BAB 2
KEPEMIMPINAN
Pada tahun 1980an, perubahan kepemimpinan, dianggap menjadi suatu permohonan
agar terbebas dari berbagai masalah nasional. Menurut Rost (1991). Di Amerika
Serikat penanganan kepemimpinan yang salah dianggap menjadi penyebab kemunduran
negara tersebut di bidang ekonomi secara global dan pada waktu yang bersamaan
menjadi sarana angkut yang diperlukan untuk memulihkan kekuasaan dan prestise
mereka yang hilang. Bennis dan Nanus (1985) menyatakan hal tersebut merupakan
"Krisis pemerintahan yang kronis sehingga tidak mampu mengatasi ekspektasi
mereka pada setiap unsur pokok yang menjadi tujuan dari setiap organisasi di
seluruh dunia" (hal .2). Burns (1978) menyebutkan bahwa "Krisis
kepemimpinan ini adalah sifat dari tidak adanya rasa tanggung jawab dalam
setiap kekuasaan baik dari para laki-laki maupun perempuan" (hal 1).
Bennis dan Nanus mengklaim “Kepemimpinan perlu mengembangkan visi-visi bahwa
setiap gerakan organisasi bertujuan untuk mengubah dari sesuatu yang tidak
berarti menjadi sesuatu yang berarti”. Pemahamam dari pengertian kepemimpinan
secara menyeluruh bisa membantu Amerika Serikat dalam hubungannya antara hilangnya kualitas moral di dunia dan
mengajarkan makna kualitas moral
tersebut secara signifikan.
Usaha-usaha ilmiah dalam meneliti makna
kepemimpinan telah menimbulkan banyak definisi, teori-teori, model-model, dan
aplikasi-aplikasi yang berbeda sehingga tidak ada kata sepakat dari
definisi-definisi kepemimpinan tersebut atau kepemimpinan yang efektif dalam
setiap organisasi. Kelihatannya, kebanyakan para sarjana akan lebih menyetujui
pendapat Burns, yang menyimpulkan bahwa "Kepemimpinan adalah sesuatu yang paling banyak
dikaji tetapi fenomena sangat minim difahami dimuka bumi" (hal 2). Rost (1991) memberikan pendapat yang
bertentangan dia mengatakan bahwa suatu kerangka yang konseptual bagi kepemimpinan tidak
bisa dibangun sampai sebuah definisi kepemimpinan dikatakan
jelas bersih, ringkas, mudah dimengerti, bisa diteliti, praktis, dan persuasif" dirumuskan; Betapapun
banyaknya definisi-definisi dan teori-teori kepemimpinan hal tersebut sudah
melayani kebutuhan-kebutuhan sementara dari para peneliti-peneliti,
organisasi-organisasi, dan masyarakat-masyarakat.
Definisi-definisi kepemimpinan semacam itu bertahan
untuk sekitar dua puluh tahun. Ketika riset membongkar defisiensi dalam teori-teori tersebut, perspektif-perspektif
baru untuk mempelajari kepemimpinan teridentifikasikan. Kompleksitas organisasi-organisasi yang modern, yang secara sangat mikrokosmik barangkali digambarkan dsalam perubahan bentuk wujud ekonomi-sosial keluarga, menyatakan bahwa
paradigma-paradigma kepemimpinan mungkin berubah dengan
cepat ketika kita memulai abad ke 21. Kondisi ini menimbulkan beberapa
pertanyaan-pertanyaan untuk para siswa; Siapa yang akan mengasumsikan
kepemimpinan di masa datang. Bagaimana nantinya paradigma-paradigma
kepemimpinan tersebut memerlukan perubahan seperti ketika para
pemimpin dan para pengikut diamati dalam peran-peran dan konteks-konteks yang
baru? Satu pengujian kepemimpinan mencerminkan satu kepemimpinan bukanlah pasti
tetapi sulit dimengerti dan terus menerus berubah. Hal tersebut mencerminkan
satu perubahan yang terus menerus pada masyarakat dunia. Bagaimana cara dan
konteks-konteks organisatoris masa kini sehingga berdampak pada teori-teori
yang ada dari kepemimpinan atau menjurus kepada kerangka-kerangka konseptual
baru mengenai kepemimpinan ?
2.1.
KEPEMIMPINAN ATAU MANAJEMEN
Buku ini menguji para pemimpin dan para
manajer dan permasalahan utama yang mereka hadapi, dan yang paling khusus, kepemimpinan atau
manajemen di dalam pendidikan. Lembaga/institusi bidang pendidikan saat ini berada dalam krisis.
Tetapi apakah Pelanggaar hukum itu pemimpin individual ataukah manager? Terlalu
sering para kepala sekolah, pengawas-pengawas,
dan para guru dipandang sebagai kambing hitam untuk permasalahan kelembagaan
yang lebih besar. Seringkali penampilan individu-individu ini diberi label
kurang. Bagaimanapun juga para pendidik, hanya dapat melaksanakan di dalam
sistim itu, di dalam proses-proses, aktivitas, dan keanggotaannya.
Bagaimana
cara kepemimpinan atau manajemen tersebut terjadi di dalam lingkungan bidang
pendidikan ini? Apakah kita mempunyai sebuah pegangan kokoh tentang pengertian kepemimpinan dan
manajemen? Apakah kepemimpinan dan manajemen itu sama? Dapatkah
pengertian-pengertian yang kita miliki meningkatkan pemahaman kita tentang
kepemimpinan, tetap bisa diadaptasikan dalam sebuah paradigma post industrial, di suatu masyarakat di mana
para pemimpin dan para manajer membantu mendesain kembali lembaga-lembaga vital
kita termasuk pendidikan?
Ketika abad ke duapuluh tutup kita menemukan bahwa kepemimpinan
dan manajemen itu telah dipelajari secara
ekstensif. Sementara studi tentang ciri-ciri leader/manager dan perilaku-perilaku
sudah memberikan pemahaman lebih besar bagi para praktisi-praktisi dan
teori-teori atau model-model dari kepemimpinan dan manajemen yang menerangkan
bahwa, tidak ada konsensus yang ilmiah pada apa yang menjadi ciri kepemimpinan
dari manajemen atau apa yang menggambarkan masing-masing. Bahwa kepemimpinan
dan manajemen bersifat beda. Tetapi alasan untuk perbedaan itu belum secara
penuh diteliti, maupun sudah ada penafsiran-penafsiran yang masuk akal untuk
menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Lalu apa kepemimpinan ? Manajemen ? Apakah
para pemimpin dan para manajer benar-benar berbeda ? Lakukan definisi-definisi
bersamaan waktu ? Apakah itu bermasalah?
Buku
dan bab ini berniat menggerakkan pemikiran siswa di bidang administrasi
pendidikan dan memprogram tujuan
atau yang lebih spesifiknya untuk meluaskan ruang lingkup pemikiran dari
pandangan kita dan menciptakan pemahaman lebih besar. sadar akan isu-isu,
permasalahan dan mereka-reka perbaikan-perbaikan dalam memahami kepemimpinan yang efektif sudah tidak lagi cukup. Ketika
kita menyertakan perkembangan teknologi dan kompleksitas yang bersifat
exponensial, kebutuhan muncul untuk pemahaman sistemik dan sistematis di dalam
bidang-bidang yang sama. Analisa, sintese, fleksibilitas dan kemampuan
beradaptasi harus melintasi bermacam tempat dan peristiwa sebelum berkembang
menjadi tindakan. Keyakinan-keyakinan kita tentang kepemimpinan harus
ditingkatkan sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat, seperti
halnya tindakan memberdayakan semua guru dan pengurus-pengurus
lingkungan-lingkungan yang baru.
Bab
ini menelaah teori-teori dan atau pendekatan kajian utama terhadap kepemimpinan. sebagaimana berikut;
a)
Kajian-kajian karakteristik/sifat yang berupaya mengidentifikasi
ciri kepribadian dan kecerdasan/inteligen para pemimpin dan mengidentifikasi hubungan-hubungan diantara dua ketrampilan-ketrampilan spesifik tersebut.
b)
Studi tingkah laku
tentang eksplorasi pola aktivitas, dan
kemampuan mengidentifikasi pola tingkah laku
c)
Hubungan antara
pengaruh dan kekuasaan adalah menyelidiki bagaimana para pemimpin menggunakan
kekuasaannya untuk mempengaruhi yang lain
d)
Situasi-situasi yang
bagaimana yang mempengaruhi hubungan perilaku pemimpin dalam efektivitas
kepemimpinan
e)
Mengembangkan hubungan
timbal balik antara para pemimpin dan para pengikut, dan
f)
Hubungan-hubungan
budaya, perilaku pemimpin dalam membangun satu kultur organisasi.
Sementara
banyak studi yang hanya fokus kepada salah satu dari pendekatan di atas tanpa
pengujian, sehingga terdapat kemungkinan pengintegrasian penemuan pendekatan
yang ganda (Yukl, 1989), harapan kita yaitu untuk memperkenalkan pembaca bahwa
terdapat banyak dimensi kepemimpinan,
dan lebih lanjut lagi untuk menjelajah setiap dimensi tersebut dengan cara yang
lebih sistemik dan sistematis.
2.2.
TEORI-TEORI CIRI KEPEMIMPINAN
Studi-studi awal tentang kepemimpinan didasarkan pada asumsi bahwa setiap individu memiliki karakteristik-karakteristik fisik tertentu, ciri
kepribadian, dan kemampuan intelektualitas yang membentuk
mereka menjadi pemimpin alami (Yukl, 1989).
Penelitian dgn menggunakan studi korelasi dalam statistik akan membandingkan
para pemimpin yang sukses dengan para pemimpin yang gagal dan untuk melihat
juga bahwa kekayaan yang ditetapkan boleh jadi suatu prasyarat untuk kepemimpinan
yang efektif. Sebaliknya, ahli teori organisasi Stogdill (Bass 1981)
mengungkapkan bahwa kepemimpinan tidak
bisa dijelaskan hanya dari segi individu atau kelompok tetapi harus
mempertimbangkan interaksi ciri-ciri pemimpin dengan variabel-variabel situational
(p.38). Kepercayaan bahwa orang-orang yang menguasai ciri-ciri kepemimpinan
efektif dapat terabaikan apabila dia sudah dalam situasi tidak lagi mendapat
dukungan (Gardner, 1990). Tambahan Smith dan Peterson meninjau ulang penelitian
dengan mengkritik terlalu sedikit pemahaman tentang keseragaman dan ciri dalam
desain kepemimpinan. Bennis dan Nanus (1985) teori Great Man dari kepemimpinan
menujukan bahwa kekuasaan lebih menunjukan kepada karakter dan membatasi
banyaknya potensi setiap pemimpin dalam regenerasi kepemimpinan. Penelitian ini
juga memberikan ide bahwa kejadian hebat dapat mentransformasi individu menjadi
pemimpin yang hebat.
2.3.
TEORI TINGKAH LAKU
Ahli teori
tingkah laku berusaha menentukan para pemimpin yang efektif dengan mengidentifikasi
kedua-duanya,baik perilaku dari para pemimpin dan akibat perilaku pemimpin pada
produktivitas bawahan; subordinat dan kepuasan pekerjaan. Studi-studi tentang
perilaku pemimpin di Universitas Iowa (White&Lippitt, 1990) menguji
pengaruh sikap bawahan; subordinat dan produktivitas sebagai gaya kepemimpinan
yang bervariasi. Para pemimpin terlatih untuk menunjukkan tiga gaya
kepemimpinan yaitu demokratis, otoriter, dan laissez faire. Setiap individual
pemimpin mempertunjukkan perilaku konsisten dengan masing-masing gaya
kepemimpinannya. Para pemimpin otoriter menentukan semua kebijakan dan
pekerjaan dengan mendikte prosedur-prosedur tugas-tugas dan tugas di dalam,
segmen-segmen yang dipisah, dan memberi pujian atau kritik dalam suatu konteks
yang pribadi. Para pemimpin demokratis menggunakan keputusan kelompok dalam
penentuan kebijakan dan diskusi dengan syarat, tugas-tugas pekerjaan dan
prosedur-prosedur alternatif untuk pencapaian sasaran, para bawahan; subordinat
yang diizinkan untuk memilih para mitra pekerjaan, dan memberi sasaran dan
memandu usul-usul ketika menawarkan pujian dan. kritik.
White dan
Lippitt (1990) menentukan bahwa gaya kepemimpinan demokratis lebih disukai oleh
para pekerja dalam arti lebih group-mindedness, keakraban, dan terdapat efisiensi
situasi-situasi demokratis. Para pekerja juga lebih menyukai gaya laissez faire
daripada gaya otoriter. Pada kasus-kasus lain, para bawahan menunjukan perilaku
dengan bersikap masa bodoh atau agresif sebagai jawaban atas para pemimpin
otoriter.
Suatu
kelompok studi kepemimpinan yang dilaksanakan di Ohio State University
mengidentifikasi dua dimensi kepemimpinan: yaitu pertimbangan dan kemampuan
untuk memulai struktur (Stogdill &Kaya, 1957). Pertimbangan digambarkan
sebagai ungkapan pemimpin itu kepercayaan, rasa hormat, kehangatan/keramahan,
dukungan, dan perhatian untuk kesejahteraan bawahan. Peneliti-peneliti
menggambarkan kapasitas itu untuk mengembangkan struktur pemicu ketika
perhatian terpusat kepada sasaran organisasi, pemimpin organisasi dan
tugas-tugas, penggambaran hubungan-hubungan bawahan yang superior, dan evaluasi
kinerja (Lunenburg &Ornstein, 1991). Korelasi-korelasi dibentuk antara dua
materi yaitu struktur-struktur pemicu dan pertimbangan, dan bawahan yang
bekerja dengan kepuasan dan performance/produktivitas seperti yang ditunjukan
oleh perilaku pemimpin itu. Bagaimanapun, hubungan sebab akibat antara perilaku
pemimpin dan kinerja bawahan tidak bisa diperkuat (Yukl, 1989). Studi-studi
Ohio State menunjukkan bahwa kepuasan bawahan dan produktivitas bisa diperbaiki
oleh para pemimpin yang menunjukkan perilaku isiatif dan pertimbangan yang
tinggi (Lunenburg &Ornstein, 1991).
Studi
kepemimpinan yang yang dilaksanakan di Universitas Michigan mencoba
mengidentifikasi hubungan antara perilaku pemimpin, proses-proses kelompok, dan
kinerja kelompok. Studi-studi ini menunjukkan tiga gaya kepemimpinan: (a)
perilaku yang berorientasi tugas serupa yang dimulai dengan struktur
kepemimpinan. (b) perilaku yang berorientasi pada hubungannya dengan pertimbangan.
(c) kepemimpinan partisipatif (Likert, 1961). Riset sebelumnya menunjukkan
bahwa kelompok kerja produktif mempunyai pemimpin yang berorientasi pada
hubungan kerja dibanding dengan pemimpin yang berorientasi tugas. Bagaimanapun
juga ketidakkonsistenan di dalam temuan penelitian, para penelit kemudian
menyimpulkan bahwa para pemimpin efektif itu adalah yang berorientasi pada
tugas dan berorientasi pada hubungan. Penemuan ini dikemukakan oleh Bowers dan
Seashore (1966) yang menentang bahwa efektivitas kelompok ditentukan oleh mutu
kepemimpinan kelompok dibanding pembedaan tugas.
Likert
(1961) empat gaya kepemimpinan adalah ekploitasi otoritas,otoritas yang
bijaksana, konsultatif, dan partisipatif
(demokratis). Likert menunjukan bahwa di dalam situasi-situasi di mana para
pemimpin menggunakan kepemimpinan partisipatif atau konsultatif, ada bukti dari
kepercayaan, penentuan sasaran kolaboratif, komunikasi dari bawah ke atas, dan
perilaku pemimpin yang mendukung. Di dalam situasi organisasi di mana kepemimpinan
exploitative yang bijaksana dalam menggunakan otoritasnya, organisasi tersebut
ditandai oleh ancaman-ancaman, ketakutan, hukuman, komunikasi, dan memusatkan
pengambilan keputusan dan kendali. Karakteristik-karakteristik ini digunakan
untuk menimbulkan penyesuaian bawahan kepada patokan-patokan sasaran dan
produktivitas organisasi. Likert juga mengusulkan bahwa para pemimpin yang menggunakan
prosedur-prosedur keputusan partisipatif lebih efektif. Rangkaian Likert sering
disebut oleh analis kepemimpinan karena menyediakan pemahaman sistematis
konsep-konsep sering kali diberlakukan untuk silang studi-studi organisasi
Dalam
berbagai riset teori kepemimpinan dilakukan percobaan untuk mengidentifikasi
satu gaya kepemimpinan yang optimal di dalam semua keadaan yang universal
(Blake & Mouton 1981; Likert 1967; Likert 1961) menyimpulkan para pemimpin
yang efektif bersifat mendukung dan berorientasi tugas. Di dalam kasus-kasus ini, orientasi
nilai, dibanding pola perilaku dari pemimpin, menjadi konsep teoritis yang
mencolok.
Sebagai
contoh, Mazzarella (Mazzarella & Grundy, 1989) mencoba untuk
mengintegrasikan riset ciri kepemimpinan dengan riset perilaku. Mazzarella
mengemukakan bahwa ciri-ciri pemimpin dan kualitas mempengaruhi perilaku
pemimpin. Ciri-ciri ini, pada gilirannya, memungkinkan para pemimpin untuk
saling berhubungan secara efektif dengan para bawahan mereka, panutan-panutan,
dan atasan-atasan atau keduanya, misalnya kemampuan untuk berkomunikasi dengan
yang lain dan situasi-situasi yang berorientasi tugas seperti kemampuan
intelektual untuk menggambarkan tugas-tugas struktur. Perilaku pemimpin itu
bisa dipengaruhi oleh suatu kelompok, hubungan yang berkualitas dengan
kepemimpinan yang efektif, sikap-sikap (keikutsertaan sosial, keahlian berkomunikasi,
dan keterampilan mendengarkan), karakteristik kualitas kepemimpinan (penentuan
sasaran, klarifikasi tujuan, visi,
keamanan, proaktif). Meski ciri-ciri dan kualitas ini dapat
dikelompokkan dan dikenali, penelitian mengungkapkan para pemimpin efektif itu
biasanya tidak memperlihatkan semua ciri
ini (Immegart, 1988, 1991).
Riset
yang ada menekankan suatu pendekatan tingkah laku dan mengidentifikasi perilaku
dan keterampilan yang bisa diajarkan kepada para pemimpin potensial. Usaha
riset berikut sudah mencoba mengidentifikasi unsur-unsur kepemimpinan, yang
didasarkan pada perilaku-perilaku sosial dalam menentukan efektivitas
kepemimpinan. Bagaimanapun juga riset perilaku, tidak mempertimbangkan dengan
seksama faktor-faktor situational (yaitu., pembedaan tugas, komposisi kelompok,
variabel-variabel lingkungan) yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan
(Lunenburg & Ornstein, 1991). Variabel tingkah laku tidak bisa diperlakukan
tetapi harus diuji dalam hubungannya
dengan faktor lain (Smith & Peterson, 1989).
2.4.
PENGARUH KEKUATAN
Usaha studi
lain untuk memahami perilaku pemimpin dari pengaruh perspektif kekuasaan.
Melukiskan kekuasaan sebagai "Suatu kekuatan yang menentukan hasil tingkah
laku dalam satu arah yang diharapkan dalam situasi yang disertai interaksi
manusia" Abbott dan Caracheo ( 1988, P.241). Kekuasaan berdasar pada
otoritas yang berasal dari posisi pemimpin yang dibentuk dalam suatu hirarki
sosial institusi dan didelegasikan oleh institusi. Gengsi kekuasaan didasarkan
pada apa yang dimiliki pemimpin itu yang diperoleh secara wajar (jujur) atau
karakteristik pribadi yang dihargai oleh orang lain. Kekuasaan ini harus
didapat oleh pemimpin melalui demonstrasi karakteristik. Mereka berargumentasi
bahwa penghargaan bukan basis dari kekuasaan, seperti yang diakui oleh Prancis
dan Raven (1968), tetapi kekuasaan yang dilatih dalam satu lingkungan
kelembagaan berdasarkan pada otoritas atau gengsi ataupun keduanya. Albott dan
Caracheo (1988) menyatakan bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang berasal
dari hak kekuasaan, para pengikut sampai kepada mereka yang memerintah,
berdasar pada otoritas dalam lingkungan kelembagaan.
Yukl (1989)
menggambarkan kekuasaan sebagai suatu kapasitas agen untuk mempengaruhi satu
atau lebih individu. Pengaruh di sini berarti untuk memiliki satu pengaruh pada
sikap target, persepsi, atau perilaku. Pengaruh kekuasaan yang digunakan
mengarah ke bawah, menyamping, atau naik dan berasal dari tiga sumber,
yaitu posisi, pribadi, dan politis (Yukl, 1989).
Posisi atau
legitimasi kekuasaan berasal dari hierarki struktur organisasi. Para pengikut
model ini termotivasi untuk mematuhi dan merasa hak kekuasaan dari pemimpin
(proses pemilihan). Para pengikut mengenali lingkup dari pemimpinnya, otoritas
dan kendali sumber daya, reward, punishment, informasi, lingkungan fisik,
dan subsistem organisasi.
Kekuasaan
personal digolongkan sebagai ahli, referensi, atau kekuasaan yang bersifat
karismatik. Penguasa yang ahli tergantung pada bagaimana para pengikut
mengenali keahlian dari seorang pemimpin yang menguasai
keterampilan-keterampilan yang jarang atau tidak bisa dengan mudah ditiru dan
siapa yang menggunakan logika dan bukti untuk membuktikan (bahwa) kemampuan
uniknya. Kekuasaan karismatik bergantung pada kemampuan pemimpin itu untuk
mengidentifikasi kebutuhan dan nilai dari para pengikut itu dan untuk
memotivasi komitmen kepada para pengikut. Tidak seperti kekuasaan karismatik
yang kuat dan dengan cepat terbentuk, kekuasaan referensi dikembangkan
pelan-pelan melalui tindakan-tindakan simbolis yang menunjukkan pertimbangan
pemimpin itu melalui pemenuhan tugas dan pembentukan sikap-sikap yang serupa
terhadap organisasi.
Suatu dasar
kekuasaan pemimpin bisa ditingkatkan melalui kuasa politis tentang
proses-proses pengambilan keputusan pengendalian, bersatu memperoleh hasil yang
diinginkan, dan meningkatkan komitmen dari orang lain dalam keputusan
melalui keikutsertaan dalam proses
pengambilan keputusan.
Satu
alternatif pandangan tentang kekuasaan dalam menggambarkan hubungannya menggunakan
suatu kuasa, spektrum kuasa sosial dalam memenuhi suatu tugas. Dari perspektif
ini, Blake dan Mouton (1961) mengenali tiga area kompetisi, kolaborasi, dan
ketidakberdayaan. Kompetisi menguraikan suatu situasi di mana masing-masing
peserta mencoba untuk mencapai atau mempertahankan kemampuan pengambilan
keputusan lengkap. Ketidakberdayaan menguraikan suatu situasi di mana
peserta-peserta tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi yang lain atau untuk
memperoleh keputusan yang memerlukan tindakan. Kolaborasi menguraikan suatu
situasi yang membiarkan para pengikut dari berbagai macam derajat tingkat
kekuasaan. Blake dan Mouton menyimpulkan bahwa suatu hubungan kekuasaan menjadi
seimbang,apabila ada kepuasan pekerjaan dan perasaan tanggung jawab yang menjadi
optimal. Dengan demikian, timbal balik pembagian tanggung-jawab pengambilan
keputusan boleh menjurus kepada yang paling tinggi keseimbangan kepuasan dan
tanggung jawabnya antara atasan dan
bawahan.
Dalam teori
kontingensi/ketidakberaturan strategis kekuasaan. Hickson, Hnnings, Lee,
Schneck, dan Pennings (1971) mengusulkan bahwa penggunaan kemampuan memecahkan
masalah dalam situasi kritis adalah keahlian yang unik yang diperlukan dalam
mimimpin dan meningkatkan kekuasaan setiap sub unit dan otoritas dalam cakupan pembuat keputusan.
Dalam model
kekuasaan kontingensi strategis lainnya Salancik dan Peffer (1977)
mengklarifikasi dan mengusulkan bahwa kuasa politis bukan sub unit kritis yang
digunakan untuk melindungi dan memelihara posisi setiap subunit meskipun
keahlian mereka sudah tidak lagi diperlukan. Kuasa dibagi bersama dalam
setiap organisasi bukan karena suatu
kepercayaan dalam pengembangan organisasi atau partisipasi demokrasi tetapi
karena tidak seorang pun orang dapat mengendalikan semua aktivitas kritis
(p.7). Tiga variabel yang mempengaruhi kuasa politis adalah kelangkaan,
kegentingan, dan ketidak-pastian. Ketika sumber daya langka atau kritis kepada
survival subunit itu dan ketika ada perselisihan paham pada sasaran atau
metoda-metoda yang organisatoris meraih sasaran hasil, subunit yang bersifat
kritis kepada organisasi menyatakan kuasa untuk mempengaruhi alokasi sumber
daya dan meningkatkan kelangsungan hidup mereka. Ketika ketidaktentuan kritis
berubah, kuasa berpegang kepada individu dan subunit berbasis kuasa.
Bagaimanapun juga, individu dan subunit-subunit ini akan menggunakan kuasa
mereka untuk mempengaruhi keputusan-keputusan organisatoris yang memastikan
kelangsungan hidup mereka. Jadi dengan demikian, kuasa menjadi yang dilembagakan
dan yang dilindungi, kemampuan pemilik untuk menetapkan struktur-struktur dan
kebijakan-kebijakan permanen bahwa memastikan posisi kuasa dan pengaruh
pemilik.
Shetty (1978)
mengemukakan bahwa tiga variabel situational dapat mempengaruhi jenis dari para
pemimpin pemegang kekuasaan. Mereka memilih untuk menggunakan variabel-variabel
yang mempengaruhi pendekatan karakteristik-karakteristik dari manajer
(otoriter, merasa yakin, dan pelatihan); karakteristik-karakteristik bawahan
(profesionalisme, kebutuhan, latar belakang budaya, dan pelatihan); dan
karakteristik-karakteristik yang organisatoris (definisi tugas, jarak
penglihatan kinerja tugas, struktur organisasi, dan kondisi-kondisi
lingkungan). Variabel-variabel ini menentukan karakteristik-karakteristik dari
kekuasaan yang sesuai di dalam situasi-situasi yang spesifik. Meski kebanyakan
para manajer berbalik ke otoritas ketika permasalahan terjadi.
Menurut Bennis
(1986), kepemimpinan melibatkan memanage hubungan-hubungan yang internal dan
eksternal. Ketika organisasi-organisasi menemukan diri mereka dalam satu
lingkungan di mana stakeholders, publik dan organisatoris, menginginkan suatu
suara di dalam pengambilan keputusan mengenai permasalahan yang dampak di
lingkungan yang berbeda, kadang-kadang berlawanan, kelompok-kelompok
masyarakat, pengambilan keputusan menjadi lebih rumit dan. tidak jelas.
Kekuasaan dihamburkan atas dasar menciptakan suatu hubungan kekuasaan yang
baru. Bennis menetapkan bahwa perubahan kuasa memerlukan kepemimpinan itu
mengetahui apa yang mereka inginkan, dan dikomunikasikan dengan niat-niat yang
sukses, memberdayakan yang lain, dan mengetahui ketika bagaimana caranya terus
tinggal dan ketika harus berubah (p.66).
Kekuasaan
transformatif tidak didasarkan oleh struktur organisasi atau manajemen, dan
fungsi-fungsi. Sumber dari kuasa adalah kemampuan para pemimpin untuk menaikkan
kesadaran, membangun maksud dan mengilhami tujuan manusia. Visi, tujuan-tujuan,
dan kepercayaan-kepercayaan dalam kultur organisasi itu memberdayakan peserta-peserta
untuk melakukan tindakan-tindakan yang rutin. Individu dan organisasi terdapat
dalam suatu hubungan saling menguntungkan (Bennis, 1986, p.71).
Sementara
pandangan-pandangan mengenai kuasa di dalam organisasi-organisasi bersifat
mengandung pelajaran, Smith dan Peterson (1989) menyatakan bahwa ada satu
"asumsi tersembunyi bahwa para pemimpin dihargai dan para anggota bersifat
membangun dari organisasi-organisasi mereka" (p. 126). Kuasa adalah
"kapasitas untuk menyempurnakan konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan
tertentu di dalam perilaku-perilaku dari orang lain," Gardner yang 1990,
mengusulkan bahwa hanya kuasa untuk memenuhi spesifik, sasaran hasil, dan bukan
suatu kuasa yang disamaratakan, fungsi-fungsi di suatu masyarakat yang keadaan
jamak seperti Amerika Serikat. Sumber dari kuasa dapat bervariasi secara luas
(harta; posisi, kepribadian; keahlian, membujuk (merayu), kemampuan-kemampuan
motivasional). Harta benda dari sumber nya boleh menyediakan layanan khusus
kepada sumber yang lain. Di dalam sistem manusia (organisasi-organisasi dan
lembaga; institusi), kuasa organisatoris diberikan kepada mereka yang menguasai
peran penting; posisi-posisi ini melembagakan sumber yang paling umum dari
kuasa di dalam dunia yang modern. Meski suatu sistem kepercayaan dengan kuat
dalam kultur-kultur boleh dengan mantap mengesahkan para pemimpin dan
mengesahkan mereka berbuat sesuatu, setiap sistem kepercayaan biasanya
menempatkan batasan-batasan dan berusaha untuk menegakkan sistem kepercayaan.
Pada akhirnya, hal ini mengurangi kuasa pemimpin itu.
Semua studi
yang tersebut diatas dari kuasa berfungsi untuk menggambarkan konsep-konsep
penting dan pemahaman kita lebih lanjut gaya-gaya kepemimpinan dan pemimpin.
Gaya kepemimpinan adalah pola dari perilaku-perilaku dari seseorang yang
mengasumsikan atau ditunjuk kepada suatu posisi pengaruh dalam satu organisasi.
2.5.
GAYA KEPEMIMPINAN
Para pemimpin
merasa para pekerja dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan mereka
mempengaruhi perilaku pemimpin itu terhadap para pekerja (Hall, 1990).
Menetapkan hubungan dengan para bawahan adalah suatu faktor yang kritis di
dalam pekerjaan mereka sebagai para pemimpin. Orang-orang bereaksi terhadap apa
yang mereka berpikir mereka lihat di pihak lain. Derajat kesaksamaan persepsi menentukan
kepantasan tindakan-tindakan itu dingambil. Ini adalah seorang perilaku
pengikut pemimpin yang timbal balik.
McGregor
(1990) memperkenalkan dua perspektif bahwa para pemimpin gunakan di dalam
berhadapan dengan para pekerja, Teori X dan Teori Y. Teori X didasarkan pada
tiga asumsi: (suatu) Manusia dengan tak terpisahkan tidak menyukai kerja dan
mencoba untuk menghindarinya. Manajemen harus menetralkan kecenderungan
alami(wajar ini), (b) Orang-orang harus dipaksa, terkendali, mengarahkan, dan
mengancam untuk mencapai sasaran organisatoris. tidak akan menjurus kepada
prestasi; hanya paksaan eksternal, kendali, dan ancaman-ancaman, (c) lingkungan
yang tidak bertanggungjawab ingin menjadi mengawasi, bersifat malas, dan sedang
mencari-cari keamanan.
Y Teori
didasarkan pada asumsi-asumsi sungguh yang berbeda: Orang-orang dengan sukarela
bekerja ketika kondisi-kondisi yang sesuai, (b) Para pekerja akan mencapai
sasaran organisatoris ke mana mereka terikat, (c) Sasaran organisatoris
kesanggupan untuk didasarkan pada pahala dari pencapaian sasaran, (d) Para
pekerja akan mencari tanggung jawab ketika kondisi yang sesuai, (d) Banyak
pekerja menguasai kemampuan itu untuk memecahkan permasalahan organisatoris,
(e) Potensi cendekiawan manusia tidak secara penuh digunakan di dalam
organisasi-organisasi.
Y Teori,
menurut dugaan orang ditemukan di dalam pertumbuhan manusia, pengembangan dan
adaptasi selektif dibanding kendali langsung, menyiratkan bahwa para pemimpin
boleh menciptakan batasan-batasan yang menghalangi para pekerja dari meraih
potensi mereka di dalam pengaturan yang organisatoris. Jadi; Dengan demikian, Y
Teori menantang banyak dari
tindakan-tindakan dan kepercayaan-kepercayaan yang rutin dari para pemimpin bahwa
operasikan dari asumsi-asumsi Teori X.
Prinsip yang
berpusat dari Teori X, prinsip hierarkhi, adalah berdasar pada kepercayaan
bahwa para pengikut memerlukan arah dan kendali melalui latihan dari otoritas
(McGregor, 1990, p.21). Prinsip pengintegrasian, prinsip Teori Y yang pusat,
adalah berdasar pada kepercayaan bahwa para pekerja dapat mencapai sasaran
terbaik mereka dengan kerja terhadap sukses organisatoris. Beberapa
karakteristik yang menyebar dari banyak organisasi-organisasi sangat dengan
kuat berurat akar di Teory X bahwa sulit karena para anggota untuk mengadopsi
suatu sudut pandang Teory Y. Satu persyaratan-persyaratan kepercayaan
organisatoris adalah bahwa ini gantikan kebutuhan individu. Dasar dari
ketenaga-kerjaan mengontrak adalah bahwa para pekerja akan menerima kendali
eksternal sebagai pertukaran dengan gaji. Bagaimanapun, prinsip pengintegrasian
mengusulkan bahwa organisasi-organisasi dapat sukses hanya jika mereka
melakukan penyesuaian kepada kebutuhan-kebutuhan dan sasaran pekerja. Dengan
cara ini, kebutuhan dari kedua-duanya organisasi dan setiap dikenal.
Meski makna
pengintegrasian yang bekerja bersama untuk sukses dari organisasi, "Asumsi
manajemen yang terkandung adalah bahwa bekerja bersama menyesuaikan kepada
persyaratan-persyaratan dari organisasi manajemen" (McGregor, 1990, p.24).
Pengintegrasian, bagaimanapun, memerlukan dorongan individu untuk berkembang
dan menggunakan kemampuan mereka dalam cara-cara yang bahwa menjurus kepada
sukses dari organisasi dan pemenuhan dari kebutuhan individu. Y Teori
didasarkan pada asumsi bahwa para pekerja akan mencapai sasaran organisatoris
yang mereka merasa terikat dengan melalui pengendalian diri dan diri sendiri.
arah. McGregor percaya bahwa derajat tingkat dari komitmen adalah yang
dipengaruhi oleh yang managerial (kepemimpinan) kebijakan-kebijakan. Oleh
karena itu, pengintegrasian, bukan otoritas adalah suatu makna yang sehat untuk
memperoleh sasaran hasil organisatoris kesanggupan untuk. Bagaimanapun, ia juga
menetapkan bahwa bahkan di kendali organisasi-organisasi Teory Y eksternal bisa
satu strategi kepemimpinan yang sesuai ketika komitmen yang asli tidak bisa
dicapai.
Asumsi-asumsi
mempunyai suatu kecenderungan untuk membatasi pandangan-pandangan dan
persepsi-persepsi kita dibanding melebarkan mereka. Asumsi-asumsi yang menginformasikan
Teori X dan Teori Y menggambarkan usaha manusia secara tertata dan diarahkan.
Tempat teori-teori ini terbatas pada strategi dan prosedur-prosedur bahwa para
pemimpin memilih untuk mengarahkan, rencana, kendali, dan mengorganisir di
dalam Situasi Kerja.
Sepertiga
unsur-unsur kombinasi teori dari Teori X dan Teori Y sudah dikembangkan untuk
mendukung klaim menawarkan jalan keluar? cara untuk memperbaiki
hubungan-hubungan antara para pekerja dan para pemimpin. 1981 Ouchi) Z Teori
menyediakan strategi dan perspektif-perspektif yang berbeda untuk mengorganisir
usaha manusia mengutamakan pengambilan keputusan konsensual dan suatu
pendekatan regu kepada proses-proses organisatoris dan berubah. Tidak Seperti X
Teori dan Teori Y, yang menggambarkan gaya kepemimpinan dari suatu atasan atau
pemimpin, Z Teori menggambarkan gaya pemimpin itu menurut kemampuan nya untuk
menciptakan satu kultur organisatoris komunikasi yang terbuka, kepercayaan, dan
sasaran organisatoris kesanggupan untuk membantu perkembangan. pengambilan
keputusan konsensual
Z Teori
memandang organisasi seperti pengembangan dari hubungan-hubungan yang informal
antara orang-orang. Pengembangan menekankan setiap orang di atas suatu
pembedaan peran yang sempit. persepsi-persepsi Z Teori para anggota
organisatoris menghapuskan dehumanisasi, authoritarianisme, dan kelas yang
istimewa di Teori X dan Teori y organisasi-organisasi bahwa pada akhirnya
mengasingkan pimpinan dan para bawahan. Untuk mengalahkan pengasingan ini, Z
Teori mendukung pengembangan gol yang dikerjakan oleh para pekerja dan
manajemen dapat berperan untuk pengembangan dari suatu kultur organisasi yang
konsisten. Proses ini membentuk suatu jenis dari asuransi untuk pemimpin yang
berharap usaha-usaha pekerja nya itu lekat dan terus menerus dibariskan dengan
sasaran dan sasaran hasil organisatoris.
Jauh sebelum Z
Teori Ouchi, pada tahun 1961. Likert mengembangkan empat sistem manajemen.
Empat sistem ini serupai sebagian dari kerangka-kerangka yang konseptual bahwa
sudah sesudah itu muncul di Teori X, Y dan Z. Likert mengusulkan miliknya itu
empat model manajemen sistem dari manajemen partisipatif mendekati satu status
negara ideal. Tiga faktor pokok dari sistim ini hubungan-hubungan yang
mendukung, keputusan kelompok yang membuat, dan sasaran kinerja ketinggian
managerial. Likert percaya bahwa para pekerja melaksanakan terbaik ketika
mereka berfungsi sebagai para anggota kerja efektif, bukan seperti individu.
