau apreasiasi,
5.
Aktualisasi diri sendiri: Kebutuhan untuk memenuhi potensi, untuk
menguji batasannya, dan apapun.
Menurut Maslow (1954), lima
kategori ini dari kebutuhan membentuk suatu hirarki. Tiap tingkatan kebutuhan
harus memuaskan sampai taraf tertentu sebelum urutan tingkatan berikutnya dalam
mengasumsikan arti penting. Urutan yang lebih rendah tidak menjadi penting, tetapi
yang lebih tinggi memerlukan pencapaian makna yang lebih besar untuk setiap
kebutuhan dasar menjadi tercukupi.
Dua hal pertama itu tingkat
kebutuhan (urutan kebutuhan yang lebih rendah) terutama dicukupi melalui
perilaku ekonomi; yang lain tiga perintah yang lebih tinggi dicukupi melalui
terutama perilaku simbolis dari konten sosial dan mempunyai kekuatan batin.
Untuk memecahkan ini lima kebutuhan dasar, konsep manusia ekonomi klasik dapat
dipertimbangkan tak lengkap di itu tersebut terapkan sebagian besar kepada
urutan kebutuhan yang lebih rendah. Kebutuhan Mengaktulisasikan-diri sendiri adalah
tingkat tertinggi dari kebutuhan, dan boleh jarang dicukupi oleh kebanyakan
individu. Satu fitur yang penting dari perwujudan diri karena mereka memerlukan
menyatakan diri mereka melalui orang yang berbeda ke dalam perilaku yang
berbeda. Lebih dari itu, tidak sama dengan tingkatan
kebutuhan lainnya, kepuasan kebutuhan mengaktulisasikan-dirisendiri cenderung
untuk meningkatkan arti penting mengaktulisasikan-dirisendiri daripada
mengurangi hal tersebut (Maslow, 1962).
Dalam praktek, perilaku
setiap individu yang diberi selama setiap waktu yang diberikan pada suatu waktu
mungkin adalah hasil dari kebutuhan lebih dari satu atau kelas, dari kebutuhan.
Kebanyakan tindakan dipengaruhi oleh semua lima kelas dari kebutuhan dengan
salah satu dari tingkatan, mempunyai pengaruh lebih besar pada kasus yang
spesifik.
Hirarki Kebutuhan Porter.
Porter (1961) merumuskan kembali hirarki kebutuhan asli Maslow sedikit. Ia
mengira bahwa sedikit; beberapa orang termotivasi oleh kebutuhan dasar yang
secara fisik seperti itu seperti dahaga dan rasa lapar, dan sebagai gantinya,
setelah mengaktulisasikan-diri sendiri, mempunyai suatu kebutuhan otonomi.
Otonomi mengacu pada individu perlu untuk mengambil bagian dalam membuat
keputusan bahwa mempengaruhi mereka, untuk menggunakan pengaruh dalam
mengendalikan situasi kerja, untuk memiliki suatu suara dalam menentukan
sasaran terkait dengan pekerjaan, dan untuk mempunyai otoritas untuk membuat keputusan
dan garis lintang untuk bekerja dengan bebas.
Tiga categori Alderfer dari
kebutuhan. Dalam percobaan untuk mendamaikan teori Maslow dengan riset
kebutuhan bekerja manusia menentukan, Alderfer (1969, 1972) mengusulkan tiga
kategori dari kebutuhan: keberadaan, pergaulan, dan pertumbuhan. Alderfer
berargumentasi bahwa tiga kategori ini dari kebutuhan bersifat primer, dan
bahwa mereka bersifat bawaan kepada sifat manusia dibanding memperlajari.
Keberadaan mengacu pada
kebutuhan dasar untuk survival, serupa dengan fisiologis Maslow dan kebutuhan
keamanan. Untuk Alderfer, Maslow yang fisiologis dan kebutuhan keamanan
bersifat sama pentingnya kepada keberadaan dari setiap. Pada umumnya, usaha
para bawahan untuk mencukupi keberadaan memerlukan lebih kepada mewujudkan
secara alami. Sebagai tambahan, kebutuhan ini sering kali berhubungan dengan
sumber daya langka. Lebih banyak kepuasan seseorang akan cenderung untuk
mengakibatkan kepuasan potensial yang lebih rendah dengan yang lain. Upah dan
keuntungan tambahan dua contoh dari keberadaan yang memerlukan pengaturan
pekerjaan.
Menurut Alderfer, konsep
dari Maslow kebutuhan sosial, kasih, mengagumi diri sendiri, dan termasuk,
dengan sama penting. Semua orang memerlukan interaksi dengan yang lain dan
pengembangan dari hubungan penuh arti dengan yang lain. Alderfer mengacu dari
kategori kebutuhan ini sebagai pergaulan. Kebutuhan pergaulan meliputi sosial
dan perhatian kepada hubungan pribadi, serupa dengan sosial Maslow dan menghargai-dari-yang
lain memerlukan. Tidak seperti menjumlahkan aspek kosong dari kebutuhan keberadaan,
memuaskan pergaulan karena seseorang menuju ke menjadi secara positif
dihubungkan dengan kepuasan yang sama untuk yang lain.
Kebutuhan pertumbuhan
menyatakan bahwa orang-orang perlu untuk mengembangkan kemampuan ketrampilan
mereka sendiri, dan mengagumi diri sendiri. Ini serupa dengan kebutuhan Maslow
untuk mengagumi diri sendiri dan perwujudan diri. Sementara Maslow melihat
perwujudan diri seperti terdiri dari pemenuhan dari suatu potensi bawaan,
pertumbuhan Alderfer memerlukan terdiri atas keinginan untuk saling berhubungan
dengan sukses dengan lingkungannya. Seperti lingkungan orang itu berubah, maka
barulah ungkapan pertumbuhan memerlukan.
Meski tiga kategori
Alderfer menutup dengan perkiraan kasar dari daerah yang sama seperti Maslow's,
ia tidak memelihara kebutuhan terdahulu bahwa harus dipenuhi sebelum yang lain
dapat mempengaruhi perilaku. Sebagai gantinya, ia mengusulkan latar belakang
atau pengalaman budaya itu boleh memastikan kebutuhan lebih penting dibanding
yang lainnya, dan beberapa kebutuhan tidak bisa terpenuhi.
Motif Sosial McClelland.
Penjelasan dan uraian lain kebutuhan manusia yang umum disediakan oleh
McClelland dan Atkinson. Membentang Murray (1938) jelmaan teori kebutuhan McClelland
dan Atkinson (Atkinson, 1964: McClelland et al. 1953) memelihara; memelihara
bahwa hanya dua kebutuhan bersifat tidak bisa dipisahkan: kebutuhan akan
kesenangan dan kebutuhan untuk menghindari sakit. Semua yang dipelajari.
Bagaimanapun, karena banyak dari pemecahan masalah hidup mengalami hampir
universal, orang-orang cenderung untuk belajar jenis yang sama dari kebutuhan,
menyebut alasan sosial, hanya dalam tingkat derajat yang berbeda.
McClelland (1955, 1975)
mengenali tiga alasan sosial yang penting. Alasan adalah prestasi, kuasa, dan
keanggotaan. Hasrat berprestasi itu adalah kebutuhan manusia umum paling kuat.
Prestasi mengacu pada keinginan dari orang-orang untuk bersaing melawan
terhadap suatu patokan dari keunggulan. Kebutuhan akan, prestasi dirasa sebagai
satu alasan yang penting di organisasi. Untuk seorang pekerja dengan suatu
kebutuhan untuk prestasi yang tinggi, menantang pekerjaan berfungsi kepada
isyarat berprestasi. Hal ini, pada gilirannya, mengaktifkan perilaku
berorientasi prestasi. Ketika kebutuhan yang tinggi achievers ditempatkan di dalam rutinitas atau tidak ada tantangan pekerjaan,
hasrat berprestasi mungkin akan tidak diaktifkan (McClelland, 1961, 1987;
Steers & Spencer, 1977). Merealisir karakteristik ini, para pemimpin dapat
mempromosikan keunggulan.
Suatu kebutuhan umum yang
kuat adalah kebutuhan akan kuasa atau kekuasaan. Alasan kuasa. marah suatu
keinginan untuk mempengaruhi yang lain dan untuk mengendalikan lingkungan.
Untuk para pemimpin, alasan kuasa dapat mengambil dua wujud: kuasa yang
diselaraskan dan kuasa yang dimasyarakatkan. Orang-orang yang mencari usaha
kuasa yang diselaraskan untuk mendominasi yang lain tanpa hormat kepada sasaran
hasil yang lebih besar. Sebaliknya, mereka yang sudah suatu kebutuhan yang dimasyarakatkan
menggunakan kuasa mereka yang akan bekerja bersama dan melalui yang lain untuk
memenuhi sasaran hasil. Kepada mereka, kuasa/tenaga adalah penting, tetapi
sebagai suatu alat kepada satu akhir dibanding sebagai satu berakhir dengan
diri sendiri.
Keanggotaan adalah
kebutuhan akan hubungan yang positif dengan orang lain. Suatu aspek yang utama
dari alasan keanggotaan adalah kebutuhan akan komunikasi. Orang-orang dengan
suatu kebutuhan yang tinggi untuk keanggotaan cenderung untuk mengambil pekerjaan
yang ditandai oleh suatu jumlah yang tinggi dari kontak yang hubungan antar
pribadi. Mereka cenderung untuk melaksanakan lebih baik ketika umpan balik yang
mendukung yang diberi. Mengenai ini, kepemimpinan mencoba untuk menciptakan
suatu koperasi, lingkungan kerja yang mendukung di mana umpan balik positif
diikat kepada kinerja tugas.
Menurut McClelland (1975,
1976), para manajer itu dengan suatu kebutuhan yang tinggi untuk kuasa yang
dimasyarakatkan sering para pemimpin sempurna. Sebaliknya, suatu kebutuhan yang
tinggi untuk prestasi dapat merugikan. Dengan cara yang sama, suatu kebutuhan
yang tinggi untuk keanggotaan memimpin ke arah yang tak dapat memastikan: tidak
menentukan ke pengambilan keputusan. Sebagai gantinya, McClelland (1976)
menemukan para manajer berorientasi kekuasaan, ketika sungguh memperhatikan
organisasi secara keseluruhan, menyediakan struktur, pengarah, dan dukungan
perlu memudahkan perilaku kelompok berorientasi tujuan.
Teori wilayah Ardrey.
Uraian lain kebutuhan manusia yang umum berasal dari ahli antropologi budaya.
Menurut Ardrey (1966), individu mempunyai tiga jenis dari kebutuhan dasar:
identitas, keamanan dan rangsangan. Individu mengejar identitas bukan keadaan
tanpa nama; rangsangan, bukan kebosanan, keamanan, bukan ketertarikan. Ardrey
percaya harta atau wilayah itu adalah salah satu dari konsep yang utama bahwa
membuat pemuasan kebutuhan ini; oleh karena itu, perilaku banyak individu
diarahkan terhadap memperoleh harta atau mempertahankan wilayah. Harta dan
wilayah mengacu pada bidang menjalankan berbagai hal dan bangunan ke suatu
favorit dan tempat duduk biasa di dalam kelas.
Pertimbangan Kepemimpinan.
Meski ahli teori mengusulkan bermacam komponen kebutuhan atau hirarki,
pertanyaan tinggal, adalah hirarki kebutuhan yang masuk akal? Ada kebutuhan
bukti yang berbeda bahwa ada, dan bahwa mereka dapat di/terukur. Ada juga lebih
sedikit dukungan empiris bahwa kebutuhan ini bertukar maka secara
konsisten dalam individu arti penting
berbeda ke seberang yang relatif (Mitchell & Moudgill, 1976). Untuk percaya
maka kelihatannya untuk mengabaikan perbedaan substansiil antar orang-orang
pada berbagai langkah dalam hidup mereka dan karier (Katz, 1960; Pinder, 1984).
Meskipun kritik, beberapa
keterlibatan yang diusulkan oleh teori dan model dari kebutuhan manusia yang
umum bersifat penting untuk kepemimpinan. Studi dari kebutuhan manusia yang
umum mengungkapkan bahwa tak realistis karena para pemimpin untuk berpikir
bahwa mereka dapat mencukupi semua kebutuhan melalui pemberian judul. Konsep
manusia ekonomi ini boleh menerapkan hanya untuk kebutuhan individu yang urutannya
yang lebih rendah. Perintah individu yang lebih tinggi memerlukan terutama
dicukupi melalui perilaku simbolis dari yang mempunyai kekuatan batin, sosial,
dan isi budaya. Ini juga penting bagi para pemimpin untuk mengenali bahwa
secara normal dipuaskan kebutuhan sudah tidak lagi sangat untuk memotivasi.
