Sabtu, 25 Maret 2017

Bab II-V

BAB 2
KEPEMIMPINAN

          Pada tahun 1980an, perubahan kepemimpinan, dianggap menjadi suatu permohonan agar terbebas dari berbagai masalah nasional. Menurut Rost (1991). Di Amerika Serikat penanganan kepemimpinan yang salah dianggap menjadi penyebab kemunduran negara tersebut di bidang ekonomi secara global dan pada waktu yang bersamaan menjadi sarana angkut yang diperlukan untuk memulihkan kekuasaan dan prestise mereka yang hilang. Bennis dan Nanus (1985) menyatakan hal tersebut merupakan "Krisis pemerintahan yang kronis sehingga tidak mampu mengatasi ekspektasi mereka pada setiap unsur pokok yang menjadi tujuan dari setiap organisasi di seluruh dunia" (hal .2). Burns (1978) menyebutkan bahwa "Krisis kepemimpinan ini adalah sifat dari tidak adanya rasa tanggung jawab dalam setiap kekuasaan baik dari para laki-laki maupun perempuan" (hal 1). Bennis dan Nanus mengklaim “Kepemimpinan perlu mengembangkan visi-visi bahwa setiap gerakan organisasi bertujuan untuk mengubah dari sesuatu yang tidak berarti menjadi sesuatu yang berarti”. Pemahamam dari pengertian kepemimpinan secara menyeluruh bisa membantu Amerika Serikat dalam hubungannya antara  hilangnya kualitas moral di dunia dan mengajarkan makna  kualitas moral tersebut secara signifikan.
Usaha-usaha ilmiah dalam meneliti makna kepemimpinan telah menimbulkan banyak definisi, teori-teori, model-model, dan aplikasi-aplikasi yang berbeda sehingga tidak ada kata sepakat dari definisi-definisi kepemimpinan tersebut atau kepemimpinan yang efektif dalam setiap organisasi. Kelihatannya, kebanyakan para sarjana akan lebih menyetujui pendapat Burns, yang menyimpulkan bahwa "Kepemimpinan adalah sesuatu yang paling banyak dikaji tetapi fenomena sangat minim difahami dimuka bumi" (hal 2). Rost (1991) memberikan pendapat yang bertentangan dia mengatakan bahwa suatu kerangka yang konseptual bagi  kepemimpinan tidak bisa dibangun sampai sebuah definisi kepemimpinan dikatakan jelas bersih, ringkas, mudah dimengerti, bisa diteliti, praktis, dan persuasif" dirumuskan; Betapapun banyaknya definisi-definisi dan teori-teori kepemimpinan hal tersebut sudah melayani kebutuhan-kebutuhan sementara dari para peneliti-peneliti, organisasi-organisasi, dan masyarakat-masyarakat.
Definisi-definisi kepemimpinan semacam  itu bertahan untuk sekitar dua puluh tahun. Ketika riset membongkar defisiensi dalam teori-teori tersebut, perspektif-perspektif  baru untuk mempelajari kepemimpinan teridentifikasikan. Kompleksitas organisasi-organisasi yang modern, yang secara sangat mikrokosmik barangkali digambarkan dsalam perubahan bentuk wujud ekonomi-sosial keluarga,  menyatakan bahwa paradigma-paradigma kepemimpinan mungkin berubah dengan cepat ketika kita memulai abad ke 21. Kondisi ini menimbulkan beberapa pertanyaan-pertanyaan untuk para siswa; Siapa yang akan mengasumsikan kepemimpinan di masa datang. Bagaimana nantinya paradigma-paradigma kepemimpinan  tersebut memerlukan perubahan  seperti ketika para pemimpin dan para pengikut diamati dalam peran-peran dan konteks-konteks yang baru? Satu pengujian kepemimpinan mencerminkan satu kepemimpinan bukanlah pasti tetapi sulit dimengerti dan terus menerus berubah. Hal tersebut mencerminkan satu perubahan yang terus menerus pada masyarakat dunia. Bagaimana cara dan konteks-konteks organisatoris masa kini sehingga berdampak pada teori-teori yang ada dari kepemimpinan atau menjurus kepada kerangka-kerangka konseptual baru mengenai kepemimpinan ?

2.1.        KEPEMIMPINAN ATAU MANAJEMEN 
      Buku ini menguji para pemimpin dan para manajer dan permasalahan utama yang mereka hadapi, dan yang paling khusus,  kepemimpinan atau manajemen di dalam pendidikan. Lembaga/institusi bidang pendidikan saat ini berada dalam krisis. Tetapi apakah Pelanggaar hukum itu pemimpin individual ataukah manager? Terlalu sering  para kepala sekolah, pengawas-pengawas, dan para guru dipandang sebagai kambing hitam untuk permasalahan kelembagaan yang lebih besar. Seringkali penampilan individu-individu ini diberi label kurang. Bagaimanapun juga para pendidik, hanya dapat melaksanakan di dalam sistim itu, di dalam proses-proses, aktivitas, dan keanggotaannya.
      Bagaimana cara kepemimpinan atau manajemen tersebut terjadi di dalam lingkungan bidang pendidikan ini? Apakah kita mempunyai sebuah pegangan kokoh tentang pengertian kepemimpinan dan manajemen? Apakah kepemimpinan dan manajemen itu sama? Dapatkah pengertian-pengertian yang kita miliki meningkatkan pemahaman kita tentang kepemimpinan, tetap bisa diadaptasikan dalam sebuah paradigma  post industrial, di suatu masyarakat di mana para pemimpin dan para manajer membantu mendesain kembali lembaga-lembaga vital kita termasuk pendidikan?
Ketika  abad ke duapuluh tutup kita menemukan bahwa kepemimpinan dan manajemen itu telah dipelajari secara ekstensif. Sementara studi tentang  ciri-ciri leader/manager dan perilaku-perilaku sudah memberikan pemahaman lebih besar bagi para praktisi-praktisi dan teori-teori atau model-model dari kepemimpinan dan manajemen yang menerangkan bahwa, tidak ada konsensus yang ilmiah pada apa yang menjadi ciri kepemimpinan dari manajemen atau apa yang menggambarkan masing-masing. Bahwa kepemimpinan dan manajemen bersifat beda. Tetapi alasan untuk perbedaan itu belum secara penuh diteliti, maupun sudah ada penafsiran-penafsiran yang masuk akal untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Lalu apa kepemimpinan ? Manajemen ? Apakah para pemimpin dan para manajer benar-benar berbeda ? Lakukan definisi-definisi bersamaan waktu ? Apakah itu bermasalah?
      Buku dan bab ini berniat menggerakkan pemikiran siswa di bidang administrasi pendidikan dan memprogram  tujuan atau yang lebih spesifiknya untuk meluaskan ruang lingkup pemikiran dari pandangan kita dan menciptakan pemahaman lebih besar. sadar akan isu-isu, permasalahan dan mereka-reka perbaikan-perbaikan dalam memahami kepemimpinan yang efektif sudah tidak lagi cukup. Ketika kita menyertakan perkembangan teknologi dan kompleksitas yang bersifat exponensial, kebutuhan muncul untuk pemahaman sistemik dan sistematis di dalam bidang-bidang yang sama. Analisa, sintese, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi harus melintasi bermacam tempat dan peristiwa sebelum berkembang menjadi tindakan. Keyakinan-keyakinan kita tentang kepemimpinan harus ditingkatkan sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat, seperti halnya tindakan memberdayakan semua guru dan pengurus-pengurus lingkungan-lingkungan  yang baru.
      Bab ini menelaah teori-teori dan atau  pendekatan kajian utama terhadap kepemimpinan. sebagaimana berikut;
a)      Kajian-kajian karakteristik/sifat yang berupaya  mengidentifikasi ciri kepribadian dan kecerdasan/inteligen para pemimpin dan mengidentifikasi hubungan-hubungan diantara dua ketrampilan-ketrampilan spesifik tersebut.
b)      Studi tingkah laku tentang eksplorasi  pola aktivitas, dan kemampuan mengidentifikasi pola tingkah laku 
c)      Hubungan antara pengaruh dan kekuasaan adalah menyelidiki bagaimana para pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk mempengaruhi yang lain
d)     Situasi-situasi yang bagaimana yang mempengaruhi hubungan perilaku pemimpin dalam efektivitas kepemimpinan
e)      Mengembangkan hubungan timbal balik antara para pemimpin dan para pengikut, dan
f)       Hubungan-hubungan budaya, perilaku pemimpin dalam membangun satu kultur organisasi.
Sementara banyak studi yang hanya fokus kepada salah satu dari pendekatan di atas tanpa pengujian, sehingga terdapat kemungkinan pengintegrasian penemuan pendekatan yang ganda (Yukl, 1989), harapan kita yaitu untuk memperkenalkan pembaca bahwa terdapat  banyak dimensi kepemimpinan, dan lebih lanjut lagi untuk menjelajah setiap dimensi tersebut dengan cara yang lebih sistemik dan sistematis.



2.2.        TEORI-TEORI CIRI KEPEMIMPINAN
        Studi-studi awal tentang kepemimpinan didasarkan pada asumsi bahwa setiap individu memiliki karakteristik-karakteristik fisik tertentu, ciri kepribadian, dan kemampuan intelektualitas yang membentuk mereka menjadi pemimpin alami (Yukl, 1989). Penelitian dgn menggunakan studi korelasi dalam statistik akan membandingkan para pemimpin yang sukses dengan para pemimpin yang gagal dan untuk melihat juga bahwa kekayaan yang ditetapkan boleh jadi suatu prasyarat untuk kepemimpinan yang efektif. Sebaliknya, ahli teori organisasi Stogdill (Bass 1981) mengungkapkan bahwa kepemimpinan  tidak bisa dijelaskan hanya dari segi  individu atau kelompok tetapi harus mempertimbangkan interaksi ciri-ciri pemimpin dengan variabel-variabel situational (p.38). Kepercayaan bahwa orang-orang yang menguasai ciri-ciri kepemimpinan efektif dapat terabaikan apabila dia sudah dalam situasi tidak lagi mendapat dukungan (Gardner, 1990). Tambahan Smith dan Peterson meninjau ulang penelitian dengan mengkritik terlalu sedikit pemahaman tentang keseragaman dan ciri dalam desain kepemimpinan. Bennis dan Nanus (1985) teori Great Man dari kepemimpinan menujukan bahwa kekuasaan lebih menunjukan kepada karakter dan membatasi banyaknya potensi setiap pemimpin dalam regenerasi kepemimpinan. Penelitian ini juga memberikan ide bahwa kejadian hebat dapat mentransformasi individu menjadi pemimpin yang hebat.

2.3.        TEORI TINGKAH LAKU
        Ahli teori tingkah laku berusaha menentukan para pemimpin yang efektif dengan mengidentifikasi kedua-duanya,baik perilaku dari para pemimpin dan akibat perilaku pemimpin pada produktivitas bawahan; subordinat dan kepuasan pekerjaan. Studi-studi tentang perilaku pemimpin di Universitas Iowa (White&Lippitt, 1990) menguji pengaruh sikap bawahan; subordinat dan produktivitas sebagai gaya kepemimpinan yang bervariasi. Para pemimpin terlatih untuk menunjukkan tiga gaya kepemimpinan yaitu demokratis, otoriter, dan laissez faire. Setiap individual pemimpin mempertunjukkan perilaku konsisten dengan masing-masing gaya kepemimpinannya. Para pemimpin otoriter menentukan semua kebijakan dan pekerjaan dengan mendikte prosedur-prosedur tugas-tugas dan tugas di dalam, segmen-segmen yang dipisah, dan memberi pujian atau kritik dalam suatu konteks yang pribadi. Para pemimpin demokratis menggunakan keputusan kelompok dalam penentuan kebijakan dan diskusi dengan syarat, tugas-tugas pekerjaan dan prosedur-prosedur alternatif untuk pencapaian sasaran, para bawahan; subordinat yang diizinkan untuk memilih para mitra pekerjaan, dan memberi sasaran dan memandu usul-usul ketika menawarkan pujian dan. kritik.
        White dan Lippitt (1990) menentukan bahwa gaya kepemimpinan demokratis lebih disukai oleh para pekerja dalam arti lebih group-mindedness, keakraban, dan terdapat efisiensi situasi-situasi demokratis. Para pekerja juga lebih menyukai gaya laissez faire daripada gaya otoriter. Pada kasus-kasus lain, para bawahan menunjukan perilaku dengan bersikap masa bodoh atau agresif sebagai jawaban atas para pemimpin otoriter.
      Suatu kelompok studi kepemimpinan yang dilaksanakan di Ohio State University mengidentifikasi dua dimensi kepemimpinan: yaitu pertimbangan dan kemampuan untuk memulai struktur (Stogdill &Kaya, 1957). Pertimbangan digambarkan sebagai ungkapan pemimpin itu kepercayaan, rasa hormat, kehangatan/keramahan, dukungan, dan perhatian untuk kesejahteraan bawahan. Peneliti-peneliti menggambarkan kapasitas itu untuk mengembangkan struktur pemicu ketika perhatian terpusat kepada sasaran organisasi, pemimpin organisasi dan tugas-tugas, penggambaran hubungan-hubungan bawahan yang superior, dan evaluasi kinerja (Lunenburg &Ornstein, 1991). Korelasi-korelasi dibentuk antara dua materi yaitu struktur-struktur pemicu dan pertimbangan, dan bawahan yang bekerja dengan kepuasan dan performance/produktivitas seperti yang ditunjukan oleh perilaku pemimpin itu. Bagaimanapun, hubungan sebab akibat antara perilaku pemimpin dan kinerja bawahan tidak bisa diperkuat (Yukl, 1989). Studi-studi Ohio State menunjukkan bahwa kepuasan bawahan dan produktivitas bisa diperbaiki oleh para pemimpin yang menunjukkan perilaku isiatif dan pertimbangan yang tinggi (Lunenburg &Ornstein, 1991).
      Studi kepemimpinan yang yang dilaksanakan di Universitas Michigan mencoba mengidentifikasi hubungan antara perilaku pemimpin, proses-proses kelompok, dan kinerja kelompok. Studi-studi ini menunjukkan tiga gaya kepemimpinan: (a) perilaku yang berorientasi tugas serupa yang dimulai dengan struktur kepemimpinan. (b) perilaku yang berorientasi pada hubungannya dengan pertimbangan. (c) kepemimpinan partisipatif (Likert, 1961). Riset sebelumnya menunjukkan bahwa kelompok kerja produktif mempunyai pemimpin yang berorientasi pada hubungan kerja dibanding dengan pemimpin yang berorientasi tugas. Bagaimanapun juga ketidakkonsistenan di dalam temuan penelitian, para penelit kemudian menyimpulkan bahwa para pemimpin efektif itu adalah yang berorientasi pada tugas dan berorientasi pada hubungan. Penemuan ini dikemukakan oleh Bowers dan Seashore (1966) yang menentang bahwa efektivitas kelompok ditentukan oleh mutu kepemimpinan kelompok dibanding pembedaan tugas.
      Likert (1961) empat gaya kepemimpinan adalah ekploitasi otoritas,otoritas yang bijaksana, konsultatif, dan  partisipatif (demokratis). Likert menunjukan bahwa di dalam situasi-situasi di mana para pemimpin menggunakan kepemimpinan partisipatif atau konsultatif, ada bukti dari kepercayaan, penentuan sasaran kolaboratif, komunikasi dari bawah ke atas, dan perilaku pemimpin yang mendukung. Di dalam situasi organisasi di mana kepemimpinan exploitative yang bijaksana dalam menggunakan otoritasnya, organisasi tersebut ditandai oleh ancaman-ancaman, ketakutan, hukuman, komunikasi, dan memusatkan pengambilan keputusan dan kendali. Karakteristik-karakteristik ini digunakan untuk menimbulkan penyesuaian bawahan kepada patokan-patokan sasaran dan produktivitas organisasi. Likert juga mengusulkan bahwa  para pemimpin yang menggunakan prosedur-prosedur keputusan partisipatif lebih efektif. Rangkaian Likert sering disebut oleh analis kepemimpinan karena menyediakan pemahaman sistematis konsep-konsep sering kali diberlakukan untuk silang studi-studi organisasi
      Dalam berbagai riset teori kepemimpinan dilakukan percobaan untuk mengidentifikasi satu gaya kepemimpinan yang optimal di dalam semua keadaan yang universal (Blake & Mouton 1981; Likert 1967; Likert 1961) menyimpulkan para pemimpin yang efektif bersifat mendukung  dan berorientasi tugas. Di dalam kasus-kasus ini, orientasi nilai, dibanding pola perilaku dari pemimpin, menjadi konsep teoritis yang mencolok.
      Sebagai contoh, Mazzarella (Mazzarella & Grundy, 1989) mencoba untuk mengintegrasikan riset ciri kepemimpinan dengan riset perilaku. Mazzarella mengemukakan bahwa ciri-ciri pemimpin dan kualitas mempengaruhi perilaku pemimpin. Ciri-ciri ini, pada gilirannya, memungkinkan para pemimpin untuk saling berhubungan secara efektif dengan para bawahan mereka, panutan-panutan, dan atasan-atasan atau keduanya, misalnya kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang lain dan situasi-situasi yang berorientasi tugas seperti kemampuan intelektual untuk menggambarkan tugas-tugas struktur. Perilaku pemimpin itu bisa dipengaruhi oleh suatu kelompok, hubungan yang berkualitas dengan kepemimpinan yang efektif, sikap-sikap (keikutsertaan sosial, keahlian berkomunikasi, dan keterampilan mendengarkan), karakteristik kualitas kepemimpinan (penentuan sasaran, klarifikasi tujuan, visi,  keamanan, proaktif). Meski ciri-ciri dan kualitas ini dapat dikelompokkan dan dikenali, penelitian mengungkapkan para pemimpin efektif itu biasanya tidak memperlihatkan semua  ciri ini (Immegart, 1988, 1991).
      Riset yang ada menekankan suatu pendekatan tingkah laku dan mengidentifikasi perilaku dan keterampilan yang bisa diajarkan kepada para pemimpin potensial. Usaha riset berikut sudah mencoba mengidentifikasi unsur-unsur kepemimpinan, yang didasarkan pada perilaku-perilaku sosial dalam menentukan efektivitas kepemimpinan. Bagaimanapun juga riset perilaku, tidak mempertimbangkan dengan seksama faktor-faktor situational (yaitu., pembedaan tugas, komposisi kelompok, variabel-variabel lingkungan) yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan (Lunenburg & Ornstein, 1991). Variabel tingkah laku tidak bisa diperlakukan tetapi harus diuji dalam hubungannya  dengan faktor lain (Smith & Peterson, 1989).

2.4.        PENGARUH KEKUATAN
        Usaha studi lain untuk memahami perilaku pemimpin dari pengaruh perspektif kekuasaan. Melukiskan kekuasaan sebagai "Suatu kekuatan yang menentukan hasil tingkah laku dalam satu arah yang diharapkan dalam situasi yang disertai interaksi manusia" Abbott dan Caracheo ( 1988, P.241). Kekuasaan berdasar pada otoritas yang berasal dari posisi pemimpin yang dibentuk dalam suatu hirarki sosial institusi dan didelegasikan oleh institusi. Gengsi kekuasaan didasarkan pada apa yang dimiliki pemimpin itu yang diperoleh secara wajar (jujur) atau karakteristik pribadi yang dihargai oleh orang lain. Kekuasaan ini harus didapat oleh pemimpin melalui demonstrasi karakteristik. Mereka berargumentasi bahwa penghargaan bukan basis dari kekuasaan, seperti yang diakui oleh Prancis dan Raven (1968), tetapi kekuasaan yang dilatih dalam satu lingkungan kelembagaan berdasarkan pada otoritas atau gengsi ataupun keduanya. Albott dan Caracheo (1988) menyatakan bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang berasal dari hak kekuasaan, para pengikut sampai kepada mereka yang memerintah, berdasar pada otoritas dalam lingkungan kelembagaan.
        Yukl (1989) menggambarkan kekuasaan sebagai suatu kapasitas agen untuk mempengaruhi satu atau lebih individu. Pengaruh di sini berarti untuk memiliki satu pengaruh pada sikap target, persepsi, atau perilaku. Pengaruh kekuasaan yang digunakan mengarah ke bawah, menyamping, atau naik dan berasal dari tiga sumber, yaitu  posisi, pribadi, dan  politis (Yukl, 1989).
        Posisi atau legitimasi kekuasaan berasal dari hierarki struktur organisasi. Para pengikut model ini termotivasi untuk mematuhi dan merasa hak kekuasaan dari pemimpin (proses pemilihan). Para pengikut mengenali lingkup dari pemimpinnya, otoritas dan kendali sumber daya, reward, punishment, informasi, lingkungan fisik, dan subsistem organisasi.
        Kekuasaan personal digolongkan sebagai ahli, referensi, atau kekuasaan yang bersifat karismatik. Penguasa yang ahli tergantung pada bagaimana para pengikut mengenali keahlian dari seorang pemimpin yang menguasai keterampilan-keterampilan yang jarang atau tidak bisa dengan mudah ditiru dan siapa yang menggunakan logika dan bukti untuk membuktikan (bahwa) kemampuan uniknya. Kekuasaan karismatik bergantung pada kemampuan pemimpin itu untuk mengidentifikasi kebutuhan dan nilai dari para pengikut itu dan untuk memotivasi komitmen kepada para pengikut. Tidak seperti kekuasaan karismatik yang kuat dan dengan cepat terbentuk, kekuasaan referensi dikembangkan pelan-pelan melalui tindakan-tindakan simbolis yang menunjukkan pertimbangan pemimpin itu melalui pemenuhan tugas dan pembentukan sikap-sikap yang serupa terhadap organisasi.
        Suatu dasar kekuasaan pemimpin bisa ditingkatkan melalui kuasa politis tentang proses-proses pengambilan keputusan pengendalian, bersatu memperoleh hasil yang diinginkan, dan meningkatkan komitmen dari orang lain dalam keputusan melalui  keikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan.
        Satu alternatif pandangan tentang kekuasaan dalam menggambarkan hubungannya menggunakan suatu kuasa, spektrum kuasa sosial dalam memenuhi suatu tugas. Dari perspektif ini, Blake dan Mouton (1961) mengenali tiga area kompetisi, kolaborasi, dan ketidakberdayaan. Kompetisi menguraikan suatu situasi di mana masing-masing peserta mencoba untuk mencapai atau mempertahankan kemampuan pengambilan keputusan lengkap. Ketidakberdayaan menguraikan suatu situasi di mana peserta-peserta tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi yang lain atau untuk memperoleh keputusan yang memerlukan tindakan. Kolaborasi menguraikan suatu situasi yang membiarkan para pengikut dari berbagai macam derajat tingkat kekuasaan. Blake dan Mouton menyimpulkan bahwa suatu hubungan kekuasaan menjadi seimbang,apabila ada kepuasan pekerjaan dan perasaan tanggung jawab yang menjadi optimal. Dengan demikian, timbal balik pembagian tanggung-jawab pengambilan keputusan boleh menjurus kepada yang paling tinggi keseimbangan kepuasan dan tanggung jawabnya antara atasan dan  bawahan.
        Dalam teori kontingensi/ketidakberaturan strategis kekuasaan. Hickson, Hnnings, Lee, Schneck, dan Pennings (1971) mengusulkan bahwa penggunaan kemampuan memecahkan masalah dalam situasi kritis adalah keahlian yang unik yang diperlukan dalam mimimpin dan meningkatkan kekuasaan setiap sub unit  dan otoritas dalam cakupan pembuat keputusan.
        Dalam model kekuasaan kontingensi strategis lainnya Salancik dan Peffer (1977) mengklarifikasi dan mengusulkan bahwa kuasa politis bukan sub unit kritis yang digunakan untuk melindungi dan memelihara posisi setiap subunit meskipun keahlian mereka sudah tidak lagi diperlukan. Kuasa dibagi bersama dalam setiap  organisasi bukan karena suatu kepercayaan dalam pengembangan organisasi atau partisipasi demokrasi tetapi karena tidak seorang pun orang dapat mengendalikan semua aktivitas kritis (p.7). Tiga variabel yang mempengaruhi kuasa politis adalah kelangkaan, kegentingan, dan ketidak-pastian. Ketika sumber daya langka atau kritis kepada survival subunit itu dan ketika ada perselisihan paham pada sasaran atau metoda-metoda yang organisatoris meraih sasaran hasil, subunit yang bersifat kritis kepada organisasi menyatakan kuasa untuk mempengaruhi alokasi sumber daya dan meningkatkan kelangsungan hidup mereka. Ketika ketidaktentuan kritis berubah, kuasa berpegang kepada individu dan subunit berbasis kuasa. Bagaimanapun juga, individu dan subunit-subunit ini akan menggunakan kuasa mereka untuk mempengaruhi keputusan-keputusan organisatoris yang memastikan kelangsungan hidup mereka. Jadi dengan demikian, kuasa menjadi yang dilembagakan dan yang dilindungi, kemampuan pemilik untuk menetapkan struktur-struktur dan kebijakan-kebijakan permanen bahwa memastikan posisi kuasa dan pengaruh pemilik.
        Shetty (1978) mengemukakan bahwa tiga variabel situational dapat mempengaruhi jenis dari para pemimpin pemegang kekuasaan. Mereka memilih untuk menggunakan variabel-variabel yang mempengaruhi pendekatan karakteristik-karakteristik dari manajer (otoriter, merasa yakin, dan pelatihan); karakteristik-karakteristik bawahan (profesionalisme, kebutuhan, latar belakang budaya, dan pelatihan); dan karakteristik-karakteristik yang organisatoris (definisi tugas, jarak penglihatan kinerja tugas, struktur organisasi, dan kondisi-kondisi lingkungan). Variabel-variabel ini menentukan karakteristik-karakteristik dari kekuasaan yang sesuai di dalam situasi-situasi yang spesifik. Meski kebanyakan para manajer berbalik ke otoritas ketika permasalahan terjadi.
        Menurut Bennis (1986), kepemimpinan melibatkan memanage hubungan-hubungan yang internal dan eksternal. Ketika organisasi-organisasi menemukan diri mereka dalam satu lingkungan di mana stakeholders, publik dan organisatoris, menginginkan suatu suara di dalam pengambilan keputusan mengenai permasalahan yang dampak di lingkungan yang berbeda, kadang-kadang berlawanan, kelompok-kelompok masyarakat, pengambilan keputusan menjadi lebih rumit dan. tidak jelas. Kekuasaan dihamburkan atas dasar menciptakan suatu hubungan kekuasaan yang baru. Bennis menetapkan bahwa perubahan kuasa memerlukan kepemimpinan itu mengetahui apa yang mereka inginkan, dan dikomunikasikan dengan niat-niat yang sukses, memberdayakan yang lain, dan mengetahui ketika bagaimana caranya terus tinggal dan ketika harus berubah (p.66).
        Kekuasaan transformatif tidak didasarkan oleh struktur organisasi atau manajemen, dan fungsi-fungsi. Sumber dari kuasa adalah kemampuan para pemimpin untuk menaikkan kesadaran, membangun maksud dan mengilhami tujuan manusia. Visi, tujuan-tujuan, dan kepercayaan-kepercayaan dalam kultur organisasi itu memberdayakan peserta-peserta untuk melakukan tindakan-tindakan yang rutin. Individu dan organisasi terdapat dalam suatu hubungan saling menguntungkan (Bennis, 1986, p.71).
        Sementara pandangan-pandangan mengenai kuasa di dalam organisasi-organisasi bersifat mengandung pelajaran, Smith dan Peterson (1989) menyatakan bahwa ada satu "asumsi tersembunyi bahwa para pemimpin dihargai dan para anggota bersifat membangun dari organisasi-organisasi mereka" (p. 126). Kuasa adalah "kapasitas untuk menyempurnakan konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan tertentu di dalam perilaku-perilaku dari orang lain," Gardner yang 1990, mengusulkan bahwa hanya kuasa untuk memenuhi spesifik, sasaran hasil, dan bukan suatu kuasa yang disamaratakan, fungsi-fungsi di suatu masyarakat yang keadaan jamak seperti Amerika Serikat. Sumber dari kuasa dapat bervariasi secara luas (harta; posisi, kepribadian; keahlian, membujuk (merayu), kemampuan-kemampuan motivasional). Harta benda dari sumber nya boleh menyediakan layanan khusus kepada sumber yang lain. Di dalam sistem manusia (organisasi-organisasi dan lembaga; institusi), kuasa organisatoris diberikan kepada mereka yang menguasai peran penting; posisi-posisi ini melembagakan sumber yang paling umum dari kuasa di dalam dunia yang modern. Meski suatu sistem kepercayaan dengan kuat dalam kultur-kultur boleh dengan mantap mengesahkan para pemimpin dan mengesahkan mereka berbuat sesuatu, setiap sistem kepercayaan biasanya menempatkan batasan-batasan dan berusaha untuk menegakkan sistem kepercayaan. Pada akhirnya, hal ini mengurangi kuasa pemimpin itu.
        Semua studi yang tersebut diatas dari kuasa berfungsi untuk menggambarkan konsep-konsep penting dan pemahaman kita lebih lanjut gaya-gaya kepemimpinan dan pemimpin. Gaya kepemimpinan adalah pola dari perilaku-perilaku dari seseorang yang mengasumsikan atau ditunjuk kepada suatu posisi pengaruh dalam satu organisasi.

2.5.        GAYA KEPEMIMPINAN
        Para pemimpin merasa para pekerja dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan mereka mempengaruhi perilaku pemimpin itu terhadap para pekerja (Hall, 1990). Menetapkan hubungan dengan para bawahan adalah suatu faktor yang kritis di dalam pekerjaan mereka sebagai para pemimpin. Orang-orang bereaksi terhadap apa yang mereka berpikir mereka lihat di pihak lain. Derajat kesaksamaan persepsi menentukan kepantasan tindakan-tindakan itu dingambil. Ini adalah seorang perilaku pengikut pemimpin yang timbal balik.
        McGregor (1990) memperkenalkan dua perspektif bahwa para pemimpin gunakan di dalam berhadapan dengan para pekerja, Teori X dan Teori Y. Teori X didasarkan pada tiga asumsi: (suatu) Manusia dengan tak terpisahkan tidak menyukai kerja dan mencoba untuk menghindarinya. Manajemen harus menetralkan kecenderungan alami(wajar ini), (b) Orang-orang harus dipaksa, terkendali, mengarahkan, dan mengancam untuk mencapai sasaran organisatoris. tidak akan menjurus kepada prestasi; hanya paksaan eksternal, kendali, dan ancaman-ancaman, (c) lingkungan yang tidak bertanggungjawab ingin menjadi mengawasi, bersifat malas, dan sedang mencari-cari keamanan.
        Y Teori didasarkan pada asumsi-asumsi sungguh yang berbeda: Orang-orang dengan sukarela bekerja ketika kondisi-kondisi yang sesuai, (b) Para pekerja akan mencapai sasaran organisatoris ke mana mereka terikat, (c) Sasaran organisatoris kesanggupan untuk didasarkan pada pahala dari pencapaian sasaran, (d) Para pekerja akan mencari tanggung jawab ketika kondisi yang sesuai, (d) Banyak pekerja menguasai kemampuan itu untuk memecahkan permasalahan organisatoris, (e) Potensi cendekiawan manusia tidak secara penuh digunakan di dalam organisasi-organisasi.
        Y Teori, menurut dugaan orang ditemukan di dalam pertumbuhan manusia, pengembangan dan adaptasi selektif dibanding kendali langsung, menyiratkan bahwa para pemimpin boleh menciptakan batasan-batasan yang menghalangi para pekerja dari meraih potensi mereka di dalam pengaturan yang organisatoris. Jadi; Dengan demikian, Y Teori menantang banyak  dari tindakan-tindakan dan kepercayaan-kepercayaan yang rutin dari para pemimpin bahwa operasikan dari asumsi-asumsi Teori X.
        Prinsip yang berpusat dari Teori X, prinsip hierarkhi, adalah berdasar pada kepercayaan bahwa para pengikut memerlukan arah dan kendali melalui latihan dari otoritas (McGregor, 1990, p.21). Prinsip pengintegrasian, prinsip Teori Y yang pusat, adalah berdasar pada kepercayaan bahwa para pekerja dapat mencapai sasaran terbaik mereka dengan kerja terhadap sukses organisatoris. Beberapa karakteristik yang menyebar dari banyak organisasi-organisasi sangat dengan kuat berurat akar di Teory X bahwa sulit karena para anggota untuk mengadopsi suatu sudut pandang Teory Y. Satu persyaratan-persyaratan kepercayaan organisatoris adalah bahwa ini gantikan kebutuhan individu. Dasar dari ketenaga-kerjaan mengontrak adalah bahwa para pekerja akan menerima kendali eksternal sebagai pertukaran dengan gaji. Bagaimanapun, prinsip pengintegrasian mengusulkan bahwa organisasi-organisasi dapat sukses hanya jika mereka melakukan penyesuaian kepada kebutuhan-kebutuhan dan sasaran pekerja. Dengan cara ini, kebutuhan dari kedua-duanya organisasi dan setiap dikenal.
        Meski makna pengintegrasian yang bekerja bersama untuk sukses dari organisasi, "Asumsi manajemen yang terkandung adalah bahwa bekerja bersama menyesuaikan kepada persyaratan-persyaratan dari organisasi manajemen" (McGregor, 1990, p.24). Pengintegrasian, bagaimanapun, memerlukan dorongan individu untuk berkembang dan menggunakan kemampuan mereka dalam cara-cara yang bahwa menjurus kepada sukses dari organisasi dan pemenuhan dari kebutuhan individu. Y Teori didasarkan pada asumsi bahwa para pekerja akan mencapai sasaran organisatoris yang mereka merasa terikat dengan melalui pengendalian diri dan diri sendiri. arah. McGregor percaya bahwa derajat tingkat dari komitmen adalah yang dipengaruhi oleh yang managerial (kepemimpinan) kebijakan-kebijakan. Oleh karena itu, pengintegrasian, bukan otoritas adalah suatu makna yang sehat untuk memperoleh sasaran hasil organisatoris kesanggupan untuk. Bagaimanapun, ia juga menetapkan bahwa bahkan di kendali organisasi-organisasi Teory Y eksternal bisa satu strategi kepemimpinan yang sesuai ketika komitmen yang asli tidak bisa dicapai.
        Asumsi-asumsi mempunyai suatu kecenderungan untuk membatasi pandangan-pandangan dan persepsi-persepsi kita dibanding melebarkan mereka. Asumsi-asumsi yang menginformasikan Teori X dan Teori Y menggambarkan usaha manusia secara tertata dan diarahkan. Tempat teori-teori ini terbatas pada strategi dan prosedur-prosedur bahwa para pemimpin memilih untuk mengarahkan, rencana, kendali, dan mengorganisir di dalam Situasi Kerja.
        Sepertiga unsur-unsur kombinasi teori dari Teori X dan Teori Y sudah dikembangkan untuk mendukung klaim menawarkan jalan keluar? cara untuk memperbaiki hubungan-hubungan antara para pekerja dan para pemimpin. 1981 Ouchi) Z Teori menyediakan strategi dan perspektif-perspektif yang berbeda untuk mengorganisir usaha manusia mengutamakan pengambilan keputusan konsensual dan suatu pendekatan regu kepada proses-proses organisatoris dan berubah. Tidak Seperti X Teori dan Teori Y, yang menggambarkan gaya kepemimpinan dari suatu atasan atau pemimpin, Z Teori menggambarkan gaya pemimpin itu menurut kemampuan nya untuk menciptakan satu kultur organisatoris komunikasi yang terbuka, kepercayaan, dan sasaran organisatoris kesanggupan untuk membantu perkembangan. pengambilan keputusan konsensual
        Z Teori memandang organisasi seperti pengembangan dari hubungan-hubungan yang informal antara orang-orang. Pengembangan menekankan setiap orang di atas suatu pembedaan peran yang sempit. persepsi-persepsi Z Teori para anggota organisatoris menghapuskan dehumanisasi, authoritarianisme, dan kelas yang istimewa di Teori X dan Teori y organisasi-organisasi bahwa pada akhirnya mengasingkan pimpinan dan para bawahan. Untuk mengalahkan pengasingan ini, Z Teori mendukung pengembangan gol yang dikerjakan oleh para pekerja dan manajemen dapat berperan untuk pengembangan dari suatu kultur organisasi yang konsisten. Proses ini membentuk suatu jenis dari asuransi untuk pemimpin yang berharap usaha-usaha pekerja nya itu lekat dan terus menerus dibariskan dengan sasaran dan sasaran hasil organisatoris.
        Jauh sebelum Z Teori Ouchi, pada tahun 1961. Likert mengembangkan empat sistem manajemen. Empat sistem ini serupai sebagian dari kerangka-kerangka yang konseptual bahwa sudah sesudah itu muncul di Teori X, Y dan Z. Likert mengusulkan miliknya itu empat model manajemen sistem dari manajemen partisipatif mendekati satu status negara ideal. Tiga faktor pokok dari sistim ini hubungan-hubungan yang mendukung, keputusan kelompok yang membuat, dan sasaran kinerja ketinggian managerial. Likert percaya bahwa para pekerja melaksanakan terbaik ketika mereka berfungsi sebagai para anggota kerja efektif, bukan seperti individu. Makna dari sistim Likert adalah mengakui adanya faktor yang penting dari perilaku pekerja sebagai suatu gol kepemimpinan dan sebagai suatu faktor di dalam memodifikasi perilaku-perilaku kepemimpinan.
        X Teori-Teori McGregor dan Y, Teori Ouchi Z dan empat sistem manajemen Likert menggambarkan bahwa perspektif, dengan sudut pandang mana para pemimpin memandang karakteristik-karakteristik pekerja dan sistim kebenaran yang subjektif mengembangkan bagi mereka karakteristik-karakteristik yang menentukan gaya kepemimpinan, strategi, dan prosedur-prosedur yang akan dipekerjakan. Para pemimpin harus mampu mengevaluasi secara obyektif dan menantang pendekatan bahwa mereka terbiasa dengan yakin mereka sedang mengamati para pekerja mereka melalui suatu sudut pandang bahwa tidak menyimpangkan gambaran dari mereka para pekerja. Z Teori menantang yang tradisional pengambil-alihan X 1'hcories dan Y dan secara rinci menentukan suatu lensa yang baru dengan mana untuk memandang para pekerja seperti juga struktur-struktur kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan. Adaptasi ini boleh mengubah sasaran dan iklim organisatoris karena tanggapan pemimpin itu kepada angkatan yang internal dan eksternal.



2.6.        KETIDAKTENTUAN DAN SITUATIONAL
Teori-Teori / model-model
Teori-teori ketidaktentuan dari efektivitas kepemimpinan berfokus kepada lingkungan kerja pemimpin. Awal ketidaktentuan meniru kemunculan pemimpin yang difokuskan dengan mempelajari bagaimana tugas-tugas dan norma-norma kelompok itu menentukan ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan dan nilai-nilai yang akan menjadi yang efektif di dalam kelompok dan bisa diterima oleh para bawahan.
        Fiedler (1967) riset menunjukkan usaha yang pertama untuk belajar kepemimpinan dengan pengujian situasi, orang-orang, tugas-tugas, dan organisasi.  Fiedler ( Lunenburg &Ornstein, 1991; Smith &Peterson, 1989; Yukl, 1989; Rost, 1991) menghipotesakan bahwa para pemimpin dapat memperbaiki efektivitas mereka dengan memodifikasi situasi-situasi untuk cocok gaya kepemimpinan mereka. Fiedler mengenali tiga faktor situational bahwa efektivitas pemimpin pengaruh: (a) mutu hubungan-hubungan bawahan pemimpin, (b) kuasa posisi pemimpin itu, dan (c) derajat tingkat dari struktur tugas (Smith & Peterson. 1989, p.17).
        Sebagai hasilnya Fiedler's (1967) pekerjaan, gaya kepemimpinan sudah tidak lagi menilai baik atau jelek. Gaya-gaya adalah agak digambarkan menurut efektivitas mereka di dalam situasi-situasi yang spesifik. Riset Fiedler mengenal bahwa kepemimpinan diakibatkan oleh interaksi antara gaya kepemimpinan dan situational variabel-variabel. Pandangan ini membuka riset yang berikut bahwa menguraikan perilaku-perilaku kepemimpinan secara holistik.
        Analisa ini perlu mengakibatkan suatu gambar atau himpunan yang jelas bersih dari tanah dan bangunan bahwa seorang pemimpin boleh terbiasa dengan permulaan dan menyesuaikan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur kepada sasaran organisatoris. Berbagai strategi adalah, oleh karena itu, lebih sewajarnya terpilih oleh seorang pemimpin mengharapkan untuk memaksimalkan komitmen pekerja. Oleh meningkatkan kemungkinan pencapaian sasaran dan pencapaian dari pahala, para pemimpin dapat mempengaruhi motivasi bawahan; subordinat, kepuasan, dan pemenuhan gol. Variabel-variabel dan lingkungan menentukan jenis dari gaya kepemimpinan pengaruh akan memiliki di motivasi, kepuasan, dan pemenuhan gol. Analisa mengakibatkan suatu skenario terbaik antara kebutuhan-kebutuhan organisasi itu dan gaya pemimpin itu.
        Kepemimpinan Direktif, dengan menyediakan bimbingan, prosedur-prosedur, dan koordinasi, boleh meningkatkan motivasi bawahan dan kepuasan di dalam situasi-situasi yang berisi kerancuan peran dukungan kepemimpinan, dengan menyediakan kesejahteraan bawahan dan suatu atmosfer pekerjaan yang mendukung boleh meningkatkan motivasi bawahan dan kepuasan di dalam situasi-situasi di mana tugas-tugas yang membuat stres, atau membosankan. Kepemimpinan berorientasi prestasi boleh meningkatkan pencapaian sasaran dengan pengaturan menantang sasaran dan patokan-patokan selagi memelihara keyakinan pemimpin itu di dalam kemampuan-kemampuan bawahan untuk memenuhi sasaran yang dinyatakan. Kepemimpinan partisipatif, dengan menyediakan para bawahan dengan peluang itu untuk mengambil bagian di dalam pengambilan keputusan tentang hal-hal yang terkait dengan tugas meningkatkan motivasi bawahan dalam situasi-situasi di mana tugas-tugas tidak tersusun.
        Teori-teori kepemimpinan deskriptif yang muncul pada tahun 1980-an yang dilayani untuk menerangi bidang variabel-variabel. Hersey dan 1982 Blanchard, 1988) situasi teori kepemimpinan menyatakan bahwa perilaku pemimpin didasarkan dua dimensi kepemimpinan, perilaku tugas dan perilaku hubungan. Dimensi-dimensi ini dipengaruhi oleh kedewasaan bawahan (Blanchard, Zigarmi. &Zigarmi, 1987; Rost. 1991; Smith & Peterson. 1989; Yukl. 1989). Ketika bawahan mengembangkan keyakinan dan kemampuan, para pemimpin bertukar-tukar perilaku mereka dengan menyesuaikan jumlah dari arah tugas dan dukungan psikologis mereka berikan.
        Variabel-variabel perilaku di dalam para pemimpin yang mendukung saling berhubungan dengan variabel-variabel perilaku di dalam anggota kelompok (tinggi rendahnya komitmen dan tinggi rendahnya kemampuan/wewenang). Pemimpin memainkan berbagai peran-peran tentang pengarahan, pelatihan, pendukung, dan mendelegasikan seperti ketika kelompok mendewasakan dan menjadi mampu melaksanakan aktivitas kelompok. Kedewasaan kelompok adalah tergantung di masing-masing kedewasaan.
        Menguji kebenaran Hersey dan 1982 Blanchard, 1988 teori, Hambleton dan Gumpert (1982) menyimpulkan bahwa ada suatu hubungan penting antara gaya kepemimpinan di dalam situasi-situasi yang spesifik dan suatu persepsi-persepsi manajer kinerja pekerjaan bawahan. Studi mereka juga menyatakan bahwa di dalam situasi-situasi di mana kepemimpinan situational diterapkan secara benar, kinerja pekerjaan bawahan ditingkatkan.
        Hersey dan 1982 Blanchard, (1988) situasi kepemimpinan, teori belum cukup diuji. Itu berisi beberapa terminologi yang luas, rancu dan menghilangkan beberapa variabel-variabel situational yang jelas nyata. Meskipun demikian, itu mengerjakan menekankan efektivitas dari suatu gaya kepemimpinan yang fleksibel, adaptip bahwa bervariasi perawatan dari para bawahan menurut taraf kematangan dalam lingkungan kerja yang sama dan dalam situasi kerja yang bervariasi (Yukl, 1989).
        Blake dan Mouton (1978, 1981, 1982a, 1982b. 1990) memeriksa kembali teori kepemimpinan menggunakan suatu dua kerangka faktor, di mana perhatian untuk produksi dan perhatian untuk orang-orang bersifat saling tergantung tetapi tidak menghubungkan. Mereka percaya ada satu gaya kepemimpinan terbaik: Panggangan mereka yang managerial menyediakan “Suatu kerangka ilmu tingkah laku yang menurut bagan untuk membandingkan sembilan teori antara hubungan-hubungan produksi dan manusia" (Blake &Mouton, 1978). Masing-masing variabel digambarkan di suatu sembilan titik di mana tiap titiknya menunjukkan perhatian minimum dan sembilan menunjukkan perhatian maksimum. Model  kembangkan lima gaya manajemen dan sembilan teori dari bagaimana produksi dan orang-orang dapat terintegrasi untuk memenuhi sasaran organisatoris. Yang didasarkan pada kepercayaan berhubungan dengan untuk produksi.
        Blake dan Mouton (1978) mengusulkan sebagai fakta bahwa tiga teori meningkatkan: (a) manajemen tugas (9,1) di mana fokus itu di pencapaian sasaran produksi dan di mana manusia dipandang sebagai mesin-mesin; (b) manajemen perkumpulan olah raga (1,9) di mana berfokus kepada hubungan-hubungan mendominasi untuk sejumlah sasaran produksi yang mencurigakan: dan (c) menjadikan miskin/melemahkan manajemen (1,1) di mana fokus itu adalah pada penghindaran dari pemperdayaan
        Teori-teori dari Blake dan Mouton (1978, 1981, 1982a, 1982b. 1990) mewakili; menunjukkan suatu pendekatan situational terhadap kepemimpinan. iesearchers berasumsi bahwa perhatian-perhatian untuk bangunan produksi dan hubungan akan konflik dan, oleh karena itu, harus yang dipandang lebih banyak sistematik atau resiko yang sedang dikompromikan. Dalam praktek, bersifat sistemik dari model adalah  yang tercapai ini oleh gaya-gaya yang bertukar-tukar bahwa berfokus kepada masing-masing perhatian (19 dan 9,1). Oleh memperlengkapi kedua-duanya perhatian-perhatian melalui struktur-struktur yang terpisah (manajemen, produksi, hubungan personil), atau dengan merasa masing-masing faktor sebagai suatu perhatian yang terpisah bahwa dapat menangani eksklusif produksi yang berhubungan dengan jelas dalam semua situasi manajemen, Blake dan Mouton menetapkan bahwa teori manajemen regu adalah satu-satunya gaya bahwa dapat secara efektif mengintegrasikan.
        Vroorn dan Yetton (1973) model sebelumnya menguji bagaimana pengambilan keputusan oleh pemimpin, para bawahan, dan situasi untuk meningkatkan mutu keputusan; komitmen keputusan, dan kepuasan keputusan. Model meneliti situasi-situasi keputusan dan menentukan prosedur-prosedur keputusan yang mungkin. Vroom dan Yetton mengevaluasi tujuh pertanyaan-pertanyaan berhadapan dengan pembagian kuasa dan keikutsertaan di dalam proses pengambilan keputusan dan dampak mereka di gaya kepemimpinan atau jumlah dari partisipan menentukan untuk masing-masing situasi keputusan.
        Bagaimanapun, Vroom dan Yetton berfokus kepada hanya nya situational perilaku kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan asumsi mereka bahwa para pemimpin menguasai ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan yang perlu untuk menggunakan situasi-situasi ketrampilan dan diagnosa ini memperlemah model.
        Sebagai suatu model, Vroom-Yetton (1973) model juga mempunyai beberapa defisiensi. Model menandai (adanya) hanya apa seorang pemimpin mestinya tidak sebagai ganti apa seorang pemimpin perlukan, untuk memilih alternatif-alternatif ketika proses mengakibatkan alternatif-alternatif ganda, dan itu berasumsi bahwa semua tujuh faktor dapat digambarkan oleh "ya" atau "tanpa" tanggapan-tanggapan. Model juga kegagalan-kegagalan untuk menunjuk variabel-variabel situational seperti banyaknya keterangan yang diperlukan oleh para bawahan;subordinat di dalam pengambilan keputusan, batasan-batasan waktu untuk mencapai keputusan-keputusan, dan kemampuan dari semua peserta yang perlu untuk secara fisik hadir di keputusan. Seperti banyak model untuk kepemimpinan. kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari model Vroom-Yetton tingkat kompleksitas organisasi-organisasi modem dan kompleksitas yang diintensifkan sebagai akibat peran kepemimpinan.
        Vroom (1988) meninjau kembali model VroomYetton untuk menunjuk defisiensi nya. Sebagai tambahan terhadap lima proses keputusan yang asli untuk permasalahan kelompok, dua proses yang baru (satu kelompok dan satu delegative ditambahkan untuk menunjuk permasalahan yang individu pengambilan keputusan. Untuk mengevaluasi proses-proses permasalahan dan keputusan menurut keputusan komitmen keputusan, dan pengembangan bawahan, penyamaan-penyamaan untuk menentukan efektivitas keputusan. Penyamaan-penyamaan ini juga mencatat terjadi ketika ukuran dari suatu kelompok pengambilan keputusan diberi variasi. Oleh karena pemakaian penyamaan-penyamaan matematis dan ketenaga-kerjaan dari komputer-komputer. model Vroom adalah penimbangan jawaban atas faktor-faktor situational (bahwa sekarang termasuk waktu, geografis, dari tujuh sampai dua belas) sepanjang suatu rangkaian daripada menggunakan  model sederhana "ya" dan "tanpa" jawaban. Gaya yang baru! penggunaan dari yang berkelanjutan dibanding, pemakaian matematis berfungsi dan memperluas situational pertimbangan faktor, boleh mengakibatkan kebenaran lebih besar keputusan-keputusan proses pengambilan keputusan mencapai dengan penggunaan model itu. Bagaimanapun, sampai model Vroom adalah cukup diuji, kebenaran nya adalah lemah.

2.7.        MODEL-MODEL / TEORI DETERMINASI SITUASIONAL
        Situational teori faktor penentu menggambarkan perilaku pemimpin seperti yang ditentukan oleh karakteristik-karakteristik situational (pengharapan peranan, misi kelompok dan tugas-tugas, dan batasan peranan fleksibel) dan ciri-ciri pemimpin dan kualitas. Kepribadian-kepribadian dan nilai-nilai pemimpin boleh penyimpangan yang persepsi-persepsi mereka peran-peran mereka, menyebabkan pertentangan peranan. Teori menyatakan bahwa harapan-harapan pemimpin hasil-hasil tingkah laku mempengaruhi pilihan perilaku mereka (Nebcker &Mitchell. 1974). Osborn dan Hunt. (1975) model pengaruh ganda mencoba untuk menjelaskan interaksi-interaksi yang kompleks, yakni struktur organisasi dan lingkungan eksternal, karakteristik-karakteristik tugas, dan karakteristik-karakteristik bawahan dan pengaruh dari tiap di perilaku pemimpin. Hubungan timbal balik yang bersama variabel-variabel yang ganda di dalam situasi-situasi kepemimpinan dan manajemen menyediakan suatu gambar dari. Sering kali variabel-variabel tidak bisa diceraikan ke dalam kategori-kategori dari yang tergantung.
        Studi dari kepemimpinan tetap kompleks seperti situasi-situasi kelihatannya yang berbeda mengenakan pajak kemampuan analisa ahli teori. Ahli teori kepemimpinan sudah mencoba untuk mengintegrasikan teori-teori untuk banyak dekade situasi-situasi terus meningkat kompleks untuk analisa. 1991 Koestenbaum) model kepemimpinan adalah satu usaha untuk mengintegrasikan riset kepemimpinan strategies, perilaku-perilaku, ketidaktentuan-ketidaktentuan, dan situational satu model. Teori kelihatan di luar setiap atau ciri-ciri dan lingkungan kerja atau perilaku segera dan ketidaktentuan dan menguji interaksi-interaksi ciri-ciri pemimpin dan perilaku dengan lingkungan makro yang internal dan eksternal. Kepemimpinan dipandang sebagai suatu pola pikir dan suatu pola dari perilaku-perilaku. Koestenbaum menetapkan bahwa kepemimpinan dapat diajarkan oleh karena itu, para pemimpin perlu memberdayakan dan mendukung para bawahan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan mereka sendiri. Ia juga percaya bahwa sebahagian terbesar dari suatu waktu dan energi pemimpin harus digunakan untuk memudahkan pengembangan ketrampilan di orang-orang pada lini depan di dalam sistim kompleks organisatoris dan di dalam interaksi-interaksi dengan lingkungan eksternal. Koestenbaum menyamakan kepemimpinan dengan kebesaran, bagaimanapun kepercayaan yang keliru tersebut pengabadian bahwa para pemimpin bersifat melebihi manusia biasa.
2.8.        KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL
        Burns (1978) menguji kepemimpinan di suatu konteks yang politis dengan mempelajari kekuasaan kepemimpinan, dan kepemimpinan transformatif kekuatan atas orang-orang yang lain dilatih ketika kuasa potensial, yang termotivasi untuk mencapai sasaran tertentu milik mereka sendiri, menyusun di dalam  sumber daya dasar kuasa mereka (ekonomi, militer yang kelembagaan, atau ketrampilan) bahwa memungkinkan mereka untuk mempengaruhi perilaku dari responden-responden dengan mengaktifkan alasan-alasan dari responden-responden relevan kepada itu sumber daya dan untuk itu sasaran" (p.18). Tujuan dari kuasa (tenaga seperti itu memegang dan menggunakan untuk mencapai sasaran ya atau tidaknya para pengikut ikut serta dalam itu sasaran. Bagaimanapun, Burns menggambarkan kepemimpinan seperti proses timbal balik dari mobilisasi oleh orang-orang dengan berbagai motif dan nilai-nilai, berbagai perekonomian, dan sumber daya lain.
        Burns (1978) lebih lanjut membedakan antara transaksional dan transformatif. Ia berargumentasi bahwa dalam kepemimpinan. transaksional orang-orang terlibat dalam suatu hubungan untuk tujuan berbagai hal. Mereka sadar akan kuasa satu sama lain. biasanya mengejar tujuan-tujuan dan sasaran mereka sendiri, dan membentuk hubungan-hubungan sementara.
        Burns (1978) lebih lanjut menegaskan "Kepemimpinan politis, bagaimanapun, dapat digambarkan hanya dalam kaitan dengan menggunakan istilah penuh arti. Perubahan bermakna di dalam kondisi-kondisi hidup orang-orang. Test yang terakhir dari kepemimpinan praktis adalah perwujudan perubahan yang diharapkan, riil bahwa temu kebutuhan-kebutuhan orang-orang"
        Bass (1985) menyatakan bahwa para pemimpin transaksional bekerja di dalam kultur organisasi, nilai-nilai dan maksud yang dibagi bersama para anggota organisatoris. sedangkan para pemimpin transformational bekerja untuk mengubah nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan bawahan untuk mengubah kultur yang organisatoris. Jadi, dengan demikian, untuk Bass "Pemimpin transaksional mempengaruhi kinerja antar para pengikut dengan negosiasi satu hubungan pertukaran dengan mereka dari penghargaan untuk pemenuhan. Transformational kepemimpinan membangunkan minat transendental di dalam para pengikut dan mengangkat kebutuhan dan cita-cita mereka" (p. 32).
        Bennis dan Nanus (1985) berargumentasi bahwa kepemimpinan transpormatif adalah kemampuan para pemimpin untuk membentuk dan mengangkat alasan-alasan dan sasaran pengikut untuk mencapai perubahan penting dan minat banyak orang secara kolektif (p.217). Pemimpin menggambarkan suatu visi yang adalah sama dan sebangun dengan kunci pengikut menilai dan membangun suatu arsitektur yang sosial, atau satu kultur organisatoris, bahwa menyediakan maksud yang dibagi bersama di mana para pengikut dapat mengejar tugas-tugas dan mengejar sukses. Untuk memenuhi hal ini, para pemimpin harus mampu menciptakan suatu visi, komunikasikan visi melalui tindakan-tindakan yang simbolis dan membagi bersama, integritas latihan melalui pengejaran yang gigih visi itu, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan mereka sendiri, mengevaluasi kemampuan dalam hubungan dengan syarat pekerjaan, dan berfokus kepada sasaran positif.