Makna dari sistim Likert adalah mengakui adanya faktor yang penting dari
perilaku pekerja sebagai suatu gol kepemimpinan dan sebagai suatu faktor di
dalam memodifikasi perilaku-perilaku kepemimpinan.
X Teori-Teori
McGregor dan Y, Teori Ouchi Z dan empat sistem manajemen Likert menggambarkan
bahwa perspektif, dengan sudut pandang mana para pemimpin memandang
karakteristik-karakteristik pekerja dan sistim kebenaran yang subjektif
mengembangkan bagi mereka karakteristik-karakteristik yang menentukan gaya
kepemimpinan, strategi, dan prosedur-prosedur yang akan dipekerjakan. Para
pemimpin harus mampu mengevaluasi secara obyektif dan menantang pendekatan
bahwa mereka terbiasa dengan yakin mereka sedang mengamati para pekerja mereka
melalui suatu sudut pandang bahwa tidak menyimpangkan gambaran dari mereka para
pekerja. Z Teori menantang yang tradisional pengambil-alihan X 1'hcories dan Y dan secara rinci
menentukan suatu lensa yang baru dengan mana untuk memandang para pekerja
seperti juga struktur-struktur kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan. Adaptasi
ini boleh mengubah sasaran dan iklim organisatoris karena tanggapan pemimpin
itu kepada angkatan yang internal dan eksternal.
2.6.
KETIDAKTENTUAN DAN SITUATIONAL
Teori-Teori / model-model
Teori-teori ketidaktentuan dari efektivitas kepemimpinan
berfokus kepada lingkungan kerja pemimpin. Awal ketidaktentuan meniru
kemunculan pemimpin yang difokuskan dengan mempelajari bagaimana tugas-tugas
dan norma-norma kelompok itu menentukan ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan
dan nilai-nilai yang akan menjadi yang efektif di dalam kelompok dan bisa
diterima oleh para bawahan.
Fiedler (1967)
riset menunjukkan usaha yang pertama untuk belajar kepemimpinan dengan
pengujian situasi, orang-orang, tugas-tugas, dan organisasi. Fiedler ( Lunenburg &Ornstein, 1991;
Smith &Peterson, 1989; Yukl, 1989; Rost, 1991) menghipotesakan bahwa para
pemimpin dapat memperbaiki efektivitas mereka dengan memodifikasi
situasi-situasi untuk cocok gaya kepemimpinan mereka. Fiedler mengenali tiga
faktor situational bahwa efektivitas pemimpin pengaruh: (a) mutu hubungan-hubungan
bawahan pemimpin, (b) kuasa posisi pemimpin itu, dan (c) derajat tingkat dari
struktur tugas (Smith & Peterson. 1989, p.17).
Sebagai
hasilnya Fiedler's (1967) pekerjaan, gaya kepemimpinan sudah tidak lagi menilai
baik atau jelek. Gaya-gaya adalah agak digambarkan menurut efektivitas mereka
di dalam situasi-situasi yang spesifik. Riset Fiedler mengenal bahwa
kepemimpinan diakibatkan oleh interaksi antara gaya kepemimpinan dan
situational variabel-variabel. Pandangan ini membuka riset yang berikut bahwa
menguraikan perilaku-perilaku kepemimpinan secara holistik.
Analisa ini
perlu mengakibatkan suatu gambar atau himpunan yang jelas bersih dari tanah dan
bangunan bahwa seorang pemimpin boleh terbiasa dengan permulaan dan
menyesuaikan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur kepada sasaran
organisatoris. Berbagai strategi adalah, oleh karena itu, lebih sewajarnya
terpilih oleh seorang pemimpin mengharapkan untuk memaksimalkan komitmen
pekerja. Oleh meningkatkan kemungkinan pencapaian sasaran dan pencapaian dari
pahala, para pemimpin dapat mempengaruhi motivasi bawahan; subordinat,
kepuasan, dan pemenuhan gol. Variabel-variabel dan lingkungan menentukan jenis
dari gaya kepemimpinan pengaruh akan memiliki di motivasi, kepuasan, dan
pemenuhan gol. Analisa mengakibatkan suatu skenario terbaik antara
kebutuhan-kebutuhan organisasi itu dan gaya pemimpin itu.
Kepemimpinan
Direktif, dengan menyediakan bimbingan, prosedur-prosedur, dan koordinasi,
boleh meningkatkan motivasi bawahan dan kepuasan di dalam situasi-situasi yang
berisi kerancuan peran dukungan kepemimpinan, dengan menyediakan kesejahteraan
bawahan dan suatu atmosfer pekerjaan yang mendukung boleh meningkatkan motivasi
bawahan dan kepuasan di dalam situasi-situasi di mana tugas-tugas yang membuat
stres, atau membosankan. Kepemimpinan berorientasi prestasi boleh meningkatkan
pencapaian sasaran dengan pengaturan menantang sasaran dan patokan-patokan
selagi memelihara keyakinan pemimpin itu di dalam kemampuan-kemampuan bawahan
untuk memenuhi sasaran yang dinyatakan. Kepemimpinan partisipatif, dengan
menyediakan para bawahan dengan peluang itu untuk mengambil bagian di dalam
pengambilan keputusan tentang hal-hal yang terkait dengan tugas meningkatkan
motivasi bawahan dalam situasi-situasi di mana tugas-tugas tidak tersusun.
Teori-teori
kepemimpinan deskriptif yang muncul pada tahun 1980-an yang dilayani untuk
menerangi bidang variabel-variabel. Hersey dan 1982 Blanchard, 1988) situasi
teori kepemimpinan menyatakan bahwa perilaku pemimpin didasarkan dua dimensi
kepemimpinan, perilaku tugas dan perilaku hubungan. Dimensi-dimensi ini
dipengaruhi oleh kedewasaan bawahan (Blanchard, Zigarmi. &Zigarmi, 1987;
Rost. 1991; Smith & Peterson. 1989; Yukl. 1989). Ketika bawahan
mengembangkan keyakinan dan kemampuan, para pemimpin bertukar-tukar perilaku
mereka dengan menyesuaikan jumlah dari arah tugas dan dukungan psikologis
mereka berikan.
Variabel-variabel
perilaku di dalam para pemimpin yang mendukung saling berhubungan dengan
variabel-variabel perilaku di dalam anggota kelompok (tinggi rendahnya komitmen
dan tinggi rendahnya kemampuan/wewenang). Pemimpin memainkan berbagai
peran-peran tentang pengarahan, pelatihan, pendukung, dan mendelegasikan
seperti ketika kelompok mendewasakan dan menjadi mampu melaksanakan aktivitas
kelompok. Kedewasaan kelompok adalah tergantung di masing-masing kedewasaan.
Menguji
kebenaran Hersey dan 1982 Blanchard, 1988 teori, Hambleton dan Gumpert (1982)
menyimpulkan bahwa ada suatu hubungan penting antara gaya kepemimpinan di dalam
situasi-situasi yang spesifik dan suatu persepsi-persepsi manajer kinerja
pekerjaan bawahan. Studi mereka juga menyatakan bahwa di dalam situasi-situasi
di mana kepemimpinan situational diterapkan secara benar, kinerja pekerjaan
bawahan ditingkatkan.
Hersey dan
1982 Blanchard, (1988) situasi kepemimpinan, teori belum cukup diuji. Itu
berisi beberapa terminologi yang luas, rancu dan menghilangkan beberapa
variabel-variabel situational yang jelas nyata. Meskipun demikian, itu
mengerjakan menekankan efektivitas dari suatu gaya kepemimpinan yang fleksibel,
adaptip bahwa bervariasi perawatan dari para bawahan menurut taraf kematangan
dalam lingkungan kerja yang sama dan dalam situasi kerja yang bervariasi (Yukl,
1989).
Blake dan
Mouton (1978, 1981, 1982a, 1982b. 1990) memeriksa kembali teori kepemimpinan
menggunakan suatu dua kerangka faktor, di mana perhatian untuk produksi dan
perhatian untuk orang-orang bersifat saling tergantung tetapi tidak
menghubungkan. Mereka percaya ada satu gaya kepemimpinan terbaik: Panggangan
mereka yang managerial menyediakan “Suatu kerangka ilmu tingkah laku yang
menurut bagan untuk membandingkan sembilan teori antara hubungan-hubungan
produksi dan manusia" (Blake &Mouton, 1978). Masing-masing variabel
digambarkan di suatu sembilan titik di mana tiap titiknya menunjukkan perhatian
minimum dan sembilan menunjukkan perhatian maksimum. Model kembangkan lima gaya manajemen dan sembilan
teori dari bagaimana produksi dan orang-orang dapat terintegrasi untuk memenuhi
sasaran organisatoris. Yang didasarkan pada kepercayaan berhubungan dengan
untuk produksi.
Blake dan
Mouton (1978) mengusulkan sebagai fakta bahwa tiga teori meningkatkan: (a)
manajemen tugas (9,1) di mana fokus itu di pencapaian sasaran produksi dan di
mana manusia dipandang sebagai mesin-mesin; (b) manajemen perkumpulan olah raga
(1,9) di mana berfokus kepada hubungan-hubungan mendominasi untuk sejumlah
sasaran produksi yang mencurigakan: dan (c) menjadikan miskin/melemahkan
manajemen (1,1) di mana fokus itu adalah pada penghindaran dari pemperdayaan
Teori-teori
dari Blake dan Mouton (1978, 1981, 1982a, 1982b. 1990) mewakili; menunjukkan
suatu pendekatan situational terhadap kepemimpinan. iesearchers berasumsi bahwa
perhatian-perhatian untuk bangunan produksi dan hubungan akan konflik dan, oleh
karena itu, harus yang dipandang lebih banyak sistematik atau resiko yang
sedang dikompromikan. Dalam praktek, bersifat sistemik dari model adalah yang tercapai ini oleh gaya-gaya yang
bertukar-tukar bahwa berfokus kepada masing-masing perhatian (19 dan 9,1). Oleh
memperlengkapi kedua-duanya perhatian-perhatian melalui struktur-struktur yang
terpisah (manajemen, produksi, hubungan personil), atau dengan merasa
masing-masing faktor sebagai suatu perhatian yang terpisah bahwa dapat menangani
eksklusif produksi yang berhubungan dengan jelas dalam semua situasi manajemen,
Blake dan Mouton menetapkan bahwa teori manajemen regu adalah satu-satunya gaya
bahwa dapat secara efektif mengintegrasikan.
Vroorn dan
Yetton (1973) model sebelumnya menguji bagaimana pengambilan keputusan oleh
pemimpin, para bawahan, dan situasi untuk meningkatkan mutu keputusan; komitmen
keputusan, dan kepuasan keputusan. Model meneliti situasi-situasi keputusan dan
menentukan prosedur-prosedur keputusan yang mungkin. Vroom dan Yetton
mengevaluasi tujuh pertanyaan-pertanyaan berhadapan dengan pembagian kuasa dan
keikutsertaan di dalam proses pengambilan keputusan dan dampak mereka di gaya
kepemimpinan atau jumlah dari partisipan menentukan untuk masing-masing situasi
keputusan.
Bagaimanapun,
Vroom dan Yetton berfokus kepada hanya nya situational perilaku kepemimpinan,
pengambilan keputusan, dan asumsi mereka bahwa para pemimpin menguasai
ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan yang perlu untuk menggunakan
situasi-situasi ketrampilan dan diagnosa ini memperlemah model.
Sebagai suatu
model, Vroom-Yetton (1973) model juga mempunyai beberapa defisiensi. Model
menandai (adanya) hanya apa seorang pemimpin mestinya tidak sebagai ganti apa
seorang pemimpin perlukan, untuk memilih alternatif-alternatif ketika proses
mengakibatkan alternatif-alternatif ganda, dan itu berasumsi bahwa semua tujuh
faktor dapat digambarkan oleh "ya" atau "tanpa"
tanggapan-tanggapan. Model juga kegagalan-kegagalan untuk menunjuk variabel-variabel
situational seperti banyaknya keterangan yang diperlukan oleh para
bawahan;subordinat di dalam pengambilan keputusan, batasan-batasan waktu untuk
mencapai keputusan-keputusan, dan kemampuan dari semua peserta yang perlu untuk
secara fisik hadir di keputusan. Seperti banyak model untuk kepemimpinan.
kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari model Vroom-Yetton tingkat
kompleksitas organisasi-organisasi modem dan kompleksitas yang diintensifkan
sebagai akibat peran kepemimpinan.
Vroom (1988)
meninjau kembali model VroomYetton untuk menunjuk defisiensi nya. Sebagai
tambahan terhadap lima proses keputusan yang asli untuk permasalahan kelompok,
dua proses yang baru (satu kelompok dan satu delegative ditambahkan untuk
menunjuk permasalahan yang individu pengambilan keputusan. Untuk mengevaluasi
proses-proses permasalahan dan keputusan menurut keputusan komitmen keputusan,
dan pengembangan bawahan, penyamaan-penyamaan untuk menentukan efektivitas
keputusan. Penyamaan-penyamaan ini juga mencatat terjadi ketika ukuran dari
suatu kelompok pengambilan keputusan diberi variasi. Oleh karena pemakaian
penyamaan-penyamaan matematis dan ketenaga-kerjaan dari komputer-komputer.
model Vroom adalah penimbangan jawaban atas faktor-faktor situational (bahwa
sekarang termasuk waktu, geografis, dari tujuh sampai dua belas) sepanjang
suatu rangkaian daripada menggunakan
model sederhana "ya" dan "tanpa" jawaban. Gaya yang
baru! penggunaan dari yang berkelanjutan dibanding, pemakaian matematis
berfungsi dan memperluas situational pertimbangan faktor, boleh mengakibatkan
kebenaran lebih besar keputusan-keputusan proses pengambilan keputusan mencapai
dengan penggunaan model itu. Bagaimanapun, sampai model Vroom adalah cukup
diuji, kebenaran nya adalah lemah.
2.7.
MODEL-MODEL / TEORI DETERMINASI SITUASIONAL
Situational
teori faktor penentu menggambarkan perilaku pemimpin seperti yang ditentukan
oleh karakteristik-karakteristik situational (pengharapan peranan, misi
kelompok dan tugas-tugas, dan batasan peranan fleksibel) dan ciri-ciri pemimpin
dan kualitas. Kepribadian-kepribadian dan nilai-nilai pemimpin boleh
penyimpangan yang persepsi-persepsi mereka peran-peran mereka, menyebabkan
pertentangan peranan. Teori menyatakan bahwa harapan-harapan pemimpin
hasil-hasil tingkah laku mempengaruhi pilihan perilaku mereka (Nebcker
&Mitchell. 1974). Osborn dan Hunt. (1975) model pengaruh ganda mencoba
untuk menjelaskan interaksi-interaksi yang kompleks, yakni struktur organisasi
dan lingkungan eksternal, karakteristik-karakteristik tugas, dan karakteristik-karakteristik
bawahan dan pengaruh dari tiap di perilaku pemimpin. Hubungan timbal balik yang
bersama variabel-variabel yang ganda di dalam situasi-situasi kepemimpinan dan
manajemen menyediakan suatu gambar dari. Sering kali variabel-variabel tidak
bisa diceraikan ke dalam kategori-kategori dari yang tergantung.
Studi dari
kepemimpinan tetap kompleks seperti situasi-situasi kelihatannya yang berbeda
mengenakan pajak kemampuan analisa ahli teori. Ahli teori kepemimpinan sudah
mencoba untuk mengintegrasikan teori-teori untuk banyak dekade situasi-situasi
terus meningkat kompleks untuk analisa. 1991 Koestenbaum) model kepemimpinan
adalah satu usaha untuk mengintegrasikan riset kepemimpinan strategies,
perilaku-perilaku, ketidaktentuan-ketidaktentuan, dan situational satu model.
Teori kelihatan di luar setiap atau ciri-ciri dan lingkungan kerja atau
perilaku segera dan ketidaktentuan dan menguji interaksi-interaksi ciri-ciri
pemimpin dan perilaku dengan lingkungan makro yang internal dan eksternal.
Kepemimpinan dipandang sebagai suatu pola pikir dan suatu pola dari
perilaku-perilaku. Koestenbaum menetapkan bahwa kepemimpinan dapat diajarkan
oleh karena itu, para pemimpin perlu memberdayakan dan mendukung para bawahan
untuk mengembangkan potensi kepemimpinan mereka sendiri. Ia juga percaya bahwa
sebahagian terbesar dari suatu waktu dan energi pemimpin harus digunakan untuk
memudahkan pengembangan ketrampilan di orang-orang pada lini depan di dalam
sistim kompleks organisatoris dan di dalam interaksi-interaksi dengan
lingkungan eksternal. Koestenbaum menyamakan kepemimpinan dengan kebesaran,
bagaimanapun kepercayaan yang keliru tersebut pengabadian bahwa para pemimpin
bersifat melebihi manusia biasa.
2.8.
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL
Burns (1978)
menguji kepemimpinan di suatu konteks yang politis dengan mempelajari kekuasaan
kepemimpinan, dan kepemimpinan transformatif kekuatan atas orang-orang yang
lain dilatih ketika kuasa potensial, yang termotivasi untuk mencapai sasaran
tertentu milik mereka sendiri, menyusun di dalam sumber daya dasar kuasa mereka (ekonomi,
militer yang kelembagaan, atau ketrampilan) bahwa memungkinkan mereka untuk
mempengaruhi perilaku dari responden-responden dengan mengaktifkan alasan-alasan
dari responden-responden relevan kepada itu sumber daya dan untuk itu
sasaran" (p.18). Tujuan dari kuasa (tenaga seperti itu memegang dan
menggunakan untuk mencapai sasaran ya atau tidaknya para pengikut ikut serta
dalam itu sasaran. Bagaimanapun, Burns menggambarkan kepemimpinan seperti proses
timbal balik dari mobilisasi oleh orang-orang dengan berbagai motif dan
nilai-nilai, berbagai perekonomian, dan sumber daya lain.
Burns (1978)
lebih lanjut membedakan antara transaksional dan transformatif. Ia
berargumentasi bahwa dalam kepemimpinan. transaksional orang-orang terlibat
dalam suatu hubungan untuk tujuan berbagai hal. Mereka sadar akan kuasa satu
sama lain. biasanya mengejar tujuan-tujuan dan sasaran mereka sendiri, dan
membentuk hubungan-hubungan sementara.
Burns (1978)
lebih lanjut menegaskan "Kepemimpinan politis, bagaimanapun, dapat
digambarkan hanya dalam kaitan dengan menggunakan istilah penuh arti. Perubahan
bermakna di dalam kondisi-kondisi hidup orang-orang. Test yang terakhir dari
kepemimpinan praktis adalah perwujudan perubahan yang diharapkan, riil bahwa
temu kebutuhan-kebutuhan orang-orang"
Bass (1985)
menyatakan bahwa para pemimpin transaksional bekerja di dalam kultur
organisasi, nilai-nilai dan maksud yang dibagi bersama para anggota
organisatoris. sedangkan para pemimpin transformational bekerja untuk mengubah
nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan bawahan untuk mengubah kultur yang
organisatoris. Jadi, dengan demikian, untuk Bass "Pemimpin transaksional
mempengaruhi kinerja antar para pengikut dengan negosiasi satu hubungan
pertukaran dengan mereka dari penghargaan untuk pemenuhan. Transformational
kepemimpinan membangunkan minat transendental di dalam para pengikut dan
mengangkat kebutuhan dan cita-cita mereka" (p. 32).
Bennis dan
Nanus (1985) berargumentasi bahwa kepemimpinan transpormatif adalah kemampuan
para pemimpin untuk membentuk dan mengangkat alasan-alasan dan sasaran pengikut
untuk mencapai perubahan penting dan minat banyak orang secara kolektif
(p.217). Pemimpin menggambarkan suatu visi yang adalah sama dan sebangun dengan
kunci pengikut menilai dan membangun suatu arsitektur yang sosial, atau satu
kultur organisatoris, bahwa menyediakan maksud yang dibagi bersama di mana para
pengikut dapat mengejar tugas-tugas dan mengejar sukses. Untuk memenuhi hal ini,
para pemimpin harus mampu menciptakan suatu visi, komunikasikan visi melalui
tindakan-tindakan yang simbolis dan membagi bersama, integritas latihan melalui
pengejaran yang gigih visi itu, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan
mereka sendiri, mengevaluasi kemampuan dalam hubungan dengan syarat pekerjaan,
dan berfokus kepada sasaran positif.
2.9.
KEPEMIMPINAN DENGAN KONTEKS CULTURAL
Seperti yang
ditunjukkan, diskusi yang sebelumnya, teori-teori tentang kepemimpinan adalah
multidimensional. Tidak seorang pun teori sudah mencakup semua variabel yang
perlu untuk dengan memuaskan menggambarkan kompleksitas peran kepemimpinan atau
untuk meramalkan skenario kepemimpinan. Beberapa menyarankan suatu
konseptualisasi kembali ke kepemimpinan yang total. Sergiovanni dan Corbally
(1986) yang berargumentasi bahwa untuk mengubah kita harus bergerak "Dari
suatu konsep kepemimpinan di mana efektivitas digambarkan sebagai pemenuhan
sasaran hasil kepada satu identitas bangunan yang meningkatkan mengerti. dan
membuat pekerjaan dari orang lain lebih
penuh arti" (p.14).
Sergiovanni (1986) menggambarkan kepemimpinan mutu sebagai
suatu keseimbangan antara kepemimpinan taktis (meraih sasaran hasil secara
efektif dan secara efisien) dan kepemimpinan strategis (perolehan mendukung untuk kebijakan-kebijakan dan proses dan memikirkan
rencana-rencana jangka panjang). Kepemimpinan taktis, di mana evaluasi
adalah cepat dan sukses didasarkan pada pemenuhan-pemenuhan jangka pendek,
mempunyai fokus dari masyarakat-masyarakat yang. Sergiovanni menantang bahwa di
suatu perspektif yang budaya dari kepemimpinan "Aspek budaya organisasi
sedang ditawarkan sebagai lebih mampu untuk meliput yang tiruan, dan aspek
praktis tentang hidup organisatoris" (p. 106). Organisasi dipandang bukan
sama sistem tetapi sebagai kesatuan-kesatuan budaya. Dengan maksud memperoleh
dari tindakan-tindakan lebih penting dibanding tindakan-tindakan yang spesifik.
Kepemimpinan sebagai ungkapan budaya mencari untuk membangun kesatuan dan order
(pesanan di dalam satu organisasi dengan memperhatikan pada tujuan-tujuan,
tradisi, filosofi, dan historis, dan idaman-idaman dan norma-norma yang
menggambarkan jalan hidup di dalam organisasi dan yang menyediakan basis untuk
memasyarakatkan para anggota" (p.107).
Seperti yang
dibahas oleh Sergiovatini (1986), kepemimpinan sebagai ungkapan budaya
bersandar pada analisa dari saling mempengaruhi yang kompleks dari
ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan taktis (ketrampilan-ketrampilan manajemen)
dan anteçdents dan maksud
(arti-maksud(rti strategis di dalam suatu kerangka sepuluh prinsip bahwa
membentuk suatu peta teori untuk, kepemimpinan mutu. Untuk mencapai keunggulan
kepemimpinan, yang terdahulu dan maksud diperlukan untuk menyediakan suatu
dasar untuk dan arah keterampilan kepemimpinan. Yang terdahulu digambarkan
sebagai perspektif. kepada keputusan-keputusan pemimpin itu, tindakan-tindakan,
dan perilaku. Maksud berkembang di suatu sistem kepercayaan melalui cerminan,
perencanaan tujuan, tetap melakukan menciptakan iklim melalui perhatian kepada
isu-isu, sasaran, atau hasil-hasil, dan mempertemukan orang-orang kepada
organisasi dan sasaran hasil. Dari interaksi komponen-komponen ini, Sergiovanni
menulis bahwa suatu kultur muncul bahwa menggambarkan apa yang penting dan
mengurus perilaku. Patriotisme organisatoris, komitmen, dan kesetiaan pada
suatu himpunan yang dibagi bersama dari kepercayaan-kepercayaan yang umum dan
mengatur perilaku menciptakan suatu ikatan yang kuat antar para anggota
organisatoris dan memberi maksud organisasi yang unik. Tindakan-tindakan ini
memerlukan perilaku kepemimpinan
Smith dan
Peterson (1989) menyatakan kepemimpinan itu sebagai satu aspek perilaku
keorganisasian dapat dengan sangat baik dipelajari di suatu konteks sosial,
bukan sebagai satu hubungan pengaruh di dalam diad pengikut pemimpin. Pesta
dansa suatu perspektif yang global, kepemimpinan organisatoris dilihat sebagai
berisi[kan dua tugas aspek dan hubungan dalam satu regu struktur. Tugas dari
kepemimpinan berbuat sesuatu, berasal dari konteks yang budaya dari kelompok
atau organisasi. di dalam berasimilasi kultur-kultur, bisa lebih banyak membagi
bersama dibanding di dalam masyarakat-masyarakat yang bersifat perseorangan,
keadaan jamak. Dibanding mencari-cari satu jenis terbaik dari kepemimpinan,
teori ini menyiratkan itu mungkin ada satu kultur organisasi terbaik bahwa
dapat diciptakan melalui suatu struktur hirarki. Hirarki itu dapat
mengembangkan maksud yang dibagi bersama untuk aktivitas dan kejadian
organisatoris dan, seperti itu, membantu perkembangan visi-visi dan strategi
yang dibagi bersama untuk meraih sasaran organisatoris, suatu wujud yang budaya
dari kendali. Smith dan Peterson menyatakan suatu latihan dari pemimpin yang
berkuasa terletak pada kemampuan itu untuk memancarkan pengaruh melalui jaringan
dari maksud kultur organisasi itu. Maksud seperti itu berakar dan bersedia
menerima nasehat hanya untuk berangsur-angsur berubah" (p. 130). Bagaimanapun, di dalam suatu struktur manageinent
yang partisipatif, anggota kelompok harus mampu menggambarkan
mekanisme-mekanisme dan tujuan-tujuan melalui suatu konteks budaya.
Schein (1985)
berkata bahwa menciptakan, memanage, dan kadang-kadang mengamati kultur ketika
unsur yang betul-betul mempengaruhi bagaimana para anggota sistem berpikir,
rasa, dan berbuat sesuatu, Schein menyangkal pengambilalihan beberapa ahli
teori kepemimpinan bahwa kultur dapat diubah untuk menyesuaikan tujuan-tujuan
nya. Schein (1985) “Menggambarkan kultur
seperti suatu pola dari dasar, yang ditemukan, atau yang dikembangkan oleh suatu
kelompok yang diberi karena belajar untuk mengatasi permasalahan nya dari
adaptasi eksternal dan pengintegrasian internal bahwa sudah bekerja cukup
memuaskan untuk valid yang dipertimbangkan, dan oleh karena itu, untuk yang
diajar kepada anggota baru seperti cara yang benar untuk merasa, berpikir, dan
merasa dalam hubungan dengan itu permasalahan" (p. 8).
Karena
kondisi-kondisi lingkungan terus menerus mengubah, kepemimpinan harus mampu
mengolah kultur yang organisatoris untuk memastikan kemampuan sistim itu untuk
menyesuaikan diri dengan dan bertahan hidup di dalam lingkungan melalui evolusi
asumsi-asumsi budaya yang baru. Kepemimpinan dalam praktek menyatakan secara
lisan asumsi-asumsi nya dan melekatkan mereka secara berangsur-angsur dan
secara konsisten di dalam misi, sasaran, struktur-struktur, dan
prosedur-prosedur kerja dari kelompok" (Schein, 1985, p.317). Pemimpin
perlu untuk mengetahui bagaimana satu kultur organisasi dapat membantu atau
merintangi suatu pemenuhan misi. Para pemimpin perlu untuk menyediakan daya
dorong itu untuk menerapkan strategi intervensi perlu menyesuaikan kultur untuk
organisatoris. Meski lingkungan para pemimpin bertanggung jawab karena
menggantikan atau membuang asumsi-asumsi, para anggota organisatoris harus
dilibatkan di dalam proses perubahan untuk memastikan pengertian yang mendalam
dan motivasi mereka yang yang diperbaharui untuk mencapai misi organisatoris
baru.
Masing-masing
dari gudang teori-teori tersebut di pola-pola di dalam riset kepemimpinan
karena Perang Dunia II. Keunikan dan kompleksitas organisasi-organisasi abad ke
duapuluh yang pertengahan sudah kedua-duanya yang ditingkatkan permintaan untuk
teori-teori yang efektif dan memalukan peneliti-peneliti bekerja pada
mengembangkan itu teori-teori. Baru-baru ini, peneliti-peneliti sudah dengan
mulai mengikuti pemikiran organisatoris yang menyatakan bahwa kepemimpinan bisa
dianalisa atau yang diramalkan di suatu pertunjukan yang linier. Teori-teori
baru sedang muncul bahwa boleh membentuk suatu paradigma yang baru untuk
berpikir tentang kepemimpinan ketika kita beralih ke abad 21.
2.10. WANITA-WANITA DI
DALAM OTORITAS
Perbedaan-perbedaan
tambahan di dalam kepemimpinan dan gaya manajemen dapat dibedakan ketika
meninjau ulang literatur di wanita-wanita di dalam posisi-posisi otoritas
Sementara sekarang ini ada secara relatif terdapat beberapa wanita dalam
kepemimpinan, angka-angka itu sudah meningkat sampai ke titik yang mungkin untuk mendeteksi beberapa jalan atau
cara yang khusus bahwa para laki-laki dan perempuan berbeda di dalam
peran-peran kepemimpinan.
Fitzpatrick
(1983) menggambarkan suatu komunikator yang berkompeten sebagai orang yang
dapat dengan teliti merasa lingkungan dan menciptakan dan memahami pesan-pesan
yang didasarkan pada penafsiran berikutnya sasaran untuk komunikasi adalah; (1)
pekerjaan selesai, (2) menghindari kerusakan pada hubungan antara pengirim dan
penerima, dari pesan, dan (3)
memproyeksikan gambaran yang diinginkan selagi berkomunikasi. Accordingto
Fitzpatrick, pria secara umum operasikan dari, suatu pemecahan masalah,
agresif. dan berfokus. rutinitas dan menindas emosi kuat. Sebaliknya,
wanita-wanita cenderung untuk memberi dan mengharapkan untuk menerima yang
bersifat penghargaan menanggapi dan ditundukkan untuk menekankan relational
sasaran di dalam interaksi-interaksi.
Dari perbandingan dasar ini, Fitzpatrick (1983)
tiga model konseptual komunikator-komunikator organisatoris.
Komunikator-komunikator laki-perempuan tunggal dapat khasnya dari seperti
dominan dan tegas perilaku-perilaku tugas atau mereka dapat hangatkan dan
memelihara, mencerminkan hubungan perilaku-perilaku.
Sementara Gabler (1987) berargumentasi bahwa
wanita-wanita sukses tidak perlu memimpin dengan cara yang berbeda dibanding
orang sukses, yang lain seperti Carroll (1989) sudah menemukan wanita-wanita
itu mempunyai lebih banyak gaya pembagian dari kepemimpinan dibanding orang,
dan mengaku bahwa wanita-wanita cenderung untuk memberi lebih banyak pengenalan
dan menciptakan satu "Pemberian kuasa" atmosfer regu. Di dalam meniru
suatu studi oleh orang di dalam peran-peran kepemimpinan (Mintzberg, 1973),
Helgeson (1990) menemukan perbedaan-perbedaan terpisah; jelas di dalam gaya
kepemimpinan. Wanita-wanita di dalam studi nya bekerja di langkah yang sama dan
di bawah kondisi-kondisi yang serupa sebagai orang-orang di dalam studi
Mintzberg, tetapi mereka lebih sedikit merasakan dikendalikan oleh rencana
kerja, dengan demikian mengurangi tekanan pekerjaan. Lebih banyak waktu
digunakan dengan orang-orang, dan di sana adalah penekanan di hubungan-hubungan
penopangan aktip kerja baik. Oleh memelihara suatu jaringan yang lebih rumit,
wanita-wanita itu adalah untuk merasakan terisolasi. Di Dalam pandangan
Helgeson, para pemimpin wanita lebih mungkin untuk merasakan diri mereka di pusat
macam hal daripada mengamati diri mereka "ada di puncak," seperti
orang-orang di dalam studi itu lakukan.
Di dalam konteks yang lain, pengambilan
keputusan untuk para laki-laki dan perempuan juga menunjukkan istimewa. Putnam (1983) mengenali perbedaan dalam
cara-cara yang bahwa dua kelompok berhubungan dengan konflik cenderung untuk
sampai di suatu penyelesaian menggunakan menawar teknik-teknik,
argumentasi-argumentasi logis, dan kemarahan dalam satu usaha untuk memutuskan
konflik. Wanita-wanita cenderung untuk bekerja untuk memahami perasaan yang
lain. Konflik penanganan dengan meratakan dan mengurangi perbedaan-perbedaan
dan menekankan berfokus kepada kemerdekaan daya saing, pria sering kali
menciptakan suatu skenario menang/kalah, wanita berfokus kepada saling
ketergantungan menghasilkan suatu skenario win/win yang terjadi.
Shakeshaft (1987) berargumentasi bahwa temuan
riset tidak ada pembedaan-pembedaan antara para laki-laki dan perempuan di
dalam memanage sekolah-sekolah adalah yang keliru di itu tersebut adalah secara
konseptual didasarkan pada pria. Bagaimanapun juga ketika alasan-alasan dan
pendekatan yang tambahan dari wanita-wanita bersifat di dalam, mereka dapat
dilihat untuk melaksanakan tidak hanya juga, hanya dengan cara yang berbeda. Dia
membantah bahwa pekerjaan dari para pemimpin wanita di sekolah-sekolah
mempunyai lima unsur-unsur yang utama: (1) hubungan dengan yang lain bersifat
pusat kepada semua tindakan pengurus-pengurus wanita-wanita, (2) mengajar dan
belajar adalah foci yang utama dari pengurus-pengurus wanita-wanita, (3)
masyarakat bangunan adalah satu bagian penting dari wanita, gaya pengurus, (4)
pengurus-pengurus wanita-wanita terus menerus dibuat sadar akan marginal atau
status mereka, dan (5) baris memisahkan
hidup publik dan pribadi dari pengurus-pengurus wanita-wanita adalah jauh lebih
banyak dari sekedar untuk orang.
2.11. SUATU PARADIGMA
YANG BARU UNTUK KEPEMIMPINAN
Di dalam
mengkritik kepemimpinan sebelumnya, penekanan di aspek sekeliling, pencapaian
gol dan isi pengetahuan pemimpin. Rost (1991) menantang bahwa studi-studi ini
tidak menunjuk sifat esensi dari kepemimpinan dan proses oleh para pemimpin dan
para pengikut berhubungan dengan satu sama lain untuk mencapai tujuan-tujuan.
Ia percaya bahwa kepemimpinan belum digambarkan "Dengan ketepatan, akurat
dan singkatnya sehingga orang-orang dapat itu label secara benar ketika mereka
melihat nya kejadian atau ketika mereka terlibat dalam nya" (p.6). Ia yang
diusulkan lebih lanjut bahwa kebanyakan teori-teori dari kepemimpinan
mencerminkan satu paradigma yang industri yang tidak dapat digunakan untuk atau
yang bisa diterima. Berdasarkan pada Rost, perubahan paradigma perlu sehingga
teori kepemimpinan dan praktek dapat berhubungan dengan kebutuhan dari suatu
dunia industrial.
Kepemimpinan
seperti yang digambarkan oleh Rost (1991) adalah "Satu hubungan pengaruh
antar para pemimpin dan para pengikut yang berniat perubahan-perubahan riil
bahwa mencerminkan tujuan-tujuan mereka yang timbal balik" (p. 102). Ini
adalah berlawanan dengan manajemen, yang digambarkan sebagai satu hubungan
otoritas. Ia memelihara; memelihara bahwa empat unsur-unsur harus menyajikan
untuk suatu hubungan yang untuk dipertimbangkan suatu hubungan kepemimpinan:
(a) suatu hubungan berdasar pada pengaruh; (b) para pemimpin dan para pengikut
yang adalah peserta-peserta di dalam hubungan; (c) kedua belah pihak yang
berniat perubahan-perubahan riil dan (d) kedua belah pihak yang mengembangkan
tujuan-tujuan timbal balik. Rost menginterpretasikan kembali perubahan bentuk
seperti keterlibatan dari "aktif orang-orang, mulai bekerja
hubungan-hubungan pengaruh berdasar pada pendekatan, berniat
perubahan-perubahan riil untuk terjadi, dan meminta dengan tegas bahwa itu
perubahan-perubahan mencerminkan 213 mereka yang timbal balik tujuan. Oleh
karena itu, kepemimpinan dilihat sebagai suatu hubungan yang disertai para
pengikut ganda dan para pemimpin ganda yang terlibat dalam kepemimpinan
kolaboratif atau yang dibagi bersama. Peran-peran dari pemimpin dan
pengikut-pengikut tidak terukir; tegores di dalam batu tetapi dapat bergeser.
Manajemen
untuk Rost (1991), kontrasnya adalah satu hubungan otoritas antara sedikitnya
satu manajer dan satu bawahan yang mengkoordinir aktivitas mereka untuk
menghasilkan dan menjual barang-barang dan/atau jasa tertentu. Sebagai
tambahan, Zaleznik (1977) berargumentasi bahwa ada perbedaan-perbedaan
terpisah; jelas antara kepribadian manajer yang potensial dan pemimpin yang
potensial personalitv Managers cenderung terhadap rasionalitas dan kendali.
adopsi sikap-sikap bukan perseorangan terhadap sasaran. Mereka cenderung untuk
mengambil resiko rendah, melihat diri mereka sebagai yang efektif ketika mereka
telah mampu memperkuat institusi.
Para pemimpin
berbakat yang jadinya sangat melibatkan di dalam pengembangan internal mereka, lebih-lebih
orang-orang yang mengembangkan ke dalam para manajer, dan menguasai sikap-sikap
yang menjurus kepada kepercayaan pada diri sendiri dan harapan-harapan prestasi
yang tinggi. Wujud para manajer potensial melembutkan dan secara luas
membagi-bagikan pemasangan-pemasangan. Para pemimpin potensial, sebaliknya,
menetapkan dan putus tiba-tiba hubungan-hubungan yang intensif.