Karyawan lebih dengan antusias termotivasi oleh prestasi mereka sendiri
dibanding oleh kebutuhan bahwa secara normal akan telah dicukupi.
9.4.4. Motivasi di tempat kerja
Ada hampir banyak teori
dari motivasi pekerjaan seperti ada para penulis tentang motivasi. Pekerjaan
mereka biasanya berfokus kepada koneksi antara motivasi dan perilaku berkait
dengan kerja. Dua model yang penting diperkenalkan di sini teori kesehatan
Herzberg motivator dan motivasi Collectivistic Shamir.
Belajar di dalam motivasi
yang mewakili collectivistic; menunjukkan suatu kecenderungan baru yang
motivasi bekerja. Sementara model menggambarkan bantuan sebelum memahami
motivasi pekerja untuk melaksanakan, kegunaan mereka ke dalam konteks organisasi
yang sehari-hari yang dibatasi. Para pemimpin menjadikan kekacauan ketika
mereka mencoba untuk menerapkan teori ini dalam praktek kepada para pekerja.
Jika individu semua mempunyai mengubah kebutuhan, bagaimana mungkin usaha para
pemimpin atau para manajer untuk memotivasi satu seluruh tenaga kerja? Apa yang
mempraktekkan pemimpin/manager memerlukan adalah satu jawaban atas pertanyaan,
”Apa yang akan memotivasi kebanyakan dari orang-orang kebanyakan dari waktu?”
Herzberg dan Shamir yang dicari untuk menyediakan penyajian praktis untuk
menjawab pertanyaan.
Teori Herzberg Motivator-Kesehatan/Kebersihan
Teori kesehatan motivator
Herzberg adalah salah satu dari kebanyakan yang dikenal dan model paling
praktis. Herzberg dan rekanannya yang diarahkan untuk menentukan apa yang
mempengaruhi motivasi pekerja dan produktivitas dalam organisasi (Herzberg,
1966, 1968; Herzberg, Mausner, & Snyderman, 1959). Dari riset mereka,
Herzberg dan para rekan kerjanya mengembangkan teori kesehatan motivator dari
motivasi pekerjaan. Teori berasumsi bahwa karyawan termotivasi untuk
menghasilkan kepada tingkat yang tinggi kepada tingkat bahwa mereka merasa
muncul kepuasan. Di dalam teorinya, Herzberg mengusulkan bahwa kebalikan
kepuasan dan motivasi bukanlah ketidak puasan, hanya hanya tanpa kepuasan
kerja. Kebalikannya ketidak puasan, pada gilirannya, bukanlah kepuasan kerja
hanya ketidakhadiran ketidak puasan. Pembedaan antara kepuasan kerja dan
ketidak puasan menjadi membersihkan ketika keduanya dihubungkan dengan taraf
prestasi. Ada suatu titik netral di dalam kinerja mengukur di mana karyawan
tidak puas dengan pekerjaan mereka, tetapi tidak juga mereka mengalami kepuasan
kerja. Dalam posisi ini, karyawan hanya melaksanakan tingkatan minimum yang
bisa diterima yang perlu memelihara pekerjaan dan ketenaga-kerjaan mereka.
Menghapuskan sumber ketidak puasan tidak berarti bahwa pengurangan itu sedang
memotivasi kepada pekerja atau akan menjurus kepada kepuasan kerja. Agak,
kepuasan kerja dan ketidak puasan dimakan karat oleh yang berbeda, yang
diatur/susun dari faktor dan mempunyai barang kepunyaan yang berbeda atas
motivasi karyawan dan kinerja.
Satu himpunan dari faktor,
kesehatan, menuju ke untuk mempengaruhi tingkatan ketidak puasan dan kinerja
yang bisa diterima di bawah, selagi suatu himpunan yang kedua dari faktor,
motivator, menuju untuk mempengaruhi kepuasan kerja; motivasi, dan kinerja di
atas tingkatan yang bisa diterima.
Herzberg (1968, 1981)
menemukan bahwa faktor kesehatan seperti kebijakan perusahaan, jenis-jenis
pengawasan, status, jaminan kerja, gaji, kondisi kerja, dan hubungan antar
pribadi menyimpan karyawan dari tidak puasan meski mereka tidak perlu
memotivasi karyawan. Memotivasi faktor seperti prestasi, pengenalan, pekerjaan
diri sendiri tanggung jawab, pertumbuhan, dan kemajuan muncul untuk memotivasi
orang-orang dan dihubungkan dengan kepuasan kerja. Meski Herzberg bahwa
motivasi terdiri atas dua faktor yang terpisah, yang mandiri, teori muncul
menjadi sangat kompatibel dengan Maslow dan model hirarki Porter.
Untuk memotivasi seorang karyawan.
Herzberg mengklaim bahwa itu faktor awal dalam mengenali sebagai motivator yang
harus dibuat ke dalam pekerjaan karyawan. Isi dari pekerjaan, dibanding
pengaturan di mana itu diselenggarakan, adalah faktor penting. Pekerjaan yang
harus diperkaya sedemikian sehingga membiarkan setiap peluang untuk merasakan
prestasi dan pengenalan dan menghidupi kemajuan dan tanggung jawab yang penuh
arti. Ketika pekerjaan dirancang dengan cara ini motivasi harus datang. Ketika
faktor ini yang hilang, tidak ada ketidak puasan yang muncul. Kepuasan hanyalah
tidak datang (Herzberg, 1966). Memperkaya pekerjaan untuk memotivasi para
pekerja mempunyai dukungan luas antar ahli teori dan praktisi (Aldag, Barr,
& Ringkas 1981; Griffin, 1982; Hackman & Oldham, 1980). Kedua aspek
faktor dari teori itu tidak akan suatu unsur yang perlu dalam pemakaian teori
untuk merancang pekerjaan. Sementara faktor keduanya boleh membantu dalam
menjelaskan dan meningkatkan tidak usah berasumsi bahwa kegagalan untuk
menyediakan faktor ini tidak akan menjurus kepada kepuasan kerja, atau bahwa
ketetapan faktor-faktor kesehatan yang tertentu di dalam tempat pekerjaan tidak
bisa juga sedang memotivasi di dalam pengertian yang benar dari kata (Pinder,
1984).
Motivasi kerja kolektif
Shamir
Semua model motivasi pada point ini secara
individu dan rasional mengorientasikan karena asal usul mereka dari paradigma
ekonomi dan psikologis. Asumsi ini berasumsi bahwa orang-orang termotivasi
untuk mencukupi kebutuhan pribadi mereka. Studi terbaru, bagaimanapun, sudah
menunjukkan bahwa tidak semua motivasi manusia dapat dijelaskan atas dasar
pertimbangan hedonistic atau yang
bersifat perseorangan (Shamir, 1990). Ini adalah terutama jelas sekali diberi
setiap -sumbangan kepada usaha pekerjaan yang kolektif ke dalam hidup organisasi.
Di dalam studinya, Shamir
(1990) menunjukkan bahwa banyak kesatuan yang kolektif dalam para agen
pemerintah organisasi seperti, sekolah, dan rumah sakit, tidak bisa dijelaskan
di semata-mata bersifat perseorangan dan alasan ekonomi, calculative istilah Etzioni (1961). Shamir memelihara; “perintah itu
untuk memahami sumbangan individu kepada tindakan kolektif seperti itu kita
mempertimbangkan diantara calculative dan dimensi normal untuk motivasi orang
itu secara simultan” (Hal 314). Shamir mengusulkan bahwa pemahaman sumbangan
individu kepada usaha pekerjaan yang kolektif harus didekati dari tiga aspek
secara simultan: pertimbangan calculative, moral atau pertimbangan berbasis
nilai, dan ungkapan dan pemeliharaan dari identitas (lihat Gambar 9.5).

Gambar 9.5
Motivasi kerja kolektif
Shamir
Motivasi perorangan
berperan untuk usaha kolektif yang dapat dijelaskan, pada sebagian, oleh
pertimbangan calculative dalam kaitan dengan menggunakan istilah diri
sendiri-kemanjuran, kemanjuran kolektif, ganjaran sosial, dan persetujuan dan
diri sendiri-kemanjuran
yaitu pengharapan, lihat pada kemungkinan bahwa sumbangan milik perorangan akan
menggolongkan peningkatan kinerja. Model pengharapan sudah menujukan kemanjuran
betapa diri sendiri mempengaruhi motivasi individu untuk melaksanakan. Di dalam
kontras, kemanjuran kolektif mengacu pada usaha probabilitas subjektif kolektif
bahwa setiap akan mengakibatkan pemenuhan kolektif. Seperti diri sendiri,
kemanjuran, kemanjuran kolektif mempengaruhi usaha milik perorangan untuk
melaksanakan. Dalam diskusi motivasi kolektif, penghargaan dan sanksi sosial
adalah mereka yang mempekerjakan untuk mengendalikan perilaku anggota. Sungguh,
penghargaan sosial, seperti penerimaan sosial dan pengenalan atau status
sosial, dan sanksi sosial, seperti tekanan untuk menyesuaikan diri, penolakan
sosial, dan hilangnya status, usaha pengaruh milik perorangan pada motivasi
pekerjaan yang collectivistic.
Hubungan antara hasil-hasil
yang kolektif dan penghargaan individu adalah dua kali lipat. Pada suatu pihak,
hasil kolektif dapat diterjemahkan ke dalam penghargaan individu yang dalam
kaitannya dengan menggunakan istilah beruntung mengkonsumsi individu.
Sebaliknya, banyak hasil dari usaha pekerjaan yang kolektif melembagakan suatu
baik yang umum, seperti peralatan yang diperbaiki atau suatu teknologi yang
lebih baik yang tidak bisa mengkonsumsi secara individu. Kedua dimensi
mempunyai dampak penting yang sama dengan usaha individu pada motivasi
pekerjaan yang kolektif. Yang kedua, norma dan nilai menggunakan pengaruh
motivasional melalui asosiasi mereka dengan sanksi penghargaan sosial yang
diharapkan kering. Ketika norma dan nilai yang dijadikan yang internalized oleh
setiap orang itu bisa termotivasi oleh reaksi internal yang diharapkan kepada
tindakan. Akhirnya, unsur lain, selain dari norma dan nilai, adalah ungkapan
dan pemeliharaan dari identitas individu. Etzioni (1988) menunjuk unsur ini
sebagai “suatu pengertian pernyataan.” Seseorang akan mencari peluang untuk
memelihara identitas diri sendiri di situasi sosial yang dirasa. Orang-orang
bisa termotivasi untuk berperan untuk suatu usaha yang kolektif, karena dengan yang
mereka melakukan sehingga akan memelihara dan menyatakan identitas relevan. Shamir (1990) menekankan bahwa konsep dari
identitas adalah yang penting itu tersebut disediakan satu pertalian yang jelas
nyata antara setiap dan keseluruhan. Jepang kecenderungan pekerja yang kuat
terhadap identitas organisasi adalah suatu contoh yang khas.
Shamir mengusulkan (1990)
bahwa dalam rangka keterpaduan peningkatan kolektif atraksi (anggota kepada
keseluruhan dan identifikasi mereka dengan keseluruhan), para pemimpin perlu
mencoba untuk menetapkan lingkungan yang simbolis dalam cara-cara yang bahwa
menekankan identitas organisasi yang unik atau sub identitas organisasi dan
peningkatan organisasi yang diam dalam konsep anggota. Para pemimpin perlu
untuk menanamkan kooperasi norma dan sumbangan dalam organisasi. Pemimpin juga
perlu untuk sering melibatkan usaha untuk menunjukkan para anggota organisasi,
mata rantai antara tindakan organisasi dan nilai anggota dibelai.
9.5.
Moril Organisasi
Moril adalah satu atribut
emosional, menyediakan energi, penerima dari kepemimpinan, dan kooperasi antar
para anggota dari organisasi. Moril sudah dikonsepsi dari tiga perspektif:
fisiologis, psikologis, dan sosial. Dari point pandangan fisiologis, kepuasan
kebutuhan dasar manusia dari survival adalah faktor moril utama. Dari
perspektif psikologis, moril ditentukan, oleh suatu kepuasan yang memerlukan
perintah dari yang lebih tinggi
berkesinambungan. Dari pendekatan sosial, moril dapat dipertimbangkan suatu
peristiwa sosial yang disebabkan oleh keinginan yang kuat dari individu yang
dihubungkan untuk panutan mereka.
Pada kenyataannya moril
digambarkan menjadi lebih baik oleh kombinasi ke atmosfer tiga perspektif moril
yang diciptakan oleh sikap dari para anggota seni berorganisasi. Moril adalah
lumbung nampaknya akan diungkapkan oleh kelompok dibandingkan oleh individu
(Benge & Hickley 1984). Moril dipengaruhi oleh bagaimana karyawan merasa
organisasi dan sasarannya dalam hubungan dengan diri sendiri, dalam kaitannya
dengan menggunakan istilah mereka yang secara fisik, psikologis, sosial, dan
latar belakang budaya.