2.9.        KEPEMIMPINAN DENGAN KONTEKS CULTURAL
        Seperti yang ditunjukkan, diskusi yang sebelumnya, teori-teori tentang kepemimpinan adalah multidimensional. Tidak seorang pun teori sudah mencakup semua variabel yang perlu untuk dengan memuaskan menggambarkan kompleksitas peran kepemimpinan atau untuk meramalkan skenario kepemimpinan. Beberapa menyarankan suatu konseptualisasi kembali ke kepemimpinan yang total. Sergiovanni dan Corbally (1986) yang berargumentasi bahwa untuk mengubah kita harus bergerak "Dari suatu konsep kepemimpinan di mana efektivitas digambarkan sebagai pemenuhan sasaran hasil kepada satu identitas bangunan yang meningkatkan mengerti. dan membuat pekerjaan dari orang lain  lebih penuh arti" (p.14).
Sergiovanni (1986) menggambarkan kepemimpinan mutu sebagai suatu keseimbangan antara kepemimpinan taktis (meraih sasaran hasil secara efektif dan secara efisien) dan kepemimpinan strategis (perolehan mendukung untuk kebijakan-kebijakan dan proses dan memikirkan rencana-rencana jangka panjang). Kepemimpinan taktis, di mana evaluasi adalah cepat dan sukses didasarkan pada pemenuhan-pemenuhan jangka pendek, mempunyai fokus dari masyarakat-masyarakat yang. Sergiovanni menantang bahwa di suatu perspektif yang budaya dari kepemimpinan "Aspek budaya organisasi sedang ditawarkan sebagai lebih mampu untuk meliput yang tiruan, dan aspek praktis tentang hidup organisatoris" (p. 106). Organisasi dipandang bukan sama sistem tetapi sebagai kesatuan-kesatuan budaya. Dengan maksud memperoleh dari tindakan-tindakan lebih penting dibanding tindakan-tindakan yang spesifik. Kepemimpinan sebagai ungkapan budaya mencari untuk membangun kesatuan dan order (pesanan di dalam satu organisasi dengan memperhatikan pada tujuan-tujuan, tradisi, filosofi, dan historis, dan idaman-idaman dan norma-norma yang menggambarkan jalan hidup di dalam organisasi dan yang menyediakan basis untuk memasyarakatkan para anggota" (p.107).
        Seperti yang dibahas oleh Sergiovatini (1986), kepemimpinan sebagai ungkapan budaya bersandar pada analisa dari saling mempengaruhi yang kompleks dari ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan taktis (ketrampilan-ketrampilan manajemen) dan anteçdents dan maksud (arti-maksud(rti strategis di dalam suatu kerangka sepuluh prinsip bahwa membentuk suatu peta teori untuk, kepemimpinan mutu. Untuk mencapai keunggulan kepemimpinan, yang terdahulu dan maksud diperlukan untuk menyediakan suatu dasar untuk dan arah keterampilan kepemimpinan. Yang terdahulu digambarkan sebagai perspektif. kepada keputusan-keputusan pemimpin itu, tindakan-tindakan, dan perilaku. Maksud berkembang di suatu sistem kepercayaan melalui cerminan, perencanaan tujuan, tetap melakukan menciptakan iklim melalui perhatian kepada isu-isu, sasaran, atau hasil-hasil, dan mempertemukan orang-orang kepada organisasi dan sasaran hasil. Dari interaksi komponen-komponen ini, Sergiovanni menulis bahwa suatu kultur muncul bahwa menggambarkan apa yang penting dan mengurus perilaku. Patriotisme organisatoris, komitmen, dan kesetiaan pada suatu himpunan yang dibagi bersama dari kepercayaan-kepercayaan yang umum dan mengatur perilaku menciptakan suatu ikatan yang kuat antar para anggota organisatoris dan memberi maksud organisasi yang unik. Tindakan-tindakan ini memerlukan perilaku kepemimpinan
        Smith dan Peterson (1989) menyatakan kepemimpinan itu sebagai satu aspek perilaku keorganisasian dapat dengan sangat baik dipelajari di suatu konteks sosial, bukan sebagai satu hubungan pengaruh di dalam diad pengikut pemimpin. Pesta dansa suatu perspektif yang global, kepemimpinan organisatoris dilihat sebagai berisi[kan dua tugas aspek dan hubungan dalam satu regu struktur. Tugas dari kepemimpinan berbuat sesuatu, berasal dari konteks yang budaya dari kelompok atau organisasi. di dalam berasimilasi kultur-kultur, bisa lebih banyak membagi bersama dibanding di dalam masyarakat-masyarakat yang bersifat perseorangan, keadaan jamak. Dibanding mencari-cari satu jenis terbaik dari kepemimpinan, teori ini menyiratkan itu mungkin ada satu kultur organisasi terbaik bahwa dapat diciptakan melalui suatu struktur hirarki. Hirarki itu dapat mengembangkan maksud yang dibagi bersama untuk aktivitas dan kejadian organisatoris dan, seperti itu, membantu perkembangan visi-visi dan strategi yang dibagi bersama untuk meraih sasaran organisatoris, suatu wujud yang budaya dari kendali. Smith dan Peterson menyatakan suatu latihan dari pemimpin yang berkuasa terletak pada kemampuan itu untuk memancarkan pengaruh melalui jaringan dari maksud kultur organisasi itu. Maksud seperti itu berakar dan bersedia menerima nasehat hanya untuk berangsur-angsur berubah" (p. 130). Bagaimanapun, di dalam suatu struktur manageinent yang partisipatif, anggota kelompok harus mampu menggambarkan mekanisme-mekanisme dan tujuan-tujuan melalui suatu konteks budaya.
        Schein (1985) berkata bahwa menciptakan, memanage, dan kadang-kadang mengamati kultur ketika unsur yang betul-betul mempengaruhi bagaimana para anggota sistem berpikir, rasa, dan berbuat sesuatu, Schein menyangkal pengambilalihan beberapa ahli teori kepemimpinan bahwa kultur dapat diubah untuk menyesuaikan tujuan-tujuan nya.  Schein (1985) “Menggambarkan kultur seperti suatu pola dari dasar, yang ditemukan, atau yang dikembangkan oleh suatu kelompok yang diberi karena belajar untuk mengatasi permasalahan nya dari adaptasi eksternal dan pengintegrasian internal bahwa sudah bekerja cukup memuaskan untuk valid yang dipertimbangkan, dan oleh karena itu, untuk yang diajar kepada anggota baru seperti cara yang benar untuk merasa, berpikir, dan merasa dalam hubungan dengan itu permasalahan" (p. 8).
        Karena kondisi-kondisi lingkungan terus menerus mengubah, kepemimpinan harus mampu mengolah kultur yang organisatoris untuk memastikan kemampuan sistim itu untuk menyesuaikan diri dengan dan bertahan hidup di dalam lingkungan melalui evolusi asumsi-asumsi budaya yang baru. Kepemimpinan dalam praktek menyatakan secara lisan asumsi-asumsi nya dan melekatkan mereka secara berangsur-angsur dan secara konsisten di dalam misi, sasaran, struktur-struktur, dan prosedur-prosedur kerja dari kelompok" (Schein, 1985, p.317). Pemimpin perlu untuk mengetahui bagaimana satu kultur organisasi dapat membantu atau merintangi suatu pemenuhan misi. Para pemimpin perlu untuk menyediakan daya dorong itu untuk menerapkan strategi intervensi perlu menyesuaikan kultur untuk organisatoris. Meski lingkungan para pemimpin bertanggung jawab karena menggantikan atau membuang asumsi-asumsi, para anggota organisatoris harus dilibatkan di dalam proses perubahan untuk memastikan pengertian yang mendalam dan motivasi mereka yang yang diperbaharui untuk mencapai misi organisatoris baru.
        Masing-masing dari gudang teori-teori tersebut di pola-pola di dalam riset kepemimpinan karena Perang Dunia II. Keunikan dan kompleksitas organisasi-organisasi abad ke duapuluh yang pertengahan sudah kedua-duanya yang ditingkatkan permintaan untuk teori-teori yang efektif dan memalukan peneliti-peneliti bekerja pada mengembangkan itu teori-teori. Baru-baru ini, peneliti-peneliti sudah dengan mulai mengikuti pemikiran organisatoris yang menyatakan bahwa kepemimpinan bisa dianalisa atau yang diramalkan di suatu pertunjukan yang linier. Teori-teori baru sedang muncul bahwa boleh membentuk suatu paradigma yang baru untuk berpikir tentang kepemimpinan ketika kita beralih ke abad 21.

2.10.    WANITA-WANITA DI DALAM OTORITAS
        Perbedaan-perbedaan tambahan di dalam kepemimpinan dan gaya manajemen dapat dibedakan ketika meninjau ulang literatur di wanita-wanita di dalam posisi-posisi otoritas Sementara sekarang ini ada secara relatif terdapat beberapa wanita dalam kepemimpinan, angka-angka itu sudah meningkat sampai ke titik yang  mungkin untuk mendeteksi beberapa jalan atau cara yang khusus bahwa para laki-laki dan perempuan berbeda di dalam peran-peran kepemimpinan.
        Fitzpatrick (1983) menggambarkan suatu komunikator yang berkompeten sebagai orang yang dapat dengan teliti merasa lingkungan dan menciptakan dan memahami pesan-pesan yang didasarkan pada penafsiran berikutnya sasaran untuk komunikasi adalah; (1) pekerjaan selesai, (2) menghindari kerusakan pada hubungan antara pengirim dan penerima, dari pesan,  dan (3) memproyeksikan gambaran yang diinginkan selagi berkomunikasi. Accordingto Fitzpatrick, pria secara umum operasikan dari, suatu pemecahan masalah, agresif. dan berfokus. rutinitas dan menindas emosi kuat. Sebaliknya, wanita-wanita cenderung untuk memberi dan mengharapkan untuk menerima yang bersifat penghargaan menanggapi dan ditundukkan untuk menekankan relational sasaran di dalam interaksi-interaksi.
Dari perbandingan dasar ini, Fitzpatrick (1983) tiga model konseptual komunikator-komunikator organisatoris. Komunikator-komunikator laki-perempuan tunggal dapat khasnya dari seperti dominan dan tegas perilaku-perilaku tugas atau mereka dapat hangatkan dan memelihara, mencerminkan hubungan perilaku-perilaku.
Sementara Gabler (1987) berargumentasi bahwa wanita-wanita sukses tidak perlu memimpin dengan cara yang berbeda dibanding orang sukses, yang lain seperti Carroll (1989) sudah menemukan wanita-wanita itu mempunyai lebih banyak gaya pembagian dari kepemimpinan dibanding orang, dan mengaku bahwa wanita-wanita cenderung untuk memberi lebih banyak pengenalan dan menciptakan satu "Pemberian kuasa" atmosfer regu. Di dalam meniru suatu studi oleh orang di dalam peran-peran kepemimpinan (Mintzberg, 1973), Helgeson (1990) menemukan perbedaan-perbedaan terpisah; jelas di dalam gaya kepemimpinan. Wanita-wanita di dalam studi nya bekerja di langkah yang sama dan di bawah kondisi-kondisi yang serupa sebagai orang-orang di dalam studi Mintzberg, tetapi mereka lebih sedikit merasakan dikendalikan oleh rencana kerja, dengan demikian mengurangi tekanan pekerjaan. Lebih banyak waktu digunakan dengan orang-orang, dan di sana adalah penekanan di hubungan-hubungan penopangan aktip kerja baik. Oleh memelihara suatu jaringan yang lebih rumit, wanita-wanita itu adalah untuk merasakan terisolasi. Di Dalam pandangan Helgeson, para pemimpin wanita lebih mungkin untuk merasakan diri mereka di pusat macam hal daripada mengamati diri mereka "ada di puncak," seperti orang-orang di dalam studi itu lakukan.
Di dalam konteks yang lain, pengambilan keputusan untuk para laki-laki dan perempuan juga menunjukkan istimewa.  Putnam (1983) mengenali perbedaan dalam cara-cara yang bahwa dua kelompok berhubungan dengan konflik cenderung untuk sampai di suatu penyelesaian menggunakan menawar teknik-teknik, argumentasi-argumentasi logis, dan kemarahan dalam satu usaha untuk memutuskan konflik. Wanita-wanita cenderung untuk bekerja untuk memahami perasaan yang lain. Konflik penanganan dengan meratakan dan mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan berfokus kepada kemerdekaan daya saing, pria sering kali menciptakan suatu skenario menang/kalah, wanita berfokus kepada saling ketergantungan menghasilkan suatu skenario win/win yang terjadi.
Shakeshaft (1987) berargumentasi bahwa temuan riset tidak ada pembedaan-pembedaan antara para laki-laki dan perempuan di dalam memanage sekolah-sekolah adalah yang keliru di itu tersebut adalah secara konseptual didasarkan pada pria. Bagaimanapun juga ketika alasan-alasan dan pendekatan yang tambahan dari wanita-wanita bersifat di dalam, mereka dapat dilihat untuk melaksanakan tidak hanya juga, hanya dengan cara yang berbeda. Dia membantah bahwa pekerjaan dari para pemimpin wanita di sekolah-sekolah mempunyai lima unsur-unsur yang utama: (1) hubungan dengan yang lain bersifat pusat kepada semua tindakan pengurus-pengurus wanita-wanita, (2) mengajar dan belajar adalah foci yang utama dari pengurus-pengurus wanita-wanita, (3) masyarakat bangunan adalah satu bagian penting dari wanita, gaya pengurus, (4) pengurus-pengurus wanita-wanita terus menerus dibuat sadar akan marginal atau status mereka,  dan (5) baris memisahkan hidup publik dan pribadi dari pengurus-pengurus wanita-wanita adalah jauh lebih banyak dari sekedar untuk orang.

2.11.    SUATU PARADIGMA YANG BARU UNTUK KEPEMIMPINAN
        Di dalam mengkritik kepemimpinan sebelumnya, penekanan di aspek sekeliling, pencapaian gol dan isi pengetahuan pemimpin. Rost (1991) menantang bahwa studi-studi ini tidak menunjuk sifat esensi dari kepemimpinan dan proses oleh para pemimpin dan para pengikut berhubungan dengan satu sama lain untuk mencapai tujuan-tujuan. Ia percaya bahwa kepemimpinan belum digambarkan "Dengan ketepatan, akurat dan singkatnya sehingga orang-orang dapat itu label secara benar ketika mereka melihat nya kejadian atau ketika mereka terlibat dalam nya" (p.6). Ia yang diusulkan lebih lanjut bahwa kebanyakan teori-teori dari kepemimpinan mencerminkan satu paradigma yang industri yang tidak dapat digunakan untuk atau yang bisa diterima. Berdasarkan pada Rost, perubahan paradigma perlu sehingga teori kepemimpinan dan praktek dapat berhubungan dengan kebutuhan dari suatu dunia industrial.
        Kepemimpinan seperti yang digambarkan oleh Rost (1991) adalah "Satu hubungan pengaruh antar para pemimpin dan para pengikut yang berniat perubahan-perubahan riil bahwa mencerminkan tujuan-tujuan mereka yang timbal balik" (p. 102). Ini adalah berlawanan dengan manajemen, yang digambarkan sebagai satu hubungan otoritas. Ia memelihara; memelihara bahwa empat unsur-unsur harus menyajikan untuk suatu hubungan yang untuk dipertimbangkan suatu hubungan kepemimpinan: (a) suatu hubungan berdasar pada pengaruh; (b) para pemimpin dan para pengikut yang adalah peserta-peserta di dalam hubungan; (c) kedua belah pihak yang berniat perubahan-perubahan riil dan (d) kedua belah pihak yang mengembangkan tujuan-tujuan timbal balik. Rost menginterpretasikan kembali perubahan bentuk seperti keterlibatan dari "aktif orang-orang, mulai bekerja hubungan-hubungan pengaruh berdasar pada pendekatan, berniat perubahan-perubahan riil untuk terjadi, dan meminta dengan tegas bahwa itu perubahan-perubahan mencerminkan 213 mereka yang timbal balik tujuan. Oleh karena itu, kepemimpinan dilihat sebagai suatu hubungan yang disertai para pengikut ganda dan para pemimpin ganda yang terlibat dalam kepemimpinan kolaboratif atau yang dibagi bersama. Peran-peran dari pemimpin dan pengikut-pengikut tidak terukir; tegores di dalam batu tetapi dapat bergeser.
        Manajemen untuk Rost (1991), kontrasnya adalah satu hubungan otoritas antara sedikitnya satu manajer dan satu bawahan yang mengkoordinir aktivitas mereka untuk menghasilkan dan menjual barang-barang dan/atau jasa tertentu. Sebagai tambahan, Zaleznik (1977) berargumentasi bahwa ada perbedaan-perbedaan terpisah; jelas antara kepribadian manajer yang potensial dan pemimpin yang potensial personalitv Managers cenderung terhadap rasionalitas dan kendali. adopsi sikap-sikap bukan perseorangan terhadap sasaran. Mereka cenderung untuk mengambil resiko rendah, melihat diri mereka sebagai yang efektif ketika mereka telah mampu memperkuat institusi.
        Para pemimpin berbakat yang jadinya sangat melibatkan di dalam  pengembangan internal mereka, lebih-lebih orang-orang yang mengembangkan ke dalam para manajer, dan menguasai sikap-sikap yang menjurus kepada kepercayaan pada diri sendiri dan harapan-harapan prestasi yang tinggi. Wujud para manajer potensial melembutkan dan secara luas membagi-bagikan pemasangan-pemasangan. Para pemimpin potensial, sebaliknya, menetapkan dan putus tiba-tiba hubungan-hubungan yang intensif.
        Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan ini antara manajer dan pemimpin.  Zaleznik (1977) berargumentasi bahwa kunci itu kepada mengembangkan para pemimpin dibanding para manajer adalah berfokus kepada dampak dari melatih hubungan-hubungan. Apakah itu disusun dalam satu hubungan masa pelatihan atau murid atau di dalam sambungan yang informal antara suatu berbakat orang muda dan seorang penyelia pemeliharaan, ia percaya pendekatan ini berdiri kesempatan terbaik melanjutkan kualitas kepemimpinan dari seseorang dengan  potensi tersebut.
        Bab ini diperkenalkan suatu kumpulan yang singkat riset kepemimpinan bahwa sudah tercapai sampai saat ini. Itu mencoba untuk membangun suatu kerangka bahwa dapat bertindak sebagai suatu pemandu kepada cerminan lebih lanjut tentang bidang pendidikan dan gorganisasi kepemimpinan di masa datang. $riset kepemimpinan tidak berdiri ujian-ujian dari waktu dengan baik. Banyak pengarang-pengarang yang berkomentar tentang teori kepemimpinan. Teori hendaknya menginformasikan praktek dan seperti keinginan jelas sepanjang sisa dari  buku ini. Sementara kemajuan adalah selalu jelas, terlalu kecil berharga sudah terjadi di dalam gelanggang-gelanggang kepemimpinan, Kita sangat membutuhkan kombinasi-kombinasi, disiplin-disiplin dan dimensi-dimensi.
        Cendekiawan berpikir kita dapat mulai untuk menjadi kenyamanan. mampu dengan kepemimpinan hari ini.

2.12.    STUDI KASUS
Kepemimpinan: Kasus dari Pokok Yang Tak Kelihatan
        Yohanes Alvarez adalah seorang guru yang superior yang dikenal sepanjang daerah sekolah tersebut untuk kemampuan cendekiawannya, ketenaran dengan para siswa, para rekan kerja, dan pengurus-pengurus, dan memecahkan masalah teknik-teknik. Tidak seorang pun dikejutkan ketika Yohanes ditetapkan pokok dari salah satu darisekolah menengah daerah. Sangat terkejut adalah keluhan-keluhan berasal dari, fakultas, personil bangunan, dan para siswa bahwa tidak ada apa pun sebenarnya tercapai. Departemen mengepalai terutama sekali berkenaan dengan suara tentang permintaan tegas Yohanes di mengetahui setiap detil dari keputusan-keputusan mereka sebelum mengijinkan mereka untuk bergerak maju. Mereka juga mengeluh tentang ketidakmampuan mereka untuk menyusun pertemuan-pertemuan dengan Yohanes dan ketiadaan komunikasi nya. Hari-hari akan lewat tanpa kata dari dia tentang keputusan-keputusan. Para guru, personil bangunan, dan para siswa juga menemukan nya sulit untuk menyusun komunikasi pribadi dengan pokok mereka.
        Sementara mengetahui kemampuan pengajaran atasan Yohanes, manajemen siswa sukses, dan pemecahan persoalan, beberapa dari departemen mengepalai, fakultas; dan personil bangunan menanya apakah Yohanes akan selamanya seorang pemimpin atau bahkan akan memahami perbedaan antara tanggung-jawab kelas dan mereka yang kepemimpinan. Yohanes menjawab kemampuan-kemampuan kelasnya itu adalah jenis dari kepemimpinan yang sekolah perlu. Ia percaya yang cerdas bahwa jika orang-orang sedang lakukan pekerjaan mereka, mereka tidak memerlukan kontak-kontak pribadi dekat dengan para pemimpin mereka. Yohanes memandang kepemimpinan sebagai satu perluasan kelasnya dan dibuat kagum bahwa sebagian dari fakultasnya, personil bangunan, dan para siswa ragu-ragunya dari sumbangan nya. Ia bisa dengan susah percaya bahwa mereka memberi label dia lnvisible mereka Leader.
Pertanyaan-pertanyaan
1.      Apakah persepsi Yohanes tentang kepemimpinan yang sesuai ?
2.      Apakah kelas akademis dan sukses bukti manajemen siswa dari jenis dari kepemimpinan bahwa suatu pokok sekolah benar-benar perlu untuk menyediakan ?
3.      Apakah itu mungkin kedua-duanya Yohanes dan personil kelas bangunan, dan para siswa adalah benar ?
4.      Bagaimana mungkin kita menggambarkan kepemimpinan tertentu pada  situasi ini ?
5.      Dapatkah kita berkembang bersifat universal yang diterapkan? Mengapa atau mengapa tidak ?
        Buku ini memperhatikan para eksekutip yang diingat-ingat beroperasi di dalam dunia usaha yang baru yang mereka sedang membantu untuk membentuk. Kesederhanaan dan kecepatan bersifat unsur-unsur penting dalam rangka memelihara modem coi'porations dengan teliti kompetitif, dan buku sejenis bangau berisi cerminan dan pengalaman yang dibagi bersama oleh sebagian dari kebanyakan perusahaan yang terhormat di dalam Amerika Serikat. Intisari dari  teks ini adalah gagasan-gagasan dan pemikiran dari menyelenggarakan di atas masa lampau tiga tahun dengan lebih dari sekedar 150 para pemimpin bisnis kepala milik bangsa tersebut. Pengarang adalah seorang guru maupun dan suatu praktisi, dan mempunyai bukunya sebagai suatu pengembaraan pribadi, mengundang pengertian yang mendalam, mengutamakan kreativitas, pengambilan resiko, and fleksibilitas .
        Isi buku ini nilai-nilai dan seni administrasi. Ini juga tentang filsafat, sifat manusia, dan mutu hidup di organisasi-organisasi khususnya bidang pendidikan. Pembaca diperkenalkan dengan suatu skema teori berharga, yang sudah dikembangkan di atas dua puluh tahun yang terakhir dan cukup dalam literatur itu suatu model yang sempurna bahwa dapat digunakan untuk tujuan-tujuan analitis
        Pengarang mendukung suatu perspektif yang pragmatis mengenai orientasi pengetahuan kepemimpinan dan membantah pragmatisme seperti itu yang kita tidak bisa wujudkan? menyadari potensi dari model yang bertingkat-tingkat. Fokus dari buku itu adalah satu penekanan di suatu sintese yang baru dan satu pandangan yang diperluas dari kepemimpinan berdasar pada satu pendekatan yang berpandangan terbuka kepada isi pengetahuan kepemimpinan dan orientasi pengetahuan kepemimpinan. Pekerjaan ini adalah konsisten dengan pekerjaan empiris dan konseptual yang dilaksanakan oleh pengarang di atas banyak tahun, yang diharapkan untuk meluaskan orientasi pengetahuan pembaca dalam memahami dan menjelajah kenyataan yang kita sebut sebagai kepemimpinan.

        Dalam buku ini, pengarang mencari untuk membangun suatu teori dari kepemimpinan sekolah mempraktekkan yang didasarkan pada otoritas moral, tetapi untuk menetapkan praktek seperti itu perlukan struktur nilai dari suatu dasar otoritas untuk kepemimpinan sekolah untuk diperluas. Ia pandangan-pandangan kritik-kritik tradisional dari kepemimpinan dan mendiskusikan alasan mengapa mereka tidak bekerja sumur di masa lalu, uji apa yang memotivasi dan mengilhami para guru dan para pemegang saham untuk memasukkan cara sebagai gantinya untuk kepemimpinan; dan mendiskusikan pentingnya kolega di dalam membangun suatu masyarakat sekolah secara moral mau mendengarkan.
BAB 3
KONTEKS KEPEMIMPIN

 Seandainya ada kepemimpinan yang efektif di bidang pendidikan, sekarang ini adalah pertama kali di dalam sejarah yang mutu pendidikan para warganegara sudah dikenal secara politik sebagai hal yang secara strategis penting bagi sukses dan kelangsungan nasional. Sebagai hasilnya, institusi bidang pendidikan di seluruh dunia ada di bawah penelitian,kritik sosial dari politikus-politikus sehingga ditemukan, perubahan perubahan di bidang pendidikan sebagai konsekwensi sudah,
Perubahan bidang pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan di seluruh dunia di dalam sosial, ekonomi, politis, dan hubungan-hubungan teknologi. Alvin Toffler (1980) menggelari angkatan ketiga dan Yohanes Naisbitt (1982, 9L) mengenali mereka seperti sudah menunjuk industri masyarakat bisnis, apapun wujudnya yang disebut, usia sekolah sudah sungguh berbeda dari pendahulunya. Besaran dari pergeseran sudah dipersamakan kepada pergeseran dari feodalisme ke kapitalisme atau dari satu ekonomi cara agraris menjadi industrialisasi. Semua institusi sosial harus membuat penyesuaian-penyesuaian yang sesuai institusi bidang pendidikan tidak ada perkecualian.
Ini adalah satu waktu paradigma-paradigma pergeseran (Kuhn, 1970). Struktur sosial dan ekonomi dalam keadaan perubahan terus menerus. Banyak dari pemerintah-pemerintah dunia totaliter yang jatuh terlihat dalam beberapa kejadian-kejadian, kemudianberubah menjadi lembaga atau institusi yang lebih demokratis. Kita melihat suatu kemungkinan riil untuk damai di antara adikuasa-adikuasa dan  konflik  yang tumbuh antar kelompok etnik dan persaingan-persaingan regional kejam.
Ada optimisme dan perhatian ketika kita mendekati millennium yang baru. Naisbitt dan Aburdene (1990), optimis, berdasarkan Naisbitt (1982) ramalan sukses suatu dekade sebelumnya, melihat kemenangan dari setiap dan kematian dari yang kolektif. Dengan kebebasan yang ditemukan yang baru, mereka meramalkan suatu kenaikan harga tiba-tiba ekonomi global di dalam era tahun 1990an, suatu Renaissance di dalam seni-seni, dan suatu pertumbuhan akan minat berbagai hal rohani. Menurut mereka, suatu sosialisme pasar bebas yang baru akan yang dijadikan struktur dominan ekonomi-sosial dan negara kesejahteraan terus meningkat akan mengasumsikan peran-peran kepemimpinan dan gaya hidup global dan nasionalisme budaya akan muncul. Biologi akan mendominasi ilmu pengetahuan dan melingkari negara-negara yang mendominasi hubungan-hubungan ekonomi.
Bukan setiap orang adalah sebagai yang optimis sekitar masa depan, bagaimanapun, seperti Naisbitt dan Aburdene. (Jalbraith, 1992), sebagai contoh, gergaji suatu perbedaan yang bertumbuh antara golongan kaya dan golongan kaya bersuka-ria Amerika Serikat dan bahwa golongan kaya bukan keinginan naik di dalam pemberontakan. Perbedaan itu sedang tumbuh menurut Galbraith karena, untuk pertama kali di dalam sejarah Amerika "Yang disenangkan" lembagakan mayoritas populasi dan di dalam kendali sepenuhnya dari government. "Yang disenangkan" jangan mendukung perundang-undangan sosial bahwa membagi-bagi  kekayaan melalui pajak yang lebih tinggi di lebih besar dan kaya jasa untuk yang miskin. 1-Ic membantah bahwa itu adalah perundang-undangan engineered yang sosial oleh Lloyd George pada awal abad ke duapuluh bahwa amankan kapitalisme Inggris sepanjang tahun antara kedua perang dunia dan, demikian juga, itu adalah perundang-undangan yang sosial Franklin Roosevelt bahwa amankan kapitalisme di dalam Amerika Serikat selama Depresi Besar. Pada setiap kejadian, perundang-undangan itu ditentangkan oleh yang disenangkan, yang hilang. Sejak yang disenangkan dengan kuat di dalam mayoritas, ada harapan kecil dari perundang-undangan penetapan pemerintah untuk menghilangkan perbedaan antara golongan kaya anti golongan kaya tidak. Gaibraith meramalkan hrcakclowr sosial-. sebagai suatu konsekuensi.
Untuk lebih baik atau untuk yang lebih buruk, sungguh, suatu periode mengejutkan dan yang dinamis di dalam sejarah manusia oleh karena ketidakstabilan situasi ini merupakan suatu periode peluang yang tak ada bandingnya dan secara potensial bahaya. Untuk berperan besar dan untuk memperkecil bahaya-bahaya menuntut kepemimpinan bijaksana secara luar biasa di dalam semua sektor dan di dalam semua perusahaan usaha yang termasuk pendidikan. Singkatnya, kenyataan sosial menyebar berubah. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi orang-orang di dalam seluruh lapisan masyarakat, ada harus lebih besar berdampak pada atas mereka yang jarak penglihatan positionsof dan perhatian sosial lebih besar, seperti pemilikan orang-orang pengawasan dan administratif bertanggungjawab untuk sistem bidang pendidikan. Masyarakat berhak untuk mengharapkan kinerja berkompeten kepada mereka posisi-posisi. Di bawah keadaan ini, kepemimpinan berkompeten tidak bisa masalah perilaku pengcopian konvensional. Untuk membantu pendidikan, ada suatu kebutuhan yang jelas bersih untuk para pemimpin bidang pendidikan untuk memiliki kemampuan itu untuk memahami dinamika dari afair manusia sebagai suatu dasar untuk relevan tindakan di bawah, kebutuhan akan pemahaman yang lebih baik bank peredaran dan memproses di dalam institusi bidang pendidikan, dan kebutuhan akan keaslian dan kerja sama yang lebih besar di dalam merancang kebijakan-kebijakan strategis. Pendekatan mereka kepada peluang dan permasalahan yang menghadapi mereka perlu untuk tinggal terbuka dan hipotetis sehingga lebih bisa dipelajari.
Di antaranya, kepemimpinan adalah suatu fungsi konteks. Di dalam bab ini, kita meringkas sebagian dari menyebabkan karena perhatian di atas pendidikan yang publik seperti yang dilaporkan oleh banyak laporan dan buku yang evaluatif menerbitkan yang lampau. Perhatian khusus diberikan kepada kemunduran yang dilaporkan di dalam prestasi oleh para siswa Amerika dan internasional mereka yang relatif yang berdiri. Statistik diperkenalkan mempertunjukkan bahwa kondisi-kondisi di bawah yang banyak sekolah beroperasi sedang menjadi semakin sulit karena populasi-populasi yang mereka melayani bersifat sedang meningkatkan di dalam kesukuan di dalam variasi struktur-struktur keluarga, dan di dalam proporsi anak-anak yang berasal dari rumah-rumah yang dilemahkan. Kita lalu tanggapan-tanggapan profesional dan politis kepada kritik-kritik dan mundur untuk mencari akar historis dari dilema-dilema yang ada. Evolusi tradisi kendali lokal dari penguasaan sekolah dan tantangan-tantangan zaman ini kepada tradisi itu diringkas. Bukti dari meningkatkan isu-isu bidang pendidikan diperkenalkan. Bab menutup dengan suatu uraian organisasi yang ada penguasaan sekolah dan statistik yang terpilih untuk menggambarkan besaran dari perusahaan bidang pendidikan dalam kaitan dengan menggunakan istilah orang-orang melayani anti mempekerjakan, anti dalam kaitan dengan menggunakan istilah sumber daya dingkonsumsi.
Konteks untuk kepemimpinan bidang pendidikan adalah yang berbeda dari waktu lain manapun di dalam sejarah Adalah penting bahwa isu-isu dan proses-proses yang zaman ini dipahami jika kepemimpinan untuk mengakibatkan relevan tindakan. jika optimisnya dari paling pendukung ternyata sungguh global: ada banyak pengertian seperti bagaimana Amerika Serikat diperlengkapi untuk bersaing di dalam dunia baru ini. Berkenaan dengan pendidikan, alarm itu pertama dibunyikan di dalam. putaran yang ada dari perubahan oleh National Commission pada Excellence di Education dalam laporan nya, suatu bangsa berhadapan dengan resiko. Itu bahwa suatu pasang peningkatan dari sifat sedang telah menelan ancaman sekolah tersebut daya saing dari negeri dan sesungguhnya sangat survival. Tema itu diulangi dengan bertumbuh urgensi di dalam lusinan dari laporan-laporan sepanjang 1980. Komisi pengawas dari Kekuatan pekerja Amerika itu (1990) memfokuskan di hubungan yang integral antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi dalam  laporan nya. Pilihan Amerika:
Skills atau Low Wages. Commission mengakui kegelisahan nya dengan muncul trend. Jepang sudah menggantikan Amerika Serikat ketika ekonomi dunia dan Jerman. hanya seperempat dari Amerika Serikat populasi, Amerika Serikat Equalled hampir di cxrts. Pada waktu yang sama bahwa akan menjadi peminjam dunia yang paling besar itu, Singapura Taiwan, dan Korea tumbuh bukan pendidikan pertama kali mempunyai berada di suatu tatapan mata dari krisis yang. Setelah Rusia meluncurkan terlebih dulu satelit dalam 195 pendidikan Amerika di bawah penelitian dengan cermat mendaftar buku yang dimasukkan dengan seperti. Apa yang bersandar dari pos terdepan dunia ketiga ke eksportir-eksportir dunia perdana menteri. Commission menunjukkan pertumbuhan Amerika itu di dalam produktivitas mempunyai pada suatu lintas tayang dan ofliving nya yang standar miliki, paling baik, digenangi, selagi pesaing-pesaing nya bersifat sedang bertumbuh di dalam kedua-duanya produktivitas dan di dalam standar-standar tinggal.
Ongkos hilangnya kemampuan secara ekonomis adalah, untuk banyak penduduk Amerika, suatu standard hidup yang lebih rendah dibanding apa pada suatu waktu dibenarkan. Daya beli pendapatan rata-rata minggunya untuk para pekerja Amerika sungguh telah mampir 12% sejak 1969. Tetapi kesukaran belum dipikul dengan sama oleh semua Orang Amerika. Kepala 30% dari keluarga-keluarga Amerika dengan pendapatan yang paling tinggi sudah meningkat saham mereka pendapatan negara dari 54% dalam 1967 sampai 58% di dalam. 1987 selagi landasan %  menyusun terutama para pekerja professional/technical, biasanya para lulusan dari empat tahun, yang berhasil baik. Bagaimanapun, para pekerja garis depan sudah melihat gaji mereka tahun demi tahun. Dari tahun 1972 sampai tahun 1987, upah yang relatif dari para pekerja yang cerdik jatuh dari 98% yang didapat itu oleh profesional dan para pekerja teknis kepada 73%; untuk pekerja-pekerja, pengetesan itu adalah dari 70% ke 51%.

3.1.    NEGARA DALAM KONDISI KRITIS
Amerika Serikat itu sedang menghadapi kemungkinan yang riil mengembangkan suatu kaum kelas bawah yang struktural dan banyak percaya bahwa sifat alami sistem sekolah negeri adalah suatu penyebab yang utama. Ini semua ketakutan-ketakutan telah didukung oleh penemuan  di tahun 1990 oleh sensus di Amerika. Lebih banyak orang-orang sedang tinggal di kemiskinan dibanding dalam tahun 1980 dan kelas menengah menyusutkan selagi banyaknya yang kaya adalah pertumbuhan. % tase dari rumah tangga yang tinggal di kurang dari ekuivalen dari 25,000$ per daging anak lembu di dalam dolar-dolar yang ada sudah bangkit kepada 42% dari 31% suatu dekade sebelumnya. Dalam tahun 199, tiga perempat dari Orang Amerika sedang menyenangi pendapatan-pendapatan pertengahan bandingkan dengan dua pertiga dalam 1989. Pada waktu yang sama, %  dari Orang Amerika menggolongkan sebagai mempunyai pendapatan-pendapatan tinggi tumbuh dari 11% ke 15% dari populasi total. Perubahan pendidikan adalah dilihat, sebagai pusat untuk menanggulangi kekurangan-kekurangan Amerika Serikat yang sosial dan ekonomi.
Commission di Skills percaya bahwa, jika untuk membalikkan kemundurannya yang ekonomi, itu harus mengubah bentuk organisasi-organisasi pekerjaannya mengurangi birokrasi dan memberi para pekerja garis depan yang tanggung jawab itu untuk menggunakan keputusan-keputusan penghakiman dan buatan. Untuk lakukan hal ini, memerlukan pengerahan "Kebanyakan kita, ketrampilan-ketrampilan dari kita orang-orang tidak hanya 30% itu siapa yang akan lulus dari perguruan tinggi. para pekerja garis depan, orang-orang yang buruh/kasir bank, petani, sopir truk, para jurutulis eceran, operator komputer dan (p. 14). Satu unsur esensial di dalam strategi Commission itu untuk memenuhi pengerahan ini adalah perbaikan dari pendidikan yang diterima oleh para pekerja garis depan di dalam elementer dan sekolah menengah, meningkat pelatihan, dan mekanisme-mekanisme untuk memperlancar transisi. Merancang kembali elementer dan sekolah-sekolah untuk temu tujuan ini adalah suatu tanggung jawab kepemimpinan bidang pendidikan yang bekerja bersama dengan rekan pendamping mereka di dalam community-atlarge dan di dalam urusan bisnis.
W T.Yayasan/pondasi Dana (1988) juga locused berada di dalam keadaan dari "Yang dilupakan." 50% dari yang muda Amerika yang tidak teruskan ke perguruan tinggi. Studi mereka dokumen peluang penyusutan untuk "Suatu pekerjaan dengan suatu masa depan" untuk, daftar biaya pengiriman barang-barang pengangguran tinggi secara luar biasa, dan suatu kemunduran yang curam di dalam pendapatan nyata. Menyalahkan sekolah tersebut karena mempunyai mengacaukan dari misi mereka yang utama. "Pendidik-pendidik sudah jadinya sangat mengasyikkan dengan mereka yang teruskan ke perguruan tinggi bahwa mereka sudah kehilangan penglihatan dari mereka yang tidak. Dan semakin banyak dari batas yang tidak perguruan tinggi sekarang jatuh ketika mereka di sekolah, gugur, atau lulus dengan berkekurangan mempersiapkan persyaratan-persyaratan dari masyarakat dan tempat kerja" untuk apa Orang Amerika untuk perguruan tinggi dan itu adalah besar. Mereka yang perguruan tinggi menerima tunjangan-tunjangan sosial bahwa rata-rata per tahun selagi mereka tidak akan ke perguruan tinggi sering dipandang sebagai kegagalan-kegagalan dan menerima sedikit, jika satu dukungan yang publik. Yayasan meminta pengembangan dari suatu pendekatan yang terintegrasi kepada pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan-kebutuhan layanan dari semua yang muda. lebih lanjut, itu merekomendasikan pertalian-pertalian yang lebih kuat antara yang muda, orang dewasa, dan akses mereka pada suatu yang penuh berpakaian tentang pengembangan, pencegah, dan jasa perbaikan; dan dukungan publik untuk menenangkan beban keuangan tentang anak-anak peningkatan dan anak remaja.
Kozol (1992) memfokuskan di sekolah-sekolah diri mereka terutama sekolah-sekolah bagian tertua suatu kota. Ia dengan nyata menguraikan kondisi-kondisi di mana banyak  dari kaum kelas bawah itu sedang dididik. sekolah-sekolah berkenaan dengan kota adalah, umumnya, secara luar biasa menempatkan sedikit; beberapa perkecualian-perkecualian, mereka mengingatkan aku dari "atau ourposts" di suatu bangsa yang asing. Proyek-proyek perumahan, jangkung dan pucat, yang dikepung oleh dinding garis keliling melapisi dengan kawat yang dimandikan, sering kali berdiri damping kepada sekolah tersebut aku dingunjungi. Sekolah tersebut adalah  tanda-tanda bahwa menandai DRUG-FREE ZONE. Pintu-pintu mereka dijaga. Polisi kadang-kadang meronda. Jendela dari sekolah tersebut sering tertutup dengan baja memarut. Taksi yang dengan datar ditolak untuk mengambil aku kepada sebagian dari sekolah ini dan akan menyimpan aku selusin blok-blok awaj di dalam daerah perbatasan beivnd yang mereka menolak pergi. Di Boston, tekanan media pers menunjuk bidang-bidang seperti ini seperti ketika "Zona kematian " spesifik menunjuk kepada tingkat kematian bayi di dalam tempat tinggal minoritas tetangga merasa zone kematian" sering kali sepertinya akan menyebar keseluruh bagian sekolah tersebut.

3.2.    PERTIMBANGAN HASIL DAN DEMOGRAFI
Sering, kritikus-kritikus mendokumentasikan kemunduran di dalam mutu pendidikan yang diterima di sekolah dengan statistik tentang jatuh Scholastic Aptitude score-score. perbandingan-perbandingan dengan prestasi dari anak-anak di dalam negara-negara yang lain, ketinggian gugur daftar biaya pengiriman barang-barang, kekerasan/kekejaman di dalam sekolah tersebut, dan prestasi rendah dari anak-anak minoritas bandingkan dengan anak-anak mayoritas. score-score lakukan kemunduran dengan mantap dari satu nilai rata-rata total 980 dalam 1963 sampai 890 dalam 1981 (Pusat Nasional untuk Education Statistics (NCES), 1991b, p.152). Mencetak prestasi merosot untuk kedua-duanya lisan dan matematika subtests meski mereka lebih secara dramatis untuk tes verbal. Karena 1981, score rerata yang total dan matematika subscores mempunyai Increased sederhana selagi yang lisan sudah dinstabilkan. score Rerata total berdiri pada 900 dalam 1990. Sandia belajar, 1993), bagaimanapun, menyimpulkan bahwa "banyak” dipublikasikan 'kemunduran' rata-rata SAT mencetak prestasi salah menggambarkan benar kisah tentang kinerja SAT." Alasan untuk . itu kemunduran fakta melekat pada, itu bahwa lebih banyak para siswa di dalam kelas membagi dua tentang kelas-kelas mereka membawa SAT hari ini dibanding di dalam masa lampau tahun. Sebenarnya, setiap kelompok etnik minoritas sedang melaksanakan hari ini lebih baik dari 15 bertahun-tahun yang lalu (Huclskamp, 1993). Berlin (1993) juga menantang penafsiran yang umum kemerosotan SAT mencetak prestasi dengan menunjukkan itu, dari kelompok para siswa yang ada yang memenuhi karakteristik-karakteristik dari mereka yang SAT dalam 1975 telah ada suatu 30 peningkatan titik, lebih dari sekedar sepuluh bagian perseratus mengelompokkan.
Gabungan mencetak prestasi di Ujian Perguruan Tinggi Amerika itu juga telah merosot, tetapi rata-rata di subscores menunjukkan suatu pola yang berbeda dibanding pertunjukan statistik SAT. ACT subscores untuk bahasa Inggris sudah tinggal secara relatif stablince 1970 selagi subscores untuk matematika dan ilmu kemasyarakatan sudah merosot tajam dan subscoes untuk ilmu pengetahuan alam sudah menunjukkan suatu peningkatan yang rendah hati (NCES.  199th. p.153).
National Assessment Educational Progress (NAEP) tidak mendeteksi suatu kemunduran di dalam prestasi bidang pendidikan (di) atas masa lampau 20 tahun, meski penemuan nya sungguh menyajikan penyebab untuk sekitar yang tingkat rendah dari kecakapan rerata dari yang muda Amerika. Dari tahun ke tahun, sekitar 40 %  dari telah digolongkan sebagai melaksanakan di Tingkatan ahli di dalam membaca yang  digambarkan, "Dapat menemukan memahami, meringkas, dan menjelaskan secara relatif rumit informasi" (NCES, l993a. p.202). 85 %  melaksanakan di "Intermediate/antara" tingkatan atau lebih baik. Kinerja pada tingkatan ini  digambarkan, 'Dapat mencari-cari informasi spesifik, menghubungkan satu dng lain gagasan-gagasan, dan membuat penyamarataan-penyamarataan." Persentase yang melaksanakan di "yang Dikedepankan" tingkatan sudah meningkat sejak 1971 dari 6%  ke 7%  dalam 1990. Performarice dikedepankan  digambarkan, "Dapat manyatukan dan tahu dari material yang khusus."
Sementara kinerja rerata dari kelompok minoritas di NAEP menguji telah menunjukkan perbaikan, itu tinggal sumur di bawah bahwa dari para siswa mayoritas. Diatas separuh dari para siswa mayoritas menguji dalam 1988 terminologi dasar dan hubungan-hubungan historis yang dipahami dan susunan pemerintah dan fungsi-fungsi spesifik yang dibandingkan dengan tentang seperempat dari African-American anc Hispanic para siswa (NCES, 1991b, p.142).
Dari perhatian lebih besar lagi kepada beberapa analis adalah kinerja dari para siswa Amerika jika dibandingkan dengan para siswa negara-negara. Hasil-hasil dari suatu dua puluh bangsa belajar yang diterbitkan dalam 1992 Amerika yang ditemukan itu 13 tahun yang tua ke luar melakukan hanya mereka dari Yordan, Portugal, dan Mozambique di dalam matematika, dan hanya para siswa dari itu negara-negara dan Irlandia di dalam ilmu pengetahuan (Rothman, 1992a). Amerika Serikat di antara yang paling tinggi melaksanakan dari 14 negara-negara di dalam ilmu pengetahuan, hanya dekat dalam matematika. Hasil-hasil itu diringkas di Table 31. Sebaliknya, siswa di dalam mereka Amerika Serikat dari hampir semua  negeri yang lain di suatu studi tentang membaca  melek huruf (Rothman, 1992b).
Ada mereka yang berpikir bahwa kritik-kritik dari sekolah negeri di dalam Amerika Serikat bersifat berlebihan masa dan. Contran untuk pendapat umum, sekolah negeri Amerika itu sungguh baik kapan pun dan di mana saja mereka disertakan bersama manusia dan sumber daya ekonomi untuk berhasil" (Berlin, 1993, p.36). Berlin menunjukkan, sebagai contoh, para siswa hari ini itu sebenarnya rata-rata 14 IQ menunjuk yang lebih tinggi dibanding kakek dan nenek mereka dan tujuh poin-poin yang lebih tinggi dibanding orang tua mereka. Banyaknya membuat angka para siswa di dalam cakupan hari ini yang dikaruniai; berbakat adalah tujuh kali lebih besar dari generasi sekarang mengundurkan diri dari kepemimpinan.  Hodgkinson (1993a) simpulkan bahwa kepala 20 %  dari sekolah menengah kita lulus adalah kelas dunia dan sembuh. 40 %  yang berikutnya kebanyakan mampu melengkapi perguruan tinggi. Ada persetujuan tersebar luas bahwa  sistim pendidikan yang lebih tinggi kita adalah satu kekuatan-kekuatan kita yang besar (Kirst. 1993) dan iri hati dunia. Kendati jatuh rata-rata SAT mencetak prestasi, mencetak prestasi di Graduate Record Emination (GRE) sudah bangkit 16 poin-poin (lisan), 36 poin-poin (kwantitatif), dan 30 poin-poin (analitis) karena 1981 meskipun banyaknya test-takers sudah meningkat dengan 16 %  (Hodgkinson, 1993a). . lebih lanjut. 40 %  dari semua artikel riset yang ditulis oleh sarjana-sarjana Amerika; tanpa bangsa yang lain menghasilkan lebih dari (sekedar) 7 % .
Kegagalan dari banyak para siswa Amerika untuk melengkapi sekolah menengah dan pertalian antara mengundurkan diri dan pengangguran dan kejahatan adalah juga dari perhatian kepada banyak analis kebijakan. Hampir 87 %  dari yang sudah menyelesaikan sekolah menengah yang dibandingkan dengan 75 %  dari para siswa African-American dan 59 %  dari para siswa Hispanic (NCES,  199th, p.8). Dari satu perspektif yang internasional, haruslah yang dicatat bahwa hanya negeri Belgia dan negara Finlandia melebihi United States di dalam %  mendaftarkan di sekolah Huelskamp, 1993).
Hanya dari sekolah menengah minoritas menemukan pekerjaan tidak lama sesudah meninggalkan yang dibandingkan dengan separuh dari yang putih. Bahkan lulusan sekolah menengah mempunyai kesukaran di dalam menemukan ketenaga-kerjaan; 75 %  para siswa mayoritas sukses di dalam menemukan ketenaga-kerjaan tidak lama sesudah wisuda derajat bandingkan dengan hampir tidak separuh dari para siswa minoritas. Sekitar 82 %  dari orang-orang dalam penjara adalah sekolah menengah; itu biaya-biaya tentang 24,000$ per tahun untuk mendukung seseorang dalam penjara (Hodgkinson, 1993b).
Pertalian antara tingkatan pendidikan dan ketenaga-kerjaan dan pendapatan adalah sangat kuat. Dari 25-34 tahun tua, 76 %  dari hilang-data-hilang-data sekolah menengah dipekerjakan dibandingkan dengan 87 %  dari sekolah menengah lulus dan 93 %  dari perguruan tinggi lulus. Pendapatan hilang-data-hilang-data yang putih hanyalah 73 %  bahwa dari sekolah menengah yang putih lulus dan sekitar separuh bahwa dari perguruan tinggi lulus. Kerugian pendapatan yang relatif dari sedang bertumbuh di atas masa lampau dua dekade. Hubungan bersifat sebangun untuk wanita-wanita dan kelompok minoritas NCES, 1991b, p.44, menguatkan perhatian-perhatian sebelumnya mengutip tentang Commission di Skills dari Kekuatan pekerja Amerika itu satu muncul kaum kelas bawah permanen.
Sementara statistik mungkin menganggap bahwa sekolah-sekolah tidak melakukan pekerjaan mereka seperti juga di masa lalu, ini juga benar bahwa pekerjaan mereka bisa  lebih sulit sekarang dibanding kenyataannya di masa lalu. Selama 1980s karakteristik-karakteristik dari keluarga-keluarga Amerika tetap menggerakkan dari tradisional dua, orangtua, dua anak-anak oleh 1990, hampir tidak perempat dari satu rumah tangga berasal dari karena variasi (Hodgkinson, 1991), lebih sedikit di dalam angka nyata, mereka dekade sebelumnya sekedar penggolongan keluarga-keluarga untuk menunjukkan suatu kemunduran (lihat Table 3.2). Wanita tunggal memimpin rumah tangga meningkat dengan 36% . memimpin oleh 29% , dan laki bini tanpa anak-anak oleh 17%, 60%  dari semua rumah tangga tidak memiliki anak-anak pada semua fakta bahwa membuat pembiayaan sekolah negeri oleh pajak harta di tempat itu mengadakan sangat sulit di mana retribusi-retribusi seperti itu memerlukan persetujuan pemberi suara. Hampir 50%  dari Amerika yang muda orang-orang akan membelanjakan beberapa tahun sebelum mereka menjangkau 18 mahluk yang diangkat oleh suatu orangtua, 15 juta mahluk anak-anak yang diangkat oleh para ibu yang tunggal akan memiliki tentang sebanyak belanjaan keluarga di kebutuhan-kebutuhan mereka sebagai anak-anak yang sedang diangkat oleh dua orang tua, 1991). dari anak-anak sedang tinggal di rumah tangga di bawah tingkatan kemiskinan dan 59 %  dari semua dalam kemiskinan rumah tangga dipimpin oleh (NCES, 1991b, p.200).
Proporsi sekolah negeri yang diwakili oleh kelompok minoritas yang untuk dibinasakan oleh kemiskinan sedang berkembang. Dalam 1976. minoritas mewakili 24% dari elementer dan pendaftaran sekunder. Proyeksi-proyeksi menyatakan bahwa proporsi ini akan kenaikan kepada 46%  oleh tahun 2020 (NCES, 199th). Pertumbuhan dalam jumlah dan propoctions populasi minoritas adalah tiba hanya pada sebagian kepada angka kesuburan mereka yang yang lebih tinggi sebagai yang dengan Faktor mayoritas penting yang lain adalah satu kenaikan di dalam imigrasi dari Asia dan Amerika Latin. Itu diperkirakan kira-kira itu lima juta anak-anak orang tua imigran di dalam elementer dan sekolah menengah selama 1990an. mewakili lebih dari sekedar 150 bahasa (Ifuciskamp, 1993).
Sebagai tambahan terhadap mahluk tiga kali seperti nampaknya akan dilemahkan, anak-anak minoritas lebih mungkin memerlukan yang lain "Faktor-faktor resiko, seperti berasal dari suatu orangtua yang tunggal, setelah dibatasi Inggris dan mempunyai suatu orangtua atau saudara kandung (atau kedua-duanya) sudah mundur dari sekolah. Anak-anak minoritas adalah 3.5 kali ketika mungkin untuk memiliki dua atau lebih, ini resiko sebagai anak-anak yang putih, itu pengaruh adalah juga intergenerational 62%  dari anak-anak di bawah usia enam yang di bawah tingkatan mempunyai orang tua yang tidak melengkapi sekolah menengah. Jika orangtua nya menyelesaikan sekolah menengah, tingkat kepada 26% dan untuk 7%  jika orangtua nya mempunyai beberapa pendidikan yang diterima di sekolah di luar sekolah menengah dan pendidikan" (1992).
Sementara kepala 20%  dari elementer Amerika dan para siswa sekunder yang sungguh dilayani oleh sistim arus bidang pendidikan dan 40%  yang berikutnya dilayani dengan baik 40% dengan kurang baik dilayani dan ini adalah fokus dari kebanyakan perhatian (Hodgkinson, 1993/Kirst, 1993). Beberapa analis, menempatkan menyalahkan tidak begitu banyak di sekolah tersebut hanya di permasalahan 40%  membawa kepada pintu sekolah tersebut, terutama sekali kemiskinan, secara emosional dan secara fisik cacat/rintangan, ketiadaan pelayanan kesehatan, kondisi-kondisi keluarga sulit dan lingkungan-lingkungan kejam. Memecahkan yang bidang pendidikan kita yang "Krisis akan memerlukan koordinasi usaha-usaha sekolah dengan yang dari para agen masyarakat yang lain kesehatan kepedulian, perumahan, transportasi, dan sosial ”(Hodgkinson, 1993a). Jadi dengan demikian, asumsi-asumsi yang lampau yang digunakan oleh pendidik-pendidik di dalam merancang kurikulum sekolah tidak lagi berlaku untuk semua orang. Anak-anak bersifat lebih sedikit mungkin datang dari latar belakang mayoritas. Mereka lebih mungkin para anggota keluarga-keluarga tidak tradisional, dan mereka lebih mungkin lemah miskin. lducation melalui sekolah menengah dan di luar penting jika para lulusan adalah untuk dipekerjakan di dalam selain dari pekerjaan kasar dan untuk menyenangi yang nyaman standar-standar tinggal. Peluang ketenaga-kerjaan yang baik bayarannya terus meningkat memerlukan ketrampilan-ketrampilan cendekiawan canggih. Kepemimpinan bidang pendidikan sedang ditantang untuk mendesain baru bahwa mengenali sifat dari para siswa, menyediakan dukungan yang kelembagaan bagi mereka berhadapan dengan resiko dan menghubungkan pendidikan yang diterima di sekolah dan ketenaga-kerjaan.