Mempertimbangkan
perbedaan-perbedaan ini antara manajer dan pemimpin. Zaleznik (1977) berargumentasi bahwa kunci
itu kepada mengembangkan para pemimpin dibanding para manajer adalah berfokus
kepada dampak dari melatih hubungan-hubungan. Apakah itu disusun dalam satu
hubungan masa pelatihan atau murid atau di dalam sambungan yang informal antara
suatu berbakat orang muda dan seorang penyelia pemeliharaan, ia percaya
pendekatan ini berdiri kesempatan terbaik melanjutkan kualitas kepemimpinan
dari seseorang dengan potensi tersebut.
Bab ini
diperkenalkan suatu kumpulan yang singkat riset kepemimpinan bahwa sudah
tercapai sampai saat ini. Itu mencoba untuk membangun suatu kerangka bahwa
dapat bertindak sebagai suatu pemandu kepada cerminan lebih lanjut tentang
bidang pendidikan dan gorganisasi kepemimpinan di masa datang. $riset
kepemimpinan tidak berdiri ujian-ujian dari waktu dengan baik. Banyak
pengarang-pengarang yang berkomentar tentang teori kepemimpinan. Teori
hendaknya menginformasikan praktek dan seperti keinginan jelas sepanjang sisa
dari buku ini. Sementara kemajuan adalah
selalu jelas, terlalu kecil berharga sudah terjadi di dalam
gelanggang-gelanggang kepemimpinan, Kita sangat membutuhkan
kombinasi-kombinasi, disiplin-disiplin dan dimensi-dimensi.
Cendekiawan
berpikir kita dapat mulai untuk menjadi kenyamanan. mampu dengan kepemimpinan
hari ini.
2.12. STUDI KASUS
Kepemimpinan: Kasus dari Pokok Yang Tak Kelihatan
Yohanes
Alvarez adalah seorang guru yang superior yang dikenal sepanjang daerah sekolah
tersebut untuk kemampuan cendekiawannya, ketenaran dengan para siswa, para
rekan kerja, dan pengurus-pengurus, dan memecahkan masalah teknik-teknik. Tidak
seorang pun dikejutkan ketika Yohanes ditetapkan pokok dari salah satu
darisekolah menengah daerah. Sangat terkejut adalah keluhan-keluhan berasal
dari, fakultas, personil bangunan, dan para siswa bahwa tidak ada apa pun
sebenarnya tercapai. Departemen mengepalai terutama sekali berkenaan dengan
suara tentang permintaan tegas Yohanes di mengetahui setiap detil dari
keputusan-keputusan mereka sebelum mengijinkan mereka untuk bergerak maju.
Mereka juga mengeluh tentang ketidakmampuan mereka untuk menyusun
pertemuan-pertemuan dengan Yohanes dan ketiadaan komunikasi nya. Hari-hari akan
lewat tanpa kata dari dia tentang keputusan-keputusan. Para guru, personil
bangunan, dan para siswa juga menemukan nya sulit untuk menyusun komunikasi
pribadi dengan pokok mereka.
Sementara
mengetahui kemampuan pengajaran atasan Yohanes, manajemen siswa sukses, dan
pemecahan persoalan, beberapa dari departemen mengepalai, fakultas; dan
personil bangunan menanya apakah Yohanes akan selamanya seorang pemimpin atau
bahkan akan memahami perbedaan antara tanggung-jawab kelas dan mereka yang
kepemimpinan. Yohanes menjawab kemampuan-kemampuan kelasnya itu adalah jenis
dari kepemimpinan yang sekolah perlu. Ia percaya yang cerdas bahwa jika
orang-orang sedang lakukan pekerjaan mereka, mereka tidak memerlukan
kontak-kontak pribadi dekat dengan para pemimpin mereka. Yohanes memandang
kepemimpinan sebagai satu perluasan kelasnya dan dibuat kagum bahwa sebagian
dari fakultasnya, personil bangunan, dan para siswa ragu-ragunya dari sumbangan
nya. Ia bisa dengan susah percaya bahwa mereka memberi label dia lnvisible
mereka Leader.
Pertanyaan-pertanyaan
1.
Apakah persepsi
Yohanes tentang kepemimpinan yang sesuai ?
2.
Apakah kelas akademis
dan sukses bukti manajemen siswa dari jenis dari kepemimpinan bahwa suatu pokok
sekolah benar-benar perlu untuk menyediakan ?
3.
Apakah itu mungkin
kedua-duanya Yohanes dan personil kelas bangunan, dan para siswa adalah benar ?
4.
Bagaimana mungkin kita
menggambarkan kepemimpinan tertentu pada
situasi ini ?
5.
Dapatkah kita
berkembang bersifat universal yang diterapkan? Mengapa atau mengapa tidak ?
Buku ini
memperhatikan para eksekutip yang diingat-ingat beroperasi di dalam dunia usaha
yang baru yang mereka sedang membantu untuk membentuk. Kesederhanaan dan
kecepatan bersifat unsur-unsur penting dalam rangka memelihara modem coi'porations dengan teliti kompetitif,
dan buku sejenis bangau berisi cerminan dan pengalaman yang dibagi bersama oleh
sebagian dari kebanyakan perusahaan yang terhormat di dalam Amerika Serikat.
Intisari dari teks ini adalah
gagasan-gagasan dan pemikiran dari menyelenggarakan di atas masa lampau tiga
tahun dengan lebih dari sekedar 150 para pemimpin bisnis kepala milik bangsa
tersebut. Pengarang adalah seorang guru maupun dan suatu praktisi, dan
mempunyai bukunya sebagai suatu pengembaraan pribadi, mengundang pengertian
yang mendalam, mengutamakan kreativitas, pengambilan resiko, and fleksibilitas
.
Isi buku ini
nilai-nilai dan seni administrasi. Ini juga tentang filsafat, sifat manusia,
dan mutu hidup di organisasi-organisasi khususnya bidang pendidikan. Pembaca
diperkenalkan dengan suatu skema teori berharga, yang sudah dikembangkan di
atas dua puluh tahun yang terakhir dan cukup dalam literatur itu suatu model
yang sempurna bahwa dapat digunakan untuk tujuan-tujuan analitis
Pengarang
mendukung suatu perspektif yang pragmatis mengenai orientasi pengetahuan
kepemimpinan dan membantah pragmatisme seperti itu yang kita tidak bisa
wujudkan? menyadari potensi dari model yang bertingkat-tingkat. Fokus dari buku
itu adalah satu penekanan di suatu sintese
yang baru dan satu pandangan yang diperluas dari kepemimpinan berdasar pada
satu pendekatan yang berpandangan terbuka kepada isi pengetahuan kepemimpinan
dan orientasi pengetahuan kepemimpinan. Pekerjaan ini adalah konsisten dengan
pekerjaan empiris dan konseptual yang dilaksanakan oleh pengarang di atas
banyak tahun, yang diharapkan untuk meluaskan orientasi pengetahuan pembaca
dalam memahami dan menjelajah kenyataan yang kita sebut sebagai kepemimpinan.
Dalam buku
ini, pengarang mencari untuk membangun suatu teori dari kepemimpinan sekolah
mempraktekkan yang didasarkan pada otoritas moral, tetapi untuk menetapkan
praktek seperti itu perlukan struktur nilai dari suatu dasar otoritas untuk
kepemimpinan sekolah untuk diperluas. Ia pandangan-pandangan kritik-kritik
tradisional dari kepemimpinan dan mendiskusikan alasan mengapa mereka tidak
bekerja sumur di masa lalu, uji apa yang memotivasi dan mengilhami para guru
dan para pemegang saham untuk memasukkan cara sebagai gantinya untuk
kepemimpinan; dan mendiskusikan pentingnya kolega di dalam membangun suatu
masyarakat sekolah secara moral mau mendengarkan.
BAB 3
KONTEKS
KEPEMIMPIN
Seandainya ada kepemimpinan yang
efektif di bidang pendidikan, sekarang ini adalah pertama kali di dalam sejarah
yang mutu pendidikan para warganegara sudah dikenal secara politik sebagai hal
yang secara strategis penting bagi sukses dan kelangsungan nasional. Sebagai
hasilnya, institusi bidang pendidikan di seluruh dunia ada di bawah penelitian,kritik
sosial dari politikus-politikus sehingga ditemukan, perubahan perubahan di bidang
pendidikan sebagai konsekwensi sudah,
Perubahan bidang pendidikan
mencerminkan perubahan-perubahan di seluruh dunia di dalam sosial, ekonomi,
politis, dan hubungan-hubungan teknologi. Alvin Toffler (1980) menggelari
angkatan ketiga dan Yohanes Naisbitt (1982, 9L) mengenali mereka seperti sudah
menunjuk industri masyarakat bisnis, apapun wujudnya yang disebut, usia sekolah
sudah sungguh berbeda dari pendahulunya. Besaran dari pergeseran sudah
dipersamakan kepada pergeseran dari feodalisme ke kapitalisme atau dari satu
ekonomi cara agraris menjadi industrialisasi. Semua institusi sosial harus
membuat penyesuaian-penyesuaian yang sesuai institusi bidang pendidikan tidak
ada perkecualian.
Ini adalah satu waktu
paradigma-paradigma pergeseran (Kuhn, 1970). Struktur sosial dan ekonomi dalam
keadaan perubahan terus menerus. Banyak dari pemerintah-pemerintah dunia
totaliter yang jatuh terlihat dalam beberapa kejadian-kejadian, kemudianberubah
menjadi lembaga atau institusi yang lebih demokratis. Kita melihat suatu
kemungkinan riil untuk damai di antara adikuasa-adikuasa dan konflik
yang tumbuh antar kelompok etnik dan persaingan-persaingan regional
kejam.
Ada optimisme dan perhatian ketika
kita mendekati millennium yang baru. Naisbitt dan Aburdene (1990), optimis,
berdasarkan Naisbitt (1982) ramalan sukses suatu dekade sebelumnya, melihat
kemenangan dari setiap dan kematian dari yang kolektif. Dengan kebebasan yang
ditemukan yang baru, mereka meramalkan suatu kenaikan harga tiba-tiba ekonomi
global di dalam era tahun 1990an, suatu Renaissance di dalam seni-seni, dan suatu
pertumbuhan akan minat berbagai hal rohani. Menurut mereka, suatu sosialisme
pasar bebas yang baru akan yang dijadikan struktur dominan ekonomi-sosial dan
negara kesejahteraan terus meningkat akan mengasumsikan peran-peran
kepemimpinan dan gaya hidup global dan nasionalisme budaya akan muncul. Biologi
akan mendominasi ilmu pengetahuan dan melingkari negara-negara yang mendominasi
hubungan-hubungan ekonomi.
Bukan setiap orang adalah sebagai yang
optimis sekitar masa depan, bagaimanapun, seperti Naisbitt dan Aburdene.
(Jalbraith, 1992), sebagai contoh, gergaji suatu perbedaan yang bertumbuh
antara golongan kaya dan golongan kaya bersuka-ria Amerika Serikat dan bahwa
golongan kaya bukan keinginan naik
di dalam pemberontakan. Perbedaan itu sedang tumbuh menurut Galbraith karena,
untuk pertama kali di dalam sejarah Amerika "Yang disenangkan"
lembagakan mayoritas populasi dan di dalam kendali sepenuhnya dari government.
"Yang disenangkan" jangan mendukung perundang-undangan sosial bahwa
membagi-bagi kekayaan melalui pajak yang
lebih tinggi di lebih besar dan kaya jasa untuk yang miskin. 1-Ic membantah
bahwa itu adalah perundang-undangan engineered yang sosial oleh Lloyd George
pada awal abad ke duapuluh bahwa amankan kapitalisme Inggris sepanjang tahun
antara kedua perang dunia dan, demikian juga, itu adalah perundang-undangan
yang sosial Franklin Roosevelt bahwa amankan kapitalisme di dalam Amerika
Serikat selama Depresi Besar. Pada setiap kejadian, perundang-undangan itu
ditentangkan oleh yang disenangkan, yang hilang. Sejak yang disenangkan dengan
kuat di dalam mayoritas, ada harapan kecil dari perundang-undangan penetapan
pemerintah untuk menghilangkan perbedaan antara golongan kaya anti golongan
kaya tidak. Gaibraith meramalkan hrcakclowr sosial-. sebagai suatu konsekuensi.
Untuk lebih baik atau untuk yang lebih buruk, sungguh,
suatu periode mengejutkan dan yang dinamis di dalam sejarah manusia oleh karena
ketidakstabilan situasi ini merupakan suatu periode peluang yang tak ada
bandingnya dan secara potensial
bahaya. Untuk berperan besar dan untuk memperkecil bahaya-bahaya menuntut
kepemimpinan bijaksana secara luar biasa di dalam semua sektor dan di dalam
semua perusahaan usaha yang termasuk pendidikan. Singkatnya, kenyataan sosial
menyebar berubah. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi orang-orang di dalam
seluruh lapisan masyarakat, ada harus lebih besar berdampak pada atas mereka
yang jarak penglihatan positionsof dan perhatian sosial lebih besar, seperti
pemilikan orang-orang pengawasan dan administratif bertanggungjawab untuk
sistem bidang pendidikan. Masyarakat berhak untuk mengharapkan kinerja
berkompeten kepada mereka posisi-posisi. Di bawah keadaan ini, kepemimpinan
berkompeten tidak bisa masalah perilaku pengcopian konvensional. Untuk membantu
pendidikan, ada suatu kebutuhan yang jelas bersih untuk para pemimpin bidang
pendidikan untuk memiliki kemampuan itu untuk memahami dinamika dari afair manusia sebagai suatu dasar untuk
relevan tindakan di bawah, kebutuhan akan pemahaman yang lebih baik bank
peredaran dan memproses di dalam institusi bidang pendidikan, dan kebutuhan
akan keaslian dan kerja sama yang lebih besar di dalam merancang
kebijakan-kebijakan strategis. Pendekatan mereka kepada peluang dan
permasalahan yang menghadapi mereka perlu untuk tinggal terbuka dan hipotetis
sehingga lebih bisa dipelajari.
Di antaranya, kepemimpinan adalah suatu fungsi konteks.
Di dalam bab ini, kita meringkas sebagian dari menyebabkan karena perhatian di
atas pendidikan yang publik seperti yang dilaporkan oleh banyak laporan dan
buku yang evaluatif menerbitkan yang lampau. Perhatian khusus diberikan kepada
kemunduran yang dilaporkan di dalam prestasi oleh para siswa Amerika dan
internasional mereka yang relatif yang berdiri. Statistik diperkenalkan
mempertunjukkan bahwa kondisi-kondisi di bawah yang banyak sekolah beroperasi
sedang menjadi semakin sulit karena populasi-populasi yang mereka melayani
bersifat sedang meningkatkan di dalam kesukuan di dalam variasi
struktur-struktur keluarga, dan di dalam proporsi anak-anak yang berasal dari
rumah-rumah yang dilemahkan. Kita lalu tanggapan-tanggapan profesional dan
politis kepada kritik-kritik dan mundur untuk mencari akar historis dari
dilema-dilema yang ada. Evolusi tradisi kendali lokal dari penguasaan sekolah dan
tantangan-tantangan zaman ini kepada tradisi itu diringkas. Bukti dari
meningkatkan isu-isu bidang pendidikan diperkenalkan. Bab menutup dengan suatu
uraian organisasi yang ada penguasaan sekolah dan statistik yang terpilih untuk
menggambarkan besaran dari perusahaan bidang pendidikan dalam kaitan dengan
menggunakan istilah orang-orang melayani anti mempekerjakan, anti dalam kaitan
dengan menggunakan istilah sumber daya dingkonsumsi.
Konteks untuk kepemimpinan bidang pendidikan adalah yang
berbeda dari waktu lain manapun di dalam sejarah Adalah penting bahwa isu-isu dan proses-proses yang zaman ini
dipahami jika kepemimpinan untuk mengakibatkan relevan tindakan. jika
optimisnya dari paling pendukung ternyata sungguh global: ada banyak pengertian
seperti bagaimana Amerika Serikat diperlengkapi untuk bersaing di dalam dunia
baru ini. Berkenaan dengan pendidikan, alarm itu pertama dibunyikan di dalam.
putaran yang ada dari perubahan oleh National Commission pada Excellence di
Education dalam laporan nya, suatu bangsa berhadapan dengan resiko. Itu bahwa
suatu pasang peningkatan dari sifat sedang telah menelan ancaman sekolah
tersebut daya saing dari negeri dan sesungguhnya sangat survival. Tema itu
diulangi dengan bertumbuh urgensi di dalam lusinan dari laporan-laporan
sepanjang 1980. Komisi pengawas dari Kekuatan pekerja Amerika itu (1990)
memfokuskan di hubungan yang integral antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi
dalam laporan nya. Pilihan Amerika:
Skills atau Low Wages. Commission mengakui kegelisahan nya
dengan muncul trend. Jepang sudah menggantikan Amerika Serikat ketika ekonomi
dunia dan Jerman. hanya seperempat dari Amerika Serikat populasi, Amerika
Serikat Equalled hampir di cxrts.
Pada waktu yang sama bahwa akan menjadi peminjam dunia yang paling besar itu,
Singapura Taiwan, dan Korea tumbuh bukan pendidikan pertama kali mempunyai
berada di suatu tatapan mata dari krisis yang. Setelah Rusia meluncurkan
terlebih dulu satelit dalam 195
pendidikan Amerika di bawah penelitian dengan cermat mendaftar buku yang
dimasukkan dengan seperti. Apa yang bersandar dari pos terdepan dunia ketiga ke
eksportir-eksportir dunia perdana menteri. Commission menunjukkan pertumbuhan
Amerika itu di dalam produktivitas mempunyai pada suatu lintas tayang dan
ofliving nya yang standar miliki, paling baik, digenangi, selagi
pesaing-pesaing nya bersifat sedang bertumbuh di dalam kedua-duanya
produktivitas dan di dalam standar-standar tinggal.
Ongkos hilangnya kemampuan secara ekonomis adalah, untuk
banyak penduduk Amerika, suatu standard hidup yang lebih rendah dibanding apa
pada suatu waktu dibenarkan. Daya beli pendapatan rata-rata minggunya untuk
para pekerja Amerika sungguh telah mampir 12% sejak 1969. Tetapi kesukaran
belum dipikul dengan sama oleh semua Orang Amerika. Kepala 30% dari
keluarga-keluarga Amerika dengan pendapatan yang paling tinggi sudah meningkat
saham mereka pendapatan negara dari 54% dalam 1967 sampai 58% di dalam. 1987
selagi landasan % menyusun terutama para
pekerja professional/technical, biasanya para lulusan dari empat tahun, yang
berhasil baik. Bagaimanapun, para pekerja garis depan sudah melihat gaji mereka
tahun demi tahun. Dari tahun 1972 sampai tahun 1987, upah yang relatif dari
para pekerja yang cerdik jatuh dari 98% yang didapat itu oleh profesional dan
para pekerja teknis kepada 73%; untuk pekerja-pekerja, pengetesan itu adalah
dari 70% ke 51%.
3.1.
NEGARA DALAM KONDISI KRITIS
Amerika Serikat itu sedang menghadapi
kemungkinan yang riil mengembangkan suatu kaum kelas bawah yang struktural dan
banyak percaya bahwa sifat alami sistem sekolah negeri adalah suatu penyebab
yang utama. Ini semua ketakutan-ketakutan telah didukung oleh penemuan di tahun 1990 oleh sensus di Amerika. Lebih
banyak orang-orang sedang tinggal di kemiskinan dibanding dalam tahun 1980 dan
kelas menengah menyusutkan selagi banyaknya yang kaya adalah pertumbuhan. % tase
dari rumah tangga yang tinggal di kurang dari ekuivalen dari 25,000$ per daging
anak lembu di dalam dolar-dolar yang ada sudah bangkit kepada 42% dari 31%
suatu dekade sebelumnya. Dalam tahun 199,
tiga perempat dari Orang Amerika sedang menyenangi pendapatan-pendapatan
pertengahan bandingkan dengan dua pertiga dalam 1989. Pada waktu yang sama, % dari Orang Amerika menggolongkan sebagai
mempunyai pendapatan-pendapatan tinggi tumbuh dari 11% ke 15% dari populasi
total. Perubahan pendidikan adalah dilihat, sebagai pusat untuk menanggulangi
kekurangan-kekurangan Amerika Serikat yang sosial dan ekonomi.
Commission di Skills percaya bahwa, jika
untuk membalikkan kemundurannya yang ekonomi, itu harus mengubah bentuk organisasi-organisasi pekerjaannya
mengurangi birokrasi dan memberi para pekerja garis depan yang tanggung jawab
itu untuk menggunakan keputusan-keputusan penghakiman dan buatan. Untuk lakukan
hal ini, memerlukan pengerahan "Kebanyakan kita, ketrampilan-ketrampilan
dari kita orang-orang tidak hanya 30% itu siapa yang akan lulus dari perguruan
tinggi. para pekerja garis depan, orang-orang yang buruh/kasir bank, petani,
sopir truk, para jurutulis eceran, operator komputer dan (p. 14). Satu unsur
esensial di dalam strategi Commission itu untuk memenuhi pengerahan ini adalah
perbaikan dari pendidikan yang diterima oleh para pekerja garis depan di dalam
elementer dan sekolah menengah, meningkat pelatihan, dan mekanisme-mekanisme
untuk memperlancar transisi. Merancang kembali elementer dan sekolah-sekolah
untuk temu tujuan ini adalah suatu tanggung jawab kepemimpinan bidang
pendidikan yang bekerja bersama dengan rekan pendamping mereka di dalam community-atlarge dan di dalam urusan
bisnis.
W T.Yayasan/pondasi Dana (1988) juga locused berada di dalam keadaan dari
"Yang dilupakan." 50% dari yang muda Amerika yang tidak teruskan ke
perguruan tinggi. Studi mereka dokumen peluang penyusutan untuk "Suatu
pekerjaan dengan suatu masa depan" untuk, daftar biaya pengiriman
barang-barang pengangguran tinggi secara luar biasa, dan suatu kemunduran yang
curam di dalam pendapatan nyata. Menyalahkan sekolah tersebut karena mempunyai
mengacaukan dari misi mereka yang utama. "Pendidik-pendidik sudah jadinya
sangat mengasyikkan dengan mereka yang teruskan ke perguruan tinggi bahwa
mereka sudah kehilangan penglihatan dari mereka yang tidak. Dan semakin banyak
dari batas yang tidak perguruan tinggi sekarang jatuh ketika mereka di sekolah,
gugur, atau lulus dengan berkekurangan mempersiapkan persyaratan-persyaratan
dari masyarakat dan tempat kerja" untuk apa Orang Amerika untuk perguruan
tinggi dan itu adalah besar. Mereka yang perguruan tinggi menerima
tunjangan-tunjangan sosial bahwa rata-rata per tahun selagi mereka tidak akan
ke perguruan tinggi sering dipandang sebagai kegagalan-kegagalan dan menerima
sedikit, jika satu dukungan yang publik. Yayasan meminta pengembangan dari
suatu pendekatan yang terintegrasi kepada pendidikan, pelatihan, dan
kebutuhan-kebutuhan layanan dari semua yang muda. lebih lanjut, itu
merekomendasikan pertalian-pertalian yang lebih kuat antara yang muda, orang
dewasa, dan akses mereka pada suatu yang penuh berpakaian tentang pengembangan,
pencegah, dan jasa perbaikan; dan dukungan publik untuk menenangkan beban
keuangan tentang anak-anak peningkatan dan anak remaja.
Kozol (1992) memfokuskan di sekolah-sekolah
diri mereka terutama sekolah-sekolah bagian tertua suatu kota. Ia dengan nyata
menguraikan kondisi-kondisi di mana banyak
dari kaum kelas bawah itu sedang dididik. sekolah-sekolah berkenaan
dengan kota adalah, umumnya, secara luar biasa menempatkan sedikit; beberapa
perkecualian-perkecualian, mereka mengingatkan aku dari "atau ourposts" di suatu bangsa
yang asing. Proyek-proyek perumahan, jangkung dan pucat, yang dikepung oleh
dinding garis keliling melapisi dengan kawat yang dimandikan, sering kali
berdiri damping kepada sekolah tersebut aku dingunjungi. Sekolah tersebut
adalah tanda-tanda bahwa menandai DRUG-FREE ZONE. Pintu-pintu mereka
dijaga. Polisi kadang-kadang meronda. Jendela dari sekolah tersebut sering
tertutup dengan baja memarut. Taksi yang dengan datar ditolak untuk mengambil
aku kepada sebagian dari sekolah ini dan akan menyimpan aku selusin blok-blok awaj di dalam daerah perbatasan beivnd yang mereka menolak pergi. Di
Boston, tekanan media pers menunjuk bidang-bidang seperti ini seperti ketika
"Zona kematian " spesifik menunjuk kepada tingkat kematian bayi di
dalam tempat tinggal minoritas tetangga merasa zone kematian" sering kali
sepertinya akan menyebar keseluruh bagian sekolah tersebut.
3.2.
PERTIMBANGAN HASIL DAN DEMOGRAFI
Sering, kritikus-kritikus mendokumentasikan
kemunduran di dalam mutu pendidikan yang diterima di sekolah dengan statistik
tentang jatuh Scholastic Aptitude score-score. perbandingan-perbandingan dengan
prestasi dari anak-anak di dalam negara-negara yang lain, ketinggian gugur
daftar biaya pengiriman barang-barang, kekerasan/kekejaman di dalam sekolah
tersebut, dan prestasi rendah dari anak-anak minoritas bandingkan dengan
anak-anak mayoritas. score-score lakukan kemunduran dengan mantap dari satu
nilai rata-rata total 980 dalam 1963 sampai 890 dalam 1981 (Pusat Nasional
untuk Education Statistics (NCES), 1991b, p.152). Mencetak prestasi merosot
untuk kedua-duanya lisan dan matematika subtests
meski mereka lebih secara dramatis untuk tes verbal. Karena 1981, score rerata
yang total dan matematika subscores mempunyai Increased sederhana selagi yang
lisan sudah dinstabilkan. score Rerata total berdiri pada 900 dalam 1990.
Sandia belajar, 1993), bagaimanapun, menyimpulkan bahwa "banyak” dipublikasikan 'kemunduran'
rata-rata SAT mencetak prestasi salah menggambarkan benar kisah tentang kinerja
SAT." Alasan untuk . itu kemunduran fakta melekat pada, itu bahwa lebih
banyak para siswa di dalam kelas membagi dua tentang kelas-kelas mereka membawa
SAT hari ini dibanding di dalam masa lampau tahun. Sebenarnya, setiap kelompok
etnik minoritas sedang melaksanakan hari ini lebih baik dari 15 bertahun-tahun
yang lalu (Huclskamp, 1993). Berlin (1993) juga menantang penafsiran yang umum
kemerosotan SAT mencetak prestasi dengan menunjukkan itu, dari kelompok para
siswa yang ada yang memenuhi karakteristik-karakteristik dari mereka yang SAT
dalam 1975 telah ada suatu 30 peningkatan titik, lebih dari sekedar sepuluh
bagian perseratus mengelompokkan.
Gabungan mencetak prestasi di Ujian Perguruan
Tinggi Amerika itu juga telah merosot, tetapi rata-rata di subscores menunjukkan suatu pola yang berbeda dibanding
pertunjukan statistik SAT. ACT subscores untuk bahasa Inggris sudah tinggal
secara relatif stablince 1970 selagi subscores untuk matematika dan ilmu
kemasyarakatan sudah merosot tajam dan subscoes untuk ilmu pengetahuan alam
sudah menunjukkan suatu peningkatan yang rendah hati (NCES. 199th. p.153).
National Assessment Educational Progress
(NAEP) tidak mendeteksi suatu kemunduran di dalam prestasi bidang pendidikan
(di) atas masa lampau 20 tahun, meski penemuan nya sungguh menyajikan penyebab
untuk sekitar yang tingkat rendah dari kecakapan rerata dari yang muda Amerika.
Dari tahun ke tahun, sekitar 40 % dari
telah digolongkan sebagai melaksanakan di Tingkatan ahli di dalam membaca
yang digambarkan, "Dapat menemukan
memahami, meringkas, dan menjelaskan secara relatif rumit informasi"
(NCES, l993a. p.202). 85 % melaksanakan
di "Intermediate/antara"
tingkatan atau lebih baik. Kinerja pada tingkatan ini digambarkan, 'Dapat mencari-cari informasi
spesifik, menghubungkan satu dng lain gagasan-gagasan, dan membuat
penyamarataan-penyamarataan." Persentase yang melaksanakan di "yang
Dikedepankan" tingkatan sudah meningkat sejak 1971 dari 6% ke 7% dalam 1990. Performarice dikedepankan digambarkan, "Dapat manyatukan dan tahu
dari material yang khusus."
Sementara kinerja rerata dari kelompok
minoritas di NAEP menguji telah menunjukkan perbaikan, itu tinggal sumur di
bawah bahwa dari para siswa mayoritas. Diatas separuh dari para siswa mayoritas
menguji dalam 1988 terminologi dasar dan hubungan-hubungan historis yang
dipahami dan susunan pemerintah dan fungsi-fungsi spesifik yang dibandingkan
dengan tentang seperempat dari African-American anc Hispanic para siswa (NCES,
1991b, p.142).
Dari perhatian lebih besar lagi kepada
beberapa analis adalah kinerja dari para siswa Amerika jika dibandingkan dengan
para siswa negara-negara. Hasil-hasil dari suatu dua puluh bangsa belajar yang
diterbitkan dalam 1992 Amerika yang ditemukan itu 13 tahun yang tua ke luar melakukan hanya mereka dari Yordan, Portugal, dan
Mozambique di dalam matematika, dan hanya para siswa dari itu negara-negara dan
Irlandia di dalam ilmu pengetahuan (Rothman, 1992a). Amerika Serikat di antara
yang paling tinggi melaksanakan dari 14 negara-negara di dalam ilmu
pengetahuan, hanya dekat dalam matematika. Hasil-hasil itu diringkas di Table
31. Sebaliknya, siswa di dalam mereka Amerika Serikat dari hampir semua negeri yang lain di suatu studi tentang
membaca melek huruf (Rothman, 1992b).
Ada mereka yang berpikir bahwa kritik-kritik
dari sekolah negeri di dalam Amerika Serikat bersifat berlebihan masa dan.
Contran untuk pendapat umum, sekolah negeri Amerika itu sungguh baik kapan pun
dan di mana saja mereka disertakan bersama manusia dan sumber daya ekonomi
untuk berhasil" (Berlin, 1993, p.36). Berlin menunjukkan, sebagai contoh,
para siswa hari ini itu sebenarnya rata-rata 14 IQ menunjuk yang lebih tinggi
dibanding kakek dan nenek mereka dan tujuh poin-poin yang lebih tinggi
dibanding orang tua mereka. Banyaknya membuat angka para siswa di dalam cakupan
hari ini yang dikaruniai; berbakat adalah tujuh kali lebih besar dari generasi
sekarang mengundurkan diri dari kepemimpinan.
Hodgkinson (1993a) simpulkan bahwa kepala 20 % dari sekolah menengah kita lulus adalah kelas
dunia dan sembuh. 40 % yang berikutnya
kebanyakan mampu melengkapi perguruan tinggi. Ada persetujuan tersebar luas
bahwa sistim pendidikan yang lebih
tinggi kita adalah satu kekuatan-kekuatan kita yang besar (Kirst. 1993) dan iri
hati dunia. Kendati jatuh rata-rata SAT mencetak prestasi, mencetak prestasi di
Graduate Record Emination (GRE) sudah bangkit 16 poin-poin (lisan), 36
poin-poin (kwantitatif), dan 30 poin-poin (analitis) karena 1981 meskipun
banyaknya test-takers sudah meningkat dengan 16 % (Hodgkinson, 1993a). . lebih lanjut. 40 % dari semua artikel riset yang ditulis oleh
sarjana-sarjana Amerika; tanpa bangsa yang lain menghasilkan lebih dari
(sekedar) 7 % .
Kegagalan dari banyak para siswa Amerika untuk
melengkapi sekolah menengah dan pertalian antara mengundurkan diri dan pengangguran
dan kejahatan adalah juga dari perhatian kepada banyak analis kebijakan. Hampir
87 % dari yang sudah menyelesaikan
sekolah menengah yang dibandingkan dengan 75 % dari para siswa African-American dan 59 % dari para siswa Hispanic (NCES, 199th, p.8). Dari satu perspektif yang
internasional, haruslah yang dicatat bahwa hanya negeri Belgia dan negara
Finlandia melebihi United States di dalam % mendaftarkan di sekolah Huelskamp, 1993).
Hanya dari sekolah menengah minoritas
menemukan pekerjaan tidak lama sesudah meninggalkan yang dibandingkan dengan
separuh dari yang putih. Bahkan lulusan sekolah menengah mempunyai kesukaran di
dalam menemukan ketenaga-kerjaan; 75 % para siswa mayoritas sukses di dalam menemukan
ketenaga-kerjaan tidak lama sesudah wisuda derajat bandingkan dengan hampir
tidak separuh dari para siswa minoritas. Sekitar 82 % dari orang-orang dalam penjara adalah sekolah
menengah; itu biaya-biaya tentang 24,000$ per tahun untuk mendukung seseorang
dalam penjara (Hodgkinson, 1993b).
Pertalian antara tingkatan pendidikan dan
ketenaga-kerjaan dan pendapatan adalah sangat kuat. Dari 25-34 tahun tua, 76 % dari hilang-data-hilang-data sekolah menengah
dipekerjakan dibandingkan dengan 87 % dari sekolah menengah lulus dan 93 % dari perguruan tinggi lulus. Pendapatan hilang-data-hilang-data yang
putih hanyalah 73 % bahwa dari sekolah
menengah yang putih lulus dan sekitar separuh bahwa dari perguruan tinggi
lulus. Kerugian pendapatan yang relatif dari sedang bertumbuh di atas masa
lampau dua dekade. Hubungan bersifat sebangun untuk wanita-wanita dan kelompok
minoritas NCES, 1991b, p.44, menguatkan perhatian-perhatian sebelumnya mengutip
tentang Commission di Skills dari Kekuatan pekerja Amerika itu satu muncul kaum
kelas bawah permanen.
Sementara statistik mungkin menganggap bahwa
sekolah-sekolah tidak melakukan pekerjaan mereka seperti juga di masa lalu, ini
juga benar bahwa pekerjaan mereka bisa
lebih sulit sekarang dibanding kenyataannya di masa lalu. Selama 1980s
karakteristik-karakteristik dari keluarga-keluarga Amerika tetap menggerakkan
dari tradisional dua, orangtua, dua anak-anak oleh 1990, hampir tidak perempat
dari satu rumah tangga berasal dari karena variasi (Hodgkinson, 1991), lebih
sedikit di dalam angka nyata, mereka dekade sebelumnya sekedar penggolongan
keluarga-keluarga untuk menunjukkan suatu kemunduran (lihat Table 3.2). Wanita
tunggal memimpin rumah tangga meningkat dengan 36% . memimpin oleh 29% , dan
laki bini tanpa anak-anak oleh 17%, 60% dari semua rumah tangga tidak memiliki
anak-anak pada semua fakta bahwa membuat pembiayaan sekolah negeri oleh pajak
harta di tempat itu mengadakan sangat sulit di mana retribusi-retribusi seperti
itu memerlukan persetujuan pemberi suara. Hampir 50% dari Amerika yang muda orang-orang akan
membelanjakan beberapa tahun sebelum mereka menjangkau 18 mahluk yang diangkat
oleh suatu orangtua, 15 juta mahluk anak-anak yang diangkat oleh para ibu yang
tunggal akan memiliki tentang sebanyak belanjaan keluarga di
kebutuhan-kebutuhan mereka sebagai anak-anak yang sedang diangkat oleh dua
orang tua, 1991). dari anak-anak sedang tinggal di rumah tangga di bawah
tingkatan kemiskinan dan 59 % dari semua
dalam kemiskinan rumah tangga dipimpin oleh (NCES, 1991b, p.200).
Proporsi sekolah negeri yang diwakili oleh
kelompok minoritas yang untuk dibinasakan oleh kemiskinan sedang berkembang.
Dalam 1976. minoritas mewakili 24% dari elementer dan pendaftaran sekunder.
Proyeksi-proyeksi menyatakan bahwa proporsi ini akan kenaikan kepada 46% oleh tahun 2020 (NCES, 199th). Pertumbuhan
dalam jumlah dan propoctions populasi minoritas adalah tiba hanya pada sebagian
kepada angka kesuburan mereka yang yang lebih tinggi sebagai yang dengan Faktor
mayoritas penting yang lain adalah satu kenaikan di dalam imigrasi dari Asia
dan Amerika Latin. Itu diperkirakan kira-kira itu lima juta anak-anak orang tua
imigran di dalam elementer dan sekolah menengah selama 1990an. mewakili lebih
dari sekedar 150 bahasa (Ifuciskamp, 1993).
Sebagai tambahan terhadap mahluk tiga kali
seperti nampaknya akan dilemahkan, anak-anak minoritas lebih mungkin memerlukan
yang lain "Faktor-faktor resiko, seperti berasal dari suatu orangtua yang
tunggal, setelah dibatasi Inggris dan mempunyai suatu orangtua atau saudara
kandung (atau kedua-duanya) sudah mundur dari sekolah. Anak-anak minoritas
adalah 3.5 kali ketika mungkin untuk memiliki dua atau lebih, ini resiko
sebagai anak-anak yang putih, itu pengaruh adalah juga intergenerational 62% dari anak-anak di bawah usia enam yang di
bawah tingkatan mempunyai orang tua yang tidak melengkapi sekolah menengah.
Jika orangtua nya menyelesaikan sekolah menengah, tingkat kepada 26% dan untuk
7% jika orangtua nya mempunyai beberapa
pendidikan yang diterima di sekolah di luar sekolah menengah dan pendidikan"
(1992).
Sementara kepala 20% dari elementer Amerika dan para siswa sekunder
yang sungguh dilayani oleh sistim arus bidang pendidikan dan 40% yang berikutnya dilayani dengan baik 40% dengan
kurang baik dilayani dan ini adalah fokus dari kebanyakan perhatian
(Hodgkinson, 1993/Kirst, 1993). Beberapa analis, menempatkan menyalahkan tidak
begitu banyak di sekolah tersebut hanya di permasalahan 40% membawa kepada pintu sekolah tersebut,
terutama sekali kemiskinan, secara emosional dan secara fisik cacat/rintangan, ketiadaan
pelayanan kesehatan, kondisi-kondisi keluarga sulit dan lingkungan-lingkungan
kejam. Memecahkan yang bidang pendidikan kita yang "Krisis akan memerlukan
koordinasi usaha-usaha sekolah dengan yang dari para agen masyarakat yang lain
kesehatan kepedulian, perumahan, transportasi, dan sosial ”(Hodgkinson, 1993a).