9.5.1. Faktor-faktor moril utama
Sikap dari para karyawan yang
dengan mantap dipengaruhi di tengah jalan di mana mereka merasa sejumlah faktor
yang penting: organisasi itu sendiri, aktivitas mereka sendiri, konsep diri
mereka, sifat alami pekerjaan mereka, panutan mereka, kepuasan kebutuhan
mereka, dan kepemimpinan (Kossen, 1987). Organisasi dengan mantap mempengaruhi
sikap karyawan terhadap pekerjaan mereka. Moril karyawan yang lebih tinggi
muncul ketika seni berorganisasi mempunyai suatu reputasi yang baik. Satu
karyawan dari suatu lembaga pemerintah yang bertemu dengna dukungan publik
keuangan yang dikurangi akan mengalami moril lemah. Kehidupan pribadi karyawan boleh juga mempengaruhi sikap
hati-hati mereka. Hubungan dengan keluarga dan para teman, sebagai bagian dari
lingkungan mereka yang total, moril pengaruhi karyawan dalam lingkungan kerja
mereka. Konsep diri karyawan juga cenderung untuk mempengaruhi sikap mereka
terhadap lingkungan organisasi. Oleh karena itu, individu yang kekurangan
keyakinan diri atau secara fisik lemah menderita penyakit atau kesehatan jiwa
sering mengembangkan permasalahan moril. Sebagai tambahan, nilai dan pendidikan
karyawan yang aktif mempunyai memimpin mereka untuk mengharapkan dengan sangat
lebih dari hanya (sekedar) kemakmuran material dari pekerjaan mereka.
Bagaimanapun, banyak jenis dari pekerjaan kelihatannya untuk menjurus kepada
kebosanan dan pemikiran yang terasuki, seperti lompatan seragam, pengulangan,
struktur organisasi bukan perseorangan yang besar, dan samar seperti juga
sasaran yang tidak dapat dicapai. Karakteristik ini mungkin untuk menurunkan
moril karyawan tanpa desain yang sesuai.
Sistem dan tindakan
informal para pemimpin dalam organisasi juga mempengaruhi moril dengan mantap.
Sebagai seorang anggota suatu kelompok, sikap karyawan terhadap suatu kondisi
kerja bisa diayunkan oleh sikap yang kolektif dari pasukan tentara. Daftar
biaya pengiriman barang tinggi dari perputaran sering kali menandai adanya
kepemimpinan yang tidak efektif.
Bagaimana kebutuhan pribadi
karyawan dicukupi dapat mempengaruhi moril mereka. Gaji dan kesejahteraan
karyawan dua contoh bahwa membantu ke arah mencukupi kebutuhan pribadi.
Sementara peningkatan upah tidak perlu memotivasi karyawan untuk meningkatkan
produktivitas, upah lemah bisa merupakan suatu sumber moril yang lemah,
terutama ketika yang membandingkan upah dengan karyawan yang lain yang
melakukan pekerjaan yang serupa (Kossen, 1987; Reira, 1987).
9.5.2. Kepuasan kerja moril dan
produktivitas
Moril lekat dihubungkan
dengan kepuasan perorangan yang berharap untuk berasal dari pekerjaan.
Sementara kepuasan pekerjaan adalah hasil dari berbagai sikap perorangan pada
suatu waktu yang diberikan pada suatu waktu, moril adalah hasil dari kepuasan
total karyawan dalam organisasi. Seperti dicatat sebelumnya, kepuasan kerja
tidaklah harus dengan segera diwujudkan, tetapi harus diantisipasi oleh setiap karyawan.
Moril rendah sering kali menemani daftar biaya pengiriman barang tinggi dari
ketidakhadiran, kelambatan, dan perputaran ketinggian.
Moril adalah juga terkait
produktivitas. Beberapa rasa bahwa di sana menuju untuk menjadi hubungan
langsung antara produktivitas yang tinggi dan moril tinggi. Bagaimanapun, sifat
alami hubungan antara moril dan produktivitas adalah belum selesai. Yang lain
melihat satu hubungan kebalikan, edaran, atau bahkan hubungan timbal balik
antara produktivitas dan moril. Hubungan moril/produktivitas, oleh karena itu,
dapat dirasa sebagai situational.
9.5.3. Pendekatan untuk
mempelajari moril
Sedikitnya tiga pendekatan
telah dikembangkan untuk belajar moril karyawan. Pendekatan yang pertama
melibatkan meneliti catatan organisasi untuk perubahan dalam pengunduran diri,
kelambatan, ketidakhadiran, produktivitas dan keluhan. Pendekatan yang kedua
untuk mewawancarai karyawan, menggunakan pertanyaan yang disiapkan atau
membiarkan karyawan untuk menanggapi dalam bentuk yang tidak tersusun.
Pendekatan ketiga untuk mengurus daftar pertanyaan, daftar tilik yang tidak
ditandatangani dan lalu melaporkan indeks (jamak) moril (Benge & Hicklcy,
1984). Ke tiga pendekatan bersifat komplementer dan dapat diselenggarakan
secara serempak. Untuk bisa efektif, studi dari moril harus diselenggarakan
pada waktu tertentu tidak hanya ketika.
9.5.4. Mutu hidup pekerjaan
Dengan mengabaikan hubungan
yang riil antara produktivitas dan moril, moril tinggi tinggal tujuan
organisasi yang penting. Bagaimanapun, moril sering tidak dicatat kecuali jika
itu adalah yang lemah. Terlalu sering kali, para pemimpin tidak mengenali
bagaimana dengan sangat buruk moril sudah memburuk sampai mereka berhadapan
dengan krisis serius. Para pemimpin harus secara terus menerus waspada kepada
petunjuk pernyataan, status dari moril. Para pemimpin perlu untuk sensitif
kepada tanda peringatan dari moril yang rendah di karyawan mereka, seperti
ketidakhadiran, kelambatan, perputaran tinggi, serangan dan sabotase, dan
ketiadaan merasa bangga atas pekerjaan. Mereka juga perlu untuk aman dengan
aktif semua informasi tersedia melalui data statistik (misalnya.,
ketidakhadiran dan perputaran merekam), penasihat karyawan, pengamatan dan
mendengarkan, atau survei. Belajar di moril mengungkapkan bahwa para pemimpin
harus terkait dengan mutu karyawan hidup bekerja. Semakin afluen dan lebih baik mendidik tenaga kerja dari hari ini
mengharapkan suatu mutu hidup pekerjaan lebih tinggi (O'Toole. 1981). Untuk
mencukupi karyawan hari ini, kepemimpinan diharapkan untuk memperbaiki mutu
hidup pekerjaan.
Mutu hidup pekerjaan (QWL)
lihat pada: bagaimana secara efektif lingkungan kerja temu kebutuhan dan nilai
yang pribadi dari karyawan; QWL terdiri dari tujuh komponen: (1) ganti-rugi
adil dan cukup, (2) selamatkan dan lingkungan kerja sehat, (3) peluang untuk
pertumbuhan dan keamanan yang dilanjutkan, (4) suatu perasaan termasuk. (5)
hak-hak karyawan. (6) jengkal pekerjaan dan masa hidup, dan (7) keterkaitan sosial tentang hidup
pekerjaan (Greenberg & Glas, 1983: Walton, 1975).
Beberapa metoda yang
terbaru telah dikembangkan untuk memperbaiki mutu hidup pekerjaan. Mereka
termasuk rotasi pekerjaan, pemekaran pekerjaan, peningkatan pekerjaan, dan
sistem sosio-teknis (Aldag & Singkat, 1979; Sampanye & McAfee, 1989;
Hackman, 1983; Hellriegel & Slocum, 1976; Lawler, 1992; Pinder. 1984; Plous, 1987; Reitz,
1987).
Rotasi pekerjaan adalah
praktek dari pelatihan seorang pekerja dalam beberapa tugas yang berbeda dan
berputar pekerja itu melalui tugas itu dalam jangka waktu tertentu. Rotasi
pekerjaan mencoba untuk mengurangi kebosanan dan kelelahan dari pengulangan
yang tak ada akhirnya suatu kepuasan kerja tugas dan peningkatan, terutama
dengan meningkatkan variasi tugas. Para pekerja dapat juga memperoleh suatu
himpunan yang lebih luas dari ketrampilan dan pengetahuan, yang tingkatkan
efisiensi selama periode ketidakhadiran.
Pemekaran pekerjaan,
seperti rotasi pekerjaan, meningkatkan lingkup dari suatu pekerjaan. Itu
berniat untuk mengurangi kebosanan dan kelelahan dan peningkatan kepuasan
dengan meningkatkan banyaknya -tugas seorang pekerja melaksanakan dalam suatu
pekerjaan yang diberi. menekankan kinerja dari suatu nomor dan variasi yang
lebih besar dari ketrampilanketrampilan. Itu juga mempertimbangkan lebih banyak
metode kerja pembuat keputusan dan lebih banyak tanggung jawab.
Peningkatan pekerjaan
adalah satu usaha untuk melibatkan pekerja di dalam lebih dari sekedar hanya
kinerja dari tugas. Di dalam peningkatan pekerjaan, karyawan dilengkapi dengan
isi kerja lebih besar bahwa memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang dikedepankan
dan pengetahuan baru. Pekerja itu lebih otonomi dan bertanggung jawab karena
merencanakan, mengorganisir, dan mengevaluasi bekerja sebagai sumur seperti
mengalahkan ke luar. Otonomi dan tanggung jawab ini menyediakan peluang untuk
pertumbuhan pribadi dan pengalaman pekerjaan penuh arti.
Adalah penting untuk
dicatat bahwa pemekaran pekerjaan dan peningkatan pekerjaan tidak meminta
hanyalah menambahkan tugas-tugas level rendah kepada pekerjaan pekerja itu. Ini
bisa penghambat. Ada empat ukuran-ukuran di dalam memutuskan ya atau tidaknya
suatu pekerjaan dapat diperbesar atau diperkaya. Setiap penambahan kepada
pekerjaan itu perlu (1) tanggung jawab
peningkatan (2) otonomi pekerja peningkatan, (3) izinkan pekerja itu untuk
lakukan tugas yang lengkap, dan (4)
sediakan umpan balik kepada pekerja.
Sistem sosio-teknis
mendisain pekerjaan di sekitar kelompok para pekerja dibanding individu. Di
dalam pendekatan ini, pemimpin menggambarkan suatu tanggung jawab satuan-kerja
dan yang lengkap untuk unit itu kepada suatu kelompok. Para pekerja di dalam
tanggung jawab bagian kelompok untuk menentukan apa yang masing-masing dari
mereka akan, karena memutuskan bagaimana mereka akan memenuhi, dan karena
menjadwalkan dan melengkapi pekerjaan. Kelompok diri sendiri mengasumsikan
tanggung jawab untuk mengawasi pekerjaannya.
9.5.5. Organisasi Yang Informal
Jaringan pekerja yang
informal muncul secara spontan di dalam organisasi dari kebutuhan dari pekerja.
Mereka tidak direncanakan tetapi terjadi sebagai interaksi sosial yang individu
di dalam organisasi formal. Ini jaringan yang informal mempunyai para pemimpin
mereka sendiri, kebijakan yang tidak tertulis menyembunyikan agenda, kanal
komunikasi, dan bahkan sasaran mereka sendiri. Jaringan yang informal dapat
memainkan suatu bagian yang penting di dalam hidup organisasi. Organisasi yang
informal muncul dan tetap berlaku sebagai alat penyeimbangan untuk kekurangan
organisasi formal di dalam menyediakan kepuasan kebutuhan individu dan/atau
sebagai alat menambah kepuasan kebutuhan yang disediakan oleh keanggotaan di
dalam organisasi formal (Bales. 1953, Davis, 1977; Kossen, 1987; Roethlisberger
& Dickson, 1939). Pekerja masuk ke organisasi harapan secara individu
membentuk, dan membawa dengan nilai mereka berbeda, minat, dan kemampuan.
Aktivitas yang informal muncul ketika beberapa kebutuhan yang tertentu tidak
sedang dipenuhi oleh organisasi formal. Organisasi yang informal membantu para
anggota organisasi formal mencukupi kebutuhan dengan melaksanakan tiga fungsi
yang penting: interaksi sosial, pengawasan sosial, dan komunikasi.
Salah satu dari fungsi yang
paling penting yang disediakan oleh organisasi yang informal adalah ketetapan
interaksi sosial. Individu mempunyai kebutuhan sosial bahwa mereka mencoba
untuk mencukupi di tempat kerja di dalam organisasi formal: bagaimanapun,
kepuasan yang sosial yang disediakan oleh organisasi formal itu dibatasi.