3.3.    GERAKAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN
Tanggapan terhadap situasi saat ini menyangkut pendidikan publik telah dilukiskan sebagai tiga gelombang. Pertama memfokuskan di kinerja siswa dan mutu guru. Antara tahun 1980 dan tahun 1986, hampir semua negara meningkatkan standar mereka untuk lulusan sekolah menengah melalui upaya memperbanyak kursus-kursus, kembangkan persyaratan-persyaratan distribusi mereka antar bidang-bidang hal dan test minimum mencetak prestasi. Sepertiga dari negara memerlukan para siswa untuk memberikan  suatu test kemampuan pada lulus dari sekolah menengah (Dewan dari Chief State School Officers, 1990)
”Patokan-patokan sertifikasi untuk para guru juga ditingkatkan, pada tahun 1987, dua pertiga dari negara menentukan standardisasi test-test untuk mencari guru yang bersetifikat dan sertifikasi untuk para guru dilakukan oeh banyak negara, sedangkan yang lainnya mengikat pembaruan sertifikasi pada pendidikan atau prestasi yang memuaskan” (Farrar, 1990).
Tetapi patokan-patokan pembuatan undang-undang yang lebih tinggi tidak perlu menghasilkan hasil-hasil yang lebih tinggi (Ian, 1985), dan menyatakan para gubernur diantaranya cepat untuk dingenali. Asosiasi National Governors pada tahun 1986 mengeluarkan suatu laporan berjudul ”Waktu untuk perubahan kedua struktural dengan mengangkat patokan-patokan tambahan”. Laporan menunjukkan bahwa para gubernur itu adalah tersedia bagi sebagian orang "kuda model kuno, perdagangan". Mereka mengikat negara itu untuk mengatur lebih sedikit jika daerah-daerah sekolah-sekolah dan sekolah akan menghasilkan hasil-hasil lebih baik.
Jenis perdagangan kuda, kita berbicara tentang keinginan secara dramatis mengubah kebanyakan sekolah-sekolah bekerja. Pertama-tama, para gubernur itu ingin membantu menetapkan kambing-kambing jelas bersih dan laporan lebih baik untuk mengukur apa yang para siswa mengetahui dan dapat melakukan. Lalu kita adalah siap untuk menyerah banyak kendali negara pengatur bahkan untuk berjuang untuk mendapatkan perubahan-perubahan di dalam hukum itu untuk membuat bahwa terjadi jika daerah-daerah sekolah-sekolah dan sekolah akan bertanggung jawab untuk hasil-hasil. Perubahan-perubahan ini akan memerlukan lebih banyak untuk sukses-sukses dan konsekuensi-konsekuensi para guru, sekolah-sekolah para pemimpin sekolah dan sekolah distrik. Mereka akan nilai-tengah memberi orang tua lebih pilihan di dalam sekolah negeri, anak-anak mereka menghadiri sebagai yang satu arah mengasuransikan mutu yang lebih tinggi tanpa yang berat kendali negara National Asosiasi Governors ( 1986, p.4).
Sebagai tambahan terhadap rangkaian komisi pengawas nasional melaporkan dan secara pribadi membiayai studi-studi bahwa nampak pada awal bagian dari yang delapan puluhan,  Farrar (1990) mengenali dua perubahan-perubahan penting yang lain di dalam lingkungan kebijakan pendidikan nasional di dekade tersebut bahwa memacu/ merangsang gerakan perubahan yang bidang pendidikan. Pertama adalah agenda pendidikan President Ronald Reagan, itu mencari untuk mengurangi peran yang pemerintah pusat di dalam pendidikan yang tadinya dengan mantap bertumbuh sejak Lapisan tanah teratas Besar. President Lyndon dan prakarsa-prakarsa Poverty dari midI 1960an. Peran pemerintah pusat yang dikurangi yang dibujuk oleh kebijakan-kebijakan Presiden Reagan menciptakan suatu ruang hampa di kepemimpinan di tingkatan pemerintah pusat dan secara serempak menghimbau pemerintah-pemerintah negara dan perusahaan swasta untuk mengisi kekosongan. Perubahan yang kedua adalah kesediaan para pemimpin negara dan para eksekutif bisnis untuk mengambil satu peran yang aktif di dalam perubahan bidang pendidikan.
Petrie (1990) nyatakan bahwa restrukturisasi profesi pengajaran yang diaktifkan oleh dari perubahan mempunyai keterlibatan-keterlibatan dalam untuk konsep kita kepemimpinan bidang pendidikan, itu kelihatannya membersihkan bahwa jika para guru adalah untuk memandang pelatihan praktisi-praktisi penghakiman, para pemimpin bidang pendidikan akan mengatakan kepada harus berbuat apa para profesional seperti itu. Disana tidak, terperinci dikenakan. Aturan-Aturan dan peraturan-peraturan birokrasi akan terbatas pada jumlah kecil. Struktur-struktur akan dikembangkan itu suatu jangkauan luas pertimbangan dan, tidak hanyalah di dalam patuh pada mengajar silabus kelas bee;z tertutup, hanya di dalam sangat itu akan dihubungkan dengan kelompok para profesional dibanding kepemimpinan berhubungan bantuan yang disewakan, mungkin akan lihat model-model dari pendidikan yang lebih tinggi atau dari asosiasi-asosiasi profesional di dalam akuntansi atau perusahaan secara ilmu bangunan, atau seperti organisasi pemeliharaan kesehatan dibanding seperti pengaturan-pengaturan manajemen tenaga kerja Industrial (1990, P.22). Pandangan-pandangan kompatibel dengan mereka yang Cuban (1988) yang meratap bahwa mengajar dan sudah tidak lagi dipandang sebagai satu karier meskipun mereka bersifat di suatu peran-peran pembagian sejarah umum yang umum. Cuban pengajaran pandangan-pandangan sebagai pusat kepada administrasi penuh pengertian. Menurut dia, dua gambaran mendominasi mengajar dan mengatur teknis dan moral dan mereka berbagi tiga peran yang umum: managerial, dan politis. Sementara gambaran-gambaran dan tingkah laku, lelah, habis, dan hampa di pengaturan-pengaturan. Pengajaran dan administrasi dengan tak dapat dielakkan. Peran intervi adalah untuk mengajar, tetapi ada unsur-unsur dari yang politis dan yang managerial. Peran yang politis mendominasi dan mungkin untuk mengalami ketiga peran tersebut di dalam ukuran secara relatif sama.
Cuban juga mengkaji arus perancangan sekolah-sekolah dan sistem persekolahan seperti menghalangi menyediakan mutu pendidikan kita semua menginginkan untuk anak-anak kita. Di dalam membedakan antara para pemimpin dan para manajer, ia melihat para pemimpin seperti orang-orang yang membentuk sasaran, motivasi-motivasi, dan tindakan-tindakan dari orang lain selagi para manajer memelihara pengaturan-pengaturan arus organisasi secara efisien dan secara efektif. Para pemimpin sering perubahan permulaan untuk menjangkau sasaran baru dan yang ada menyeluruh arah manajemen adalah terhadap pemeliharaan. Ia membantah sekolah-sekolah sebagai adalah para guru tekanan media pers, para pemegang saham, dan pengawas-pengawas yang mengatur dibanding memimpin, terhadap memelihara apa dibanding tentang apa yang bisa. Struktur-struktur dari pendidikan yang diterima di sekolah dan insentif menguburkan di antara mereka menghasilkan suatu  sangat mendesak managerial (Cuban, 1988, p.21). Cuban melihat otonomi seperti syarat perlu untuk kepemimpinan untuk muncul.
Jacobson dan Conway (1990) antisipasi bahwa pendefinisian ulang kepemimpinan bidang pendidikan akan mengakibatkan sepertiga dari perubahan. Para pemimpin untuk Sekolah Amerika, laporan dari National Commission pada Excellence di Educational Administration (1988), adalah precutsot dari  usaha perubahan paling terbaru ini. Komisi pengawas laporan, yang disponsori oleh University Council untuk Educational Administration, alamat-alamat apa yang sekolah-sekolah harus jadinya, bagaimana mereka akan dipimpin, dan kebijakan mengubah yang diperlukan berkenaan dengan menyiapkan dan mendukung kepemimpinan sekolah. Pujian; rekomendasi nya  untuk mengubah struktur dari sekolah-sekolah termasuk hubungan-hubungan para guru dan pengurus-pengurus, persiapan pengurus-pengurus bidang pendidikan, dan mereka. lisensi dan pekerjaan. utama di dalam Leadership arus bidang pendidikan dikenali:
1.      Ketiadaan definisi kepemimpinan bidang pendidikan yang baik,
2.      Ketiadaan perekrutan pemimpin memprogram di dalam sekolah tersebut,
3.      Ketiadaan kerja sama antara daerah-daerah sekolah dan universitas,
4.      Ketiadaan minoritas-minoritas dan wanita-wanita di dalam ladang,
5.      Ketiadaan pengembangan profesional yang sistematis untuk pengurus-pengurus sekolah,
6.      Ketiadaan calon-calon mutu untuk persiapan memprogram,
7.      Ketiadaan persiapan memprogram relevan kepada lapangan kerja dari pengurus-pengurus sekolah,
8.      Ketiadaan urutan, isi modern, dan pengalaman klinis sedang dalam persiapan program-program,
9.      Ketiadaan sistim untuk mempromosikan keunggulan.
10.  Ketiadaan suatu pengertian yang nasional kooperasi di dalam menyiapkan pengurus-pengurus sekolah.
Fuhrman, Elmore, dan Massell (1993). Juga telah melihat bukti yang gerakan perubahan sedang menggerakkan intoa tahap ketiga yang yang mereka dikenal sebagai "perubahan sistemik." Mereka mengidentifikasi dua tema bahwa menandai tahap ini: (1) perubahan menyeluruh bahwa memusat pada banyak aspek dari sistim,  dan (2) pengintegrasian kebijakan koordinasi di sekitar suatu himpunan yang menyayangi dari hasil-hasil. Pertimbangan profesional lebih besar sedang diizinkan di lokasi sekolah di bawah payung dari koordinasi yang dipusatkan.
Para pemimpin sekolah masa depan itu tidak akan hanya adalah bekerja dengan seorang tubuh siswa dengan jelas yang berbeda dari masa lampaunya hanya struktur organisasi dan profesional dan hubungan-hubungan politis adalah juga nampaknya akan sungguh hubungan-hubungan antara para guru dan pengurus-pengurus adalah nampaknya akan secara kolektif dibanding otoriter. Para pemegang saham dan para guru mungkin  mempunyai pertimbangan profesional lebih besar banyak keputusan-keputusan secara formal dilakukan di daerah status negara dan tingkatan-tingkatan pemerintah pusat ditinggalkan ke sekolah-sekolah lokal, status negara, dan penguasa pemerintah pusat akan melanjutkan untuk membuat parameter-parameter tertentu, bagaimanapun wakil-wakil orang tua dan masyarakat mungkin untuk memiliki pengaruh yang lebih besar di organisasi dan operasi sekolah tersebut melalui keanggotaan di dewan-dewan sekolah atau melalui pilihan berkenaan dengan orangtua dari pendidikan yang diterima di sekolah. Sebagai hasilnya, gaya kepemimpinan dan strategi yang bisa diterima akan sungguh yang berbeda di masa datang dari apa yang mereka telah berada di masa lampau.
Untuk membawa fokus kepada gerakan perubahan yang bidang pendidikan, para Gubernur status negara bergabung dengan President George Bush dalam tahun 1989 dan melafalkan enam sasaran nasional untuk pendidikan yang publik yang untuk direalisasikan pada tahun 2000. Enam sasaran,  mula-mula yang dikenal sebagai "Amerika 2000" dan sekarang diberi label "Sasaran gol 2000" oleh administrasi Clinton, dilaporkan di Table 33. Meski telah ada suatu perubahan dari presiden-presiden karena 1989. Perubahan telah ada kecil di dalam menyeluruh strategi yang haruslah dikenal bahwa ini mempunyai suatu usaha bipartisan dan bahwa pejabat yang ada di dalam Gedung Putih apakah Chair dari Asosiasi National Governors itu pada waktu Amerika 2000 prakarsa diumumkan resmi dan berpengaruh di dalam membentuk desainnya.
National Education Goals Panel itu ditetapkan untuk memonitor kemajuan yang sedang dibuat terhadap itu sasaran dan untuk mengkoordinir usaha-usaha dari status negara dan organisasi-organisasi nasional. Keanggotaan panel adalah secara politis seimbang membiarkan dua anggota kepada delapan gubernur hanya sebanyak tiga yang bisa dari pesta (pihak kepunyaan President), dan empat anggota Congress ditugaskan oleh para pemimpin mayoritas dan minoritas House dan Senate. Semua anggota mempunyai pemungutan suara mengistimewakan.
Dalam 1991, Goals Panel bekerja sama di dalam ciptaan National Council di Education Standards dan Testing dan menguasakan ujian, rekomendasi untuk nasional dan berhubungan sistem dari penilaian siswa. Goals Panel itu merasa terikat dengan lima perubahan pemandu standards-based:
1.      Pengembangan standar di seluruh negara adalah sangat inklusif, mencampur pengetahuan kelas ahli dengan apa yang ada pada dan kalayak ramai.
2.      Patokan harus tidak dipertimbangkan
3.      Patokan harus ia dengan sengaja; seksama menetapkan pada mengukur.
4.      Patokan yang harus dipandang sebagai, tinjauan ulang hal sangat berkala dan
5.      Pentingnya patokan-patokan yang di seluruh negara harus (dengan) jelas dan secara efektif kepada  Amerika itu orang-orang (National Education Goals Panel. . 1993, p.xiv.).
Sasaran 2000: Mendidik Amerika Berbuat sesuatu, "Menetapkan dalam 1994, mendirikan suatu National Education Standards dan Improvement Council untuk mengembangkan ukuran-ukuran dan suatu proses untuk tinjauan ulang dan menyetujui patokan-patokan di seluruh negara. Tiga tema yang luas menandai-pendekatan di seluruh negara ini untuk diubah menjadi pembaharuan pendidikan harus sistemik milik bangsa tersebut kesanggupan untuk pembaharuan pendidikan harus jangka panjang dan untuk mencapai sasaran, negara, lokal, dan pemerintah pusat harus forman pendidikan, semua ini, peran yang pemerintah pusat dilihat sebagai seorang pemimpin, mitra, dan katalisator untuk perubahan yang sistemik dengan menaikkan sumber daya langka terhadap negara dan prakarsa-prakarsa lokal dengan dampak yang luas dan manfaat jangka panjang" (National Education Goals Panel,  1993, Hal:186). Daerah-daerah Negara dan sekolah akan diwajibkan untuk isi kurikulum dan kinerja siswa seperti juga patokan-patokan kesempatan untuk belajar untuk memenuhi persyaratan untuk bab pemerintah pusat 1 jo dana.
Sementara gerakan perubahan sedang mengalami satu jumlah yang tidak biasa dari koordinasi yang sukarela di tingkatan nasional, kebanyakan dari tindakan membawa menempatkan di status negara, daerah sekolah, dan sekolah mengukur. Contoh terbaik dari perubahan yang sistemik di dalam status negara dari Kentucky di mana semua unsur-unsur dari sistim pendidikan telah dimodifikasi termasuk penguasaan dan keuangannya. Sistem persekolahan Chicago sedang mengalami suatu wujud yang radikal penempatan desentralisasi policymaking otoritas dalam kekuasaan meletakkan papan/meja yang dikendalikan yang dihubungkan dengan sekolah-sekolah yang individu. Michigan sudah menghapuskan pajak kekayaan yang lokal seperti ketika sumber utama dari dukungan keuangan dari sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah piagam telah disahkan di dalam sedikitnya lima negara dan sejumlah busur lingkaran/lingkungan negara yang mengadakan percobaan dengan dibatasi rencana-rencana voucher. Berbasis pengelolaan tapak adalah acara hari ini dan terus meningkat negara daerah-daerah sekolah sedang membiarkan pilihan keluarga dari pendidikan yang diterima di sekolah.
Ada juga meningkatkan keterlibatan dari sektor swasta berkesempatan mendapatkan dukungan dari sekolah negeri. New American Schools Development Corporation itu dibentuk oleh para pemimpin bisnis Amecan Pada Bulan Juli dari 1991. Di paling ulangnya dari President Bush. Tujuan dari korporasi itu ke pertanggungkan desain dan implementasi suatu generasi yang baru sekolah-sekolah. Itu sudah berjanji untuk menaikkan 150 juta dollar amerika dari sumber pribadi antara 1991 dan 1996 untuk membiayai usaha 103 juta dollar amerika telah diangkat january 1994. Sebagai jawaban atas panggilan untuk nya, 686 regu desain menjawab dari pengembangan atas suatu lima periode tahun lebih lanjut. Ukuran-ukuran penolakan untuk seiection adalah kemungkinan bahwa suatu desain akan memungkinkan semua siswa untuk menjangkau sasaran pendidikan yang nasional dan mencapai standar kelas dunia (Olson, 1992).
Para anggota sektor swasta itu adalah juga bekerja dengan cara-cara lain untuk mempromosikan dan untuk beruntung dari perubahan sekolah. Usaha-usaha mereka mencakup dari partnerships bisnis sekolah sampai menciptakan dasar dan percayakan kepada prakarsa-prakarsa bersifat usahawan sama sekali palsu. Yang paling besar dari yang belakangan sudah diluncurkan oleh pelaku bisnis Tennessee dan tokoh terkemuka media, Chris Whittle. Edison dan proyeknya yang sedang bergerak di depan dengan maksud dari suatu rantai dari karena sekolah swasta keuntungan untuk beroperasi di dalam wilayah perkotaan ke seberang negeri 560 juta karena fase desain itu sedang berasal dari Whittle Communications, L.P., dan pemilik-pemilik nya yang utama Time-Warner, Inc., Phillips Electronics berbasis Belanda, N.V, dan British-based Associated Newspapers Holdings Ltd. Benno C.Schmidt, Jr., presiden dari Universitas Yale berhenti posisinya pada Yale untuk memimpin usaha.
Spekulasi-spekulasi lain ke dalam pendidikan yang publik oleh pribadi untuk perusahaan keuntungan termasuk oper ation di bawah kontrak dari sembilan sekolah Baltimore dan Bab 1 mengajar privat program dewan sekolah Minneapolis sudah menyewa suatu pribadi dengan teguh untuk menjalankan sistem persekolahan sebagai pengganti suatu pengawas yang tradisional. Di Chelsea, Massachusetts, sekolah tersebut sudah menyerahkan ginjal itu kepada Boston University di bawah kontrak.
Sungguh-sungguh, ada banyak perhatian atas mutu sistim dan keterlibatan kita yang bidang pendidikan yang mempunyai untuk kesejahteraan/kesehatan kita yang masyarakat. Perhatian sudah menghasilkan banyak debat dan percobaan. Isu sasaran nasional, sebagai contoh, menaikkan isu-isu banyak sekali kontroversial tambahan seperti standar nasional, suatu kurikulum yang nasional, penilaian nasional, dan sertifikasi guru nasional. Ada juga isu-isu dari keseimbangan antar pemerintah pusat, negara, dan pemerintah-pemerintah lokal, antara penguasa profesional dan politis, dan antara publik dan sektor swasta. Perubahan-perubahan struktural akan muncul dari huru-hara yang ada, tetapi itu adalah terlalu awal untuk meramalkan hanyalah apa mereka mungkin. Isu-isu yang terkait menghantam inti Amtrican kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi. Orang-orang sekarang menyiapkan untuk mengasumsikan peran-peran kepemimpinan di edue:triofl mungkin untuk membelanjakan seluruh karier-karier mereka.
Lihat pada gejala-gejala dari rasa tidak enak badan anti awal usaha-usaha yang dibuat untuk menunjuk mereka, kita perlu untuk menguji sifat alami sistim pendidikan yang menghasilkan rasa tidak enak badan karena ini adalah sistim baru di dalam mana harus mulai karier-karier mereka. Awal dengan singkat menguji asal-muasal sejarah dari struktur yang ada sekarang dari penguasaan sekolah.

3.4.    LINGKUP DAN STRUKTUR DARI PENGUASAAN SEKOLAH
Di suatu analisis kritis dari pendidikan yang publik di dalam pernyataan yang intensif dalam 1943, Morrison (1943) menunjuk struktur nya dengan penuh penghinaan seperti (ketika "New England terlambat; Almarhum Colrinial" (hal 258) dan menggambarkan daerah sekolah tersebut sebagai "Suatu republik yang kecil pada setiap persimpangan-persimpangan" (Hal 75). Morrison sedang mengutamakan suatu karakteristik dari sistem dari pendidikan Amerika yang membuat  publik yang unik di antara sistem persekolahan dari desentralisasi dunia. Di sini kedua kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan. Sistem terpusat adalah lebih banyak ahli dibanding dengan sangat yang dipusatkan dan mereka birokratis pada pengerahan energi-energi dari unsur-unsur mereka dan mengadaptasikan kurikulum dan sistem intervi kepada keaneka ragaman unsur-unsur mereka. Namun sistem desentralisasi mempunyai suatu kecenderungan untuk menjadi yang tidak adil, menyediakan kualitas layanan yang tidak seimbang. Sekolah-sekolah yang baik di suatu sistem desentralisasi cenderung menjadi sangat, sangat baik; byt sistim yang demikian juga generates-and tolerates-very sekolah-sekolah miskin. Sempurnakan suatu derajat tingkat yang lebih besar dari hak kekayaan dan patokan-patokan secara minimal sosial bisa diterima diatur memerlukan dari tingkat yang lebih tingginya dari pemerintah, yaitu menyatakan andor pemerintah pusat. Ini mempunyai sedang terjadi dengan meningkatkan frekuensi di atas lima puluh tahun karena Morrison membuat analisa.
Perhatian kolektif di atas pendidikan formal biji yang muda kepada permulaan penyelesaian orang Eropa dari Amerika Serikat kontinental. Massachusetts terutama sekali berpengaruh di dalam menentukan pola untuk pendidikan yang publik. Itu adalah Massachusetts Colony bahwa pertama diperlukan orang tua untuk melatih anak-anak mereka di dalam membaca dan menulis, kota-kota pertama yang diperlukan untuk menetapkan sekolah-sekolah, pertama menyediakan dana kolonial penetapan dari sekolah-sekolah, dan pertama diizinkan kota-kota untuk menggunakan pendapatan dari perpajakan harta untuk mendukung pendidikan yang diterima di sekolah. dari  ini tercapai di hadapan 1650. Kejadian ini, bagaimanapun, harus yang ditafsirkan untuk memecahkan hubungan timbal balik antara pemerintah dari Massachusetts Colony dan Congregational (Puritan) Gereja. pemilikan Hak Pilih dan kantor dibatasi pada anggota gereja [jantan/pria], suatu minoritas populasi yang total. Pajak kekayaan bahwa mendukung sekolah tersebut juga, didukung gereja dan pendeta nya,  "rumah pertemuan" bertindak sebagai sekolah tersebut seperti juga gereja dan salam kota (Johnson, 1904). Hal ini awal pola dari kendali masyarakat dari sekolah-sekolah di Mass. achusetts meninggalkan cetakan nya atas organisasi pendidikan yang publik di dalam Amerika Serikat hari ini meski koneksi antara gereja dan negara sudah dipotong..
Beberapa dari pengarang-pengarang dari Konstitusi Amerika Serikat dalam 1787 mempunyai kepercayaan-kepercayaan dipastikan sekitar pentingnya satu keseluruhan penduduk yang dididik kepada sukses dari republik yang baru. Tetapi .Konstitusi, tenang tentang pendidikan; dan. Tenth Amendment itu kepada Perjanjian Hak Asasi Manusia meyakinkan bahwa kuasa-kuasa tidak secara rinci mendelegasikan kepada pemerintah pusat itu  adalah "yang terpesan kepada States berturut-turut, atau kepada orang-orang." Tenggelam, seperti yang dikejar ketetapan pendidikan yang publik di tingkatan status(negara. Di dalam Notes nya di State dari Virginia, yang yang ditulis dalam 1781-1782, Jefferson (1968) membantah ketika yang dipercayai 10 para penguasa dari orang-orang sendirian: Orang-orang oleh karena itu hanya bank penerima deposito udara yang aman nya. Dan untuk memandang bahkan mereka menyelamatkan, pikiran mereka jadilah Di dalam mencari-cari dana tambahan untuk pendidikan dari New York Menyatakan Badan pembuat undang-undang, Gubernur DeWitt Clinton (1909) mencatat pentingnya sponsor negara pendidikan di suatu demokrasi:
Tugas yang pertama dari. dan bukti surest dari pemerintah yang baik, adalah encow'agemeni pendidikan. Suatu jenis pengetahuan adalah pendahuluan, tanda dan pelindung dari yang pendukung republik dan di dalamnya kita harus mempercayai ketika couseruagice menggerakkan bahwa akan watcb cver kebebasan-kebebasan kita. melawan terhadap penipuan, kebusukan dan kekerasan.
Di suatu penawaran yang putus-asa dalam 1834 untuk selamatkan perundang-undangan sekolah yang ditetapkan baru-baru saja dari pencabutan dari pemotong-pemotong pajak, Thacideus Stevens (1900), secara penuh sadar akan hal luar pendidikan yang publik, yang dinyatakan dengan sederhana yang umum yang untuk direalisir dari pajak Stevens meneruskan perjalanan kekoneksi antara pendidikan dan pencegahan kejahatan dan berargumentasi bahwa nya adalah lebih bijaksana. lebih murah dan lebih peramah untuk membantu "yang pergi untuk mendukung sesama manusia nya dari menjadi suatu penjahat, dan untuk menyingkirkan keperluan penghinaan itu lembaga; institusi." Ini adalah suatu tema yang biasanya diulangi bahkan hari ini.
Jadi; Dengan demikian, dari permulaan negeri, sosial pentingnya pendidikan dikenal oleh sebagian dari para warganegara paling yang berpengaruh nya dan ketetapan nya dibuat dengan sengaja; seksama suatu fungsi negara, bukan pemerintah pusat. Kendali terpusat pada status(negara atau tingkatan-tingkatan pemerintah pusat bukan feasthle di dalam berabad-abad ke sembilan belas dan kedelapanbelas oleh karena pembubaran populasi, makna yang primitif komunikasi, dan yang umum ketiadaan sumber daya. Daerah sekolah tersebut ditemukan untuk menciptakan dan mengatur sekolah-sekolah di bawah kondisi-kondisi ini. Cubberley (1947) menafsirkan menyebarnya konsep daerah sekolah tersebut di seluruh negara.
Sebagai satu yang administratif dan pajak menjadi layu nya yang sungguh disesuaikan untuk kebutuhan-kebutuhan dan kondisi-kondisi yang primitif awal hjfe nasional kita. Antar suatu populasi jarang dan penyair pedesaan aktip kerja, antara pergaulan/perhubungan yang dibatasi dan komunikasi satu dengan lain sulit, dan dengan yang dukungan dari sekolah-sekolah adalah sebagai dokter hewan satu pertanyaan yang belum mapan, lokal, kendali menjawab suatu kebutuhan Kesederhanaan dan dari sistim itu adalah satu tentangnya pemimpin pantas menerima atau lingkungan-lingkungan yang ingin dan mau membayar mereka bisa dengan mudah temu dan suatu daerah sekolah, suara untuk mengadakan suatu sekolah pajak atas mereka sendiri. pekerjakan suatu teacber dan mengorganisir dan memelihara suatu sekolah. Sebaliknya. masyarakat-masyarakat yang tidak menginginkan sekolah-sekolah atau enggan untuk mengenakan pajak diri mereka bagi mereka dapat melakukan, dan menyilahkan cuma-cuma gagasan sekolah sendirian (pp. 212-213). poin-poin uraian Cubberley kepada satu sistim daerah ketika uni versal pendidikan menjadi kebijakan dari suatu keadaan. Sistim daerah bekerja baik bagi yang rela dan mampu, tetapi bagi mereka yang enggan, tidak ada kepemimpinan itu untuk mengorganisir suatu daerah, dan bagi mereka yang tidaklah mampu. tidak ada sumber daya. Ketidak-adilan sistim daerah menjadi nyata bahkan selama periode yang kolonial, tetapi dengan meningkatkan konsentrasi kekayaan modal dirough industrialisasi dan urbanisasi. ketidak-adilan menjadi jauh lebih parah; sulit; keras; berat di dalam berabad-abad yang keduapuluh dan ke sembilan belas.
Usaha-usaha untuk menunjuk ketidak-adilan ini mulai di dalam abad yang ke sembilan belas melalui kekhilafan negara yang lebih besar, permulaan bantuan dan dorongan dari konsolidasi daerah sekolah. Daerah-daerah bahwa . menjadi ada, bagaimanapun. kesetiaan dengan cepat yang terlampir kepada prestasi-prestasi mereka dan membutuhkan besar merasa bangga atas mereka dengan hasil tiut mereka tidaklah mau mendengarkan kepada kritik dari usaha-usaha mereka dari negara dan semua batasan menempatkan atas mereka. Mereka yang bidang-bidang memilih bukan untuk mengoperasikan suatu sekolah umum dengan sama resistan kepada yang eksternal pitssure untuk melakukannya, terutama ketika itu melibatkan perpajakan.
Dalam satu usaha untuk menetapkan pesanan ke luar dari kekacauan. nyatakan dewan pendidikan dibentuk dan yang dilengkapi dengan satu petugas eksekutip. negara untuk mengambil tindakan seperti itu adalah New York dalam 1812. Seperti kesaksian kepada sifat yang sensitip dari posisi, Superintendent pertama milik New York yang Instruction melayani sampai 1821 ketika kantor itu dihapuskan. Suatu kantor yang serupa 'tidak diciptakan di dalam New York sampai 1854. Horace Mann, Secretary yang pertama kepada Dewan Education Massachusetts, menumbuk kesukaran yang serupa; bagaimanapun, usaha-usaha untuk memecahkan kantor nya dan itu gagal. pergi daerah-daerah sekolah pertama melalui konsolidasi itu di dalam kota-kota. 'Sementara Inggris yang baru adalah dengan daerah-daerah sekolah mereka dari awal, ini tidak pada umumnya benar dari kota-kota lebih barat. kota yang pertama untuk mempekerjakan suatu dari sekolah-sekolah, bertindak sebagai suatu ilustrasi yang baik. Meski itu mempunyai sekolah swasta sekolah yang pertama yang didukung oleh pajak dibentuk dalam 1818. Oleh 1837, kota tersebut mempunyai 15,000 dan daerah-daerah sekolah guru. Tahun itu. suatu pengawas dari sekolah-sekolah ditetapkan untuk mensupervisi dan untuk mengkoordinir tujuh sekolah itu, untuk menetapkan sekolah-sekolah di dalam kearah utara dari kota tersebut yang adalah tanpa sekolah-sekolah, dan untuk menghidupi suatu sekolah menengah yang pusat. Detroit, Chicago, dan Cleveland mengikuti pola-pola yang serupa. Beberapa kota-kota di dalam daerah barat amerika melanjutkan praktek dari daerah-daerah sekolah yang ganda di dalam kota tersebut membatasi.
Tradisi kendali lokal tetap kuat, hanya ketidak-adilan yang tidak bisa dipisahkan dalam  kebijakan yang demikian adalah suatu penyebab utama dari sistim itu (Kozol, 1991). Memuaskan perhatian-perhatian nasional bidang pendidikan selagi mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan dan prioritas-prioritas lokal yang unik tinggal suatu dilema.