Jadi dengan demikian, asumsi-asumsi yang lampau yang digunakan oleh
pendidik-pendidik di dalam merancang kurikulum sekolah tidak lagi berlaku untuk
semua orang. Anak-anak bersifat lebih sedikit mungkin datang dari latar
belakang mayoritas. Mereka lebih mungkin para anggota keluarga-keluarga tidak
tradisional, dan mereka lebih mungkin lemah miskin. lducation melalui sekolah menengah dan di luar penting jika para
lulusan adalah untuk dipekerjakan di dalam selain dari pekerjaan kasar dan
untuk menyenangi yang nyaman standar-standar tinggal. Peluang ketenaga-kerjaan
yang baik bayarannya terus meningkat memerlukan ketrampilan-ketrampilan
cendekiawan canggih. Kepemimpinan bidang pendidikan sedang ditantang untuk mendesain
baru bahwa mengenali sifat dari para siswa, menyediakan dukungan yang
kelembagaan bagi mereka berhadapan dengan resiko dan menghubungkan pendidikan
yang diterima di sekolah dan ketenaga-kerjaan.
3.3.
GERAKAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN
Tanggapan terhadap
situasi saat ini menyangkut
pendidikan publik telah dilukiskan sebagai tiga gelombang. Pertama
memfokuskan di kinerja siswa dan mutu guru. Antara tahun 1980 dan tahun 1986,
hampir semua negara meningkatkan standar mereka
untuk lulusan
sekolah menengah melalui upaya
memperbanyak kursus-kursus,
kembangkan persyaratan-persyaratan distribusi mereka antar bidang-bidang hal
dan test minimum mencetak prestasi. Sepertiga dari negara memerlukan para siswa
untuk memberikan suatu test kemampuan
pada lulus dari sekolah menengah (Dewan dari Chief State School Officers, 1990)
”Patokan-patokan sertifikasi untuk para guru juga ditingkatkan,
pada tahun 1987, dua pertiga dari negara menentukan standardisasi test-test
untuk mencari guru yang bersetifikat dan sertifikasi untuk para guru dilakukan
oeh banyak negara, sedangkan yang lainnya mengikat pembaruan sertifikasi pada
pendidikan atau prestasi yang memuaskan” (Farrar, 1990).
Tetapi patokan-patokan pembuatan
undang-undang yang lebih tinggi tidak perlu menghasilkan hasil-hasil yang lebih
tinggi (Ian, 1985), dan menyatakan para gubernur diantaranya cepat untuk dingenali. Asosiasi National Governors pada
tahun 1986 mengeluarkan suatu laporan berjudul ”Waktu untuk perubahan kedua
struktural dengan mengangkat patokan-patokan tambahan”. Laporan menunjukkan
bahwa para gubernur itu adalah tersedia bagi sebagian orang "kuda model
kuno, perdagangan". Mereka mengikat negara itu untuk mengatur lebih
sedikit jika daerah-daerah sekolah-sekolah dan sekolah akan menghasilkan
hasil-hasil lebih baik.
Jenis perdagangan kuda, kita berbicara
tentang keinginan secara dramatis mengubah kebanyakan sekolah-sekolah bekerja.
Pertama-tama, para gubernur itu ingin membantu menetapkan kambing-kambing jelas
bersih dan laporan lebih baik untuk mengukur apa yang para siswa mengetahui dan
dapat melakukan. Lalu kita adalah siap untuk menyerah banyak kendali negara
pengatur bahkan untuk berjuang untuk mendapatkan perubahan-perubahan di dalam
hukum itu untuk membuat bahwa terjadi jika daerah-daerah sekolah-sekolah dan
sekolah akan bertanggung jawab untuk hasil-hasil. Perubahan-perubahan ini akan
memerlukan lebih banyak untuk sukses-sukses dan konsekuensi-konsekuensi para
guru, sekolah-sekolah para pemimpin sekolah dan sekolah distrik. Mereka akan
nilai-tengah memberi orang tua lebih pilihan di dalam sekolah negeri, anak-anak
mereka menghadiri sebagai yang satu arah mengasuransikan mutu yang lebih tinggi
tanpa yang berat kendali negara National Asosiasi Governors ( 1986, p.4).
Sebagai tambahan terhadap rangkaian komisi
pengawas nasional melaporkan dan secara pribadi membiayai studi-studi bahwa
nampak pada awal bagian dari yang delapan puluhan, Farrar (1990) mengenali dua
perubahan-perubahan penting yang lain di dalam lingkungan kebijakan pendidikan
nasional di dekade tersebut bahwa memacu/ merangsang gerakan perubahan yang
bidang pendidikan. Pertama adalah agenda pendidikan President Ronald Reagan,
itu mencari untuk mengurangi peran yang pemerintah pusat di dalam pendidikan
yang tadinya dengan mantap bertumbuh sejak Lapisan tanah teratas Besar.
President Lyndon dan prakarsa-prakarsa Poverty
dari midI 1960an. Peran pemerintah
pusat yang dikurangi yang dibujuk oleh kebijakan-kebijakan Presiden Reagan
menciptakan suatu ruang hampa di kepemimpinan di tingkatan pemerintah pusat dan
secara serempak menghimbau pemerintah-pemerintah negara dan perusahaan swasta
untuk mengisi kekosongan. Perubahan yang kedua adalah kesediaan para pemimpin
negara dan para eksekutif bisnis untuk mengambil satu peran yang aktif di dalam
perubahan bidang pendidikan.
Petrie (1990) nyatakan bahwa restrukturisasi
profesi pengajaran yang diaktifkan oleh dari perubahan mempunyai
keterlibatan-keterlibatan dalam untuk konsep kita kepemimpinan bidang
pendidikan, itu kelihatannya membersihkan bahwa jika para guru adalah untuk
memandang pelatihan praktisi-praktisi penghakiman, para pemimpin bidang
pendidikan akan mengatakan kepada harus berbuat apa para profesional seperti
itu. Disana tidak, terperinci dikenakan. Aturan-Aturan dan peraturan-peraturan
birokrasi akan terbatas pada jumlah kecil. Struktur-struktur akan dikembangkan
itu suatu jangkauan luas pertimbangan dan, tidak hanyalah di dalam patuh pada
mengajar silabus kelas bee;z
tertutup, hanya di dalam sangat itu akan dihubungkan dengan kelompok para
profesional dibanding kepemimpinan berhubungan bantuan yang disewakan, mungkin
akan lihat model-model dari pendidikan yang lebih tinggi atau dari
asosiasi-asosiasi profesional di dalam akuntansi atau perusahaan secara ilmu
bangunan, atau seperti organisasi pemeliharaan kesehatan dibanding seperti
pengaturan-pengaturan manajemen tenaga kerja Industrial (1990, P.22). Pandangan-pandangan
kompatibel dengan mereka yang Cuban (1988) yang meratap bahwa mengajar dan
sudah tidak lagi dipandang sebagai satu karier meskipun mereka bersifat di
suatu peran-peran pembagian sejarah umum yang umum. Cuban pengajaran
pandangan-pandangan sebagai pusat kepada administrasi penuh pengertian. Menurut
dia, dua gambaran mendominasi mengajar dan mengatur teknis dan moral dan mereka
berbagi tiga peran yang umum: managerial, dan politis. Sementara
gambaran-gambaran dan tingkah laku, lelah, habis, dan hampa di
pengaturan-pengaturan. Pengajaran dan administrasi dengan tak dapat dielakkan. Peran intervi adalah untuk mengajar,
tetapi ada unsur-unsur dari yang politis dan yang managerial. Peran yang
politis mendominasi dan mungkin untuk mengalami ketiga peran tersebut di dalam
ukuran secara relatif sama.
Cuban juga mengkaji arus perancangan
sekolah-sekolah dan sistem persekolahan seperti menghalangi menyediakan mutu
pendidikan kita semua menginginkan untuk anak-anak kita. Di dalam membedakan
antara para pemimpin dan para manajer, ia melihat para pemimpin seperti
orang-orang yang membentuk sasaran, motivasi-motivasi, dan tindakan-tindakan
dari orang lain selagi para manajer memelihara pengaturan-pengaturan arus
organisasi secara efisien dan secara efektif. Para pemimpin sering perubahan
permulaan untuk menjangkau sasaran baru dan yang ada menyeluruh arah manajemen
adalah terhadap pemeliharaan. Ia membantah sekolah-sekolah sebagai adalah para
guru tekanan media pers, para pemegang saham, dan pengawas-pengawas yang mengatur
dibanding memimpin, terhadap memelihara apa dibanding tentang apa yang bisa. Struktur-struktur
dari pendidikan yang diterima di sekolah dan insentif menguburkan di antara
mereka menghasilkan suatu sangat
mendesak managerial (Cuban, 1988, p.21). Cuban melihat otonomi seperti syarat
perlu untuk kepemimpinan untuk muncul.
Jacobson dan Conway (1990) antisipasi bahwa
pendefinisian ulang kepemimpinan bidang pendidikan akan mengakibatkan sepertiga
dari perubahan. Para pemimpin untuk Sekolah Amerika, laporan dari National
Commission pada Excellence di Educational Administration (1988), adalah precutsot dari usaha perubahan paling terbaru ini. Komisi
pengawas laporan, yang disponsori oleh University Council untuk Educational Administration,
alamat-alamat apa yang sekolah-sekolah harus jadinya, bagaimana mereka akan
dipimpin, dan kebijakan mengubah yang diperlukan berkenaan dengan menyiapkan
dan mendukung kepemimpinan sekolah. Pujian; rekomendasi nya untuk mengubah struktur dari sekolah-sekolah
termasuk hubungan-hubungan para guru dan pengurus-pengurus, persiapan
pengurus-pengurus bidang pendidikan, dan mereka. lisensi dan pekerjaan. utama
di dalam Leadership arus bidang pendidikan dikenali:
1.
Ketiadaan
definisi kepemimpinan bidang pendidikan yang baik,
2.
Ketiadaan
perekrutan pemimpin memprogram di dalam sekolah tersebut,
3.
Ketiadaan
kerja sama antara daerah-daerah sekolah dan universitas,
4.
Ketiadaan
minoritas-minoritas dan wanita-wanita di dalam ladang,
5.
Ketiadaan
pengembangan profesional yang sistematis untuk pengurus-pengurus sekolah,
6.
Ketiadaan calon-calon mutu untuk persiapan
memprogram,
7.
Ketiadaan
persiapan memprogram relevan kepada lapangan kerja dari pengurus-pengurus
sekolah,
8.
Ketiadaan
urutan, isi modern, dan pengalaman klinis sedang dalam persiapan
program-program,
9.
Ketiadaan
sistim untuk mempromosikan keunggulan.
10.
Ketiadaan
suatu pengertian yang nasional kooperasi di dalam menyiapkan pengurus-pengurus
sekolah.
Fuhrman, Elmore, dan Massell (1993). Juga telah
melihat bukti yang gerakan perubahan sedang menggerakkan intoa tahap ketiga
yang yang mereka dikenal sebagai "perubahan sistemik." Mereka
mengidentifikasi dua tema bahwa menandai tahap ini: (1) perubahan menyeluruh
bahwa memusat pada banyak aspek dari sistim,
dan (2) pengintegrasian kebijakan koordinasi di sekitar suatu himpunan
yang menyayangi dari hasil-hasil. Pertimbangan profesional lebih besar sedang
diizinkan di lokasi sekolah di bawah payung dari koordinasi yang dipusatkan.
Para pemimpin sekolah masa depan itu tidak
akan hanya adalah bekerja dengan seorang tubuh siswa dengan jelas yang berbeda
dari masa lampaunya hanya struktur organisasi dan profesional dan
hubungan-hubungan politis adalah juga nampaknya akan sungguh hubungan-hubungan
antara para guru dan pengurus-pengurus adalah nampaknya akan secara kolektif
dibanding otoriter. Para pemegang saham dan para guru mungkin mempunyai pertimbangan profesional lebih
besar banyak keputusan-keputusan secara formal dilakukan di daerah status
negara dan tingkatan-tingkatan pemerintah pusat ditinggalkan ke sekolah-sekolah
lokal, status negara, dan penguasa pemerintah pusat akan melanjutkan untuk
membuat parameter-parameter tertentu, bagaimanapun wakil-wakil orang tua dan
masyarakat mungkin untuk memiliki pengaruh yang lebih besar di organisasi dan
operasi sekolah tersebut melalui keanggotaan di dewan-dewan sekolah atau
melalui pilihan berkenaan dengan orangtua dari pendidikan yang diterima di
sekolah. Sebagai hasilnya, gaya kepemimpinan dan strategi yang bisa diterima
akan sungguh yang berbeda di masa datang dari apa yang mereka telah berada di
masa lampau.
Untuk membawa fokus kepada gerakan perubahan
yang bidang pendidikan, para Gubernur status negara bergabung dengan President
George Bush dalam tahun 1989 dan melafalkan enam sasaran nasional untuk
pendidikan yang publik yang untuk direalisasikan pada tahun 2000. Enam
sasaran, mula-mula yang dikenal sebagai "Amerika
2000" dan sekarang diberi label "Sasaran gol 2000" oleh
administrasi Clinton, dilaporkan di Table 33. Meski telah ada suatu perubahan
dari presiden-presiden karena 1989. Perubahan telah ada kecil di dalam
menyeluruh strategi yang haruslah dikenal bahwa ini mempunyai suatu usaha
bipartisan dan bahwa pejabat yang ada di dalam Gedung Putih apakah Chair dari
Asosiasi National Governors itu pada waktu Amerika 2000 prakarsa diumumkan
resmi dan berpengaruh di dalam membentuk desainnya.
National Education Goals Panel itu ditetapkan
untuk memonitor kemajuan yang sedang dibuat terhadap itu sasaran dan untuk
mengkoordinir usaha-usaha dari status negara dan organisasi-organisasi
nasional. Keanggotaan panel adalah secara politis seimbang membiarkan dua
anggota kepada delapan gubernur hanya sebanyak tiga yang bisa dari pesta (pihak
kepunyaan President), dan empat anggota Congress ditugaskan oleh para pemimpin
mayoritas dan minoritas House dan Senate. Semua anggota mempunyai pemungutan
suara mengistimewakan.
Dalam 1991, Goals Panel bekerja sama di dalam
ciptaan National Council di Education Standards dan Testing dan menguasakan
ujian, rekomendasi untuk nasional dan berhubungan sistem dari penilaian siswa.
Goals Panel itu merasa terikat dengan lima perubahan pemandu standards-based:
1.
Pengembangan
standar di seluruh negara adalah sangat inklusif, mencampur pengetahuan kelas
ahli dengan apa yang ada pada dan kalayak ramai.
2.
Patokan
harus tidak dipertimbangkan
3.
Patokan
harus ia dengan sengaja; seksama menetapkan pada mengukur.
4.
Patokan
yang harus dipandang sebagai, tinjauan ulang hal sangat berkala dan
5.
Pentingnya
patokan-patokan yang di seluruh negara harus (dengan) jelas dan secara efektif
kepada Amerika itu orang-orang (National
Education Goals Panel. . 1993, p.xiv.).
Sasaran 2000: Mendidik Amerika Berbuat
sesuatu, "Menetapkan dalam 1994, mendirikan suatu National Education
Standards dan Improvement Council untuk mengembangkan ukuran-ukuran dan suatu
proses untuk tinjauan ulang dan menyetujui patokan-patokan di seluruh negara.
Tiga tema yang luas menandai-pendekatan di seluruh negara ini untuk diubah
menjadi pembaharuan pendidikan harus sistemik milik bangsa tersebut kesanggupan
untuk pembaharuan pendidikan harus jangka panjang dan untuk mencapai sasaran,
negara, lokal, dan pemerintah pusat harus forman pendidikan, semua ini, peran
yang pemerintah pusat dilihat sebagai seorang pemimpin, mitra, dan katalisator
untuk perubahan yang sistemik dengan menaikkan sumber daya langka terhadap
negara dan prakarsa-prakarsa lokal dengan dampak yang luas dan manfaat jangka
panjang" (National Education Goals Panel,
1993, Hal:186). Daerah-daerah Negara dan sekolah akan diwajibkan untuk
isi kurikulum dan kinerja siswa seperti juga patokan-patokan kesempatan untuk
belajar untuk memenuhi persyaratan untuk bab pemerintah pusat 1 jo dana.
Sementara gerakan perubahan sedang mengalami
satu jumlah yang tidak biasa dari koordinasi yang sukarela di tingkatan
nasional, kebanyakan dari tindakan membawa menempatkan di status negara, daerah
sekolah, dan sekolah mengukur. Contoh terbaik dari perubahan yang sistemik di
dalam status negara dari Kentucky di mana semua unsur-unsur dari sistim
pendidikan telah dimodifikasi termasuk penguasaan dan keuangannya. Sistem persekolahan
Chicago sedang mengalami suatu wujud yang radikal penempatan desentralisasi policymaking otoritas dalam kekuasaan
meletakkan papan/meja yang dikendalikan yang dihubungkan dengan sekolah-sekolah
yang individu. Michigan sudah menghapuskan pajak kekayaan yang lokal seperti ketika
sumber utama dari dukungan keuangan dari sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah
piagam telah disahkan di dalam sedikitnya lima negara dan sejumlah busur
lingkaran/lingkungan negara yang mengadakan percobaan dengan dibatasi
rencana-rencana voucher. Berbasis
pengelolaan tapak adalah acara hari ini dan terus meningkat negara
daerah-daerah sekolah sedang membiarkan pilihan keluarga dari pendidikan yang
diterima di sekolah.
Ada juga meningkatkan keterlibatan dari
sektor swasta berkesempatan mendapatkan dukungan dari sekolah negeri. New
American Schools Development Corporation itu dibentuk oleh para pemimpin bisnis
Amecan Pada Bulan Juli dari 1991. Di paling ulangnya dari President Bush. Tujuan dari korporasi itu ke pertanggungkan
desain dan implementasi suatu generasi yang baru sekolah-sekolah. Itu sudah
berjanji untuk menaikkan 150 juta dollar amerika dari sumber pribadi antara
1991 dan 1996 untuk membiayai usaha 103 juta dollar amerika telah diangkat january
1994. Sebagai jawaban atas panggilan untuk nya, 686 regu desain menjawab dari
pengembangan atas suatu lima periode tahun lebih lanjut. Ukuran-ukuran
penolakan untuk seiection adalah kemungkinan bahwa suatu desain akan
memungkinkan semua siswa untuk menjangkau sasaran pendidikan yang nasional dan
mencapai standar kelas dunia (Olson, 1992).
Para anggota sektor swasta itu adalah juga
bekerja dengan cara-cara lain untuk mempromosikan dan untuk beruntung dari
perubahan sekolah. Usaha-usaha mereka mencakup dari partnerships bisnis sekolah
sampai menciptakan dasar dan percayakan kepada prakarsa-prakarsa bersifat
usahawan sama sekali palsu. Yang paling besar dari yang belakangan sudah
diluncurkan oleh pelaku bisnis Tennessee dan tokoh terkemuka media, Chris
Whittle. Edison dan proyeknya yang sedang bergerak di depan dengan maksud dari
suatu rantai dari karena sekolah swasta keuntungan untuk beroperasi di dalam
wilayah perkotaan ke seberang negeri 560 juta karena fase desain itu sedang
berasal dari Whittle Communications, L.P., dan pemilik-pemilik nya yang utama
Time-Warner, Inc., Phillips Electronics berbasis Belanda, N.V, dan
British-based Associated Newspapers Holdings Ltd. Benno C.Schmidt, Jr.,
presiden dari Universitas Yale berhenti posisinya pada Yale untuk memimpin
usaha.
Spekulasi-spekulasi lain ke dalam pendidikan
yang publik oleh pribadi untuk perusahaan keuntungan termasuk oper ation di
bawah kontrak dari sembilan sekolah Baltimore dan Bab 1 mengajar privat program dewan sekolah
Minneapolis sudah menyewa suatu pribadi dengan teguh untuk menjalankan sistem
persekolahan sebagai pengganti suatu pengawas yang tradisional. Di Chelsea,
Massachusetts, sekolah tersebut sudah menyerahkan ginjal itu kepada Boston
University di bawah kontrak.
Sungguh-sungguh, ada banyak perhatian atas
mutu sistim dan keterlibatan kita yang bidang pendidikan yang mempunyai untuk
kesejahteraan/kesehatan kita yang masyarakat. Perhatian sudah menghasilkan
banyak debat dan percobaan. Isu sasaran nasional, sebagai contoh, menaikkan
isu-isu banyak sekali kontroversial tambahan seperti standar nasional, suatu
kurikulum yang nasional, penilaian nasional, dan sertifikasi guru nasional. Ada
juga isu-isu dari keseimbangan antar pemerintah pusat, negara, dan
pemerintah-pemerintah lokal, antara penguasa profesional dan politis, dan
antara publik dan sektor swasta. Perubahan-perubahan struktural akan muncul
dari huru-hara yang ada, tetapi itu adalah terlalu awal untuk meramalkan
hanyalah apa mereka mungkin. Isu-isu yang terkait menghantam inti
Amtrican kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi. Orang-orang sekarang menyiapkan untuk mengasumsikan
peran-peran kepemimpinan di edue:triofl
mungkin untuk membelanjakan seluruh karier-karier mereka.
Lihat pada gejala-gejala dari rasa tidak enak
badan anti awal usaha-usaha yang dibuat untuk menunjuk mereka, kita perlu untuk
menguji sifat alami sistim pendidikan yang menghasilkan rasa tidak enak badan
karena ini adalah sistim baru di dalam mana harus mulai karier-karier mereka. Awal
dengan singkat menguji asal-muasal sejarah dari struktur yang ada sekarang dari
penguasaan sekolah.
3.4.
LINGKUP
DAN STRUKTUR DARI PENGUASAAN SEKOLAH
Di suatu analisis kritis dari pendidikan yang
publik di dalam pernyataan yang intensif dalam 1943, Morrison (1943) menunjuk
struktur nya dengan penuh penghinaan seperti (ketika "New England terlambat;
Almarhum Colrinial" (hal 258)
dan menggambarkan daerah sekolah tersebut sebagai "Suatu republik yang
kecil pada setiap persimpangan-persimpangan" (Hal 75). Morrison sedang
mengutamakan suatu karakteristik dari sistem dari pendidikan Amerika yang membuat publik yang unik di antara sistem
persekolahan dari desentralisasi dunia. Di sini kedua kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan. Sistem terpusat adalah lebih banyak ahli dibanding dengan
sangat yang dipusatkan dan mereka birokratis pada pengerahan energi-energi dari
unsur-unsur mereka dan mengadaptasikan kurikulum dan sistem intervi kepada keaneka ragaman
unsur-unsur mereka. Namun sistem desentralisasi mempunyai suatu kecenderungan
untuk menjadi yang tidak adil, menyediakan kualitas layanan yang tidak seimbang.
Sekolah-sekolah yang baik di suatu sistem desentralisasi cenderung menjadi
sangat, sangat baik; byt sistim yang
demikian juga generates-and tolerates-very sekolah-sekolah miskin. Sempurnakan
suatu derajat tingkat yang lebih besar dari hak kekayaan dan patokan-patokan
secara minimal sosial bisa diterima diatur memerlukan dari tingkat yang lebih
tingginya dari pemerintah, yaitu menyatakan andor pemerintah pusat. Ini
mempunyai sedang terjadi dengan meningkatkan frekuensi di atas lima puluh tahun
karena Morrison membuat analisa.
Perhatian kolektif di atas pendidikan formal
biji yang muda kepada permulaan penyelesaian orang Eropa dari Amerika Serikat
kontinental. Massachusetts terutama sekali berpengaruh di dalam menentukan pola
untuk pendidikan yang publik. Itu adalah Massachusetts Colony bahwa pertama
diperlukan orang tua untuk melatih anak-anak mereka di dalam membaca dan
menulis, kota-kota pertama yang diperlukan untuk menetapkan sekolah-sekolah,
pertama menyediakan dana kolonial penetapan dari sekolah-sekolah, dan pertama
diizinkan kota-kota untuk menggunakan pendapatan dari perpajakan harta untuk
mendukung pendidikan yang diterima di sekolah. dari ini tercapai di hadapan 1650. Kejadian ini,
bagaimanapun, harus yang ditafsirkan untuk memecahkan hubungan timbal balik
antara pemerintah dari Massachusetts Colony dan Congregational (Puritan)
Gereja. pemilikan Hak Pilih dan kantor dibatasi pada anggota gereja
[jantan/pria], suatu minoritas populasi yang total. Pajak kekayaan bahwa
mendukung sekolah tersebut juga, didukung gereja dan pendeta nya, "rumah pertemuan" bertindak sebagai
sekolah tersebut seperti juga gereja dan salam kota (Johnson, 1904). Hal ini
awal pola dari kendali masyarakat dari sekolah-sekolah di Mass. achusetts
meninggalkan cetakan nya atas organisasi pendidikan yang publik di dalam
Amerika Serikat hari ini meski koneksi antara gereja dan negara sudah
dipotong..
Beberapa dari pengarang-pengarang dari
Konstitusi Amerika Serikat dalam 1787 mempunyai kepercayaan-kepercayaan
dipastikan sekitar pentingnya satu keseluruhan penduduk yang dididik kepada
sukses dari republik yang baru. Tetapi .Konstitusi, tenang tentang pendidikan;
dan. Tenth Amendment itu kepada Perjanjian Hak Asasi Manusia meyakinkan bahwa
kuasa-kuasa tidak secara rinci mendelegasikan kepada pemerintah pusat itu adalah "yang terpesan kepada States
berturut-turut, atau kepada orang-orang." Tenggelam, seperti yang dikejar
ketetapan pendidikan yang publik di tingkatan status(negara. Di dalam Notes nya
di State dari Virginia, yang yang ditulis dalam 1781-1782, Jefferson (1968)
membantah ketika yang dipercayai 10 para penguasa dari orang-orang sendirian:
Orang-orang oleh karena itu hanya bank penerima deposito udara yang aman nya.
Dan untuk memandang bahkan mereka menyelamatkan, pikiran mereka jadilah Di
dalam mencari-cari dana tambahan untuk pendidikan dari New York Menyatakan
Badan pembuat undang-undang, Gubernur DeWitt Clinton (1909) mencatat pentingnya
sponsor negara pendidikan di suatu demokrasi:
Tugas yang pertama dari. dan bukti surest
dari pemerintah yang baik, adalah encow'agemeni pendidikan. Suatu jenis
pengetahuan adalah pendahuluan, tanda dan pelindung dari yang pendukung
republik dan di dalamnya kita harus mempercayai ketika couseruagice
menggerakkan bahwa akan watcb cver kebebasan-kebebasan kita. melawan terhadap
penipuan, kebusukan dan kekerasan.
Di suatu penawaran yang putus-asa dalam 1834
untuk selamatkan perundang-undangan sekolah yang ditetapkan baru-baru saja dari
pencabutan dari pemotong-pemotong pajak, Thacideus Stevens (1900), secara penuh
sadar akan hal luar pendidikan yang publik, yang dinyatakan dengan sederhana
yang umum yang untuk direalisir dari pajak Stevens meneruskan perjalanan
kekoneksi antara pendidikan dan pencegahan kejahatan dan berargumentasi bahwa nya
adalah lebih bijaksana. lebih murah dan lebih peramah untuk membantu "yang
pergi untuk mendukung sesama manusia nya dari menjadi suatu penjahat, dan untuk
menyingkirkan keperluan penghinaan itu lembaga; institusi." Ini adalah
suatu tema yang biasanya diulangi bahkan hari ini.
Jadi; Dengan demikian, dari permulaan negeri,
sosial pentingnya pendidikan dikenal oleh sebagian dari para warganegara paling
yang berpengaruh nya dan ketetapan nya dibuat dengan sengaja; seksama suatu
fungsi negara, bukan pemerintah pusat. Kendali terpusat pada status(negara atau
tingkatan-tingkatan pemerintah pusat bukan feasthle di dalam berabad-abad ke
sembilan belas dan kedelapanbelas oleh karena pembubaran populasi, makna yang
primitif komunikasi, dan yang umum ketiadaan sumber daya. Daerah sekolah
tersebut ditemukan untuk menciptakan dan mengatur sekolah-sekolah di bawah
kondisi-kondisi ini. Cubberley (1947) menafsirkan menyebarnya konsep daerah
sekolah tersebut di seluruh negara.
Sebagai satu yang administratif dan pajak menjadi
layu nya yang sungguh disesuaikan untuk kebutuhan-kebutuhan dan kondisi-kondisi
yang primitif awal hjfe nasional kita. Antar suatu populasi jarang dan penyair
pedesaan aktip kerja, antara pergaulan/perhubungan yang dibatasi dan komunikasi
satu dengan lain sulit, dan dengan yang dukungan dari sekolah-sekolah adalah
sebagai dokter hewan satu pertanyaan yang belum mapan, lokal, kendali menjawab
suatu kebutuhan Kesederhanaan dan dari sistim itu adalah satu tentangnya
pemimpin pantas menerima atau lingkungan-lingkungan yang ingin dan mau membayar
mereka bisa dengan mudah temu dan suatu daerah sekolah, suara untuk mengadakan
suatu sekolah pajak atas mereka sendiri. pekerjakan suatu teacber dan
mengorganisir dan memelihara suatu sekolah. Sebaliknya. masyarakat-masyarakat
yang tidak menginginkan sekolah-sekolah atau enggan untuk mengenakan pajak diri
mereka bagi mereka dapat melakukan, dan menyilahkan cuma-cuma gagasan sekolah
sendirian (pp. 212-213). poin-poin uraian Cubberley kepada satu sistim daerah
ketika uni versal pendidikan menjadi kebijakan dari suatu keadaan. Sistim
daerah bekerja baik bagi yang rela dan mampu, tetapi bagi mereka yang enggan,
tidak ada kepemimpinan itu untuk mengorganisir suatu daerah, dan bagi mereka
yang tidaklah mampu. tidak ada sumber daya. Ketidak-adilan sistim daerah
menjadi nyata bahkan selama periode yang kolonial, tetapi dengan meningkatkan
konsentrasi kekayaan modal dirough industrialisasi dan urbanisasi.
ketidak-adilan menjadi jauh lebih parah; sulit; keras; berat di dalam berabad-abad
yang keduapuluh dan ke sembilan belas.
Usaha-usaha untuk menunjuk ketidak-adilan ini
mulai di dalam abad yang ke sembilan belas melalui kekhilafan negara yang lebih
besar, permulaan bantuan dan dorongan dari konsolidasi daerah sekolah. Daerah-daerah
bahwa . menjadi ada, bagaimanapun. kesetiaan dengan cepat yang terlampir kepada
prestasi-prestasi mereka dan membutuhkan besar merasa bangga atas mereka dengan
hasil tiut mereka tidaklah mau mendengarkan kepada kritik dari usaha-usaha
mereka dari negara dan semua batasan menempatkan atas mereka. Mereka yang
bidang-bidang memilih bukan untuk mengoperasikan suatu sekolah umum dengan sama
resistan kepada yang eksternal pitssure untuk melakukannya, terutama ketika itu
melibatkan perpajakan.
Dalam satu usaha untuk menetapkan pesanan ke
luar dari kekacauan. nyatakan dewan pendidikan dibentuk dan yang dilengkapi
dengan satu petugas eksekutip. negara untuk mengambil tindakan seperti itu
adalah New York dalam 1812. Seperti kesaksian kepada sifat yang sensitip dari
posisi, Superintendent pertama milik New York yang Instruction melayani sampai
1821 ketika kantor itu dihapuskan. Suatu kantor yang serupa 'tidak diciptakan
di dalam New York sampai 1854. Horace Mann, Secretary yang pertama kepada Dewan
Education Massachusetts, menumbuk kesukaran yang serupa; bagaimanapun,
usaha-usaha untuk memecahkan kantor nya dan itu gagal. pergi daerah-daerah
sekolah pertama melalui konsolidasi itu di dalam kota-kota. 'Sementara Inggris
yang baru adalah dengan daerah-daerah sekolah mereka dari awal, ini tidak pada
umumnya benar dari kota-kota lebih barat. kota yang pertama untuk mempekerjakan
suatu dari sekolah-sekolah, bertindak sebagai suatu ilustrasi yang baik. Meski
itu mempunyai sekolah swasta sekolah yang pertama yang didukung oleh pajak
dibentuk dalam 1818. Oleh 1837, kota tersebut mempunyai 15,000 dan
daerah-daerah sekolah guru. Tahun itu. suatu pengawas dari sekolah-sekolah
ditetapkan untuk mensupervisi dan untuk mengkoordinir tujuh sekolah itu, untuk
menetapkan sekolah-sekolah di dalam kearah utara dari kota tersebut yang adalah
tanpa sekolah-sekolah, dan untuk menghidupi suatu sekolah menengah yang pusat.
Detroit, Chicago, dan Cleveland mengikuti pola-pola yang serupa. Beberapa
kota-kota di dalam daerah barat amerika melanjutkan praktek dari daerah-daerah
sekolah yang ganda di dalam kota tersebut membatasi.
Tradisi kendali lokal tetap kuat, hanya
ketidak-adilan yang tidak bisa dipisahkan dalam
kebijakan yang demikian adalah suatu penyebab utama dari sistim itu
(Kozol, 1991). Memuaskan perhatian-perhatian nasional bidang pendidikan selagi
mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan dan prioritas-prioritas lokal yang unik
tinggal suatu dilema.
3.5.
PENGUASAAN
SEKOLAH
Mempola penguasaan melembagakan suatu
jaringan sumber daya bidang pendidikan yang tersedia bagi masyarakat-masyarakat
sangat berbeda himpunan-himpunan berbeda dari sangat minat. Sementara
seluk-beluk bertukar-tukar dari status(negara untuk menyatakan, pola yang
dominan penguasaan bidang pendidikan yang sudah meningkatkan menyediakan lima
tingkat pengaruh pemerintah pusat, negara, , daerah-daerah sekolah, dan
Otoritas untuk membuat kebijakan dipusatkan pada dua tingkatan ini: daerah
negara dan sekolah tersebut.
Primer tingkat otoritas adalah negara,
seperti yang diwakili oleh badan pembuat undang-undang, gubernur, negara dewan
pendidikan dan pengawas, departemen pendidikan negara, dan negara meramahi.
Tingkatan ini bertanggung jawab atas menetapkan kebijakan dasar untuk sistim,
termasuk pembiayaan nya, dan mengatur dan mengkoordinir komponen-komponen nya.
Pertimbangan-pertimbangan struktural biasanya menghadiri kepada melalui
perundang-undangan formal yang disertai gubernur dan badan pembuat
undang-undang.
Kekhilafan dari hukum pendidikan di dalam
pertimbangan yang diizinkan didelegasikan kepada negara dewan pengawas
pendidikan dan negara dari sekolah-sekolah. Nyatakan dewan pendidikan paling
umum ditugaskan oleh para gubernur, walaupun beberapa terkenal dipilih. Di
Dalam New York dan Selatan Carolina mereka dipilih oleh negara legisLatures dan
di Washington, mereka dipilih oleh para anggota dewan sekolah lokal. Pemimpin
menyatakan petugas sekolah (CSSO) bertindak sebagai kepala dari departemen
pendidikan negara dan dalam banyak kasus adalah pimpinan eksekutive dari dewan
sekolah negara. CSSO itu adalah paling umum suatu pendidik yang profesional
ditugaskan oleh negara dewan pendidikan, meski dalam beberapa negara ia atau
dia ditugaskan oleh gubernur dan terkenal memilih di pihak lain.
Departemen-departemen pendidikan negara adalah para agen yang administratif
bahwa pesawat hukum pendidikan dari negara dan kebijakan-kebijakan dari dewan
sekolah negara. otoritas Berlatih negara mereka diatas pendidikan yang publik
melalui konstitusi-konstitusi laporan
umum mereka bahwa dalam beri otoritas badan pembuat undang-undang negara untuk
menetapkan suatu sistim dari sekolah negeri. Sebagai contoh, New Jersey
Constitution menyediakan bahwa negara akan menyediakan "efisien dan
saksama" sistim pendidikan. Sebagian terbesar, detil dari penguasaan
sekolah, yaitu., prosedur-prosedur untuk menetapkan, membiayai, dan mengatur
school-districts, sertifikasi guru, dll., dibentuk oleh anggaran dasar yang
ditetapkan oleh negara Legislatures atau peraturan-peraturan yang dibentuk oleh
negara dewan pendidikan; Ini mengizinkan negara banyak fleksibilitas di dalam
memperbaiki struktur-struktur penguasaan sekolah tanpa, lulus proses yang susah
perkembangan konstitutional. yang kedua tingkat otoritas adalah yang lokal yang
dipenuhi menerapkan kebijakan negara School daerah-daerah diatur oleh. dewan
pendidikan bahwa berfokus kepada penyerahan jasa bidang pendidikan. Kebanyakan
sekolah boardsare bebas secara fiskal. yaitu., mempunyai otoritas pajak
walaupun beberapa secara fiskal tergantung pada unit yang lain dari pemerintah
lçcal seperti kota tersebut atau daerah/propinsi. Timbunan sekolah, para
anggota pada umumnya dipilih di dalam, walaupun beberapa para anggota
ditetapkan, terutama di dalam kota-kota yang lebih besar. Salah satu dari
tanggung-jawab yang paling penting untuk menugaskan suatu pengawas dari
sekolah-sekolah untuk bertindak sebagai pejabat penanggungjawab dari daerah
sekolah tersebut dan untuk mensupervisi personil profesional dan dukungan nya.
Sekolah tersebut adalah unit operasi yang
dasar; tetapi tingkatan ketiga ini, sampai baru-baru ini, pertimbangan biasanya
kecil, sebagaimana yang dibatasi oleh kebijakan-kebijakan merumuskan pada yang
tingkat yang lebih tinggi. Cakupan pertimbangan di tingkatan sekolah adalah
mungkin untuk meningkat di masa datang seperti(ketika pengelolaan tapak sekolah
dan penguasaan ubah diterapkan. Pertimbangan ini mungkin tidak selalu
ditempatkan di dalam tangan-tangan profesional, bagaimanapun. [seperti] yang
telah mencatat, di Chicago, sudah dipercayakan ke tingkatan sekolah menumpang
itu mempunyai penyajian profesional, tetapi dikendalikan oleh meletakkan
orang-orang.