Organisasi yang informal muncul untuk membantu individu mencukupi kebutuhan
sosial ini, seperti itu memberi pengenalan perorangan, status, dan peluang
lebih lanjut untuk berhubungan dengan yang lain.
Fungsi yang utama yang
kedua yang disediakan oleh organisasi-organisasi yang informal adalah
pengawasan sosial. Fungsi ini membantu cagar alam dan memelihara keberadaan,
identitas dan nilai dari organisasi yang informal. Pengawasan sosial dipelihara,
dipertahankan, dan dikuatkan di atas keanggotaan organisasi yang informal
melalui norma-norma dan standar perilaku. Norma dikuatkan melalui tekanan
sosial. Organisasi yang informal juga usaha untuk menggunakan kendali atas
orang-orang di luar kelompok mereka hanya di dalam organisasi formal, misalnya
dengan pengaruh personil kepemimpinan atau staf. Banyak dari kendali eksternal ini digunakan secara tidak
langsung dengan peraturan perilaku dari para anggota organisasi-organisasi yang
informal.
Fungsi organisasi yang
informal sepertiga adalah komunikasi untuk mempelihara para anggota nya memberi
tahu dari apa yang membawa tempat dan bagaimana mungkin mempengaruhi mereka,
organisasi yang informal mengembangkan suatu sistem komunikasi untuk melengkapi
informasi yang disediakan oleh organisasi formal. Sistem komunikasi ini,
seperti yang dibahas di dalam BAB 7, dikenal sebagai tanaman anggur. Tanaman
anggur bersifat tak bisa terelakkan sebagaimana pada kenyataannya yang mustahil
karena organisasi formal untuk mempelihara semua individu berpengetahuan luas.
Itu adalah bermanfaat untuk menguji organisasi-organisasi yang informal karena
mereka mempunyai suatu kapasitas yang luar biasa untuk membawa dan menghamburkan
informasi penting dengan cepat.
9.5.6. Para pemimpin yang informal
Para pemimpin organisasi
yang informal muncul untuk berbagai pertimbangan dan di bawah keadaan sedikit
yang berbeda. Ada pada umumnya beberapa para pemimpin yang informal bermacam
arti penting dalam satu organisasi yang informal, hanya biasanya satu pemimpin
yang utama yang mempunyai kebanyakan pengaruh. Peranan umum dari para pemimpin
yang informal untuk membantu organisasi yang informal mencapai sasaran nya dan
untuk memelihara dan meningkatkan hidup organisasi yang informal. Sebagai
penukar jasa mereka, para pemimpin yang informal biasanya menyenangi penghargaan
dan kehormatan-kehormatan tertentu, seperti penghargaan dan kuasa (Davis, l97;
Wolman, 1956). Sebagai hasilnya, ini peran-peran individu yang informal boleh
jadi lebih penting dibanding peranan pekerja mereka yang formal. Organisasi
yang informal bisa suatu sumber yang diinginkan dari para pemimpin potensial
untuk organisasi formal. Bagaimanapun, perhatian adalah perlu di sini sebagai
agenda dari para pemimpin yang informal sering kali mungkin tidak bersamaan
dengan agenda organisasi. Dinamika dari organisasi-organisasi yang informal dan
para pemimpin mereka yang informal dapat dipelajari dengan teknik yang
sociometric (Moreno, 1947) dan interaksi memproses teknik analisa (Bales,
1950).
9.5.7. Efek dari
organisasi-organisasi yang informal
Keberadaan dari organisasi
yang informal selalu mempengaruhi pengoperasian organisasi formal. Dalam banyak
kasus, organisasi yang informal mempunyai keduanya barang kepunyaan
menguntungkan dan merugikan (Davis, 1977; Kossen, 1987; Ruben, 1988'; Sanford,
1977; Scott. 1981). empat Kerugian potensial ada di dalam organisasi yang
informal. Mereka boleh memancarkan informasi palsu, lapisan pelindung berubah,
penyesuaian penyebab berlebihan kepada norma kelompok, dan mengembangkan
sasaran bahwa bertikai dengan sasaran organisasi formal. Memancarkan informasi
palsu adalah salah satu dari permasalahan paling menyusahkan melekat pada
sistem komunikasi itu dari organisasi yang informal. Desas desus secara efisien
dan secara efektif memancarkan melalui grapevent. Karena desas desus sering
kali bersifat taktepat, mereka menciptakan permasalahan di dalam organisasi.
Organisasi haruslah yang informal yang dicatat bahwa tidak perlu menyebabkan
slentingan; bagaimanapun, mereka sungguh memancarkan slentingan. Di dalam
berusaha untuk memelihara dan memelihara nilai-nilai dan status mereka,
organisasi yang informal cenderung untuk membalas berubah, terutama berubah
bahwa akan memiliki barang kepunyaan merugikan pada organisasi. Mereka membalas
mengubah melalui penyesuaian para anggota yang dikuatkan oleh pengawasan
sosial. Mencari kepuasan sosial di dalam organisasi-organisasi yang informal
boleh memimpin para anggota mereka menjauh dari sasaran organisasi. Apa baik
karena para pekerja itu tidak selalu baik untuk organisasi. Pertentangan
peranan terjadi dan sering juga menjurus kepada dibatasi produktivitas.
Keberadaan dari organisasi
yang informal dapat juga bermanfaat bagi organisasi formal. Organisasi yang
informal mencukupi kebutuhan sosial karyawan, menyediakan suatu jaringan
komunikasi karyawan yang bermanfaat, menyediakan karyawan dengan katup lepas
secara emosional, dan komplemen organisasi formal. Suatu manfaat yang penting
dari organisasi-organisasi yang informal adalah karena mereka menyediakan
kepuasan dan stabilitas kepada karyawan dan Organisasi Formal. Keberadaan dari
organisasi yang informal menyediakan karyawan suatu rasa memiliki, penerimaan,
dan keamanan. Kepuasan yang disediakan oleh organisasi yang informal mengganti
kerugian untuk sebagian dari aspek yang tidak diinginkan tak bisa terelakkan
berhubungan dengan keanggotaan organisasi formal. Dengan demikian, organisasi
yang informal membantu organisasi formal mengurangi perputaran, dan boleh
meningkatkan motivasi karyawan. Satu manfaat tambahan dari
organisasi-organisasi yang informal adalah karena mereka menyediakan bermakna
karena orang-orang untuk tetap berhubungan, untuk belajar lebih banyak tentang pekerjaan
mereka, dan untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam lingkungan mereka. Organisasi yang informal
bertindak sebagai katup aman untuk frustrasi karyawan dan bahkan permasalahan
secara emosional yang lain. Mereka menyediakan satu katup lepas di mana
perasaan yang negatif disebabkan oleh organisasi formal itu dapat diudarakan.
Menyeluruh, keberadaan dari
Organisasi yang informal menuju untuk memudahkan fungsi organisasi formal di
dalam pengakuan penting yang tertentu. Mereka mengisi kesenjangan; celah;
jurang di dalam manajemen organisasi formal dapat mempromosikan lebih banyak
efisiensi di dalam sistem formal, sering kali otoritas tambahan dan mekanisme
tanggung jawab organisasi formal, dan menyediakan saluran komunikasi tambahan.
9.5.8. Penting diperhatikannya
organisasi-organisasi yang informal
Organisasi yang informal
bersifat tak bisa terelakkan untuk sedikitnya dua pertimbangan. Pertama, mereka
memerlukan organisasi formal untuk kepuasan yang disediakan. Yang kedua,
keanggotaan di organisasi formal menuju untuk merangsang kebutuhan orang-orang
untuk lebih banyak informasi dibanding dapat disediakan organisasi formal.
Organisasi yang informal, oleh karena itu, selalu akan hadir dan tidak bisa
dihapuskan.
Merealisir penting
diperhatikannya organisasi yang informal, para pemimpin harus mempertimbangkan;
menganggap tindakan kemungkinan akibat mereka berakibat pada sistem yang
informal untuk mengintegrasikan sejauh mungkin minat dari organisasi yang
informal dengan yang dari organisasi formal, dan untuk menyimpan/pelihara
aktivitas formal dari tak penting mengancam organisasi yang informal secara
umum. Hubungan organisasi informal/formal paling diinginkan sepertinya satu di
mana sistem keduanya memelihara kesatuan terhadap sasaran. Para pemimpin, itu organisasi
formal akan menjadi bijaksana untuk mempertimbangkan; menganggap nilai dari
organisasi yang informal dan bekerja untuk memelihara dan meningkatkan
keterpaduan kelompok menyeluruh dan kerjasama sekelompok melalui nya(itu
(Davis, 1977; Scott, 198i).
9.5.9. Hubungan Antar Manusia
Teori di dalam Administrasi Pendidikan
Pandangan hubungan antar
manusia administrasi pendidikan menyertakan dua tubuh yang khusus dari
pemikiran. Sekolah yang pertama adalah administrasi demokratis, suatu filsafat
permulaan administrasi tidak lama sesudah 1900 di pekerjaan Yohanes Dewey. yang kedua muncul setelah 1945, tentang
sekolah democratizing Organizations kombinasikan dengan studi yang humanistis
menarik dari ilmu tingkah laku dan studi-studi yang industri membahas sebelumnya.
Peleburan dua tubuh ini dari pemikiran di tahun 1940an itu digambarkan pertama
sebagai hubungan antar manusia yang demokratis dan kemudiannya seperti hanya
pendekatan hubungan antar manusia kepada administrasi pendidikan (Campbell.
Fleming, Newell, & Bennion, 1987).
9.6.
Administrasi Pendidikan
Demokratis
Tidak seperti pendekatan
hubungan antar manusia bahwa yang dimulai di dalam yang industri dan riset ilmu
sosial, pandangan yang demokratis administrasi pendidikan pertama meningkatkan
antar pendidik pada awal tahun dari abad ke duapuluh sebagai jawaban atas
beberapa faktor. Ini perubahan sosial baru yang dimasukkan di dalam karakter
dari organisasi sekolah dan reaksi pada pihak sebagian orang kepada yang
otokratis dan penyelia otoriter mempraktekkan di sekolah. Salah satu dari
penyelenggara yang paling awal dari administrasi yang demokratis di dalam
pendidikan, Yohanes Dewey (1916), dibantah melawan terhadap meningkatkan
ketenaran teknik manajemen ilmiah antar sekolah Leaders dan menekankan
kebutuhan akan para manajer pendidikan untuk mengamankan persetujuan itu mereka dingatur. Keasyikan milik
manajemen ilmiah dengan efisiensi lakukan sedikit untuk membantu perkembangan
apa yang ia menggambarkan sebagai suatu minat sosial yang seimbang. Dewey
membantah hal ini seperti(ketika bertentangan dengan tujuan yang tepat
pendidikan. Memberi peluang para guru untuk keikutsertaan yang lebih besar
mengubah keduanya karakter dari organisasi sekolah tersebut dan mutu dan jenis
hubungan antara para guru dan pengurus atau pemimpin yang pendidikan, suatu
pendekatan yang kerjasama ke manajemen sekolah akan mengharuskan bahwa
kepemimpinan menyediakan rangsangan cendekiawan dan arah melalui yang memberi
dan menerima dengan yang lain. Suatu pendekatan yang kerjasama tidak akan
menghasilkan satu menjauh, resmi, mengesankan, atau lingkungan otoriter.
Yang lain yang mendukung
kepemimpinan demokratis termasuk sarjana-sarjana pendidikan, reconstructionists
sosial, dan sarjana-sarjana filosofis dan sosial.
Menurut para pendukung nya
ada tiga basis yang penting dari administrasi yang demokratis:
1.
Suatu kepercayaan secara
luas membagi bersama bahwa jika para guru diperlakukan dalam satu cara yang
otokratis para pemegang saham dan pengawas, mereka akan memperlakukan para
murid secara setimpal.
2.
Pertumbuhan yang mahabesar
di dalam ukuran dan spesialisasi sekolah-sekolah menuntut perubahan struktural
bahwa terjadi. Perubahan struktural di dalam sistem persekolahan memaksa
pengawas dan pengurus lain untuk bersandar pada keahlian dari para guru dan
pengurus lain.
3.
Berjanji kepemimpinan
demokratis untuk membantu pengurus sekolah mengamankan kooperasi staf-staf
mereka dengan membuat mereka para anggota regu.
Keduanya administrasi yang
demokratis bahwa yang dimulai di dalam pengaturan-pengaturan pendidikan dan
hubungan antar manusia bergeraknya zaman yang industri membawa hampir sama.
Rupanya, kedua-duanya pendekatan bereaksi melawan terhadap praktek
administratif yang otokratis berhubungan dengan manajemen ilmiah. Yang paling
penting, riset hubungan antar manusia kelihatannya untuk mengkonfirmasikan
dengan pengalaman untuk apa para pendukung administrasi yang demokratis sudah
percaya untuk sekali waktu, moril dan produktivitas organisasi itu bisa
ditingkatkan oleh kepemimpinan yang mempraktekkan humanistis.