3.5.    PENGUASAAN SEKOLAH
Mempola penguasaan melembagakan suatu jaringan sumber daya bidang pendidikan yang tersedia bagi masyarakat-masyarakat sangat berbeda himpunan-himpunan berbeda dari sangat minat. Sementara seluk-beluk bertukar-tukar dari status(negara untuk menyatakan, pola yang dominan penguasaan bidang pendidikan yang sudah meningkatkan menyediakan lima tingkat pengaruh pemerintah pusat, negara, , daerah-daerah sekolah, dan Otoritas untuk membuat kebijakan dipusatkan pada dua tingkatan ini: daerah negara dan sekolah tersebut.
Primer tingkat otoritas adalah negara, seperti yang diwakili oleh badan pembuat undang-undang, gubernur, negara dewan pendidikan dan pengawas, departemen pendidikan negara, dan negara meramahi. Tingkatan ini bertanggung jawab atas menetapkan kebijakan dasar untuk sistim, termasuk pembiayaan nya, dan mengatur dan mengkoordinir komponen-komponen nya. Pertimbangan-pertimbangan struktural biasanya menghadiri kepada melalui perundang-undangan formal yang disertai gubernur dan badan pembuat undang-undang.
Kekhilafan dari hukum pendidikan di dalam pertimbangan yang diizinkan didelegasikan kepada negara dewan pengawas pendidikan dan negara dari sekolah-sekolah. Nyatakan dewan pendidikan paling umum ditugaskan oleh para gubernur, walaupun beberapa terkenal dipilih. Di Dalam New York dan Selatan Carolina mereka dipilih oleh negara legisLatures dan di Washington, mereka dipilih oleh para anggota dewan sekolah lokal. Pemimpin menyatakan petugas sekolah (CSSO) bertindak sebagai kepala dari departemen pendidikan negara dan dalam banyak kasus adalah pimpinan eksekutive dari dewan sekolah negara. CSSO itu adalah paling umum suatu pendidik yang profesional ditugaskan oleh negara dewan pendidikan, meski dalam beberapa negara ia atau dia ditugaskan oleh gubernur dan terkenal memilih di pihak lain. Departemen-departemen pendidikan negara adalah para agen yang administratif bahwa pesawat hukum pendidikan dari negara dan kebijakan-kebijakan dari dewan sekolah negara. otoritas Berlatih negara mereka diatas pendidikan yang publik melalui  konstitusi-konstitusi laporan umum mereka bahwa dalam beri otoritas badan pembuat undang-undang negara untuk menetapkan suatu sistim dari sekolah negeri. Sebagai contoh, New Jersey Constitution menyediakan bahwa negara akan menyediakan "efisien dan saksama" sistim pendidikan. Sebagian terbesar, detil dari penguasaan sekolah, yaitu., prosedur-prosedur untuk menetapkan, membiayai, dan mengatur school-districts, sertifikasi guru, dll., dibentuk oleh anggaran dasar yang ditetapkan oleh negara Legislatures atau peraturan-peraturan yang dibentuk oleh negara dewan pendidikan; Ini mengizinkan negara banyak fleksibilitas di dalam memperbaiki struktur-struktur penguasaan sekolah tanpa, lulus proses yang susah perkembangan konstitutional. yang kedua tingkat otoritas adalah yang lokal yang dipenuhi menerapkan kebijakan negara School daerah-daerah diatur oleh. dewan pendidikan bahwa berfokus kepada penyerahan jasa bidang pendidikan. Kebanyakan sekolah boardsare bebas secara fiskal. yaitu., mempunyai otoritas pajak walaupun beberapa secara fiskal tergantung pada unit yang lain dari pemerintah lçcal seperti kota tersebut atau daerah/propinsi. Timbunan sekolah, para anggota pada umumnya dipilih di dalam, walaupun beberapa para anggota ditetapkan, terutama di dalam kota-kota yang lebih besar. Salah satu dari tanggung-jawab yang paling penting untuk menugaskan suatu pengawas dari sekolah-sekolah untuk bertindak sebagai pejabat penanggungjawab dari daerah sekolah tersebut dan untuk mensupervisi personil profesional dan dukungan nya.
Sekolah tersebut adalah unit operasi yang dasar; tetapi tingkatan ketiga ini, sampai baru-baru ini, pertimbangan biasanya kecil, sebagaimana yang dibatasi oleh kebijakan-kebijakan merumuskan pada yang tingkat yang lebih tinggi. Cakupan pertimbangan di tingkatan sekolah adalah mungkin untuk meningkat di masa datang seperti(ketika pengelolaan tapak sekolah dan penguasaan ubah diterapkan. Pertimbangan ini mungkin tidak selalu ditempatkan di dalam tangan-tangan profesional, bagaimanapun. [seperti] yang telah mencatat, di Chicago, sudah dipercayakan ke tingkatan sekolah menumpang itu mempunyai penyajian profesional, tetapi dikendalikan oleh meletakkan orang-orang.
Unit daerah adalah eselon pertengahan di dalam sistim suatu keadaan, bertindak sebagai satu lengan tangan dari negara selagi melaksanakan jasa untuk bergabung daerah-daerah sekolah dari suatu daerah. Organisasi nya aad penguasaan bervariasi dengan jelas dari negara untuk menyatakan dan beberapa sistem negara tidak indude setiap unit. Itu pada umumnya tidak memiliki langsung atau otoritas operasional di atas daerah-daerah sekolah lokal, tetapi boleh memudahkan fungsi-fungsi negara pengatur. Itu menyediakan pengawasan dan administratif tertentu berfungsi sebagai sumur sebagai program-program dan jasa bidang pendidikan yang pengganti di mana ekonomi substansiil dari skala dapat direalisir seperti halnya pendidikan bersifat jabatan, pendidikan sungguh orang cacat jasmani, pengembangan staff, dan jaringan informasi pemeliharaan dan sistem.
Yang ke lima tingkat penguasaan adalah pemerintah pusat. Sementara Konstitusi Amerika Serikat tenang tentang pendidikan, tanggung jawab sisa-sisa untuk itu kepada negara, dari waktu ke waktu Congress mengerjakan lewat perundang-undangan di bawah otoritas nya untuk menghidupi "Welfare yang umum,' pertahanan nasior, dan perlindungan hak-hak warga negara. Office Education, lebih baru-baru ini diupgrade kepada Department Education. diciptakan di dalam Executive Branch itu kepada hukum adminiSter pemerintah pusat dan untuk statistik. Secretary Education, yang memimpin  Education, adalah ditugaskan oleh presiden dengan persetujuan rapat besar. Retary itu adalah seorang anggota presiden itu meramahi adalah diktator-diktator
Konstitusi Negara. Proses pengadilan mengenai penghapusan perbedaan suku dan sekolah membiayai ketidak-adilan sudah melibatkan kepada lembaga; institusi mengendalikan pemerintah pusat dari siapapun depriving tentang hidup, kebebasan atau harta tanpa tiba proses dari hukum" Segera sesudah itu diadopsi untuk meluas pengekangan ini kepada negara. Perkembangan juga mengendalikan negara dan  mereka, termasuk pejabat-pejabat sekolah, dari orang perlindungan yang sama hukum."
Tidak seperti banyak negara-negara di dalam dunia, religtously bergabung elementer dan sekunder tidak diizinkan untuk menerima monies publik di dalam Amerika Serikat, meski anak-anak yang menghadiri sekolah-sekolah seperti mungkin punya akses kepada jasa di depan umum menyediakan terutama transportasi dan beberapa jasa yang mengganti rugi. Dasar untuk pengecualian dana-dana negara ftr yang dengan taat diorientasikan sekolah-sekolah adalah suatu penafsiran yang sempit oleh pengadilan-pengadilan dari Pertama-tama Perkembangan yang negara itu "Konggres akan membuat tidak ada hukum menghormati satu penetapan agama, atau melarang latihan yang cuma-cuma daripadanya." Ketetapan ini negara tle dapat digunakan untuk yang dibuat oleh Fourteenth Amendment; gubuk thany menyatakan Constitutions mempunyai [ketentuan/perbekalan] mereka sendiri yang bersifat lebih sedikit yang rancu, (dengan) jelas menyatakan larangan pemakaian dana-dana negara atau kredit di dalam dukungan tentang segala aktivitas yang termasuk operasi sekolah-sekolah, yang disponsori oleh kelompok-kelompok yang religius.
Variasi di dalam organisasi penguasaan sekolah antar negara dan di dalam negara lebih besar dibanding diskusi tersebut akan suggest4-1awaii adalah status(negara oni o berfungsi sebagai suatu unit dan, dengan 165000 siswa. itu adalah lebih kecil dibanding sejumlah daerah-daerah chv yang besar. Texas mempimpin negara dalam jumlah dari daerah-daerah sekolah dengan 1,087. Dari thec. 1,061 secara fiskal trc yang mandiri. Lagi dua puluh enam secara fiskal tergantung di  unit yang lain tersebut  dari pemerintah lokal menghidupi dukungan mereka yang keuangan. California mempunyai 1,028 daerah sekolah yang termasuk 271 yang  bersatu?dipersatukan (hidupi para murid di dalam semua kelas K-12), 645 yang operasikan sekolah dasar saja, dan 112 yang operasikan sekolah menengah saja (Ikan salem. Dawson, Lawton. &Yohanes, 1988, p.44). (di) atas separuh dari daerah-daerah sekolah california mendaftarkan/mengerahkan lebih sedikit dari 500 murid.
Daerah-daerah sekolah kecil bukanlah hanya suatu peristiwa dari daerah pedesaan yang remote; ada secara harfiah ratusan di dalam kota-kota daerah/propinsi-daerah/propinsi utama melingkupi yang metropolitan. Di dalam membagi-bagi masyarakat-masyarakat metropolitan, keaneka ragaman besar ditemukan antar daerah-daerah sekolah dan kotamadya di dalam   yang kesukuan mereka dan komposisi rasial dan di dalam  kemampuan mereka untuk mendukung jabatan dalam pemerintahan. Meja 34 menggambarkan hal ini untuk unit-unit yang terpilih di antara bagian-bagian Daerah/propinsi Los Angeles;  California (US. Departemen dari Cornnierce, Kantor dari Census, 1992). Kotamadya ini tidak perlu coterminous dengan daerah-daerah sekolah, tetapi suatu perbedaan yang serupa ada antar daerah-daerah sekolah.
Pendapatan keluarga median bergerak dari $22279 di Cudahy sampai S101,320 di Palo Verdës Estates. Populasi Cudahy mempunyai suatu usia yang median 235 mobil;  30 -persen wei-e putih, 1 persen African-American dan 69 persen dari yang lain rasial dan kelompok etnik. Sixtyeight persen (68%) dari populasi orang dewasa dan 45 persen dari populasi usia sekolah tersebut berbicara bahasa Inggris dengan kurang baik atau sama sekali tidak. Hanya 31 persen adalah sekolah menengah lulus. Nilai tengah dari pemilik menduduki perumahan adalah $153,500 dan sewa cOntract yang median adalah
Di dalam kontras. usia yang median  itu tinggal di Palo Verdes Fstatcs wds -145 dan 85 persen putih. OnI)' 1 persen adalah AfricanAmerican dan 14 persen mewakili kelompok minoritas lain. Thirty-foUr persen (34%) dari populasi yang usia sekolah dan 38 persen dari populasi orang dewasa berbicara bahasa Inggris dengan kurang baik atau sama sekali tidak. Hampir semua dari populasi orang dewasa telah lulus dari sekolah menengah. Nilai tengah dari pemilik menduduki perumahan selesai $500,000 dan kontrak yang median menyewa selesai $1,000 per bulan dalam 1990.
Di examinIng meja . lebih lanjut, . lain contoh-contoh dari pemisahan kesukuan dan yang socin-economic dengan mudah ditemukan. Hawthorn menunjukkan keseimbangan terbaik antar kelompok etnik. Sebaliknya, selagi 11 persen dari populasi daerah/propinsi adalah African-American, kurang dari 3 persen dari populasi di Agoura Hills, Artesia, Beverly Hills, Palo Verdes Estates, Cudahy, dan Baldwin Park adalah African-American. Sementara 59 persen dari populasi daerah/propinsi putih yang digolongkan, (di) atas 90 persen dari populasi di Agoura Hills dan Beverly Hills bersifat putih. Thirty-two persen (32%) dari populasi daerah/propinsi digolongkan sebagai '. lain," tetapi persentase menjangkau hampir 70 persen. di Cudahy. Dengan sekolah negeri dari daerah/propinsi membagi di suatu pertunjukan yang serupa, idaman dari pendidikan yang diterima di sekolah yang terintegrasi atau yang umum adalah sulit untuk diwujudkan?menyadari.
Suatu kebijakan yang berbeda dari banyak organisasi daerah sekolah dibanding California's, hanya lebih sedikit yang umum, digambarkan oleh Maryland. sekolah Maryland. disrrkts busur lingkaran/lingkungan yang diorganisir oleh daerah/propinsi dan Kota Baltimore. Itu mempunyai 24 sekolah disthcts, semua yang secara fiskal tergantung. Daerah/propinsi organizadon berlaku di dalam. bagian tenggara regio dari negeri; Florida, sebagai contoh, mempunyai 6scally daerah-daerah sekolah yang mandiri dan Alabama mempunyai 129 daerah-daerah sekolah secara fiskal tergantung. Beberapa negara yang barat juga mengikuti suatu pola yang regional dari organisasi daerah sekolah. Nevada mempunyai 17 daerah-daerah sekolah secara fiskal yang mandiri, dan Wyoming mempunyai 49 daerah [di/yang/ttg] mana 10 bebas secara fiskal (Ikan salem et al., 1988). Ada sangat sedikit ketidaksamaan antar daerah-daerah sekolah sejauh keuangan dan oker proyisioris di dalam negara daerah-daerah siapa diorganisir sepanjang bentuk daerah/propinsi dibanding di dalam daerah-daerah status(negara siapa diorganisir ke dalam unit-unit subcountv.
Hari ini mewakili; menunjukkan ekonomi utama, sosial, dan komitmen-komitmen budaya di dalam Amerika Serikat. Belanjaan tahunan di elementer dan sekolah menengah yang publik adalah tentang seperempat dari suatu dolar-dolar yang trilyun, pembuatan pembelanjaan-pembelanjaan untuk pendidikan komponen budgeter tunggal paling besar dari status(negara dan pemerintah-pemerintah lokal (NCES, 1989). Empat dan three-tenths persen (43%) dari Produk Domestik Kotor (GDP) dibelanjakan di elementer preprimary dan pendidikan yang diterima di sekolah sekunder di dalam pribadi dan sektor publik kombinasikan (36 persen di dalam sektor publik sendirian) bandingkan dengan 26 persen di Jepang dan Jerman, 33 persen di dalam Kerajaan Inggris, 35 persen di Prancis, dan 38 persen di Canada (NCES, 1993c, p.140j. Sekolah-sekolah mendaftarkan/mengerahkan 47,600,000 murid (NCES, 1993a, p.37) dan mempekerjakan hampir 45 juta personil pendidik dan dukungan profesional (NCES, 1991a, p.ii). Dalam 1985, daerah sekolah mempekerjakan 265 persen dari semua workers-more yang publik dibanding yang manapun status(negara atau pemerintah pusat. Termasuk para murid yang didaftar, tentang nya di dalam setiap lima orang di dalam Amerika Serikat dilibatkan secara langsung di dalam elementer formal dan pendidikan sekunder.
Gambar 33 menunjukkan trend yang nasional di dalam sumber pendapatan untuk elementer yang publik dan pendidikan sekunder untuk periode 1890 sampai 1990. Dalam 1890, 79 persen dari pendapatan untuk sekolah negeri berasal dari sumber lokal, terutama pajak kekayaan. Negara menyediakan sisanya. Oleh 1988, 47 persen dari pendapatan sekolah yang l)ubLic disediakan oleh negara, 47 persen datang dari sumber lokal, dan 6 persen dari pemerintah pusat. Tahun puncak untuk keikutsertaan pemerintah pusat di dalam pembiayaan sekolah negeri adalah 1979 dan 1980 ketika itu menyediakan 98 persen dari pendapatan mereka (NCES, 1993b, p.32).
Gambar 34 menunjukkan trend di dalam mengoperasikan pembelanjaan-pembelanjaan per pupi[ untuk sekolah negeri karena 1971 di dalam arus dan di dalam dollar konstan menyatakan dalam kaitan dengan?dengan menggunakan istilah 1992-93 daya beli. Di dalam dolar-dolar yang ada, per pembelanjaan-pembelanjaan murid sudah meningkat (di) atas enam belas [kali] lipatan dari S32() dalam 1971 sampai 55149 dalam 1993. Mempertimbangkan barang kepunyaan inflasi, pembelanjaan-pembelanjaan sudah meningkat (di) atas  5 kali dari $960 ke $5,149 (NCES, 1993a, p.46). Pembelanjaan meningkatkan antara 1950 dan 1970s yang terlambat; almarhum buka peluang belanjaan bidang pendidikan untuk bisa seiring dengan inflasi dan untuk mempertimbangkan ahli penting-grana cansions dan perbaikan-perbaikan. Dedine yang sedikit di dalam dollar konstan pada awal 1980s (lihat Gambar 34 menandai (adanya) menurunkan habiskan. ing untuk sekolah-sekolah sehubungan dengan peningkatan-peningkatan di dalam biaya hidup; pertumbuhan pembelanjaan untuk pendidikan yang publik sekali lagi sudah melewati inflasi sejak.
Data di pendaftaran-pendaftaran publik dan sekolah swasta dipertunjukkan di dalam Gambar 35 untuk periode 1970-1989 dengan proyeksi kepada 2001. Pendaftaran sekolah negeri di tingkatan yang dasar (K-8) adalah di puncak mereka dalam 1970 hampir 33 juta murid; tingkatan sekunder (9-12) pendaftaran mencapai puncak dalam 1976 pada 143 juta. Kemunduran yang berikut di pendaftaran-pendaftaran elementarv membalikkan dalam 1985, dan miliki sedang meningkatkan karena. Pendaftaran-pendaftaran sekunder mulai meningkat lagi; kembali dalam 1991 (NCES, 1993c, p.321).
Pendaftaran di dalam kelas-kelas yang dasar mencapai puncak dalam 1964 untuk sekolah swasta pada 45 juta; mereka sekarang ini pada sekitar 43 juta :rnd diproyeksikan untuk bangkit kembali kepada 45 juta pada akhir abad. Pendaftaran di bunga mawar tingkatan yang sekunder kepada 14 juta selama periode 1981-1984, tetapi sejak itu telah merosot kepada 12 juta. Pendaftaran-pendaftaran sekolah swasta sekunder diproyeksikan untuk menjangkau 14 juta lagi; kembali awal di dalam millennium yang baru. Persentase of,,pupils mendaftarkan sendirian sekolah-sekolah sudah tinggal antara 10 dan 12 persen untuk periode 1970-1990 (NCES, 1993c, p.321).
Meski banyak ketakutan satu kepergian banyak orang dari para siswa dari publik ke sekolah swasta, tidak ada bukti yang ada bahwa  ini kejadian. Persepsi pertumbuhan sekolah swasta bisa disebabkan oleh komposisi pergeseran pribadi. pendaftaran-pendaftaran sekolah. Dalam 1966, 875 persen dari 6.369.807 murid sendirian sekolah-sekolah didaftar di sekolah-sekolah Katolik; oleh 1983, hanya 571 persen dari 5,305,041 murid sekolah swasta adalah dalam  sekolah-sekolah yang sedemikian ( Tukang tong, 1988). Pendaftaran di sekolah-sekolah Katolik sudah meneteskan?jatuh 46 persen selagi meningkatkan 186 persen di dalam sekolah-sekolah yang tidak katolik. Pendaftaran di dalam sekolah-sekolah evangelis mendekati satu juta dalam 1983, satu peningkatan karena 1966 dari 627 persen. (di) atas separuh dari sekolah swasta dan 28 persen dari pendaftaran-pendaftaran mereka dihubungkan dengan Protestan gereja-gereja dalam 1983.
Untuk melayani 45 juta murid di muka umum sekolah-sekolah. daerah-daerah sekolah lokal mempekerjakan padanan fulltime (FTH) dari 44 juta orang [di/yang/ttg] mana 23 juta adalah para guru kelas. Ada 477,000 intervi mendukung personil termasuk ajudan-ajudan, penasihat-penasihat bimbingan, dan pustakawan-pustakawan dan 200,000 pengurus dan para penyelia. Kesekretariatan dan pekerjaan klerk, media persànnel, driver bus, para petugas keamanan, para pekerja rumah makan, dll. jumlah hampir 14 juta.
Pientage dari staf total yang adalah para guru kelas meneteskan?jatuh dari 70 persen dalam 1950 sampai 53 persen dalam 1989. Proporsi pengurus-pengurus di dalam .1989. apakah 45 persen; staf dukungan profesional hanyalah di bawah 11 persen dan staf dukungan lain, 32 persen.. Proporsi karyawan profesional. para guru dan administrator5 miliki. Dikurangi dari tahun ke tahun selagi proporsi personil dukungan yang tidak bersertifikat sudah meningkat dari 23 persen dalam 1950 (NCES, 1990, p.88).
Meskipun pendaftaran-pendaftaran kemerosotan di muka umum sekolah-sekolah karena 1971, nomor yang total pendidik-pendidik profesional sungguh telah diningkat. Ini sudah menghasilkan suatu kemunduran yang berkesinambungan di perbandingan-perbandingan PUPIl/Professional dari 256 sampai nya di dalam 1961 sampai 172 sampai nya dalam 1990. Ada suatu penurunan yang sesuai ukuran kelas yang median (NCES, 1988a, pp. 102-103). Statistik ini dilaporkan di Table 35.
Merosot pendaftaran-pendaftaran murid mengumumkan masa surplus guru dan memperlemah dukungan untuk pertumbuhan di dalam gaji guru. Trend di dalam gaji guru, 1960-1992, ditunjukkan di dalam Gambar 36. Sementara gaji guru rerata tetap naik dari $10,174 dalam 1973 selama pendaftaran-pendaftaran puncak ke(pada $34934 dalam 1992, daya beli mereka tidak bisa seiring dengan inflasi untuk sebagian besar periode. Yang dinyatakan dalam kaitan dengan?dengan menggunakan istilah daya beli dollar dalam 1992, 1973 gaji adalah setara dengan $33,345. Dari titik bahwa tinggi, daya beli rerata, gaji guru merosot ke(pada suatu yang rendah dari $28,577 dalam 1981 ketika kecenderungan itu  dibalikkan (NCES, 1993a, p.419). Salaçies menyetorkan ke rekening 1992 yang diwakili suatu nilai tertinggi baru di dalam daya beli guru. Meskipun semua guru di dalam suatu daerah sekolah normalnya dibayar menurut suatu jadwal gaji, para guru sekunder rata-rata tentang $1400 lebih dari (sekedar) para guru yang dasar di dalam gaji yang mencerminkan pendidikan mereka yang formal lebih besar dan merasakan. Gaji permulaan rerata dalam 1992 adalah $23,054. melebihi pembelian kuasa(tenaga tentang segala periode yang sebelumnya. Dengan pendaftaran-pendaftaran increasirig dan dengan meningkatkan angka-angka dari pensiun-pensiun dari para guru dalam jabatan, permintaan untuk para guru yang baru adalah mungkin untuk melanjutkan untuk bersifat kuat untuk sisa dari gaji abad dan guru perlu melanjutkan untuk meningkatkan pada satu tingkat yang di atas rata-rata.
Keaneka ragaman antar bagian-bagian politis di tingkatan lokal dan dampak nya atas hak kekayaan di dalam ketetapan peluang bidang pendidikan untuk anak-anak telah dibahas di atas. Ketidak-adilan itu ditambah(diperparah oleh suatu pola yang serupa antar negara. Ini digambarkan oleh 1992 statistik melaporkan di Table 36 untuk lima puluh negara. Variasi di setiap dimensi: ukuran, kekayaan, pembelanjaan, dan usaha. Pendaftaran-pendaftaran di dalam sistem persekolahan status(negara mencakup dari (di) atas 5,700,000 di California kepada 105,000 di Vermont dan Wyoming. Per kapita pendapatan pribadi, suatu ukuran kaya atau kemampuan untuk mendukung jabatan dalam pemerintahan, cakupan-cakupan dari $26,677 di Connecticut sampai $13,740 di Mississippi. Status(negara dengan yang paling rendah per pendapatan murid adalah Mississippi pada $3,007; Arkansas hanyalah sedikit lebih baik pada $3,095. Tidak termasuk Alaska, figur-figur siapa - disimpangkan oleh satu tidak biasa mahal tentang tinggal, status(negara belanjaan yang paling tinggi adalah New:Jerseyat $7,887-nearly S500() per murid -lebih dari (sekedar)
Mississippi dan Arkansas. Lagi; kembali tidak termasuk Alaska, rata-rata gaji guru mencakup dari S48,229 di Connecticut sampai $23,644 di Selatan Dakota: Perbandingan pupil/teacher adalah paling baik di dalam New Jersey dan Vermont pada 138 sampai nya; paling sedikit yang baik di Utah pada 249 sampai satu yang diikuti oleh California pada 228 sampai nya.
National Center untuk Education Statistics (NCES, 1993c, p.397) ukuran menyatakan usaha untuk mendukung pendidikan publik oleh rasio pendapatan sekolah negeri per murid dalam hubungan dengan per kapita pendapatan. Perbandingan ini, yang disebut indeks dari Pendapatan Sekolah Negeri, diperkenalkan di dalam kolom tangan kanan dari Table 36. Itu mencerminkan apa yang dibelanjakan di sekolah negeri rerata Student sehubungan dengan kesanggupan untuk membayar yang khas wajib pajak .(p. 138). Menurut indeks, Alaska mengusahakan usaha yang terbesar pada 38,2 yang diikuti oleh Vermont pada 349 dan Wyoming pada 345. Tennessee membuat usaha paling sedikit pada 200. Perbandingan melaporkan .Wyoming dan Alaska bisa dipompa oleh suatu proporsi yang tinggi minyak yang menghasilkan harta, pajak yang di atasnya diekspor untuk meminyaki konsumen-konsumen di dalam negara yang lain dan tidak mencerminkan pajak acmally yang dibayar oleh penduduk-penduduk dari Wyoming dan Alaska. Dari 1930 sampai 1972, indeks yang nasional meningkat dengan 117 poin-poin, lebih dari (sekedar) penggandaan. Dari 1972 sampai 1985, indeks itu tinggal yang relatif stabil, berkisar antara 21 dan 23. Sejak itu, indeks sudah meningkat 30 poin-poin atau sekitar 135 persen.
Di dalam bagian ini, kita sudah menggambarkan konteks yang struktural pendidikan di mana para pemimpin hari ini harus berfungsi. Pola umum dari penguasaan sekolah di luar kota-kota kita(kami yang utama adalah satu kecil, pemerintahan sendiri daerah-daerah sekolah yang fungsi di dalam parameter-parameter umum menyimpan status(negara dan pemerintah pusat. Karakteristik-karakteristik sosial dan kesukuan dari ekonomi, populasi-populasi daerah sekolah cenderung menjadi secara relatif homogen di dalam batasan-batasan mereka, hanya sangat berbeda ke seberang batasan-batasan. Meskipun dekade-dekade dari usaha-usaha legislatif dan hal tentang pengadilan untuk menghapuskan perbedaan suku sekolah tersebut dan membuat distribusi sumber daya lebih, tradisi kendali lokal ini sudah mengabadikan keadaan tetap pada suatu saat tertentu. Mengoreksi arus yang tidak adil dari sumber daya selagi memelihara vitalitas.
Apakah Anda percaya bahwa mereka mewakili; menunjukkan tantangan-tantangan yang paling penting kepada sekolah negeri di dalam Amerika Serikat hari ini? Adalah mereka yang terjangkau oleh tahun 2000? Apa yang berubah akan harus buatan .dll.. mentarv dan sekolah menengah dari Amerika Serikat jika sasaran ini (atau sasaran yang anda berpikir lebih penting) adalah untuk direalisir?
Pilihan Amerika adalah suatu produk The National Center di Education dan Economj; suatu organisasi not-forprqfit yang diciptakan untuk mengembangkan proposal-proposal fouilding satu pendidikan dan pelatihan sstem .citfficteni untuk mendukung suatu ekonomi yang nasional yang sangat kompetitif secara internasional This laporan memusat di meningkatkan produktivitas bisnis-bisnis dan industri Amerika, dengan demikian melindungi patokan tentang tinggal para warganegara Amerika. Commission mengamati bahwa tidak ada bangsa sudah pernah; selalu menghasilkan suatu kekuatan pekerja sangat berkwalitas u'itbout pertama menyediakan para pekerja nya dengan suatu educalion umum yang kuat. Dua faktor dikenali sebagai berdiri di dalam  U 'OP tentang menghasilkan suatu higblj' educaied ii 'ork[orce: ketiadaan patokan ct'áear dari achieve,iwnt dan sedikit; beberapa s(z(delzts moilvated untuk bekerja penyair di sekolah. Dokumen laporan scrious,wss dari condiiio,z di mana Amerika Serikat menemukan iielf pujian; rekomendasi hari ini dan buatan-buatan untuk estal,lith,aent standar prestasi bidang pendidikan di tingkatan dan [alat; makna] nasional untuk memenuhi itu srn,zdards.
Pendidikan Minggu adalah "surat kabar dari pendidikan Amerika catatan." Itu riwayat-riwayat kejadian yang utama thai mempengaruhi eJementai' dan secondaiy pendidikan sepanjang Amerika Serikat pada semua tingkat dari pemerintah. Ini adalah suatu sumber acuan yang penting untuk praktisi-praktisi dan para siswa bidang pendidikan yang ingin mengikuti perkembangan [peristiwa; pemandangan] yang bidang pendidikan. Analisis dan pendapat editorial yang mendalam tercakup di pemenuhan nya yang mingguan.
Buku berisi enam belas dokumen di status(negara tbe dari sekolah negeri Amerika yang ditugaskan oleh Phi Delta Kappa, pendidikan yang profesional frater"hr Keduanya kritikus-kritikus sekolah dan pembela/pelindung-pembela/pelindung bersifat represeiited. Penyokong-penyokong termasuk Mikhael Xi rst--a policr analis, Harold Hod,gkinson-a deographer, Denis Doyle-a pendukung futurism dengan Hudson Institute, Daud Berliner-a profesor pendidikan, Nathan Glazer-a sarjana sosiologi, dan Albert Sbanker-President dari Federasi Amerika itu Teachers. Sebagai tambahan terhadap mesin pengupas, buku merekam mendiskusikan ion isu-isu menujukan dan conclusions tiba di. - Jacobson, S.L., & Berne, R. Eds.). (1993). Memperbaiki pendidikan: Muncul pendekatan sys'temic. Ribu Pohon ek, CA cotwin Press.
Para editor sudah merakit satu himpunan yang internasional dari pendidik-pendidik, peneliti-peneliti, dan pemikir-pemikir untuk menguji masa depannya dan saat ini perubahan bidang pendidikan, di seluruh dunia. Potongan-potongan yang asli diorganisir ke dalam tiga bagian. Part aku melihat perubahan sekolah iii United Slates. Bagian ini meninjau ulang efektivitas dari insentif kinerja yang kerjasama, dci profesional elopmenl memprogram untuk para guru, dc'ccn!ra!izalion. nuinage berbasis sekolah. mciii. conn,liin,i' kendali dari sekolah-sekolah,  dan pilihan untuk unsur-unsur. Memisah[Kan Jika fokus-fokus di reftiriii iniliatives luar negeri. Mereka termasuk: effoFts di ingland untuk mendesentralisasi kuasa(tenaga pengambilan keputusan whik kurikulum pemeliharaan nasional dan ascc'ss,nent 5 buritan; usaha-usaha Kanada untuk menghasilkan "cbouls dengan [hati/jantung]" melalui volunteerism;  dan ('[[seni-seni menyalakan suatu Jerman yang wzfied untuk ubah pendidikan ii, order(pesanan untuk bisa seiring dengan politis radikal dan siuia1 trausformations. Memisah[kan III mempertimbangkan; menganggap masa depan dari sekolah ubah untuk memecahkan mengubah realifirS. Pengarang-pengarang mendiskusikan tingkat kepada mana edu(w(irJIzal policj' dan praktek akan terus meningkat 1olliI&c'd. dan like1' dampak praktis dari rliiuc'es mx sekolah-sekolah dan pendidik-pendidik. sumber, kedua-duanya pemerintah dan pribadi, dan [menggambar/menarik] terutama di hasil-hasil dari survei-survei dan aktivitas yang dilaksanakan oleh National Center untuk Education Statistics. ft yang dibagi menjadi tujuh bab: .411 Levels Education, Elementer dan Secondary Education, Post-Secondary Education, Progtams pemerintah pusat untuk Education dan Aktivitas-Aktivitas Yang Berkaitan, Hasil-hasil Education, Internasional Education, dan Learning Resources dan Technology. Ke(pada qua!i,fy untuk pemasukan, material harus di seluruh negara di dalam lingkup dan [tentang] bunga(minat dan nilai yang ada. Digest berisi informasi bermanfaat karena peneliti-peneliti pendidikan dan pengurus-pengurus, pejabat, media, masyarakat bisnis, dan kalayak ramai.
Karena ciptaan nya Pada Bulan Juli 1990, National Education Goals Panel sudah dibangun suatu catatan yang kumulatif kemajuan milik bangsa tersebut terhadap pertemuan sasaran menetapkan pada Charlottesville Education Summit dalam 1989. Pada puncak itu, para gubernur milik bangsa tersebut dan President George Bush bermufakat enam sasaran nasional di dalam pendidikan yang untuk dicapai oleh tahun 2000. Masing-masing tahun di hari ultah dari Charlottesville Summit, Panel mengeluarkan suatu laporan yang menyeluruh kepada bangsa tersebut di kemajuan itu menjadi buatan meraih masing-masing dari sasaran. Tujuan laporan-laporan adalah ini untuk menguatkan kesanggupan untuk sasaran memproses dengan pernyataan di mana kemajuan sudah dibuat dan di mana lebih banyak kemajuan perlu untuk dibuat. Masing-masing laporan tahunan consistsof dua volume: National Report dan State Reports. Volume One melaporkan kemajuan untuk bangsa tersebut secara keseluruhan dan Volume' Dua berisi suatu bagian yang terpisah untuk masing-masing menyatakan.
US. Depatemen Perdagangan, Kantor dari Census. (1991). 1990 sensus populasi dan perumahan. Washington, DC: US. Percetakan Pemerintah. Masing-masing dekade suatu sensus yang saksama diselenggarakan b AS. Departemen dari perdagangan dari karakteristik-karakteristik populasi milik bangsa tersebut, termasuk notulen co,,dit di mana orang-orang tinggal. Data dikumpulkan dilaporkan di dalam volume-volume yang terpisah pada tingkat pengumpulan dan di var3'iilg amowits dari detil. Di verj' paling sedikit, memisahkan voltunes ada tersedia karena masing-masing menujukan dan untuk masing-masing bidang metropolitan utama. Di dalam masing-masing volume i,zforznation disediakan untuk bagian-bagiannya yaitu C'ensus informasi menyediakan pengurus-pengurus publik. termasuk sc!ool adminislrators, dengan informnauon tentang masyarakat-masyarakat mereka yang untuk membuat keputusan-keputusan kebijakan yang diberitahukan. Untuk peneliti, data sensus ada tersedia di tape yang mnag,melic untuk komputer aalrsis di dalam mcb detil lebih besar dari 1m7 bentuk yang diterbitkan.
Komisi pengawas Yayasan/Pondasi Gram di Work, Fanid v dan Citizenship. (1988). Yang dilupakan separuh l'atbwars ke sukses untuk .4mcrica s vouth dan jrmmzçfa,mmi/ies. Washington. DC: Pengarang. Mengenali kebutuhan dari anak remaja yang lebih tua di suatu chan-ing socielr, W T Mewariskan(Mengabulkan Yayasan/pondasi ('.cta!,!ishL'd conunission di lVork, Keluarga dan t',itizemisbip dalam 1986. 411cr suatu Iwo-rear belajar, laporan itu akhir diterbitkan didasarkan pada ,iunzerous [mengontrak/memendekkan] sttha.zal','se.s, nta,zv [di/yang/ttg] mana adalah juga diterbitkan oleh C'ommission.. Gommission itu tidak terlibat dalam riset baru, tetapi yang dicari ke(pada pengetahuan cr-aluate yang ada. rangsang s,eu' gagasan-gagasan, dan meningkatkan komunikasi antar peneliti, practit penyendiri-penyendiri, dan policj mizakers. Fokus dari komisi pengawas 's perhatian di 50 persen dari .4mnerican yang muda yang tidak terus-kan ke perguruan tinggi. Komisi pengawas menyimpulkan bahwa ada terlalu manusia' Orang Amerika muda yang menggelepar dan uhfsnatelj'fai! Di dalam  usaha-usaha mereka untuk melayari jalan lintasan dari yang muda ke kedewasaan. "Separuh dari yang muda kita(kami dalam bahaya dari mahluk menangkap di suatu yang raksasa mengikat bahwa dapat menyangkal mereka keikutsertaan penuh di dalam societ kita(kami dan manfaat yang penuh dari bakat-bakat mereka sendiri" 6°. 1). Laporan menyediakan pendukung dokumentasi bahwa statemen dan recommendat notulen kebijakan yang dirancang untuk mencabut mengikat.
BAB 4
Dampak dari prinsip universal, harapan sosial, dan nilai pribadi dalam kepemimpinan
Filsafat, dalam  arti yang paling luas, adalah suatu usaha yang sistematis untuk dapat mengerti individu dan pengalaman manusia secara kolektif (De George, 1982). Alat yang utama dari para cendekiawan ahli filsafat itu adalah alasan. Etika adalah bagian dari filsafat yang terkait dengan moralitas suatu kompleks dari individu terungkap bagaimana idealnya berhubungan antara satu sama lain dalam situasi khusus, untuk prinsip dari perilaku itu hubungan dan jenis penalaran yang terlibat dalam berpikir tentang impian seperti itu dan prinsip (LM.Smith, 1990).
Pada kenyataannya semua aktivitas kita terjadi dalam konteks keputusan tentang yang baik dan jahat, benar dan tidak benar, atau lebih buruk dan lebih baik. Perilaku, oleh karena itu, adalah suatu cerminan yang tetap dari kepercayaan sekitar bagaimana dunia itu adalah tersusun dan keputusan dibuat, dan bagaimana dan berdasarkan apa tindakan diambil secara implisit atau dengan tegas, pertimbangan filosofis (Foster, 1986). Setiap orang mempunyai suatu pandangan yang filosofis tentang hidup meskipun mungkin tidak telah secara menyeluruh dipikirkan melalui dan melafalkan (Nyberg, 1974). Menjadi pemandu yang efektif pada perilaku yang administratif, bagaimanapun, itu terbaik jika filsafat ini dipahami secara intelektual. Pemahaman seperti itu mengizinkan seorang pemimpin untuk bertindak secara konsisten dalam isu yang bersangkutan dan untuk mencerminkan dengan kritis atas tindakan tersebut. Untuk alasan ini, adalah penting orang tersebut dalam peran kepemimpinan belajar "untuk melaksanakan" filsafat tersebut.
Menurut Hodgkinson (1983), inti sari dari seni administrasi adalah manipulasi sasaran. Ia melihat alasan untuk melakukan filsafat dalam bidang tindakan eksekutif sebagai hal untuk memperoleh fakta bahwa pengurus menguasai tenaga mereka membuat keputusan yang mempengaruhi orang lain. "Jika moralitas ditafsirkan sebagai suatu perhatian untuk yang lain lalu kesimpulan ialah  administrasi adalah suatu cara khusus aktivitas moral" (p29).
Bidang dari tindakan eksekutip dan usaha administratif yang menganut permintaan-permintaan buatan filosofis. Itu adalah fungsi yang paling tinggi eksekutip itu untuk mengembangkan suatu pemahaman yang mendalam tentang dirinya dan rekannya, pengetahuan tentang sifat manusia termasuk motivasi tetapi jangkauan di luar ke dalam daerah berharga berbagai kemungkinan. Pada tingkatan nya yang paling rendah, hidup organisatoris adalah semacam pertempuran sehari-hari. Bahkan di sini bagaimanapun senjata yang paling mematikan dalam administratif bersifat filosofis: ketrampilan logis dan analisis kritis, sintese konseptual, analisis nilai dan komitmen, retorik yang paling mendasar, pemahaman kedalaman sifat manusia. Jadi di dalam filsafat menjadi hakekat yang praktis.
Persiapan untuk memprogram ppengurus sekolah telah dikritik karena menekankan organisatoris, tingkah laku, dan teori-teori managerial serta melalaikan pertimbangan termasuk kultur, politik, akhlak, dan etika (Foster, 1986). Cambron-McCabe (1993) melihat di sekolah yang memperdebatkan suatu tantangan kepada perspektif yang technocratic yang sudah secara kebiasaan atau secara tradisional menandai program persiapan administratif. Dia menunjukkan program tradisional dalam mengajar pengurus organisasi yang bersifat structural dan masuk akal, mekanisme yang beroperasi di suatu pertunjukan yang birokratis. Program memfokuskan pada tugas operasional, administrator latihan sebagai pejabat manajemen; pertimbangan moral, etis, dan menilai dimensi kepemimpinan. Dia mengamati bahwa salah satu cara berpendirian dari usaha perubahan yang ada untuk membuat yang kelihatan bahwa kepemimpinan melibatkan aneka pilihan moral, tidak hanya satu kesetiaan kepada technicism (p157).
Sergiovanni (1992) memegang suatu posisi yang serupa. Ia membebankan penekanan kekuasaan program pada zaman ini di rasionalitas logik, obyektifitas pentingnya kepentingan diri, ketegasan, ciri khas; dan detasemen menyebabkan kita melalaikan pentingnya pengertian keanggotaan kelompok dan arti, moralitas, pengorbanan diri, tugas dan kewajiban sebagai nilai tambahan. Kita perlu memandang perilaku kepemimpinan dibanding tindakan, suatu psikologis,  rohani dan gagasan" (p3). Untuk mengalahkan penyimpangan ini, ia percaya bahwa perlu memberi lebih banyak perhatian di dalam kurikulum yang berkenaan dengan persiapan pada konsep otoritas profesional dan moral.
National Policy Board for Educational Administration (1989) sudah merekomendasikan bahwa kurikulum menyiapkan pengurus sekolah yang dirancang untuk menyediakan kerangka dan instrumen untuk membantu para siswa di dalam menerapkan moral dan keterlibatan etis pada keputusan yang mereka buat. Menurut dewan tersebut, para siswa administrasi sekolah harus yang datang untuk memahami konsep dari wali publik dan untuk menyadari bagaimana nilai mempengaruhi perilaku dan hasil.
Dewan juga merekomendasikan bahwa para siswa perlu untuk didorong untuk menguji sistem kepercayaan mereka sendiri, pertimbangan mereka yang kurang untuk menjadi pengurus dan gambaran mereka dari misi pendidikan yang diterima di sekolah sebagai suatu proses sosial.  Daresh (1988) menunjuk hal tersebut sebagai "formasi profesional yang digambarkan sebagai satu usaha untuk memungkinkan perorangan untuk menjadi sadar akan nilai dan asumsi nya yang pribadi mengenai peran Formal dari suatu pengurus sekolah ( Daresh &Playko, 1992, p.54). Formasi profesional menunjuk pertumbuhan dan pengembangan pribadi di dalam pelatihan pengurus sekolah. Itu termasuk menasihati atau pelatihan oleh fakultas dan pengurus universitas; identifikasi gayanya yang administratif dan berkepribadian, mampu mengembangkan kemampuan  dirinya untuk mencerminkan di dalam tindakan, dan persiapan diri sendiri,berpendirian etis dan moral yang baik.
Di suatu keadaan serupa,  Sergiovanni (198-ib) menggunakan istilah "panggung" seperti artikulasi prinsip ke dalam satu kerangka operasional. Panggung memerintah pandangan dan perilaku seseorang itu tersebut mewakili; menunjukkan seperangkat ukuran-ukuran dan satu patokan yang terkandung dari keputusan yang dibuat.
Di dalam mempelajari trend di dalam perubahan dari persiapan pengurus sekolah memprogram. Murphy (1993) menyimpulkan bahwa ada suatu perhatian umum dan yang baru untuk termasuk etika di dalam kurikulum. Ia mengadakan hipotesa yang mendasari perhatian ini adalah suatu yang dibagi bersama mengerti antar staf program bahwa penilaian dan perilaku profesional tergantung pada penilaian dan perilaku etis itu, pada konteks pekerjaan, keputusan praktis rutin dan keputusan etis sering tak dapat dibedakan. Lebih secara rinci, program ini yang diperbarui mengakui adanya fakta bahwa pengurus adalah contoh nilai dan tanggung jawab para pemegang saham kepada para siswa mereka, para guru, dan masyarakat untuk menyediakan kepemimpinan yang didasarkan pada satu cerminan etis yang diberitahukan tentang pendidikan dan hidup publik. Murphy percaya bahwa, kecuali jika Leaders mengembangkan suatu moral dan suara hati etis, mereka akan mengalami kesulitan untuk membuat keputusan dan akan menghilangkan suatu pengertian tujuan.
Di dalam bab ini, kita memperhatikan pentingnya pertimbangan etis dalam praktek kepemimpinan bidang pendidikan. Kita mulai dengan menguraikan memilih pandangan filosofis dunia dan bagaimana mereka akan mempengaruhi perilaku eksekutip. Lalu, juga pandangan dari perspektif ilmu sosial, kita berfokus kepada hirarki nilai dan nilai yang sebagaimana mereka ditemukan di dalam individu dan organisasi. Bagaimana para pemimpin meneliti dunia dalam konteks sistem nilai digambarkan. Pada bagian yang akhir, kita menunjukkan bagaimana nilai dalam wujud metavalues membentuk persepsi kenyataan di dalam para pemimpin organisasi dan tantangan administratif untuk menerima itu  sebagai parameter nilai atau perubahan mereka untuk mengarahkan pada perubahan.


4.1.    Panduan Filosofis Pada Kepemimpinan
Tabel 4.1
Ringkasan keyakinan dari beberapa filsafat terpilih pertanyaan filsafat secara mendasar dan jenis sekolah yang sangat sesuai dengan keyakinan tersebut
Filsafat
Pertanyaan





Idealisme







Liberalisme







Realisme, Postpositivisme dan Positivisme Logis


Pragmatisme






Eksistensialisme







Teori Kritis






Konstruktivesme
Ontologi:
Apa yang merupakan sifat alami dari "kenyataan?"

Gagasan-gagasan universal, kronis, dan absolut yang melebihi pengalaman sehari-hari



Hukum universal berakar secara alami, hak-hak yang dapat ditemui secara alami melalui ilmu pengetahuan


Realitas di dunia yang diselenggarakan oleh hukum universal yang dapat ditemukan rengan penelitian empiris
Kebenaran dapat diketahui berdasarkan konsekuensi praktis yang merupakan hasil dari praktek sosial


Dunia sebagaimana dialami dan diinterpretasikan oleh tiap individu; tidak ada hukum universal ataupun prinsipil yang penting bagi manusia

Terdapat realitas kebebasan dari eksistensi manusia, namun mungkin taidak dapat dipahami secara penuh

Secara sosial dan eksperimental berdasarkan konstruksi mental dari orang yang memegangnya
Epistimologi:
Apa hubungan alami antara pengetahuan dan yang diketahui?


Mengalami kehidupan di dunia adalah suatu cerminan dari kenyataan, manusia terbagi dua secara alami secara fisik dan spiritual, pemahaman diperoleh dari logika deduktif yang diangkat dari pengalaman sehari-hari

Manusia dan aktivitas-aktivitas fisik berjalans sesuai dengan hukum alam. Pemahaman diperoleh melalui pengamatan secara rasional



Objectivist, nilai dipisahkan dari kenyataan, manusia and interaksi fisik berjalan berdasarkan hukum universal, pemahaman diperoleh berdasarkan verifikasi empiris dan metode ilmiah
Pengetahuan diperoleh dalam pikiran manusia berdasarkan pengalaman kolektif, pemahaman diperoleh berdasarkan pemeriksaan rasional/ metode ilmiah

Arti dan tujuan dapat ditemukan pada setiap individu berdasarkan pilihan bebas mereka, pemahaman diperoleh berdasarkan introspeksi untuk panduan dan arahan



Subjektivits; nilai-nilai dari pemeriksaan mediasi; paradigma merupakan bentukan dari manusia; pemahaman diperoleh berdasarkan proses dialog dan transformatif

Subjektivits; nilai-nilai dari pemeriksaan mediasi; pemahaman diperoleh berdasarkan proses dialog antara pemahaman pribadi dan yang ditemuinya
Nilai-nilai:
Konsep-konsep yang diinginkan


Hal itu identik dengan kebenaran universal, lekat, stabilitas dan pemikiran yang hebat




Kebebasan, kemerdekaan, alasan, rasional, ilmu pengetahuan, kebaikan, toleransi, kesempurnaan manusia


Keselarasan dengan hukum / teori universal yang dapat ditemui, objektivitas, empirisme, beralasan, rasional, dan ilmu pengetahuan
Kegunaan, pengalaman, gagasan-gagasan baru dan penemuan fakta-fakta baru, alasan/rasional/ilmu pengetahuan

Otonomi, otentik, kebebasan personal dan bertanggung jawab, introspeksi




Otonomi, bertanggung jawab, emansipasi, komitmen, alasan/ rasionalitas/ ilmu pengetahuan


Relativisme; konsensus sosial; pengalaman pribadi; solidaritas
Pilihan pendidikan sekolah



Melatih pemikiran, tradisi klasik, menekankan metode sokratik, peniruan dan dialektik



Pendidikan liberal untuk mempertajam instrumen dari alasan dan untuk pengembangan individu yang akan datang, objektif, teknik penelitian dan percobaan

Klinik, laboratorium, pembelajaran pengalaman, kemampuan dasar


Klinik, laboratorium, pembelajaran pengalaman pemecahan masalah, pendidikan progresif


Kesenian dan kemanusiaan; fokus pada emosi dan perasaan; hubungan personal antara guru dan murid; meningkatkan individualitas

Pengurangan kesadaran dan fasilitasi terhadap transformasi




Pengalaman, ragam budaya, cerminan diri, relativitas berkelanjutan



Tabel 4.1 sudah dikembangkan sebagai suatu ringkasan dan pemandu untuk pembaca melalui diskusi filsafat yang berikut. Dewan menyajikan sstatemen yang disingkat untuk masing-masing filsafat yang mempertimbangkan bagaimana itu menuju dan memandang sifat alami kenyataan (ontologi), hubungan antara mengetahui dan  yang dikenal (filsafat hal asal), konsepsi yang diinginkan (nilai), dan sifat alami pengalaman pendidikan yang diterima di sekolah nampaknya akan lebih disukai.

4.1.1.      Idealisme
Belajar mendominasi idealisme memikirkan sampai akhir di dalam abad yang ke sembilan belas, Itu masih berakar di dalam pemikiran dan lembaga peradaban Barat. Ada banyak variasi pemikiran yang idealistis, pemula sering kali  dikaitkan dengan mereka seperti Plato, Kant, dan Hegel.
Filsafat dari idealisme mengerti alam semesta sebagai hal yang dualistic secara alami. Itu berasumsi bahwa kenyataan yang terakhir terdiri dari suatu sistim gagasan yang besar melebihi pengalaman sehari-hari dan bersifat universal, kronis, dan absolut. Banyak sekali pengalaman yang sehari-hari yang terbuka bagi eksplorasi berhubungan dengan perasaan atau empiris tidak dipercaya sebagai dunia nyata, hanya suatu cerminan/pemantulan tentangnya. Kenyataan yang terakhir adalah suatu sistim dari gagasan yang sempurna. Banyak sekali pengalaman yang sehari-hari dianggap sebagai dunia ilusi dan dunia nyata hanya dapat dicapai melalui alasan yang murni, intuisi, atau melalui wahyu, dalam kasus agama. Dengan cara yang sama, idealis mengasumsikan suatu sifat yang dualistik dari kemanusiaan, tubuh dan pikiran atau jiwa, yang belakangan menjadi lebih penting.
Pengangkatan kebenaran yang universal di atas pengalaman membedakan idealisme dari semua filsafat lain. Idealis percaya bahwa pengetahuan absolut didapat lewat latihan dari alasan yang tidak terjangkit yang murni oleh data empiris. Dengan demikian, logika mengurangi menjadi alat cendekiawan yang utama di dalam mencari kebenaran. Karena kebenaran tidak dilihat untuk ada dalam dunia pengalaman, mempelajari gejala dari  dunia ini bukan suatu sumber yang perlu dari pengetahuan. Idealis memegang bahwa kebenaran kebenaran yang diuji melalui satu atau lebih sistem yang ketat dari logika (Graff et al., 1966), yaitu., apakah ketahanan ujinya dari logika oleh pikiran yang besar dari berbagai zaman? Aplikasi idealisme kepada pendidikan yang terbaik digambarkan oleh tradisi yang klasik" yang memberi prioritas kepada pelatihan pikiran."
Idealis berasumsi bahwa ada terakhir dari nilai mutlak. Nilai-nilai dari harga yang terbesar mereka yang bersifat serupa kepada kebenaran." (Pengetahuan adalah kebaikan; kebaikan adalah kebahagiaan; kebahagiaan sesuai dengan kebenaran.), adalah nilai benar bukan kepada ia bertanya, tetapi menerima sebagai panduan untuk tinggal. Idealisme mencari pemeliharaan dari keadaan tetap pada suatu saat tertentu pada tingkat sosial besar, ekonomi. teknologi dan politis berubah, kelihatannyaai solusi masa lampau. Idealisme menolak perubahan.

4.1.2.      Liberalisme
Yang menjadi pusat gagasan untuk liberalisme adalah kebebasan; tetapi yang pandangan liberalis terhadap kebebasan bukanlah absolut. Liberalisme mengejar suatu masyarakat bahwa dengan bebas bertindak bersama-sama untuk memastikan kesejahteraan dari banyak menggunakan metoda bahwa membentengi kebebasan untuk individu, buka peluang mereka untuk memenuhi potensi mereka masing-masing dan memutuskan. Kebebasan dicari sebagai suatu metoda dan suatu kebijakan dari pemerintah,  seperti mengorganisir prinsip di dalam masyarakat, dan sebagai suatu jalan hidup setiap masyarakat.
Jaman yang sangat makmur dari liberalisme dengan perkiraan antara zaman ahli filsafat Prancis (c. 1750) dan awal dari Perang Dunia I. Banyak  dari pendiri dari Amerika Serikat (eg., Thomas Jefferson dan Benjamin Franklin) merasa terikat dengan liberalisme dan Pernyataan Kemerdekaan dan Amerika Serikat ) institusi bersifat ungkapan politis liberalisme. Penekanan dari liberalisme pada kebebasan dan kebebasan membariskan secara alami, tentu saja dengan konsep ekonomi dari kapitalisme pasar bebas; dengan begitu, itu pasti mempunyai suatu pendekatan?  Liberalisme mengalami suatu kemunduran yang relatif dalam ketenaran dan pengaruh setelah Perang Dunia I.Dengan kegagalan yang terbaru dari negara monolit komunis dan totaliter. liberalisme sudah memperoleh kredibilitas dan vitalitas baru Di antara sarjana orang Eropa yang mendukung pemikiran liberal adalah Voltaire, Locke, Rousseau, Hume, Kant, A. Smith. dan J. S. Mill.
Sebagai tambahan memegang kebebasan sebagai suatu nilai pusat, liberalisme merasa alasan manusia dan kebaikan dilengkapi dengan sebagai hal yang dibantu dengan hak alami tertentu, yang diperkenalkan di dalam Pernyataan Kemerdekaan Amerika yaitu "hidup, kebebasan dan pengejaran dari kebahagiaan." Itu adalah hak yang wajar bagi umat manusia, menurut kaum liberal, bertanggung jawab terhadap kekacauan sosial; juga merupakan struktur-struktur sosial dari tradisi keluar dan masuk lembaga yang busuk. Oleh karena itu, tindakan terbaik, sebagian terbesar, untuk meninggalkan berbagai hal sendirian.
Konsep pusat lain dari liberalisme termasuk penciptaan kondisi sosial yang mengizinkan individu untuk memaksimalkan kebebasan mereka untuk berpikir, untuk percaya, untuk mendiskusikan, untuk berbuat sesuatu, untuk mengorganisir, untuk bekerja, untuk melanjutkan perdagangan, untuk memilih para penguasa mereka dan wujud dari mereka pemerintah dan untuk mengubah keduanya, para penguasa dan pemerintah revolusi, jika Liberalisme yang perlu menekankan pentingnya kepentingan diri sebagai suatu kekuatan motivasional, alasan seperti instrumen dari ilmu pengetahuan, dan usaha individu yang mendorong ke arah realisasi diri (Lerner. 1972).
Liberalisme mampu mengenali, bagaimanapun juga, tipe kemanusiaan pada dasarnya baik, atribut seperti ambisi, keinginan untuk kekuasaan, dan nafsu politis di dalam kelebihan dapat menyebabkan kesukaran untuk yang lain dan suatu mayoritas bersalah menjadi tak berhasil baik bisa menjadi sesuatu yang lalim seperti semua raja lalim lain. Dengan demikian, bangunan dukungan pandangan yang liberal melindungi ke dalam struktur bidang pemerintahan untuk melindungi kepentingan minoritas seperti Perjanjian Hak Asasi Manusia dan doktrin perpisahan kuasa seperti yang ditemukan di dalam konstitusi.
Liberalisme melemahkan ketentuan dari dogma religius yang diungkapkan dan menekankan toleransi terhadap semua ungkapan filosofis lain dan yang religius hal itu mendorong pemikiran dan ilmu pengetahuan cuma-cuma dan menguasakan rasionalisme dan ilmu pengetahuan. Fokus itu di kesempurnaan manusia dapat dicapai karena diri sendiri untuk meningkatkan kebahagiaan dari semua. Kepindahan dari bidang pemerintahan, religius, dan pembatasan traditional/ struktural lain menyediakan kemanusiaan dengan kebebasan itu untuk dapat berfungsi, tetapi suatu daerah padat penduduknya yang dididik adalah perlu menyediakan instrumen dengan mana alasan dapat berfungsi dan dapat dijadikan sempurna begi manusia berikutnya. Jadi; Dengan demikian, pendidikan yang universal adalah asas kepada perwujudan daman liberal.

4.1.3.      Realisme, Paham positifisme Logis, dan postpositifisme
Tidak seperti idealisme, ajaran pusat dari filsafat dari paham positifisme logis, atau hanya paham positifisme, adalah karena kenyataan dalam dunia ini. (Lihat diskusi yang terkait paham positifisme paham positifisme dan postpositifisme di Bab 5.) Kebenaran realis bukanlah khayalan dari pikiran; mereka ditemukan di dalam pengalaman yang sehari-hari. Ada keyakinan bahwa jawaban atas masalah kita dapat ditemukan melalui mempelajari pengalaman. Filsafat ini memperoleh pengaruh dengan kenaikan dari ilmu pengetahuan, dan beberapa ahli filsafat positivist memandang ilmu pengetahuan sebagai suatu sebagai gantinya untuk filsafat. Itu mempunyai filsafat yang dominan selama akhir abad ke duapuluh meski itu adalah tidak ada apa pun serius menantang sedikitnya di dalam teori ilmu pengetahuan kritis yang sosial dan paradigma-paradigma yang interpretivistic lain. Paham positifisme memerlukan satu verifikasi empiris untuk semua pengetahuan melalui penggunaan dari metode latihan, yaitu. hipotesis dinyatakan terlebih dahulu dan yang diperlakukan kepada test empiris di bawah kondisi yang terawasi.
Positivists tidak percaya akan suatu pikiran terpisah dari tubuh. Kebenaran yang besar dari alam semesta itu dipercaya dan dapat ditemukan dengan menggunakan metoda dari ilmu pengetahuan apakah mempelajari alami, sosial, atau gejala manusia. Positivist berasumsi bahwa interaksi-interaksi manusia beroperasi menurut hukum yang universal seperti halnya dunia yang secara fisik dan dapat ditemukan melalui riset. Kebahagiaan dan kesejahteraan/ kesehatan kemanusiaan tergantung pada seberapa baik para anggota masyarakat menyimpan sesuai dengan perilaku pengaturan hukum, hubungan sosial, dan usaha ekonomi.
Positivist mempraktekkan satu filsafat hal asal objectivist yaitu., nilai adalah terpisah dari fakta. Ini dilaksanakan dengan suatu metodologi yang manipulatip bahwa mengendalikan untuk pada suatu pihak penyimpangan penyelidik itu dan kecenderungan sifat untuk mengacaukan yang lain, dan metoda-metoda empiris bahwa menempatkan pokok keputusan dengan sifat dibanding dengan penyelidik (Guba, 1990).
Positivist dan idealis mengasumsikan kekakuan yang sama mengenai kebenaran. Perbedaan mereka adalah proses dengan mana kebenaran ditemukan. Di dalam kedua filsafat tersebut mengira bahwa kebenaran mempunyai suatu mutu yang universal (Graffet al., 1966).
Paham positifisme dan postpositivisme adalah suatu versi modifikasi paham positifisme bahwa pindah dari apa sekarang melihat sebagai suatu "yang naif' gambaran realis dan terhadap suatu 'realisme kritis" (Guba, 1990). Inti sari dari  posisi ini adalah karena, ketaksempurnaan berhubungan dengan perasaan mereka dan mekanisme cendekiawan, adalah mustahil karena manusia untuk merasa dengan sempurna dunia nyata yang dikendalikan oleh alam riil. postpositivists, meskipun demikian, memelihara bahwa ada kebenaran yang universal, meski tidak seorang pun dapat pasti bahwa itu kebenaran yang terakhir telah ditemukan. Kenyataan disetir oleh hukum alam bahwa dapat hanya secara parsial diahami.
Karena postpositivists, obyektifitas tinggal suatu idaman pengaturan. Mereka mencari suatu obyektifitas yang dimodifikasi bahwa dengan bekerja keras membuat riset mereka dan mendisain sama  nilai yang mungkin netral. Ini tercapai dengan kecenderungan kepunyaan pernyataan nya, yang memerlukan laporan tentang segala pemeriksaan yang bersifat konsisten dengan tradisi ilmiah pada bidang tertentu, dan dengan hasil dari tiap pemeriksaan kepada penilaian dan panutan dalam 'masyarakat yang kritis" yaitu., para editor dan pengawas dari jurnal seperti juga pembaca mereka (Guba, 1990).
Paham Positifisme dan postpositifisme menghadapi hanya dengan apa yang bukan kehendaknya. Mengrahkan dan menghargai penilaian tidak bisa dibuat melalui analisa dari dalil empiris. isu dunia filsafat.

4.1.4.      Pragmatisme
Pragmatisme mengembangkan ke luar dari paham positifisme tradisional. Itu bahwa inti sari riil dari gagasan adalah untuk ditemukan di dalam  pemanfaatan mereka tipe pemandu pada tindakan dan perilaku, yaitu., kebenaran dapat dikenal hanya melalui konsekuensinya yang praktis. Seorang yang pragmatis mempunyai suatu dasar mencurigai tentang keandalan gagasan manusia sampai mereka diuji oleh pengalaman. Graff et al. (1966) lihat pada pragmatisme seperti filsafat Amerika itu"
Menurut Graff et al. (1966), pragmatisme membuat asumsi yang berikut: (1) adalah mustahil karena manusia untuk mendapatkan pengetahuan tentang kenyataan yang terakhir; (2) alam semesta itu di suatu negara yang tetap dari perubahan dan gerakan; (3) banyak sekali gagasan seperti kita ketahui itu disatukan di dalam sistem dari lambang, surat, kata, dan rumus matematis yang tidak memiliki kenyataan bagi mereka sendiri tetapi mengacu pada materi dari praktek dan cara melakukan sesuatu; (4) metode latihan itu adalah cara yang valid bagi gagasan ujian;  dan (5) aspek yang sosial adalah sangat penting bagi setiap individu.
Pragmatisme menerima banyak sekali citraan pengertian dan studi dan sisa saring ilmiah, idealisme terhadap hal yang gaib dari suatu dunia luar yang benar dan gagasan sempurna seperti kenyataan yang terakhir. Dalam satu alam semesta pengembangan, seorang yang pragmatis menemukan nya tidak berarti untuk mempertimbangkan sekitar sifat alami kenyataan, seorang yang pragmatis percaya bahwa, untuk mengetahui kenyataan satu harus membenamkan dirinya ke dalam semua aspek dunia, mengalami nya kepada yang paling penuh. Dengan demikian, seorang yang pragmatis itu adalah gagasan selalu baru terbuka bagi dan fakta yang ditemukan baru-baru saja.
Seseorang yang pragmatis adalah semua lembaga sosial merupakan para pelayan dan bukan penguasa kemanusiaan dan lembaga bidang pendidikan di antara yang paling penting. Orang dipandang sebagai produk dari keduanya, keturunan dan lingkungan sosial alami; mereka bukan "baik"  maupun "tidak baik" pada kelahiran, tetapi boleh berkembang ke arah manapun tergantung atas pengalaman mereka dengan orang lain dan lembaga; institusi sosial. Konsep dari ini manusia sebagai kesatuan yang lembut menempatkan suatu tanggung jawab yang berat di sekolah dan permintaan pelayanan terbaik (Graff et al., 1966).

4.1.5.      Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah suatu kecenderungan atau sikap yang filosofis dibanding suatu sekolah yang filosofis; dengan begitu ada beberapa doktrin umum kepada semua eksponen. Itu sebagai akibat dari Perang Dunia I, Depresi Besar, dan perang dunia II dan perhatian diri sendiri dengan yang lebih gelap dan lebih banyak aspek ramalan dari hidup manusia. ini membantah pandangan dunia dan kebijakan tindakan di mana manusia yang individu dihormati sebagai makhluk yang tanpa pengharapan tujuan; masa depan siapa dibentuk secara keseluruhan oleh angkatan atau proses historis alamiah. Eksistensialisme menghimbau kemanusiaan untuk membersihkan diri sendiri dari pereda yang telah dipikirkan pada keputusasaan dari keberadaan manusia dan untuk menghadapi kenyataan suatu yang tidak berarti membersihkan penuh dengan kesedihan mendalam, kesepian dan kematian, ajaran pokok adalah otonomi, keaslian dan melengkapi kebebasan untuk setiap untuk memilih suatu cara untuk tinggal..
Existentialist para penulis mencari kebebasan dan pentingnya kepribadian manusia. Mereka menekankan tempat dari manusia yang kontras. Masing-masing individu tak dapat dijelaskan dan unik  untuk dipertimbangkan dalam kaitan dengan menggunakan istilah setiap sistim ilmiah atau metafisis. Karena secara total mereka bebas dalam membuat aneka pilihan, masa depannya tidak secara keseluruhan dapat diprediksi dan beban dari pilihan bebas menghasilkan penderitaan pribadi.
Existentialists percaya bahwa individu harus melihat ke dalam diri mereka untuk menemukan bimbingan dan arah melalui krisis hari ini. Itu dipercaya bahwa arah seperti itu tidak bisa berasal dari hukum dan prinsip yang universal, pelajaran dari sejarah, pemerintah, manusia lain, Allah, atau ilmu pengetahuan modern. Mereka menganggapnya suatu kesalahan yang menyedihkan untuk memandang dunia tipe menguasai perintah dan tujuan bahwa perlu menentukan keadaan hidup. Kursus seperti itu adalah ciptaan-Nya yang hidup.
Existentialists menempatkan tanggung jawab akhir di setiap keputusan yang dengan demikian melukiskan kenyataannya. Mereka memohon individu untuk menolak angan khayal dari nilai penyesuaian dan kaum ortodox sosial dan untuk menghadapi kenyataan suram atau tidak menyenangkan dari apa yang berarti sebagai .suatu individu yang cuma-cuma.  
Existentialists melihat pendidikan sebagai suatu proses  terbentang dari dalam dan mempunyai kaitan dengan emosi, perasaan dan hal  yang berhubungan dengan eksistensi nyata dari kemanusiaan. Mereka cenderung untuk menempatkan penekanan lebih besar di pendidikan budaya dibanding di persiapan profesional dan kejuruan. Mereka menekankan suatu hubungan pribadi antara guru dan siswa yang mana guru meluas sampai kepada hati dan pikiran dari para siswa, menciptakan konflik yang bagian dalam, dan menantang dan pemikiran merangsang siswa (Graff et al., 1966). Existentialists memperingatkan agar hati-hati terhadap tekanan yang berlebihan di kebersamaan sosialisasi dan kelompok di dalam pendidikan. Percaya akan keunggulan dari ciri khas; mereka lihat dengan setiap pengaturan bidang pendidikan bahwa akan berbenturan sepenuhnya dan membebaskan pengembangan diri.
4.1.6.      Teori Kritis
Seperti pospositivist, ahli teori yang kritis percaya bahwa ada suatu kenyataan bahwa tidak terikat pada pengalaman manusia, tetapi ini kenyataan tidak boleh secara penuh dipahami. Kedua bagian mengasumsikan bahwa teori menguasai itu untuk mempengaruhi kemajuan secara positif dan untuk mengubah bentuk hidup manusia. Di sini persamaan antara kedua filsafat berakhir, bagaimanapun. Ahli teori yang kritis adalah subjectivistic di dalam filsafat hal asal; obyektifitas penolakan dan mengaku bahwa nilai-nilai menengahi pemeriksaan; Karena paradigma adalah ciptaan manusia, sebagai ahli teori kritis yang menyatakan bahwa paradigma tidak terelakkan mencerminkan nilai-nilai yang mereka ciptakan.
Tugas dari teori kritis untuk menaikkan kesadaran dari  orang tertindas kepada sifat yang benar dari kondisi mereka dan angkatan yang menyebabkan nya. Menilai bagaimana yang ditindas mereka adalah dan mengapa, individu dapat bertindak untuk mengubah bentuk dunia mereka (Guba, 1990). Pengetahuan menerangi orang dengan pernyataan kondisi yang struktural tentang keberadaan mereka, bagaimana kondisi ini dapat terjadi, dari penyimpangan dan ketidakadilan yang mereka ciptakan. Pengetahuan seperti itu membawa serta tenaga itu untuk merangsang otonomi pencarian tindakan yang lebih besar, dan bertanggung jawab (Greene, 1990). Dengan demikian, idaman pengaturan untuk teori kritis adalah persatuan alasan dan komitmen, yaitu., pengintegrasian pengetahuan dan tindakan penuh arti. Itu mencari untuk membuat jelas penyebab komunikasi yang disimpangkan dan dimengerti (House,1990).
Teori kritis memusat di konseptualisasi pendidikan sebagai bagian dari sosial, politis, budaya, dan pola ekonomi dengan mana pendidikan yang diterima di sekolah dibentuk. Itu memberi acuan kepada pendidikan yang diterima di sekolah sebagai suatu usaha secara sosial membangun pertentangan berkelanjutan (Popkewitz, 1990). (Lihat diskusi yang terkait teori kritis di Bab 5.).