Unit daerah adalah eselon pertengahan di
dalam sistim suatu keadaan, bertindak sebagai satu lengan tangan dari negara
selagi melaksanakan jasa untuk bergabung daerah-daerah sekolah dari suatu
daerah. Organisasi nya aad penguasaan bervariasi dengan jelas dari negara untuk
menyatakan dan beberapa sistem negara tidak indude setiap unit. Itu pada
umumnya tidak memiliki langsung atau otoritas operasional di atas daerah-daerah
sekolah lokal, tetapi boleh memudahkan fungsi-fungsi negara pengatur. Itu
menyediakan pengawasan dan administratif tertentu berfungsi sebagai sumur
sebagai program-program dan jasa bidang pendidikan yang pengganti di mana
ekonomi substansiil dari skala dapat direalisir seperti halnya pendidikan
bersifat jabatan, pendidikan sungguh orang cacat jasmani, pengembangan staff,
dan jaringan informasi pemeliharaan dan sistem.
Yang ke lima tingkat penguasaan adalah
pemerintah pusat. Sementara Konstitusi Amerika Serikat tenang tentang
pendidikan, tanggung jawab sisa-sisa untuk itu kepada negara, dari waktu ke
waktu Congress mengerjakan lewat perundang-undangan di bawah otoritas nya untuk
menghidupi "Welfare yang umum,' pertahanan nasior, dan perlindungan
hak-hak warga negara. Office Education, lebih baru-baru ini diupgrade kepada
Department Education. diciptakan di dalam Executive Branch itu kepada hukum
adminiSter pemerintah pusat dan untuk statistik. Secretary Education, yang
memimpin Education, adalah ditugaskan
oleh presiden dengan persetujuan rapat besar. Retary itu adalah seorang anggota
presiden itu meramahi adalah diktator-diktator
Konstitusi Negara. Proses pengadilan mengenai
penghapusan perbedaan suku dan sekolah membiayai ketidak-adilan sudah
melibatkan kepada lembaga; institusi mengendalikan pemerintah pusat dari
siapapun depriving tentang hidup, kebebasan atau harta tanpa tiba proses dari
hukum" Segera sesudah itu diadopsi untuk meluas pengekangan ini kepada
negara. Perkembangan juga mengendalikan negara dan mereka, termasuk pejabat-pejabat sekolah,
dari orang perlindungan yang sama hukum."
Tidak seperti banyak negara-negara di dalam
dunia, religtously bergabung elementer dan sekunder tidak diizinkan untuk
menerima monies publik di dalam Amerika Serikat, meski anak-anak yang
menghadiri sekolah-sekolah seperti mungkin punya akses kepada jasa di depan
umum menyediakan terutama transportasi dan beberapa jasa yang mengganti rugi.
Dasar untuk pengecualian dana-dana negara ftr yang dengan taat diorientasikan
sekolah-sekolah adalah suatu penafsiran yang sempit oleh pengadilan-pengadilan
dari Pertama-tama Perkembangan yang negara itu "Konggres akan membuat
tidak ada hukum menghormati satu penetapan agama, atau melarang latihan yang
cuma-cuma daripadanya." Ketetapan ini negara tle dapat digunakan untuk
yang dibuat oleh Fourteenth Amendment; gubuk thany menyatakan Constitutions
mempunyai [ketentuan/perbekalan] mereka sendiri yang bersifat lebih sedikit
yang rancu, (dengan) jelas menyatakan larangan pemakaian dana-dana negara atau
kredit di dalam dukungan tentang segala aktivitas yang termasuk operasi
sekolah-sekolah, yang disponsori oleh kelompok-kelompok yang religius.
Variasi di dalam organisasi penguasaan
sekolah antar negara dan di dalam negara lebih besar dibanding diskusi tersebut
akan suggest4-1awaii adalah status(negara oni o berfungsi sebagai suatu unit
dan, dengan 165000 siswa. itu adalah lebih kecil dibanding sejumlah
daerah-daerah chv yang besar. Texas mempimpin negara dalam jumlah dari daerah-daerah
sekolah dengan 1,087. Dari thec. 1,061 secara fiskal trc yang mandiri. Lagi dua
puluh enam secara fiskal tergantung di
unit yang lain tersebut dari
pemerintah lokal menghidupi dukungan mereka yang keuangan. California mempunyai
1,028 daerah sekolah yang termasuk 271 yang
bersatu?dipersatukan (hidupi para murid di dalam semua kelas K-12), 645
yang operasikan sekolah dasar saja, dan 112 yang operasikan sekolah menengah
saja (Ikan salem. Dawson, Lawton. &Yohanes, 1988, p.44). (di) atas separuh
dari daerah-daerah sekolah california mendaftarkan/mengerahkan lebih sedikit
dari 500 murid.
Daerah-daerah sekolah kecil bukanlah hanya
suatu peristiwa dari daerah pedesaan yang remote; ada secara harfiah ratusan di
dalam kota-kota daerah/propinsi-daerah/propinsi utama melingkupi yang
metropolitan. Di dalam membagi-bagi masyarakat-masyarakat metropolitan, keaneka
ragaman besar ditemukan antar daerah-daerah sekolah dan kotamadya di dalam yang kesukuan mereka dan komposisi rasial
dan di dalam kemampuan mereka untuk
mendukung jabatan dalam pemerintahan. Meja 34 menggambarkan hal ini untuk
unit-unit yang terpilih di antara bagian-bagian Daerah/propinsi Los
Angeles; California (US. Departemen dari
Cornnierce, Kantor dari Census, 1992). Kotamadya ini tidak perlu coterminous
dengan daerah-daerah sekolah, tetapi suatu perbedaan yang serupa ada antar
daerah-daerah sekolah.
Pendapatan keluarga median bergerak dari
$22279 di Cudahy sampai S101,320 di Palo Verdës Estates. Populasi Cudahy
mempunyai suatu usia yang median 235 mobil;
30 -persen wei-e putih, 1 persen African-American dan 69 persen dari
yang lain rasial dan kelompok etnik. Sixtyeight persen (68%) dari populasi
orang dewasa dan 45 persen dari populasi usia sekolah tersebut berbicara bahasa
Inggris dengan kurang baik atau sama sekali tidak. Hanya 31 persen adalah
sekolah menengah lulus. Nilai tengah dari pemilik menduduki perumahan adalah
$153,500 dan sewa cOntract yang median adalah
Di dalam kontras. usia yang median itu tinggal di Palo Verdes Fstatcs wds -145
dan 85 persen putih. OnI)' 1 persen adalah AfricanAmerican dan 14 persen
mewakili kelompok minoritas lain. Thirty-foUr persen (34%) dari populasi yang
usia sekolah dan 38 persen dari populasi orang dewasa berbicara bahasa Inggris
dengan kurang baik atau sama sekali tidak. Hampir semua dari populasi orang
dewasa telah lulus dari sekolah menengah. Nilai tengah dari pemilik menduduki
perumahan selesai $500,000 dan kontrak yang median menyewa selesai $1,000 per
bulan dalam 1990.
Di examinIng meja . lebih lanjut, . lain
contoh-contoh dari pemisahan kesukuan dan yang socin-economic dengan mudah
ditemukan. Hawthorn menunjukkan keseimbangan terbaik antar kelompok etnik.
Sebaliknya, selagi 11 persen dari populasi daerah/propinsi adalah
African-American, kurang dari 3 persen dari populasi di Agoura Hills, Artesia,
Beverly Hills, Palo Verdes Estates, Cudahy, dan Baldwin Park adalah
African-American. Sementara 59 persen dari populasi daerah/propinsi putih yang
digolongkan, (di) atas 90 persen dari populasi di Agoura Hills dan Beverly
Hills bersifat putih. Thirty-two persen (32%) dari populasi daerah/propinsi
digolongkan sebagai '. lain," tetapi persentase menjangkau hampir 70
persen. di Cudahy. Dengan sekolah negeri dari daerah/propinsi membagi di suatu
pertunjukan yang serupa, idaman dari pendidikan yang diterima di sekolah yang
terintegrasi atau yang umum adalah sulit untuk diwujudkan?menyadari.
Suatu kebijakan yang berbeda dari banyak
organisasi daerah sekolah dibanding California's, hanya lebih sedikit yang umum,
digambarkan oleh Maryland. sekolah Maryland. disrrkts busur
lingkaran/lingkungan yang diorganisir oleh daerah/propinsi dan Kota Baltimore.
Itu mempunyai 24 sekolah disthcts, semua yang secara fiskal tergantung.
Daerah/propinsi organizadon berlaku di dalam. bagian tenggara regio dari
negeri; Florida, sebagai contoh, mempunyai 6scally daerah-daerah sekolah yang
mandiri dan Alabama mempunyai 129 daerah-daerah sekolah secara fiskal
tergantung. Beberapa negara yang barat juga mengikuti suatu pola yang regional
dari organisasi daerah sekolah. Nevada mempunyai 17 daerah-daerah sekolah
secara fiskal yang mandiri, dan Wyoming mempunyai 49 daerah [di/yang/ttg] mana
10 bebas secara fiskal (Ikan salem et al., 1988). Ada sangat sedikit
ketidaksamaan antar daerah-daerah sekolah sejauh keuangan dan oker proyisioris
di dalam negara daerah-daerah siapa diorganisir sepanjang bentuk
daerah/propinsi dibanding di dalam daerah-daerah status(negara siapa
diorganisir ke dalam unit-unit subcountv.
Hari ini mewakili; menunjukkan ekonomi utama,
sosial, dan komitmen-komitmen budaya di dalam Amerika Serikat. Belanjaan
tahunan di elementer dan sekolah menengah yang publik adalah tentang seperempat
dari suatu dolar-dolar yang trilyun, pembuatan pembelanjaan-pembelanjaan untuk
pendidikan komponen budgeter tunggal paling besar dari status(negara dan
pemerintah-pemerintah lokal (NCES, 1989). Empat dan three-tenths persen (43%)
dari Produk Domestik Kotor (GDP) dibelanjakan di elementer preprimary dan
pendidikan yang diterima di sekolah sekunder di dalam pribadi dan sektor publik
kombinasikan (36 persen di dalam sektor publik sendirian) bandingkan dengan 26
persen di Jepang dan Jerman, 33 persen di dalam Kerajaan Inggris, 35 persen di
Prancis, dan 38 persen di Canada (NCES, 1993c, p.140j. Sekolah-sekolah
mendaftarkan/mengerahkan 47,600,000 murid (NCES, 1993a, p.37) dan mempekerjakan
hampir 45 juta personil pendidik dan dukungan profesional (NCES, 1991a, p.ii).
Dalam 1985, daerah sekolah mempekerjakan 265 persen dari semua workers-more
yang publik dibanding yang manapun status(negara atau pemerintah pusat.
Termasuk para murid yang didaftar, tentang nya di dalam setiap lima orang di
dalam Amerika Serikat dilibatkan secara langsung di dalam elementer formal dan
pendidikan sekunder.
Gambar 33 menunjukkan trend yang nasional di
dalam sumber pendapatan untuk elementer yang publik dan pendidikan sekunder
untuk periode 1890 sampai 1990. Dalam 1890, 79 persen dari pendapatan untuk
sekolah negeri berasal dari sumber lokal, terutama pajak kekayaan. Negara menyediakan
sisanya. Oleh 1988, 47 persen dari pendapatan sekolah yang l)ubLic disediakan
oleh negara, 47 persen datang dari sumber lokal, dan 6 persen dari pemerintah
pusat. Tahun puncak untuk keikutsertaan pemerintah pusat di dalam pembiayaan
sekolah negeri adalah 1979 dan 1980 ketika itu menyediakan 98 persen dari
pendapatan mereka (NCES, 1993b, p.32).
Gambar 34 menunjukkan trend di dalam
mengoperasikan pembelanjaan-pembelanjaan per pupi[ untuk sekolah negeri karena
1971 di dalam arus dan di dalam dollar konstan menyatakan dalam kaitan
dengan?dengan menggunakan istilah 1992-93 daya beli. Di dalam dolar-dolar yang
ada, per pembelanjaan-pembelanjaan murid sudah meningkat (di) atas enam belas
[kali] lipatan dari S32() dalam 1971 sampai 55149 dalam 1993. Mempertimbangkan
barang kepunyaan inflasi, pembelanjaan-pembelanjaan sudah meningkat (di)
atas 5 kali dari $960 ke $5,149 (NCES,
1993a, p.46). Pembelanjaan meningkatkan antara 1950 dan 1970s yang terlambat;
almarhum buka peluang belanjaan bidang pendidikan untuk bisa seiring dengan
inflasi dan untuk mempertimbangkan ahli penting-grana cansions dan
perbaikan-perbaikan. Dedine yang sedikit di dalam dollar konstan pada awal
1980s (lihat Gambar 34 menandai (adanya) menurunkan habiskan. ing untuk
sekolah-sekolah sehubungan dengan peningkatan-peningkatan di dalam biaya hidup;
pertumbuhan pembelanjaan untuk pendidikan yang publik sekali lagi sudah
melewati inflasi sejak.
Data di pendaftaran-pendaftaran publik dan
sekolah swasta dipertunjukkan di dalam Gambar 35 untuk periode 1970-1989 dengan
proyeksi kepada 2001. Pendaftaran sekolah negeri di tingkatan yang dasar (K-8)
adalah di puncak mereka dalam 1970 hampir 33 juta murid; tingkatan sekunder
(9-12) pendaftaran mencapai puncak dalam 1976 pada 143 juta. Kemunduran yang
berikut di pendaftaran-pendaftaran elementarv membalikkan dalam 1985, dan
miliki sedang meningkatkan karena. Pendaftaran-pendaftaran sekunder mulai
meningkat lagi; kembali dalam 1991 (NCES, 1993c, p.321).
Pendaftaran di dalam kelas-kelas yang dasar
mencapai puncak dalam 1964 untuk sekolah swasta pada 45 juta; mereka sekarang
ini pada sekitar 43 juta :rnd diproyeksikan untuk bangkit kembali kepada 45
juta pada akhir abad. Pendaftaran di bunga mawar tingkatan yang sekunder kepada
14 juta selama periode 1981-1984, tetapi sejak itu telah merosot kepada 12
juta. Pendaftaran-pendaftaran sekolah swasta sekunder diproyeksikan untuk
menjangkau 14 juta lagi; kembali awal di dalam millennium yang baru. Persentase
of,,pupils mendaftarkan sendirian sekolah-sekolah sudah tinggal antara 10 dan
12 persen untuk periode 1970-1990 (NCES, 1993c, p.321).
Meski banyak ketakutan satu kepergian banyak
orang dari para siswa dari publik ke sekolah swasta, tidak ada bukti yang ada
bahwa ini kejadian. Persepsi pertumbuhan
sekolah swasta bisa disebabkan oleh komposisi pergeseran pribadi.
pendaftaran-pendaftaran sekolah. Dalam 1966, 875 persen dari 6.369.807 murid
sendirian sekolah-sekolah didaftar di sekolah-sekolah Katolik; oleh 1983, hanya
571 persen dari 5,305,041 murid sekolah swasta adalah dalam sekolah-sekolah yang sedemikian ( Tukang
tong, 1988). Pendaftaran di sekolah-sekolah Katolik sudah meneteskan?jatuh 46
persen selagi meningkatkan 186 persen di dalam sekolah-sekolah yang tidak katolik.
Pendaftaran di dalam sekolah-sekolah evangelis mendekati satu juta dalam 1983,
satu peningkatan karena 1966 dari 627 persen. (di) atas separuh dari sekolah
swasta dan 28 persen dari pendaftaran-pendaftaran mereka dihubungkan dengan
Protestan gereja-gereja dalam 1983.
Untuk melayani 45 juta murid di muka umum
sekolah-sekolah. daerah-daerah sekolah lokal mempekerjakan padanan fulltime
(FTH) dari 44 juta orang [di/yang/ttg] mana 23 juta adalah para guru kelas. Ada
477,000 intervi mendukung personil termasuk ajudan-ajudan, penasihat-penasihat
bimbingan, dan pustakawan-pustakawan dan 200,000 pengurus dan para penyelia.
Kesekretariatan dan pekerjaan klerk, media persànnel, driver bus, para petugas
keamanan, para pekerja rumah makan, dll. jumlah hampir 14 juta.
Pientage dari staf total yang adalah para
guru kelas meneteskan?jatuh dari 70 persen dalam 1950 sampai 53 persen dalam
1989. Proporsi pengurus-pengurus di dalam .1989. apakah 45 persen; staf
dukungan profesional hanyalah di bawah 11 persen dan staf dukungan lain, 32
persen.. Proporsi karyawan profesional. para guru dan administrator5 miliki.
Dikurangi dari tahun ke tahun selagi proporsi personil dukungan yang tidak
bersertifikat sudah meningkat dari 23 persen dalam 1950 (NCES, 1990, p.88).
Meskipun pendaftaran-pendaftaran kemerosotan
di muka umum sekolah-sekolah karena 1971, nomor yang total pendidik-pendidik
profesional sungguh telah diningkat. Ini sudah menghasilkan suatu kemunduran
yang berkesinambungan di perbandingan-perbandingan PUPIl/Professional dari 256
sampai nya di dalam 1961 sampai 172 sampai nya dalam 1990. Ada suatu penurunan
yang sesuai ukuran kelas yang median (NCES, 1988a, pp. 102-103). Statistik ini
dilaporkan di Table 35.
Merosot pendaftaran-pendaftaran murid
mengumumkan masa surplus guru dan memperlemah dukungan untuk pertumbuhan di
dalam gaji guru. Trend di dalam gaji guru, 1960-1992, ditunjukkan di dalam
Gambar 36. Sementara gaji guru rerata tetap naik dari $10,174 dalam 1973 selama
pendaftaran-pendaftaran puncak ke(pada $34934 dalam 1992, daya beli mereka
tidak bisa seiring dengan inflasi untuk sebagian besar periode. Yang dinyatakan
dalam kaitan dengan?dengan menggunakan istilah daya beli dollar dalam 1992,
1973 gaji adalah setara dengan $33,345. Dari titik bahwa tinggi, daya beli
rerata, gaji guru merosot ke(pada suatu yang rendah dari $28,577 dalam 1981
ketika kecenderungan itu dibalikkan
(NCES, 1993a, p.419). Salaçies menyetorkan ke rekening 1992 yang diwakili suatu
nilai tertinggi baru di dalam daya beli guru. Meskipun semua guru di dalam
suatu daerah sekolah normalnya dibayar menurut suatu jadwal gaji, para guru
sekunder rata-rata tentang $1400 lebih dari (sekedar) para guru yang dasar di
dalam gaji yang mencerminkan pendidikan mereka yang formal lebih besar dan
merasakan. Gaji permulaan rerata dalam 1992 adalah $23,054. melebihi pembelian
kuasa(tenaga tentang segala periode yang sebelumnya. Dengan
pendaftaran-pendaftaran increasirig dan dengan meningkatkan angka-angka dari
pensiun-pensiun dari para guru dalam jabatan, permintaan untuk para guru yang
baru adalah mungkin untuk melanjutkan untuk bersifat kuat untuk sisa dari gaji
abad dan guru perlu melanjutkan untuk meningkatkan pada satu tingkat yang di
atas rata-rata.
Keaneka ragaman antar bagian-bagian politis
di tingkatan lokal dan dampak nya atas hak kekayaan di dalam ketetapan peluang
bidang pendidikan untuk anak-anak telah dibahas di atas. Ketidak-adilan itu
ditambah(diperparah oleh suatu pola yang serupa antar negara. Ini digambarkan
oleh 1992 statistik melaporkan di Table 36 untuk lima puluh negara. Variasi di setiap
dimensi: ukuran, kekayaan, pembelanjaan, dan usaha. Pendaftaran-pendaftaran di
dalam sistem persekolahan status(negara mencakup dari (di) atas 5,700,000 di
California kepada 105,000 di Vermont dan Wyoming. Per kapita pendapatan
pribadi, suatu ukuran kaya atau kemampuan untuk mendukung jabatan dalam
pemerintahan, cakupan-cakupan dari $26,677 di Connecticut sampai $13,740 di
Mississippi. Status(negara dengan yang paling rendah per pendapatan murid
adalah Mississippi pada $3,007; Arkansas hanyalah sedikit lebih baik pada
$3,095. Tidak termasuk Alaska, figur-figur siapa - disimpangkan oleh satu tidak
biasa mahal tentang tinggal, status(negara belanjaan yang paling tinggi adalah
New:Jerseyat $7,887-nearly S500() per murid -lebih dari (sekedar)
Mississippi dan Arkansas. Lagi; kembali tidak
termasuk Alaska, rata-rata gaji guru mencakup dari S48,229 di Connecticut
sampai $23,644 di Selatan Dakota: Perbandingan pupil/teacher adalah paling baik
di dalam New Jersey dan Vermont pada 138 sampai nya; paling sedikit yang baik
di Utah pada 249 sampai satu yang diikuti oleh California pada 228 sampai nya.
National Center untuk Education Statistics
(NCES, 1993c, p.397) ukuran menyatakan usaha untuk mendukung pendidikan publik
oleh rasio pendapatan sekolah negeri per murid dalam hubungan dengan per kapita
pendapatan. Perbandingan ini, yang disebut indeks dari Pendapatan Sekolah
Negeri, diperkenalkan di dalam kolom tangan kanan dari Table 36. Itu
mencerminkan apa yang dibelanjakan di sekolah negeri rerata Student sehubungan
dengan kesanggupan untuk membayar yang khas wajib pajak .(p. 138). Menurut
indeks, Alaska mengusahakan usaha yang terbesar pada 38,2 yang diikuti oleh
Vermont pada 349 dan Wyoming pada 345. Tennessee membuat usaha paling sedikit
pada 200. Perbandingan melaporkan .Wyoming dan Alaska bisa dipompa oleh suatu
proporsi yang tinggi minyak yang menghasilkan harta, pajak yang di atasnya
diekspor untuk meminyaki konsumen-konsumen di dalam negara yang lain dan tidak
mencerminkan pajak acmally yang dibayar oleh penduduk-penduduk dari Wyoming dan
Alaska. Dari 1930 sampai 1972, indeks yang nasional meningkat dengan 117
poin-poin, lebih dari (sekedar) penggandaan. Dari 1972 sampai 1985, indeks itu
tinggal yang relatif stabil, berkisar antara 21 dan 23. Sejak itu, indeks sudah
meningkat 30 poin-poin atau sekitar 135 persen.
Di dalam bagian ini, kita sudah menggambarkan
konteks yang struktural pendidikan di mana para pemimpin hari ini harus
berfungsi. Pola umum dari penguasaan sekolah di luar kota-kota kita(kami yang
utama adalah satu kecil, pemerintahan sendiri daerah-daerah sekolah yang fungsi
di dalam parameter-parameter umum menyimpan status(negara dan pemerintah pusat.
Karakteristik-karakteristik sosial dan kesukuan dari ekonomi, populasi-populasi
daerah sekolah cenderung menjadi secara relatif homogen di dalam
batasan-batasan mereka, hanya sangat berbeda ke seberang batasan-batasan.
Meskipun dekade-dekade dari usaha-usaha legislatif dan hal tentang pengadilan
untuk menghapuskan perbedaan suku sekolah tersebut dan membuat distribusi
sumber daya lebih, tradisi kendali lokal ini sudah mengabadikan keadaan tetap
pada suatu saat tertentu. Mengoreksi arus yang tidak adil dari sumber daya
selagi memelihara vitalitas.
Apakah Anda percaya bahwa mereka mewakili;
menunjukkan tantangan-tantangan yang paling penting kepada sekolah negeri di
dalam Amerika Serikat hari ini? Adalah mereka yang terjangkau oleh tahun 2000?
Apa yang berubah akan harus buatan .dll.. mentarv dan sekolah menengah dari
Amerika Serikat jika sasaran ini (atau sasaran yang anda berpikir lebih
penting) adalah untuk direalisir?
Pilihan Amerika adalah suatu produk The
National Center di Education dan Economj; suatu organisasi not-forprqfit yang
diciptakan untuk mengembangkan proposal-proposal fouilding satu pendidikan dan
pelatihan sstem .citfficteni untuk mendukung suatu ekonomi yang nasional yang
sangat kompetitif secara internasional This laporan memusat di meningkatkan
produktivitas bisnis-bisnis dan industri Amerika, dengan demikian melindungi
patokan tentang tinggal para warganegara Amerika. Commission mengamati bahwa
tidak ada bangsa sudah pernah; selalu menghasilkan suatu kekuatan pekerja
sangat berkwalitas u'itbout pertama menyediakan para pekerja nya dengan suatu
educalion umum yang kuat. Dua faktor dikenali sebagai berdiri di dalam U 'OP tentang menghasilkan suatu higblj'
educaied ii 'ork[orce: ketiadaan patokan ct'áear dari achieve,iwnt dan sedikit;
beberapa s(z(delzts moilvated untuk bekerja penyair di sekolah. Dokumen laporan
scrious,wss dari condiiio,z di mana Amerika Serikat menemukan iielf pujian;
rekomendasi hari ini dan buatan-buatan untuk estal,lith,aent standar prestasi
bidang pendidikan di tingkatan dan [alat; makna] nasional untuk memenuhi itu
srn,zdards.
Pendidikan Minggu adalah "surat kabar dari
pendidikan Amerika catatan." Itu riwayat-riwayat kejadian yang utama thai
mempengaruhi eJementai' dan secondaiy pendidikan sepanjang Amerika Serikat pada
semua tingkat dari pemerintah. Ini adalah suatu sumber acuan yang penting untuk
praktisi-praktisi dan para siswa bidang pendidikan yang ingin mengikuti
perkembangan [peristiwa; pemandangan] yang bidang pendidikan. Analisis dan
pendapat editorial yang mendalam tercakup di pemenuhan nya yang mingguan.
Buku berisi enam belas dokumen di
status(negara tbe dari sekolah negeri Amerika yang ditugaskan oleh Phi Delta
Kappa, pendidikan yang profesional frater"hr Keduanya kritikus-kritikus
sekolah dan pembela/pelindung-pembela/pelindung bersifat represeiited.
Penyokong-penyokong termasuk Mikhael Xi rst--a policr analis, Harold
Hod,gkinson-a deographer, Denis Doyle-a pendukung futurism dengan Hudson
Institute, Daud Berliner-a profesor pendidikan, Nathan Glazer-a sarjana
sosiologi, dan Albert Sbanker-President dari Federasi Amerika itu Teachers.
Sebagai tambahan terhadap mesin pengupas, buku merekam mendiskusikan ion
isu-isu menujukan dan conclusions tiba di. - Jacobson, S.L., & Berne, R.
Eds.). (1993). Memperbaiki pendidikan: Muncul pendekatan sys'temic. Ribu Pohon
ek, CA cotwin Press.
Para editor sudah merakit satu himpunan yang
internasional dari pendidik-pendidik, peneliti-peneliti, dan pemikir-pemikir
untuk menguji masa depannya dan saat ini perubahan bidang pendidikan, di
seluruh dunia. Potongan-potongan yang asli diorganisir ke dalam tiga bagian.
Part aku melihat perubahan sekolah iii United Slates. Bagian ini meninjau ulang
efektivitas dari insentif kinerja yang kerjasama, dci profesional elopmenl
memprogram untuk para guru, dc'ccn!ra!izalion. nuinage berbasis sekolah. mciii.
conn,liin,i' kendali dari sekolah-sekolah,
dan pilihan untuk unsur-unsur. Memisah[Kan Jika fokus-fokus di reftiriii
iniliatives luar negeri. Mereka termasuk: effoFts di ingland untuk
mendesentralisasi kuasa(tenaga pengambilan keputusan whik kurikulum
pemeliharaan nasional dan ascc'ss,nent 5 buritan; usaha-usaha Kanada untuk
menghasilkan "cbouls dengan [hati/jantung]" melalui
volunteerism; dan ('[[seni-seni
menyalakan suatu Jerman yang wzfied untuk ubah pendidikan ii, order(pesanan
untuk bisa seiring dengan politis radikal dan siuia1 trausformations.
Memisah[kan III mempertimbangkan; menganggap masa depan dari sekolah ubah untuk
memecahkan mengubah realifirS. Pengarang-pengarang mendiskusikan tingkat kepada
mana edu(w(irJIzal policj' dan praktek akan terus meningkat 1olliI&c'd. dan
like1' dampak praktis dari rliiuc'es mx sekolah-sekolah dan pendidik-pendidik.
sumber, kedua-duanya pemerintah dan pribadi, dan [menggambar/menarik] terutama
di hasil-hasil dari survei-survei dan aktivitas yang dilaksanakan oleh National
Center untuk Education Statistics. ft yang dibagi menjadi tujuh bab: .411
Levels Education, Elementer dan Secondary Education, Post-Secondary Education,
Progtams pemerintah pusat untuk Education dan Aktivitas-Aktivitas Yang
Berkaitan, Hasil-hasil Education, Internasional Education, dan Learning
Resources dan Technology. Ke(pada qua!i,fy untuk pemasukan, material harus di
seluruh negara di dalam lingkup dan [tentang] bunga(minat dan nilai yang ada.
Digest berisi informasi bermanfaat karena peneliti-peneliti pendidikan dan
pengurus-pengurus, pejabat, media, masyarakat bisnis, dan kalayak ramai.
Karena ciptaan nya Pada Bulan Juli 1990,
National Education Goals Panel sudah dibangun suatu catatan yang kumulatif
kemajuan milik bangsa tersebut terhadap pertemuan sasaran menetapkan pada Charlottesville
Education Summit dalam 1989. Pada puncak itu, para gubernur milik bangsa
tersebut dan President George Bush bermufakat enam sasaran nasional di dalam
pendidikan yang untuk dicapai oleh tahun 2000. Masing-masing tahun di hari
ultah dari Charlottesville Summit, Panel mengeluarkan suatu laporan yang
menyeluruh kepada bangsa tersebut di kemajuan itu menjadi buatan meraih
masing-masing dari sasaran. Tujuan laporan-laporan adalah ini untuk menguatkan
kesanggupan untuk sasaran memproses dengan pernyataan di mana kemajuan sudah
dibuat dan di mana lebih banyak kemajuan perlu untuk dibuat. Masing-masing
laporan tahunan consistsof dua volume: National Report dan State Reports.
Volume One melaporkan kemajuan untuk bangsa tersebut secara keseluruhan dan Volume'
Dua berisi suatu bagian yang terpisah untuk masing-masing menyatakan.
US. Depatemen Perdagangan, Kantor dari
Census. (1991). 1990 sensus populasi dan perumahan.
Washington, DC: US. Percetakan
Pemerintah. Masing-masing dekade suatu sensus yang saksama diselenggarakan b
AS. Departemen dari perdagangan dari karakteristik-karakteristik populasi milik
bangsa tersebut, termasuk notulen co,,dit di mana orang-orang tinggal. Data
dikumpulkan dilaporkan di dalam volume-volume yang terpisah pada tingkat pengumpulan
dan di var3'iilg amowits dari detil. Di verj' paling sedikit, memisahkan
voltunes ada tersedia karena masing-masing menujukan dan untuk masing-masing
bidang metropolitan utama. Di dalam masing-masing volume i,zforznation
disediakan untuk bagian-bagiannya yaitu C'ensus informasi menyediakan
pengurus-pengurus publik. termasuk sc!ool adminislrators, dengan informnauon
tentang masyarakat-masyarakat mereka yang untuk membuat keputusan-keputusan
kebijakan yang diberitahukan. Untuk peneliti, data sensus ada tersedia di tape
yang mnag,melic untuk komputer aalrsis di dalam mcb detil lebih besar dari 1m7
bentuk yang diterbitkan.
Komisi
pengawas Yayasan/Pondasi Gram di Work, Fanid v dan Citizenship. (1988). Yang
dilupakan separuh l'atbwars ke sukses untuk .4mcrica s vouth dan
jrmmzçfa,mmi/ies. Washington. DC: Pengarang. Mengenali kebutuhan dari anak
remaja yang lebih tua di suatu chan-ing socielr, W T Mewariskan(Mengabulkan
Yayasan/pondasi ('.cta!,!ishL'd conunission di lVork, Keluarga dan
t',itizemisbip dalam 1986. 411cr suatu Iwo-rear belajar, laporan itu akhir
diterbitkan didasarkan pada ,iunzerous [mengontrak/memendekkan]
sttha.zal','se.s, nta,zv [di/yang/ttg] mana adalah juga diterbitkan oleh
C'ommission.. Gommission itu tidak terlibat dalam riset baru, tetapi yang
dicari ke(pada pengetahuan cr-aluate yang ada. rangsang s,eu' gagasan-gagasan,
dan meningkatkan komunikasi antar peneliti, practit penyendiri-penyendiri, dan
policj mizakers. Fokus dari komisi
pengawas 's perhatian di 50 persen dari .4mnerican yang muda yang tidak
terus-kan ke perguruan tinggi. Komisi pengawas menyimpulkan bahwa ada terlalu
manusia' Orang Amerika muda yang menggelepar dan uhfsnatelj'fai! Di dalam usaha-usaha mereka untuk melayari jalan
lintasan dari yang muda ke kedewasaan. "Separuh dari yang muda kita(kami
dalam bahaya dari mahluk menangkap di suatu yang raksasa mengikat bahwa dapat
menyangkal mereka keikutsertaan penuh di dalam societ kita(kami dan manfaat
yang penuh dari bakat-bakat mereka sendiri" 6°. 1). Laporan menyediakan
pendukung dokumentasi bahwa statemen dan recommendat notulen kebijakan yang
dirancang untuk mencabut mengikat.
BAB 4
Dampak dari prinsip universal, harapan
sosial, dan nilai pribadi dalam kepemimpinan
Filsafat,
dalam arti yang paling luas, adalah
suatu usaha yang sistematis untuk dapat mengerti individu dan pengalaman
manusia secara kolektif (De George, 1982). Alat yang utama dari para cendekiawan
ahli filsafat itu adalah alasan. Etika adalah bagian dari filsafat yang terkait
dengan moralitas suatu kompleks dari individu terungkap bagaimana idealnya
berhubungan antara satu sama lain dalam situasi khusus, untuk prinsip dari
perilaku itu hubungan dan jenis penalaran yang terlibat dalam berpikir tentang
impian seperti itu dan prinsip (LM.Smith, 1990).
Pada
kenyataannya semua aktivitas kita terjadi dalam konteks keputusan tentang yang
baik dan jahat, benar dan tidak benar, atau lebih buruk dan lebih baik.
Perilaku, oleh karena itu, adalah suatu cerminan yang tetap dari kepercayaan
sekitar bagaimana dunia itu adalah tersusun dan keputusan dibuat, dan bagaimana
dan berdasarkan apa tindakan diambil secara implisit atau dengan tegas, pertimbangan
filosofis (Foster, 1986). Setiap orang mempunyai suatu pandangan yang filosofis
tentang hidup meskipun mungkin tidak telah secara menyeluruh dipikirkan melalui
dan melafalkan (Nyberg, 1974). Menjadi pemandu yang efektif pada perilaku yang
administratif, bagaimanapun, itu terbaik jika filsafat ini dipahami secara
intelektual. Pemahaman seperti itu mengizinkan seorang pemimpin untuk bertindak
secara konsisten dalam isu yang bersangkutan dan untuk mencerminkan dengan
kritis atas tindakan tersebut. Untuk alasan ini, adalah penting orang tersebut
dalam peran kepemimpinan belajar "untuk melaksanakan" filsafat
tersebut.
Menurut
Hodgkinson (1983), inti sari dari seni administrasi adalah manipulasi sasaran.
Ia melihat alasan untuk melakukan filsafat dalam bidang tindakan eksekutif
sebagai hal untuk memperoleh fakta bahwa pengurus menguasai tenaga mereka
membuat keputusan yang mempengaruhi orang lain. "Jika moralitas
ditafsirkan sebagai suatu perhatian untuk yang lain lalu kesimpulan ialah administrasi adalah suatu cara khusus
aktivitas moral" (p29).
Bidang dari tindakan eksekutip dan usaha
administratif yang menganut permintaan-permintaan buatan filosofis. Itu adalah
fungsi yang paling tinggi eksekutip itu untuk mengembangkan suatu pemahaman yang
mendalam tentang dirinya dan rekannya, pengetahuan tentang sifat manusia termasuk
motivasi tetapi jangkauan di luar ke dalam daerah berharga berbagai kemungkinan.
Pada tingkatan nya yang paling rendah, hidup organisatoris adalah semacam
pertempuran sehari-hari. Bahkan di sini bagaimanapun senjata yang paling
mematikan dalam administratif bersifat filosofis: ketrampilan logis dan
analisis kritis, sintese konseptual, analisis nilai dan komitmen, retorik yang paling
mendasar, pemahaman kedalaman sifat manusia. Jadi di dalam filsafat menjadi
hakekat yang praktis.
Persiapan
untuk memprogram ppengurus sekolah telah dikritik karena menekankan
organisatoris, tingkah laku, dan teori-teori managerial serta melalaikan
pertimbangan termasuk kultur, politik, akhlak, dan etika (Foster, 1986).
Cambron-McCabe (1993) melihat di sekolah yang memperdebatkan suatu tantangan
kepada perspektif yang technocratic yang sudah secara kebiasaan atau secara
tradisional menandai program persiapan administratif. Dia menunjukkan program
tradisional dalam mengajar pengurus organisasi yang bersifat structural dan
masuk akal, mekanisme yang beroperasi di suatu pertunjukan yang birokratis.
Program memfokuskan pada tugas operasional, administrator latihan sebagai pejabat
manajemen; pertimbangan moral, etis, dan menilai dimensi kepemimpinan. Dia
mengamati bahwa salah satu cara berpendirian dari usaha perubahan yang ada
untuk membuat yang kelihatan bahwa kepemimpinan melibatkan aneka pilihan moral,
tidak hanya satu kesetiaan kepada technicism (p157).