9.6.1. Demokrasi pendidikan Adminisatrasi
Keduanya administrasi yang
demokratis bahwa yang dimulai di dalam pengaturan-pengaturan pendidikan dan
hubungan antar manusia bergeraknya zaman yang industri membawa hampir sama.
Rupanya, kedua-duanya pendekatan bereaksi melawan terhadap praktek
administratif yang otokratis berhubungan dengan manajemen ilmiah. Yang paling
penting, riset hubungan antar manusia kelihatannya untuk mengkonfirmasikan
dengan pengalaman untuk apa para pendukung administrasi yang demokratis sudah
percaya untuk sekali waktu, moril dan produktivitas organisasi itu bisa
ditingkatkan oleh kepemimpinan yang mempraktekkan humanistis.
9.6.2. Hubungan antar manusia
Gerakan di dalam pendidikan
Minat pendidikan akan
menerapkan gagasan hubungan antar manusia kepada permasalahan dari administrasi
sekolah sudah menghimbau oleh beberapa pengembangan berlangsung di dalam dan
sekolah luar. Di luar sekolah itu, bertumbuh karakter berkenaan dengan kota,
seperti juga perbaikan-perbaikan di dalam transportasi, sudah membatasi jarak
antara rumah dan sekolah. Semakin banyak. sekolah sedang ditempatkan di dalam
bidang yang di pinggiran kota untuk mengakomodasi kebutuhan yang pendidikan
milik bangsa tersebut yang kelas menengah yang terus meningkat menunda kota-kota
(Mata rantai & Catton, 1967). Kecenderungan ini memudahkan keterlibatan
masyarakat di dalam afair pendidikan. Parent-teacher asosiasi dan interaksi
antara staf sekolah dan publik sudah diningkat. Mengubah lingkungan di sekitar
sekolah tersebut dan kebutuhan akan hubungan masyarakat yang lebih baik
menyediakan Sound pertimbangan untuk pendidik untuk mengadopsi suatu pandangan
dari manajemen itu berjanji untuk meningkatkan sosial mereka dan
ketrampilan-ketrampilan hubungan antar pribadi. kondisi di dalam organisasi
sekolah juga menyebabkan pengurus untuk menantikan hubungan antar manusia.
Berbagai kesulitan susunan kepegawaian, yang mulai setelah 1941 ketika guru
meninggalkan kelas itu untuk bergabung dengan angkatan bersenjata atau
memasukkan industri masa perang, menjadi satu masalah administrasi yang akut
pada akhir peperangan (Mata rantai & Dos/slot, 1967). Kekurangan guru dan
ketinggian yang umum tingkat aus karena gesekan di dalam profesi itu
menjengkelkan oleh faktor ekonomi bahwa buat mengajar satu posisi yang tidak
menarik jelek (Bukit, 1947).
Untuk menunjuk permasalahan
seperti itu, para manajer sekolah yang diperlukan untuk mendapatkan pemahaman
publik dan dukungan dan memperbaiki moril antar staf sekolah.
Mengubah karakter dari
populasi sekolah tahun 1940an yang terlambat; almarhum dan awal tahun 1950an
faktor lain yang bahwa didorong pendidik-pendidik untuk mengembangkan
ketrampilan hubungan antar manusia. Lebih banyak para siswa dari latar belakang
yang berbeda didaftar di muka umum sekolah dari yang pernah ada sebelumnya
(Mochiman. 1940). Sebagai tambahan, meningkatkan mobilitas masyarakat yang
sehabis perang, langkah percepatan dari kejadian, dan penggemburan panjang
memegang nilai dan tradisi bersikap permasalahan yang berbeda dan baru, terutama
beberapa dekade setelah. Hal menonjol milik Mahkamah Agung Brown Vs Dewan
keputusan pendidikan. Yang lain mengutuk pendidikan yang diterima di sekolah
publik untuk yang dituduh anti nada cendekiawan, kekuasaan nya oleh pendidik
profesional, dan metoda-metoda nya yang tidak demokratis di dalam menyiapkan
dan memilih para murid untuk karier, untuk memecahkan kritik seperti itu, itu
tidak mengejutkan para profesor itu pendidikan merekomendasikan suatu wujud
dari manajemen bahwa mengusulkan strategi untuk kooperasi meminjam dari riset
yang industri.
Ralph Tyler adalah salah
satu dari pendidik yang pertama untuk menghargai mengubah pandangan
administrasi bahwa riset hubungan antar manusia dinyertai. Tyler (1941)
mencatat keterkaitan dari riset hubungan antar manusia yang terbaru ke
pengurus-pengurus sekolah dan mengusulkan riset masa depan itu di dalam
manajemen pendidikan berpedoman kepada Hawthorne belajar. Wilbur Yauch dan
studi-studi Daniel Griffiths dua konsep tonggak mil terapan bahwa penting yang
lain hubungan antar manusia kepada pendidikan.
Yauch (1949) dengan syarat salah satu dari pertama menyelesaikan studi pendidikan
bahwa penyamarataan etis yang dikombinasikan dari administrasi yang demokratis
dengan riset hubungan antar manusia menarik dari industri Ia membawa
bersama-sama pendekatan yang menentukan ke manajemen sekolah yang dikedepankan
oleh pendidik sepanjang 1920s dan 1930s dengan suatu penghargaan lebih objektif
permasalahan yang administratif. Ia mendukung keterlibatan guru di dalam semua
bidang administrasi, termasuk keikutsertaan staf di dalam keputusan mengenai
pengawasan, alokasi anggaran, kurikulum, kebijakan umum yang membuat, dan
tugas-tugas pekerjaan berhubungannya dengan operasi suatu sekolah.
Griffiths (1956) studi
manyatukan lebih dari sekedar abad seperempat pendidikan dan ilmu sosial
memikirkan administrasi. Griffiths percaya bahwa moril staf dihubungkan dengan
jenis operasi kepemimpinan di dalam sekolah-sekolah. Ia melihat pemimpin
sekolah tersebut sebagai seseorang tanggung jawab pemimpin siapa untuk
memudahkan tindakan dari orang lain: satu pemrakarsa, suatu koordinator, suatu
penolong, dan suatu orang sumber daya. Pemimpin sekolah tersebut adalah suatu
individu yang sosial, Sensitip kepada kebutuhan manusia dari semua yang
terkait. Studi Griffiths tidak diharapkan sebagai suatu pedoman berisi daftar
hubungan antar manusia memerintah teknik-teknik kering bahwa dapat diberlakukan
bagi berbagai situasi-situasi, tetapi lebih, itu yang dicari untuk menyediakan
satu dasar cendekiawan untuk studi dari sekolah-sekolah menarik dari riset di
dalam ilmu-ilmu sosial yang lain dan dari ladang lainnya pendidikan kejurusan.
Dengan demikian, permulaan itu signalled suatu pergeseran dalam minat pendidikan
dari suatu aplikasi yang praktis riset hubungan antar manusia kepada suatu
secara teoritis dikandaskan pemahaman tingkah laku manusia memperoleh dari ilmu
sosial. suatu perubahan yang ditandai kemudiannya sebagai nya di mana pendidik
mulai untuk mengerti administrasi sebagai suatu ranah kajian dibanding suatu
daerah tindakan (Getzels. 1977).
9.6.3. Dari administrasi yang
demokratis Kepada manajemen hubungan antar manusia
Kinerja guru di afair
sekolah atau administrasi demokratis, seperti yang dibahas oleh Dewey dan yang
lain, menunjukkan suatu cara membawa praktek-praktek organisasi di
sekolah-sekolah sejalan dengan politis yang sudah berjalan lama dan nilai
sosial, dengan demikian memberkati para guru dengan hak-hak kewarganegaraan organisasi.
Kebanyakan fungsi kritis sekolah bisa kemampuan mereka untuk bertindak sebagai
laboratorium untuk demokrasi dan para agen regenerasi nasional. Sekolah, oleh
karena itu, harus mengembangkan mekanisme sumber daya manusia lebih baik untuk
mencapai sasaran ini yang utama.
Hubungan antar manusia
riset berasal dari eksperimen yang industri yang dirancang untuk memperbaiki
kinerja pekerja dan secara umum untuk membantu penyebab manajemen. Awal
sarjana-sarjana memeluk gagasan-gagasan hubungan antar manusia karena mereka
berjanji untuk membantu penyebab kepemimpinan demokratis. Adopsi awal gagasan
ini, bagaimanapun, pada akhirnya yang dibantu dalam memecahkan permasalahan dan
tugas-tugas yang administratif lebih dari (sekedar) di dalam merestrukturisasi
atau demokratisasi sekolah.
Di abad pertengahan, para
siswa administrasi pendidikan menyisihkan berfokus kepada demokrasi di
keikutsertaan sekolah-sekolah dan guru menuju ke isu-isu yang lain berhubungan
dengan mengerti peran-peran dan tanggung-jawab dari para pemimpin sekolah.
Hubungan antar manusia para penulis di manajemen sekolah secara umum lebih
terkait dengan pemahaman bagaimana ketrampilan-ketrampilan dinamika kelompok
bisa membantu pengurus-pengurus di dalam berhadapan dengan permasalahan
berhubungan dengan moril hubungan masyarakat dan staf. Tulisan mereka, oleh
karena itu, isu-isu yang ditujukan terkait lebih untuk memanage dan mengatur
sekolah-sekolah dibanding barang kelontong tentang apa yang kepemimpinan yang
diterangi perlu memenuhi (Campbell, Fleming. Newell, &Bennion. 1987).
Setelah abad pertengahan, konsep
dari kepemimpinan sekolah sudah tidak lagi mempertahankan di filosofis tetapi
bergeser kepada seberapa baik para eksekutip sekolah memahami tingkah laku
manusia dan dinamika dari hubungan-hubungan yang hubungan antar pribadi. Di
dalam tulisan hubungan antar manusia, pengembangan dari ketrampilan-ketrampilan
di dalam konseling yang tidak direktif dan ujian psikologis dipandang sebagai
penting bagi pengurus-pengurus yang efektif (Campbell, Fleming. Newell, & Bennion,
1987).
9.6.4. Efek dari gerakan hubungan antar
manusia Di administrasi pendidikan
Dampak gerakan hubungan
antar manusia kecil secara relatif tidak baik di pengurus daerah sekolah,
dibandingkan dengan dampak yang substansiil di para penyelia (Owens, 1987).
pengawas Hari ini melanjutkan untuk menekankan konsep-konsep klasik seperti
kendali hirarkis, otoritas, dan organisasi formal, selagi para penyelia
menekankan konsep-konsep hubungan antar manusia seperti itu seperti moril,
keterpaduan kelompok, kolaborasi, dan dinamika dari organisasi-organisasi yang
informal.
Mereka yang melihat peran
mereka seperti pengurus pendidikan cenderung untuk menekankan anggaran,
politik, kendali, dan latihan tidak setangkup dari kuasa dari menurun,
sedangkan yang lainnya terkait dengan instruksi dan kurikulum menempatkan jauh
lebih penekanan di keikutsertaan dan komunikasi. Status-power hubungan telah
ditekankan. Perbedaan ini di dalam. penekanan tetap berlaku ke dalam 1980an.
Tambahan pula, motivasi, konsep inti dari gerakan hubungan antar manusia, tidak
diterapkan sumur di lingkungan sekolah atau sekolah tersebut. Tidak ada yang
baik cocok antara para guru yang mencoba untuk mencapai keunggulan dan pada
waktu yang sama menuntut lebih banyak pemberian judul.
9.6.5. Suatu kerangka yang baru
dari kepemimpinan
Di dalam waktu yang biasa,
orang menantikan para manajer untuk yang dapat diprediksi, halus jalannya, dan
operasi biaya efektif. Bantuan para manajer menyediakan kepastian kejelasan dan
efisiensi yang diperlukan untuk mendapat pekerjaan berbuat benar, pada waktunya
dari krisis, bagaimanapun, manajemen baik bukanlah cukup. Orang-orang putaran
ketidak-pastian tatapan kepada para pemimpin untuk arah, keyakinan, dan
harapan. Para pemimpin mendorong perencanaan jangka panjang, roh, dan kohesi
ketika keraguan sekitar masa depan dari organisasi terjadi. Kepemimpinan harus
secara konsisten merasakan sejarah nya dan, pada waktu yang sama, memandang
kemuka untuk menemukan atau menemukan kembali mengapa organisasi yang baru ada,
apa yang itu mewakili, dan di mana itu bisa dipimpin. Seperti keadaan eksternal
bergeser dan berayun, organisasi-organisasi bergerak ragu-ragu antara kebutuhan
mereka bagi manajemen dan kebutuhan mereka untuk kepemimpinan. Isu itu bukanlah
yang menjadi lebih baik, tetapi lebih apa yang keseimbangan terbaik mengingat
bahwa tantangan yang zaman ini.