4.1.7.      Constructivism
Constructivist itu tidak percaya akan suatu kenyataan yang universal, tetapi lebih, dalam konstruksi mental berbasis sosial dan mengalami makna ganda yang tergantung pada pemilikan orang mereka untuk wujud dan isi. Konstruksi ini bersifat spesifik dan lokal. Seperti halnya teori kritis, filsafat hal asal dari constructivism adalah subjectivist. Peninjau dan mengamati dipadukan ke dalam suatu kesatuan; pengamatan secara harfiah ciptaan proses interaksi antara keduanya. Constructivism tidak menyatakan meramalkan dan mengendalikan "yang riil" dunia maupun untuk mengubah bentuk nya, untuk merekonstruksi dunia hanya menunjuk itu yang dipercaya untuk ada: dalam pikiran pembangun pikiran itulah yang akan diubah, bukan dunia "yang riil" (Guba, 1990). "Kenyataan," sebagai suatu konstruksi sosial, hanya dapat berada menyelami jendela dari teori dan nilai yang diperoleh dari interaksi manusia. Teori dan nilai- ditujukan pada membangun maksud melalui konsensus sosial antar peserta di suatu konteks yang diberikan (Greene, 1990).
Tanpa penjelasan yang tegas dan selalu mungkin menurut constructivists. Di sana dapat banyak konstruksi hanya, untuk constructivists, tidak ada cara mendasar untuk memilih di antaranya. Tidak seperti teori kritis, pemeriksaan constructivistic tidak secara langsung terkait dengan menghakimi, mengevaluasi atau menghukum wujud sosial dan kenyataan politis, atau dengan mengubah dunia, itu mempunyai kaitan dengan menguraikan dan mengerti inti sari mereka. Sasaran umum dari pemeriksaan yang constructivistic untuk memperbesar dan memperkaya ceramah manusia dengan membawa pengalaman dari orang asing bersama dengan pemahaman kita sendiri dan Pengalaman kita sendiri (Greene, 1990). Karena constructivist menolak konsep dari hukum dan prinsip yang universal, masing orang harus menentukan bagi diri-Nya atau dirinya keterkaitan dari yang lain & pengalaman kepada pengalaman kepunyaan nya.
Pengetahuan, sebagai suatu konstruksi manusia, tidak pernah dapat diandalkan seperti pada akhirnya benar menurut constructivists; pengetahuan meragukan selamanya mengubah. Pengetahuan adalah hasil dari suatu proses dialogical antara diri sendiri. di bawah. berdiri orang dan yang ditemui apakah suatu teks, suatu seni karya yang baik, atau ungkapan yang penuh arti dari orang lain (J. K.Tukang besi, 1990). Constructivist pengetahuan didasarkan pada pengalaman dan menyerupai hipotesis konteks aktip kerja spesifik lebih dari sekedar menyamaratakan dalil bahwa kepastian surat perintah atau bahkan kemungkinan (Greene, 1990). Itu melembagakan teori pola holistic atau jaringan bahwa mencerminkan satu dari bagian dan keseluruhan dan suatu pandangan dari pengetahuan yang lebih "edaran" dibanding yang hierarchic (Lincoln, 1990).
Inti dari constructivism adalah idaman pengaturan dari kesetiakawanan dibanding obyektifitas. Dengan demikian, posisi constructivist menerima banyak aspek dari relativism. Relativism dilihat sebagai suatu kunci kepada keterbukaan dan mencari lebih dari yang diberitahu dan konstruksi canggih (Guba, 1990).
Karakteristik yang relativistic dari constructivism sudah memimpin untuk menuntut dari idealis, postpositivists, dan progresif itu, di dalam menolak patokan mendasar, constructivism menerima suatu wujud tidak masuk akal. Constructivists menanggapi bahwa jika tidak ada pondasi, tidak ada struktur dibanding dengan posisi lain yang dapat dihakimi "secara obyektif" (Lather, 1990) Menurut Lather; relativism kelihatan sebagai sekedar masalah untuk mendominasi menggolongkan di titik di mana hegemony dari pandangan mereka sedang ditantang. "Di dalam jumlahan, takut akan relativism dan nampak seperti nihilisme penjaga nya atau Nietzschean kemarahan kelihatannya kepada saya satu peledakan ke dalam keangkuhan yang Barat, pria putih, arogansi, jika kita tidak bisa mengetahui segalanya, lalu dapat mengetahui nothing"-(p. 321).
Nyberg (1993) juga menuju ke kepada potongan bahayanya landasan terbang relativism karena ia melihat nilai perselisihan, ada banyak persetujuan di alam semesta moral dan yang salah, baik dan jahat, yang mana mayoritas kemanusiaan mengasumsikan" (p. 208). Adalah jauh lebih baik  mempersatukan kita dibanding membagi kita.

4.1.8.      Dua Pandangan Dunia
Hegemony dari postpositivist pemikiran secara langsung mempengaruhi studi administrasi bidang pendidikan di pertengahan 1950an dengan aplikasi ilmu sosial membangun dan metodologi pada gilirannya memperoleh dari ilmu pengetahuan alam. Di dalam memeluk suatu perspektif postpositivist, perhatian kepada dimensi yang kwalitatif administrasi bidang pendidikan sangat dilalaikan menurut banyak kritikus tentangnya "ilmu pengetahuan" dan praktek (Greenfield, 1984; Hodgkiason, 1983; Scrgiovanni, 1984a, .1992; Lather, 1990; Membantu perkembangan, 1984). Penekanan yang ditempatkan oleh metode latihan di obyektifitas pengukuran dan nilai yang kwantitatif memfokuskan riset dan diskusi pada "apa" dan mencari hubungan antar gejala yang tampak dibanding pada "apa yang sebaiknya adanya." -Tertarik akan peran nilai, emosi, maksud, dan drama kebaikan abad 16 di dalam praktek dari administrasi sekolah mempunyai sebagian besar absen sampai tantangan secara relatif terbaru untuk menempatkan pemikiran positivist yang dibuat oleh ahli teori kritis dan constructivists.
Greenfield (1978) di antara ahli teori administrasi pertama bidang pendidikan dari pendekatan teori yang kritis untuk menyerang postpositivist hegemony meski yang lain ( eg.. .Graff ct al.,. 1966) telah sebelumnya ditunjuk postpositivist sebagai permintaan tegas di verifikasi yang empiris pengetahuan sebagai suatu kesalahan paling serius. Greenfield menantang persepsi organisasi tipe penjelmaan  alami agar tunduk kepada hukum ilmiah bukan perseorangan dan yang universal (Greenfield. 1984). Ia membantah, organisasi adalah buatan mansuia, arbitrer, berlangsung sebentar, dan bukan yang universal; dengan kata lain, mereka adalah "tanpa yang alami. Greenfield melihat organisasi sebagai aartefak budaya dan apa yang terjadi di antara mereka seperti produk dari tindakan yang individu, niat dan akan dibanding dari hukum alam yang universal dari tindakan sosial. Pandangan ini menandai organisasi sebagai ciptaan manusia yang menyediakan konteks untuk negosiasi dan konstruksi dari maksud, pesanan moral, dan kuasa (Bates, 1984).
Bates (1984, p.260) adalah kritisnya dari ahli teori tendensi administrasi bidang pendidikan untuk melanjutkan untuk mengenalkan incommensurability fakta dan nilai dan pengejaran mereka dari usaha yang positivistic untuk berkembang menyamaratakan kemampuan hukum dan prinsip untuk menjelaskan struktur dan dinamika organisasi. Ia kritik basis nya di posisi ahli filsafat dan sarjana pengetahuan masyarakat. Ahli filsafat, ia menunjuk ke luar, mengakui adanya ketidakmungkinan penilaian penghapusan evaluatif dari kerangka interpretive di dalam fakta  yang dicari maupun yang dipahami dan ahli teori sosial sudah sebagian besar meninggalkan nilai membebaskan ilmu pengetahuan dari masyarakat
Bantu perkembangan (1984) menunjukkan bahwa "obyektifitas" paham postpositifisme bukanlah sasaran sama sekali; oleh pemikiran pemindahan cara dialektika dan yang memantulkan cahaya dari ungkapan penuh arti. Paham postpositifisme dibiaskan dalam mengabadikan perintah yang tidak tertandingi sosial. Dalam mengutamakan pemikiran cara dialektika dan yang memantulkan cahaya, bagaimanapun, Membantu perkembangan dan tidak merendahkan diri dalam keterkaitan dgn suatu ilmu pengetahuan yang administratif dengan mengatakan, "itu mengerjakan suatu tindakan yang merugikan teori kritis untuk menyatakan bahwa cerminan seperti itu harus dibatasi pada citra subjectivistic: verifikasi empiris diperlukan; data bersifat  perlu" (p. 249). Di tempat lain, Membantu perkembangan (1986) mengusulkan suatu tiga strata model karena studi administrasi. Strata yang pertama melibatkan studi yang empiris organisasi dan administrasi melalui uraian kenyataan yang dirasa dan struktur politis dan ekonomi. Strata yang kedua terdiri dari pengembangan dari konstruksi-dan penafsiran individu dari Strata kenyataan yang ketiga adalah inquiri kritis suatu proses yang memantulkan cahaya termasuk tanya jawab yang diharapkan untuk mencapai keikutsertaan secara demokratis oleh para anggota masyarakat
Sergiovanni (1984a) dan Foster dalam meminta suatu pendekatan perspektif yang ganda kepada analisa administrasi dan organisasi:
Teori administrasi, oleh karena itu, tidak harus dipandang bersaing, dengan pandangan dengan pemikiran terbaik akan muncul. Sebagai gantinya, kiasan alternatif dan overlap ditawarkan. Tipe perjalanan yang dipandang ini, masing-masing teori administrasi menjadi lebih baik mampu menerangi dan menjelaskan aspek tertentu dari pengurus permasalahan menghadapi tetapi bukan yang lain. Yang ditingkatkan mengerti tergantung pada pemakaian beberapa teori lebih disukai dalam satu pertunjukan yang terintegrasi.
Nyberg (1993) membagi ahli filsafat (dan orang lain) ke dalam dua orientasi yang luas terhadap penilaian-penilaian moral perumusan 'moral" prinsip" orientasi menyukai "gagasan-gagasan yang bersifat luas, yang inklusif, Rapi dan yang universal di dalam  kesederhanaan mereka" ( p. 206). Ini akan cenderung untuk termasuk idealis dan positivists. 'yang pribadi" nilai" orientasi lebih suka lihat "individu dengan kejelasan yang sempurna di dalam semua [kepenuhan/ kesempurnaan] mereka yang harafiah, tertentu, berdasar fakta. Tak peduli bagaimana membagi dunia yang terlihat" (p. 206). Ini akan termasuk existentialists dan constructivists. orientasi Moral pokok menuju sudut pandang rasionalitas seperti mengejar ekonomi dari makna dari pemikiran dengan kesetiaan pemilikan pada suatu konsepsi atau gagasan yang dapat diterapkan dengan luas. pandangan Nilai yang pribadi orientasi rasionalitas adalah bahwa/karena orang dapat berpikir dan bertindak dalam cara yang mereka sendiri dapat memahami dan mengubah, bahwa individu tidak hanyalah korban dari penyebab structural, yang pembelaan dan penjelasan manusia harus dilakukan dalam kaitan dengan menggunakan istilah pribadi, alasan dan pertimbangan subjektif, idiosyncratic bagaimanapun mereka boleh terlihat" (p. 198).
Untuk menutup bagian ini, kita mengacu pada satu artikel oleh Gage (1989) berjudul "Paradigm Wars dan Their Aftermath." Di dalamnya, ia menunjuk arus,, konflik antar peneliti bidang pendidikan yang bertahan pada persaingan filsafat dari paham postpositifisme. constructivism, teori kritis dan anti naturalism. Ia mengeluarkan satu pendekatan pada cendekiawan bidang pendidikan leaders-philosophers, para ilmuwan, sarjana, riset kerja untuk menjadi masuk ke dalam 'satu cendekiawan tidak ada manusia dan mengingatkan kepada kita bahkan waktu kita mendebat apakah setiap obyektifitas sama sekali mungkin,  apakah 'yang teknis' riset adalah tidak penting, apakah paradigma perlu mendapat lebih banyak uang, aku merasa bahwa aku perlu ingat bahwa pemberian imbalan tak dapat diceraikan dari dalam apa yang terjadi pada anak-anak, para siswa. Ini adalah akhir hubungan kita" (p.10). Tugas kita membawanya mereka kepada kewajiban moral.
Dengan demikian, mereka memandang dunia dalam kaitannya dengan suatu paradigma dan mereka menerima tidak ada yang absolut, tetapi mau berpedoman kepada pengertian yang mendalam yang disediakan. Pengarang dari  buku ini jatuh masuk ke kategori yang belakangan, Kita mengenali administrasi bidang pendidikan bahwa suatu pengejaran moral dan bahwa pengurus yang efektif harus bertindak dengan satu pemahaman keterkaitan berharga struktur pada tindakan eksekutifnya. Bab ini terpusat di aspek seperti itu administrasi,' juga menghargai, bagaimanapun, sumbangan ilmu sosial itu kepada keringanan dari praktek kepemimpinan bidang pendidikan, ”ini yang ilmiah" dari aspek yang digaris bawahi.

4.2.    Sistem Nilai
Pada bagian ini, diskusi kita diperluas termasuk pengertian yang mendalam yang diperoleh dari sarjana pengetahuan masyarakat seperti juga ahli filsafat.

4.2.1.      Menggambarkan Nilai
Nilai adalah konsepsi yang diinginkan (Parsons, 1951 hodgkinson. 1983: Hoy &Miskel, 1991). Suatu nilai adalah satu kepercayaan yang kronis bahwa suatu yang spesifik 'gaya dari perilaku atau negara dari keberadaan adalah secara pribadi atau secara sosial lebih baik dibanding satu gaya kebalikan atau sebaliknya dari perilaku atau negara dari keberadaan. Nilai bersifat sinonim dengan kepercayaan pribadi sekitar "yang baik," "hanya," dan "yang indah/cantik;" mereka menggerakkan kita kepada tertentu jenis perilaku dan gaya hidup (Lewis. 1990). Nilai mencerminkan filsafat; pemikiran filsafat dari suatu individu atau organisasi (Hall et al., 1990). Mereka dengan sadar atau tanpa disadari memegang prioritas yang dinyatakan di dalam semua aktivitas manusia menghargai sistim adalah satu organisasi yang kronis berharga sepanjang suatu rangkaian dari arti penting yang relatif (Rokeach, 1973).
Nilai yang bersifat subjektif karena mereka adalah konsep dan mereka berhubungan dengan fenomenologi dari keinginan. Kita menghargai berbagai hal atau negara karena kita memilih untuk menujukan, harga kepada mereka, bukan karena setiap harga bawaan. Dengan melakukan hal yang demikian, kita menumpukkan di atas ke suatu hal suatu unsur yang subjektif untuk menandai adanya tingkat arti penting bagi kita (Beare, 1989). Untuk menjadi secara bersama fungsional, yang lain harus menugaskan derajat tingkat yang serupa berharga kepada hal yang sama atau status. "Titik esensial itu untuk menyerap di dalam berpikir tentang nilai adalah bahwa/karena nilai tidak ada di dalam dunia nyata..(-Hodgkinson, 1983, p.31).
Rokeach membuat lima asumsi sekitar nilai alami manusia: (l) kemampuan total berharga seseorang untuk menguasai  relatif kecil; (2) semua orang -menguasai nilai yang sama pada derajat tingkat yang berbeda; (3)  nilai terorganisir dalam sistem nilai; -(4) yang terdahulu dari nilai manusia dapat diusut pada kultur. masyarakat dan lembaga; institusi nya, dan kepribadian;  dan (5) konsekuensi berharga akan dinyatakan di dalam hampir semua gejala bahwa kekuatan sarjana pengetahuan masyarakat' mempertimbangkan; menganggap harga menyelidiki dan mengerti; Perorangan dapat memegang kepercayaan tak terbilang yang diorganisir dalam ribuan sikap,' beberapa lusinan secara hirarkis mengatur nilai yang sebagai penolong. Diambil bersama oleh mereka membentuk suatu sistem kepercayaan di mana nilai terminal lebih pusat dibanding nilai  penolong dibanding sikap. Nilai terminal mengacu pada negara akhir yang diinginkan dari keberadaan mereka yang manapun yang berpusat pada diri sendiri atau masyarakat. Nilai yang menolong mengacu pada moralitas (mempunyai satu fokus yang hubungan antar pribadi) dan wewenang (mempunyai suatu fokus pribadi tanpa keterlibatan antar hubungan pribadi) aspek dari gaya dan perilaku. Nilai terminal bersifat  motivasional di  tersebut mereka mewakili; menunjukkan sasaran hebat di luar sasaran yang segera, mendesak secara biologic. Karena sistem kepercayaan yang total adalah secara fungsional saling berhubungan, suatu perubahan di dalam bagian mana pun dari itu perlu mempengaruhi bagian lain dan perlu pada akhirnya mempengaruhi perilaku.
Untuk membuat suatu perubahan yang kekal dari persepsi manusia dan perilaku, kebanyakan bagian tengah dari nilai terminal sistim yang harus diubah menurut Rokeach (1973).
Hodgkinson (1983) mengambil suatu pendekatan yang berbeda untuk membedakan antar nilai dengan penempatan mereka ke dalam suatu hirarki menurut pendekatan termasuk dalam menentukan benar atau tidak benar. empat alasan Nya atau pembelaan untuk valuing adalah prinsip (tipe 1), konsekuensi (tipe IIA), konsensus (tipe IIB), dan pilihan (tipe III). Hirarki itu digambarkan di dalam Gambar 41.
Jenis I menilai adalah masuk akal mereka melampaui alasan, menyiratkan satu tindakan iman atau bagaimana menyatakan penerimaan dari suatu prinsip. "Meskipun demikian prinsip seperti itu boleh sering kali dipertahankan oleh ceramah masuk akal mereka yang utama metafisis aslinya atau lokasi" (Hodgkinson, 1983, p.39). Orientasi mereka yang filosofis ditemukan di dalam agama dan intuisi. Mereka adalah yang universal gagasan untuk idealis dan hukum alam dari liberalisme.
Tipe III, pilihan, membenarkan suatu nilai ditempat itu bahwa obyek atau tindakan disukai atau yang lebih disukai oleh pokok materi; nilai ini bisa bawaan atau belajar. Semua binatang menguasai nilai seperti itu dan nilai seperti itu bersifat diri sendiri. pembenaran. Tipe Nilai sakit memulai dari mempengaruhi, emosi dan merasakan. Orientasi mereka yang filosofis ditemukan di dalam behaviorisme. paham positifisme, dan hedonisme.
Tipe II nilai dari kedua subset A dan B dibenarkan dengan alasan rasionalitas. Ini dapat muncul pertama seperti konsensus (IIB). Di tingkat lebih tinggi berikutnyanya proses masuk akal, nilai itu dibentuk/mapan atas satu analisa dari konsekuensi tentang pemilikannya itu. Orientasi yang filosofis dari nilai Type II utilitarianism. pragmatisme, perikemanusiaan. demokrasi, dan liberalisme.
Tipe II nilai mewakili; menunjukkan suatu latar tengah antara komitmen dari ideologi (Jenis 1) dan pergolakan dari dampak (Tipe III). Sependapat ekstremum adalah pengalaman segera (Tipe Di dalam) dan di yang lain, ideologi (I jenis); di tengahnya adalah dunia pragmatis dan akal sehat.
Ini merupakan suatu keuntungan untuk syaraf pembengkakan dan jaringan tubuh manusia. Bahkan paling baik permintaan-permintaan dari ideologi berakar di dalam abstrak dan orang tidak hidup dengan abstrak cendekiawan, bagaimanapun banyak mereka berlangganan atau diatur oleh mereka. Perihal mempengaruhi, orang tidak bisa terus menerus sibuk dengan peperangan yang menghancurkan keduanya dari ego. Antara jenis Ill kenyataan-kenyataan dan jenis cetakbiru di sana berada daerah yang sangat banyak secara normal biasa sehari-hari banyak sekali hidup organisatoris. Suatu dunia yang biasa barangkali tetapi satu di mana manusia adalah di kesenangan yang relatif: yang dibiasakan, dikondisikan, diprogramkan, rendah hati dan isi. Hodgkinson, 1983, p.121)

Gambar 4.1
Nilai Paradigma
Jenis Nilai
Bidang Penilaian
Psikologis
Orientasi Filosofis
Tingkat Nilai
I
Prinsipil
Conation
Kepercayaan
I
Kemauan
Eksistensialisme

Intuisi
II A

Konsekuansi (A)
Kognitif
Utilitarianisme
II
Alasan
Pragmatisme
II B

Konsesnsus (B)

Berpikir
Humanisme
Demokratik
Liberalisme
III
Pilihan
Mempengaruhi
Behavioris
Positivism
III
Emosi
Perasaan

Jika nilai dengan sepenuhnya stabil, perubahan sosial dan yang individu akan menjadi mustahil. Jika nilai sepenuhnya tidak stabil, kesinambungan kepribadian manusia dan masyarakat menjadi mustahil. Konsepsi hirarkis yang berharga memungkinkan kita untuk menggambarkan perubahan sebagai suatu pemesanan ulang prioritas dan, secara serempak, melihat sistim nilai total  yang relatif stabil dari waktu ke waktu. Konsensus lebih mudah di mana nilai Type Ill dilibatkan dan paling sulit di mana Type I menilai hadir; kemudian kasus, berlawanan Type I komitmen tidak dapat didamaikan. Oleh karena ini, orang yang praktis mencari juga menghindari perikatan di hal dari prinsip dan pencarian sebagai gantinya untuk secara politis yang mungkin (Hodgkinson, 1983; Lindblom, 1959). "Keinginan pragmatis mengambil tetapi tidak akan mengambil di mana kita ingin pergi" (Hodgkinson, 1983, p135).
Hall et al. (1990)mengambil suatu pendekatan yang berbeda di dalam mengembangkan suatu hirarki berharga. Mereka pegang bahwa pengembangan nilai adalah suatu proses pertumbuhan mengalami delapan langkah untuk menjangkau kedewasaan penuh suatu titik bahwa sedikit; beberapa jangkauan. Dalam empat langkah otoritas dirasa oleh setiap tipe permulaan di luar diri sendiri selagi itu di dalam empat langkah yang terakhir, otoritas dirasa tipe permulaan di dalam setiap menilai yang dihubungkan dengan masing tahap dari paling rendah ke yang paling tinggi adalah: pembelaan diri, keamanan, diri sendiri, wewenang, kemerdekaan, perintah baru, kemerdekaan. Di langkah yang lebih rendah, selalu berpusat pada diri sendiri, pencarian keamanan di suatu dunia di mana setiap merasa tidak ada kendali. Langkah ego tumbuh sebagai pengenalan suatu dunia sosial yang harus diakomodasikan; satu yang eksternal "mereka" dirasa sebagai hal yang terkendali dan setiap mencari penerimaan, pernyataan, persetujuan dan prestasi dalam parameter menyimpan "mereka" di dalam langkah yang berikutnya, setiap mulai untuk mengasumsikan kendali di atas hidup nya dan mencari cara untuk menciptakan identitas nya Di tingkatan yang paling tinggi, setiap mengasumsikan tanggung jawab untuk yang lain seperti juga dirinya atau dirinya. Dalam langkah ini yang bagian atas, setiap gabungan mengelompokkan keselarasan pencarian yang lain secara global.
Analisis nilai tidak menyiratkan maupun memerlukan permintaan untuk penutup logis di mana nilai dalam perkelahian. Menurut Hodgkinson (1983), konflik nilai benar selalu intrapersonal; kesubyektifan yang penting berharga mendikte semua konflik antara nilai harus terjadi dalam setiap kesadaran. Hodgkinson memandang biasanya pemikiran tentang suatu konflik kepentingan; pada akhirnya, ada di fakta suatu tenaga berjuang antara para aktor nilai. Tindakan nilai terang  para aktor nilai mengatakan kepada kita tidak ada apa pun konflik nilai di dalam setiap para aktor. Sebagai contoh, mengerjakan pecundang dari suatu peperangan atau suatu perkara perdata dengan demikian mengubah konsepsi yang diinginkan.
Nyberg (1993). sedikit banyaknya menyatakan posisi yang berbeda dari Hodgkinson di perselisihan berharga. Sementara, keduanya bermufakat intrapersonal konflik berharga, Nyberg. juga melihat yang hubungan antar pribadi dan inter kelompok menghargai konflik hanyalah konflik dari minat. Nyberg  secara jamak menyatakan bersaing nilai sebanyak bagian dari masyarakat sebagaimana dari tiap kesadaran yang individu karena itu adalah sifat manusia untuk melihat berbagai hal dengan cara yang berbeda. "Benturan berharga adalah inti moral dari manusia" (Nyberg, 1993, p.198).

4.2.2.      Contoh yang Sempurna dari Kepemimpinan
Hodgkinson (1983) menggunakan beberapa contoh yang sempurna untuk menguraikan para  tipe pemimpin  yang bertindak dalam hirarki nilai yang sebelumnya diperkenalkan (Gambar 41) Contoh sempurna yang paling rendah dari sudut pandang dari moral atau hormat etis adalah sebagai "pencari" yang ditandai oleh nilai ego, kepentingan diri, primer mempengaruhi dan motivasi. Pembelaan Diri dan peningkatan, diri sendiri memusat dan perhatian diri sendiri adalah ciri-ciri nilai yang dominan. Pencari berfungsi di Type 1 tingkatan di dalam hirarki nilai. Wujud yang fundamental dari contoh yang sempurna pencari adalah gersang pemangsa wujud yang lebih tinggi adalah oportunis. Orang-orang seperti itu boleh berlangganan orientasi-orientasi yang filosofis behaviorisme atau hedonisme.
Tingkatan paradigma nilai yang kedua adalah tingkatan yang berhubungan dengan perasaan untuk administrasi. Kebanyakan pengurus cenderung yang manapun kepada "politikus" (Tipe IIB) atau "teknisi" (Tipe IA) contoh yang sempurna.  Hodgkinson ( 1983, p.141) lihat pada politik seperti "administrasi oleh nama yang lain." Contoh yang sempurna politikus dihubungkan dengan pengurus minat siapa sudah memperluas di luar mereka yang diri sendiri kepada pokok di mana mereka memeluk; menganut suatu keseluruhan atau kelompok. Kelompok ini, pada umumnya organisasi di mana ia atau dia bertanggung jawab, kemudian mengizinkan untuk memiliki beberapa derajat tingkat dari pengaruh di atas penetapan nilai organisatoris dengan tujuan untuk mempengaruhi kepunyaan pemimpin itu menghargai struktur dan perilaku. Itu mengacu pada suatu kompleks nilai bahwa mempertimbangkan nilai dari orang lain, secara individu dan secara terpadu.
Politikus adalah  moral maupun dan masuk akal. Contoh yang sempurna itu adalah moral karena perhatian nya melampaui bahwa dari diri sendiri. Klaim yang dasar kepada rasionalitas adalah karena menggolongkan pilihan, jika diwujudkan. Membantu potensi untuk perwujudan pilihan individu lebih dari sekedar pengejaran laissez faire dari pribadi yang menginginkan diizinkan. Di dalam semua ini, politikus mempunyai suatu orientasi secara relatif jangka pendek; ia adalah masalah yang segera yang sedang menekan. "Politikus yang mempraktekkan seni dimana dunia  organisatoris bekerja. Tetapi seseorang dapat melampaui nya" (Hodgkinson, 1983, p.167). Politikus, paling sial, adalah suatu pemimpin rakyat dan, paling baik, suatu democrat. Orientasi politikus yang filosofis itu menuju ke liberalisme, perikemanusiaan, atau pragmatisme.
Contoh yang sempurna adalah teori masuk akal terutama dan masuk akal. hukum. Nilai dari birokrat Weberian yang termasuk dispassion, kenetralan, analisa logis dan memecahkan masalah, efisiensi; efektivitas, pemenuhan gol, perencanaan, dan maksimalisasi yang baik cocok dengan  contoh yang sempurna ini. Berlawanan dengan politikus, teknisi menekankan perhatian yang kelembagaan atas perhatian individu. Doktrin terbaik bermanfaat mencerminkan orientasi yang filosofis teknisi.
Teknisi "mewakili; menunjukkan yang paling tinggi dari contoh yang sempurna bahwa biasanya yang mungkin karena pengurus itu untuk sangat ingin dan mencapai. Ini menetapkan batas yang aman kepada ambisi moral dan cita-cita administrasi" (Hodgkinson, 1983, p.177). Teknisi itu dapat merosot kepada birokrat yang dilepaskan tetapi juga dapat memberikan aspirasi kepada teknokrat pengawal seperti yang digambarkan di bawah.
Hodgkinson (1983) menyebut contoh yang sempurna membawa Type I nilai-nilai "Poet." "Penyair 'bawa api,' buat pertumbuhan berbagai hal dan orang hangatkan, meluas jangkauan dari bahasa (dan karenanya berpikir, konsep dan rasionalitas), mencuri api dari para dewa, bahkan di dalam batas mendamaikan Tuhan dan Manusia" (p. 178). Hodgkinson menyamakan termasuk  penyair itu kepada raja Pengawal atau ahli filsafat Plato moral siapa dasar yang diperluas ke dalam daerah trans masuk akal dari iman diaktipkan akan. Keinginan penyair itu adalah pertimbangan hak dan faktor penentu dari yang baik. Sebagai hasilnya, kepemimpinan dari suatu penyair boleh mengakibatkan surga atau secara keseluruhan kehancuran. Paling baik, penyair itu adalah Pengawal, hanya paling sial, penderita megalomania. Atau dalam kata-kata dari Nyberg ( 1993), 'Selalu memilih prinsip, atau lebih buruk, Prinsip yang benar, diatas nilai dan kebutuhan individu di dalam memecahkan situasi moral spesifik  adalah jalan kepada kemartiran dan kesucian, tetapi ini juga jalan itu kepada hal tak berperikemanusiaan, yang ironisnya diaspal dengan ilusi kesempurnaan" (p. 205).
Hall et al. (1990) juga telah mengembangkan suatu hirarki kepemimpinan bahwa membawa beberapa kemiripan pada Hodgkinson's (1983), terutama di yang tingkat yang lebih rendah. Di dalam  hirarki mereka, Hall et al. kenali hubungan yang timbal balik antara kepemimpinan dan pengikut. tujuh Kepemimpinan mereka beredar dilaporkan di kolom II dari Table 42. Masing-massing siklus ditempatkan antara dua mata-mata menilai karena siklus yang dilaporkan di kolom II. Karena pengembangan nilai dilihat sebagai suatu proses pertumbuhan, pemimpin mengalami suatu tekanan antara dua nilai yang menggeser prioritas dari menurunkan ke yang yang lebih tinggi. Gaya kepemimpinan dilaporkan di kolom Ill dari Tabel. Kepemimpinan dan pengikutnya karakteristik diringkas di kolom IV dan V berturut-turut.
Tingkat terendah kepemimpinan di dalam Hall (1990) hirarki, Terpenting, operasikan dari nilai pembelaan diri dan keamanan,  Seperti itu pemimpin berfungsi dalam satu gaya yang otokratis, memperdayakan dengan tali organisasi lekat dan membuat. semua keputusan yang utama. Pemimpin terpenting memelihara suatu jarak yang terpisah dari kesetiaan para bawahan dan permintaan pada atau dirinya dan untuk organisasi. Para pengikut menanggapi dengan kepasifan dan kejinakan, memperlihatkan perilaku belum dewasa. Mereka memandang pemimpin sebagai hal yang tidak dapat didekati dan sebagai mempunyai satu aura dari kesempurnaan Kepemimpinan jenis ini lebih disukai hanya kadang kadang dekat dari bahaya.
Di dalam siklus Familial, pemimpin itu adalah suatu raja lalim yang baik hati, mengumpamakan suatu hubungan parent/child dengan para bawahan;subordinat. Pemimpin seperti itu operasikan nilai dari keamanan dan kemampuan diri. Sementara mendengarkan para bawahan, pemimpin yang berhubungan dengan keluarga masih cadangan semua keputusan kepada dirinya atau dirinya. Suatu kesetiaan yang pribadi kepada atasan-atasan dan pemenuhan dengan ketentuan organisasi itu dituntut. Para pengikut mengembangkan suatu perasaan ketergantungan Mereka memandang tipe pemimpin yang dapat dicapai, tetapi mengenali bahwa ia atau dia adalah dengan jelas yang berkuasa. Kepemimpinan dari  jenis yang paling sesuai tipea pemimpin itu ini  adalah sangat trampil dan para pengikut itu tidak. Hubungan didasarkan pada kewajaran dan rasa hormat timbal balik.
Efisiensi managerial menjadi suatu perhatian yang utama di dalam siklus Institutional dari kepemimpinan. Pemimpin jenis ini bekerja dari nilai dari nilai diri sendiri dan wewenang diri sendiri. Pemimpin yang kelembagaan berfungsi di suatu gaya yang birokratis, memanage oleh sasaran hasil dan menekankan kebutuhan akan perintah dan membersihkan kebijakan-kebijakan. Kesetiaan kepada lembaga itu dituntut. Ada beberapa delegasi kewenangan tetapi hanya kepada yang trampil dan untuk yang setia. yang hubungan antar pribadi, Sosial dan kecakapan teknis diperlukan pada tingkatan ini; Pemimpin jenis ini adalah nampaknya akan kaku dan resistan untuk berubah. Para pengikut bertahan pada kebijakan dengan jelas menyatakan. Mereka menerima delegasi kewenangan dan memandang pemimpin sebagai hal yang dapat dicapai dan suatu pendengar yang baik.
siklus Intrapersonal dari kepemimpinan menunjukkan suatu transisi dari suatu orientasi diri sendiri ke suatu filsafat yang berorientasi sosial Sebagai hasilnya, itu ditandai oleh kebingungan dan ketidak konsistenan di dalam pengambilan keputusan dan konflik antara nilai efisiensi dan kebutuhan manusia organisatoris. Pemimpin bertindak sebagai suatu pendengar dan penjernih dan operasikan dari nilai  wewenang dan kemerdekaan diri sendiri.. Para pengikut memperlihatkan kebingungan yang berasal dari isyarat yang dicampur yang diberi oleh kepemimpinan. Ada suatu kesediaan umum untuk menyatakan perasaan dan di sana adalah suatu kebutuhan antar para pengikut untuk tampil baik. Pribadi.
siklus Communal atau Collaborative bekerja dari nilai-nilai dari kemerdekaan dan perintah baru. Gayanya adalah karismatik. Hall et al. (1990) pandang hal ini sebagai hal yang tingkat kepemimpinan yang ideal untuk lembaga bidang pendidikan, terutama untuk sekolah-sekolah yang sekunder dan postsekunder. "Individu sudah lulus dengan sukses melalui periode laissez faire yang melumpuhkan dan sekarang mempunyai suatu pengertian yang baru dari energi kreatif pribadi dan memperbaharui visi dari suatu lembaga; institusi bahwa dapat efisien, seperti juga pujian, untuk members"(p nya. 61). Operasi pemimpin pada tingkatan ini bersifat demokratis di dalam  gaya mereka dan mampu memodifikasi aturan-aturan menurut suara hati mereka yang pribadi. Para pengikut ditandai oleh interaksi kelompok kecil; mereka memerlukan ketrampilan dibangun dengan baik di dalam resolusi ilmu dinamika kelompok dan konflik. Para pengikut secara teratur mengambil bagian tipe panutan dalam beberapa pengambilan keputusan. Tingkatan ini membawa beberapa kemiripan kepada Hodgkinson's ( 1983) "Teknisi."
Di Mystical atau Integrative beredar, nilai dari pernitah dan saling ketergantungan yang baru mendominasi. Kepemimpinan adalah kolaboratif dan interaktip dengan pemimpin yang berfungsi seperti pelayan. Sebagai tambahan terhadap produktivitas organisatoris, ada perhatian untuk mutu interaksi organisatoris dan dampak organisasi itu di masyarakat. Keputusan kelompok yang membuat adalah norma dengan tanggung jawab dan collegialas timbal balik mengasumsikan oleh semua para anggota organisasi. Para pengikut mau mengasumsikan tanggung jawab dan mereka mempunyai ketrampilan yang berdayacipta dibangun dengan baik. Semua anggota mengerjakan tingkat tingginya dari kepercayaan dan keakraban. Nilai dari perintah dan saling ketergantungan yang baru bersifat dominan.
Sementara keduanya jarang ditemukan, Hall pada. (1990) tingkat kepemimpinan paling tinggi, Bersifat ramalan yang hampir sama  Hodgkinsons yang teoritis seperti (  l98') "Penyair." Pada tingkatan ini di dalam Hall et al. konsep kepemimpinan dan pengikut digabungkan. Gaya operasi adalah yang saling tergantung atau transformational. Semua orang sibuk dengan tugas meningkatkan sisanya barang material dan kebutuhan manusia dan mempersembahkan dan mendamaikan konflik antar kelompok dan menggunakan teknologi secara kreatif dan peramah. Nilai dari saling ketergantungan dan hak-hak / perintah dunia mendominasi pada tingkatan ini.



4.2.3.      Nilai sebagai Bagian dari Kultur Organisatoris
Nilai memotivasi faktor penentu dari perilaku (Spindler. 1955). Orang bekerja sama dalam suatu satuan nilai yang serupa, kepercayaan, prioritas, pengalaman, dan tradisi berkata bahwa membentuk suatu kultur umum, apakah itu di suatu organisasi yang kecil seperti suatu sekolah, suatu bangsa yang besar seperti Amerika Serikat, atau suatu kelompok negara seperti 'Barat" atau dunia yang Barat."
Nilai dibagi untuk menggambarkan karakter dari suatu organisasi dan memberi nya masukan ( Hoy &Miskel, 1991). Ouchi (1981) berargumentasi bahwa korporasi sukses di keduanya Jepang dan Amerika Serikat diberi tenaga oleh kultur perusahaan khusus yang secara internal konsisten dan yang ditandai oleh nilai yang dibagi bersama dari keakraban. kepercayaan, kooperasi, kerjasama sekelompok, dan equalitarianism. Pengamatan yang serupa telah dibuat oleh Deal dan Kennedy (1982), Reda dan Waterman (1982), dan Peters (1988).
Bates (1984) melihat kultur, juga, seperti menyediakan kerangka  individu dalam menetapkan arti untuk diri mereka. Ia mencatat bahwa bagian dari kultur berdasar fakta, tetapi kebanyakan dongengan. Bagian yang belakangan mempunyai kaitan dengan arti, yaitu., interpretive dan aturan yang menentukan  menyediakan dasar untuk mengerti dan tindakan.
Getzels dan Thelen (1960) melukiskan kelas sebagai suatu sistem sosial dan dengan jelas mempertunjukkan fungsi berharga di dalam sistim. Model mereka direproduksi di dalam gambar 42. Model mewakili; menunjukkan saling mempengaruhi antar individu, kelompok (misal, kelas), dan lembaga; institusi (misal., sekolah). Sekolah sebagai lembaga; institusi bersifat terbenam di dalam suatu adat istiadat pemilikan kultur dan nilai tertentu yang mempengaruhi kelembagaan, kelompok, dan sasaran individu, peran,dan tingkah laku sosial. Ini adalah suatu fungsi ' negosiasi berkelanjutan antara individu dan kelompok mereka, kelompok dan lembaga; institusi mereka. dll. Jadi; Dengan demikian, konflik nilai boleh dikembangkan dalam kelompok dan lembaga; institusi dan antara kelompok dan lembaga; institusi dan lembaga; institusi dan kultur sosial lebih besar. Suatu fungsi yang utama kepemimpinan adalah untuk memonitor konflik ini dan untuk memandu mereka di dalam secara organisasi dan secara sosial arah positif.

Gambar 4.2
Mogel getzel dan thelen kelas sebagai sistem sosial

Dari perhatian yang utama kepada pengurus itu adalah dimensi nomothetic atau kelembagaan model yang mencari untuk menghubungkan organisasi dengan sasaran nya melalui secara formal menciptakan peran-peran dan role-expectations (atau pekerjaan dan pekerjaan yang diharapkan). Sebaliknya, bukan para anggota organisasi yang administratif terutama terkait dengan setiap atau dimensi ideografik. Dimensi yang kelembagaan, untuk bukan para anggota yang administratif, dipandang sebagai batasan yang membatasi kepuasan mereka selagi menyediakan pondasi hukum masuk akal untuk kontrak mereka dengan organisasi. Tugas dari eksekutif itu adalah satu pendamaian: pendamaian organisasi itu kepada masyarakat dan tentang para anggota organisasi ke arah sasaran organisatoris.
Sergiovanni (1973) mengamati bahwa para eksekutif sekolah terlalu sering kali menghindari konfrontasi nilai dengan mencoba untuk berhubungan dengan konflik di tingkat terendah  di tingkatan yang hubungan antar pribadi di suatu dasar one-to-one. Ia percaya, bagaimanapun, bahwa masalah utama mengenai perbedaan nilai bahwa menghadapi kebanyakan para eksekutif sekolah adalah di tingkatan yang organisatoris dan dinyatakan dalam wujud bersaing kultur organisatoris. seperti, kompetisi perlu untuk menangani di tingkatan organisatoris berdasarkan kepada Sergiovanni, efektivitas administratif memerlukan pengujian yang berkelanjutan asumsi nilai internal yang termasuk membandingkan dan menguji struktur nilai untuk kebaikan yang tumpang-tindih dengan' mereka yang berpegang kepada para pekerja bidang pendidikan, para siswa, dan masyarakat sebebasnya. Hodgkinson ( 1991, p. 90), "Satu Organisasi pada hakekatnya, satu pengaturan untuk pengendalian konflik melalui alat dari ordinat yang hebat atau menolak sasaran."
Hodgkinson (1983) mengembangkan suatu model (Gambar 4:3) bahwa mendamaikan nilai pribadi dengan unsur yang kelembagaan seperti yang tercakup dalam Getzels dan Thelen model (Gambar 42). Tingkat V1 di dalam model Hodgkinson mewakili; menunjukkan struktur nilai dari setiap di dalam organisasi atau dimensi yang ideografik; tingkat V2 mewakili; menunjukkan struktur nilai yang dibagi bersama dari kelompok di dalam organisasi bahwa mengatur struktur kepercayaan individu; tingkat V3 adalah dimensi nomothetic atau organisatoris; V4 mewakili; menunjukkan struktur nilai dari sub budaya bahwa mempengaruhi operasi organisasi itu; dan, V5 mewakili; menunjukkan melingkupi etos masyarakat.
Setiap anggota organisasi (V1) alami dimensi yang nomothetic organisasi (V3), tidak secara langsung, tetapi melalui hari kerja mematahkan dengan kelompok informal dan formal (V2). Kelompok ini campur tangan antara anggota dan deretan eksekutif V3) yang mengatur kesadaran dan pengalaman dari anggota. Dengan kata lain, perspektif anggota  organisatoris itu (V1) adalah sungguh berbeda dari pengurus nya (V3).
Dengan cara yang serupa, etos umum V5) "tidak berbenturan secara langsung atas organisasi (V1) tetapi diatur melalui campurtangan cabang kebudayaan (V4) seperti organisasi profesional dan kelompok politis lokal. Tingkatan tumpang-tindih Ini, menjalin dan saling berhubungan di dalam yang dinamis dan hubungan ketidak-tentuan (Hodgkinson, 1983).
Getzels (1957, 1980) membedakan nilai ke dalam hanya dua tingkatan: sekuler dan suci. Inti nasional atau "suci" nilai bersifat yang relatif stabil. Ini akan berpasangan dengan etos Hodgkinson (V5). "Sekuler" nilai bersifat penumpang sementara, tunduk kepada perubahan dan penafsiran luas di tingkat operasional. Contoh dari nilai yang sekuler adalah pekerjaan susila sukses, orientasi masa depan, kemerdekaan dan Puritan moralitas. Nilai seperti itu mengurus perilaku nya yang sehari-hari mengenai pekerjaan, waktu, hubungan kepada yang lain, dan moralitas pribadi. Fakta bahwa nilai-nilai bergeser sedikitnya di dalam penekanan dan bahwa individu dan kelompok sungguh berbeda di dalam ungkapan nilai itu  bagi tegangan antara generasi dan antara sekolah dan masyarakat, dengan permasalahan dan keterlibatan yang sebagai akibat untuk pengurus yang bidang pendidikan" (Lipham, 1988, p.177).

Gambar 4.3
Bidang-bidang aksi


4.2.4.      Kepemimpinan Organisatoris: Nilai dan Visi
Greenfield (1984) mendalilkan  itu "organisasi dibangun atas penggabungan orang di sekitar nilai. Bisnis menjadi pemimpin oleh karena itu bisnis dari menjadi usahawan untuk nilai" (p. 166). Greenfield menunjuk  organisasi artefak budaya yang ditemukan dalam arti, dalam niat manusia, tindakan dan pengalaman. Mereka adalah sistem dari arti yang hanya dapat dipahami melalui penafsiran arti. Tugas dari para pemimpin adalah untuk bertindak sebagai interpreter, menciptakan suatu perintah moral agar mengikat mereka dengan orang di sekitar mereka.
Dari lima daya kepemimpinan yang dikenali oleh Sergiovanni ( 1984c)-technical (manajemen), manusia; bidang pendidikan, simbolis, dan budaya yang terakhir adalah paling relevan di dalam mempelajari nilai. "Obyek dari kepemimpinan yang simbolis adalah pengaturan kesadaran manusia, artikulasi pantai kunci budaya yang mengidentifikasi unsur pokok dari suatu sekolah, dan penghubung orang melibatkan di dalam aktivitas milik sekolah tersebut kepada mereka" (pp. 7-8). Isyarat pemimpin yang simbolis kepada yang lain apa dari arti penting di dalam organisasi. Dengan melakukan hal yang demikian, pemimpin memberi kepada arah dan tujuan organisasi. Visi menjadi unsur pokok dari apa yang yang dikomunikasikan adalah melalui aspek yang simbolis dari kepemimpinan. Itu menyediakan suatu sumber dari konsensus kejelasan, dan komitmen untuk para siswa dan para guru mirip (Vaill, 1984).
Pemimpin yang budaya mencari untuk menggambarkan, memperkuat, dan mengartikulasikan nilai yang kronis, kepercayaan-kepercayaan, dan pantai budaya bahwa memberi suatu identitas sekolah nya yang unik
Efek bersih dari kekuatan yang budaya dari kepemimpinan adalah untuk membentuk ikatan bersama-sama asisten pengajar, dan yang lain sebagai keyakinan di dalam pekerjaan dari sekolah tersebut.  Sungguh, (sekolah dan tujuannya sedikit banyaknya yang dipuja seolah-olah mereka menirukan satu sistem ideologi yang dipersembahkan kepada suatu misi yang suci. Seperti seseorang menjadi anggota dari suatu ikatan dan kultur yang kuat. mereka dilengkapi dengan kesempayan untuk menikmati perasaan yang khusus dari pribadi. (Sergiovanni 1984a, p.9)

Sergiovanni (1992, p.102) mencatat bahwa dua hal yang penting yang menjadi tujuan, otonomi kontrak dan sekolah sosial menyediakan pondasi untuk membangun struktur dari pendidikan yang diterima di sekolah. Sekolah tersebut diubah dari suatu semata-mata organisasi sampai suatu masyarakat covenantal, dan dasar dari otoritas mengubah dari satu penekanan diotoritas psikologis dan birokratis kepada otoritas moral. Dengan kata lain, sekolah tersebut mengubah dari suatu sekuler ke suatu organisasi yang suci yang mengubah dari satu instrumen yang dirancang untuk mencapai tujuan spesifik kepada suatu usaha yang berbudi luhur.
Misi pemimpin yang budaya untuk berfokus tajam pikiran dari keanggotaan dari suatu organisasi sekolah dinilai secara bersama memegang lambang, dan kepercayaan. Semakin banyak bahwa ini dipahami dan diterima, semakin baik mampu sekolah tersebut untuk pindah pada persetujuan itu yang ideal untuk dipegang dan sasaran yang mengharapkan untuk mengejar. Suatu kultur yang kuat adalah karakteristik dari sekolah yang sempurna. Suatu struktur nilai yang ketat mengizinkan satu organisasi jika tidak tersusun dengan bebas untuk membiarkan pertimbangan luas di antara para profesional bekerja di dalam organisasi. Nilai dan kepercayaan dibagi bersama menjadi pemilikan, organisasi bersama-sama, bukan pengawasan managerial yang dekat.
Organisasi memerlukan para pemimpin yang dapat menyediakan suatu pengertian tahan lama dan yang membujuk arah dan tujuan, yang berakar sangat dalam pada nilai manusia dan roh. Para pemimpin perlu untuk memantulkan cahaya, dengan aktip penuh pengertian, dan secara dramatis eksplisit tentang nilai inti mereka dan kepercayaan. Para Manajer dan para pemimpin terbaik menciptakan dan mendukung suatu tegangan mengisi keseimbangan antara nilai inti dan strategi elastis. Mereka mengetahui apa yang wakili dan apa yang mereka inginkan, dan dengan jelas dan dengan penuh ancaman mengkomunikasikan visi itu. Mereka juga mengetahui bahwa mereka harus memahami dan bereaksi terhadap kompleks berpakaian tentang angkatan bahwa mendorong dan menarik organisasi di dalam beraneka arah (Bolman et aL1991).
Bennis (1984) benar-benar meringkas fungsi kepemimpinan dalam konteks kultur organisatoris.
Di dalam jumlahan tenaga transformatif dari kepemimpinan mengait lebih sedikit dari struktur organisasi dengan mahir, secara hati-hati membangun manajemen mendisain dan mengendalikan, dengan rapi merasionalkan bentuk perencanaan, atau dengan mahirnya melafalkan taktik kepemimpinan. Kemampuan pemimpin menjangkau jiwa dari orang lain sekedarnya yang naikkan kesadaran manusia, membangun arti, dan mengilhami tujuan manusia yang adalah sumber dari kekuasaan. Di dalam kepemimpinan transformatif, oleh karena itu, itu adalah visi, tujuan, kepercayaan dan aspek lain kultur organisatoris yang berasal dari arti penting yang utama. (p 70)

4.2.5.      Nilai Demokrasi Dan Pengikut
Maxcy (1991) mengusulkan suatu teori yang pragmatis berharga yang menekankan pentingnya konsensus budaya yang demokratis dalam menuju rencana dan kebijakan yang mempengaruhi masyarakat sekolah tersebut. Dia berargumentasi bahwa mutu hidup adalah tanggung jawab yang bersifat pendidikan dan yang ditingkatkan dipenuhi tipe proses yang berunding diperbesar untuk termasuk semua yang melibatkan di dalam atau yang dipengaruhi oleh pendidikan yang diterima di sekolah. Dia mengamati bahwa kepemimpinan adalah selalu dipotong ujung dan membatasi tipea kekuasaan diinvestasikan di minoritas.
Dengan konsensus budaya yang demokratis, kepemimpinan memerlukan kapasitas itu untuk saling berhubungan dengan diri sendiri atau yang lain dalam kaitan dengan menggunakan istilah menggerakkan suatu pelatihan terhadap satu akhir berdasar pada ukuran yang masuk akal dan moral. Memimpin yang demikian banyak menceritakan kepada orang lain apa benar atau salah tetapi lebih membantu mereka datang untuk mengetahui untuk diri mereka, baik buruknya soal dan kekurangan dari suatu kasus" (Maxcy 1991, p.195). Maxcy menuntut suatu rekonstruksi dan konseptualisasi ulang kepemimpinan seperti yang diterangi, kritis, dan tindakan pragmatis suatu dugaan kepemimpinan yang kelihatan pada setiap orang yang mengambil bagian di dalam proses pencapaian/pembelajaran untukberbagai macam pemikiran dan usaha yang akan mengakibatkan suatu pendidikan yang diperbarui.
Di suatu keadaan yang serupa,  Cambron-McCabe (1993) berargumentasi bahwa prinsip moral memandu kelompok atau organisasi bukan masalah pilihan atau intuisi pribadi tetapi harus diperlakukan kepada suatu proses berunding yang demokratis. Dia menyatakan bahwa nilai harus ditentukan, di suatu konteks yang demokratis untuk tujuan yang demokratis.
Sergiovanni (1992) menunjukkan kepemimpinan itu dan pengikutnya bersifat timbal balik dalam satu organisasi yang dikuasakan. Ia percaya bahwa, di dalam banyak cara, profesionalisme dan kepemimpinan adalah antithetical panjang, di luar suatu titik tertentu, semakin banyak profesionalisme ditekankan, semakin sedikit kepemimpinan diperlukan. Profesionalisme mempunyai suatu cara memberi harapan kepada para pemegang saham untuk menjadi manejer diri sendiri. Dan sebaliknya, menyediakan terlalu banyak kepemimpinan, sedikitnya dari yang tradisional, menakutkan profesionalisme. Manajemen diri dan profesionalisme bersifat konsep komplementer. "Jika manajemen diri adalah sasaran kita, lalu kepemimpinan akan harus ditemukan kembali sekedarnya bahwa menempatkan 'pengikut pertama" (p. 68).
Para bawahan memerlukan motivasi eksternal. Mereka sungguh mengira untuk lakukan, selain itu mereka ingin mengetahui persisnya apa yang diharapkan dari mereka yang mereka bekerja kepada aturan. Para pengikut, sebaliknya, bersifat penuh motivasi dan bekerja dengan baik tanpa pengawasan yang dekat, menaksir untuk selesai, kapan dan bagaimana caranya. dan mengambil tindakan efektif  milik mereka sendiri.
Para pengikut adalah orang yang merasa terikat dengan maksud suatu penyebab, suatu visi dari apa sekolah tersebut dan akan jadi apa, kepercayaan tentang mengajar dan belajar nilai dan patokan kepada mereka melekat keyakinan penghukuman pertengahan. Para pengikut dan kepemimpinan dihubungkan, hirarki yang tradisional dari sekolah tersebut adalah tersinggung. Itu mengubah dari suatu wujud yang ditetapkan, dengan pengawas dan para pemegang saham ada di puncak, guru dan siswa pada dasarnya memerlukan perubahan terus menerus. Satu-satunya yang konstan adalah karena pengawas dan para pemegang saham maupun para guru dan para siswa adalah di puncak kulminasi; bahwa posisi terpesan untuk gagasan, nilai dan komitmen berada di pusat pengikut. Suatu perubahan bentuk lebih lanjut berlangsung, dan penekanan yang birokratis, psikologis, dan pengarang masuk akal teknis kepada otoritas profesional dan moral .Sebagai hasilnya, posisi dan kepribadian hirarkis bukanlah cukup untuk mendapatkan satu mantel dari pemimpin sebagai gantinya, itu hadir lewat devosi dan suksesnya yang dipertunjukkan sebagai seorang Pemimpin pengikut benar adalah satu yang yang mengikuti terlebih dulu. (Sergiovanizi 1992, pp. 71-72)
Interaksi antara kepemimpinan dan pengikutnya sebelumnya terlihat di dalam presentasi pekerjaan dari Hall et al: (1990) di mengembangkan nilai-nilai manusia (lihat Table 42). Di dalam  pemimpin kepemimpinan mereka tingkatan yang paling tinggi ditempatkan di titik di mana konsep dari kepemimpinan dan followership gabungan dan perbedaan antara mereka menjadi tidak berarti.
Greenleaf (1977) menulis tentang servantleader. Ia menunjuk pada dua jenis kutub dari kepemimpinan: bahwa yang disediakan oleh orang yang secara alami tentu saja ditundukkan untuk memimpin terlebih dulu tetapi melalui layanan diberkati dengan otoritas kepemimpinan. Antara kutub itu terdapat banyak tempat teduh. Kepemimpinan dianugerahkan dicari oleh pemimpin. Greenleaf mencatat suatu perhitungan ulang isu dari kekuasaan dan otoritas dengan orang yang sedang belajar untuk berhubungan dengan satu sama lain di dalam lebih sedikit yang memaksa dan lebih dengan kreatif mendukung. "Suatu prinsip moral yang baru sedang muncul bahwa hanya kesetiaan otoritas berjasa yang dengan bebas dan dengan sadar dihibahkan oleh yang yang dipimpin kepada pemimpin sebagai jawaban atas, dan sebanding dengan, dengan jelas, kualitas moral pelayan jelas dari pemimpin" (p. 10). Pemimpin melayani berbeda dengan orang lain dari kehendak baik karena mereka mematuhi apa yang mereka percaya. Greenleaf menekankan arti penting itu kepada pemimpin yang berfungsi mendengarkan secara hati-hati dan mengerti. Ia menyatakan sekedar penyimpangan kuat bahwa suatu pelayan benar secara alami otomatis bereaksi terhadap setiap masalah dengan mendengarkan terlebih dulu. Greenleaf melihat satu-satunya lembaga; institusi yang sehat masa depan itu sebagian besar pelayan. yang dipimpin.
Konsep dari kepemimpinan, demokrasi dan pengikutnya pertama dikembangkan oleh Burns (1978) dan diringkas di dalam diskusi  "Transformational Leadership" dari  teks ini. pemikiran mendasar di kepemimpinan, terutama sekali keterlibatan moral mentransformasi kepemimpinan, bersifat asas pada  diskusi ini. Mereka menempatkan sifat yang timbal balik mentransformasi kepemimpinan digambar menurut perspektip mengenai para pengikut mentransformasi para pemimpin.