Sergiovanni
(1992) memegang suatu posisi yang serupa. Ia membebankan penekanan kekuasaan program
pada zaman ini di rasionalitas logik, obyektifitas pentingnya kepentingan diri,
ketegasan, ciri khas; dan detasemen menyebabkan kita melalaikan pentingnya
pengertian keanggotaan kelompok dan arti, moralitas, pengorbanan diri, tugas
dan kewajiban sebagai nilai tambahan. Kita perlu memandang perilaku
kepemimpinan dibanding tindakan, suatu psikologis, rohani dan gagasan" (p3). Untuk
mengalahkan penyimpangan ini, ia percaya bahwa perlu memberi lebih banyak
perhatian di dalam kurikulum yang berkenaan dengan persiapan pada konsep
otoritas profesional dan moral.
National
Policy Board for Educational Administration (1989) sudah merekomendasikan bahwa
kurikulum menyiapkan pengurus sekolah yang dirancang untuk menyediakan kerangka
dan instrumen untuk membantu para siswa di dalam menerapkan moral dan keterlibatan
etis pada keputusan yang mereka buat. Menurut dewan tersebut, para siswa
administrasi sekolah harus yang datang untuk memahami konsep dari wali publik
dan untuk menyadari bagaimana nilai mempengaruhi perilaku dan hasil.
Dewan
juga merekomendasikan bahwa para siswa perlu untuk didorong untuk menguji
sistem kepercayaan mereka sendiri, pertimbangan mereka yang kurang untuk
menjadi pengurus dan gambaran mereka dari misi pendidikan yang diterima di
sekolah sebagai suatu proses sosial.
Daresh (1988) menunjuk hal tersebut sebagai "formasi profesional
yang digambarkan sebagai satu usaha untuk memungkinkan perorangan untuk menjadi
sadar akan nilai dan asumsi nya yang pribadi mengenai peran Formal dari suatu
pengurus sekolah ( Daresh &Playko, 1992, p.54). Formasi profesional
menunjuk pertumbuhan dan pengembangan pribadi di dalam pelatihan pengurus
sekolah. Itu termasuk menasihati atau pelatihan oleh fakultas dan pengurus
universitas; identifikasi gayanya yang administratif dan berkepribadian, mampu
mengembangkan kemampuan dirinya untuk
mencerminkan di dalam tindakan, dan persiapan diri sendiri,berpendirian etis
dan moral yang baik.
Di
suatu keadaan serupa, Sergiovanni
(198-ib) menggunakan istilah "panggung" seperti artikulasi prinsip ke
dalam satu kerangka operasional. Panggung memerintah pandangan dan perilaku
seseorang itu tersebut mewakili; menunjukkan seperangkat ukuran-ukuran dan satu
patokan yang terkandung dari keputusan yang dibuat.
Di
dalam mempelajari trend di dalam perubahan dari persiapan pengurus sekolah
memprogram. Murphy (1993) menyimpulkan bahwa ada suatu perhatian umum dan yang
baru untuk termasuk etika di dalam kurikulum. Ia mengadakan hipotesa yang mendasari
perhatian ini adalah suatu yang dibagi bersama mengerti antar staf program
bahwa penilaian dan perilaku profesional tergantung pada penilaian dan perilaku
etis itu, pada konteks pekerjaan, keputusan praktis rutin dan keputusan etis
sering tak dapat dibedakan. Lebih secara rinci, program ini yang diperbarui
mengakui adanya fakta bahwa pengurus adalah contoh nilai dan tanggung jawab
para pemegang saham kepada para siswa mereka, para guru, dan masyarakat untuk
menyediakan kepemimpinan yang didasarkan pada satu cerminan etis yang
diberitahukan tentang pendidikan dan hidup publik. Murphy percaya bahwa,
kecuali jika Leaders mengembangkan suatu moral dan suara hati etis, mereka akan
mengalami kesulitan untuk membuat keputusan dan akan menghilangkan suatu
pengertian tujuan.
Di
dalam bab ini, kita memperhatikan pentingnya pertimbangan etis dalam praktek
kepemimpinan bidang pendidikan. Kita mulai dengan menguraikan memilih pandangan
filosofis dunia dan bagaimana mereka akan mempengaruhi perilaku eksekutip.
Lalu, juga pandangan dari perspektif ilmu sosial, kita berfokus kepada hirarki nilai
dan nilai yang sebagaimana mereka ditemukan di dalam individu dan organisasi.
Bagaimana para pemimpin meneliti dunia dalam konteks sistem nilai digambarkan. Pada
bagian yang akhir, kita menunjukkan bagaimana nilai dalam wujud metavalues
membentuk persepsi kenyataan di dalam para pemimpin organisasi dan tantangan
administratif untuk menerima itu sebagai
parameter nilai atau perubahan mereka untuk mengarahkan pada perubahan.
4.1. Panduan Filosofis
Pada Kepemimpinan
Tabel 4.1
Ringkasan keyakinan dari beberapa filsafat
terpilih pertanyaan filsafat secara mendasar dan jenis sekolah yang sangat
sesuai dengan keyakinan tersebut
|
Filsafat
|
Pertanyaan
|
|||
|
Idealisme
Liberalisme
Realisme, Postpositivisme
dan Positivisme Logis
Pragmatisme
Eksistensialisme
Teori Kritis
Konstruktivesme
|
Ontologi:
Apa yang merupakan sifat alami
dari "kenyataan?"
Gagasan-gagasan universal,
kronis, dan absolut yang melebihi pengalaman sehari-hari
Hukum universal berakar secara
alami, hak-hak yang dapat ditemui secara alami melalui ilmu pengetahuan
Realitas di dunia yang
diselenggarakan oleh hukum universal yang dapat ditemukan rengan penelitian
empiris
Kebenaran dapat diketahui
berdasarkan konsekuensi praktis yang merupakan hasil dari praktek sosial
Dunia sebagaimana dialami dan
diinterpretasikan oleh tiap individu; tidak ada hukum universal ataupun
prinsipil yang penting bagi manusia
Terdapat realitas kebebasan
dari eksistensi manusia, namun mungkin taidak dapat dipahami secara penuh
Secara sosial dan
eksperimental berdasarkan konstruksi mental dari orang yang memegangnya
|
Epistimologi:
Apa hubungan alami antara pengetahuan
dan yang diketahui?
Mengalami kehidupan di dunia
adalah suatu cerminan dari kenyataan, manusia terbagi dua secara alami secara
fisik dan spiritual, pemahaman diperoleh dari logika deduktif yang diangkat
dari pengalaman sehari-hari
Manusia dan aktivitas-aktivitas
fisik berjalans sesuai dengan hukum alam. Pemahaman diperoleh melalui
pengamatan secara rasional
Objectivist, nilai dipisahkan
dari kenyataan, manusia and interaksi fisik berjalan berdasarkan hukum
universal, pemahaman diperoleh berdasarkan verifikasi empiris dan metode
ilmiah
Pengetahuan diperoleh dalam
pikiran manusia berdasarkan pengalaman kolektif, pemahaman diperoleh
berdasarkan pemeriksaan rasional/ metode ilmiah
Arti dan tujuan dapat
ditemukan pada setiap individu berdasarkan pilihan bebas mereka, pemahaman
diperoleh berdasarkan introspeksi untuk panduan dan arahan
Subjektivits; nilai-nilai dari
pemeriksaan mediasi; paradigma merupakan bentukan dari manusia; pemahaman
diperoleh berdasarkan proses dialog dan transformatif
Subjektivits; nilai-nilai dari
pemeriksaan mediasi; pemahaman diperoleh berdasarkan proses dialog antara
pemahaman pribadi dan yang ditemuinya
|
Nilai-nilai:
Konsep-konsep yang diinginkan
Hal itu identik dengan
kebenaran universal, lekat, stabilitas dan pemikiran yang hebat
Kebebasan, kemerdekaan,
alasan, rasional, ilmu pengetahuan, kebaikan, toleransi, kesempurnaan manusia
Keselarasan dengan hukum /
teori universal yang dapat ditemui, objektivitas, empirisme, beralasan,
rasional, dan ilmu pengetahuan
Kegunaan, pengalaman,
gagasan-gagasan baru dan penemuan fakta-fakta baru, alasan/rasional/ilmu
pengetahuan
Otonomi, otentik, kebebasan
personal dan bertanggung jawab, introspeksi
Otonomi, bertanggung jawab,
emansipasi, komitmen, alasan/ rasionalitas/ ilmu pengetahuan
Relativisme; konsensus sosial;
pengalaman pribadi; solidaritas
|
Pilihan pendidikan sekolah
Melatih pemikiran, tradisi
klasik, menekankan metode sokratik, peniruan dan dialektik
Pendidikan liberal untuk
mempertajam instrumen dari alasan dan untuk pengembangan individu yang akan
datang, objektif, teknik penelitian dan percobaan
Klinik, laboratorium,
pembelajaran pengalaman, kemampuan dasar
Klinik, laboratorium,
pembelajaran pengalaman pemecahan masalah, pendidikan progresif
Kesenian dan kemanusiaan;
fokus pada emosi dan perasaan; hubungan personal antara guru dan murid;
meningkatkan individualitas
Pengurangan kesadaran dan
fasilitasi terhadap transformasi
Pengalaman, ragam budaya,
cerminan diri, relativitas berkelanjutan
|
Tabel
4.1 sudah dikembangkan sebagai suatu ringkasan dan pemandu untuk pembaca
melalui diskusi filsafat yang berikut. Dewan menyajikan sstatemen yang
disingkat untuk masing-masing filsafat yang mempertimbangkan bagaimana itu
menuju dan memandang sifat alami kenyataan (ontologi), hubungan antara
mengetahui dan yang dikenal (filsafat
hal asal), konsepsi yang diinginkan (nilai), dan sifat alami pengalaman
pendidikan yang diterima di sekolah nampaknya akan lebih disukai.
4.1.1.
Idealisme
Belajar mendominasi idealisme memikirkan sampai akhir di
dalam abad yang ke sembilan belas, Itu masih berakar di dalam pemikiran dan
lembaga peradaban Barat. Ada banyak variasi pemikiran yang idealistis, pemula
sering kali dikaitkan dengan mereka
seperti Plato, Kant, dan Hegel.
Filsafat dari idealisme mengerti alam semesta sebagai hal
yang dualistic secara alami. Itu berasumsi bahwa kenyataan yang terakhir terdiri
dari suatu sistim gagasan yang besar melebihi pengalaman sehari-hari dan
bersifat universal, kronis, dan absolut. Banyak sekali pengalaman yang
sehari-hari yang terbuka bagi eksplorasi berhubungan dengan perasaan atau
empiris tidak dipercaya sebagai dunia nyata, hanya suatu cerminan/pemantulan
tentangnya. Kenyataan yang terakhir adalah suatu sistim dari gagasan yang sempurna.
Banyak sekali pengalaman yang sehari-hari dianggap sebagai dunia ilusi dan
dunia nyata hanya dapat dicapai melalui alasan yang murni, intuisi, atau
melalui wahyu, dalam kasus agama. Dengan cara yang sama, idealis mengasumsikan
suatu sifat yang dualistik dari kemanusiaan, tubuh dan pikiran atau jiwa, yang
belakangan menjadi lebih penting.
Pengangkatan kebenaran yang universal di atas pengalaman
membedakan idealisme dari semua filsafat lain. Idealis percaya bahwa
pengetahuan absolut didapat lewat latihan dari alasan yang tidak terjangkit
yang murni oleh data empiris. Dengan demikian, logika mengurangi menjadi alat
cendekiawan yang utama di dalam mencari kebenaran. Karena kebenaran tidak
dilihat untuk ada dalam dunia pengalaman, mempelajari gejala dari dunia ini bukan suatu sumber yang perlu dari
pengetahuan. Idealis memegang bahwa kebenaran kebenaran yang diuji melalui satu
atau lebih sistem yang ketat dari logika (Graff et al., 1966), yaitu., apakah ketahanan
ujinya dari logika oleh pikiran yang besar dari berbagai zaman? Aplikasi
idealisme kepada pendidikan yang terbaik digambarkan oleh tradisi yang
klasik" yang memberi prioritas kepada pelatihan pikiran."
Idealis berasumsi bahwa ada terakhir dari nilai mutlak.
Nilai-nilai dari harga yang terbesar mereka yang bersifat serupa kepada
kebenaran." (Pengetahuan adalah kebaikan; kebaikan adalah kebahagiaan;
kebahagiaan sesuai dengan kebenaran.), adalah nilai benar bukan kepada ia bertanya,
tetapi menerima sebagai panduan untuk tinggal. Idealisme mencari pemeliharaan
dari keadaan tetap pada suatu saat tertentu pada tingkat sosial besar, ekonomi.
teknologi dan politis berubah, kelihatannyaai solusi masa lampau. Idealisme menolak
perubahan.
4.1.2.
Liberalisme
Yang menjadi pusat gagasan untuk liberalisme adalah
kebebasan; tetapi yang pandangan liberalis terhadap kebebasan bukanlah absolut.
Liberalisme mengejar suatu masyarakat bahwa dengan bebas bertindak bersama-sama
untuk memastikan kesejahteraan dari banyak menggunakan metoda bahwa membentengi
kebebasan untuk individu, buka peluang mereka untuk memenuhi potensi mereka
masing-masing dan memutuskan. Kebebasan dicari sebagai suatu metoda dan suatu
kebijakan dari pemerintah, seperti
mengorganisir prinsip di dalam masyarakat, dan sebagai suatu jalan hidup setiap
masyarakat.
Jaman yang sangat makmur dari liberalisme dengan perkiraan
antara zaman ahli filsafat Prancis (c. 1750) dan awal dari Perang Dunia I. Banyak dari pendiri dari Amerika Serikat (eg.,
Thomas Jefferson dan Benjamin Franklin) merasa terikat dengan liberalisme dan
Pernyataan Kemerdekaan dan Amerika Serikat ) institusi bersifat ungkapan
politis liberalisme. Penekanan dari liberalisme pada kebebasan dan kebebasan
membariskan secara alami, tentu saja dengan konsep ekonomi dari kapitalisme
pasar bebas; dengan begitu, itu pasti mempunyai suatu pendekatan? Liberalisme mengalami suatu kemunduran yang
relatif dalam ketenaran dan pengaruh setelah Perang Dunia I.Dengan kegagalan
yang terbaru dari negara monolit komunis dan totaliter. liberalisme sudah
memperoleh kredibilitas dan vitalitas baru Di antara sarjana orang Eropa yang
mendukung pemikiran liberal adalah Voltaire, Locke, Rousseau, Hume, Kant, A.
Smith. dan J. S. Mill.
Sebagai tambahan memegang kebebasan sebagai suatu nilai
pusat, liberalisme merasa alasan manusia dan kebaikan dilengkapi dengan sebagai
hal yang dibantu dengan hak alami tertentu, yang diperkenalkan di dalam
Pernyataan Kemerdekaan Amerika yaitu "hidup, kebebasan dan pengejaran dari
kebahagiaan." Itu adalah hak yang wajar bagi umat manusia, menurut kaum
liberal, bertanggung jawab terhadap kekacauan sosial; juga merupakan struktur-struktur
sosial dari tradisi keluar dan masuk lembaga yang busuk. Oleh karena itu,
tindakan terbaik, sebagian terbesar, untuk meninggalkan berbagai hal sendirian.
Konsep pusat lain dari liberalisme termasuk penciptaan
kondisi sosial yang mengizinkan individu untuk memaksimalkan kebebasan mereka
untuk berpikir, untuk percaya, untuk mendiskusikan, untuk berbuat sesuatu,
untuk mengorganisir, untuk bekerja, untuk melanjutkan perdagangan, untuk
memilih para penguasa mereka dan wujud dari mereka pemerintah dan untuk
mengubah keduanya, para penguasa dan pemerintah revolusi, jika Liberalisme yang
perlu menekankan pentingnya kepentingan diri sebagai suatu kekuatan
motivasional, alasan seperti instrumen dari ilmu pengetahuan, dan usaha
individu yang mendorong ke arah realisasi diri (Lerner. 1972).
Liberalisme mampu mengenali, bagaimanapun juga, tipe
kemanusiaan pada dasarnya baik, atribut seperti ambisi, keinginan untuk kekuasaan,
dan nafsu politis di dalam kelebihan dapat menyebabkan kesukaran untuk yang
lain dan suatu mayoritas bersalah menjadi tak berhasil baik bisa menjadi sesuatu
yang lalim seperti semua raja lalim lain. Dengan demikian, bangunan dukungan
pandangan yang liberal melindungi ke dalam struktur bidang pemerintahan untuk
melindungi kepentingan minoritas seperti Perjanjian Hak Asasi Manusia dan
doktrin perpisahan kuasa seperti yang ditemukan di dalam konstitusi.
Liberalisme melemahkan ketentuan dari dogma religius yang
diungkapkan dan menekankan toleransi terhadap semua ungkapan filosofis lain dan
yang religius hal itu mendorong pemikiran dan ilmu pengetahuan cuma-cuma dan
menguasakan rasionalisme dan ilmu pengetahuan. Fokus itu di kesempurnaan manusia
dapat dicapai karena diri sendiri untuk meningkatkan kebahagiaan dari semua.
Kepindahan dari bidang pemerintahan, religius, dan pembatasan traditional/
struktural lain menyediakan kemanusiaan dengan kebebasan itu untuk dapat berfungsi,
tetapi suatu daerah padat penduduknya yang dididik adalah perlu menyediakan instrumen
dengan mana alasan dapat berfungsi dan dapat dijadikan sempurna begi manusia
berikutnya. Jadi; Dengan demikian, pendidikan yang universal adalah asas kepada
perwujudan daman liberal.
4.1.3.
Realisme, Paham positifisme
Logis, dan postpositifisme
Tidak seperti idealisme, ajaran pusat dari filsafat dari
paham positifisme logis, atau hanya paham positifisme, adalah karena kenyataan
dalam dunia ini. (Lihat diskusi yang terkait paham positifisme paham
positifisme dan postpositifisme di Bab 5.) Kebenaran realis bukanlah khayalan dari
pikiran; mereka ditemukan di dalam pengalaman yang sehari-hari. Ada keyakinan
bahwa jawaban atas masalah kita dapat ditemukan melalui mempelajari pengalaman.
Filsafat ini memperoleh pengaruh dengan kenaikan dari ilmu pengetahuan, dan
beberapa ahli filsafat positivist memandang ilmu pengetahuan sebagai suatu
sebagai gantinya untuk filsafat. Itu mempunyai filsafat yang dominan selama akhir
abad ke duapuluh meski itu adalah tidak ada apa pun serius menantang sedikitnya
di dalam teori ilmu pengetahuan kritis yang sosial dan paradigma-paradigma yang
interpretivistic lain. Paham positifisme memerlukan satu verifikasi empiris
untuk semua pengetahuan melalui penggunaan dari metode latihan, yaitu. hipotesis
dinyatakan terlebih dahulu dan yang diperlakukan kepada test empiris di bawah
kondisi yang terawasi.
Positivists tidak percaya akan suatu pikiran terpisah dari
tubuh. Kebenaran yang besar dari alam semesta itu dipercaya dan dapat ditemukan
dengan menggunakan metoda dari ilmu pengetahuan apakah mempelajari alami,
sosial, atau gejala manusia. Positivist berasumsi bahwa interaksi-interaksi
manusia beroperasi menurut hukum yang universal seperti halnya dunia yang
secara fisik dan dapat ditemukan melalui riset. Kebahagiaan dan kesejahteraan/
kesehatan kemanusiaan tergantung pada seberapa baik para anggota masyarakat
menyimpan sesuai dengan perilaku pengaturan hukum, hubungan sosial, dan usaha
ekonomi.
Positivist mempraktekkan satu filsafat hal asal objectivist
yaitu., nilai adalah terpisah dari fakta. Ini dilaksanakan dengan suatu
metodologi yang manipulatip bahwa mengendalikan untuk pada suatu pihak
penyimpangan penyelidik itu dan kecenderungan sifat untuk mengacaukan yang
lain, dan metoda-metoda empiris bahwa menempatkan pokok keputusan dengan sifat
dibanding dengan penyelidik (Guba, 1990).
Positivist dan idealis mengasumsikan kekakuan yang sama
mengenai kebenaran. Perbedaan mereka adalah proses dengan mana kebenaran ditemukan.
Di dalam kedua filsafat tersebut mengira bahwa kebenaran mempunyai suatu mutu
yang universal (Graffet al., 1966).
Paham positifisme dan postpositivisme adalah suatu versi
modifikasi paham positifisme bahwa pindah dari apa sekarang melihat sebagai
suatu "yang naif' gambaran realis dan terhadap suatu 'realisme
kritis" (Guba, 1990). Inti sari dari
posisi ini adalah karena, ketaksempurnaan berhubungan dengan perasaan
mereka dan mekanisme cendekiawan, adalah mustahil karena manusia untuk merasa
dengan sempurna dunia nyata yang dikendalikan oleh alam riil. postpositivists,
meskipun demikian, memelihara bahwa ada kebenaran yang universal, meski tidak
seorang pun dapat pasti bahwa itu kebenaran yang terakhir telah ditemukan.
Kenyataan disetir oleh hukum alam bahwa dapat hanya secara parsial diahami.
Karena postpositivists, obyektifitas tinggal suatu idaman
pengaturan. Mereka mencari suatu obyektifitas yang dimodifikasi bahwa dengan
bekerja keras membuat riset mereka dan mendisain sama nilai yang mungkin netral. Ini tercapai
dengan kecenderungan kepunyaan pernyataan nya, yang memerlukan laporan tentang
segala pemeriksaan yang bersifat konsisten dengan tradisi ilmiah pada bidang
tertentu, dan dengan hasil dari tiap pemeriksaan kepada penilaian dan panutan
dalam 'masyarakat yang kritis" yaitu., para editor dan pengawas dari jurnal
seperti juga pembaca mereka (Guba, 1990).
Paham Positifisme dan postpositifisme menghadapi hanya
dengan apa yang bukan kehendaknya. Mengrahkan dan menghargai penilaian tidak
bisa dibuat melalui analisa dari dalil empiris. isu dunia filsafat.
4.1.4.
Pragmatisme
Pragmatisme mengembangkan ke luar dari paham positifisme
tradisional. Itu bahwa inti sari riil dari gagasan adalah untuk ditemukan di
dalam pemanfaatan mereka tipe pemandu pada
tindakan dan perilaku, yaitu., kebenaran dapat dikenal hanya melalui
konsekuensinya yang praktis. Seorang yang pragmatis mempunyai suatu dasar mencurigai
tentang keandalan gagasan manusia sampai mereka diuji oleh pengalaman. Graff et
al. (1966) lihat pada pragmatisme seperti filsafat Amerika itu"
Menurut Graff et al. (1966), pragmatisme membuat asumsi
yang berikut: (1) adalah mustahil karena manusia untuk mendapatkan pengetahuan
tentang kenyataan yang terakhir; (2) alam semesta itu di suatu negara yang
tetap dari perubahan dan gerakan; (3) banyak sekali gagasan seperti kita
ketahui itu disatukan di dalam sistem dari lambang, surat, kata, dan rumus
matematis yang tidak memiliki kenyataan bagi mereka sendiri tetapi mengacu pada
materi dari praktek dan cara melakukan sesuatu; (4) metode latihan itu adalah
cara yang valid bagi gagasan ujian; dan
(5) aspek yang sosial adalah sangat penting bagi setiap individu.
Pragmatisme menerima banyak sekali citraan pengertian dan
studi dan sisa saring ilmiah, idealisme terhadap hal yang gaib dari suatu dunia
luar yang benar dan gagasan sempurna seperti kenyataan yang terakhir. Dalam satu
alam semesta pengembangan, seorang yang pragmatis menemukan nya tidak berarti
untuk mempertimbangkan sekitar sifat alami kenyataan, seorang yang pragmatis
percaya bahwa, untuk mengetahui kenyataan satu harus membenamkan dirinya ke
dalam semua aspek dunia, mengalami nya kepada yang paling penuh. Dengan
demikian, seorang yang pragmatis itu adalah gagasan selalu baru terbuka bagi
dan fakta yang ditemukan baru-baru saja.
Seseorang yang pragmatis adalah semua lembaga sosial merupakan
para pelayan dan bukan penguasa kemanusiaan dan lembaga bidang pendidikan di
antara yang paling penting. Orang dipandang sebagai produk dari keduanya,
keturunan dan lingkungan sosial alami; mereka bukan "baik" maupun "tidak baik" pada kelahiran,
tetapi boleh berkembang ke arah manapun tergantung atas pengalaman mereka
dengan orang lain dan lembaga; institusi sosial. Konsep dari ini manusia
sebagai kesatuan yang lembut menempatkan suatu tanggung jawab yang berat di sekolah
dan permintaan pelayanan terbaik (Graff et al., 1966).
4.1.5.
Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah suatu kecenderungan atau sikap yang
filosofis dibanding suatu sekolah yang filosofis; dengan begitu ada beberapa
doktrin umum kepada semua eksponen. Itu sebagai akibat dari Perang Dunia I,
Depresi Besar, dan perang dunia II dan perhatian diri sendiri dengan yang lebih
gelap dan lebih banyak aspek ramalan dari hidup manusia. ini membantah
pandangan dunia dan kebijakan tindakan di mana manusia yang individu dihormati
sebagai makhluk yang tanpa pengharapan tujuan; masa depan siapa dibentuk secara
keseluruhan oleh angkatan atau proses historis alamiah. Eksistensialisme
menghimbau kemanusiaan untuk membersihkan diri sendiri dari pereda yang telah
dipikirkan pada keputusasaan dari keberadaan manusia dan untuk menghadapi kenyataan
suatu yang tidak berarti membersihkan penuh dengan kesedihan mendalam, kesepian
dan kematian, ajaran pokok adalah otonomi, keaslian dan melengkapi kebebasan
untuk setiap untuk memilih suatu cara untuk tinggal..
Existentialist para penulis mencari kebebasan dan
pentingnya kepribadian manusia. Mereka menekankan tempat dari manusia yang
kontras. Masing-masing individu tak dapat dijelaskan dan unik untuk dipertimbangkan dalam kaitan dengan
menggunakan istilah setiap sistim ilmiah atau metafisis. Karena secara total mereka
bebas dalam membuat aneka pilihan, masa depannya tidak secara keseluruhan dapat
diprediksi dan beban dari pilihan bebas menghasilkan penderitaan pribadi.
Existentialists percaya bahwa individu harus melihat ke
dalam diri mereka untuk menemukan bimbingan dan arah melalui krisis hari ini.
Itu dipercaya bahwa arah seperti itu tidak bisa berasal dari hukum dan prinsip
yang universal, pelajaran dari sejarah, pemerintah, manusia lain, Allah, atau
ilmu pengetahuan modern. Mereka menganggapnya suatu kesalahan yang menyedihkan
untuk memandang dunia tipe menguasai perintah dan tujuan bahwa perlu menentukan
keadaan hidup. Kursus seperti itu adalah ciptaan-Nya yang hidup.
Existentialists menempatkan tanggung jawab akhir di setiap keputusan
yang dengan demikian melukiskan kenyataannya. Mereka memohon individu untuk menolak
angan khayal dari nilai penyesuaian dan kaum ortodox sosial dan untuk menghadapi
kenyataan suram atau tidak menyenangkan dari apa yang berarti sebagai .suatu
individu yang cuma-cuma.
Existentialists melihat pendidikan sebagai suatu proses terbentang dari dalam dan mempunyai kaitan
dengan emosi, perasaan dan hal yang berhubungan
dengan eksistensi nyata dari kemanusiaan. Mereka cenderung untuk menempatkan
penekanan lebih besar di pendidikan budaya dibanding di persiapan profesional
dan kejuruan. Mereka menekankan suatu hubungan pribadi antara guru dan siswa yang
mana guru meluas sampai kepada hati dan pikiran dari para siswa, menciptakan
konflik yang bagian dalam, dan menantang dan pemikiran merangsang siswa (Graff
et al., 1966). Existentialists memperingatkan agar hati-hati terhadap tekanan
yang berlebihan di kebersamaan sosialisasi dan kelompok di dalam pendidikan.
Percaya akan keunggulan dari ciri khas; mereka lihat dengan setiap pengaturan
bidang pendidikan bahwa akan berbenturan sepenuhnya dan membebaskan
pengembangan diri.
4.1.6.
Teori Kritis
Seperti pospositivist, ahli teori yang kritis percaya bahwa
ada suatu kenyataan bahwa tidak terikat pada pengalaman manusia, tetapi ini
kenyataan tidak boleh secara penuh dipahami. Kedua bagian mengasumsikan bahwa
teori menguasai itu untuk mempengaruhi kemajuan secara positif dan untuk
mengubah bentuk hidup manusia. Di sini persamaan antara kedua filsafat
berakhir, bagaimanapun. Ahli teori yang kritis adalah subjectivistic di dalam
filsafat hal asal; obyektifitas penolakan dan mengaku bahwa nilai-nilai
menengahi pemeriksaan; Karena paradigma adalah ciptaan manusia, sebagai ahli
teori kritis yang menyatakan bahwa paradigma tidak terelakkan mencerminkan
nilai-nilai yang mereka ciptakan.
Tugas dari teori kritis untuk menaikkan kesadaran dari orang tertindas kepada sifat yang benar dari
kondisi mereka dan angkatan yang menyebabkan nya. Menilai bagaimana yang
ditindas mereka adalah dan mengapa, individu dapat bertindak untuk mengubah
bentuk dunia mereka (Guba, 1990). Pengetahuan menerangi orang dengan pernyataan
kondisi yang struktural tentang keberadaan mereka, bagaimana kondisi ini dapat terjadi,
dari penyimpangan dan ketidakadilan yang mereka ciptakan. Pengetahuan seperti
itu membawa serta tenaga itu untuk merangsang otonomi pencarian tindakan yang lebih
besar, dan bertanggung jawab (Greene, 1990). Dengan demikian, idaman pengaturan
untuk teori kritis adalah persatuan alasan dan komitmen, yaitu.,
pengintegrasian pengetahuan dan tindakan penuh arti. Itu mencari untuk membuat
jelas penyebab komunikasi yang disimpangkan dan dimengerti (House,1990).
Teori kritis memusat di konseptualisasi pendidikan sebagai
bagian dari sosial, politis, budaya, dan pola ekonomi dengan mana pendidikan
yang diterima di sekolah dibentuk. Itu memberi acuan kepada pendidikan yang
diterima di sekolah sebagai suatu usaha secara sosial membangun pertentangan
berkelanjutan (Popkewitz, 1990). (Lihat diskusi yang terkait teori kritis di
Bab 5.).
4.1.7.
Constructivism
Constructivist itu tidak percaya akan suatu kenyataan yang
universal, tetapi lebih, dalam konstruksi mental berbasis sosial dan mengalami makna
ganda yang tergantung pada pemilikan orang mereka untuk wujud dan isi. Konstruksi
ini bersifat spesifik dan lokal. Seperti halnya teori kritis, filsafat hal asal
dari constructivism adalah subjectivist. Peninjau dan mengamati dipadukan ke
dalam suatu kesatuan; pengamatan secara harfiah ciptaan proses interaksi antara
keduanya. Constructivism tidak menyatakan meramalkan dan mengendalikan
"yang riil" dunia maupun untuk mengubah bentuk nya, untuk
merekonstruksi dunia hanya menunjuk itu yang dipercaya untuk ada: dalam pikiran
pembangun pikiran itulah yang akan diubah, bukan dunia "yang riil"
(Guba, 1990). "Kenyataan," sebagai suatu konstruksi sosial, hanya
dapat berada menyelami jendela dari teori dan nilai yang diperoleh dari
interaksi manusia. Teori dan nilai- ditujukan pada membangun maksud melalui
konsensus sosial antar peserta di suatu konteks yang diberikan (Greene, 1990).
Tanpa penjelasan yang tegas dan selalu mungkin menurut
constructivists. Di sana dapat banyak konstruksi hanya, untuk constructivists,
tidak ada cara mendasar untuk memilih di antaranya. Tidak seperti teori kritis,
pemeriksaan constructivistic tidak secara langsung terkait dengan menghakimi,
mengevaluasi atau menghukum wujud sosial dan kenyataan politis, atau dengan
mengubah dunia, itu mempunyai kaitan dengan menguraikan dan mengerti inti sari
mereka. Sasaran umum dari pemeriksaan yang constructivistic untuk memperbesar
dan memperkaya ceramah manusia dengan membawa pengalaman dari orang asing
bersama dengan pemahaman kita sendiri dan Pengalaman kita sendiri (Greene,
1990). Karena constructivist menolak konsep dari hukum dan prinsip yang
universal, masing orang harus menentukan bagi diri-Nya atau dirinya keterkaitan
dari yang lain & pengalaman kepada pengalaman kepunyaan nya.
Pengetahuan, sebagai suatu konstruksi manusia, tidak pernah
dapat diandalkan seperti pada akhirnya benar menurut constructivists; pengetahuan
meragukan selamanya mengubah. Pengetahuan adalah hasil dari suatu proses
dialogical antara diri sendiri. di bawah. berdiri orang dan yang ditemui apakah
suatu teks, suatu seni karya yang baik, atau ungkapan yang penuh arti dari orang
lain (J. K.Tukang besi, 1990). Constructivist pengetahuan didasarkan pada
pengalaman dan menyerupai hipotesis konteks aktip kerja spesifik lebih dari
sekedar menyamaratakan dalil bahwa kepastian surat perintah atau bahkan
kemungkinan (Greene, 1990). Itu melembagakan teori pola holistic atau jaringan bahwa
mencerminkan satu dari bagian dan keseluruhan dan suatu pandangan dari
pengetahuan yang lebih "edaran" dibanding yang hierarchic (Lincoln,
1990).
Inti dari constructivism adalah idaman pengaturan dari
kesetiakawanan dibanding obyektifitas. Dengan demikian, posisi constructivist
menerima banyak aspek dari relativism. Relativism dilihat sebagai suatu kunci
kepada keterbukaan dan mencari lebih dari yang diberitahu dan konstruksi canggih
(Guba, 1990).
Karakteristik yang relativistic dari constructivism sudah
memimpin untuk menuntut dari idealis, postpositivists, dan progresif itu, di
dalam menolak patokan mendasar, constructivism menerima suatu wujud tidak masuk
akal. Constructivists menanggapi bahwa jika tidak ada pondasi, tidak ada struktur
dibanding dengan posisi lain yang dapat dihakimi "secara obyektif" (Lather,
1990) Menurut Lather; relativism kelihatan sebagai sekedar masalah untuk
mendominasi menggolongkan di titik di mana hegemony dari pandangan mereka
sedang ditantang. "Di dalam jumlahan, takut akan relativism dan nampak
seperti nihilisme penjaga nya atau Nietzschean kemarahan kelihatannya kepada
saya satu peledakan ke dalam keangkuhan yang Barat, pria putih, arogansi, jika
kita tidak bisa mengetahui segalanya, lalu dapat mengetahui nothing"-(p.
321).
Nyberg (1993) juga menuju ke kepada potongan bahayanya
landasan terbang relativism karena ia melihat nilai perselisihan, ada banyak
persetujuan di alam semesta moral dan yang salah, baik dan jahat, yang mana
mayoritas kemanusiaan mengasumsikan" (p. 208). Adalah jauh lebih baik mempersatukan kita dibanding membagi kita.
4.1.8.
Dua Pandangan Dunia
Hegemony dari postpositivist pemikiran secara langsung
mempengaruhi studi administrasi bidang pendidikan di pertengahan 1950an dengan
aplikasi ilmu sosial membangun dan metodologi pada gilirannya memperoleh dari
ilmu pengetahuan alam. Di dalam memeluk suatu perspektif postpositivist,
perhatian kepada dimensi yang kwalitatif administrasi bidang pendidikan sangat
dilalaikan menurut banyak kritikus tentangnya "ilmu pengetahuan" dan
praktek (Greenfield, 1984; Hodgkiason, 1983; Scrgiovanni, 1984a, .1992; Lather,
1990; Membantu perkembangan, 1984). Penekanan yang ditempatkan oleh metode
latihan di obyektifitas pengukuran dan nilai yang kwantitatif memfokuskan riset
dan diskusi pada "apa" dan mencari hubungan antar gejala yang tampak
dibanding pada "apa yang sebaiknya adanya." -Tertarik akan peran nilai,
emosi, maksud, dan drama kebaikan abad 16 di dalam praktek dari administrasi
sekolah mempunyai sebagian besar absen sampai tantangan secara relatif terbaru
untuk menempatkan pemikiran positivist yang dibuat oleh ahli teori kritis dan
constructivists.
Greenfield (1978) di antara ahli teori administrasi pertama
bidang pendidikan dari pendekatan teori yang kritis untuk menyerang
postpositivist hegemony meski yang lain ( eg.. .Graff ct al.,. 1966) telah
sebelumnya ditunjuk postpositivist sebagai permintaan tegas di verifikasi yang
empiris pengetahuan sebagai suatu kesalahan paling serius. Greenfield menantang
persepsi organisasi tipe penjelmaan alami agar tunduk kepada hukum ilmiah bukan
perseorangan dan yang universal (Greenfield. 1984). Ia membantah, organisasi
adalah buatan mansuia, arbitrer, berlangsung sebentar, dan bukan yang
universal; dengan kata lain, mereka adalah "tanpa yang alami. Greenfield
melihat organisasi sebagai aartefak budaya dan apa yang terjadi di antara
mereka seperti produk dari tindakan yang individu, niat dan akan dibanding dari
hukum alam yang universal dari tindakan sosial. Pandangan ini menandai
organisasi sebagai ciptaan manusia yang menyediakan konteks untuk negosiasi dan
konstruksi dari maksud, pesanan moral, dan kuasa (Bates, 1984).