Beberapa bertahun yang
lalu, suatu komisi pengawas yang nasional secara formal mengumumkan suatu
kemungkinan kerugian bangsa, satu waktu krisis di dalam sistem pendidikan.
Sejak itu sukses telah ada kecil di dalam mengasah kembali sekolah.
Struktur-struktur baru, kurikulum yang diperkuat, lebih sedikit uang, dan
keaneka ragaman lebih besar menciptakan rintangan administratif baru yang
hebat. Menggabungkan dengan isu-isu ini adalah suatu kepercayaan yang kuat
bahwa sekolah-sekolah bangsa kita tidak
pernah dapat seperti mereka. Lebih dari itu, baru ini panggilan untuk
kepemimpinan tidak terbatas pada pendidikan (Deal, 1992).
Volume-volume dari
literatur sudah memperkuat kepemimpinan sebagai suatu ramuan yang penting di dalam
semua usaha yang kolektif. Tetapi meskipun perhatian, inti sari dari
kepemimpinan tetap secara aneh susah dimengerti. Konsep modern memandang
kepemimpinan sebagai suatu interaksi yang kompleks antar para anggota dari
suatu organisasi, di mana konteks agak menagih posisi biasanya menentukan siapa
yang akan memelopori. Bagaimanapun, itu masih mungkin untuk menyuling beberapa
atribut penting dari kepemimpinan.
Bolman dan Deal (1991)
manyatukan literatur yang organisasi ke dalam empat bingkai yang terpisah;
jelas, masing-masing yang menekankan suatu aspek yang berbeda dari spekulasi
yang kerjasama. Masing-masing bingkai dijelaskan oleh suatu gelanggang yang
sesuai dari penekanan seperti yang ditunjukkan di Table 91.
Studi terbaru dari pengurus
di dalam urusan bisnis, pendidikan yang lebih tinggi, dan sekolah menyatakan
bahwa kebanyakan pengurus-pengurus beroperasi terutama dari yang manapun suatu
yang struktural atau orientasi sumber daya manusia (Bolman & Deal, 1991).
Keduanya orientasi terhubung dengan mantap kepada efektivitas pengurus mereka
sebagai seorang manajer dan efektivitas mereka seperti yang dirasa oleh para
bawahan. Dewasa ini, bagaimanapun, orientasi-orientasi politis dan simbolis
bermain jauh lebih peran dominan. Perhatian kepada lambang muncul untuk menjadi
faktor sangat penting di dalam kepemimpinan yang efektif. Para pemimpin
operasikan lebih merupakan suatu perunding-perunding dan penyair-penyair
dibanding seperti para pelayan, katalisator, atau arsitek-arsitek sosial. Dalam
hal dari krisis, para pemimpin efektif barter dan membangun kesatuan-kesatuan
dan bentuk dan wujud-wujud bentuk kembali secara simbolis bahwa mempengaruhi
tujuan dan maksud organisasi.
9.6.6. Suatu paradigma yang baru
untuk Kepemimpinan pendidikan
Seperti yang diramalkan oleh
nasional dan pengaruh angkatan internasional yang sistem yang pendidikan, peran
kepemimpinan di dalam pendidikan sedang mengumpamakan dimensi-dimensi baru.
Publik mengharapkan para pemimpin pendidikan untuk memperbaiki mutu pendidikan
yang diterima di sekolah dengan mantap. Harapan-harapan ini memerlukan para
pemimpin pertama untuk memperjelas strategi hasil-hasil dan penilaian pendidikan.
Mereka juga memerlukan para pemimpin untuk menjadi pandai dalam pengembangan
staff mempraktekkan dan mengadakan percobaan dalam penderitaan hubungan. Di
dalam peran kepemimpinan yang lain, para pemimpin sekolah diharapkan untuk
mengembangkan politis baru, sosial, dan koneksi bisnis di dalam masyarakat yang
lebih luas (Wallace. 1992).
Prestasi siswa di dalam
Amerika Serikat membandingkan dengan hasil-hasil prestasi di Asia dan Eropa
(Stevenson & Stigler, 1992). Hasil ini menaikkan pertanyaan-pertanyaan
tentang model yang ekonomi dan sumber daya manusia model yang digunakan maka
dengan suka menentang di dalam sistem pendidikan sepanjang bangsa tersebut.
Kecuali jika generasi-generasi yang masa depan lebih secara efektif dididik,
defisiensi serius akan melanjutkan ketika prestasi melanjutkan untuk menyusut
lebih lanjut. Sebagai contoh, mengubah demografis menyatakan bahwa sekolah-sekolah
harus lebih efektif di dalam mendidik satu berkembangnya populasi para siswa
minoritas dan yang lemah. laporan-laporan Hari ini menunjukkan bahwa para murid
ini bersifat underserved oleh sekolah negeri. Ada kemungkinan bahwa di masa
datang para siswa ini akan membentuk suatu bagian yang utama tenaga kerja
(Edmonds, 1979; Sedikit, 1981). Dengan perwujudan-perwujudan ini, para pemimpin
sekolah akan diwajibkan untuk memperlihatkan suatu yang tingkat yang lebih
tinggi pendidikan, kewarganegaraan, dan kepemimpinan politis. Para warganegara
harus lebih baik disiapkan untuk mengambil bagian secara efektif di dalam
masyarakat-masyarakat dari abad ke 21.
Barangkali perubahan paling
terbaru penting di dalam administrasi pendidikan adalah permintaan untuk yang
agresif dan kepemimpinan yang efektif di bangunan dan daerah mengukur. Lebih
dari sekedar pernah, kalayak ramai mengharapkan para pemimpin pengurus-pengurus
sekolah untuk bersifat aktif program intervi. Para pemimpin pendidikan harus
memimpikan sekolah-sekolah yang diperkuat dan adalah mampu menyempurnakan
kondisi bahwa keinginan memastikan suatu pendidikan mutu yang tinggi. Mereka
juga harus mampu menyampaikan maksud simbolis untuk memelihara cita-cita dan
mencapai sasaran ini. Mereka harus mengartikulasikan suatu visi yang padu
seperti juga menggambarkan komponen-komponen dari pendidikan mutu untuk para
siswa. Lebih penting lagi, mereka harus memotivasi para profesional di sekolah
dan daerah mengukur untuk menerapkan ini visi yang baru. Di suatu kata, sekolah
perlu kepada menjadi lebih secara kolektif dan lebih sedikit yang birokratis.
9.6.7. Suatu model yang
motivasional untuk Kepemimpinan pendidikan
Motivasi, seperti
didiskusikan tadi, secara umum dianggap sebagai berakar di dalam manusia
kebutuhan-kebutuhan. Individu bereaksi terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka
dengan mencoba untuk memenuhi mereka. Oleh karena itu, dasar untuk mengerti
motivasi di dalam kepalsuan organisasi-organisasi di dalam mengerti kebutuhan
bahwa memotivasi perilaku dari orang-orang di dalam organisasi-organisasi ini.
Pandangan-pandangan ini motivasi, bagaimanapun, belum diterapkan sumur di
sekolah-sekolah.
Riset menunjukkan bahwa
pengenalan, prestasi, kemajuan, dan tanggung jawab bersifat angkatan utama di
dalam memotivasi pendidik-pendidik untuk mengangkat kinerja-kinerja mereka
kepada potensi-potensi mereka yang maksimum (Savage, 1967; Schmidt, 1976;
Wickstrom, 1971). Sergiovanni dan Carver (1973) juga menemukan kerumah-tanggaan
rutin itu, seperti kehadiran pengambilan, kerja administratif, tugas makan
siang, pengawasan tidak sesuai atau yang tidak dapat merasakan, menjengkelkan
kebijakan administratif, dan hubungan lemah dengan para rekan kerja dan/atau
orang tua bersifat sumber utama dari ketidak puasan pekerjaan antar pendidik.
Sergiovanni dan Carver berargumentasi bahwa pengajaran menawarkan peluang kecil
untuk kemajuan. Ini ketidak puasan umum menyebabkan para guru untuk
mempertimbangkan; menganggap lebih lain
memuaskan profesi-profesi di dalam dunia yang pendidikan.
Di masa. lalu, ada dua
titik fokus di dalam kepemimpinan pendidikan. Pertama menekankan hal-hal
seperti merencanakan, mengorganisir, mengkoordinir, memerintahkan dan
mengendalikan. Pendekatan ini merindukan kepemimpinan yang digambarkan seperti
struktur tugas dan memulai struktur. Hati-hati, ini berarti menghadiri untuk
menjadwalkan, mengorganisir, mengawasi, dan monitoring, semua yang mutlak
penting untuk menjalankan sekolah-sekolah dengan baik. Titik fokus yang kedua
kepemimpinan pendidikan adalah pertimbangan yang didasarkan dan mengembangkan
perhatian untuk para bawahan, moril, motivasi, proses kelompok, pengendalian
konflik, dan pengambilan keputusan, pada pokoknya suatu yang partisipatif dan
orientasi sumber daya manusia.
Bagaimanapun, ada lebih
kepada kepemimpinan pendidikan. Sebagai contoh, para pemimpin pendidikan patut
dicontoh sudah lama para pemimpin intervi trampil yang dikenal sebagai ahli
pada permasalahan diagnose pendidikan, para guru konseling, mengembangkan
kurikulum, mengembangkan staf, mengevaluasi, dan remediating pekerjaan yang pendidikan
dari para guru. Sergiovanni (1984)
menggambarkan ke tiga jenis dari kepemimpinan seperti teknis, manusia, dan pendidikan.
Ia memelihara; memelihara bahwa tiga jenis ini dari kepemimpinan adalah penting
bagi sekolah-sekolah yang berkompeten. Bagaimanapun, untuk menggerakkan dari
kemampuan ke keunggulan di sekolah, dua wujud yang lain dari kepemimpinan,
kepemimpinan bangunan kepemimpinan dan kultur simbolis, adalah juga perlu.
Isyarat-isyarat
kepemimpinan simbolis dan menunjukkan kepada yang lain apa yang penting, apa
yang dihargai, apa yang diinginkan, dan apa yang sasaran mengesampingkan yang
lain. Para pemimpin simbolis menciptakan dan dikomunikasikan suatu visi untuk
para pengikut; mereka menguraikan suatu keadaan yang diinginkan dari afair
untuk mana para pengikut melakukan diri mereka. Mereka mencari untuk
menjelaskan kepada para bawahan;subordinat, koneksi-koneksi antara pada suatu
pihak, apa yang mereka ,dan apa yang, sebaliknya, mereka dapat melakukan
terhadap prestasi dari keunggulan. Dengan kata lain, para pemimpin simbolis
mengorganisir waktu guna kepentingan pribadi dan energi-energi mereka agar
supaya menyediakan suatu visi dipersatukan sekolah tersebut kepada para siswa
dan para guru mirip.
Bagaimanapun, riset
menyatakan bahwa bahkan kepemimpinan yang simbolis sendirian tidak mampu untuk
meraih keunggulan di sekolah-sekolah (Sergiovanni, l984). Sekolah-sekolah
sempurna ditandai oleh suatu karakter organisasi yang khusus bahwa kelihatannya
untuk membuat sekolah seperti terlepas dari yang lain, dengan kata lain
penting, sekolah sempurna yang harus diatur sehingga rasa para guru sehingga
mereka tergolong kerja efektif, merasakan baik pada pekerjaan yang mereka
kerjakan, dan percaya bahwa prestasi mereka bermanfaat. Para pemimpin
sekolah-sekolah yang sempurna harus berhati-hati, tidak hanya untuk memelihara
menerima warisan tradisi, tetapi juga untuk membuat tentang membangun
tradisi-tradisi yang lebih tinggi baru.
Kepemimpinan dan
pengembangan dari suatu norma bangunan makna kultur tingkah laku organisasi
bahwa menerangkan dnegan contoh terbaik yang suatu sekolah mewakili. Ini
berarti membangun satu lembaga; institusi di mana orang percaya betul, dengan
yang dapat mereka identifikasi secara pribadi, dan untuk yang mereka dengan
gembira memandang kesetiaan mereka. Semua ini memberi maksud kepada pekerjaan
bahwa mereka sungguh dan tambahan pula membangun makna lebih besar ke dalam
lingkungan sekolah tersebut. Secara keseluruhan, lingkungan kerja menjadi lebih
memotivasi seperti ketika komitmen berkembang.