4.2.6.      Analisa nilai
Hodgkson (1983) menyatakan bahwa seorang pemimpin mempunyai suatu kewajiban yang filosofis untuk melakukan suatu analisis nilai dari permasalahan yang penting yang sedang dihadapi. Di dalam membuat analisa seperti itu,. pemimpin itu harus memisahkan minat dan nilai pribadi dari mereka yang dari organisasi dan minat dari orang lain harus ditempatkan di atas kepunyaan pribadi. Untuk berlatih kendali seperti itu perlukan pemimpin itu untuk mengetahui tugas, situasi, kelompok, dan dirinya  itu mengikuti di antara pertanyaan yang dijawab di suatu analisis nilai menurut Hodgkinson ( 1983, p.207):
»                Apakah yang merupakan nilai-nilai di dalam konflik dan dapat, mereka namai?
»                pada bidang-bidang apakah yang berharga dan kebanyakan akan terpengaruh?
»                Yang manakah adalah para aktor nilai?
»                Bagaimana konflik dibagi-bagikan, hubungan antar pribadi atau intra secara pribadi?
»                Adalah konflik inter hirarkis atau intra hirarkis?
»                Untuk apa strategi untuk resolusi konflik kebanyakan yang dicoba kepada kasus?
»                Apakah yang merupakan metavalues yang melibatkan di dalam kasus?
»                Ada suatu prinsip yang mengangkat atau menghindarkan?
»                Dapatkah tegangan yang tidak resolusi diakomodasikan?
»                konsekuensi-konsekuensi yang masuk akal dan pragmatis yang dilampirkan bersama
»                skenario yang mungkin?
»                Apa yang tubuh-tubuh berharga konsensus dan bunga(minat politis, jika relevan,
»                dimakan karat di dalam dan tanpa organisasi?
»                Kepada apa luas pemimpin mempunyai kendali atas media afektif dan informatif di
»                dalam kasus (tekanan media pers, radio, televisi, bentuk komunikasi, organisasi yang
»                informal, dll.)?
»                Apa yang merupakan luas dari mempengaruhi kendali di antara para pihak di dalam
»                kasus?
»                Apa yang merupakan luas dari komitmen di antara para pihak di dalam kasus itu kepada
»                posisi-posisi mereka yang masing-masing?
Hall et al. (1990) melihat koleksi data yang dapat dipercaya sekitar nilai-nilai menyatakan secara implisit atau dengan tegas oleh satu lembaga; institusi sebagai kritis kepada proses pengembangan organisatoris. Perbandingan dan pertentangan kemudian bisa dianalisa dan dibandingkan dengan suatu metodologi yang konsisten Di dalam  rencana analitis mereka, hasil diagnosa organisatoris terdiri dari tiga bagian: analisa dokumen, inventaris nilai-nilai pribadi, dan kelompok menilai analisa.
Menguji dokumen termasuk statemen misi dan statemen dari filsafat untuk menyatakan tujuan dan tujuan organisasi, dan kebijakan dan prosedur yang mengutamakan harapan dan sanksi tingkah laku yang dinyatakan. Menggunakan analisa isi dan mencari seikat nilai, suatu profil nilai dari organisasi itu dapat dikembangkan. Nilai yang diperkuat, dengan sengaja atau tanpa disengaja, dapat ia mengenali lewat proses ini, buka peluang suatu sekolah untuk mengembangkan strategi untuk membantu nya menjadi lebih konsisten dan lebih memfokuskan dalam  itu apa dan berkata.
Sejumlah instrument yang ada tersedia karena menaksir nilai pribadi seperti Hall Tonna Inventory (Hall et al., 1990). Instrumen seperti itu hasilkan profil nilai pribadi yang bersifat bermanfaat untuk analisa dan ilmu pengobatan yang diri sendiri atau untuk pengumpulan oleh unit atau organisasi yang mengijinkan analisis kelompok. Profil dikumpulkan dapat dibandingkan dengan nilai yang diharapkan dari organisasi seperti yang diungkapkan oleh analisa dokumen. Ketidak konsistensian boleh mengungkapkan suatu kebutuhan untuk menyatakan kembali nilai yang organisatoris, untuk membawa nilai pribadi di dalam garis dengan nilai organisatoris yang diharapkan melalui pengembangan staff memprogram, atau kombinasi keduanya.
Individu menganalisa dokumen dan analisis kelompok dapat menyediakan pengertian yang mendalam info sejumlah aspek kritis dari kultur milik sekolah tersebut yang organisatoris. Informasi dikumpulkan akan mengungkapkan bidang tekanan yang mungkin antara para guru dan pengurus seperti juga antara para anggota pengurus dan dewan. Itu akan mengidentifikasi dan mengukur prioritas yang mengeluarkan dan nilai yang diuji dalam satu cara yang objektif. Proses itu akan mengungkapkan gaya kepemimpinan mata antar pengurus para guru dan para anggota dewan sekolah. Itu akan mengidentifikasi menguraikan dan meneliti nilai dasar mempola di dalam misi, filsafat dan prosedur dan akan menyarankan cara nilai ini mempola dampak di suatu kultur sekolah sehari-hari. Akhirnya data dihasilkan akan menandai adanya peningkatan ketrampilan yang diperlukan untuk individu dan kelompok para guru, para anggota pengurus atau anggota dewan. (Hall et al. 1990 pp. 64-65)

4.3.    Metavalues
Hodgkinson (1983) menggambarkan istilah metavalue sebagai "suatu konsep yang sangat diinginkan kukuh dan tetap, bagi pribadi bahwa itu sepertinya tak perlu dipertengkarkan atau perkelahian satu bahwa biasanya dikalkulasikan sebagai nilai yang biasa dari individu dan hidup kolektif dalam wujud satu tak diucapkan atau asumsi yang tidak diuji" (p. 43). Di dalam administrasi dan hidup organisatoris, ia mengenali metavalues yang dominan sebagai efektivitas efisiensi kering.
Nyberg ( 1993, p.196) mengungkapkan "moral universal adalah sama untuk setiap orang di  itu tersebut didasarkan pada perhatian untuk martabat manusia; kesopanan; hubungan sukarela yang bukanlah menekan, dan sekitar jenis pemenuhan rohani." Pokok berbeda dengan dari orang ke orang, kelompok satu dengan lainnya, tempat untuk menempatkan, dan dari waktu kepada waktu; tetapi dasar dari perhatian tetap konsisten. Kita semuanya sebangun, tetapi masing-masing adalah unik.
Rokeach (1973) yang dicari untuk mengidentifikasi keinginan idaman atau nilai yang dipilih untuk pertimbangan khusus oleh semua ideologi politis. Ia menghipotesakan bahwa variasi yang utama di dalam ideologi politis pada dasarnya dapat dikurangi untuk menentang orientasi nilai mengenai keinginan atau hal tak diinginkan yang politis kebebasan dan persamaan di dalam semua percabangan mereka.
Getzels (1957, 1978) menunjuk nilai inti nasional seperti "suci." Ia mengenali empat nilai yang suci sebagai hal yang di inti dari etos Amerika itu: demokrasi, individualisme, persamaan, dan dijadikan sempurna manusia.
Literatur di kebijakan bidang pendidikan membuat seringnya eksplisit atau acuan terkandung pada nilai yang serupa. Guthrie, Garms, dan Pierce (1988) menunjuk persamaan, efisiensi, dan kebebasan tipea nilai-nilai dari perhatian masyarakat yang tertentu. Wirt (1987) menunjuk persetujuan umum antar negara-negara yang nilai-nilai yang utama di dalam pendidikan bersifat mutu (dijadikan sempurna keunggulan atau manusia, hak kekayaan, efisiensi, dan pilihan (kebebasan atau kebebasan).  Boyd (1984) memfokuskan di persamaan kebebasan, dan efisiensi seperti "persaingan nilai-nilai" di dalam yang bidang pendidikan -penguasaan kebijakan dan sekolah di dalam demokrasi yang Barat (p1). Swanson (1989) mengenali lima nilai yang telah menurut sejarah terkemuka di dalam membentuk masyarakat-masyarakat buritan dan yang adalah juga sangat relevan kepada ketetapan dan konsumsi jasa bidang pendidikan: kebebasan, persamaan, kelompok persaudaraan: efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi Ada sangat banyak yang tumpang-tindih di antara berbagai daftar dengan kebebasan dan persamaan yang muncul di hampir semua.
Nama dari suatu metavalue boleh melanjutkan sebagai yang sama, tetapi definisi-definisi boleh bertukar-tukar dari satu ke lain tempat dan dari waktu ke waktu. Nyberg (1981, bagian  ke II), sebagai contoh,  memperingatkan bahwa "kebebasan (atau kebebasan) dengan maksud sedikitnya pada sebagian dari waktu di mana itu digunakan. Ia menunjukkan bahwa Amerika Serikat melihat suatu perubahan bentuk antara 1787 -dan 1947,  sama seperti "hak-hak kebebasan alami (hak-hak melawan terhadap pemerintah, hak-hak dari kemerdekaan)"  menjadi hak-hak warga negara (hak-hak untuk mengambil bagian di dalam pemerintahan sipil)" dan  kemudiannya menjadi "kebebasan manusia (hak-hak untuk pemerintah bantuan dari dalam mencapai perlindungan dari ketakutan dan keinginan)"p. 97-98).
Perubahan bentuk paralel terjadi di dalam arti dari persamaan (atau hak kekayaan). Pada awalnya, persamaan berisi hanya dari hak dan bukan kondisi, untuk diperlakukan sama di depan hukum, kebiasaan, dan tradisi dengan persamaan yang instrumen untuk menjamin kebebasan seperti digambarkan. Akhir akhir ini definisi yang operasional, persamaan sudah memperluas untuk termasuk faktor kondisi. Sebagai contoh beberapa orang bersifat orang cacat jasmani di dalam menyenangi kebebasan oleh karena keadaan di luar kendali mereka seperti status minoritas, kemiskinan jenis kelamin, dan halangan psikologis dan secara fisik. Sementara kebebasan dan persamaan melengkapi satu sama lain seperti dirumuskan dalam 1787 definisi zaman ini lebih luas persamaan membawa nya ke dalam langsung bertikai dengan nilai dari kebebasan (sebagaimana yang ditemukan pertama kali) karena kebijakan penyelesaian sengketa dengan penengahan kembali melibatkan Tidak Hanya orang yang hanya semua yang lain. Kebebasan memerlukan satu peluang untuk ungkapan melalui kebebasan yang individu, sedangkan persamaan kondisi memerlukan penahanan kebebasan yang individu.
Oleh karena ketidak konsistenan yang konseptual antar nilai, tidaklah mungkin untuk menekankan semuanya pada waktu yang sama di muka umum kebijakan atau di dalam hidup yang diinginkan yang individu meskipun demikian masing-masing mungkin. Individu dan masyarakat harus menetapkan prioritas. Ini adalah suatu proses yang dinamis. Prioritas individu berubah dengan keadaan. dan di mana telah ada suatu perubahan yang cukup antar individu, bergeser ke dalam prioritas publik mengikuti Ravitch, 1985, p.5). Persetujuan atas prioritas bukanlah hal yang penting bagi pihak swasta menjual keputusan sektor di luar tingkatan keluarga. Di dalam sektor publik bagaimanapun, suatu keputusan bentuk tunggal diperlukan untuk menyertakan negosiasi dan kompromi antar kaum pengikut yang tertarik (cabang kebudayaan dan kelompok), membangitkan tekanan sosial penting di dalam proses. Yang lebih tinggi tingkat persetujuan pengumpulan semakin sulit  karena semakin besar jumlah dari hal tidak sejenis diperkenalkan.
Spindler (1955) menjelaskan serangan di pendidikan publik di dalam 1950an dengan mengutip pergeseran nilai kemasyarakatan utama mengikuti Perang Dunia II. (Acuan kepada analisa Spindler mengingatkan kita bahwa ini bukan generasi pertama pendidik sebagai para penerima kritik publik yang bermusuhan.) Spindler melihat kritik hari itu merupakan produk dari suatu kultur Amerika yang sedang mengalami suatu pergeseran riil dalam nilai. Populasi yang lulus transisi budaya adalah Characterized oleh konflik, dan dalam  wujud paling parah; sulit; keras; berat nya, demoralisasi dan diorganisasi. Konflik melampaui kelompok dan lembaga; institusi karena individu dalam suatu masyarakat transformational mungkin untuk menjaga unsur dari kedua-duanya dominan dan muncul sistem nilai secara serentak. Situasi seperti itu bukanlah hanya yang dikacaukan oleh kelompok memerangi satu sama lain, tetapi juga oleh perkelahian individu sendiri.
Spindler (1955) menggambarkan nilai tradisional sebagai moralitas Puritan; pekerjaan susila sukses, individualisme, orientasi prestasi, dan orientasi masa depan. Nilai-nilai ini sedang terancam oleh nilai yang muncul: keramahan; sikap moral relativistic, pertimbangan untuk yang lain, orientasi waktu sekarang Hedonistic, dan penyesuaian kepada kelompok. Ia menyimpulkan bahwa ada suatu bendungan dan suatu kekuatan di dalam nilai tradisional menetapkan banyak yang dipandang itu dengan nostalgia. Tetapi,persaingan individualisme tidak datar (dalam   kebijaksanaan), dan moralism kaku (dengan kapasitas nya untuk yang dipindahkan benci) tidak baik yang dijadikan tidak fungsional di suatu masyarakat di mana orang-orang sedang dalam massa poliglot dan meremehkan teknologi bahwa boleh menghancurkan; atau menyelamatkan, dengan desakan dari tombol-tombol.
Lebih baru-baru ini, Nyberg (1993) dengan cara yang sama menyimpulkan bahwa suatu prinsip moral atau orientasi positivist (yang digambarkan sebelumnya) tumbuh dengan subur di suatu lingkungan yang mendukung, tetapi mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru tipe lingkungan berubah. Sebaliknya, nilai yang pribadi atau constructivist orientasi (juga digambarkan sebelumnya) mempunyai suatu kesempatan yang lebih baik dari bertahan hidup jangka panjang di dalam moral ini banyak sekali perubahan terus menerus oleh karena kemampuan beradaptasi nya yang fleksibel dan kesediaan nya untuk menyesuaikan diri dengan ketidak-pastian.
Pergeseran yang berharga dikenali oleh Spindler dan oleh Nyberg yang disebut adalah mungkin untuk melanjutkan ke dalam masa depan yang dapat diduga. Sebagai tambahan, situasi geo-political di dalam dunia sudah mencair pada masa yang lampau dekade. Ini, menggabungkan dengan kemajuan teknologi yang tak ada bandingnya, kelihatannya untuk memiliki dan mempercepat tingkat yang utama pergeseran dalam prioritas nilai dan di dalam ketidak puasan yang dinyatakan dengan keadaan tetap pada suatu saat tertentu Paradigma kuno kelihatannya tidak cocok lagi.
Isu-isu zaman ini utama berputar-balik di sekitar bersaing sasaran hasil sosial dari persamaan, kebebasan pribadi, dan efisiensi produktif di antaranya. Pertanyaan tentang ya atau tidaknya masing-masing dapat bersama-sama di masa mendatang melalui kebijakan yang publik sedang dengan semangat diperdebatkan. Skenario yang hampir bisa dipastikan adalah karena satu atau dua nilai-nilai akan diberi prioritas; seperti di masa lampau itu kepada resiko dari yang lainnya. Fermentasi bahwa kita adalah yang mengalami hari ini adalah suatu fungsi perjuangan politis dinamis untuk mencapai keseimbangan terbaik antar minat yang sah. Keseimbangan terbaik sudah memberi variasi, dan akan melanjutkan untuk bertukar-tukar; dari masyarakat ke masyarakat dan dari waktu ke waktu di dalam suatu masyarakat sebagai definisi konteks dan nilai dan prioritas berubah (Wirt, 1986).

4.4.    Studi kasus :Kehamilan remaja dan Pencegahan AIDS
Menurut suatu National Survey Family Growth melakukan delapan bertahun-tahun yang lalu, 19 persen dari anak-anak perempuan di bawah usia dari 15 secara seksual berpengalaman; hari ini bahwa tingkat adalah hampir 30 persen. Tujuh dari sepuluh remaja nerusia 18 tahun telah berpengalaman secara seksual (Freeman, 1990).
State Education Department sudah mengamanatkan Pendidikan AIDS untuk diterapkan di dalam daerah sekolah. Sindrom AIDS adalah suatu penyakit karena virus fatal bahwa menyerang sistim kekebalan tubuh, pasien-pasien sisa-sisa berbahaya, lemah kepada banyak infeksi/peradangan, dan dianggap sebagai ancaman kesehatan masyarakat abad ini" Center for Health Statistics meramalkan bahwa AIDS adalah salah satu dari sepuluh penyebab utama kematian di tahun 1990an dan bahwa itu akan memimpin penyebab kematian untuk orang-orang tua usia 25 sampai 44 (united way 1988).
Rumah sakit lokal melaporkan suatu peningkatan angka dari bayi-bayi yang dilahirkan dari wanita-wanita yang mengidap HIV-positive atau dengan AIDS. Sejumlah daerah-daerah sekolah, terutama yang di dalam kota-kota yang besar sedang mulai mendistribusikan kondom-kondom kepada populasi siswa dalam percobaan untuk membatasi tingkat kehamilan yang remaja dan sebagai satu ukuran pencegahan AIDS.
Permasalahan kehamilan yang remaja dipandang oleh US. House of Representatives Select Committee on Children, youth and Families di tahun 1987 seperti " yang tak dapat diterima," "membinasakan," dan " mengerikan" (Kcough, 1988) Data sensus lokal yang sebagai tambahan menunjukkan bahwa kejadian dari kehamilan yang remaja sudah meningkat dengan mantap.
Kepala sekolah, para guru kesehatan, perawat, karyawan kemasyarakatan, dan penasihat di dalam daerah sekolah sudah melaporkan informasi penelitian bahwa mendukung persepsi bahwa ada satu peningkatan di dalam banyaknya kehamilan-kehamilan di dalam populasi siswa. Meski sejumlah para siswa lebih memilih untuk penghentian kehamilan melalui pengguguran, kecenderungan adalah untuk meningkatkan para siswa lebih memilih untuk membesarkan bayi mereka. Mayoritas anak belasan tahun yang hamil di dalam kelas yang ke duabelas dan yang ke sebelas meski semakin banyak peristiwa sedang dilaporkan dari kelas tujuh sampai sepuluh. Para guru sudah melaporkan bahwa para siswa kelihatannya ingin menjadi hamil. Para agen layanan sosial setuju bahwa anak perempuan melihat suatu nilai di dalam kehamilan karena memberikan mereka suatu status yang khusus. Ada beberapa perhatian bahwa sejumlah anak perempuan mungkin telah diangkat di keluarga-keluarga dysfunctional, mengalami pelecehan anak atau ibu-ibu pengabaian dan mahluk itu tunggal akan cenderung untuk melanjutkan siklus.
Dengan keadaan, Dewan pendidikan sudah meminta rekomendasi dari pengawas untuk menentukan kebijakan dari isu  pendidikan AIDS dan kehamilan remaja. Anda adalah seorang anggota suatu panitia untuk belajar isu itu dan untuk membuat pujian; rekomendasi yang didasarkan peran yang anda telah ditugaskan. Keputusan itu akan didasarkan pada konsensus. Panitia itu terdiri atas: seorang guru kesehatan orangtua, dewan siswa anggota pendidikan, pokok sekolah dan observer/recorder.
Secara minimal, kebijakan itu harus menunjuk isu dari pendidikan AIDS dan kehamilan siswa. Ada usulan bahan kebijakan dan sumber daya (Brodinsky &Keough. 1989) untuk membantu panitia di dalam perumusan rekomendasi kebijakan daerah yang baru. Itu diusulkan bahwa setelah menjadi terbiasa dengan kebijakan yang mungkin, panitia brainstorm dan mendaftar nilai yang tersembunyi dalam analisa. 
Tugas dari panitia hanyalah untuk merekomendasikan; bagaimanapun ada kemungkinan bahwa pengawas itu akan mengikuti nasihat dari panitia dan maju kebijakan nya yang yang direkomendasikan kepada Dewan pendidikan. Oleh karena itu, anda dan para anggota lain panitia itu akan alternatif daftar, menyediakan suatu analisa yang diakibatkan untuk kebijakan yang ditolak dan yang direkomendasikan. Argumentasi akan dibahas bahwa bisa digunakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang didasarkan analisa nilai.
Rekomendasi akhir harus sebagai konsensus, setiap orang keputusan itu di dalam kelompok itu dapat menerima. Di antara usulan kebijakan pertimbangan adalah:
»            Kebijakan A: Anak-anak perempuan yang hamil akan ditempatkan di rumah atas permintaan mereka. Anak-anak perempuan akan didorong untuk mengejar suatu ijazah ekwivalensi sekolah menengah jika mereka 16 tahun atau lebih tua. Anak-anak perempuan yang lebih muda akan kembali ke sekolah mengikuti penyerahan dari bayi-bayi mereka dan berlanjut di dalam program yang tradisional.
»            Kebijakan B: Para siswa akan didorong untuk meninggalkan sekolah secepat itu menjadi jelas bahwa kehamilan mereka sebagai suatu penghalang untuk para siswa yang lain. Para siswa akan ditugaskan kepada instruksi rumah atau dapat mendaftarkan/mengerahkan di dalam layanan alternatif sekolah-sekolah program sosial. Menyediakan suatu lingkungan pemeliharaan untuk guru para siswa yang hamil suatu pesan kepada para siswa yang lain bahwa siswa yang hamil bisa diterima secara khusus.
»            Kebijakan C : Sekolah akan mengizinkan para siswa untuk melanjutkan tendensi di dalam program reguler dan memperlakukan kelas jauh dari sekolah sebagai siswa yang sakit.
»            Kebijakan D : Sekolah akan mengembangkan program alternatif khusus untuk para siswa yang hamil dan mengasuh. Itu dikenal bahwa para siswa ini mempunyai kebutuhan khusus. Para siswa hamil akan dengan aktip didorong untuk mendaftarkan di dalam program jenis ini.
»            Kebijakan E : Sekolah akan menyediakan hari bayi dan anak kecil yang baru belajar jalan karena ibu-ibu remaja di sekolah.
»            Kebijakan F : Para siswa hamil dan ibu-ibu remaja akan diwajibkan untuk mendaftarkan kejuruan dan kursus-kursus pendidikan teknis sebagai mereka akan bertanggung jawab atas mendukung diri mereka dan anak mereka.
»            Kebijakan G: Sekolah akan kontrak tambahan dengan hari mempedulikan penyedia di dalam dekatnya sekolah tersebut untuk jasa untuk para siswa yang mempunyai anak-anak dan kekurangan keuangan.
»            Kebijakan H : Meskipun daerah yang lain mungkin punya suatu masalah dengan kehamilan remaja, daerah ini tidak; oleh karena itu, kita tidak perlu suatu kebijakan
»            Kebijakan I : Sebagai suatu pendekatan bidang pendidikan dan praktis kepada pembatasan kelahiran dan suatu penghalang untuk AIDS, instruksi di pemakaian kondom akan disediakan dan kondom akan disediakan kepada semua siswa sepanjang sekolah tersebut.
»            Kebijakan J : Pendidikan seks tidak akan diajar di sekolah; (ia) adalah tanggung jawab orang tua.
»            Kebijakan K : Suatu kurikulum akan dikembangkan untuk termasuk pendidikan mengenai nafsu manusia dan nilai. Mengagumi diri sendiri akan dikenali sebagai kritis di dalam mengembangkan suatu lingkungan pelajaran hal positif seperti juga suatu penghalang kepada kehamilan remaja.
»            Kebijakan L : pendidikan AIDS akan disediakan melalui kontrak tambahan dengan personil medis untuk menyediakan presentasi pemasangan dan kelas; selain dari ini ada kebutuhan kecil untuk pendidikan sebagai ini bukan suatu masalah di dalam daerah ini.
»            Kebijakan M : pendidikan AIDS akan ditanamkan ke dalam kurikulum K-12.
Pertimbangan ukuran karena pengambilan keputusan boleh meliputi yang berikut metavalues yang mempengaruhi kebijakan sosial. (Swanson, 1989):
»            Kebebasan : hak dari setiap untuk memilih jenis berbagai keinginan nya, bukan tunduk kepada kendali atau batasan tak pantas.
»            Hak kekayaan: perawatan dari setiap adalah sama di depan hukum, kebiasaan, dan tradisi seperti juga kondisi; pendidikan mencari untuk mengurangi kewajiban bahwa bu menghalangi perorangan di dalam masyarakat
»            Fraternity : suatu pengenalan suatu ikatan yang umum yang membangun suatu pengertian dari masyarakat; kesatuan dan kebangsaan
»            Efficiency : perhatian yang dinyatakan dalam kaitan dengan menggunakan istilah tanggung-jawab dan standard tinggi.

4.5.    Aktivitas untuk Diskusi
1.           Setiap orang mempunyai suatu pandangan yang filosofis tentang hidup meskipun mungkin tidak telah secara menyeluruh dilafalkan.
a)           Mencerminkan pandangan filosofis tentang yang hidup dan meringkas nya dalam beberapa alinea-alinea.
b)          Apakah pandangan mu yang filosofis serupa dengan setiap  yang digambarkan itu di dalam bab ini? yang mana?
c)           Bagaimana cara filsafat hidup mu mempengaruhi perilaku yang profesional?
2.           Kembangkanlah untuk diri anda "profesional platform" bahwa dapat bertindak sebagai satu kerangka operasional untuk pengambilan keputusan. Termasuk:
a)           suatu uraian sistim diri sendiri kepercayaan-kepercayaan
b)          suatu statemen dari pendapat mu menyangkut misi pendidikan yang diterima di sekolah sebagai suatu proses sosial
c)           suatu statemen menyangkut pertimbangan anda ingin menjadi suatu pengurus sekolah
d)          suatu statemen dari pandangan-pandangan mu di peran dari pengurus-pengurus di sekolah-sekolah, hubungan-hubungan mereka yang ideal dengan para anggota yang lain sekolah tersebut dan sistim, dan bagaimana mereka perlu menerapkan peran mereka.

3.           Banyak proposal-proposal telah diperkenalkan karena memperbaiki pendidikan. Identifikasi nilai-nilai yang makro berhubungan dengan masing-masing dari :
»             perubahan yang diusulkan didaftarkan di bawah dan
»             menunjukkan bagaimana masing-masing menandai suatu keberangkatan dari nilai-nilai yang tidak bisa dipisahkan yang makro di dalam keadaan tetap pada suatu saat tertentu.
a)           pilihan keluarga dari sekolah negeri
b)          voucher-voucher bidang pendidikan tidak dibatasi
c)           kredit pajak untuk uang kuliah sekolah swasta
d)          pengambilan keputusan berbasis sekolah
e)           pembiayaan negara penuh pendidikan yang diterima di sekolah
f)           kurikulum negara yang diamanatkan





Hasil gambar untuk inquiry process
Inquiry Process
The inquiry process is just that: a process. No one model can encapsulate inquiry-based education and the range it encompasses. We are fully aware of the dangerous line we tread when we try to describe a process that is dynamic; and we must stress that any one description is not the only-or the ideal-model.
Our intention is to present some of the important aspects of inquiry that ought to be supported in a successful learning environment. For example, we should remember that inquiry often does-and should-lead to the creation of new ideas. And constructively communicating those ideas within the context of our classroom environments is central to the whole inquiry process.
That said, below you will find a basic outline of what the inquiry process includes.
Ask
It begins with the desire to discover. Meaningful questions are inspired by genuine curiosity about real-world experiences. A question or a problem comes into focus at this stage, and the learner begins to define or describe what it is.
Some real examples of questions in this stage in the process are:
  • "What makes a poem poetry?"
  • "Where do chickens come from and how does an egg 'work'?"
  • "Why does the moon change shape?"
Of course, questions are redefined throughout the learning process. We never fully leave one stage and go neatly to the next. As one teacher at a recent Inquiry Workshop pointed out, "It's messy, but it works!"
Questions naturally lead to the next stage in the process: investigation.
Investigate
Taking the curious impulse and putting it into action is what we call the investigation process. At this stage the learner begins to gather information: researching resources, studying, crafting an experiment, observing, or interviewing, to name a few. The learner may recast the question, refine a line of query, or plunge down a new path that the original question did not-or could not-anticipate. The information-gathering stage becomes a self-motivated process that is wholly owned by the engaged learner.
Create
As the information gathered in the investigation stage begins to coalesce, the learner begins to make connections. The ability at this stage to synthesize meaning is the creative spark that forms all new knowledge. The learner now undertakes the creative task of shaping significant new thoughts, ideas, and theories outside of his/her prior experience.
Discuss
At this point in the circle of inquiry, learners share their new ideas with others. The learner begins to ask others about their own experiences and investigations. Shared knowledge is a community-building process, and the meaning of their investigation begins to take on greater relevance in the context of the learner's society. Comparing notes, discussing conclusions, and sharing experiences are all examples of this process in action.
Reflect
Reflection is just that: taking the time to look back at the question, the research path, and the conclusions made. The learner steps back, takes inventory, makes observations, and possibly makes new decisions. Has a solution been found? Do new questions come into light? What might those questions be?
And so it begins again; thus the circle of inquiry.

What Is Inquiry?

Inquiry is a dynamic process of being open to wonder and puzzlement and coming to know and understand the world. As such, it is a stance that pervades all aspects of life and is essential to the way in which knowledge is created. Inquiry is based on the belief that understanding is constructed in the process of people working and conversing together as they pose and solve the problems, make discoveries and rigorously testing the discoveries that arise in the course of shared activity.
Misconception Alert
“Inquiry is not a “method” of doing science, history, or any other subject, in which the obligatory first stage in a fixed, linear sequence is that of students each formulating questions to investigate. Rather, it is an approach to the chosen themes and topics in which the posing of real questions is positively encouraged, whenever they occur and by whoever they are asked. Equally important as the hallmark of an inquiry approach is that all tentative answers are taken seriously and are investigated as rigorously as the circumstances permit.”(1)
Inquiry is a study into a worthy question, issue, problem or idea. It is the authentic, real work that that someone in the community might tackle. It is the type of work that those working in the disciplines actually undertake to create or build knowledge. Therefore, inquiry involves serious engagement and investigation and the active creation and testing of new knowledge.
There are several dimensions of inquiry:
·         Authenticity
o    The inquiry study emanates from a question, problem or exploration that has meaning to the students.
o    An adult at work or in the community might actually tackle the question, problem, issue or exploration posed by the task/s.
o    The inquiry study originates with an issue, problem, question, exploration or topic that provides opportunities to create or produce something that contributes to the world’s knowledge.
o    The task/s require/s a variety of roles or perspectives.
·         Academic Rigour
o    The inquiry study leads students to build knowledge that leads to deep understanding.
o    Students are provided with multiple, flexible ways to approach the problem, issue or question under study that use methods of inquiry central to the disciplines that underpin the problem, issue or question.
o    The inquiry study encourages students to develop habits of mind that encourage them to ask questions of
§  evidence (how do we know what we know?)
§  viewpoint (who is speaking?)
§  pattern and connection (what causes what?)
§  supposition (how might things have been different?)
§  why it matters (who cares)
·         Assessment
o    On-going assessment is woven into the design of the inquiry study providing timely descriptive feedback and utilizes a range of methods, including peer and self evaluation. Assessment guides student learning and teacher’s instructional planning.
o    The study provides opportunities for students to reflect on their learning using clear criteria that they helped to set. The students use these reflections to set learning goals, establish next steps and develop effective learning strategies.
o    Teachers, peers, adults from outside the classroom and the student are involved in the assessment of the work.
·         Beyond The School
o    The study requires students to address a semi-structured question, issue or problem, relevant to curriculum outcomes, but grounded in the life and work beyond the school.
o    The study requires students to develop organizational and self management skills in order to complete the study.
o    The study leads students to acquire and use competencies expected in high performance work organizations (eg. team work, problem solving, communications, decision making and project management).
·         Use of Digital Technologies
o    Technology is used in a purposeful manner that demonstrates an appreciation of new ways of thinking and doing. The technology is essential in accomplishing the task.
o    The study requires students to determine which technologies are most appropriate to the task.
o    The study requires students to conduct research, share information, make decisions, solve problems, create meaning and communicate with various audiences inside and outside the classroom.
o    The study makes excellent use digital resources.
o    Students and parents have on-going, online access to the study as it develops.
o    The study requires sophisticated use of multimedia/hypermedia software, video, conferencing, simulation, databases, programming, etc.
·         Active Exploration
o    The study requires students to spend significant amounts of time doing field work, design work, labs, interviews, studio work, construction, etc.
o    The study requires students to engage in real, authentic investigations using a variety of media, methods and sources.
o    The study requires students to communicate what they are learning with a variety of audiences through presentation, exhibition, website, wiki, blog, etc.
·         Connecting With Expertise
o    The study requires students to observe and interact with adults with relevant expertise and experience in a variety of situations.
o    The study requires students to work closely with and get to know at least one adult other than their teacher.
o    The tasks are designed in collaboration with expertise, either directly or indirectly. The inquiry requires adults to collaborate with one another and with students on the design and assessment of the inquiry work.
·         Elaborated Communication
o    Students have extended opportunities to support, challenge, and respond to each other’s ideas as they negotiate a collective understanding of relevant concepts. Students have opportunities to negotiate the flow of conversation within small and large group discussions.
o    Students have opportunities to choose forms of expression to express their understanding.
o    The inquiry provides opportunities for students to communicate what they are learning with a variety of audiences.
These are taken from the Inquiry Rubric
Misconception Alert
“Inquiry is not to be thought of in terms of isolated projects, undertaken occasionally on an individual basis as part of a traditional transmissionary pedagogy. Nor is it a method to be implemented according to a preformulated script.”(1)
There is a difference between Projects as conventionally understood in education circles and Project-based Learning that fosters inquiry. When using projects within inquiry it is important to note the differences.
Project
Project-based Learning
loose set of activities
inquiry-based
supplements the curriculum
part of the regular curriculum and instruction
thematic
focused
broad assessments
maps to specific outcomes
guided by assessment for learning
no management structure
uses project management tools
______________________
Reference
(1) Wells, Gordon (2001). Action, talk & text: Learning & Teaching Through Inquiry. New York, NY: Teachers College Press.

Welcome to Inquiry-based Learning. Start here in the "Explanation" section, which is all about the CONCEPT. Then go on to "Demonstration" and the following sections, where we move from CONCEPT TO CLASSROOM!
What is inquiry-based learning?

What is inquiry-based learning?
An old adage states: "Tell me and I forget, show me and I remember, involve me and I understand." The last part of this statement is the essence of inquiry-based learning, says our workshop author Joe Exline 1. Inquiry implies involvement that leads to understanding. Furthermore, involvement in learning implies possessing skills and attitudes that permit you to seek resolutions to questions and issues while you construct new knowledge.
1.
Part 1 of 2
Part 2 of 2
Transcript
Tim O'Keefe, a teacher at the Center for Inquiry elementary school in Columbia, South Carolina, explains why he thinks inquiry is a much more effective teaching strategy than traditional chalk-and-talk.
"Inquiry" is defined as "a seeking for truth, information, or knowledge -- seeking information by questioning." Individuals carry on the process of inquiry from the time they are born until they die. This is true even though they might not reflect upon the process. Infants begin to make sense of the world by inquiring. From birth, babies observe faces that come near, they grasp objects, they put things in their mouths, and they turn toward voices. The process of inquiring begins with gathering information and data through applying the human senses -- seeing, hearing, touching, tasting, and smelling.
A Context for Inquiry
Unfortunately, our traditional educational system has worked in a way that discourages the natural process of inquiry. Students become less prone to ask questions as they move through the grade levels. In traditional schools, students learn not to ask too many questions, instead to listen and repeat the expected answers.

Some of the discouragement of our natural inquiry process may come from a lack of understanding about the deeper nature of inquiry-based learning. There is even a tendency to view it as "fluff" learning. Effective inquiry is more than just asking questions. A complex process is involved when individuals attempt to convert information and data into useful knowledge. Useful application of inquiry learning involves several factors: a context for questions, a framework for questions, a focus for questions, and different levels of questions. Well-designed inquiry learning produces knowledge formation that can be widely applied.


Importance of Inquiry
Memorizing facts and information is not the most important skill in today's world. Facts change, and information is readily available -- what's needed is an understanding of how to get and make sense of the mass of data.
Educators must understand that schools need to go beyond data and information accumulation and move toward the generation of useful and applicable knowledge . . . a process supported by inquiry learning. In the past, our country's success depended on our supply of natural resources. Today, it depends upon a workforce that "works smarter."
Through the process of inquiry, individuals construct much of their understanding of the natural and human-designed worlds. Inquiry implies a "need or want to know" premise. Inquiry is not so much seeking the right answer -- because often there is none -- but rather seeking appropriate resolutions to questions and issues. For educators, inquiry implies emphasis on the development of inquiry skills and the nurturing of inquiring attitudes or habits of mind that will enable individuals to continue the quest for knowledge throughout life.
Content of disciplines is very important, but as a means to an end, not as an end in itself. The knowledge base for disciplines is constantly expanding and changing. No one can ever learn everything, but everyone can better develop their skills and nurture the inquiring attitudes necessary to continue the generation and examination of knowledge throughout their lives. For modern education, the skills and the ability to continue learning should be the most important outcomes. The rationale for why this is necessary is explained in the following diagrams.
Illustration developed by Joe Exline
This figure illustrates how human society and individuals within society constantly generate and transmit the fund of knowledge 2. 

2. 

Human society and individuals within society constantly generate and transmit this fund of knowledge. Experts, working at the boundary between the known and the unknown, constantly add to the fund of knowledge.
It is very important that knowledge be transmitted to all the members of society. This transmission takes place through structures like schools, families, and training courses.
Certain attributes are necessary for both generating and effectively transmitting the fund of knowledge. The attributes that experts use to generate new knowledge are very similar to the qualities essential for the effective transmission of knowledge within the learners' environment. These are the essential elements of effective inquiry learning:
.
Experts see patterns and meanings not apparent to novices.
.
Experts have in-depth knowledge of their fields, structured so that it is most useful.
.
Experts' knowledge is not just a set of facts -- it is structured to be accessible, transferable, and applicable to a variety of situations.
.
Experts can easily retrieve their knowledge and learn new information in their fields with little effort.

(The list above was adapted from "How People Learn," published by the National Research Council in 1999.)
Illustration developed by Joe Exline
This figure illustrates the attributes necessary for both generating and effectively transmitting the fund of knowledge. 

We propose that the attributes experts use to generate new knowledge are very similar to the attributes essential for the effective transmission of knowledge within the learner's environment -- the essentials of effective inquiry learning. 

Inquiry is important in the generation and transmission of knowledge. It is also an essential for education, because the fund of knowledge is constantly increasing. The figure below illustrates why trying to transmit "what we know," even if it were possible, is counterproductive in the long run. This is why schools must change from a focus on "what we know" to an emphasis on "how we come to know."

Illustration developed by Joe Exline
This chart illustrates that while knowledge is constantly increasing, so is the boundary of the unknown. 
An effective and well-rounded education gives individuals very different but interrelated views of the world. All disciplines have important relationships that provide a natural and effective framework for the organization of the school curriculum, as shown in the chart below. The subject matter of disciplines can be set in the larger context of a conceptual framework 3. This framework is crucial for understanding change and also for the organization of the discipline and its application to the natural and human-designed worlds.
3. 
Illustration developed by Joe Exline
This chart illustrates that skills for processing information are similar across all disciplines. 
The habits of mind 4, values, or "ground rules" of a particular discipline provide that discipline's unique perspective. The sciences, for example, demand verification of data, while the study of literature often relies on opinions and subjective interpretations as a source of information. Habits of mind vary in their rigidity across disciplines. This doesn't mean that one is right and the other is wrong, but simply that the "ground rules" are different.
4. 
The Application of Inquiry
While much thought and research has been spent on the role of inquiry in science education, inquiry learning can be applied to all disciplines. Individuals need many perspectives for viewing the world. Such views could include artistic, scientific, historic, economic, and other perspectives. While disciplines should interrelate, inquiry learning includes the application of certain specific "ground rules" that insure the integrity of the various disciplines and their world views.
Outcomes of Inquiry
An important outcome of inquiry should be useful knowledge about the natural and human-designed worlds. How are these worlds organized? How do they change? How do they interrelate? And how do we communicate about, within, and across these worlds? These broad concepts contain important issues and questions that individuals will face throughout their lives. Also, these concepts can help organize the content of the school curriculum to provide a relevant and cumulative framework for effective learning. An appropriate education should provide individuals with different ways of viewing the world, communicating about it, and successfully coping with the questions and issues of daily living.
While questioning and searching for answers are extremely important parts of inquiry, effectively generating knowledge from this questioning and searching is greatly aided by a conceptual context for learning. Just as students should not be focused only on content as the ultimate outcome of learning, neither should they be asking questions and searching for answers about minutiae. Well-designed inquiry-learning activities and interactions should be set in a conceptual context so as to help students accumulate knowledge as they progress from grade to grade. Inquiry in education should be about a greater understanding of the world in which they live, learn, communicate, and work.
There are several variations on inquiry-based learning. Among the most widely used are the Future Problem Solving Program 5 and the Problem-based Learning Approach 6. See the "Resources" section for more on these approaches.

About This Product

DESCRIPTION

    In a time of high educational expectations and professional accountability, today’s educational leaders need to possess a broad variety of skills that enable them to function comfortably and effectively in changing environments and under highly politicized conditions. Under these circumstances, change is the only constant. The mission of this book is to foster understanding of this reality among those preparing for administrative and managerial careers in pre-collegiate educational institutions and to help them develop skills necessary for working competently within those institutions.
    This text is eclectic in approach, not ideological, and emphasizes an action-research perspective that compels readers to consider critically the theoretical underpinnings of current educational practice and motivates them to seek practical alternative approaches to solving both common and unique problems.
    This book addresses general principles underlying the knowledge base of leadership and management as specifically applied to educational institutions. It stirs learners' thoughts through the review of scholarship in a wide range of areas, encouraging them to critically consider the theoretical underpinnings of administrative practice.

Thursday, January 10, 2013

Process of Inquiry

This was written by my friend and colleague Larry Hartel who is principal of Glendale Middle School in Red Deer, Alberta, Canada. Larry blogs here and tweets here. This post was originally found here.

by Larry Hartel

“Tell me and I forget, show me and I remember, involve me and I understand” is the foundation for why inquiry based learning is so important. Inquiry based learning involves seeking truth, information, or knowledge by questioning. 

What is the process for inquiry? This question may in fact not be a straight forward answer. As I will share there are a few common features of all plans and a variety of models being used in school. 

Inquiry involves the human senses: seeing, hearing, touching, tasting, and smelling. Infants make connections to the world by inquiring. They observe faces that come near, they grasp objects, they put things in their mouths, and they turn toward voices. It is natural. Although it is most often associated with science, inquiry-based learning is used to engage students of all ages, in all subject areas, to learn by exploration and discovery.

Memorizing and regurgitating information and facts is not a critical skill in the world today. Facts change and will change rapidly and information is available anywhere, 24/7. Inquiry based learning allows students to learn how to build their own understanding of a problem and thus produce deeper connections. Because the connection to the learning is deeper the chances are that the student will remember the concept and then be able to apply the understanding to new situations as they arise. 


There are a wide variety of models for what “Inquiry” looks like in the classroom. It seems that most have five things in common, questioning, planning and predicting, investigating, recording and reporting and reflecting. 

Here is an example from the Inquiry Page.

This diagram based on John Dewey’s model uses a spiral path of asking good questions, Investigating solutions, creating new knowledge, discussing and sharing our discoveries and experiences and then reflecting on the new-found knowledge.

There are many models for inquiry learning. Great inquiry learning will never be linear. Inquiry by its very nature is all about insights and making connections. The learner will revisit steps along the process and scaffold as they build the learning. 

This model from Inquirylearn.com has similar steps to the process that Dewey uses. The observation that they make that I find interesting is:

“If the question, investigation, and outcome(s) are truly meaningful to the learner, she or he will apply this newly-acquired knowledge in her or his own life by sharing knowledge and by taking concrete action in the world.”


Great questioning is the key to inquiry. To start the inquiry cycle the question, or questioning is key. Asking the right questions at the right moment in a lesson or activity will turn up the learning, or slow it down. The art of questioning is an area that one needs to explore further to really build a successful inquiry project. Here is a great wiki that I find has some fantastic information on questioning.

So in the true spirit of inquiry we should continue to ask, "what are the questions we need to be asking to become the inquiry based, science and technology school we dream of?"

Boldly going where only a few schools have gone before. 





BAB 5
PROSES PEMERIKSAAN/PROSES INQUIRY


5.1.        Pemeriksaan Pendahuluan
Riset pendidikan terdahulu dan sudah berlabel “Yang terbaik, yang belum terselesaikan, yang terburuk, yang menghambat” (Tom,  1984, Hal 2). Dalam riset kelas sebagai contoh, Barrow (1984) isinya adalah jika kita mengetahui sedikit saja tentang sesuatu hal penting yang akan membuat kita sedikit lebih aman. Metode latihan seperti yang disertai oleh para pengajar pendidikan seperti Thorndike, Barr, dan Ryan jika dilihat dengan seksama akan terlihat sama dengan sistem birokratis weberian. Mempelajari korelasi didalam riset pendidikan dengan dibatasi variabel  dan dikombinasikan dengan beberapa studi penelitian dalam bagian yang besar namun bukan persuasive.
Ketika kita melakukan pemeriksaan pembelajaran, pendidikan akan mengenal kompleksitas dan kerancuan yang ditingkatkan oleh pendidikan hanya dalam satu hari, banyak orang mungkin memberi kesimpulan dari akal-sehat bahwa metode latihan tidak akan pernah menyadari kebenarannya dimana mereka mengklaim meraka yang menemukannya.
Kita mungkin akan mengajukan pertanyaan, ketika tidak sedang mengajar dan belajar yang terikat pada niat, sasaran, dan berasal dari tujuan pendidikan yang mana ? Bagaimana mungkin kita mengaku telah melakukan terbaik yang menyebabkan bahwa kita ada di mana-mana, mengetahui bahwa pada kenyataannya kita merasa dan bertindak dengan cara yang berbeda? Atau barangkali kita hanya dapat mendekati riset di dalam karena secara ilmiah mengkondisikan kita pada metodologi melalui proses dari ilmu pengetahuan normal (Kuhn, 1970).
Lebih lanjut bukanlah kita yang mulai melakukan tanya jawab, kemanjuran dari terjemahan  terbaru, apakah struktur pengetahuan sudah dipusatkan pada apa yang disebut paradigma teori kritis dan interpretivistic/tidak mempunyai paradigma? Meskipun beberapa usaha para pelajar hanya merasakan kemajuan dari zaman sebelumnya maka ketika para pelajar tersebut mencoba untuk menggantikan fitur yang meragukan dari paradigma-paradigma pemeriksaan yang lama dengan model-model yang lebih baru. Melding paradigma yang berikutnya. Tetapi, pada waktu yang sama, ajaran-ajaran lain  menantang  untuk menggantikan model kuno. Interpretivists, sebagai contoh, menolak asumsi-asumsi dasar suatu keseragaman secara alami dan menolak secara linear hal-hal yang  menyebabkan. Interpretivists sebagai ganti untuk mencari dan memahami perilaku dari suatu perspektif pendekatan sebagai hasil suatu proses konstruksi sosial (Erickson, 1985). Dari tindakan  perspektif ini diciptakan bahwa ada dunia  yang menjaring dan  yang membalikkan. Didalam paradigma yang interpretivistic, yang menjadi penyebabnya ditentukan dari lambang yang ditafsirkan dan pemahaman yang penuh arti.
Contoh lain adalah gerakan ahli teori yang kritis. Yang merasa tidak senang dengan teknis, masuk akal,efisien, dan pendekatan yang diorientasikan objektif dari masa lampau, paradigma ini mendukung metoda-metoda yang menyelidiki hubungan: sebagai contoh hubungan antara sekolah, mengajar, dan masyarakat yang dasarnya ekonomis dan politis. Tanpa disadari pelajar bidang pendidikan hanya bisa meniru ketidakadilan yang lazim dalam mengamati struktur kelas sosial. Para peneliti pendidikan harus menaikkan kesadaran kita pada ketidakadilan ini dan bukan pada mereka yang terlibat. Riset pendidikan perlu menggerakkan masyarakat dan lingkungan  bidang pendidikan terhadap yang lebih besar dan tidak hanya mencerminkan status yang ada. Suatu perubahan bentuk seluruh struktur dari pendidikan yang di terima di sekolah harus menjadi tujuan dari riset yang efektif (Gage, 1989).
Gage (1989) artikel menunjukkan dengan tepat permasalahan yang kita hadapi dimasa yang akan datang. Pertanyaan-pertanyaan di bawah bermaksud membangun dan memperdayakan teks untuk bab ini dalam hal pemeriksaan. Bagaimana suatu teori pengetahuan saling berhubungan dengan pemeriksaan ? Bagaimana paradigma-paradigma dari pemeriksaan, sifat mereka, hubungan mereka dengan mengetahui, dan metodologi yang menginformasikan mereka? Bagaimana mengkritisi paradigma-paradigma tersebut ? Apa saja kekuatan dan kelemahannya? Apakah ada maksud lain dibalik paradigma tersebut karena banyak kaum intelektual yang membantah dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang sama dari berbagai zaman? Apakah paradigma tersebut masih sesuai? Dan yang bagaimanakah yang akan bertahan hidup? Atau hanya baru melanjutkan debat? Barangkali kita akan mengenali paradigma pemeriksaan dalam diskusi yang berikut.