Bates (1984, p.260) adalah kritisnya dari ahli teori
tendensi administrasi bidang pendidikan untuk melanjutkan untuk mengenalkan
incommensurability fakta dan nilai dan pengejaran mereka dari usaha yang
positivistic untuk berkembang menyamaratakan kemampuan hukum dan prinsip untuk
menjelaskan struktur dan dinamika organisasi. Ia kritik basis nya di posisi
ahli filsafat dan sarjana pengetahuan masyarakat. Ahli filsafat, ia menunjuk ke
luar, mengakui adanya ketidakmungkinan penilaian penghapusan evaluatif dari kerangka
interpretive di dalam fakta yang dicari
maupun yang dipahami dan ahli teori sosial sudah sebagian besar meninggalkan
nilai membebaskan ilmu pengetahuan dari masyarakat
Bantu perkembangan (1984) menunjukkan bahwa "obyektifitas"
paham postpositifisme bukanlah sasaran sama sekali; oleh pemikiran pemindahan
cara dialektika dan yang memantulkan cahaya dari ungkapan penuh arti. Paham postpositifisme
dibiaskan dalam mengabadikan perintah yang tidak tertandingi sosial. Dalam
mengutamakan pemikiran cara dialektika dan yang memantulkan cahaya,
bagaimanapun, Membantu perkembangan dan tidak merendahkan diri dalam
keterkaitan dgn suatu ilmu pengetahuan yang administratif dengan mengatakan,
"itu mengerjakan suatu tindakan yang merugikan teori kritis untuk
menyatakan bahwa cerminan seperti itu harus dibatasi pada citra subjectivistic:
verifikasi empiris diperlukan; data bersifat
perlu" (p. 249). Di tempat lain, Membantu perkembangan (1986)
mengusulkan suatu tiga strata model karena studi administrasi. Strata yang
pertama melibatkan studi yang empiris organisasi dan administrasi melalui uraian
kenyataan yang dirasa dan struktur politis dan ekonomi. Strata yang kedua
terdiri dari pengembangan dari konstruksi-dan penafsiran individu dari Strata
kenyataan yang ketiga adalah inquiri kritis suatu proses yang memantulkan
cahaya termasuk tanya jawab yang diharapkan untuk mencapai keikutsertaan secara
demokratis oleh para anggota masyarakat
Sergiovanni (1984a) dan Foster dalam meminta suatu pendekatan
perspektif yang ganda kepada analisa administrasi dan organisasi:
Teori administrasi, oleh karena itu, tidak
harus dipandang bersaing, dengan pandangan dengan pemikiran terbaik akan
muncul. Sebagai gantinya, kiasan alternatif dan overlap ditawarkan. Tipe
perjalanan yang dipandang ini, masing-masing teori administrasi menjadi lebih
baik mampu menerangi dan menjelaskan aspek tertentu dari pengurus permasalahan
menghadapi tetapi bukan yang lain. Yang ditingkatkan mengerti tergantung pada
pemakaian beberapa teori lebih disukai dalam satu pertunjukan yang
terintegrasi.
Nyberg (1993) membagi ahli filsafat (dan orang lain) ke
dalam dua orientasi yang luas terhadap penilaian-penilaian moral perumusan
'moral" prinsip" orientasi menyukai "gagasan-gagasan yang
bersifat luas, yang inklusif, Rapi dan yang universal di dalam kesederhanaan mereka" ( p. 206). Ini
akan cenderung untuk termasuk idealis dan positivists. 'yang pribadi"
nilai" orientasi lebih suka lihat "individu dengan kejelasan yang
sempurna di dalam semua [kepenuhan/ kesempurnaan] mereka yang harafiah,
tertentu, berdasar fakta. Tak peduli bagaimana membagi dunia yang terlihat"
(p. 206). Ini akan termasuk existentialists dan constructivists. orientasi Moral
pokok menuju sudut pandang rasionalitas seperti mengejar ekonomi dari makna
dari pemikiran dengan kesetiaan pemilikan pada suatu konsepsi atau gagasan yang
dapat diterapkan dengan luas. pandangan Nilai yang pribadi orientasi
rasionalitas adalah bahwa/karena orang dapat berpikir dan bertindak dalam cara
yang mereka sendiri dapat memahami dan mengubah, bahwa individu tidak hanyalah
korban dari penyebab structural, yang pembelaan dan penjelasan manusia harus
dilakukan dalam kaitan dengan menggunakan istilah pribadi, alasan dan
pertimbangan subjektif, idiosyncratic bagaimanapun mereka boleh terlihat"
(p. 198).
Untuk menutup bagian ini, kita mengacu pada satu artikel
oleh Gage (1989) berjudul "Paradigm Wars dan Their Aftermath." Di
dalamnya, ia menunjuk arus,, konflik antar peneliti bidang pendidikan yang
bertahan pada persaingan filsafat dari paham postpositifisme. constructivism,
teori kritis dan anti naturalism. Ia mengeluarkan satu pendekatan pada
cendekiawan bidang pendidikan leaders-philosophers, para ilmuwan, sarjana,
riset kerja untuk menjadi masuk ke dalam 'satu cendekiawan tidak ada manusia
dan mengingatkan kepada kita bahkan waktu kita mendebat apakah setiap
obyektifitas sama sekali mungkin, apakah
'yang teknis' riset adalah tidak penting, apakah paradigma perlu mendapat lebih
banyak uang, aku merasa bahwa aku perlu ingat bahwa pemberian imbalan tak dapat
diceraikan dari dalam apa yang terjadi pada anak-anak, para siswa. Ini adalah
akhir hubungan kita" (p.10). Tugas kita membawanya mereka kepada kewajiban
moral.
Dengan demikian, mereka memandang dunia dalam kaitannya dengan
suatu paradigma dan mereka menerima tidak ada yang absolut, tetapi mau
berpedoman kepada pengertian yang mendalam yang disediakan. Pengarang dari buku ini jatuh masuk ke kategori yang
belakangan, Kita mengenali administrasi bidang pendidikan bahwa suatu
pengejaran moral dan bahwa pengurus yang efektif harus bertindak dengan satu
pemahaman keterkaitan berharga struktur pada tindakan eksekutifnya. Bab ini
terpusat di aspek seperti itu administrasi,' juga menghargai, bagaimanapun, sumbangan
ilmu sosial itu kepada keringanan dari praktek kepemimpinan bidang pendidikan,
”ini yang ilmiah" dari aspek yang digaris bawahi.
4.2.
Sistem Nilai
Pada bagian ini, diskusi kita diperluas termasuk pengertian
yang mendalam yang diperoleh dari sarjana pengetahuan masyarakat seperti juga
ahli filsafat.
4.2.1.
Menggambarkan Nilai
Nilai adalah konsepsi yang diinginkan (Parsons, 1951
hodgkinson. 1983: Hoy &Miskel, 1991). Suatu nilai adalah satu kepercayaan
yang kronis bahwa suatu yang spesifik 'gaya dari perilaku atau negara dari
keberadaan adalah secara pribadi atau secara sosial lebih baik dibanding satu
gaya kebalikan atau sebaliknya dari perilaku atau negara dari keberadaan. Nilai
bersifat sinonim dengan kepercayaan pribadi sekitar "yang baik,"
"hanya," dan "yang indah/cantik;" mereka menggerakkan kita
kepada tertentu jenis perilaku dan gaya hidup (Lewis. 1990). Nilai mencerminkan
filsafat; pemikiran filsafat dari suatu individu atau organisasi (Hall et al.,
1990). Mereka dengan sadar atau tanpa disadari memegang prioritas yang
dinyatakan di dalam semua aktivitas manusia menghargai sistim adalah satu
organisasi yang kronis berharga sepanjang suatu rangkaian dari arti penting
yang relatif (Rokeach, 1973).
Nilai yang bersifat subjektif karena mereka adalah konsep
dan mereka berhubungan dengan fenomenologi dari keinginan. Kita menghargai
berbagai hal atau negara karena kita memilih untuk menujukan, harga kepada
mereka, bukan karena setiap harga bawaan. Dengan melakukan hal yang demikian,
kita menumpukkan di atas ke suatu hal suatu unsur yang subjektif untuk menandai
adanya tingkat arti penting bagi kita (Beare, 1989). Untuk menjadi secara
bersama fungsional, yang lain harus menugaskan derajat tingkat yang serupa
berharga kepada hal yang sama atau status. "Titik esensial itu untuk
menyerap di dalam berpikir tentang nilai adalah bahwa/karena nilai tidak ada di
dalam dunia nyata..(-Hodgkinson, 1983, p.31).
Rokeach membuat lima asumsi sekitar nilai alami manusia:
(l) kemampuan total berharga seseorang untuk menguasai relatif kecil; (2) semua orang -menguasai
nilai yang sama pada derajat tingkat yang berbeda; (3) nilai terorganisir dalam sistem nilai; -(4)
yang terdahulu dari nilai manusia dapat diusut pada kultur. masyarakat dan
lembaga; institusi nya, dan kepribadian;
dan (5) konsekuensi berharga akan dinyatakan di dalam hampir semua
gejala bahwa kekuatan sarjana pengetahuan masyarakat' mempertimbangkan;
menganggap harga menyelidiki dan mengerti; Perorangan dapat memegang kepercayaan
tak terbilang yang diorganisir dalam ribuan sikap,' beberapa lusinan secara
hirarkis mengatur nilai yang sebagai penolong. Diambil bersama oleh mereka
membentuk suatu sistem kepercayaan di mana nilai terminal lebih pusat dibanding
nilai penolong dibanding sikap. Nilai
terminal mengacu pada negara akhir yang diinginkan dari keberadaan mereka yang
manapun yang berpusat pada diri sendiri atau masyarakat. Nilai yang menolong
mengacu pada moralitas (mempunyai satu fokus yang hubungan antar pribadi) dan
wewenang (mempunyai suatu fokus pribadi tanpa keterlibatan antar hubungan
pribadi) aspek dari gaya dan perilaku. Nilai terminal bersifat motivasional di tersebut mereka mewakili; menunjukkan sasaran
hebat di luar sasaran yang segera, mendesak secara biologic. Karena sistem kepercayaan
yang total adalah secara fungsional saling berhubungan, suatu perubahan di
dalam bagian mana pun dari itu perlu mempengaruhi bagian lain dan perlu pada
akhirnya mempengaruhi perilaku.
Untuk membuat suatu perubahan yang kekal dari persepsi
manusia dan perilaku, kebanyakan bagian tengah dari nilai terminal sistim yang
harus diubah menurut Rokeach (1973).
Hodgkinson (1983) mengambil suatu pendekatan yang berbeda
untuk membedakan antar nilai dengan penempatan mereka ke dalam suatu hirarki
menurut pendekatan termasuk dalam menentukan benar atau tidak benar. empat
alasan Nya atau pembelaan untuk valuing adalah prinsip (tipe 1), konsekuensi (tipe
IIA), konsensus (tipe IIB), dan pilihan (tipe III). Hirarki itu digambarkan di
dalam Gambar 41.
Jenis I menilai adalah masuk akal mereka melampaui alasan,
menyiratkan satu tindakan iman atau bagaimana menyatakan penerimaan dari suatu
prinsip. "Meskipun demikian prinsip seperti itu boleh sering kali
dipertahankan oleh ceramah masuk akal mereka yang utama metafisis aslinya atau
lokasi" (Hodgkinson, 1983, p.39). Orientasi mereka yang filosofis
ditemukan di dalam agama dan intuisi. Mereka adalah yang universal gagasan
untuk idealis dan hukum alam dari liberalisme.
Tipe III, pilihan, membenarkan suatu nilai ditempat itu
bahwa obyek atau tindakan disukai atau yang lebih disukai oleh pokok materi; nilai
ini bisa bawaan atau belajar. Semua binatang menguasai nilai seperti itu dan
nilai seperti itu bersifat diri sendiri. pembenaran. Tipe Nilai sakit memulai
dari mempengaruhi, emosi dan merasakan. Orientasi mereka yang filosofis
ditemukan di dalam behaviorisme. paham positifisme, dan hedonisme.
Tipe II nilai dari kedua subset A dan B dibenarkan dengan
alasan rasionalitas. Ini dapat muncul pertama seperti konsensus (IIB). Di
tingkat lebih tinggi berikutnyanya proses masuk akal, nilai itu dibentuk/mapan
atas satu analisa dari konsekuensi tentang pemilikannya itu. Orientasi yang
filosofis dari nilai Type II utilitarianism. pragmatisme, perikemanusiaan.
demokrasi, dan liberalisme.
Tipe II nilai mewakili; menunjukkan suatu latar tengah
antara komitmen dari ideologi (Jenis 1) dan pergolakan dari dampak (Tipe III).
Sependapat ekstremum adalah pengalaman segera (Tipe Di dalam) dan di yang lain,
ideologi (I jenis); di tengahnya adalah dunia pragmatis dan akal sehat.
Ini merupakan suatu
keuntungan untuk syaraf pembengkakan dan jaringan tubuh manusia. Bahkan paling
baik permintaan-permintaan dari ideologi berakar di dalam abstrak dan orang
tidak hidup dengan abstrak cendekiawan, bagaimanapun banyak mereka berlangganan
atau diatur oleh mereka. Perihal mempengaruhi, orang tidak bisa terus menerus
sibuk dengan peperangan yang menghancurkan keduanya dari ego. Antara jenis Ill
kenyataan-kenyataan dan jenis cetakbiru di sana berada daerah yang sangat banyak
secara normal biasa sehari-hari banyak sekali hidup organisatoris. Suatu dunia
yang biasa barangkali tetapi satu di mana manusia adalah di kesenangan yang
relatif: yang dibiasakan, dikondisikan, diprogramkan, rendah hati dan isi.
Hodgkinson, 1983, p.121)
Gambar 4.1
Nilai
Paradigma
|
Jenis Nilai
|
Bidang Penilaian
|
Psikologis
|
Orientasi Filosofis
|
Tingkat Nilai
|
|
I
|
Prinsipil
|
Conation
|
Kepercayaan
|
I
|
|
Kemauan
|
Eksistensialisme
|
|||
|
|
Intuisi
|
|||
|
II A
|
Konsekuansi (A)
|
Kognitif
|
Utilitarianisme
|
II
|
|
Alasan
|
Pragmatisme
|
|||
|
II B
|
Konsesnsus (B)
|
Berpikir
|
Humanisme
|
|
|
Demokratik
|
||||
|
Liberalisme
|
||||
|
III
|
Pilihan
|
Mempengaruhi
|
Behavioris
Positivism
|
III
|
|
Emosi
|
||||
|
Perasaan
|
Jika nilai dengan sepenuhnya stabil, perubahan sosial dan
yang individu akan menjadi mustahil. Jika nilai sepenuhnya tidak stabil,
kesinambungan kepribadian manusia dan masyarakat menjadi mustahil. Konsepsi
hirarkis yang berharga memungkinkan kita untuk menggambarkan perubahan sebagai
suatu pemesanan ulang prioritas dan, secara serempak, melihat sistim nilai
total yang relatif stabil dari waktu ke
waktu. Konsensus lebih mudah di mana nilai Type Ill dilibatkan dan paling sulit
di mana Type I menilai hadir; kemudian kasus, berlawanan Type I komitmen tidak
dapat didamaikan. Oleh karena ini, orang yang praktis mencari juga menghindari
perikatan di hal dari prinsip dan pencarian sebagai gantinya untuk secara
politis yang mungkin (Hodgkinson, 1983; Lindblom, 1959). "Keinginan pragmatis
mengambil tetapi tidak akan mengambil di mana kita ingin pergi"
(Hodgkinson, 1983, p135).
Hall et al. (1990)mengambil suatu pendekatan yang berbeda
di dalam mengembangkan suatu hirarki berharga. Mereka pegang bahwa pengembangan
nilai adalah suatu proses pertumbuhan mengalami delapan langkah untuk
menjangkau kedewasaan penuh suatu titik bahwa sedikit; beberapa jangkauan.
Dalam empat langkah otoritas dirasa oleh setiap tipe permulaan di luar diri
sendiri selagi itu di dalam empat langkah yang terakhir, otoritas dirasa tipe
permulaan di dalam setiap menilai yang dihubungkan dengan masing tahap dari
paling rendah ke yang paling tinggi adalah: pembelaan diri, keamanan, diri
sendiri, wewenang, kemerdekaan, perintah baru, kemerdekaan. Di langkah yang
lebih rendah, selalu berpusat pada diri sendiri, pencarian keamanan di suatu
dunia di mana setiap merasa tidak ada kendali. Langkah ego tumbuh sebagai
pengenalan suatu dunia sosial yang harus diakomodasikan; satu yang eksternal
"mereka" dirasa sebagai hal yang terkendali dan setiap mencari
penerimaan, pernyataan, persetujuan dan prestasi dalam parameter menyimpan
"mereka" di dalam langkah yang berikutnya, setiap mulai untuk
mengasumsikan kendali di atas hidup nya dan mencari cara untuk menciptakan
identitas nya Di tingkatan yang paling tinggi, setiap mengasumsikan tanggung
jawab untuk yang lain seperti juga dirinya atau dirinya. Dalam langkah ini yang
bagian atas, setiap gabungan mengelompokkan keselarasan pencarian yang lain secara
global.
Analisis nilai tidak menyiratkan maupun memerlukan permintaan
untuk penutup logis di mana nilai dalam perkelahian. Menurut Hodgkinson (1983),
konflik nilai benar selalu intrapersonal; kesubyektifan yang penting berharga
mendikte semua konflik antara nilai harus terjadi dalam setiap kesadaran.
Hodgkinson memandang biasanya pemikiran tentang suatu konflik kepentingan; pada
akhirnya, ada di fakta suatu tenaga berjuang antara para aktor nilai. Tindakan nilai
terang para aktor nilai mengatakan
kepada kita tidak ada apa pun konflik nilai di dalam setiap para aktor. Sebagai
contoh, mengerjakan pecundang dari suatu peperangan atau suatu perkara perdata
dengan demikian mengubah konsepsi yang diinginkan.
Nyberg (1993). sedikit banyaknya menyatakan posisi yang
berbeda dari Hodgkinson di perselisihan berharga. Sementara, keduanya
bermufakat intrapersonal konflik berharga, Nyberg. juga melihat yang hubungan
antar pribadi dan inter kelompok menghargai konflik hanyalah konflik dari
minat. Nyberg secara jamak menyatakan
bersaing nilai sebanyak bagian dari masyarakat sebagaimana dari tiap kesadaran
yang individu karena itu adalah sifat manusia untuk melihat berbagai hal dengan
cara yang berbeda. "Benturan berharga adalah inti moral dari manusia"
(Nyberg, 1993, p.198).
4.2.2.
Contoh yang Sempurna dari
Kepemimpinan
Hodgkinson (1983) menggunakan beberapa contoh yang sempurna
untuk menguraikan para tipe pemimpin yang bertindak dalam hirarki nilai yang sebelumnya
diperkenalkan (Gambar 41) Contoh sempurna yang paling rendah dari sudut pandang
dari moral atau hormat etis adalah sebagai "pencari" yang ditandai
oleh nilai ego, kepentingan diri, primer mempengaruhi dan motivasi. Pembelaan
Diri dan peningkatan, diri sendiri memusat dan perhatian diri sendiri adalah
ciri-ciri nilai yang dominan. Pencari berfungsi di Type 1 tingkatan di dalam
hirarki nilai. Wujud yang fundamental dari contoh yang sempurna pencari adalah
gersang pemangsa wujud yang lebih tinggi adalah oportunis. Orang-orang seperti
itu boleh berlangganan orientasi-orientasi yang filosofis behaviorisme atau
hedonisme.
Tingkatan paradigma nilai yang kedua adalah tingkatan yang
berhubungan dengan perasaan untuk administrasi. Kebanyakan pengurus cenderung
yang manapun kepada "politikus" (Tipe IIB) atau "teknisi" (Tipe
IA) contoh yang sempurna. Hodgkinson (
1983, p.141) lihat pada politik seperti "administrasi oleh nama yang
lain." Contoh yang sempurna politikus dihubungkan dengan pengurus minat
siapa sudah memperluas di luar mereka yang diri sendiri kepada pokok di mana
mereka memeluk; menganut suatu keseluruhan atau kelompok. Kelompok ini, pada
umumnya organisasi di mana ia atau dia bertanggung jawab, kemudian mengizinkan
untuk memiliki beberapa derajat tingkat dari pengaruh di atas penetapan nilai
organisatoris dengan tujuan untuk mempengaruhi kepunyaan pemimpin itu
menghargai struktur dan perilaku. Itu mengacu pada suatu kompleks nilai bahwa
mempertimbangkan nilai dari orang lain, secara individu dan secara terpadu.
Politikus adalah
moral maupun dan masuk akal. Contoh yang sempurna itu adalah moral
karena perhatian nya melampaui bahwa dari diri sendiri. Klaim yang dasar kepada
rasionalitas adalah karena menggolongkan pilihan, jika diwujudkan. Membantu
potensi untuk perwujudan pilihan individu lebih dari sekedar pengejaran laissez
faire dari pribadi yang menginginkan diizinkan. Di dalam semua ini, politikus
mempunyai suatu orientasi secara relatif jangka pendek; ia adalah masalah yang
segera yang sedang menekan. "Politikus yang mempraktekkan seni dimana
dunia organisatoris bekerja. Tetapi
seseorang dapat melampaui nya" (Hodgkinson, 1983, p.167). Politikus,
paling sial, adalah suatu pemimpin rakyat dan, paling baik, suatu democrat.
Orientasi politikus yang filosofis itu menuju ke liberalisme, perikemanusiaan,
atau pragmatisme.
Contoh yang sempurna adalah teori masuk akal terutama dan
masuk akal. hukum. Nilai dari birokrat Weberian yang termasuk dispassion,
kenetralan, analisa logis dan memecahkan masalah, efisiensi; efektivitas,
pemenuhan gol, perencanaan, dan maksimalisasi yang baik cocok dengan contoh yang sempurna ini. Berlawanan dengan
politikus, teknisi menekankan perhatian yang kelembagaan atas perhatian
individu. Doktrin terbaik bermanfaat mencerminkan orientasi yang filosofis
teknisi.
Teknisi "mewakili; menunjukkan yang paling tinggi dari
contoh yang sempurna bahwa biasanya yang mungkin karena pengurus itu untuk
sangat ingin dan mencapai. Ini menetapkan batas yang aman kepada ambisi moral
dan cita-cita administrasi" (Hodgkinson, 1983, p.177). Teknisi itu dapat
merosot kepada birokrat yang dilepaskan tetapi juga dapat memberikan aspirasi kepada
teknokrat pengawal seperti yang digambarkan di bawah.
Hodgkinson (1983) menyebut contoh yang sempurna membawa
Type I nilai-nilai "Poet." "Penyair 'bawa api,' buat pertumbuhan
berbagai hal dan orang hangatkan, meluas jangkauan dari bahasa (dan karenanya
berpikir, konsep dan rasionalitas), mencuri api dari para dewa, bahkan di dalam
batas mendamaikan Tuhan dan Manusia" (p. 178). Hodgkinson menyamakan
termasuk penyair itu kepada raja
Pengawal atau ahli filsafat Plato moral siapa dasar yang diperluas ke dalam
daerah trans masuk akal dari iman diaktipkan akan. Keinginan penyair itu adalah
pertimbangan hak dan faktor penentu dari yang baik. Sebagai hasilnya,
kepemimpinan dari suatu penyair boleh mengakibatkan surga atau secara
keseluruhan kehancuran. Paling baik, penyair itu adalah Pengawal, hanya paling
sial, penderita megalomania. Atau dalam kata-kata dari Nyberg ( 1993), 'Selalu
memilih prinsip, atau lebih buruk, Prinsip yang benar, diatas nilai dan kebutuhan
individu di dalam memecahkan situasi moral spesifik adalah jalan kepada kemartiran dan kesucian,
tetapi ini juga jalan itu kepada hal tak berperikemanusiaan, yang ironisnya
diaspal dengan ilusi kesempurnaan" (p. 205).
Hall et al. (1990) juga telah mengembangkan suatu hirarki
kepemimpinan bahwa membawa beberapa kemiripan pada Hodgkinson's (1983),
terutama di yang tingkat yang lebih rendah. Di dalam hirarki mereka, Hall et al. kenali hubungan
yang timbal balik antara kepemimpinan dan pengikut. tujuh Kepemimpinan mereka
beredar dilaporkan di kolom II dari Table 42. Masing-massing siklus ditempatkan
antara dua mata-mata menilai karena siklus yang dilaporkan di kolom II. Karena
pengembangan nilai dilihat sebagai suatu proses pertumbuhan, pemimpin mengalami
suatu tekanan antara dua nilai yang menggeser prioritas dari menurunkan ke yang
yang lebih tinggi. Gaya kepemimpinan dilaporkan di kolom Ill dari Tabel.
Kepemimpinan dan pengikutnya karakteristik diringkas di kolom IV dan V
berturut-turut.
Tingkat terendah kepemimpinan di dalam Hall (1990) hirarki,
Terpenting, operasikan dari nilai pembelaan diri dan keamanan, Seperti itu pemimpin berfungsi dalam satu
gaya yang otokratis, memperdayakan dengan tali organisasi lekat dan membuat.
semua keputusan yang utama. Pemimpin terpenting memelihara suatu jarak yang
terpisah dari kesetiaan para bawahan dan permintaan pada atau dirinya dan untuk
organisasi. Para pengikut menanggapi dengan kepasifan dan kejinakan,
memperlihatkan perilaku belum dewasa. Mereka memandang pemimpin sebagai hal
yang tidak dapat didekati dan sebagai mempunyai satu aura dari kesempurnaan
Kepemimpinan jenis ini lebih disukai hanya kadang kadang dekat dari bahaya.
Di dalam siklus Familial, pemimpin itu adalah suatu raja
lalim yang baik hati, mengumpamakan suatu hubungan parent/child dengan para
bawahan;subordinat. Pemimpin seperti itu operasikan nilai dari keamanan dan
kemampuan diri. Sementara mendengarkan para bawahan, pemimpin yang berhubungan
dengan keluarga masih cadangan semua keputusan kepada dirinya atau dirinya.
Suatu kesetiaan yang pribadi kepada atasan-atasan dan pemenuhan dengan ketentuan
organisasi itu dituntut. Para pengikut mengembangkan suatu perasaan ketergantungan
Mereka memandang tipe pemimpin yang dapat dicapai, tetapi mengenali bahwa ia
atau dia adalah dengan jelas yang berkuasa. Kepemimpinan dari jenis yang paling sesuai tipea pemimpin itu
ini adalah sangat trampil dan para
pengikut itu tidak. Hubungan didasarkan pada kewajaran dan rasa hormat timbal
balik.
Efisiensi managerial menjadi suatu perhatian yang utama di
dalam siklus Institutional dari kepemimpinan. Pemimpin jenis ini bekerja dari nilai
dari nilai diri sendiri dan wewenang diri sendiri. Pemimpin yang kelembagaan
berfungsi di suatu gaya yang birokratis, memanage oleh sasaran hasil dan
menekankan kebutuhan akan perintah dan membersihkan kebijakan-kebijakan.
Kesetiaan kepada lembaga itu dituntut. Ada beberapa delegasi kewenangan tetapi
hanya kepada yang trampil dan untuk yang setia. yang hubungan antar pribadi,
Sosial dan kecakapan teknis diperlukan pada tingkatan ini; Pemimpin jenis ini
adalah nampaknya akan kaku dan resistan untuk berubah. Para pengikut bertahan
pada kebijakan dengan jelas menyatakan. Mereka menerima delegasi kewenangan dan
memandang pemimpin sebagai hal yang dapat dicapai dan suatu pendengar yang
baik.
siklus Intrapersonal dari kepemimpinan menunjukkan suatu
transisi dari suatu orientasi diri sendiri ke suatu filsafat yang berorientasi
sosial Sebagai hasilnya, itu ditandai oleh kebingungan dan ketidak konsistenan di
dalam pengambilan keputusan dan konflik antara nilai efisiensi dan kebutuhan
manusia organisatoris. Pemimpin bertindak sebagai suatu pendengar dan penjernih
dan operasikan dari nilai wewenang dan
kemerdekaan diri sendiri.. Para pengikut memperlihatkan kebingungan yang
berasal dari isyarat yang dicampur yang diberi oleh kepemimpinan. Ada suatu
kesediaan umum untuk menyatakan perasaan dan di sana adalah suatu kebutuhan
antar para pengikut untuk tampil baik. Pribadi.
siklus Communal atau Collaborative bekerja dari nilai-nilai
dari kemerdekaan dan perintah baru. Gayanya adalah karismatik. Hall et al.
(1990) pandang hal ini sebagai hal yang tingkat kepemimpinan yang ideal untuk
lembaga bidang pendidikan, terutama untuk sekolah-sekolah yang sekunder dan
postsekunder. "Individu sudah lulus dengan sukses melalui periode laissez
faire yang melumpuhkan dan sekarang mempunyai suatu pengertian yang baru dari
energi kreatif pribadi dan memperbaharui visi dari suatu lembaga; institusi
bahwa dapat efisien, seperti juga pujian, untuk members"(p nya. 61).
Operasi pemimpin pada tingkatan ini bersifat demokratis di dalam gaya mereka dan mampu memodifikasi
aturan-aturan menurut suara hati mereka yang pribadi. Para pengikut ditandai
oleh interaksi kelompok kecil; mereka memerlukan ketrampilan dibangun dengan
baik di dalam resolusi ilmu dinamika kelompok dan konflik. Para pengikut secara
teratur mengambil bagian tipe panutan dalam beberapa pengambilan keputusan.
Tingkatan ini membawa beberapa kemiripan kepada Hodgkinson's ( 1983)
"Teknisi."
Di Mystical atau Integrative beredar, nilai dari pernitah dan
saling ketergantungan yang baru mendominasi. Kepemimpinan adalah kolaboratif
dan interaktip dengan pemimpin yang berfungsi seperti pelayan. Sebagai tambahan
terhadap produktivitas organisatoris, ada perhatian untuk mutu interaksi organisatoris
dan dampak organisasi itu di masyarakat. Keputusan kelompok yang membuat adalah
norma dengan tanggung jawab dan collegialas timbal balik mengasumsikan oleh
semua para anggota organisasi. Para pengikut mau mengasumsikan tanggung jawab
dan mereka mempunyai ketrampilan yang berdayacipta dibangun dengan baik. Semua
anggota mengerjakan tingkat tingginya dari kepercayaan dan keakraban. Nilai dari
perintah dan saling ketergantungan yang baru bersifat dominan.
Sementara keduanya jarang ditemukan, Hall pada. (1990)
tingkat kepemimpinan paling tinggi, Bersifat ramalan yang hampir sama Hodgkinsons yang teoritis seperti ( l98') "Penyair." Pada tingkatan ini
di dalam Hall et al. konsep kepemimpinan dan pengikut digabungkan. Gaya operasi
adalah yang saling tergantung atau transformational. Semua orang sibuk dengan
tugas meningkatkan sisanya barang material dan kebutuhan manusia dan
mempersembahkan dan mendamaikan konflik antar kelompok dan menggunakan
teknologi secara kreatif dan peramah. Nilai dari saling ketergantungan dan hak-hak
/ perintah dunia mendominasi pada tingkatan ini.
4.2.3.
Nilai sebagai Bagian dari
Kultur Organisatoris
Nilai memotivasi faktor penentu dari perilaku (Spindler.
1955). Orang bekerja sama dalam suatu satuan nilai yang serupa, kepercayaan,
prioritas, pengalaman, dan tradisi berkata bahwa membentuk suatu kultur umum,
apakah itu di suatu organisasi yang kecil seperti suatu sekolah, suatu bangsa
yang besar seperti Amerika Serikat, atau suatu kelompok negara seperti
'Barat" atau dunia yang Barat."
Nilai dibagi untuk menggambarkan karakter dari suatu organisasi
dan memberi nya masukan ( Hoy &Miskel, 1991). Ouchi (1981) berargumentasi
bahwa korporasi sukses di keduanya Jepang dan Amerika Serikat diberi tenaga
oleh kultur perusahaan khusus yang secara internal konsisten dan yang ditandai
oleh nilai yang dibagi bersama dari keakraban. kepercayaan, kooperasi,
kerjasama sekelompok, dan equalitarianism. Pengamatan yang serupa telah dibuat
oleh Deal dan Kennedy (1982), Reda dan Waterman (1982), dan Peters (1988).
Bates (1984) melihat kultur, juga, seperti menyediakan
kerangka individu dalam menetapkan arti
untuk diri mereka. Ia mencatat bahwa bagian dari kultur berdasar fakta, tetapi
kebanyakan dongengan. Bagian yang belakangan mempunyai kaitan dengan arti,
yaitu., interpretive dan aturan yang menentukan menyediakan dasar untuk mengerti dan tindakan.
Getzels dan Thelen (1960) melukiskan kelas sebagai suatu
sistem sosial dan dengan jelas mempertunjukkan fungsi berharga di dalam sistim.
Model mereka direproduksi di dalam gambar 42. Model mewakili; menunjukkan
saling mempengaruhi antar individu, kelompok (misal, kelas), dan lembaga;
institusi (misal., sekolah). Sekolah sebagai lembaga; institusi bersifat
terbenam di dalam suatu adat istiadat pemilikan kultur dan nilai tertentu yang
mempengaruhi kelembagaan, kelompok, dan sasaran individu, peran,dan tingkah
laku sosial. Ini adalah suatu fungsi ' negosiasi berkelanjutan antara individu
dan kelompok mereka, kelompok dan lembaga; institusi mereka. dll. Jadi; Dengan
demikian, konflik nilai boleh dikembangkan dalam kelompok dan lembaga; institusi
dan antara kelompok dan lembaga; institusi dan lembaga; institusi dan kultur
sosial lebih besar. Suatu fungsi yang utama kepemimpinan adalah untuk memonitor
konflik ini dan untuk memandu mereka di dalam secara organisasi dan secara
sosial arah positif.

Gambar 4.2
Mogel getzel dan thelen kelas sebagai sistem sosial
Dari perhatian yang utama kepada pengurus itu adalah
dimensi nomothetic atau kelembagaan model yang mencari untuk menghubungkan
organisasi dengan sasaran nya melalui secara formal menciptakan peran-peran dan
role-expectations (atau pekerjaan dan pekerjaan yang diharapkan). Sebaliknya,
bukan para anggota organisasi yang administratif terutama terkait dengan setiap
atau dimensi ideografik. Dimensi yang kelembagaan, untuk bukan para anggota
yang administratif, dipandang sebagai batasan yang membatasi kepuasan mereka
selagi menyediakan pondasi hukum masuk akal untuk kontrak mereka dengan
organisasi. Tugas dari eksekutif itu adalah satu pendamaian: pendamaian
organisasi itu kepada masyarakat dan tentang para anggota organisasi ke arah
sasaran organisatoris.
Sergiovanni (1973) mengamati bahwa para eksekutif sekolah
terlalu sering kali menghindari konfrontasi nilai dengan mencoba untuk
berhubungan dengan konflik di tingkat terendah
di tingkatan yang hubungan antar pribadi di suatu dasar one-to-one. Ia
percaya, bagaimanapun, bahwa masalah utama mengenai perbedaan nilai bahwa
menghadapi kebanyakan para eksekutif sekolah adalah di tingkatan yang
organisatoris dan dinyatakan dalam wujud bersaing kultur organisatoris.
seperti, kompetisi perlu untuk menangani di tingkatan organisatoris berdasarkan
kepada Sergiovanni, efektivitas administratif memerlukan pengujian yang
berkelanjutan asumsi nilai internal yang termasuk membandingkan dan menguji struktur
nilai untuk kebaikan yang tumpang-tindih dengan' mereka yang berpegang kepada
para pekerja bidang pendidikan, para siswa, dan masyarakat sebebasnya. Hodgkinson
( 1991, p. 90), "Satu Organisasi pada hakekatnya, satu pengaturan untuk
pengendalian konflik melalui alat dari ordinat yang hebat atau menolak
sasaran."
Hodgkinson (1983) mengembangkan suatu model (Gambar 4:3)
bahwa mendamaikan nilai pribadi dengan unsur yang kelembagaan seperti yang tercakup
dalam Getzels dan Thelen model (Gambar 42). Tingkat V1 di dalam
model Hodgkinson mewakili; menunjukkan struktur nilai dari setiap di dalam
organisasi atau dimensi yang ideografik; tingkat V2 mewakili;
menunjukkan struktur nilai yang dibagi bersama dari kelompok di dalam organisasi
bahwa mengatur struktur kepercayaan individu; tingkat V3 adalah
dimensi nomothetic atau organisatoris; V4 mewakili; menunjukkan
struktur nilai dari sub budaya bahwa mempengaruhi operasi organisasi itu; dan,
V5 mewakili; menunjukkan melingkupi etos masyarakat.
Setiap anggota organisasi (V1) alami dimensi
yang nomothetic organisasi (V3), tidak secara langsung, tetapi
melalui hari kerja mematahkan dengan kelompok informal dan formal (V2).
Kelompok ini campur tangan antara anggota dan deretan eksekutif V3)
yang mengatur kesadaran dan pengalaman dari anggota. Dengan kata lain,
perspektif anggota organisatoris itu (V1)
adalah sungguh berbeda dari pengurus nya (V3).
Dengan cara yang serupa, etos umum V5)
"tidak berbenturan secara langsung atas organisasi (V1) tetapi diatur melalui campurtangan cabang kebudayaan (V4)
seperti organisasi profesional dan kelompok politis lokal. Tingkatan
tumpang-tindih Ini, menjalin dan saling berhubungan di dalam yang dinamis dan
hubungan ketidak-tentuan (Hodgkinson, 1983).
Getzels (1957, 1980) membedakan nilai ke dalam hanya dua
tingkatan: sekuler dan suci. Inti nasional atau "suci" nilai bersifat
yang relatif stabil. Ini akan berpasangan dengan etos Hodgkinson (V5).
"Sekuler" nilai bersifat penumpang sementara, tunduk kepada perubahan
dan penafsiran luas di tingkat operasional. Contoh dari nilai yang sekuler
adalah pekerjaan susila sukses, orientasi masa depan, kemerdekaan dan Puritan
moralitas. Nilai seperti itu mengurus perilaku nya yang sehari-hari mengenai
pekerjaan, waktu, hubungan kepada yang lain, dan moralitas pribadi. Fakta bahwa
nilai-nilai bergeser sedikitnya di dalam penekanan dan bahwa individu dan kelompok
sungguh berbeda di dalam ungkapan nilai itu
bagi tegangan antara generasi dan antara sekolah dan masyarakat, dengan
permasalahan dan keterlibatan yang sebagai akibat untuk pengurus yang bidang
pendidikan" (Lipham, 1988, p.177).

Gambar 4.3
Bidang-bidang aksi
4.2.4.
Kepemimpinan Organisatoris:
Nilai dan Visi
Greenfield (1984) mendalilkan itu "organisasi dibangun atas
penggabungan orang di sekitar nilai. Bisnis menjadi pemimpin oleh karena itu
bisnis dari menjadi usahawan untuk nilai" (p. 166). Greenfield menunjuk organisasi artefak budaya yang ditemukan
dalam arti, dalam niat manusia, tindakan dan pengalaman. Mereka adalah sistem
dari arti yang hanya dapat dipahami melalui penafsiran arti. Tugas dari para
pemimpin adalah untuk bertindak sebagai interpreter, menciptakan suatu perintah
moral agar mengikat mereka dengan orang di sekitar mereka.