Para pemimpin yang mencoba
untuk membangun kultur organisasi kuat di sekolah meluangkan waktu melafalkan
tujuan dan misi sekolah tersebut. Mereka membawa yang lain bersama-sama untuk
menerima nilai ini seperti keunikan dari sekolah tersebut adalah terus menerus
dinggambarkan kembali. Sekolah ini ditandai oleh ikatan bahwa terjadi antara
orang-orang dan organisasi di mana mereka mempunyai iman dan terhadap yang
mereka mempunyai komitmen. Di bawah kepemimpinan seperti itu, para siswa dan
para guru yang mirip datang untuk memahami bahwa mereka menjadi bagian dari
satu misi lebih besar bermanfaat dan yang penting.
Barang kepunyaan yang dalam
lain atas gerakan hubungan antar manusia berasal dari studi terakhir dari
kepemimpinan di dalam organisasi-organisasi. Sebagai contoh, Burns (1978) dan
Bass (1985) kepemimpinan yang terkonsepsi sebagai tanggapan dan
transformational. Kepemimpinan tanggapan adalah satu proses pertukaran atau
hubungan intervensi masalah dan berhubungan dengan gaya-gaya perintah dan
kendali yang tradisional dari manajemen. Transformational kepemimpinan adalah
yang berbeda. kuasa Atribut para pemimpin mereka sendiri kepada ketrampilan
yang hubungan antar pribadi yang lebih baik, pekerjaan berat, networking, dan
inspirasi. Di dalam ini bersaingan Leadership adalah rangsangan pertimbangan
dan cendekiawan individu, dan mengilhami para pengikut untuk menaikkan tingkat
diri sendiri mereka sendiri. kesadaran.
Sergiovanni (1992)
mengusulkan bahwa kepemimpinan transformative adalah mampu tingkatkan kemampuan
para anggota di dalam organisasi sosial untuk mewujudkan visi-visi mereka dan
mencapai sasaran. Sergiovanni menambahkan suatu dimensi moral kepada
kepemimpinan bahwa mempertimbangkan ciptaan suatu perjanjian dari nilai-nilai
yang dibagi bersama, komitmen, dan visi bahwa dapat menggerakkan para anggota
untuk mengembangkan satu organisasi yang efektif, sukses. Bagaimanapun, ia juga
menyatakan kepemimpinan tanggapan itu mempunyai suatu peran untuk mengisi di
dalam organisasi-organisasi. Ini dapat dilihat pada kebutuhan yang diperluas
untuk intervi dan kepemimpinan hubungan antar pribadi. Burns (1978) dan Greenfield (1987) juga
disebut untuk suatu aspek moral ke kepemimpinan. Hal ini yang diterjemahkan
ketika kemampuan itu untuk menaikkan para pengikut kepada tingkat yang lebih
tingginya motivasi dan moralitas. Greenfield menunjuk kemampuan pemimpin itu
untuk melihat berbagai hal sebagaimana mereka dan seperti mereka boleh jadi di
dalam suatu konteks moral.
Bass (1981) mengenali
kepemimpinan tanggapan dengan perintah yang pertama mengubah berdasar pada
mengharapkan kinerja. Para pemimpin tanggapan menyediakan penghargaan ketika
pantas, mendorong kepentingan diri yang individu, dan mencoba untuk membariskan
kepentingan diri dengan sasaran organisasi. Ia mengenali transformational
kepemimpinan ketika perubahan yang urutan ke dua di dalam sikap-sikap,
kepercayaan-kepercayaan, dan nilai, kinerja yang yang didasarkan pada di luar
harapan-harapan. Keduanya Bass dan Sergiovanni menyatakan bahwa praktek
kepemimpinan transformational dapat mengakibatkan para anggota organisasi
meraih di luar harapan oleh karena motivasi diri yang hakiki. Para anggota organisasi
menjadi yang merasa terikat dengan suatu satuan nilai-nilai dan kepercayaan
yang dibagi bersama bahwa menjadi suatu perjanjian yang profesional berbadan di
dalam pemikiran mereka dan tindakan.
New York Deparlu AS
prakarsa Education untuk perubahan pendidikan. Suatu Kompak yang baru untuk
Learning (1991), adalah transformational. Di dalam kompak yang baru, pengawas
sekolah tersebut bertanggung jawab atas mengkoordinir ciptaan suatu visi yang
dibagi bersama untuk daerah sekolah tersebut, kedua-duanya praktis dan yang
simbolis. Unsur-unsur dari perubahan bentuk ini termasuk makna penetapan untuk
mencapai hasil-hasil yang diinginkan, keterlibatan masyarakat pemeliharaan,
perencanaan pembagian dan pengambilan keputusan, dan mengembangkan dan membagi
visi daerah dengan kedua-duanya sekolah-sekolah dan masyarakat.
Kepemimpinan jenis ini
tidak dilatih semata-mata di tingkatan daerah, tetapi lebih, dihamburkan
sepanjang keseluruhan lingkungan sekolah untuk termasuk daerah,
sekolah-sekolah, dan masyarakat. Di dalam secara normal melepaskan lingkungan
daerah tersusun, pengembangan dari suatu cabang kebudayaan yang dipersatukan
menyediakan satu peluang untuk para anggota untuk bekerja secara kolaboratif
dan secara secara kolektif terhadap yang umum. Para anggota kesatuan-kesatuan
yang baru berbagi kepemimpinan sebagai keahlian dan peran-peran yang individu
bertanding sasaran.
konsep kepemimpinan
Sergiovanni digambarkan di dalam Gambar 96. Masing-masing lingkaran dibungkus
oleh suatu visi yang dibagi bersama bahwa memandu semua kepercayaan dan
tindakan-tindakan di dalam daerah. Visi ini memulai dari penyelia pemimpin dan
dikembangkan melalui maksud-maksud dihubungkan dengan, bahwa tindakan-tindakan
penyelia, keputusan-keputusan, dan perilaku-perilaku. Sama dan sebangun dengan visi
ini, adalah nilai-nilai yang dibagi bersama, kepercayaan-kepercayaan, dan
mengerti yang dikembangkan oleh para mitra organisasi yang lain. Penyelia
pemimpin bekerja dengan daerah pemilihan ini untuk mengembangkan makna untuk
yang dibagi bersama merencanakan dan pengambilan keputusan.
Dari tindakan-tindakan ini
suatu wujud yang ringkas, bahwa bahan bakar aktivitas dari tiap sekolah atau
departemen yang individu. Tindakan dibagi bersama mengakibatkan sekolah
tersebut atau departemen sebagai suatu kultur membentuk untuk membangun dibagi
bersama kesanggupan untuk tindakan dan meningkatkan sukses siswa seperti yang
diuraikan di dalam visi. Di dalam lingkungan mulai menanjak karir ini, para
pemimpin di dalam pengaturan-pengaturan ini harus ahli pada komunikasi,
pembentukan regu, dan manajemen intervi. dengan kata lain penting, sepertiga
gelanggang mewakili; menunjukkan ketrampilan kepemimpinan yang taktis yang
diperlukan oleh penyelia pemimpin daerah. Regu-regu yang dibentuk baru saja
akan masing perlu kepada belajar untuk bersandar pada keahlian satu sama lain,
mengembangkan mekanisme kerja sama, yang mencerminkan, dan bersama-sama,
merumuskan rencana, keputusan-keputusan buatan, dan berbuat sesuatu. Para
penyelia harus ahli dalam mendirikan satu lingkungan bahwa membangun kemampuan
di dalam semua yang terkait.
Lebih baru-baru ini, Rosner
(1990) belajar rangkaian transactional-transformational ini dalam hubungan
dengan peran kepemimpinan wanita dan mengembangkan suatu gaya dari kepemimpinan
dia menyebut yang interaktip. Secara rinci, wanita mendorong antisipasi, tenaga
bagian saham dan informasi, meningkatkan nilai diri sendiri milik orang lain,
dan bercita-cita kegembiraan pada pekerjaan dan lingkungan kerja. Rosner
menampilkan menunjukkan bahwa data mendukung suatu pandangan yang baru dari
wanita-wanita jalan memimpin dan menyokong satu yang ditambahkan tingkat
pengetahuan dan mengerti karena ahli teori pengarang-pengarang sumber daya
manusia, dan para pemakai. Para penulis lain sudah percaya pada gosip
pandangan-pandangan lain dari kepemimpinan. Para pemimpin mengatur perhatian,
maksud, kepercayaan, dan diri sendiri (Bennis & Nanus, 1985). Pemimpin
adalah para guru, para perancang, dan para pramugara (Senge. 1991). Seperti
riset lebih lanjut lanjutkan untuk berperan untuk pemahaman kita, manajemen
kepemimpinan dan sumber daya manusia akan melanjutkan untuk meningkatkan.
Studi hubungan antar
manusia mempunyai kaitan dengan potensi manusia di dalam organisasi-organisasi.
Di masa datang, iklim-iklim yang mendukung, lebih banyak umpan balik, dan
meningkat investasi di dalam para pekerja harus bagaimanapun juga membawa
keunggulan kepada organisasi-organisasi. Orang bekerja karena mereka
termotivasi untuk melakukannya. Studi dari orang di dalam lingkungan kerja itu
bersifat luas. Model-model proses motivasi berfokus kepada bagaimana dan
mengapa motivasi bekerja. Model isi motivasi mendiskusikan apa yang secara
rinci memotivasi orang. Pengharapan model, behaviorist model, dan pelajaran
sosial model digolongkan ketika proses meniru. Isi studi model jatuh masuk ke dua
bidang: kebutuhan manusia dan motivasi umum di tempat kerja.
Meski ahli teori sudah
mengusulkan bermacam komponen kebutuhan yang beroperasi dalam manusia, mereka
semua berasumsi bahwa orang-orang termotivasi dalam pengejaran pemenuhan dari
kebutuhan individu mereka sendiri. Tugas yang utama dari kepemimpinan untuk
menyediakan peluang untuk para pekerja untuk mencukupi kebutuhan ini. Ketika
Herzberg mengaku, Orang termotivasi oleh faktor ia menyebut motivator. Untuk
memotivasi karyawan, para pemimpin perlu mempertimbangkan; menganggap
motivator-motivator bangunan ke dalam pekerjaan karyawan, memberi mereka suatu
pengertian dari prestasi dan tanggung jawab formal.
Moril mencerminkan
bagaimana para anggota merasakan tentang organisasi-organisasi mereka. Moril
dipengaruhi oleh persepsi yang publik organisasi, hidup karyawan yang pribadi
itu, sifat alami pekerjaan, hubungan antar pribadi, konsep diri dan kebutuhan
karyawan itu, dan kepemimpinan. Para pemimpin perlu untuk mengamati moril dari
organisasi dan mengembangkan suatu kepekaan kepada kebutuhan-kebutuhan
karyawan. Para pemimpin juga perlu untuk memperbaiki mutu karyawan worklife
dengan menggunakan teknik-teknik seperti rotasi pekerjaan, pemekaran pekerjaan,
peningkatan pekerjaan, dan sistem sosio-teknis.
Organisasi-organisasi yang
informal muncul dari kontak sosial individu di dalam suatu organisasi formal.
Organisasi-organisasi yang informal menyediakan individu dengan
alternatif-alternatif untuk meraih kepuasan tidak yang disediakan oleh
organisasi formal: interaksi sosial, pengawasan sosial, komunikasi yang
informal, dan alternatif untuk meraih kepuasan tidak yang disediakan oleh
organisasi formal. Organisasi yang informal mempunyai kerugian potensial empat.
Mereka cenderung untuk memancarkan informasi palsu, lapisan pelindung berubah,
penyesuaian penyebab berlebihan kepada norma kelompok, dan bahkan mengembangkan
sasaran bahwa bertikai dengan sasaran organisasi formal. Bagaimanapun,
organisasi-organisasi yang informal sungguh menyediakan beberapa bermanfaat
bagi untuk organisasi formal. Mereka mencukupi kepuasan-kepuasan karyawan
sosial, menyediakan suatu jaringan komunikasi karyawan yang bermanfaat, dan
menyediakan karyawan secara emosional: Berhadapan dengan penting
diperhatikannya keberadaan dari organisasi-organisasi yang informal, pekerjaan
dari kepemimpinan adalah untuk menerima dan memahami mereka, untuk
mempertimbangkan kemungkinan akibat di organisasi yang informal ketika
mengambil tindakan, untuk mengintegrasikan minat dari organisasi-organisasi
yang informal ke dalam aktivitas organisasi formal, dan untuk menghindari
ancaman yang tak perlu kepada organisasi yang informal.
Hubungan antar manusia
bukan suatu resep obat untuk membuat orang-orang berbahagia. Sebagai gantinya,
inti sari benar, manajemen hubungan antar manusia adalah satu usaha untuk
membuat sumbangan-sumbangan orang kepada hidup lebih organisasi penuh arti.
Berfokus kepada ketetapan hidup organisasi penuh arti adalah jelas untuk
memecahkan woks yang teoritis hubungan antar manusia belajar, seperti yang
digambarkan di dalam Gambar 9.7.