5.2.        Pemeriksaan Yang tersusun
5.2.1.      Pemeriksaan awal
Pemeriksaan digambarkan sebagai proses mengetahui, pemecahan teka-teki, penyelidikan, dan menemukan kebenaran (Guba, 1990; Kuhn, 1970; Eisner, 1981). Dengan bermacam-macam derajat tingkat dari sarjana yang sukses sudah mencoba menandai sifat alami pemeriksaan untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang terjadi di sini ?,” Dewey menggambarkan pemeriksaan adalah “Perubahan bentuk yang diarahkan atau yang dikendalikan dari suatu situasi tertentu dan terbatas dalam perbedaan-perbedaan yang konstituen dan hubungannya seperti orang yang bertobat dari unsur-unsur situasi yang asli dalam satu kesatuan” (Dewey. 1938, hal 104). Kuhn (1970) menunjuk ilmu pengetahuan yang normal adalah  pemecahan teka-teki. Bebe (1989) memilih untuk lebih sedikit memberikan pandangan lain yang lebih kompleks dan menggambarkan pemeriksaan sebagai suatu pencarian keteraturan. Terlebih baru-baru ini, Guba dan Lincoln (1989) dan yang lain menyatakan bahwa pemeriksaan  mencerminkan system melalui kepercayaan dari penyelidik.
Little john (1992) percaya pemeriksaan adalah "Pemesanan tertib sistematis, pengalaman memimpin ke arah pengembangan tentang pemahaman dan pengetahuan" (Hal 8). Pemeriksaan adalah suatu alat yang direncanakan,fokus pada proses dan metoda untuk tiba pada satu hasil. Dalam satu proses  tanya jawab, pengamatan, dan tahapan penyamarataan pengembangan yang dilanjutkan dari ciptaan pengetahuan dan penemuan. Proses itu tersusun dan diperintahkan oleh suatu masyarakat berpendidikan yang memastikan bahwa pengalaman ilmiah adalah “benar atau cukup untuk mengimbangi permintaan tentang suatu kultur, waktu, atau orang. Dengan demikian, kekuatan yang berdasarkan norma dan logika adalah yang diterapkan oleh masyarakat yang selalu mengungkapkan pemeriksaan proses tersebut (Dewey 1938). Pemeriksaan seperti yang digambarkan oleh masyarakat berpendidikan, hanya dapat difahami dalam konteks suatu kultur. Dewey juga memelihara bahwa logika dari teori adalah tunduk kepada yang metafisis dan epistemological prasangka-prasangka penyelidik. Proses pemeriksaan adalah bangun dari suatu lingkungan budaya dan historis. Sementara itu  ciptaan pengetahuan didalam dan tentang diri sendiri boleh kelihatannya seperti suatu tugas keduniaan dan para orang-orang yang melihat pengembangan dari pengetahuan dari keadaan yang berbeda. Apa yang dapat dikenal dan bagaimana pengetahuan muncul bukanlah hal yang sama dan nyata dari suatu pandangan yang sepintas lalu merupakan suatu tanda.
Meski banyak paradigma ttg pemeriksaan, pengetahuan secara umum dipikirkan untuk berkembang dari ke tiga pendekatan sebelumnya.  Little john (1992) memberi mereka pengetahuan tentang penemuan penafsiran, dan pengetahuan tentang kritik. Pandangan Little john, pendekatan adalah penemuan untuk mencari dan mencapai pengamatan objektif ketika yang disuling adalah kejadian-kejadian dari kenyataan struktural yang kontras, pendekatan interpretive mencari untuk membangun gambaran dari kenyataan melalui mata dari kedua peserta dan peninjau. Pengetahuan kemudian adalah merekonstruksi kejadian yang berikutnya dari kenyataan. Pendekatan yang kritis untuk menggambarkan pengetahuan melalui penilaian-penilaian kritis yang kemudian menjurus kepada perbaikan sosial yang berubah.
Dari tempat yang menguntungkan yang lain, Eisner (1991) menjelaskan bahwa membangun dan melukiskan asal-muasal dari pemeriksaan lebih lanjut. Objektifitas adalah kepercayaan yang dibela dunia. Obyektifitas mencari untuk melihat berbagai hal, jalan yang mereka tempuh untuk melihat dan untuk mengetahui. Didalam konteks ini, tujuan dari pemeriksaan adalah untuk mencapai kebenaran dan pengetahuan tertentu. Sebagai tambahan, pemahaman berasal dari masyarakat. Pemeriksa mengatakan bahwa hal tersbut mempunyai arti yang sama pentingnya. Sama pentingnya seperti pemahaman bahwa pengetahuan digunakan dan dikembangkan melalui metodologi tertentu. Pada sebagian pengetahuan dibebaskan dari penilaian pribadi sebagai hasil pilihan dari metoda.
Penyajian yang meragukan bahwa pengetahuan lebih lanjut ditawarkan melalui suatu sistem simbol (Eisner, 1991). Penyajian pengetahuan menyatakan dan pada waktu yang sama dirahasiakan tergantung pada batasan-batasan dari sistem simbol. Dalam semangat ini, kita mulai dapat merasakan bagaimana kualitas moral pandangan yang subjektifnya. Pengetahuan subjektif menjadi satu pandangan khusus yang penting Tetapi dengan cara yang sama, ketika kita sudah mengembangkan pandangan yang objektif di atas, demikian juga kita dapat mengikis media informasi yang meliputi kesubyektifan Eisner (1991) menyingkat perbedaan disini ketika ia menjelaskan bahwa ontological kesubyektif-an adalah mungkin jika kita menerima gagasan di mana kebenaran melebihi kepercayaan. Adalah suatu kepercayaan dengan sendirinya. Pikiran aktif didalam perdagangan dengan dunia itu adalah produk dari suatu pikiran yang aktif. Untuk mencari lebih dari sekedar apa yang pada akhirnya mengacu pada kepercayaan kita sendiri setelah menggunakan ukuran-ukuran yang sesuai untuk memegang mereka untuk mundur kepada suatu pihak atasan atau untuk mencari suatu pandangan yang dominan bahwa membypass pengamatan atas sifat pikiran tersebut (Hal  51).
Eisner menyimpulkan bahwa suatu struktur kepercayaan yang berbeda diperlukan untuk menghindari dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas. Apa yang mungkin diperlukan dalam suatu proses dimana kita mendaftarkan diri dengan kekuatan obyektifitas dan subyektifitas dari konsekuensi mereka yang terpisah dan bergerak ke suatu penggabungan pemahaman dan prinsip. Karena apa yang kita ketahui bahwa dunia itu adalah suatu produk dari kesewenang-wenangan hidup kita yang subjektif dan satu dunia objektif secara aksioma, kehidupan dan dunia tidak bisa dipisahkan. Untuk memisahkannya diperlukan melibatkan pemikiran dan karena pikiran itu dipekerjakan untuk membuat pemisahan,  memisahkan apapun dan sebagai hasil penggunaannya akan mencerminkan pikiran seperti juga apa yang terpisah darinya (Eisner, 1991, Hal 52). Pemeriksaan didalam ketidakhadiran dari kenyataan hanyalah suatu gambaran. Kita dapat telah merasakan bahwa pemeriksaan sudah menjadi suatu hal yang kontroversial dan  sulit. Bagaimana pengembangan-pengembangan baru ini terbentuk dari masa lampau dan bagaimana mereka diperlihatkannya saat ini?

5.3.        Pengembangan Historis
Dewasa ini versi pemeriksaan dapat ditelusur balik kepada masa Yunani. Kultur Yunani memandang dunia secara utuh. Pemeriksaan sebagai suatu pengembangan ilmu pengetahuan, yang dilibatkan “Bermanuver untuk mendapatkan suatu pandangan yang lebih baik” dari sesuatu yang telah ada (Dewey, 1938, Hal 88). Semua pengetahuan dilihat secara keseluruhan apakah lebih baik dan lebih besar. Apapun yang dapat dihitung tunduk kepada perubahan dan oleh karena itu bukan pantasnya dari studi yang didukung yunani dalam mencari perintah dan struktur didalam alam semesta, dasar religius dan filosofis yang didasarkan pada suatu pandangan dorongan. Tujuan dari ilmu pengetahuan mengenai ini untuk membedakan pengetahuan dari kepercayaan. Apapun juga yang kita ketahui benar. Apakah itu adalah tidak benar jika kita tidak mengetahuinya (Eisner, 1981). Oleh karena itu ilmuwan adalah seorang penemu dari hukum yang memerintah alam semesta. Praktek ilmiah untuk membongkar fakta-fakta.
Selama Abad Pertengahan, perubahan empirisme mencakup pandangan dorongan yunani.  “ilmuwan yang baru” digantikan ahli filsafat dan pendeta. Descartes dan filsafat Cartesian mendapat kepastian sejak itu dan telah mendominasi pengetahuan. Newton, Bacon, Galileo, dan yang lain menekankan kebutuhan untuk menemukan gambaran yang bersifat konfirmasi percobaan (Polkinghorne, 1983). Untuk menemukan gambaran di alam semesta, pengukuran, dan hitungan menjadi penting. Paham positifisme dan pengembangan dari metode latihan sebagai suatu cara penemuan kebenaran yang tidak berubah mengumumkan ilmu-ilmu eksakta dan kemajuan teknologi dari abad yang ke-19.
Di tahun 1800an suatu pengembangan paralel, paham positifisme berlaku untuk tingkah laku manusia. Compte, menulis antara 1830 dan 1850, diusulkan bahwa studi manusia menempati metoda yang digunakan dalam studi ilmu pengetahuan alami (di Polkinghorne, 1983), Yohanes Stuart Sistem dari Mill Logic (1843), mendukung pendekatan  positivistic dalam studinya  “tingkah laku manusia, menyatakan bahwa negara mundur dari ilmu pengetahuan, moral hanya dapat diperbaiki dengan menerapkan kepada mereka metoda-metoda dari ilmu eksakta, yang  diperluas dan disamaratakan” (di Polkinghorne. 1983). Dewey mendukung dan berpendirian positivistic ini, menyatakan bahwa ketidak-mampuan ilmu-ilmu sosial dan ilmu pengetahuan alam untuk bertindak dan cocok dengan kondisi-kondisi logis yang telah ditunjukkan paham positifisme yang menyatakan negara yang kuno (1938, Hal 487). Pendekatan positivistic ini mengusulkan bahwa permasalahan manusia yang akhirnya akan dipecahkan dengan satu koreksi pendekatan kepada pemeriksaan; paham positifisme.
Pandangan bahwa ilmu-ilmu sosial perlu mengadopsi metodologi dari ilmu-ilmu eksakta dikembangkan sepanjang abad ke duapuluh Polkinghorne (1983) mengenali lima tahap dari arus “Pandangan yang diterima” dari ilmu pengetahuan postpositivism. Tahap yang pertama mengusulkan bahwa ilmu pengetahuan hanya perlu menguraikan yang tampak. Tahap yang kedua perluas teori ini untuk termasuk non observable dari kesatuan dan mencari aksioma yang didasarkan pada statemen yang universal. Tahap yang ketiga terdiri dari kritik paham positifisme yang membiarkan pemasukan sistem yang lain dari ilmu pengetahuan sejarah dan ilmu pengetahuan di dalam tahap yang keempat. Tahap yang ke lima didasarkan pada alasan dan pemasukan pragmatis pertimbangan-pertimbangan termasuk pemeriksaan.
Pendekatan positivist yang ada sudah meluaskan metodologinya dan definisi kebenaran. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan masih dipandang sebagai mencari perkiraan yang semakin dekat dan kebenaran melalui aplikasi keras metode latihan. Meski sering ditolak oleh positivists yang ada, ilmu pengetahuan masih sangat diidamkan Cartesian dari kepastian, bagaimanapun, positivists akan menghubungkan, “Aku secara relatif pasti” dibanding “Aku yakin.” Secara metodologis, pandangan ini menghasilkan lebih banyak garis lintang.
Pada waktu yang sama bahwa Mill mengusulkan pemakaian metoda-metoda yang positivistic untuk studi dari perilaku, gerakan antipositivist muncul. Itu berargumentasi bahwa individu menjadi bagian dari suatu struktur kompleks menyusun dari kenyataan sosial dan historis yang dipercaya bahwa hidup bisa berada dalam koridor hukum atau bagian yang dapat dianalisa dan diterobos. Istilah ini menandakan apa yang  paling menyentuh hati dan terbiasa, diwaktu sama, paling gelap, bahkan paling yang tak dapat dipertimbangkan, seseorang dapat menggambarkan yang ganjil dan ciri-ciri karakteristik. Seseorang dapat bahkan menanyakan tentang nada, irama, dan nyanyian. Tetapi tidak bisa secara total meneliti ke dalam semua faktor, sebab tidak secara total dapat larut di dalam cara ini. Itu tidak bisa dinyatakan oleh lisan secara sederhana rumusan atau penjelasan. Pemikiran adalah satu ungkapan hidup, tetapi tidak menggantikan hidup. 1983 Polkinghome) tulisan berisi pemeriksaan yang interpretivistic. Mereka mendiskusikan suatu pendekatan yang holistic kepada pemeriksaan dan mengamati setiap bagian sebagai dari keseluruhan kultur mencari arti sesuatu. Semua bersifat dasar kepada naturalism, tetapi sebagian besar diabaikan sampai sekarang ini.
Weber, secara umum mendukung pandangan tersebut, tidak menerima perbedaan yang lain, menciptakan antara yang secara fisik dan ilmu-ilmu sosial (Smith & Hesusius. 1986). Weber percaya bahwa kedua ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk berpikir dalam kaitan dengan menggunakan istilah pengintegrasian (Aron, 1967; Benton, 1977; Outhwaite, 1975; Simey, 1969; Tukang besi & Hesusius, 1986), Weber lebih lanjut percaya bahwa penjelasan dan mengerti dua bagian penting dari penelitian sosial. Keduanya penting untuk mengerti kedua strata dari manusia, binatang dan tingkatan mekanistis, dan tingkat evaluasi yang dari maksud-maksud subjektif. Meski ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan manusia lemah dengan penyimpangan ia percaya bahwa kedua pendekatan dapat disatukan.

5.3.1.      Paradigma ?
Sekarang ini, metoda pemeriksaan yang ilmiah dapat digambarkan sebagai penderitaan satu krisis identitas. Masing-masing dari ke tiga metoda menggambarkan sebelumnya mempunyai murid dan kritikus memiliki kegemaran yang sama. Pola-pola yang umum dari pemeriksaan, baru-baru ini disebut paradigma dan sudah menerima perhatian khusus di atas masa lampau tiga puluh tahun. Kuhn. didalam Structure Scientific Revolutions (1970), mempunyai pandangan yang tradisional dari ilmu pengetahuan ketika mengembangkan pengetahuan oleh akumulasi atau pengetahuan tentang fakta. Ia mengusulkan bahwa pertumbuhan dari pengetahuan juga terjadi melalui revolusi yang ilmiah dan memungkinkan para pemikir untuk menggerakkan asumsi yang ada kedalam paradigma baru tentang pemahaman. Ilmu pengetahuan normal menurut Kuhn adalah pembangunan pengetahuan yang ada dalam suatu pengembangan pertunjukan. Pertumbuhan dari pengetahuan ini menduga dibatasi oleh filsafat pemikiran dari para ahli dan para pendidik didalam masyarakat termasuk suatu paradigma sebelumnya, ilmu pengetahuan menghimpun pengetahuan yang dihubungkan dengan filsafat, pemikiran itu, menggunakan lambang paradigma sendiri, instrumen, dan nilai belajar dari masyarakat yang ilmiah. Bagaimanapun, dalam urutan kemajuan telah terjadi ilmu pengetahuan dan harus mengalami suatu revolusi. Ilmu pengetahuan dalam pandangan Kuhn  merupakan hasil positif dari keganjilan di suatu peta yang ada, berjuang untuk sebuah paradigma, untuk krisis dan akhirnya revolusi. Selama periode krisis, lambang paradigma yang ada, instrumen, dan. nilai-nilai dibuang sebagai pertukaran yang baru. Revolusi membebaskan masyarakat dari keterbatasan paradigma yang kuno untuk membiarkan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru.
Maka paradigma pemeriksaan membentuk dasar bagaimana kita sebagai ahli teori dan praktisi dalam melihat dunia. Ketika kita menyimpan paradigma kita, mereka menerima kekuasaan besar dan menentukan bagaimana kita, saling berhubungan dengan dunia. Pemeriksaan bidang pendidikan seperti pemeriksaan secara umum, berputar-balik di sekitar paradigma. Paradigma pemeriksaan kita jadinya akan sangat tangguh sehingga lebih banyak perhatian diberikan kepada metoda-metoda dari pemeriksaan dibanding untuk menentukan apa yang benar-benar telah terjadi. Praktisi paradigma yang positivistic sering kali mengacu pada yang ilmiah, bersifat percobaan, atau tingkah laku, atau, terlalu bebas, seperti kuantitatif. Gaya dari yang kedua pemeriksaan yang interpretivistic, dikuasai oleh riset yang etnografi, dan pemeriksaan yang constructivistic atau kualitatif. Akhirnya paradigma pemeriksaan ahli teori yang kritis, kadang-kadang menyebut teori konflik, menjelajah tenaga, kekuasaan, dan konflik di dalam masyarakat.
Salah satu dari berbagai kesulitan di dalam melukiskan pemeriksaan adalah kepercayaan paradigma masyarakat terhadap tujuan argumentasi sebagai alat untuk memperkuat berbagai sudut pandang. Sementara model ilmiah dari pemeriksaan yang valid dalam konteks yang tepat, pemeriksaan dalam model ini lebih dari satu hasil yang disetir oleh suatu rangkaian atau himpunan makna. Pemeriksaan sebagai suatu proses menyiratkan suatu sistem dari pemeriksaan dengan  komponen, hasil-hasil, metoda-metoda untuk berubah, dan suatu dasar filosofis di sekitar proses yang dibangun. 

5.4.        Teori Postpositivistic dan Positivistic
Karena Descartes, pemeriksaan menjadi kuat dan kukuh dalam paradigma postpositivistic dan positivistic. Keduanya bersifat paradigma mendasar dan berakar dalam suatu ontologi realis, suatu sistem kepercayaan bahwa suatu kenyataan ada di luar sana. Sifat benar dari ilmu pengetahuan adalah untuk menemukan kebenaran yang memungkinkan ramalan dan kendali. Sebagai suatu konsekuensi dari ontologi ini riset realis mempraktekkan rsifat sasaran. Seperti para penyelidik, realistik memisahkan nilai mereka dari kenyataan. Baru setelah itu percobaan dapat  memanipulasi yang mengakibatkan kemerdekaan penting dunia/alam untuk secara sungguh-sungguh dapat penyingkapan diri sendiri. Pemeriksaan yang ilmiah seperti mencari untuk membongkar hukum alam yang kemudian meringkas dalam wujud penyamarataan atau penyebab dan mempengaruhi hukum (Guba, 1990).
Postpositivism meningkatkan hasil ajaran-ajaran yang meragukan dari paham positifisme. Kritik dan paham positifisme yang dimiliki oleh ahli teori positivistic dipaksa untuk mengubah dan mengurangi cara berpendirian ontological positifisme. Walaupun dunia nyata itu ada, adalah mustahil untuk realis menghakimi nilai diri sendiri. sebagai hasilnya postpositivist adalah suatu realis kritis yang mengenali obyektifitas itu pada pihak peninjauyang tidak pernah dapat sungguh-sungguh dicapai. Didalam tradisi yang kritis pemeriksaan postpositivistic harus lebih konsisten seperti yang ditentukan oleh tradisi yang ilmiah didalam suatu paradigma riset. Semua pemeriksaan diperlakukan pada tinjauan ulang masyarakat yang kritis. Secara metodologis, postpositivist juga pindah dari persyaratan obyektifitas yang sebelumnya dan mengusulkan sebagai fakta pengembangan dari penemuan yang telah ditunjukkan banyak sumber metodologis. Pemeriksaan didalam riset ini merupakan usaha untuk mengisolasikan pengetahuan yang objektif dan menerapkan pengetahuan baru untuk mempraktekkan kebijakan. Penekanan ditempatkan untuk menciptakan pengetahuan secara lebih lanjut dalam ramalan dan kendali proses dan produk bidang pendidikan (Soltis, 1992). Metodologi bersifat percobaan dan statistik yang bersandar pada penciptaan kebenaran melalui ujian sasaran, kekakuan matematika, dan instrumen-instrumen pengamatan yang dapat dipercaya.
Ilmu pengetahuan Postpositivistic sudah mengatur siasat dari banyak ajaran-ajaran positivistic asli. Meski kritikus telah tidak menaruh kasihan, postpositivists sudah bekerja dengan rajin menunjuk ketidak seimbangan yang berlaku dari gambaran mereka yang baru melingkupi obyektifitas Guba (1990) mengutip empat ketidakseimbangan mereka antara kekakuan dan keterkaitan, ketepatan dan, kesempurnaan, kerapian dan aplikabilitas, penemuan dan verifikasi. Sebagai contoh suatu pergeseran dapat dicatat dan terlihat pada pemeriksaan dan penyelidikan alam dalam hubungan dengan perbedaan kekakuan dan keterkaitan. Seperti kekakuan diperlonggar untuk mendapatkan kebenaran eksternal lebih besar, kemampuan generalisasi yang meningkat, keterkaitan yang diasumsikan untuk meningkatkan biaya kebenaran yang internal.
Didalam pengembangan-pengembangan paling terbaru, paham positifisme sudah menjadi yang tak dapat dipertahankan dan postpositivism lebih saksama tentang itu memiliki ajaran-ajaran. Abad  pertengahan Hempel (1966) dan ahli teori lain mengakui ilmu pengetahuan secara operasional harus mulai mencabut diri sendiri dari konsep masing-masing dan statemen pengamatan. Lebih sewajarnya, konsep-konsep ilmu pengetahuan mengikat  dalam suatu jaringan hubungan timbal balik yang sistematis  dan  termasuk pemusatan yang mengikat dan konseptual dan sistematis. (Hempel, Hal 94).
Kejadian-kejadian yang mengubah pandangan dari ahli teori seperti yang ditunjukan di atas menyebabkan ada jarak dari riset yang positivistic. Sementara beberapa peneliti tidak boleh meninggalkan pandangan lama ke arah yang paling baru ilmu pengetahuan yang postpositivistic sebagai  ilustratif fleksibilitas. Firestone (1990) menetapkan pandangan dari Phillips (1990) dan menantang para ilmuwan itu seperti umumnya para pekerja didalam bisnis tentang menyediakan pembelaan yang layak untuk pernyataan-pernyataan mereka. Dewey (1938) mencoba  menjelaskan prinsip yang sama dalam menjamin assertibilas sebagai pengganti kebenaran. Dalam hal ini obyektifitas merupakan ketercukupan yang dihakimi melalui satu proses kompetitif yang internal dan mengesampingkan kesalahan. Secara keseluruhan postpositivism menghambat  sesuatu yang disebut "Ratu ilmu pengetahuan” (Firestone. 1990), tetapi dengan kuat  dan kukuh namun mungkin bermanfaat dalam praktek. Sebenarnya, kebanyakan mengakui perbedaan antara paradigma ini dan mengikisnya dalam forum debat filosofis.
 
5.5.        Teori Kritis
Teori kritis bekembang di tengah abad ke-19. Baru-baru ini sudah dirumuskannya oleh Frankfurt School (Marcuse, Adorno, Horkheimer, dan yang lain) dan dihidupkan kembali paling akhir oleh Habermas (1970- 1987). Teori kritis memusatkan diri pada permasalahan bidang pendidikan dan peran mereka dalam hubungan dengan sosial, politis, budaya, dan pola ekonomi yang membawa hasil. Menurut teori kritis pemeriksaan adalah pertentangan yang sistematis dalam praktek pendidikan. Agger (1991) menantang, bagaimanapun, teori kritis bahwa harus ada peremajaan dan menyesuaikan diri. Teori kritis meneliti pembaharuan permasalahan  sosial. postmodernas di masyarakat, khususnya dalam dunia pendidikan. Teori kritis mungkin perlu untuk dibentengi dengan mata uang tambahan, dari suatu post stcructural, postmodern, dan perspektif pejuang hak wanita.
Teori kritis sudah menunjukkan kesulitan yang dimulai seperti terjemahan dan aplikasi pengarang yang memerlukan klarifikasi lebih lanjut karena variabilitas mereka yang ekstrim (Agger, 1991). Seperti yang dikembangkan oleh Frankfurt School, awal usaha teori kritis untuk menjelaskan kegagalan dari revolusi orang sosialis Marx. Visi mereka mereka adalah usaha ahli teori untuk menghubungkan ekonomi, budaya, dan analisis ideologis untuk menjelaskan, kegagalan revolusi itu. Di awal versi teori kritis, Frankfurt School percaya bahwa Marxisme digagalkan untuk mengenali kemampuan sistem ekonomi kapitalis yang memanfaatkan kelas pekerja. Kapitalisme itu didalilkan memperdalam kesadaran yang palsu dari kelas pekerja atau buruh dengan mengembangkan sendiri menghadapi mekanisme-mekanisme yang mencegah revolusi sosial.
Ini disebut dominasi oleh Frankfurt School Workers mengadopsi nilai-nilai dan kepercayaan yang dibagi bersama, yang kelihatannya masuk akal pada waktu yang sama sistem yang kapitalistik memanfaatkan politik social dan kebebasan ekonomi sebagai pertukaran dengan kebebasan untuk pilihan konsumen. Paham positifisme, mereka membantah, hanyalah yang  menghadapi mekanisme. Paham positifisme, suatu keturunan dari Age dari Enlightenment, juga menjadi yang dibagi bersama memecahkan masalah metodologi dan mengasumsikan “dunia sebagaimana adanya” adalah kenyataan yang terkemuka sistem yang positivistic, oleh karena itu mengabadikan diri.
Teori kritis bagaimanapun, rincian dari sudut pandang kenyataan yang masuk akal (paham positifisme) dan mengembangkan ke dalam suatu gaya dari kesadaran dan berpikir bahwa memandang fakta sosial ketika sejarah dapat diubah (Jay, 1973). Teori kritis kelihatan di luar penampilan dari pencarian fakta sosial dan mencari cara untuk mencapai pemahaman sosial yang baru. Lebih tepat, teori kritis menyesuaikan peneliti pada kepercayaan dasar empiris mereka sendiri melalui cerminan diri sendiri yang ketat (Horkheimer &Adorno, 1972).
Guba (1990) menguraikan secara singkat teori kepercayaan kritis dasar. Meski teori label kritis kelihatannya memiliki pemandangan yang filosofis yang berisikan pandangan luas ini, semua kepercayaan tentang teori kritis memusat untuk memecahkan suatu penolakan “kebebasan nilai.” Nilai kita tidak terelakkan yang mencerminkan banyak cara didalam memilih masalah untuk dipelajari, dalam pilihan instrumen untuk analisa, penafsiran, dan kesimpulan, dan pujian rekomendasi yang diciptakan. Dengan nilai tanah dan bangunan yang mungkin menjadi pemeriksaan  yang politis dan bertindak sebagai peserta yang tidak diberdayakan atau yang dikuasakan melalui pilihan dari penyelidikan dalam suatu sistem nilai. Beban dari pemeriksaan adalah menurut definisi untuk menaikkan derajat orang yang ditindas kepada suatu tingkat kesadaran yang benar (Guba, 1990). Begitu mereka mengakui bagaimana  mereka ditindas,  mereka dapat bertindak untuk mengubah dunia dengan cepat (Guba, 1990, hal 24.). Perubahan bentuk ini meluas diluar typically manipulative interventionist methodology sebagai ahli teori kritis yang mencari establish-a-commonness, melalui pendekatan penafsiran Firman Tuhan yang analogi. Fitur dunia nyata itu diteliti melalui penilaian yang diciptakan lalu mengubah kenyataan dan memberi tenaga yang memudahkan tindakan masa depan. Teori sangat kritis juga telah ditingkatkan.
Teori kritis di akhir ini dapat dilihat untuk ada di bawah aturan yang berbeda. Poststructuralism adalah suatu teori  tekstual dan pengetahuan. Didalam kerangka ini, Derrida (1981, Culler, 1982)  mengusulkan fakta maka suatu proses menyebut dekonstruksi teks merahasiakan konflik antar suara yang berbeda antaran teks dan subtext. Orang sering kali membuat asumsi penting tentang sesuatu dengan menyembunyikan maksud dan asumsi mereka yang ditindas atau mereka diam saja. Hal ini mengalihkan suatu perhatian pembaca dan pendengar, pembuatan teks yang tak dapat dibaca. Jadi dengan demikian maksud poststructuralist yang diselenggarakan didalamnya menurut konstitusi bahasa. Deconstruction demystifies dengan pernyataan mengira nilai-nilai dan minat. Poststructuralists percaya bahwa, “...setiap isyarat retoris dari teks berperan menyeluruh” (Agger, 1991, Hal 30).
Postmodernism terjemahan lain teori kritis, memerlukan penyelidikan kultur masyarakat dan sejarah tradisi ini, dunia sosial diuji dari perspektif yang ganda menurut kelas, ras, jenis kelamin, dan keanggotaan lain. Tambahan pula, postmodernists bersandar pada heterogen “hal memposisikan” untuk menjelaskan gejala sosial (Agger, 1991). Sebagai hasilnya, “...pengetahuan diusut melalui pelatihan bahwa membingkai pengetahuan merupakan rumusan” (Foucault. 1976, 1980, di Agger, 1991, Hal 32). “Hal memposisikan” pengalaman dunia dibingkai melawan terhadap perspektif sendiri. Didalam dunia ini ilmu sosial menjadi satu akuntansi perspektif yang ganda dibanding suatu kebenaran yang universal. Ilmu sosial didalam dunia bidang pendidikan menjadi suatu ceramah, mengusulkan bahwa “membaca” suatu sekolah, kita dapat “mengerti” ilmu sosial (Agger, 1991).
Didalam praktek bidang pendidikan, ilmu pengetahuan kritis melibatkan kondisi bahwa kepandaian memilih hasil sedang dalam proses pengajaran dan organisasi pendidikan yang diterima di sekolah (Popkewitz, 1990). Mengenai ini, Popkewitz melampirkan ilmu pengetahuan kritis kepada pemeriksaan dari hal yang biasa dan secara sosial menerima pertentangan yang mungkin mengakibatkan berbagai perjuangan di dalam lingkungan pendidikan. Eksplorasi batasan menghasilkan suatu hubungan di sekolah, terjadi melalui pemahaman bagaimana batasan dan struktur membatasi potensi kita. Berdebat sekitar konstruksi dari pendidikan yang diterima disekolah mengakibatkan penyajian struktural berbeda, disekitar isu seperti etnisitas, kelas, dan jenis kelamin, sebagai contoh. Jadi, dengan demikian rasa hormat menciptakan kepekaan kepada konsep berpotensi baru dan membangun suatu hubungan antara pengetahuan dan identitas.
Popkewitz (1990) lebih lanjut berargumentasi bahwa suatu metoda kesanggupan untuk kritis memerlukan tanggung jawab lebih besar pada pihak peneliti untuk mencerminkan aturan yang tepat dan standar pekerjaan dari ilmu pengetahuan. Suatu cara berpendirian yang kritis merekonstruksi pendidikan dengan menyediakan keterkaitan kepada sejarah sebab ini berhubungan dengan metodologi dan mengakomodasi pengaruh tanya jawab, pengembangan konseptual, dan strategi kenilai sosial,perjuangan dan minat. Ia yang dinyatakan lebih lanjut bahwa 6 tema perlu membingkai setiap diskusi praktek-praktek dari suatu ilmu pengetahuan yang kritis pendidikan.
1.          Praktek-praktek kelembagaan yang mendukung pertentangan pemeriksaan bidang pendidikan terdiri atas secara penuh di dalam praktek prosedural. Didalam praktek nyata, kita bisa secara tidak sesuai memisahkan gerakan sosial, isu historis, atau minat politis dari strategi dari riset. Sebagai suatu filsafat dari ilmu pengetahuan tradisi cendekiawan dan kondisi kelembagaan yang berasal dari sumber yang sama. Peraturan tentang pemeriksaan dibatasi didalam tradisi. Metodologi berubah terus menerus melalui hubungannya dengan pertanyaan, konsep, dan prosedur yang mengarahkan pada gejala empiris. Metodologi muncul dari pemeriksaan didalam pengertian ini bukan sebaliknya.
2.          Popkewitz (1990) juga mengklaim, meskipun kepercayaan konvensional tentang logika sebagai suatu proses dari klarifikasi dilanjutkan, bahwa logika dari ilmu pengetahuan merupakan suatu permasalahan filsafat  sosial. Konsep, aturan atau prosedur dari pemeriksaan bukanlah tak bisa terelakkan, tetapi diwujudkan didalam lembaga, institusi dan melalui konstruksi sosial. Ilmu pengetahuan kritis berhubungan dengan pertanyaan yang menjadi bagian dari suatu ladang ilmu pengetahuan  termasuk ontologi dan filsafat, apa yang dikenal dan diketahuinya.
3.          Di tema lain, Popkewitz (1990) memperingatkan kita dan kesediaan kita untuk menyederhanakan konteks dari pemeriksaan pada suatu sasaran dan dikotomi subjektif. “Obyektifitas tidak ada hubungannya dengan hukum eksternal atau sifat untuk ditemukan atau dibuktikan” (Hal 56). Obyektifitas digunakan untuk pertanyaan penting, untuk mengurangi kegagalan secara dinamis dan mengubah pola. Sejajar dengan hal ini, kesubyektifan mengarahkan fokus kita dalam pikiran dari orang yang tidak dapat menghadapi kompleksitas dalam hubungan sosial dan dalam kombinasi mereka yang mampu untuk menyediakan penyelidikan dengan kemampuan yang lebih besar untuk menghadapi interrelations sasaran dan kondisi subjektif. Pemeriksaan harus tidak menurunkan pada bagan individu yang dibentuk oleh yang tak terduga atau aturan tak diakui yang bertindak sebagai suatu kaki langit untuk alasan individual (Popkewitz, Hal 57).
4.          Penolakan tersebut suatu bentuk tunggal untuk mengevaluasi produk dari ilmu pengetahuan adalah yang disertai oleh kepercayaan ilmuwan, adalah suatu peninjau yang tidak mengejar untung. Dalam wujud yang paling dalam, paling menggali menyiratkan, relatifitas, tetapi Popkewitz menentang bukan tanpa batasan skema merumuskan dalam praktek atau kepercayaan dari paradigma sendiri. Tetapi ini tidak bisa berarti bahwa “. . .kurangnya komitmen atau gagasan bahwa tidak memiliki lokasi atau konsekuensi sosial...”(Hal  59). Dewasa ini riset pendidikan harus menyelidiki lebih dari sekedar pengajaran, pelajaran. Organisasi, dan mencari lebih dari sekedar satu pemahaman konflik berharga.
5.          Serba ragam berharga harus dilihat sebagai bagaian dari pengetahuan. Ciptaan pengetahuan dan ciptaan dinilai bersifat ideologis. Ketika kita memisahkan ciptaan pengetahuan yang menghargai konteks dan yang menciptakan kemiskinan. Secara metodologis, ketika nilai tersebut dipisahkan untuk mengendalikan atau mengidentifikasi penyimpangan   yang interaktif dalam semua ilmu pengetahuan. Dalam pandangan ini, teori kritis mengusulkan sebagai fakta satu panorama sistemik yang ditambahkan.
6.          Akhirnya, Popkewitz membandingkan kemampuan ilmu pengetahuan masa sekarang yang dibentuk sebagai suatu metoda untuk mengerti batasan bahwa ada atau sudah hidup dengan kemampuan generalisasi ilmu pengetahuan untuk memungkinkan suatu kondisi di masa depan. Sementara ilmu pengetahuan dapat meramalkan dan mengendalikan dengan pemekaan kita untuk mengeluarkan, teori kritis lebih sewajarnya mengenali bahwa ilmu pengetahuan adalah satu konstruksi yang berkelanjutan bahwa menantang kita untuk menemukan hubungan kita kepada hal tersebut.
Teori kritis membuat suatu sumbangan kemasyarakatan dalam dua tatakrama yang berbeda secara metodologis, peneliti menulis dan membaca,  negara, ideologi, kultur, ceramah, dan erakan sosial (Agger1991). Keterlibatan Agger adalah (1) Interogasi angkatan teori kritis kepercayaan dalam kebebasan nilai; (2) Teori kritis menetapkan suatu ilmu pengetahuan yang  mampu mengenali minat yang dikandaskan sendiri; (3) Poststructuralism dapat deconstruct paling retorik dengan pengujian menyembunyikan maksud; (4) Poststructuralism mengungkapkan bagaimana bahasa dapat melembagakan kenyataan dan (5) Postmodernism menolak jalan terbaik yang substantsial, Agger menetapkan bahwa teori kritis boleh menyarankan cara baru berteori sekitar peran dari negara dan budaya. Tawaran yang berharga.memberikan kontribusi studi dari ceramah, menyarankan studi empiris dari cara berbicara yang bersifat tersusun oleh jenis kelamin, tema, dan teori gerakan penawaran sosial baru yang mempertunjukkan pengertian mendalam bahwa menjelaskan maksud dan pajangan historis berdampak.
Teori kritis mengusulkan fakta suatu pandangan yang  antifoundational, yang memantulkan cahaya, dan mengenali perspektif. Dalam hal ini, pemeriksaan dapat menuang kembali antara obyek dari studi/pembelajaran dan peninjau kondisi. Didalam pengertian lain, hal ini menetapkan pemeriksaan kritis sebagai katan. Penekanannya yang utama bisa lebih saksama dibanding kita mengharapkan ketika kita menyadari bahwa pengetahuan dilahirkan dari segi keterbukaan bagi berbagai dimensi kenyataan. Tugas untuk masa depan bisa untuk menggerakkan di luar perbedaan yang tegas dalam defines, skema melalui ceramah dan untuk menyatukan kembali pendidikan yang diterima disekolah dengan demokrasi dan keadilan (Skrtic, 1990).

5.6.        Teori Interpretivistic
Ahli teori yang paling interpretivistic percaya sudut pandang ahli teori kritis dan positivistic bersifat cacat. Sebagai contoh Guba (1990) menantang itu; (1) Kenyataannya hanya sebagai suatu kerangka mental untuk berpikir tentang kenyataan didalam pandangan, landasan pemikiran yang utama dari pendekatan yang interpretivistic yang dapat dicatat dan terlihat. Kenyataan dibangun disuatu saat demi saat dasar, bukan suatu dasar historis atau budaya seperti dugaan realis kritis; (2) Tidak ada penjelasan yang tegas  untuk mengejar pemeriksaan dan menemukan kebenaran. Didalam pandangan ini, kerangka yang interpretivistic mengusulkan sebagai fakta teori yang mungkin, bahwan menyediakan suatu penjelasan yang layak fakta. Kenyataan lalu menjadi jendela dari pandangan teori hanya karena akan terjadi; (3) Seberapa banyak konstruksi-konstruksi yang berbeda dari teori bersifat yang mungkin, itu juga mengikuti bahwa pemeriksaan harus kepada nilai-nilai dari peneliti; (4) Dan akhirnya karena teori adalah nilai yang dimuati pemeriksaan yang dibentuk oleh interaksi penyelidik dan isu-isu dari studi. Bahkan hari ini, ilmu-ilmu eksak sudah membuktikan balik cara berpendirian mereka sendiri pada obyektifitas.
Dengan kritik-kritik didalam pikiran, panorama yang penuh dari kerangka interpretivistic dapat diselesaikan. Pendekatan yang interpretivistic adalah antifoundational dan relativistic. Kenyataan ditemukan didalam konstruksi ganda, anti memerlukan yang dilanjutkan mencari, lebih memberi tahu rekonstruksi kenyataan dengan kata lain, posisi yang interpretivistic bersandar pada konstruksi yang sosial dari peneliti dan referensi agen. Mengenai ini, filsafat hal asal yang interprerivistic adalah subjektif, sebagai interaksi sosial tidak bisa mungkin tanpa ada yang diperiksa. Akhirnya, interpretivist mencari untuk memahami dengan mengidentifikasi variasi dari konstruksi-konstruksi yang mungkin dari pengetahuan. Variasi ini diselidiki dengan tujuan tentang membawa konsensus untuk mengerti. Secara metodologis penalaran penafsiran Firman Tuhan interpretivist mencari untuk melukiskan konstruksi yang individu dengan sangat teliti sebagai yang mungkin selagi diperjalanan dialektis membandingkan konstruksi yang individu untuk memungkinkan penyelidik dan datang klien untuk menggenggam dengan konstruksi mereka. Lebih memberi tahu pilihan menghasilkan seperti proses metodologis memungkinkan komunikasi lebih dalam secara terus-menerus untuk terjadi dalam hal ini, interpretivist mencari untuk memperoleh pemahaman lebih seksama melalui satu proses rekonstruksi perjalanan (Guba, 1990).
Pemeriksaan Interpretivistic seperti teori kritis, pasti mempunyai suatu sejarah yang kompleks sering menggunakan pemeriksaan naturalistic, kepalsuan posisi interpretivist didalam kontras yang langsung kepada realis mengambil sikap yang ditemukan didalam kerangka pemeriksaan postpositivistic atau positivistic. Sementara aksioma dari paham positifisme dihasilkan didalam nilai “cuma-cuma dari lingkungan,” aksioma dari kerangka yang interpretivistic diciptakan dan yang dibentuk didalam proses yang sosial dari pikiran yang saling berinteraksi. Kenyataan adalah oleh karena itu produk dari pengamatan yang kolektif pemeriksaan nilai dimuati (Levine, 1985, 1992). Riset tidak bisa saksama tanpa pertimbangan kepada nilai, kepercayaan, dan prasangka himpunan dari pemeriksaan para aktor. Proses interpretive ini menyebut Versteben mengakui adanya dan menggunakan perubahan terus menerus yang tidak bisa dipisahkan yang tetap didalam aktivitas manusia dan dengan demikian menyertakan perilaku dalam  pengaturan yang alami.
Paradigma riset yang naturalistic adalah baru dalam lingkaran bidang pendidikan dan lebih penting masih berselisih dengan paradigma yang berurat akar positivistic yang ada melalui waktu. Banyak peneliti bidang pendidikan masih sebagian besar diikat kepada paradigma mereka yang tua. Sebagai contoh Babbie (1989) menawarkan suatu teks yang penuh di riset kemasyarakatan sebagian besar berdasar pada metodologi realis Borg dan Gall (1989) menawarkan penjelasan tidak cukup paling metoda riset arus kemasyarakatan dengan jelas orang yang berkepentingan didalam mengembangkan, mengadaptasikan, atau mengubah kepercayaan pemeriksaan mereka dan metodologi tidak bisa secara penuh menyimpan satu filsafat hal asal yang interpretivistic. Kepercayaan mereka yang dasar masih sebagian besar diberitahukan oleh tradisi nilai yang sebelumnya, metodologi riset dan teori-teori (Smith &Hesusius. 1986). Banyak lebih suka tinggal tetap sekitar dan melanjutkan untuk operasikan didalam paradigma mereka yang sebelumnya. Mereka juga melanjutkan kepada kritik metoda riset dari posisi interpretivist dengan kegairahan. Kritik mereka akan termasuk kurangnya kebenaran dan keandalan paralel membangun (Guba, 1978; Mil &Huberman, 1984). Kurangnya instrumen untuk menyediakan uraian dan perbandingan etnografi, modifikasi peran dari peneliti, manajemen peran didalam konteks riset, strategi penelitian, dan lebih. Tetapi kemajuan sudah tercapai ketika mereka mengadopsi pandangan lebih baru berjuang keras untuk mengatasi suatu generasi metoda yang lebih baru.
Lebih umum lagi hari ini, peneliti sedang menjelaskan teknik lading, menguraikan tradisi penelitian, mekanisme penambahan bahwa menggelincirkan batasan orang dalam orang luar, mengembangkan ukuran lebih baik sekitar apa yang harus diamati melawan apa yang harus disimpulkan, anti menjadi semakin yang disesuaikan kepada perubahan terus menerus yang tidak bisa dipisahkan didalam proses interaksi yang sosial.
Pengarang terdahulu dan ahli filsafat sudah menjadi yang dibingungkan oleh metodologi riset pengukuran bahwa bersandar pada perspektif pengukuran dan hitungan di mana indeks (jamak) dari suatu peristiwa kelihatannya lebih penting dibanding peristiwa diri sendiri” (Giorgi, 1970, HAL 291). Di dalam  pekerjaan yang paling awal mereka, Guba dan Lincoln (1981, 1982, 1985) bergulat dengan asumsi konvensional berhubungan dengan paradigma yang lebih tua. Lebih dengan tepat; Guba dan Lincoln (1989) menguraikan fitur meragukan dari paradigma yang positivistic. Didalam terminologi mereka, Patokan untuk Praktek Evaluasi (Rossi. 1982), seperti yang dikembangkan oleh Evaluation Research Society; bersifat tak dapat diterima dari sudut pandang suatu generasi yang baru menjadi para penilai. Berbicara dengan keras tentang praktek yang evaluatif, Guba dan Lincoln pandangan-pandangan Critiqued Society itu dan menguraikan dasar pemikiran di balik ketidak-mampuan mereka untuk menerima cara berpendirian kecocokannya. Posisi mereka meliputi berikut dibawah ini :
1.          Mereka tidak sesuai dengan peran yang interaktif dari .penilai dalam hubungan dengan klien. Sementara metodologi tradisional mendalilkan suatu peran perumusan dan negosiasi, peneliti-peneliti hari ini melihat riset aktivitas sebagai suatu yang siklus dan proses iteratif.
2.          Dengan kata lain penting, Guba dan Lincoln tidak berpatokan waktu untuk praktek meringankan/menerangi ajaran yang metodologis dari pendekatan yang interpretivistic, seperti patokan tidak secara langsung mengidentifikasi atau menetapkan ukuran yang sesuai kepada usaha-usaha evaluasi constructivist. Yang paling sering kali, perawatan-perawatan, berkenaan dengan metodologi kuantitatif bersifat lazim, berbadan dalam hal seperti sampling, kemampuan generalisasi keandalan, dan lebih. Kekurangan bersifat terminologi interpretivistic Guba dan Lincoln (1989) melihat sebagai terminologi bisa diterapkan atau sama seperti keaslian, kepercayaan, kredibilitas dan sebagainya.
3.          Seperti filsafat yang interpretivistic karena permulaannya, keheningan standar positivistic lebih tua mempercayakan hampir eksklusif hubungan sebab dan akibat bahwa Guba dan Lincoln berkelahi penilai-penilai dan klien-klien buta dari angkatan pembedaan lebih sosial tangguh, yang beroperasi dalam situasi yang individu. Didalam pandangan mereka, construction sosial adalah  paling sedikit dengan sama sepenting seperti hubungan-hubungan sebab dan akibat yang mungkin.
4.          Guba dan Lincoln (1989) tambahan pula mengutip terbentang konstan dilema etis, seperti klien dan peneliti didalam model tradisional dari pemeriksaan pada umumnya meninggalkan ketersediaan informasi, pengambilan keputusan, dan hubungan kekuasaan dalam kekuasaan klien. Tetapi model yang lebih baru dari pemeriksaan mengharuskan memindahkan pengungkitan ini dari sponsor lebih secara penuh memungkinkan suatu spektrum lebar pengambilan keputusan untuk bangun dari lebih siap tersedia informasi dan interaksi berikut dengan stakeholders yang lain.
5.          Akhirnya, Guba dan Lincoln (1989) buat suatu permohonan didalam pertahanan dari tubuh kerja pemasangan dari bukti bahwa mengusulkan sebagai fakta suatu nilai ikat pendekatan kepada evaluasi. “Bila melihat peristiwa lalu, kemungkinan tindakan untuk ‘nilai’ suatu proyek (program, kurikulum, dan seterusnya) selagi bertindak sebagai meskipun demikian nilai tak penting atau merusak kepada penilaian (evaluasi) usaha perlu sudah menyerang kita sebagai yang bertingkah, jika bukan kontradiktori perilaku” (Hal  233).
Untuk memecahkan hal ini banyak fitur yang meragukan, Guba dan Lincoln (1989) dan Lincoln dan Guba (1986) melanjutkan didalam penyelidikan mereka untuk menciptakan ukuran untuk menghakimi ketercukupan evaluasi dan lebih pantas kepada paradigma yang interpretivistic.
Suatu tinjauan ulang yang singkat dari pemikiran mereka mengenai ini dapat sangat menolong. Kepercayaan mereka dapat diringkas kedalam tiga kategori yang luas : kepercayaan ukuran, sifat alami proses penafsiran Firman Tuhan, dan ukuran keaslian. Ukuran-ukuran diharapkan kepada patokan paralel untuk riset yang ketat didalam kerangka yang positivistic (yaitu : kebenaran, keandalan, dan objektifitas). Sementara masing-masing ini dikandaskan dengan kuat didalam kerangka postivistic dan sangat terbiasa, tidak ada terjemahan yang langsung dari ukuran ini kepada dunia yang interpretivistic.Suatu ontologi realis tidak bisa menganggap diri bahwanya ada suatu pertemuan antara penemuan ke suatu penemuan dunia nyata maupun terdapat didalam tradisi yang interpretivistic lalu adalah generalizable.
Terlalu banyak konstruki yang mungkin bersifat lain. Lincoln dan Guba (1986) mengusulkan sebagai fakta bahwa menetapkan keadaan dapat diserahkan kredibilitas, keterkaitan dan mengkonfirmasikan kemampuan lebih ukuran yang sesuai kepada kerangka yang interpretivistic.
Mereka menyerahkan bahwa menetapkan suatu konsep yang paralel dari kredibilitas menetapkan suatu persamaan lebih yang sesuai, pemadanan membangun kenyataan dari responden kepada kenyataan penilai. Teknik-teknik bahwa meningkatkan kemungkinan kredibilitas yang lebih besar lebih diperpanjang perikatan buka peluang hubungan lebih besar, pengamatan gigih yang membiarkan lingkup lebih besar, panutan mewawancarai utusan sebagai suatu pengendalian mutu yang tidak mengejar untung. ujian kasus negatif yang meyakinkan keyakinan subjektif, kesubyektifan progresif untuk menangkap pandangan yang diistimewakan dari yang lain dan menyokong yang lain, dan anggota memeriksa untuk mendaftarkan diri konstruksi dari stakeholders.
Dengan kata lain kritis, keadaan dapat diserahkan mendasar kepada paradigma yang interpretivistic. Hal itu ukuran kemampuan generalisasi parallel dari paradigma yang positivistic. Kemampuan generalisasi didalam kerangka yang positivistic berasal dari kesetiaan ke teknik percontohan acak. Keharusan membuktikan berada dengan penyelidik. Tetapi ini tidak bisa kasus dengan pendekatan yang interpretivistic.  ketika keharusan membuktikan berada dengan agen dan klien oleh karena itu, selalu sanak keluarga. Konsekuensi-konsekuensi dari area keadaan dapat diserahkan tidak mempertimbangkan relevan kepada pembatasan keyakinan lazim disuatu pengertian yang positivistic. Sepertinya derajat tingkat dari keadaan dapat diserahkan dibentuk dengan menyediakan sama seperti melengkapi suatu database yang mungkin (uraian-uraian tabel) untuk memudahkan melintasi kepada konteks-konteks yang lain.
Ukuran lain paradigma yang interpretivistic adalah keandalan atau stabilitas data dari waktu ke waktu. Perubahan-perubahan desain dan bergeser ke dalam hipotesis akan memandang studi-studi riset yang tidak stabil didalam paradigma riset yang tradisional, tetapi mempertimbangkan berdasarkan norma didalam kerangka yang interpretivistic. Kemampuan ini untuk berubah atau tujuan perancangan ulang adalah hal yang biasa mempertimbangkan karakteristik yang muncul bahwa menggambarkan naturalism. Untuk menghormati pentingnya keandalan, interpretivists perlu untuk menjamin suatu pengertian dari sifat suka menurut. Metoda ini dari pemeriksaan perlu untuk secara terus-menerus diteliti ketika usaha yang lain untuk membuat ulang untuk peneguhan iman mereka, keputusan dan penafsiran penyelidik. Sebagai contoh, dapatkah yang lain menjejaki proses logika dari penyelidik itu ?.
Akhirnya, Lincoln dan Guba (1986) serahkan bahwa pemeriksaan harus memelihara suatu pengertian dari obyektifitas untuk meyakinkan data itu, penafsiran, dan produk dari pemeriksaan itu bersifat memperbaiki dalam konteks dan orang yang dapat dipisahkan dan yang berbeda dari penyelidik. Tetapi tidak seperti objektifitas dari tradisi sebelumnya, pemeriksaan yang interpretivistic bersandar pada konfirmabilitas data diri sendiri. Dalam hal ini, integritas dipelihara dan dipertahankan dengan meyakinkan bahwa data mudah untuk ditelusuri kepada berbagai sumber dan penafsiran padu itu secara khusus maupun dan disiratkan.
Hermeneutic Process. Didalam proses hermeneutic/dialectic, masukan data dengan segera tersedia bagi umpan balik, pengembangan, koreksi, revisi, atau perluasan. Dengan demikian, masukan bersifat yang lain wujud tentang meyakinkan mutu di dalam proses pemeriksaan. Ketika data memulai dan dikunjungi kembali, mereka dengan segera menjadi dapat diakses kepada usaha-usaha rekonstruksi hubungkan kering yang muncul. Persekutuan adalah mekanisme informasi dan pengembangan membiarkan data untuk secara terus-menerus ditantang oleh bermacam klien yang pada gilirannya mendukung kredibilitas di dalam hasil. Penyekatan hal ini merupakan persyaratan pemeriksaan mencegah pelemahan informasi.
Ukuran Keaslian. Sementara pendekatan tersebut kepada pemeliharaan, dari “kesehatan” di dalam proses interpretive bermanfaat, mereka juga pada umumnya memulai dari asumsi positivist metodologis paralel tentang kebaikan. Pemeriksaan interpretivistic memerlukan himpunan tegas dari ukuran-ukuran berdasar pada constructivist asumsi (Lincoln & Guba, 1986). Ukuran keaslian ini akan perlu termasuk kewajaran, ontological keaslian keaslian mendidik, katalitis, keaslian dan keaslian taktis Fairness bangun dari persyaratan itu untuk menyediakan suara sama” dan keseimbangan kepada pluralisme nilai bahwa bangun dari bermacam-macam konstruksi. Dalam hal ini, peran penyelidik itu adalah satu penyelesaian sengketa dengan penengahan, seperti berlawanan dengan konstruksi yang mereka punyai “hari di dalam pengadilan.” Kewajaran juga memerlukan bahwa perilaku penyelidik apa yang Lincoln dan Guba memasukkan satu mekanisme yang naik banding, dengan mana stakeholders dapat memutuskan sewenang-wenang prosedur-prosedur proses dan kebijakan. Derivativenya sisa dari keaslian membangun kekuasaan dari proses ini. Setiap pemeriksaan memproses harus mampu diperbaiki atas dan jatuh tempo. Secara ontologi keaslian mencari untuk secara terus-menerus meningkatkan kesempurnaan keduanya stakeholders dan para penyelidik. Keaslian mendidik memerlukan penyelidik yang  memenuhi tanggung jawab moral mereka kepada stakeholders dengan meyakinkan bahwa suatu variasi di dalam sudut pandang desain hadir.
Keaslian katalitis menuntut bahwa proses pemeriksaan bukan istirahat semata-mata sebagai suatu experiential berlatih, tetapi bahwa proses menghasilkan pengambilan keputusan dan tindakan. Teori harus meningkatkan melalui praxis (komitmen dan mengerti) untuk mempraktekkan. Akhirnya, keaslian taktis memerlukan kompetisi komplet dalam memproses tambahan pula termasuk mengabulkan kekuasaan stakeholders itu untuk berbuat sesuatu.