Pada bagian yang lebih
luas, pemikir-pemikir milik hubungan antar manusia sudah mengadopsi sudut
pandang Teori Y McGregor di mana manusia dipandang sebagai penuh dengan
potensi. Potensi ini dapat ditepuk dengan pemilikan dan memberi harapan tinggi.
Untuk mengembangkan potensi manusia di dalam para pemimpin organisasi perlu,
untuk menyediakan para pekerja dengan suatu iklim yang mendukung, lebih banyak
umpan balik, program pelatihan untuk pertumbuhan profesional, dan menantang
kesempatan.
9.6.8. Permasalahan Zaman Sekarang
di Hubungan Antar Manusia
Pembeda adalah masalah yang
berkelanjutan di semua lingkungan organisasi. Mungkin saja terutama sekali
kritis pendidik dalam lingkungan yang pendidikan menjadi lebih bertanggung
jawab untuk tanggung-jawab pengembangan ketika sebagian besar keluarga. Meski
banyak kemajuan mempunyai buatan dekade-dekade yang terbaru, praktek bersifat
membedakan dan merugikan yang pantas dipertimbangkan tinggal. Terlalu sering
kali prasangka dan pembedaan ini mengarahkan pada minoritas etnik dan
ketenaga-kerjaan khusus lain menggolongkan. Prasangka berasal dari
penilaian-penilaian yang internal berdasar pada bukti yang tidak cukup. Suatu
orang yang dirugikan sering kali menuju ke untuk berpikir di terminologi
stereotypical tanpa mempertimbangkan perbedaan yang individu. Prasangka menjadi
suatu masalah hubungan antar manusia yang serius ketika tindakan-tindakan
menjadi bersifat membedakan. Terlalu sering kali di dalam aktivitas kita/kami
yang organisasi, batasan waktu dan prejudgments tentang yang lain dan
menciptakan tekanan situasi yang tak pantas untuk berbuat sesuatu.
Tindakan-tindakan kita menjadi yang tidak sesuai seperti kita dengan tak
hati-hati kegagalan untuk menahan penilaian sampai permasalahan diselidiki
secara penuh.
Di dalam usaha kita untuk
membangun lingkungan kerja yang adil, kita harus bagaimanapun juga belajar
untuk menciptakan suatu iklim aktip kerja sama dan yang adil. Para Pemimpin dan
para manajer mirip harus menyeimbangkan obyektifitas dan kepekaan. Kossen (1987) identifikasi beberapa
permasalahan khas bahwa lebih lanjut berperan untuk pembedaan di dalam tempat
kerja. Sebagai contoh, beberapa manajer meniru-niru minoritas etnik dan
ketenaga-kerjaan khusus lain golongkan sebagai lebih sedikit yang mampu ketika
yang dibandingkan. Sebagai hasilnya, para manajer cenderung untuk mengharapkan
lebih sedikit dari kelompok-kelompok ini dan pekerjaan lemah muncul. Pada
kenyataannya para manajer ini bisa menimbulkan perilaku eksak lemah yang mereka
mengharapkan. Ketidakpekaan mereka untuk prasangka mereka sendiri menyebabkan
pembedaan ketika mereka memandang kelompok ini dari satu perspektif yang tidak
sesuai. Di dalam kasus-kasus yang lain, di dalam usaha-usaha untuk menghindari
prasangka, para manajer boleh menugaskan proyek-proyek lebih sulit kepada ini
kelompok khusus untuk menciptakan penampilan seni dari perawatan sama.
Ketidak-mampuan-ketidak-mampuan manajer untuk memahami prasangka mereka sendiri
berperan untuk lebih lanjut pembedaan.
Pembedaan rasial adalah
satu isu secara emosional. Suatu tinjauan ulang dari riset menunjukkan bahwa
masyarakat sedang bergerak pelan-pelan untuk mengalahkan pembedaan rasial
(Wildstrom, 1986). Banyak dari kejadian di
dalam masa lampau yang terbaru sudah membangkitkan kepentingan publik dan
protes lebih besar. Dari Afrika Orang Amerika adalah pertama untuk mengenali
bahwa memprotes dan demonstrasi-demonstrasi memainkan suatu part yang penting
di dalam memaksa pengenalan publik ketidakadilan rasial (Coulmad, 1992; Kossen,
1987). Permintaan mereka untuk hukum yang baru, pendidikan lebih baik, dan
tindakan pemerintah sudah membawa berubah. Kebanggaan diri sendiri kuat sudah
membantu African-American menyebabkan di dalam mencari-cari peluang pekerjaan
sama dan suatu tempat yang lebih baik di dalam masyarakat. dengan kata lain
penting, pembedaan melawan terhadap Hispanics, Orang Amerika Asli, dan Oriental
Americans adalah sebagai meragukan untuk masyarakat kita dan lembaga; institusi
pendidikan.
Kemajuan telah ada besar di
dalam hak-hak wanita di dalam dekade yang terbaru. Salah satu dari perhatian
yang utama dari wanita di dalam tempat kerja mempunyai sama membayar pekerjaan
sama. Isu ini menyatakan bahwa wanita-wanita harus dibayar dengan sama karena
melaksanakan tugas-tugas memerlukan ketrampilan yang sama, pelatihan, tanggung
jawab, dan usaha sebagai orang. Permasalahan lain dengan sama penting: minta
lebih dan kepedulian anak mutu lebih baik, perlindungan promosi potensial lebih
baik, hukum lebih baik melawan terhadap godaan seksual, manfaat-manfaat suka
bergaul lebih luas, dan kuasa/tenaga politis sama. Sementara banyak tindakan di
dalam bidang ini adalah hari ini jelas, lebih banyak keheningan perlu untuk
tercapai.
Banyak keheningan perlu untuk
tercapai di dalam dunia sumber daya manusia seperti dicatat oleh banyak komisi
yang menjelajah perubahan dan merestrukturisasi di dalam lingkungan yang pendidikan.
keinginan Yang paling meragukan adalah bagaimana caranya meyakinkan
kepemimpinan pendidikan bahwa menunjukkan dengan tepat strategi tindakan bahwa
sukses secara efektif dengan aktivitas sumber daya manusia yang luas. Yang
paling penting, praktisi hari ini harus menjadi ahli pada hubungan antar
manusia pemahaman dan memikirkan pengelamun mempraktekkan bahwa menimbulkan
terbaiknya dari potensi manusia. Sebanyak literatur sudah menunjukkan,
hasil-hasil terbaik secara umum terjadi dalam satu lingkungan di mana perhatian
untuk setiap pekerja dan pengurus adalah dapat dipertanggungjawabkan dan bertanggung
jawab di suatu atmosfer regu, di mana prestasi kebutuhan individu melebihi
pemberian judul, dan di mana individu mengejar dan mempunyai peluang itu untuk
mencapai keunggulan di dalam terminologi
kepunyaan mereka.
9.7.
Studi kasus Hubungan antar
manusia:
9.7.1. Kasus dari Sewa-sewa Yang
Baru
Valerie Rizzo baru saja metetapkan
pokok yang baru dari Timur Ruxton Sekolah Menengah. Timur Ruxton adalah suatu
kota kira-kira berjumlah 20,000 jiwa yang bertindak sebagai suatu pabrikasi
pemasaran dan cahaya memusat untuk daerah kedua pedesaan bersebelahan. Kota
tersebut daerah sekolah pada suatu waktu tadinya salah satu dari program yang
terkemuka negara untuk suatu masyarakat tentangnya ukuran. Bagaimanapun, pada
dekade yang lampau, bahwa reputasi mulai tergelincir ketika perubahan ekonomi
menyebabkan pengurangan dasar kena pajak dan seperti itu pengurangan jumlah
anggaran dan jasa milik sekolah tersebut. Pengawas dan administrasi yang ada
sudah semua posisi yang dipegang mereka selama beberapa tahun, dengan pengurus junior
mempunyai tujuh tahun pengabdian. Staf pengajaran juga sudah cenderung untuk
tinggal di tempat. Di dalam Sekolah Menengah, hanya dua di antara fakultas
pengajaran mempunyai kurang dari lima tahun masa jabatan.
Ketika dia disewakan,
Valerie diberitahu oleh pengawas yang pemilihan dewan sekolah paling terbaru
telah membawa masuk tiga orang yang baru, dan bahwa keseimbangan pemungutan
suara di komisi yang baru berada dengan mereka. Anggota baru menggabungkan
suatu panggung dari perubahan dan meningkatkan kualitas sekolah tersebut, dan
mereka sedang mengandalkan Valerie ketika pengurus baru kepada pelopor mengubah
di sekolahnya. Anggota baru itu sedang berharap agar perubahan di Sekolah
Menengah itu akan menyediakan satu contoh bahwa akan mempengaruhi sisa dari
daerah.
Pertanyaan-Pertanyaan
1.
Jika anda adalah Valerie
Rizzo, apa langkah akan anda menerima pertama 30 hari jabatan ketika Pokok
sekolah menengah untuk memperkenalkan yang terkait dengan perubahan
mengeluarkan yang dibahas di atas selagi secara serempak menetapkan hubungan
antar manusia efektif dengan staf bangunan mu?
2.
Bagaimana nantinya anda
mendekati isu-isu membahas di atas dengan panutan mu yang administratif ke
seberang daerah?
3.
Apa yang model-model dari
kebutuhan manusia dan kepemimpinan membahas di dalam bab ini, apakah Anda akan
terbiasa dengan pemandu anda ke dalam peran yang baru Anda? Mengapa?
4.
Persiapkan satu rencana
tindakan untuk diri anda untuk pertama separuh tahun bahwa akan membiarkan anda
untuk mulai pekerjaan, operasikan sekolah mu, dan memulai yang sesuai berubah.
Disiapkan untuk mendiskusikan rata dengan mana anda akan memotivasi staf mu
untuk temu datang tantangan, dan menjelaskan mengapa anda sedang memilih itu
makna yang tertentu ?
9.7.2. Desas Desus Mill
Desas desus yang merajalela
pada Schoolville. Pada pertemuan dewan sekolah yang terbaru, pengawas sudah
dihadapkan beberapa saat oleh orang tua yang marah dan tekanan media lokal pers.
Bagaimanapun juga kelompok ini sudah memperoleh akses kepada dokumen anggaran
negara yang diistimewakan. Anggaran yang baru sudah menghibahkan suatu
peningkatan upah cukup besar kepada para guru. Bagaimanapun, masyarakat itu
tidak dicukupi dengan prestasi siswa terbaru mencetak prestasi. Sebagai
tambahan, siswa mencetak prestasi yang lemah karena beberapa tahun menjalankan.
Untuk memecahkan keadaan ini, mendiskusikan mengikuti:
1.
Bagaimana caranya
membelokkan perhatian menjauh dari jaringan yang informal nyata yang
kelihatannya untuk memiliki lebih banyak informasi dibanding komisi sekolah
tersebut dan pengawas.
2.
Bagaimana caranya menunjuk
masalah sekolah tersebut pokok, prestasi siswa lemah.
9.7.3. Studi kasus Kasus dari Cek
Kenyataan
Pengawas Schoolville sudah
membanggakan dirinya di kualitas lulusan daerahnya telah mampu direkrut dari
perguruan tinggi, para guru yang sempurna di masa lampau beberapa tahun.
Baru-baru ini, para lulusan ini sudah mengangkat keluhan sekitar sifat yang
birokratis dari daerah dan sekolah, dan tambahan pula mempersatukan kelompok
para guru bahkan yang lebih besar tidak merasa puas. Para guru yang baru
membawa dengan harapan mereka tinggi. Itu kelihatannya pendidikan “keunggulan”
gerakan sudah lulus Schoolville oleh dan “orang yang tidak menyetujui” adalah
menantang lebih dari daerah yang dapat tawarkan. Diskusikan skenario ini untuk
memecahkan mengikuti:
1.
Bagaimana caranya mencapai
lebih banyak fleksibilitas untuk para guru, tetapi keheningan memelihara
kendali ?
2.
Bagaimana caranya
memelihara arus tingkat efisiensi ?
3.
Bagaimana caranya “dengan
cepat maju” ke zaman dari keunggulan ?
9.7.4. Studi kasus Kasus
Professionalisasi
Pokok Miller Middle School
sudah meneruskan sampai saat ini dengan literatur pendidikan yang terbaru.
Tetapi dia dibingungkan oleh sebagian dari asas manajemen berbasis sekolah
terbaru. Meski dia adalah satu pembela lingkungan profesionalisasi sekolah
tersebut, selama berkusi dengan para guru, dia sudah menjadi skeptis. Sebagai
contoh, selagi dia percaya akan ajaran dari pengambilan keputusan yang dibagi
bersama, dia juga menyadari bahwa pendekatan sama ini belum efektif di sekolah
yang lain.
1.
Apa yang langkah-langkah
dapat pokok lari ke membawa manajemen berbasis sekolah kepada sekolah nya?