5.7.        Pemeriksaan dan Administrasi Bidang pendidikan
Setelah setelah dijelajahi ke tiga paradigma yang utama sungguh-sungguh mendalam, lebih saksama memperhatikan pemeriksaan didalam praktek bidang pendidikan adalah yang sesuai. Evers Lakomski (1991) sediakan suatu sarana angkut bagi kita untuk menghubungkan tiang penyokong yang filosofis menggambarkan di atas kepada praktek bidang pendidikan. Ketiga bidang utama yang ditujukan oleh Evers dan Lakomski berpasangan dengan mereka yang sebelumnya membahas: gerakan teori, pendekatan paradigma, dan lekat. Gerakan teori di dalam administrasi bidang pendidikan melambaikan ditahun 1980an. Selama peneliti-peneliti tahun bidang pendidikan ini melihat ke “struktur mengurangi hipotetis dengan hukum ada di puncak dan fakta pada dasarnya” ( Evers &Lakomski, 1991, Hal 3). Tujuan dari riset untuk menyediakan pengelola bidang pendidikan dengan penemuan bahwa akan membiarkan mereka kepada lebih dengan teliti meramalkan kejadian dan untuk kendali lebih baik mereka yang kejadian. Unsur organisatoris dikenali, operasional, dan mengukur dalam percobaan untuk daya guna dan tepat guna peningkatan didalam lingkungan yang bidang pendidikan.
Didalam paradigma klasik ini, organisasi bidang pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana, hirarkis, dan mekanis. Ramalan kejadian dipertimbangkan dan riset dengan setia mengikuti praktek ilmiah mendasar pemeriksaam sasaran tanpa perubahan obyek dari pemeriksaan kedalam bagian yang terpisah, menguji mereka, dan sampai di penyamarataan-penyamarataan untuk meluas kepada daerah lain. Sehubungan dengan mengubah praktek di dalam gelanggang organisatoris yang lain, bagaimanapun, administrasi bidang pendidikan juga mulai suatu pergeseran. Literatur adalah replet dengan contoh dari usaha yang berkelanjutan untuk mengubah fungsi organisasi-organisasi jalan dan menciptakan pengetahuan baru. Pasti penalti hukuman mati ajaran dari paradigma yang positivistic didalam pemeriksaan organisatoris sudah tidak lagi satu contoh yang sempurna yang bisa diterima (Howe & Eisenhart, 1990; Cziko, 1989). Tetapi selagi postpositivism lebih enak kepada peserta riset kelihatan muda, empirisme kuno tetap kukuh (Howe &Eisenhart, 1990).
Guba dan Lincoln (1989) sediakan ilustrasi lain keturunan akibat dari usia pemeriksaan didalam administrasi bidang pendidikan. Sementara masing-masing generasi berkonsentrasi pada metoda tertentu sendiri untuk memenuhi pemeriksaan dan riset mereka mewakili satu penguasaan, permasalahan menyebar tinggal. Koleksi data untuk pengukuran asas. Sebagai contoh, didalam lingkaran bidang pendidikan, pengukuran dari atribut anak-anak sekolah primer Tujuan dari pendidikan yang diterima disekolah untuk mengajar apa dikenal sebagai benar dari dasar itu dan untuk meyakinkan bahwa para siswa kemudian adalah mampu menunjukkan pengetahuan mereka di test-test yang distandardisasi. Seperti gerakan yang bersifat kemanusiaan yang terkemuka. Perbedaan penemuan individu  ketika bereaksi bahwa pengukuran sungguh menjadi suatu jalan kecil pemeriksaan wajar baru. Bisnis dan industri juga mendukung zaman dari pengukuran sebagai peneliti berhasil baik untuk ukuran daya guna dan tepat guna. Sementara generasi pertama ini penelitian administrasi bidang pendidikan menyediakan data yang berharga, dibatasi lingkup dari penemuan yang menyimpan panggilan yangs luas yang lebih besar. Uraian program, material, strategi pengajarna dan pola teladan organisatoris untuk mencoba meluaskan lingkup hasil pemeriksaan, tetapi juga menahan banyak pengukuran jaman hampir kepercayaan religius atas hitungan. Riset ini hampir bisa dipastikan menimbulkan perubahan yang menguntungkan seperti kurikulum lebih berbasis luas timbul, pemahaman lebih dalam para siswa terjadi, dan menguji diungkapkannya apakah para siswa belajar yang para guru telah berniat. Bagaimanapun lebih banyak perubahan diperlukan. Penentuan nilai menjadi, area studi untuk generasi  penyelidik berikutnya.
Didalam periode baru ini, peneliti menjadi penimbang dan pemutus yang dibumbui dari metoda riset yang berbeda sebagai tambahan terhadap penguasa pengukuran dan uraian. Didalam gelanggang ini, tidak hanya kinerja masalah perhatian kepada penyelidik, tetapi sasaran hasil menjadi pokok pemeriksaan. Peneliti sekarang diwajibkan untuk berhubungan dengan kebaikan, didalam dan diluar perspektif riset sekolah pendidikan itu. Peneliti-peneliti, meski bukan didalam naungan tempat peristiwa ini, memasuki “dunia yang politis.” 

5.8.        Kesulitan dalam Pemeriksaan.
Sebelumnya dalam bab ini, kita membahas kemunculan dari berbagai paradigma pemeriksaan. Sekarang perlu juga mendiskusikan satu baris dari permasalahan praktis yang muncul dalam pendekatan riset, Eisner (1981), Agger (1991), dan Guba dan Lincoln (1989) menyediakan diskusi penuh pengertian kegagalan riset secara umum dan riset pendidikan secara rinci.
Eisner (1981) mendalilkan beberapa poin dari perhatian. Dengan kepercayaan pada pemeriksaan yang interpretivistic menemukan hari ini, penghisapan, kekuatan kepunyaan yang unik penyelidik itu bersifat tertinggi. Sementara sebagian orang melihat hal ini seperti masalah politis yang bentuk tunggal, yang lain menunjuk perhatian etis lebih luas. Peneliti didalam kelas atau sekolah atau dari universitas  masing-masing harus menunjuk kehormatan dari kedua agen dan klien. Didalam cahaya ini, seksamanya dari pelatihan riset; aatribut individu peneliti, dan pengaturan sesuai kontrak yang masing-masing mencerminkan suatu perhatian yang perlu bahwa pemeriksaan lebih seksama. Pertimbangan lain melibatkan ketepatan waktu dari hasil riset. Riset dengan seksama dalam bingkai yang interpretivistic sering familier, pada “Tindakan Ilmu pengetahuan” orientasi Argyris (1985), pengambilan minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum penutupan studi yang tersedia. Dengan demikian riset sering kali menarik dalam prosedural : pengaruh disembowels dari pemeriksaan menjadi terlalu pendek aplikabilitas istilah dari waktu ke waktu. Untuk memelihara fleksibilitas yang tidak bisa dipisahkan metoda interpretive, dunia yang lengkap dari pemeriksaan tujuan ke penemuan, harus tersedia bagi penyesuaian. Untuk memecahkan. tersebut, Eisner menyerahkan bahwa riset kualitatif sering dipandang sebagai deterministic dibanding metodologi yang sebelumnya. Klien boleh menjadi yang ditakut ketika hasil tidak bisa segera menghasilkan perubahan efektif seperti yang diasumsikan di zaman yang positivistic.
Guba dan Lincoln (1989) menantang bahwa tiga cacat yang utama sudah mendominasi pemeriksaan administratif didalam pendidikan : suatu kecenderungan terhadap managerialisme, kegagalan itu untuk mengakomodasi pluralisme dari nilai, dan atas pemeriksaan kesanggupan ilmiah (Hal  32). Didalam kasus yang pertama, Lincoln membantah bahwa managerial menghasilkan sejumlah kesalahan yang pada hakekatnya, disempowering peserta stakeholders, disenfranchising penemuan penilaian, dan kekurangan kemampuan itu untuk menyatakan tanggung-jawab dalam kumpulan, managerial yang dikombinasikan beberapa fitur tidak disukai yang dapat berkompromi suatu keseluruhan skenario riset. Juga penting adalah perwujudan bahwa pluralisme adalah nilai tertinggi didalam semua riset tak mengindahkan ajaran nilai menyisihkan warisan berbeda dari para siswa disekolah, daftar biaya pengiriman barang pelajaran berbeda, dan disassociates penyimpangan peneliti mungkin karena keperluan yang mendesak dan medadak, antar permasalahan yang lain. Akhirnya menurut Guba dan Lincoln, pemeriksaan bidang pendidikan masih sebagian besar merasa terikat dengan pendekatan ilmiah. Dari buku teks mengeluarkan secara ringan sebelumnya untuk lulus memprogram keheningan itu resonate dengan kursus metodologis yang sebagian besar banyaknya difokuskan, metode latihan itu adalah dengan kuat kukuh. Didalam administrasi pendidikan dan keseberang pengetahuan manajemen, metode latihan itu dipandang sebagai cara yang benar untuk meyakinkan. Kepercayaan ini seringkali mengevaluasi jalur dari konteks mereka dan memandang hasil riset nilai yang diragukan. Guba dan lincoln (1985) membantah untuk constructivisism yang mau mendengarkan, diluar pandangan awal dari pendekatan yang constructivistic.
Agger (1991), seorang ahli teori yang kritis, aplikasi yang ditantang itu postmodernism dan teori kritis bahwa kita lihat sekarang dipecahkan oleh modifikasi kultur yang populer. Sementara mungkin saja penting untuk mengubah bentuk sstruktur masyarakat, ini tidak bisa tercapai oleh hanya ingat pengalaman yang kolektif dari kejadian. Itu harus mengembangkan dengan mengidentifikasi artinya dan identitas kejadian kedua teks dan jalinan mereka. Konsentrasi pada kejadian dari pengalaman yang populer menciptakan kemungkinan bahwa seperti kejadian menjadi lebih bernorma, mereka yang dijadikan ideal dan norma yang berperilaku. Penyelidikan kita dalam beberapa hal perhentian dan tidak lebih lanjut dengan kritis menguji itu kejadian kecuali poin dangkal dari pandangan. Postmodernism, menggantikan unsur pokok dengan gaya dapat dilihat pada banyak kejadian yang cepat menentukan penyesuaian seperti pemberdayaan, pemilihan sekolah, atau manajemen berbasis sekolah. Setiap orang kelihatannya bertujuan untuk memperoleh akses kepada Bandwagon untuk menggambarkan versi mereka sendiri yang unik dan diperlukan  untuk berubah.
Guba dan Lincoln (1985) menguraikan gerak paralel dari paradigma pemeriksaan sebagai hasil perubahan yang berkelanjutan didalam organisasi. Membandingkan tujuh konsep menyediakan dasar untuk satu eksplorasi yang mendalam sebagai dampak dari perubahan yang berkelanjutan didalam cara kita membangun pengetahuan. Mengerti kesamaan ini dapat lebih lanjut sebenarnya membantu kearah yang menetralkan sebagian dari lingkup masalah yang sebelumnya dikutip atau diambil kesimpulan. 

»        Dari sederhana ke kompleks.
Perubahan ini menyiratkan dan sebagian besar suatu hasil dari suatu ketidak-mampuan organisasi untuk merubah dan kecenderungan untuk melanjut dan memandang dunia simplistically. Di jaman sebelumnya kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, mengukur keseluruhan suatu masalah telah diasumsikan. Sebagai contoh :
Namun tidak mungkin bahwa kita akan secara penuh memahami dampak dari tingkat tarip hilang-data tinggi dengan hanya dengan survey yang mereka tinggalkan atau lebih lanjut  dengan termasuk suatu urutan dari yang lain variabel mencari-cari surat menyurat. Suatu pertanyaan yang lebih rumit menuntut pendekatan lebih rumit kepada ilmu pengetahuan, satu termasuk, dalam kasus ini, suatu panorama yang sistemik dari sekolah tersebut, lingkungan pengajaran keluarga, dan lebih. Yang lebih penting, situasi ini menuntut eksplorasi hubungan diantara variabel. Yang paling penting perwujudan bahwa mungkin ada atau tanpa obyektifitas didalam contoh tersebut. Mengidentifikasi pengajaran yang lemah sebagai satu penyebab atau banyak penyebab yang meniadakan hubungan dan merahasiakan penemuan lebih sesuai.
Didalam riset bidang pendidikan, pengingat-pengingat kuat tentang akomodasi yang sederhana kepermasalahan ada dimana-mana. Rasionalitas seperti yang dituntut oleh gambaran realis yang masih meragukan. Bahkan hari ini kita temukan instruksi pengajaran universitas memusatkan pada lebih awal, mungkin riset sebagian besar tidak relevan berlatih bahwa telah melewati masa lampau waktu mereka. Kompleksitas mengharuskan dramatis berubah. Pada masa depan, mereka yang mengajar riset metoda harus mengakui adanya pemeriksaan yang meliputi arti yang penuh “Sejarah dan detil membandingkan dengan ketetapan dan keadaan umum” (Guba & Lincoln. 1985. Hal 89). Huff menjelaskan bahwa dalam rangka “… memahami kompleks ... aspek dunia, harus mempunyai sumber informasi kompleks" (Huff 1985, Hal 165).

»        Hirarkis ke Heterarchical
Jika kita memperhatikan organisasi hari ini, kita menemukan banyak contoh dari struktur organisasi yang tidak biasa. Hubungan erat, jaringan, piramida atas piramida bawah, menyambungkan sambungan, dan lebih adalah penyajian perubahan didalam struktur organisasi yang diharuskan oleh angkatan yang lain. Dengan cara yang sama, dalam lingkaran bidang pendidikan, revisi lebih lanjut struktur organisasi sudah muncul didalam contoh seperti manajemen berbasis sekolah, dan lebih banyak interaksi pengambilan keputusan antara pelajar dan guru. Bahkan sekolah tanpa para pemegang saham tidak susah untuk menemukan. Pluralisme atau multiplism sedang menggantikan “tingkatan sosial” organisasi yang sudah membatasi penciptaan pengetahuan. Didalam pandangan dunia baru, setiap himpunan dari faktor dapat menjadi suatu peristiwa pengendalian, tergantung pada konteks.
Didalam pandangan yang tradisional, sistem bidang pendidikan diorganisir menurun, dari level pemerintah pusat disemua jalan sampai dengan guru. Hoy dan Miskel (1987) menggambarkan teori administratif sebagai “Satu set konsep yang saling berhubungan, asumsi dan penyamarataan bahwa secara sistematis menguraikan dan menjelaskan keteraturan didalam perilaku dalam organisasi pendidikan” (1987. Hal 2). Literatur membebani dengan skema organisasi mencerminkan suatu kepala organisasi, penuh dengan yang sequential-linear-systematic pengembangan kurikulum menggambarkan, dan yang dipenuhi dengan model yang menurut langkah struktural praktek. Pemeriksaan pada waktunya masa lampau mensahihkan sifat yang hirarkis dari organisasi sekolah dan pendidikan yang diterima di sekolah.
Paradigma yang lebih baru memandang organisasi bidang pendidikan sebagai heterarchical, yang diorientasikan kepada pluralisme dan suatu prinsip dasar heteracas (Guba&Lincoln, 1985). Sebagai contoh, perwujudan bahwa bahasa adalah deskriptif, atau seni visual bahwa melukiskan, membuka pengetahuan baru menciptakan tempat peristiwa bahwa tidak bisa digolongkan sama yang bentuk tunggal, ketika kepala menurun, atau menurut langkah. Garis bantu harus tersedia untuk peneliti yang mendesak lebih baru saling berhubungan metoda riset, garis lintang bahwa membiarkan bermacam pendekatan untuk menyusun kembali pemahaman kita.
»        Mekanik ke Holographic
Didalam bab yang akan datang, organisasi sekolah akan digambarkan sebagai satu “sangkar besi” atau sebagai yang seperti mesin. Kiasan sambung gambaran-gambaran mental dengan kenyataan sekolah bersifat seperti mesin : kelas adalah 45-50 menit, lima atau enam kelas perhari umum, sekolah tersebut tahun adalah 180-plus hari-hari panjang, dan diperlukan dua belas tahun untuk melengkapi pendidikan yang dapat diterima disekolah; kecuali jika, tentu saja test yang distandardisasikan mencerminkan kemampuan lebih besar dan merencanakan berlaku bagi perguruan tinggi, dimana waktu anda kemudian bisa meningkatkan banyaknya tahun dari pendidikan yang diterima disekolah kepada enam belas. Bahkan guru seperti robot. Agenda dari pemeriksaan didalam lingkungan tidak yang berbeda ini. Adakah tidak cukup studi dari panjangnya kelas dalam jurnal telah? Kebutuhan kita berkata lebih?
Holograms bersifat gambaran-gambaran dimensional dari cahaya yang terpantul, tetapi lebih penting menguasai kekayaan yang unik. Konseptualisasi organisasi sekolah disebut sebagai suatu hologram adalah usaha untuk mengkhayalkan suatu sekolah yang holographic sering kali mengakibatkan kekacauan dan kebingungan. Hologram, setiap bagian berisi informasi cukup untuk menyusun kembali keseluruhan. “bagian itu didalam keseluruhan dan keseluruhan didalam bagian... bagian mempunyai mengakses kepada seluruh” (Wilbur, 1985, Hal 2). Ketika cahaya ditunjukkan pada gambaran yang holographic, gambaran itu dapat disusun kembali dari setiap bagian atau puzzle. Pertimbangkan, menganggap organisasi sekolah yang holographic, satu organisasi dimana compartmentalisasi tidak ada, dimana para guru berbagi informasi dengan luas, atau dimana para siswa bisa disebut para rekan kerja. Pelajaran adalah isu didalam sekolah ini seperti keseluruhan sekolah dibangun untuk memudahkan pelajaran. Didalam pengertian yang holographic, ketika anda memasuki suatu sekolah dapat anda merasakan pelajaran berlangsung, atau begitu merasakan itu kandang besi? Dengan cara yang sama, pemeriksaan bidang pendidikan yang miliki, haruslah yang dimulai untuk mempertimbangkan; menganggap keterkaitan tentang fitur pengaturan bahwa mengilhami ciptaan pengetahuan holistic.

»        Determinacy ke Indeterminacy
Apakah mungkin untuk meramalkan dan mengendalikan? Atau adalah segala hal yang sanak keluarga? Pandangan yang berlainan berkembang dari paradigma teori organisasi dan pemeriksaan yang berbeda dengan jelas dan mempunyai keterlibatan-keterlibatan berjangkauan luas. Jika seperti kaum tradisional percaya, ada satu cara yang benar untuk mengorganisir dan mengurus pendidikan, dibanding pemeriksaan mengurangi yang hipotetis akan mengakibatkan tubuh dari pengetahuan tentang itu “cara benar.” Weber memperkirakan sistem yang birokratis adalah “atasan didalam ketepatan, didalam stabilitas, didalam kekerasan tentangnya disiplin, dan keandalannya.” (Pendeta.  1947, hal 337). Waktu belajar dan efisiensi model juga berfungsi untuk mengesahkan suatu pendekatan yang mantap kepada administrasi.
Muncul riset paradigma, bagaimanapun, menyediakan suatu kritik dari empirisme logis dan mengasumsikan satu alam semesta yang tak tentu dimana ramalan bukanlah yang tidak mungkin. Sasaran pemeriksaan organisatoris mau tidak mau harus “Mewujudkan satu pemahaman interpretive orang artinya memberi kepada situasi mereka sendiri dan interaksi mereka dengan yang lain” (Smith&Blase, 1991, Hal 11). Penyamarataan seperti hukum bukanlah mungkin karena dunia sosial bukanlah terbatas. Oleh karena itu, yang terbaik yang diharapkan untuk menguraikan kompleksitas organisasi dalam konteks sejarah mereka, orang-orang, dan lingkungan. Hal-hal dari makna manusia akan memandang interpretive pemahaman yang mungkin (Smith&Blase1991).

»        Linier ke Mutual Causality
Kejadian dari skenario sebab dan akibat yang bentuk tunggal didalam hidup riil, jika kita menggunakannya sulit untuk dibayangkan. Tetapi riset tradisional menetapkan hanya hubungan sebab akibat seperti itu yang mendasar. Dengan sungguh jika tujuan kita untuk mengurangi asal-muasal dari kejadian untuk variabel-variabel yang terbatas. Tetapi generalisasi dari ini keadaan yang terbatas kembali lalu untuk mengeluarkan lebih rumit harus dilakukan dengan kepedulian yang ekstrim. Jika kemudian hubungan adalah menetapkan pemeriksaan berdasarkan norma dan menghadirkan suatu yang lebih spesifik sebagai satuan variabel untuk suatu hubungan maka diaganggap sah/benar. Pergi keyakinan dari hubungan memimpin kearah kesalahan.
Pemeriksaan Naturalistic, sebaliknya, mengasumsikan hubungan sebab akibat timbal balik, nonlinear, dan hubungan berorientasi pertumbuhan antar variabel. Sebagai satu studi kasus metodologi pemeriksaan dibangun dengan sengaja sebagai suatu sket budaya historis sebagai contoh, suatu lingkungan sekolah atau kelas. Dalam hal ini, studi kasus adalah suatu contoh hidup dari tindakan yang dihubungkan kepada lingkungan total mereka. Begitu tindakan dipahami untuk terjadi didalam, satu ceramah interpretive dapat menyusun kembali lingkungan sekolah tersebut atau kelas, tetapi pandangan dari penyelidik. Suatu pemahaman yang lebih dalam lingkungan yang total dapat muncul.

»        Assembly ke Morphogenesi
Dalam paradigma pemeriksaan, perakitan menyiratkan konstruktor mesin dari sederhana ke kompleks. Didalam penurunan pandangan, keseluruhan yang dipisahkan dalam segmen lebih kecil dan yang lebih kecil sebagai suatu metode kepada parameter kontrol bersifat percobaan dan sampai pada kebenaran. Penemuan bersifat percobaan lalu menyamaratakan kasih sayang dengan keseluruhan yang lebih besar dan lebih besar lagi. Satu kumpulan dari penemuan harus tidak bagaimanapun, sebagai gantinya untuk lisensi untuk menerapkan ke seberang lebih besar dan cakupan lebih besar. Matematika yang lemah mencetak prestasi didalam sekolah tertua kota New York mungkin tidak ia berhubungan dengan matematika lemah mencetak prestasi di Los Angeles atau dimana pun selain itu. Penyamarataan hanya dapat memindahkan ketika kita dapat dengan penuh percaya diri menghubungkan setian lingkungan-lingkungan yang ada.

»        Morfogenesis
Adalah suatu perubahan yang timbal balik bahwa terjadi ke seberang bagian dan keseluruhan suatu struktur. Itu dapat dipertimbangkan penggunaan yang dikombinasikan dari obyektifitas dan kesubyektifan suatu keseimbangan kekakuan dan keterkaitan, atau paradoksis dari pemeriksaan. Sementara suatu sekolah yang ketat mendasarkan eksperimen boleh berfungsi kepada alamat suatu isu yang lokal, keterkaitan dari isu yang lebih luas kepada seluruh isu kemudian adalah kekurangan. Wajar keseimbangan dua  kebenaran ini berhubungan dengan menciptakan suatu keseluruhan yang berbeda. Jadi, dengan demikian, ukuran berlainan kombinasikan untuk membuat ulang suatu keseluruhan yang lebih besar. Dengan cara yang sama, organisasi sekolah yang dipikirkan untuk berputar-balik disekitar bangunan, fungsi yang tepat kedalam lingkungan dan berfungsi untuk menerapkan dan menambahkan  kemudian mengoperasikan. Dalam hal ini sekolah tersebut tidak pernah mampu menyesuaikan diri sendiri dan menciptakan hubungan-hubungan pengaturan perlu yang baru sebagai hasil pertumbuhan atau ukuran lain manapun. Tanpa orientasi hubungan proses ini sekolah yang besar menjadi susah, yang tidak fleksibel, prosedural, dan birokratis. Jika pengambilan keputusan ang sebelumnya dan memecahkan masalah telah berhubungan perhatian untuk wujud dan fungsi, barangkali mekanisme fleksibilitas bisa dikembangkan, atau prosedur yang bisa menyesuaikan diri dengan meliputi hubungan lebih baru. Dalam hal ini, pendidikan yang diterima di sekolah bisa menjadi pengaturan diri sendiri dan diri sendiri. pembaharuan.

»        Objective ke perspectival
Sebagai suatu korolari kepada perubahan membahas diatas, paradigma pemeriksaan lebih baru mencari untuk mengungkapkan, menyingkapkan perspektif ganda melalui pemeriksaan dan memungkinkan penemuan ganda. Jika kita secara terus menerus mengurangi variasi peredaran bank dapat berdampak pada suatu usaha/riset, kita juga mengurangi kemampuan penyelidik itu untuk mengejar kebanyakan usaha yang diberitahukan. Pemeriksaan memerlukan variasi keperluan untuk berfungsi secara efektif.
Aksioma ini sebagai Guba dan Lincoln (1985) mereka menguraikan mengembangkan suatu pandangan yang baru dari ciptaan pengetahuan didalam organisasi dibidang pendidikan sebagau satu proses yang berkelanjutan. Metodologi tradisional melanjutkan untuk memiliki suatu dampak yang kuat di pemeriksaan yang administratif (Smith & Blase, 1991). Bagaimanapun, telah ada suatu dengan mantap bertumbuh tubuh dari riset berdasar pada perspektif yang interpretivistic dan diantara “baru” aksioma-aksioma seperti yang digambarkan oleh Schwartz dan Olgivy (1979) dan Guba dan Lincoln (1985). Kita harus terbiasa dengan keduanya yang tradisional dan pandangan yang lebih baru pemeriksaan organisatoris. As Gage (1989) menunjukkan, kita mungkin masih ditengah suatu perjuangan demi supremasi paradigma atau, secara berurutan, kooperasi. Pendidik di masa datang harus memperhatikan ini pendekatan yang ganda kepada riset administratif bidang pendidikan.

5.9.        Proses Pemeriksaan dan Paradigma Yang Diperdebatkan
Proses dari pemeriksaan tidak debat filosofis hanyalah, hanya, sebagai gantinya diharapkan untuk menjawab pertanyaan spesifik yang mengakibatkan pengetahuan spesifik. Untuk menggambarkan proses dari pemeriksaan beberapa contoh dikembangkan dalam satu usaha untuk mengamati pemeriksaan proses dalam perang.
Salomon (1991) menganalisa beberapa himpunan dari studi dalam argumentasi yang menimbulkan pemiikiran untuk pemeriksaan sistemik dan  analitik dalam studi pertamanya, suatu eksperimen yang dikendalikan, ia dan para rekan kerjanya menguji interaksi hipotesis itu dengan komputer yang interaktif, Writing Partner, akan memperbaiki kemampuan penulisan. Para siswa diwajibkan diuji : variabel, internalisasi, pembelanjaan dari usaha, mutu penulisan, dan perpindahan setelah penggunaan yang berikut dari alat penulisan. Penulisan sebelum dan sesudah esei ditempatkan pada pos yang sudah dikembangkan. Para siswa secara acak ditugaskan menjadi dua kelompok. Hasil mendukung hipotesis mereka. Suatu zaman yang baru dari pemakaian komputer dilahirkan. Didalam test yang terpisah yang lain, dalam eksperimen yang menggunakan suatu desain yang serupa, membaca ketrampilan-ketrampilan adalah juga ditingkatkan. Akhirnya, sepertiga belajar didalam geografi menggunakan database komputer menghasilkan yang serupa. Yang diilhami oleh semua hasil tersebut, suatu test yang keempat memperkenalkan bentuk data base untuk mempelajari Konstitusi Amerika Serikat yang menjadinyata bahwa dibatasi lingkup dari model yang bersifat percobaan tidak akan mencukupi untuk suatu pengerjaan dari besaran ini. Sebagai gantinya, suatu rangkaian yang baru dari aktivitas kelas ilmu sosial akan perlu dikembangkan: kejadian regu, suatu konvensi konstitusional, dan lebih. Seperti proyek maju, kejadian baru menuntut on the-spot lain berubah. Dengan jumlah yang banyak ini dari aktivitas yang berbeda datang kebutuhan akan pemakaian instrumen yang berbeda dari pengukuran: wawancara, laporan diri, daftar pertanyaan; daftar tilik, dan ukuran yang rendah hati; yang tidak menarik perhatian lain.
Peran guru diubah, terlalu, ketika mereka menunggu dekat di sekitar para siswa, mengarahkan mereka, memandu mereka, dan mengusulkan dan menasehatkan jalan baru eksplorasi. Parameter pemeriksaan tidaklah berdasarkan norma dengan jelas bermanfaat. Hal ini sungguh-sungguh menyarankan pemanfaatan paradigma pemeriksaan yang berbeda. Tetapi, sebelum kita secara rinci menjelajah perbedaan ini di sini, beberapa tambahan anekdot yang diperlukan untuk secara penuh menyerap sifat alami proses pemeriksaan.
Karena decade studi, dari kepemimpinan terungkapkan dalam dua daerah riset yang berbeda, yang empiris dan penafsiran Firman Tuhan (Smith &Blase, 1991). Didalam tradisi yang empiris, pemimpin yang berpendidikan dilihat sebagai suatu pembuat keputusan, suatu pengontrol, dan seorang manajer sumber daya. Para pemimpin memenuhi tugas yang serupa bahwa berputar-balik disekitar intervi menuntut. Pandangan dari ini kepemimpinan sebagai keahlian teknis disamakan dengan efektivitas dan melihat untuk menjadi efisiensi dingorientasikan. Didalam skenario ini, para pemimpin mencari untuk secara rasional memilih antara bersaing opsi. Pemimpin belajar mengorganisir organisasi dan belajar proses untuk sampai pada penyamarataan seperti hukum, teori, dan sebagainya. Hukum yang generalizable lalu, membiarkan mereka untuk meramalkan lebih lanjut mengubah program dan kebijakan. Yang lain, bagaimanapun, pendekatan konteks ini ketika mereka mengutip kejadian ganda dimana penyamarataan bukanlah yang mungkin. Apa yang hilang adalah penemuan dari hubungan sebab-akibat yang kronis antara dan antar kejadian dan proses. Didalam paradigma baru ini, tidak ada yang seperti hukum, garis dasar dunia diluar sana. Karenanya, himpunan aneka pilihan masuk akal tidak bisa ada tersedia kepada pemimpin yang bidang pendidikan.
Secara kontras, pandangan penafsiran Firman Tuhan menguraikan, kepemimpinan dalam kaitan dengan menggunakan istilah pemimpin bertindak sebagai berbagai situasi. Didalam penyajian yang sebelumnya, kepemimpinan menekankan kalkulasi makna dan tujuan, selagi suatu pandangan makna mencari interpretive pemahaman hal-hal dari makna manusia. Kepemimpinan lalu adalah keterbukaan akan isu-isu dari makna manusia. Keputusan tentang apa dan bagaimana caranya mengajar bukan masalah pengembangan teknis tetapi didasarkan pada diberi alasan ceramah, pembagian pengalaman pribadi, dan mempertimbangkan pengalaman dari orang lain. Kepemimpinan bukan suatu peristiwa yang dikendalikan, satu pemesanan, atau ketertiban, tetapi yang diikat kepada siapa diri kita dan bagaimana kita memimpin hidup kita. Kepemimpinan didalam tradisi yang dialogikal mencari pemahaman lebih dalam sehingga kita dapat hidup dalam bidang pendidikan lebih dengan sukses. Apa yang harus dikerjakan, dan mengapa kita harus melakukan itu, menerima manfaat lebih dalam pada ceramah ini. Dua pandangan ini, kelihatannya berselisih satu sama lain, mempunyai suatu pengaruh yang dramatis pada pemeriksaan.
Dalam sebuah naratif yang terakhir, suatu audit lebih lanjut dari proses pemeriksaan membentang dijelaskan. Stevenson (1993) menujukan permasalahan mendidik administratif dan mengajar para profesional dan mengembangkan untuk pendekatan pembaca semakin khas kepada pengembangan pengurus. Didalam orientasi yang cerdik (suatu kiasan) para profesional prospektif diperlakukan seperti orang baru dan bekerja seperti pada waktu magang. Pada suatu pendekatan ilmiah yang tradisional, mengembangkan profesional nampak oleh adalah satu agen diluar pengembangan kurikulum itu proses hanya tanggungjawab siapa adalah dengan pengalaman pengujian pengetahuan yang ditugaskan oleh satu staf pengajaran sewajarnya berorientasi riset. Akhirnya, Stevenson menguraikan suatu pendekatan yang memantulkan cahaya dengan mana para profesional yang mulai menanjak karir mengembangkan kemampuan itu untuk membuat diberitahu, yang memantulkan cahaya, dan penilaian kritis diri sendiri tentang praktek mereka.  Lebih lagi sangat para profesional ini siap diunjukkan kepada makna yang sistemik lain dari analisa ketika mereka saling berhubungan dengan kondisi iklan hidup struktural budaya riil disekolah-sekolah. Itu ada di tradisi akhir ini bahwa suatu program persiapan menjadi dengan kritis yang memantulkan cahaya. Persiapan menerima satu orientasi tindakan sebagai cerminan/pemantulan para profesional yang kritis termasuk “artikulasi dan memberi alasan pertimbangan bidang pendidikan (untuk menciptakan pertimbangan lebih dapat dipertahankan untuk tindakan) dan pengujian hubungan antara itu keinginan dan konsekuensi dari tindakannya" (Stevenson. 1993, Hal 107).
Konvensi lebih baru ini menuntut bahwa persiapan profesional memprogram, selagi dengan baik memelihara suatu tradisi riset yang kuat, harus pula mulai untuk mengembangkan tujuan para profesional yang baru untuk melibatkan pengetahuan sebagai bagian dari program intervi mereka. Sebagian orang akan memerlukan jumlah keseluruhan kesanggupan untuk hanya tempat peristiwa ini. Stevenson (1993) mengusulkan bahwa perguruan tinggi dan universitas perlu kepada belajar untuk melakukan keduanya secara kolaboratif.
Anekdot yang sebelumnya menyarankan kumpulan metoda dengan orang yang menunjuk permasalahan pemeriksaan. Seperti Stevenson (1993) yang tersirat, teori dan praktek maupun dari perhatian. Barangkali pada waktu yang sama ketika debat itu terjadi kita mendapat pencerahan yang sangat berharga. Meski isu menujukan anekdot diatas mereka yang kompleks, kompleksitas mempunyai keputusan penelitian bagaimana caranya berproses. Salomon (1991) dan para rekan kerja nya tidaklah terutama sekali tertarik akan pemilihan suatu proses pemeriksaan. Pemilihan Proses nampaknya diakibatkan oleh  tradisi mereka yang meneliti permasalahan yang digambarkan oleh satu rangkaian pertanyaan peneliti yang harus dijawab. Sementara peneliti ini kiranya terbiasa dengan banyak metodologi riset, mereka kebanyakan ahli pada riset yang ilmiah.
 Pada setiap kasus yang dibahas diatas, bagaimanapun, peneliti memindahkan permasalahan pada paradigma dalam pemeriksaan yang ilmiah untuk dipertimbangkan, menganggap aplikabilitas pendekatan riset mereka pada suatu masyarakat. Memperdebatkan filosofis dari pandangan bisa bermanfaat, tetapi debat tingkatan praktis harus berakhir seperti penelitiandan stakeholders perlu untuk menjawab pertanyaan arti penting pada masyarakat.  Anekdot kita menunjukkan penting membangun yang dikembangkan mempunyai keterkaitan pada para profesional dan para siswa . Berdebat ke samping, satu orientasi hasil menggolongkan dari penerimaan dari “logika menggunakan” (Firestone, 1987) dan lokal perlu sendiri. Dan, seperti Goodman (1978) tersirat, dunia dalam serbaragamnya mempunyai banyak cara untuk menguraikannya. Salomon (1991) menantang bahwa  ini mendorong suatu serbaragam metoda dan menambahkan suatu serbaragam tempat dan peristiwa.
Praktek metodologis seringkali berhubungan dengan diri sendiri dengan kebenaran. Dalam kasus yang spesifik,  mencakup perhatian yang ekstrim untuk kebenaran dan perhatian yang lebih kecil. Bahkan kebutuhan pendekatan yang kualitatif untuk melukiskan adanya rasa kebenaran, beberapa kesetiaan pada kebenaran atau sebagai Guba dan Lincoln (1989) memberi label keasliannya. Dalam pemakaian metode latihan, kebenaran adalah  “Yang direncanakan” peristiwa. Kejadian terpisah meminjamkan diri mereka kepada ukuran tradisional dan hasil nampak sangat yang sesuai. Tetapi, didalam kasus yang lain, kita mulai untuk merasakan keperluan yang riil untuk keaslian mengukur sebagai kejadian dan konteks yang sistemik harus menggunakan suatu lebih banyak pendekatan ekologi kepada yang peraya akan kemampuan. Dengan selalu berhubungan, bagaimana cara kita juga meyakinkan trustworthiness atau keadaan dapat diserahkan sebagai penemuan? Sementara patokan adalah suatu perhatian dan pertimbangan, mereka bukanlah sepenting seperti pembuatan hasil kritis dan memantulkan cahaya yang berharga yang dihakimi masyarakat pemakai. Keaslian dan kepercayaan dan ukuran lain tidak diciptakan untuk suatu masyarakat auditor yang ilmiah, tetapi lebih pada ukuran valid untuk riset kualitatif ketika aplikasi riset memperoleh hasil  yang memuaskan untuk stakeholders.
Jika kita mendengarkan banyak pengajar ilmu pengetahuan bidang pendidikan, kita mungkin mendengar mereka menyiratkan bahwa riset perlu digunakan untuk menguraikan, menghargai, menginterpretasikan, atau menjelaskan secara sosial dibangun peristiwa. Dalam kejadian yang lain, positivists memproklamirkan bahwa semestaan yang mendasar.  Cziko (1989) kelihatannya mengambil kedua sisi dari isu yang menyarankan satu cara berpendirian interpretive, yang diikuti oleh suatu keinginan untuk melihat riset menjurus kepada implementasi dan penghamburan praktek bidang pendidikan yang inovatif (Hal  23). Pengajar tidak ada bantahan bagi keduanya bukanlah mungkin bersama-sama, tetapi suatu tinjauan ulang dari proyek riset yang berbeda yang menunjukkan persamaan dari keduanya. Ada usaha untuk sampai di satu tujuan akhir paradigma yang berbeda didalam suatu kerangka yang lebih besar dari sebuah komplemen. Dalam pengertian yang lebih besar, ketika pemeriksaan terjadi dari suatu sudut pandang ekologis yang lebih besar, itu hanya dapat menyediakan kegunaan dan pengaplikasiaannya. Didalam pengertian yang terpisah, kombinasi variabel dapat ditunjukkan untuk memiliki kegunaan yang lebih luas dan karenanya mungkin secara umum.
Meneruskan lebih banyak orientasi proses yang berhubungan  dan memahami lebih lanjut. Sementara kebenaran berhubungan  dengan riset terapan, dan pembedaan alami melawan percobaan dan beberapa pertimbangan penting lainnya dalam aplikasi pemeriksaan. Bertalanffy (1968) berargumentasi bahwa sistem biologi adalah suatu pendekatan  yang sangat berbeda pada penemuan. Warisan rasional mengerjakan aplikasi, Bertalanffy menyatakan, bukan sebelum kita sudah menyelidiki dinamika keseluruhan. Dalam contoh diatas, Salomon (1991) dan para rekan kerjanya menemukan bahwa untuk memperluas model riset mereka dalam satu proyek yang bersifat percobaan yang lebih besar, kecenderungan mereka untuk mencari variabel terpisah dalam material pendukung yang dipelajari.Dalam diskusi Stevenson persyaratan pendidikan profesional, mengembangkan struktur yang hebat atau menyelidiki proses individu yang tidak bisa sendirian mendukung suatu program pemeriksaan dengan kritis yang memantulkan cahaya. Bahwa studi ini bersikap variable yang meragukan (metode statistik sudah sangat ingin mengalahkan hal ini), hanya seperti diskusi kita yang sebelumnya holografi menyarankan, membentuk dan fungsi belajar didalam kehilangan yang interaktif penting yang terpisah dari mereka, mereka inti sari bersama dengan pengoperasian keseluruhan. Pemisahan mekanis untuk kenyamanan dari perhatian metodologis hanyalah efektif ketika kita secara penuh mempertimbangkan, menganggap dan memahami  wujud dan fungsi.
Pemeriksaan yang sistemik disebut inti kasus ekologis. Didalam mempertimbangkan lebih lanjut tersebut, kita melihat konsekuensi Bartlett's (1932, di Iran Nejad et al, 1990) penyederhanaan oleh pengasingan melawan pengintegrasian (lihat juga Bertalanffy 1968). Sebagai contoh, didalam kepemimpinan belajar, pengarang hari ini hanyalah memulai realisasi keperluan untuk mempelajari kepemimpinan dari suatu konteks perspektif dan peran ganda yang sistemik didalamnya (Smith&Blase, 1991: lihat juga Hunt, 1991; Rost, 1991; Senge, 1991). Untuk membantu peneliti mengejar pemeriksaan sistemik Salomon (1991) sarankan suatu proses pemetaan, Senge (1991) mengembangkan contoh sempurna, dan yang lain mengembangkan pemetaan sebangun model.
Sebagaimana Salomon (1991), empat pertimbangan bersifat penting ketika memilih suatu proses pemeriksaan: asumsi satu skema mengadopsi, sifat dari peristiwa yang dipelajari, pertanyaan dianalisa, dan metodologi riset yang dipekerjakan. Pemilihan yang berbeda, dengan mengabaikan dimana memulai proses, hasil memisahkan macam pengetahuan. Secara epistimologis sistem pilih membenarkan “terminology” dari keseluruhan proses. Didalam cahaya ini, sistem pemeriksaan berbeda diharapkan untuk menghasilkan  sesuatu yang berbeda dengan himpunan mereka sendiri yang unik dari persyaratan metodologis. Seperti Lakatos (1978) juga berkata, setiap sistem pemeriksaan yang terpisah berdasar pada yang lain. Secara teoritis pemeriksaan memimpin kearah kemajuan empiris melalui uji coba hipotesis, dan teori berkembang dari suatu pendekatan lebih sistemik.  Shulman (1985) sarankan sejenis sistem meta untuk riset mengajar, dimulai dengan paradigma yang kualitatif dan melangkah maju kepada percobaan yang dikendalikan.
Untuk peneliti dan mereka yang belajar pemeriksaan mungkin saja waktu untuk menyadari bahwa tidak satu paradigma pun dapat memenuhi semua kebutuhan iset kemasyarakatan. Tetapi untuk sampai pada kesimpulan ini dengan mengumpamakan berbagai wujud dari pemeriksaan kemudian adalah tidak lengkap/terpisah dan keliru. Pemeriksaan bukanlah hanya keberuntungan. Struktur kepercayaan jenis ini memimpin ke arah yang sama dan dibatasi pandangan posited sepanjang sejarah dari paham positifisme.
 “Studi yang sistemik dari lingkungan-lingkungan pelajaran kompleks tidak bisa beranak-cucu dan pasti tidak bisa menghasilkan  penemuan dan kesimpulan dalam ketidakhadiran secara hati-hati mengawasi studi analitik dari aspek yang terpilih di mana kebenaran yang internal  dimaksimalkan” (Salomon, 1991, Hal 16).


5.10.    Studi Kasus
5.10.1.      Pemeriksaan; Bagaimana Anda Mengetahuinya?
Dalam kejatuhan 1985, sekretaris pendidikan William Bennett mengunjungi suatu sekolah menengah dekat Washington D.C. untuk mengajar tentang Yakobus Penganut Asas Federal Madison Papers. Sementara tujuan aslinya untuk menunjukkan suatu yang bersentuhan dengan sistem pendidikan Amerika, Bennett dalam kunjungannya sebagai suatu demonstrasi pengajaran betapa bermakna dan berharga orang muda Amerika. Eisner (1991) adalah bidang pendidikan, analis meminta riset kinerja Bennett. Ia menyediakan sesuatu yang unik dan melihat kedalam sekretaris pendidikan melalui suatu analisa yang naratif dari cara bekerja. Analisa Eisner mempunyai studi yang sesuai. Setelah membaca adaptasi, mempertimbangkan; latihan pada akhir studinya.

5.10.2.      Suatu Adaptasi; Eisner's Secretary dalam Kelas
Sekretaris Bennett mempersiapkan untuk mengirim suatu pengajaran tentang Federalist Paper dari siswa sekolah menengah. Seorang profesor filsafat, masuk kelas pada awal tahun pelajaran yang baru untuk mengajar di satu kelas dengan siswa yang beragam. Bagaimana nantinya ia? Dapat manusia ini mengajar anak remaja? Bagaimana nantinya para guru didalam sekolah tersebut bereaksi?
Dari awal, pengertian dari tujuan dan intensitas Bennett. Menyesuaikan peralatan elektronik yang disediakan untuk seluruh negara yang menyiarkan dengan televisi dan merekam peristiwa, Bennett membuka,mengetahui dengan menyindir, “Ini hari yang tidak biasanya,”  lalu mengatakan pada kelas, “Jika anda ingin berpaling dan berkata hallo.” “Permisi Bu" ia berkata, dan kelas dari para siswa sungguh demikian juga. Sebagai satu kapal pemecah es, ini bekerja dan membantu kearah melepaskan/membebaskan ketegangan yang sudah berkembang.
“…Baiklah, marilah kita mulai belajar. Saya akan menaruh nama saya dimeja supaya anda dapat menulis sesuatu jika saya membuat kekeliruan.”
Bennett maupun para siswa. Dengan pendahuluan atas, Bennett menggantungkan mantelnya dikursi disebelah meja tulis, dan lengan baju atasnya, ketika ia mulai lompatan mondar-mandir didepan dari ruang ke kamar. “Mengapa baca Federalist Why mengganggu? Mengapa bukan tangkapan -Georgia-Alabama game ?” Ia meninggalkan tidak diragukan bahwa  ini suatu pertemuan yang serius. “Marilah kita memulai pekerjaan.” Dewasa ini pelajaran ketika berada diatas dengan enteng tanpa diskusi dangkal yang terbuka apapun dipikiran siapapun, hanya suatu pengujian serius tentang gagasan yang  sangat dipedulikan .
Tugas sekretaris menetapkan para siswa itu untuk baca dan memahami Federalist Papers, secara rinci. kertas nomor 10. Tujuan dari pelajaran itu adalah dua kali lipat. 1-Ic berbagai keinginan untuk menyampaikan kepada para siswa gagasan dan asumsi tentang pemerintah “kemarahan yang dibangun diatas konsepsi sifat manusia, khususnya. pandangan dari Madison, sifat manusia dan kepercayaan pemerintah yang bagaimana yang harus dibentuk. Yang kedua, Bennett tertarik untuk mengembangkan  kemampuan pemikiran siswa yang kritis dan analitik itu. Ia sudah merencanakan taktik pengajaran yang pada umumnya sebagai strategi pengajaran yang mempekerjakan dumat manusia. Ia  tertarik akan gagasan pembagiannya sekitar sifat dari pemerintah yang adil dan kegembiraan tentang membantu yang muda dan menemukan apa yang ia pelajari. Bennett tidak asing pada material pengajaran karena ia mengajar Federalist Papers sebelumnya.Ia mengatakan pada siswa kelas, adalah “Dengan baik halaman sudutnya berlipat.” “Apa yang dimaksud dengan fraksi?” ia tanya, “dan mengapa itu menjadi suatu masalah  di masyarakat kita? Mengapa kebebasan menyebabkan permasalahan fraksi?” Kebebasan, fraksi, dan kepentingan diri adalah permasalahan dalam waktu Madison namun ada sekarang.
“- Kebebasan menyediakan peluang itu untuk menjaga pendapat yang berbeda,” satu siswa menanggapi. “Jika anda mendapat kebebasan dan memberinya kepada orang, orang akan memiliki pandangan yang berbeda tentang kebebasan. Akan ada fraksi.”
“- Bagaimana cara kita memecahkan permasalahan fraksi?” Bennett bertanya. “Mencabut kebebasan” ia menanggapi dengan lalu, cepat mengikuti dengan suatu pertanyaan. “Kemenangan tidak mencabut kebebasan?”
Hal ini permasalahan fraksi mempunyai sedikitnya dua solusi. Pertama untuk mencabut kebebasan. Tetapi melakukan itu dan negeri kita seperti kita ketahui itu menghilang dengan cepat. Kesembuhan itu, untuk mengutip Madison, lebih buruk dibanding penyakit. Yang kedua, memberi semua orang pendapat yang sama. Tapi itu tidak mungkin juga. Lalu bagaimana mengerjakan satu nafkah suatu diri sendiri menarik mayoritas dari pemanfaatan minat dari suatu minoritas selagi memelihara kebebasan bahwa semua ingin mempunyai?
Pola dari jawaban tepat isu ini dapat diprediksi. Bennett bertanya satu pertanyaan terbuka, bahwa memerlukan kemampuan mengingat material baca dan satu pemahaman interpretive tentangnya. Para siswa menanggapi dengan meminta pengembangan dan klarifikasi. Setelah suatu periode seloroh, Bennett memperluas atas pengembangan para siswa disuatu konteks bahwa tidak satu pun dari para siswa itu mampu memahami.
Tanggapan Bennett biasanya sekitar sepuluh-kali lebih panjang dibanding tanggapan siswanya. Bennett menggunakan dua gerakan yang bersifat pendidikan yang sering diakui tetapi jarang digunakan. Ia meringkas poin utama kelas  yang sudah dibahas pada berbagai interval dan ia mengajar untuk penjelasan. Intensitasnya galak, ia melangkah, kadang-kadang mengepalkan tinjunya, malamnya bergerak cepat dari sisi ke sisi. Ia pada kamera, hanya satu pikiran sehat bahwa ini lebih dari sekedar suatu pertunjukan untuk kamera. Bennett kelihatannya untuk sungguh mempedulikan apa yang sedang ia ajarkan. Gagasannya  mengatakan menjadi bagian dari dia, kesungguhannya mengambil keseluruhan urusan diluar peristiwa media, tujuannya untuk membantu para siswa memahami betapa penting hal ini.
“-Aku mendapat halangan ketika aku mendengar orang memperbicangkan tentang minat khusus menggolongkan seolah-olah mereka adalah suatu hal yang baru. Madison harus berhubungan dengan mereka di dalam waktunya sendiri. Ambil surat kabar mu dan anda membaca surat kabar setiap hari iya kan? ia cocok kelas, menyiratkan bahwa mereka harus membacanya. Ambil setiap surat kabar dan anda akan menemukan kasus pembelaan, permohonan kelompok-kelompok minat khusus mereka.” Ia menunjukkan titiknya dengan suatu surat kabar, ia membawa kepada kelas untuk bahwa bermaksud. Ia menggambarkan titiknya sekitar diri sendiri menarik sifat dari manusia dengan menguraikan suatu situasi dimana suatu kerumunan dari 150 orang sedang berusaha untuk membeli 25 karcis pada suatu konser Bruce Springsteen. Ia menggambarkan kompleks dan memisahkan dari Federalist Papers dengan satu contoh dari hari ini bahwa yang muda ini dapat memahami.
Tidak hanya Bennett mencoba untuk menghubungkan masa lampau itu kepada hadiah, tetapi adalah juga menghubungkan permasalahan kepentingan diri dan kekerasan kepada perguruan tinggi hari-harinya sendiri. Ia membawa kredibilitas kepada dirinya iklan pada waktu yang sama menunjukkan manusianya sendiri. Bennett juga menggunakan menggenapkan melengkapkan tentang kelas untuk keuntungan miliknya, seperti contoh lagu bagus kepada para siswa yang tertentu. Adalah Union simpan ia tanya. Ia memperbicangkan tentang keinginan Lincoln untuk selamatkan Union dan tegangan antara barang, kebebasan dari para budak dan pemeliharaan dari Union. Sedikitnya hidup waktu selama pelajarannya koneksi seperti itu dibuat. “Madison adalah bertujuan untuk pengamatan yang laten penyebab fraksi ditaburkan berujud manusia.” Sifat manusia, oleh karena itu, menyimpan banyak konflik dan kekerasan/kekejaman potensial. Pemerintah adalah bermakna dengan mana diri sendiri minat dapat didamaikan kepada publik baik. Bennett menunjuk pemerintah dan kebaikan dari pandangan dari kita orang-orang dan pemerintah. Bennett mempunyai suatu misi dan suatu pesan dan bagian mereka keduanya siap dengan para siswa. Ia menikmati perkelahian itu, tanami pertanyaan, pemeriksaan, dan menantang para siswa secara terus-menerus. Pertanyaan ditanya dengan sungguh dan masing-masing membuat suatu titik, yang dirancang untuk memimpin para siswa melalui gagasan utama dan untuk suatu pemahaman yang lebih dalam material.
















































Pertanyaan-pertanyaan
1.          Apa paradigma pemeriksaan mu?
2.          Yang didasarkan pada paradigma mu, bagaimana akan anda meneliti lingkungan pengajaran menggambarkan diatas?
3.          Apakah yang merupakan ajaran-ajaran yang utama dari paradigma pemeriksaan mu bahwa akan menolong kita untuk mengajar lebih secara efektif?
4.          Sebagai hasil riset, anda akan memenuhi dibawah paradigma pemeriksaan mu, apakah sebagian orang penyamarataan lebih lanjut kita bisa membuat?
5.          Bisakah anda membuat setiap penyamarataan-penyamarataan setelah mengamati rekaman asli dari peristiwa ini? Apa hipotesis mu?