Dari lima daya kepemimpinan yang dikenali oleh Sergiovanni
( 1984c)-technical (manajemen), manusia; bidang pendidikan, simbolis, dan
budaya yang terakhir adalah paling relevan di dalam mempelajari nilai.
"Obyek dari kepemimpinan yang simbolis adalah pengaturan kesadaran
manusia, artikulasi pantai kunci budaya yang mengidentifikasi unsur pokok dari
suatu sekolah, dan penghubung orang melibatkan di dalam aktivitas milik sekolah
tersebut kepada mereka" (pp. 7-8). Isyarat pemimpin yang simbolis kepada
yang lain apa dari arti penting di dalam organisasi. Dengan melakukan hal yang
demikian, pemimpin memberi kepada arah dan tujuan organisasi. Visi menjadi
unsur pokok dari apa yang yang dikomunikasikan adalah melalui aspek yang
simbolis dari kepemimpinan. Itu menyediakan suatu sumber dari konsensus
kejelasan, dan komitmen untuk para siswa dan para guru mirip (Vaill, 1984).
Pemimpin yang budaya mencari untuk menggambarkan,
memperkuat, dan mengartikulasikan nilai yang kronis, kepercayaan-kepercayaan,
dan pantai budaya bahwa memberi suatu identitas sekolah nya yang unik
Efek bersih dari kekuatan
yang budaya dari kepemimpinan adalah untuk membentuk ikatan bersama-sama
asisten pengajar, dan yang lain sebagai keyakinan di dalam pekerjaan dari
sekolah tersebut. Sungguh, (sekolah dan tujuannya
sedikit banyaknya yang dipuja seolah-olah mereka menirukan satu sistem ideologi
yang dipersembahkan kepada suatu misi yang suci. Seperti seseorang menjadi
anggota dari suatu ikatan dan kultur yang kuat. mereka dilengkapi dengan kesempayan
untuk menikmati perasaan yang khusus dari pribadi. (Sergiovanni 1984a, p.9)
Sergiovanni (1992, p.102) mencatat bahwa dua hal yang
penting yang menjadi tujuan, otonomi kontrak dan sekolah sosial menyediakan
pondasi untuk membangun struktur dari pendidikan yang diterima di sekolah.
Sekolah tersebut diubah dari suatu semata-mata organisasi sampai suatu
masyarakat covenantal, dan dasar dari otoritas mengubah dari satu penekanan
diotoritas psikologis dan birokratis kepada otoritas moral. Dengan kata lain,
sekolah tersebut mengubah dari suatu sekuler ke suatu organisasi yang suci yang
mengubah dari satu instrumen yang dirancang untuk mencapai tujuan spesifik
kepada suatu usaha yang berbudi luhur.
Misi pemimpin yang budaya untuk berfokus tajam pikiran dari
keanggotaan dari suatu organisasi sekolah dinilai secara bersama memegang
lambang, dan kepercayaan. Semakin banyak bahwa ini dipahami dan diterima,
semakin baik mampu sekolah tersebut untuk pindah pada persetujuan itu yang
ideal untuk dipegang dan sasaran yang mengharapkan untuk mengejar. Suatu kultur
yang kuat adalah karakteristik dari sekolah yang sempurna. Suatu struktur nilai
yang ketat mengizinkan satu organisasi jika tidak tersusun dengan bebas untuk
membiarkan pertimbangan luas di antara para profesional bekerja di dalam
organisasi. Nilai dan kepercayaan dibagi bersama menjadi pemilikan, organisasi
bersama-sama, bukan pengawasan managerial yang dekat.
Organisasi memerlukan para pemimpin yang dapat menyediakan
suatu pengertian tahan lama dan yang membujuk arah dan tujuan, yang berakar
sangat dalam pada nilai manusia dan roh. Para pemimpin perlu untuk memantulkan
cahaya, dengan aktip penuh pengertian, dan secara dramatis eksplisit tentang
nilai inti mereka dan kepercayaan. Para Manajer dan para pemimpin terbaik
menciptakan dan mendukung suatu tegangan mengisi keseimbangan antara nilai inti
dan strategi elastis. Mereka mengetahui apa yang wakili dan apa yang mereka
inginkan, dan dengan jelas dan dengan penuh ancaman mengkomunikasikan visi itu.
Mereka juga mengetahui bahwa mereka harus memahami dan bereaksi terhadap
kompleks berpakaian tentang angkatan bahwa mendorong dan menarik organisasi di
dalam beraneka arah (Bolman et aL1991).
Bennis (1984) benar-benar meringkas fungsi kepemimpinan dalam
konteks kultur organisatoris.
Di dalam jumlahan tenaga transformatif dari kepemimpinan
mengait lebih sedikit dari struktur organisasi dengan mahir, secara hati-hati
membangun manajemen mendisain dan mengendalikan, dengan rapi merasionalkan
bentuk perencanaan, atau dengan mahirnya melafalkan taktik kepemimpinan.
Kemampuan pemimpin menjangkau jiwa dari orang lain sekedarnya yang naikkan kesadaran
manusia, membangun arti, dan mengilhami tujuan manusia yang adalah sumber dari kekuasaan.
Di dalam kepemimpinan transformatif, oleh karena itu, itu adalah visi, tujuan, kepercayaan
dan aspek lain kultur organisatoris yang berasal dari arti penting yang utama.
(p 70)
4.2.5.
Nilai Demokrasi Dan Pengikut
Maxcy (1991) mengusulkan suatu teori yang pragmatis
berharga yang menekankan pentingnya konsensus budaya yang demokratis dalam
menuju rencana dan kebijakan yang mempengaruhi masyarakat sekolah tersebut. Dia
berargumentasi bahwa mutu hidup adalah tanggung jawab yang bersifat pendidikan
dan yang ditingkatkan dipenuhi tipe proses yang berunding diperbesar untuk
termasuk semua yang melibatkan di dalam atau yang dipengaruhi oleh pendidikan
yang diterima di sekolah. Dia mengamati bahwa kepemimpinan adalah selalu
dipotong ujung dan membatasi tipea kekuasaan diinvestasikan di minoritas.
Dengan konsensus budaya yang demokratis, kepemimpinan
memerlukan kapasitas itu untuk saling berhubungan dengan diri sendiri atau yang
lain dalam kaitan dengan menggunakan istilah menggerakkan suatu pelatihan terhadap
satu akhir berdasar pada ukuran yang masuk akal dan moral. Memimpin yang demikian
banyak menceritakan kepada orang lain apa benar atau salah tetapi lebih
membantu mereka datang untuk mengetahui untuk diri mereka, baik buruknya soal
dan kekurangan dari suatu kasus" (Maxcy 1991, p.195). Maxcy menuntut suatu
rekonstruksi dan konseptualisasi ulang kepemimpinan seperti yang diterangi,
kritis, dan tindakan pragmatis suatu dugaan kepemimpinan yang kelihatan pada
setiap orang yang mengambil bagian di dalam proses pencapaian/pembelajaran untukberbagai
macam pemikiran dan usaha yang akan mengakibatkan suatu pendidikan yang
diperbarui.
Di suatu keadaan yang serupa, Cambron-McCabe (1993) berargumentasi bahwa
prinsip moral memandu kelompok atau organisasi bukan masalah pilihan atau
intuisi pribadi tetapi harus diperlakukan kepada suatu proses berunding yang
demokratis. Dia menyatakan bahwa nilai harus ditentukan, di suatu konteks yang
demokratis untuk tujuan yang demokratis.
Sergiovanni (1992) menunjukkan kepemimpinan itu dan pengikutnya
bersifat timbal balik dalam satu organisasi yang dikuasakan. Ia percaya bahwa,
di dalam banyak cara, profesionalisme dan kepemimpinan adalah antithetical panjang,
di luar suatu titik tertentu, semakin banyak profesionalisme ditekankan,
semakin sedikit kepemimpinan diperlukan. Profesionalisme mempunyai suatu cara
memberi harapan kepada para pemegang saham untuk menjadi manejer diri sendiri.
Dan sebaliknya, menyediakan terlalu banyak kepemimpinan, sedikitnya dari yang
tradisional, menakutkan profesionalisme. Manajemen diri dan profesionalisme
bersifat konsep komplementer. "Jika manajemen diri adalah sasaran kita,
lalu kepemimpinan akan harus ditemukan kembali sekedarnya bahwa menempatkan 'pengikut
pertama" (p. 68).
Para bawahan memerlukan motivasi eksternal. Mereka sungguh mengira
untuk lakukan, selain itu mereka ingin mengetahui persisnya apa yang diharapkan
dari mereka yang mereka bekerja kepada aturan. Para pengikut, sebaliknya,
bersifat penuh motivasi dan bekerja dengan baik tanpa pengawasan yang dekat,
menaksir untuk selesai, kapan dan bagaimana caranya. dan mengambil tindakan
efektif milik mereka sendiri.
Para pengikut adalah orang yang merasa terikat dengan maksud
suatu penyebab, suatu visi dari apa sekolah tersebut dan akan jadi apa, kepercayaan
tentang mengajar dan belajar nilai dan patokan kepada mereka melekat keyakinan
penghukuman pertengahan. Para pengikut dan kepemimpinan dihubungkan, hirarki
yang tradisional dari sekolah tersebut adalah tersinggung. Itu mengubah dari
suatu wujud yang ditetapkan, dengan pengawas dan para pemegang saham ada di
puncak, guru dan siswa pada dasarnya memerlukan perubahan terus menerus.
Satu-satunya yang konstan adalah karena pengawas dan para pemegang saham maupun
para guru dan para siswa adalah di puncak kulminasi; bahwa posisi terpesan untuk
gagasan, nilai dan komitmen berada di pusat pengikut. Suatu perubahan bentuk
lebih lanjut berlangsung, dan penekanan yang birokratis, psikologis, dan pengarang
masuk akal teknis kepada otoritas profesional dan moral .Sebagai hasilnya, posisi
dan kepribadian hirarkis bukanlah cukup untuk mendapatkan satu mantel dari
pemimpin sebagai gantinya, itu hadir lewat devosi dan suksesnya yang dipertunjukkan
sebagai seorang Pemimpin pengikut benar adalah satu yang yang mengikuti
terlebih dulu. (Sergiovanizi 1992, pp. 71-72)
Interaksi antara kepemimpinan dan pengikutnya sebelumnya
terlihat di dalam presentasi pekerjaan dari Hall et al: (1990) di mengembangkan
nilai-nilai manusia (lihat Table 42). Di dalam
pemimpin kepemimpinan mereka tingkatan yang paling tinggi ditempatkan di
titik di mana konsep dari kepemimpinan dan followership gabungan dan perbedaan
antara mereka menjadi tidak berarti.
Greenleaf (1977) menulis tentang servantleader. Ia menunjuk
pada dua jenis kutub dari kepemimpinan: bahwa yang disediakan oleh orang yang
secara alami tentu saja ditundukkan untuk memimpin terlebih dulu tetapi melalui
layanan diberkati dengan otoritas kepemimpinan. Antara kutub itu terdapat banyak
tempat teduh. Kepemimpinan dianugerahkan dicari oleh pemimpin. Greenleaf
mencatat suatu perhitungan ulang isu dari kekuasaan dan otoritas dengan orang yang
sedang belajar untuk berhubungan dengan satu sama lain di dalam lebih sedikit
yang memaksa dan lebih dengan kreatif mendukung. "Suatu prinsip moral yang
baru sedang muncul bahwa hanya kesetiaan otoritas berjasa yang dengan bebas dan
dengan sadar dihibahkan oleh yang yang dipimpin kepada pemimpin sebagai jawaban
atas, dan sebanding dengan, dengan jelas, kualitas moral pelayan jelas dari
pemimpin" (p. 10). Pemimpin melayani berbeda dengan orang lain dari
kehendak baik karena mereka mematuhi apa yang mereka percaya. Greenleaf
menekankan arti penting itu kepada pemimpin yang berfungsi mendengarkan secara
hati-hati dan mengerti. Ia menyatakan sekedar penyimpangan kuat bahwa suatu
pelayan benar secara alami otomatis bereaksi terhadap setiap masalah dengan
mendengarkan terlebih dulu. Greenleaf melihat satu-satunya lembaga; institusi
yang sehat masa depan itu sebagian besar pelayan. yang dipimpin.
Konsep dari kepemimpinan, demokrasi dan pengikutnya pertama
dikembangkan oleh Burns (1978) dan diringkas di dalam diskusi "Transformational Leadership"
dari teks ini. pemikiran mendasar di
kepemimpinan, terutama sekali keterlibatan moral mentransformasi kepemimpinan,
bersifat asas pada diskusi ini. Mereka
menempatkan sifat yang timbal balik mentransformasi kepemimpinan digambar
menurut perspektip mengenai para pengikut mentransformasi para pemimpin.
4.2.6.
Analisa nilai
Hodgkson (1983) menyatakan bahwa seorang pemimpin mempunyai
suatu kewajiban yang filosofis untuk melakukan suatu analisis nilai dari
permasalahan yang penting yang sedang dihadapi. Di dalam membuat analisa
seperti itu,. pemimpin itu harus memisahkan minat dan nilai pribadi dari mereka
yang dari organisasi dan minat dari orang lain harus ditempatkan di atas
kepunyaan pribadi. Untuk berlatih kendali seperti itu perlukan pemimpin itu
untuk mengetahui tugas, situasi, kelompok, dan dirinya itu mengikuti di antara pertanyaan yang
dijawab di suatu analisis nilai menurut Hodgkinson ( 1983, p.207):
»
Apakah yang merupakan
nilai-nilai di dalam konflik dan dapat, mereka namai?
»
pada bidang-bidang
apakah yang berharga dan kebanyakan akan terpengaruh?
»
Yang manakah adalah
para aktor nilai?
»
Bagaimana konflik
dibagi-bagikan, hubungan antar pribadi atau intra secara pribadi?
»
Adalah konflik inter
hirarkis atau intra hirarkis?
»
Untuk apa strategi
untuk resolusi konflik kebanyakan yang dicoba kepada kasus?
»
Apakah yang merupakan
metavalues yang melibatkan di dalam kasus?
»
Ada suatu prinsip yang
mengangkat atau menghindarkan?
»
Dapatkah tegangan yang
tidak resolusi diakomodasikan?
»
konsekuensi-konsekuensi
yang masuk akal dan pragmatis yang dilampirkan bersama
»
skenario yang mungkin?
»
Apa yang tubuh-tubuh
berharga konsensus dan bunga(minat politis, jika relevan,
»
dimakan karat di dalam
dan tanpa organisasi?
»
Kepada apa luas
pemimpin mempunyai kendali atas media afektif dan informatif di
»
dalam kasus (tekanan media
pers, radio, televisi, bentuk komunikasi, organisasi yang
»
informal, dll.)?
»
Apa yang merupakan
luas dari mempengaruhi kendali di antara para pihak di dalam
»
kasus?
»
Apa yang merupakan
luas dari komitmen di antara para pihak di dalam kasus itu kepada
»
posisi-posisi mereka
yang masing-masing?
Hall et al. (1990) melihat koleksi data yang dapat
dipercaya sekitar nilai-nilai menyatakan secara implisit atau dengan tegas oleh
satu lembaga; institusi sebagai kritis kepada proses pengembangan organisatoris.
Perbandingan dan pertentangan kemudian bisa dianalisa dan dibandingkan dengan
suatu metodologi yang konsisten Di dalam
rencana analitis mereka, hasil diagnosa organisatoris terdiri dari tiga
bagian: analisa dokumen, inventaris nilai-nilai pribadi, dan kelompok menilai
analisa.
Menguji dokumen termasuk statemen misi dan statemen dari
filsafat untuk menyatakan tujuan dan tujuan organisasi, dan kebijakan dan
prosedur yang mengutamakan harapan dan sanksi tingkah laku yang dinyatakan.
Menggunakan analisa isi dan mencari seikat nilai, suatu profil nilai dari
organisasi itu dapat dikembangkan. Nilai yang diperkuat, dengan sengaja atau
tanpa disengaja, dapat ia mengenali lewat proses ini, buka peluang suatu
sekolah untuk mengembangkan strategi untuk membantu nya menjadi lebih konsisten
dan lebih memfokuskan dalam itu apa dan
berkata.
Sejumlah instrument yang ada tersedia karena menaksir nilai
pribadi seperti Hall Tonna Inventory (Hall et al., 1990). Instrumen seperti itu
hasilkan profil nilai pribadi yang bersifat bermanfaat untuk analisa dan ilmu
pengobatan yang diri sendiri atau untuk pengumpulan oleh unit atau organisasi
yang mengijinkan analisis kelompok. Profil dikumpulkan dapat dibandingkan
dengan nilai yang diharapkan dari organisasi seperti yang diungkapkan oleh
analisa dokumen. Ketidak konsistensian boleh mengungkapkan suatu kebutuhan
untuk menyatakan kembali nilai yang organisatoris, untuk membawa nilai pribadi
di dalam garis dengan nilai organisatoris yang diharapkan melalui pengembangan
staff memprogram, atau kombinasi keduanya.
Individu menganalisa
dokumen dan analisis kelompok dapat menyediakan pengertian yang mendalam info
sejumlah aspek kritis dari kultur milik sekolah tersebut yang organisatoris.
Informasi dikumpulkan akan mengungkapkan bidang tekanan yang mungkin antara para
guru dan pengurus seperti juga antara para anggota pengurus dan dewan. Itu akan
mengidentifikasi dan mengukur prioritas yang mengeluarkan dan nilai yang diuji
dalam satu cara yang objektif. Proses itu akan mengungkapkan gaya kepemimpinan
mata antar pengurus para guru dan para anggota dewan sekolah. Itu akan
mengidentifikasi menguraikan dan meneliti nilai dasar mempola di dalam misi,
filsafat dan prosedur dan akan menyarankan cara nilai ini mempola dampak di
suatu kultur sekolah sehari-hari. Akhirnya data dihasilkan akan menandai adanya
peningkatan ketrampilan yang diperlukan untuk individu dan kelompok para guru,
para anggota pengurus atau anggota dewan. (Hall et al. 1990 pp. 64-65)
4.3.
Metavalues
Hodgkinson (1983) menggambarkan istilah metavalue sebagai
"suatu konsep yang sangat diinginkan kukuh dan tetap, bagi pribadi bahwa
itu sepertinya tak perlu dipertengkarkan atau perkelahian satu bahwa biasanya dikalkulasikan
sebagai nilai yang biasa dari individu dan hidup kolektif dalam wujud satu tak
diucapkan atau asumsi yang tidak diuji" (p. 43). Di dalam administrasi dan
hidup organisatoris, ia mengenali metavalues yang dominan sebagai efektivitas
efisiensi kering.
Nyberg ( 1993, p.196) mengungkapkan "moral universal adalah
sama untuk setiap orang di itu tersebut
didasarkan pada perhatian untuk martabat manusia; kesopanan; hubungan sukarela
yang bukanlah menekan, dan sekitar jenis pemenuhan rohani." Pokok berbeda
dengan dari orang ke orang, kelompok satu dengan lainnya, tempat untuk
menempatkan, dan dari waktu kepada waktu; tetapi dasar dari perhatian tetap konsisten.
Kita semuanya sebangun, tetapi masing-masing adalah unik.
Rokeach (1973) yang dicari untuk mengidentifikasi keinginan
idaman atau nilai yang dipilih untuk pertimbangan khusus oleh semua ideologi
politis. Ia menghipotesakan bahwa variasi yang utama di dalam ideologi politis
pada dasarnya dapat dikurangi untuk menentang orientasi nilai mengenai
keinginan atau hal tak diinginkan yang politis kebebasan dan persamaan di dalam
semua percabangan mereka.
Getzels (1957, 1978) menunjuk nilai inti nasional seperti "suci."
Ia mengenali empat nilai yang suci sebagai hal yang di inti dari etos Amerika
itu: demokrasi, individualisme, persamaan, dan dijadikan sempurna manusia.
Literatur di kebijakan bidang pendidikan membuat seringnya
eksplisit atau acuan terkandung pada nilai yang serupa. Guthrie, Garms, dan
Pierce (1988) menunjuk persamaan, efisiensi, dan kebebasan tipea nilai-nilai
dari perhatian masyarakat yang tertentu. Wirt (1987) menunjuk persetujuan umum
antar negara-negara yang nilai-nilai yang utama di dalam pendidikan bersifat
mutu (dijadikan sempurna keunggulan atau manusia, hak kekayaan, efisiensi, dan
pilihan (kebebasan atau kebebasan). Boyd
(1984) memfokuskan di persamaan kebebasan, dan efisiensi seperti "persaingan
nilai-nilai" di dalam yang bidang pendidikan -penguasaan kebijakan dan
sekolah di dalam demokrasi yang Barat (p1). Swanson (1989) mengenali lima nilai
yang telah menurut sejarah terkemuka di dalam membentuk masyarakat-masyarakat
buritan dan yang adalah juga sangat relevan kepada ketetapan dan konsumsi jasa
bidang pendidikan: kebebasan, persamaan, kelompok persaudaraan: efisiensi, dan
pertumbuhan ekonomi Ada sangat banyak yang tumpang-tindih di antara berbagai
daftar dengan kebebasan dan persamaan yang muncul di hampir semua.
Nama dari suatu metavalue boleh melanjutkan sebagai yang
sama, tetapi definisi-definisi boleh bertukar-tukar dari satu ke lain tempat
dan dari waktu ke waktu. Nyberg (1981, bagian
ke II), sebagai contoh, memperingatkan
bahwa "kebebasan (atau kebebasan) dengan maksud sedikitnya pada sebagian
dari waktu di mana itu digunakan. Ia menunjukkan bahwa Amerika Serikat melihat
suatu perubahan bentuk antara 1787 -dan 1947,
sama seperti "hak-hak kebebasan alami (hak-hak melawan terhadap
pemerintah, hak-hak dari kemerdekaan)"
menjadi hak-hak warga negara (hak-hak untuk mengambil bagian di dalam
pemerintahan sipil)" dan kemudiannya menjadi "kebebasan manusia
(hak-hak untuk pemerintah bantuan dari dalam mencapai perlindungan dari
ketakutan dan keinginan)"p. 97-98).
Perubahan bentuk paralel terjadi di dalam arti dari
persamaan (atau hak kekayaan). Pada awalnya, persamaan berisi hanya dari hak
dan bukan kondisi, untuk diperlakukan sama di depan hukum, kebiasaan, dan
tradisi dengan persamaan yang instrumen untuk menjamin kebebasan seperti
digambarkan. Akhir akhir ini definisi yang operasional, persamaan sudah memperluas
untuk termasuk faktor kondisi. Sebagai contoh beberapa orang bersifat orang
cacat jasmani di dalam menyenangi kebebasan oleh karena keadaan di luar kendali
mereka seperti status minoritas, kemiskinan jenis kelamin, dan halangan
psikologis dan secara fisik. Sementara kebebasan dan persamaan melengkapi satu
sama lain seperti dirumuskan dalam 1787 definisi zaman ini lebih luas persamaan
membawa nya ke dalam langsung bertikai dengan nilai dari kebebasan (sebagaimana
yang ditemukan pertama kali) karena kebijakan penyelesaian sengketa dengan
penengahan kembali melibatkan Tidak Hanya orang yang hanya semua yang lain.
Kebebasan memerlukan satu peluang untuk ungkapan melalui kebebasan yang
individu, sedangkan persamaan kondisi memerlukan penahanan kebebasan yang
individu.
Oleh karena ketidak konsistenan yang konseptual antar nilai,
tidaklah mungkin untuk menekankan semuanya pada waktu yang sama di muka umum
kebijakan atau di dalam hidup yang diinginkan yang individu meskipun demikian
masing-masing mungkin. Individu dan masyarakat harus menetapkan prioritas. Ini
adalah suatu proses yang dinamis. Prioritas individu berubah dengan keadaan.
dan di mana telah ada suatu perubahan yang cukup antar individu, bergeser ke
dalam prioritas publik mengikuti Ravitch, 1985, p.5). Persetujuan atas prioritas
bukanlah hal yang penting bagi pihak swasta menjual keputusan sektor di luar
tingkatan keluarga. Di dalam sektor publik bagaimanapun, suatu keputusan bentuk
tunggal diperlukan untuk menyertakan negosiasi dan kompromi antar kaum pengikut
yang tertarik (cabang kebudayaan dan kelompok), membangitkan tekanan sosial
penting di dalam proses. Yang lebih tinggi tingkat persetujuan pengumpulan
semakin sulit karena semakin besar jumlah
dari hal tidak sejenis diperkenalkan.
Spindler (1955) menjelaskan serangan di pendidikan publik
di dalam 1950an dengan mengutip pergeseran nilai kemasyarakatan utama mengikuti
Perang Dunia II. (Acuan kepada analisa Spindler mengingatkan kita bahwa ini
bukan generasi pertama pendidik sebagai para penerima kritik publik yang
bermusuhan.) Spindler melihat kritik hari itu merupakan produk dari suatu
kultur Amerika yang sedang mengalami suatu pergeseran riil dalam nilai.
Populasi yang lulus transisi budaya adalah Characterized oleh konflik, dan
dalam wujud paling parah; sulit; keras;
berat nya, demoralisasi dan diorganisasi. Konflik melampaui kelompok dan
lembaga; institusi karena individu dalam suatu masyarakat transformational
mungkin untuk menjaga unsur dari kedua-duanya dominan dan muncul sistem nilai
secara serentak. Situasi seperti itu bukanlah hanya yang dikacaukan oleh kelompok
memerangi satu sama lain, tetapi juga oleh perkelahian individu sendiri.
Spindler (1955) menggambarkan nilai tradisional sebagai
moralitas Puritan; pekerjaan susila sukses, individualisme, orientasi prestasi,
dan orientasi masa depan. Nilai-nilai ini sedang terancam oleh nilai yang
muncul: keramahan; sikap moral relativistic, pertimbangan untuk yang lain,
orientasi waktu sekarang Hedonistic, dan penyesuaian kepada kelompok. Ia menyimpulkan
bahwa ada suatu bendungan dan suatu kekuatan di dalam nilai tradisional
menetapkan banyak yang dipandang itu dengan nostalgia. Tetapi,persaingan
individualisme tidak datar (dalam kebijaksanaan),
dan moralism kaku (dengan kapasitas nya untuk yang dipindahkan benci) tidak
baik yang dijadikan tidak fungsional di suatu masyarakat di mana orang-orang
sedang dalam massa poliglot dan meremehkan teknologi bahwa boleh menghancurkan;
atau menyelamatkan, dengan desakan dari tombol-tombol.
Lebih baru-baru ini, Nyberg (1993) dengan cara yang sama
menyimpulkan bahwa suatu prinsip moral atau orientasi positivist (yang
digambarkan sebelumnya) tumbuh dengan subur di suatu lingkungan yang mendukung,
tetapi mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru tipe
lingkungan berubah. Sebaliknya, nilai yang pribadi atau constructivist
orientasi (juga digambarkan sebelumnya) mempunyai suatu kesempatan yang lebih
baik dari bertahan hidup jangka panjang di dalam moral ini banyak sekali
perubahan terus menerus oleh karena kemampuan beradaptasi nya yang fleksibel
dan kesediaan nya untuk menyesuaikan diri dengan ketidak-pastian.
Pergeseran yang berharga dikenali oleh Spindler dan oleh
Nyberg yang disebut adalah mungkin untuk melanjutkan ke dalam masa depan yang
dapat diduga. Sebagai tambahan, situasi geo-political di dalam dunia sudah mencair
pada masa yang lampau dekade. Ini, menggabungkan dengan kemajuan teknologi yang
tak ada bandingnya, kelihatannya untuk memiliki dan mempercepat tingkat yang utama
pergeseran dalam prioritas nilai dan di dalam ketidak puasan yang dinyatakan
dengan keadaan tetap pada suatu saat tertentu Paradigma kuno kelihatannya tidak
cocok lagi.
Isu-isu zaman ini utama berputar-balik di sekitar bersaing
sasaran hasil sosial dari persamaan, kebebasan pribadi, dan efisiensi produktif
di antaranya. Pertanyaan tentang ya atau tidaknya masing-masing dapat
bersama-sama di masa mendatang melalui kebijakan yang publik sedang dengan
semangat diperdebatkan. Skenario yang hampir bisa dipastikan adalah karena satu
atau dua nilai-nilai akan diberi prioritas; seperti di masa lampau itu kepada
resiko dari yang lainnya. Fermentasi bahwa kita adalah yang mengalami hari ini
adalah suatu fungsi perjuangan politis dinamis untuk mencapai keseimbangan
terbaik antar minat yang sah. Keseimbangan terbaik sudah memberi variasi, dan
akan melanjutkan untuk bertukar-tukar; dari masyarakat ke masyarakat dan dari
waktu ke waktu di dalam suatu masyarakat sebagai definisi konteks dan nilai dan
prioritas berubah (Wirt, 1986).
4.4.
Studi kasus :Kehamilan remaja dan Pencegahan AIDS
Menurut suatu National Survey Family Growth melakukan
delapan bertahun-tahun yang lalu, 19 persen dari anak-anak perempuan di bawah
usia dari 15 secara seksual berpengalaman; hari ini bahwa tingkat adalah hampir
30 persen. Tujuh dari sepuluh remaja nerusia 18 tahun telah berpengalaman
secara seksual (Freeman, 1990).
State Education Department sudah mengamanatkan Pendidikan
AIDS untuk diterapkan di dalam daerah sekolah. Sindrom AIDS adalah suatu
penyakit karena virus fatal bahwa menyerang sistim kekebalan tubuh,
pasien-pasien sisa-sisa berbahaya, lemah kepada banyak infeksi/peradangan, dan
dianggap sebagai ancaman kesehatan masyarakat abad ini" Center for Health Statistics
meramalkan bahwa AIDS adalah salah satu dari sepuluh penyebab utama kematian di
tahun 1990an dan bahwa itu akan memimpin penyebab kematian untuk orang-orang
tua usia 25 sampai 44 (united way 1988).
Rumah sakit lokal melaporkan suatu peningkatan angka dari
bayi-bayi yang dilahirkan dari wanita-wanita yang mengidap HIV-positive atau
dengan AIDS. Sejumlah daerah-daerah sekolah, terutama yang di dalam kota-kota
yang besar sedang mulai mendistribusikan kondom-kondom kepada populasi siswa dalam
percobaan untuk membatasi tingkat kehamilan yang remaja dan sebagai satu ukuran
pencegahan AIDS.
Permasalahan kehamilan yang remaja dipandang oleh US. House
of Representatives Select Committee on Children, youth and Families di tahun 1987
seperti " yang tak dapat diterima," "membinasakan," dan
" mengerikan" (Kcough, 1988) Data sensus lokal yang sebagai tambahan
menunjukkan bahwa kejadian dari kehamilan yang remaja sudah meningkat dengan
mantap.
Kepala sekolah, para guru kesehatan, perawat, karyawan kemasyarakatan,
dan penasihat di dalam daerah sekolah sudah melaporkan informasi penelitian
bahwa mendukung persepsi bahwa ada satu peningkatan di dalam banyaknya
kehamilan-kehamilan di dalam populasi siswa. Meski sejumlah para siswa lebih
memilih untuk penghentian kehamilan melalui pengguguran, kecenderungan adalah untuk
meningkatkan para siswa lebih memilih untuk membesarkan bayi mereka. Mayoritas
anak belasan tahun yang hamil di dalam kelas yang ke duabelas dan yang ke sebelas
meski semakin banyak peristiwa sedang dilaporkan dari kelas tujuh sampai sepuluh.
Para guru sudah melaporkan bahwa para siswa kelihatannya ingin menjadi hamil.
Para agen layanan sosial setuju bahwa anak perempuan melihat suatu nilai di
dalam kehamilan karena memberikan mereka suatu status yang khusus. Ada beberapa
perhatian bahwa sejumlah anak perempuan mungkin telah diangkat di
keluarga-keluarga dysfunctional, mengalami pelecehan anak atau ibu-ibu
pengabaian dan mahluk itu tunggal akan cenderung untuk melanjutkan siklus.
Dengan keadaan, Dewan pendidikan sudah meminta rekomendasi
dari pengawas untuk menentukan kebijakan dari isu pendidikan AIDS dan kehamilan remaja. Anda
adalah seorang anggota suatu panitia untuk belajar isu itu dan untuk membuat
pujian; rekomendasi yang didasarkan peran yang anda telah ditugaskan. Keputusan
itu akan didasarkan pada konsensus. Panitia itu terdiri atas: seorang guru
kesehatan orangtua, dewan siswa anggota pendidikan, pokok sekolah dan
observer/recorder.
Secara minimal, kebijakan itu harus menunjuk isu dari
pendidikan AIDS dan kehamilan siswa. Ada usulan bahan kebijakan dan sumber daya
(Brodinsky &Keough. 1989) untuk membantu panitia di dalam perumusan
rekomendasi kebijakan daerah yang baru. Itu diusulkan bahwa setelah menjadi terbiasa
dengan kebijakan yang mungkin, panitia brainstorm dan mendaftar nilai yang
tersembunyi dalam analisa.
Tugas dari panitia hanyalah untuk merekomendasikan;
bagaimanapun ada kemungkinan bahwa pengawas itu akan mengikuti nasihat dari
panitia dan maju kebijakan nya yang yang direkomendasikan kepada Dewan pendidikan.
Oleh karena itu, anda dan para anggota lain panitia itu akan alternatif daftar,
menyediakan suatu analisa yang diakibatkan untuk kebijakan yang ditolak dan
yang direkomendasikan. Argumentasi akan dibahas bahwa bisa digunakan untuk
membenarkan tindakan-tindakan yang didasarkan analisa nilai.
Rekomendasi akhir harus sebagai konsensus, setiap orang
keputusan itu di dalam kelompok itu dapat menerima. Di antara usulan kebijakan
pertimbangan adalah:
»
Kebijakan A: Anak-anak
perempuan yang hamil akan ditempatkan di rumah atas permintaan mereka.
Anak-anak perempuan akan didorong untuk mengejar suatu ijazah ekwivalensi
sekolah menengah jika mereka 16 tahun atau lebih tua. Anak-anak perempuan yang lebih
muda akan kembali ke sekolah mengikuti penyerahan dari bayi-bayi mereka dan
berlanjut di dalam program yang tradisional.
»
Kebijakan B: Para
siswa akan didorong untuk meninggalkan sekolah secepat itu menjadi jelas bahwa kehamilan
mereka sebagai suatu penghalang untuk para siswa yang lain. Para siswa akan
ditugaskan kepada instruksi rumah atau dapat mendaftarkan/mengerahkan di dalam
layanan alternatif sekolah-sekolah program sosial. Menyediakan suatu lingkungan
pemeliharaan untuk guru para siswa yang hamil suatu pesan kepada para siswa
yang lain bahwa siswa yang hamil bisa diterima secara khusus.
»
Kebijakan C : Sekolah
akan mengizinkan para siswa untuk melanjutkan tendensi di dalam program reguler
dan memperlakukan kelas jauh dari sekolah sebagai siswa yang sakit.
»
Kebijakan D : Sekolah
akan mengembangkan program alternatif khusus untuk para siswa yang hamil dan
mengasuh. Itu dikenal bahwa para siswa ini mempunyai kebutuhan khusus. Para
siswa hamil akan dengan aktip didorong untuk mendaftarkan di dalam program
jenis ini.
»
Kebijakan E : Sekolah
akan menyediakan hari bayi dan anak kecil yang baru belajar jalan karena
ibu-ibu remaja di sekolah.
»
Kebijakan F : Para
siswa hamil dan ibu-ibu remaja akan diwajibkan untuk mendaftarkan kejuruan dan
kursus-kursus pendidikan teknis sebagai mereka akan bertanggung jawab atas
mendukung diri mereka dan anak mereka.
»
Kebijakan G: Sekolah
akan kontrak tambahan dengan hari mempedulikan penyedia di dalam dekatnya
sekolah tersebut untuk jasa untuk para siswa yang mempunyai anak-anak dan kekurangan
keuangan.
»
Kebijakan H : Meskipun
daerah yang lain mungkin punya suatu masalah dengan kehamilan remaja, daerah
ini tidak; oleh karena itu, kita tidak perlu suatu kebijakan
»
Kebijakan I : Sebagai
suatu pendekatan bidang pendidikan dan praktis kepada pembatasan kelahiran dan
suatu penghalang untuk AIDS, instruksi di pemakaian kondom akan disediakan dan kondom
akan disediakan kepada semua siswa sepanjang sekolah tersebut.
»
Kebijakan J :
Pendidikan seks tidak akan diajar di sekolah; (ia) adalah tanggung jawab orang
tua.
»
Kebijakan K : Suatu
kurikulum akan dikembangkan untuk termasuk pendidikan mengenai nafsu manusia
dan nilai. Mengagumi diri sendiri akan dikenali sebagai kritis di dalam
mengembangkan suatu lingkungan pelajaran hal positif seperti juga suatu
penghalang kepada kehamilan remaja.
»
Kebijakan L :
pendidikan AIDS akan disediakan melalui kontrak tambahan dengan personil medis
untuk menyediakan presentasi pemasangan dan kelas; selain dari ini ada
kebutuhan kecil untuk pendidikan sebagai ini bukan suatu masalah di dalam
daerah ini.
»
Kebijakan M :
pendidikan AIDS akan ditanamkan ke dalam kurikulum K-12.
Pertimbangan
ukuran karena pengambilan keputusan boleh meliputi yang berikut metavalues yang
mempengaruhi kebijakan sosial. (Swanson, 1989):
»
Kebebasan : hak dari setiap
untuk memilih jenis berbagai keinginan nya, bukan tunduk kepada kendali atau
batasan tak pantas.
»
Hak kekayaan:
perawatan dari setiap adalah sama di depan hukum, kebiasaan, dan tradisi
seperti juga kondisi; pendidikan mencari untuk mengurangi kewajiban bahwa bu
menghalangi perorangan di dalam masyarakat
»
Fraternity : suatu
pengenalan suatu ikatan yang umum yang membangun suatu pengertian dari
masyarakat; kesatuan dan kebangsaan
»
Efficiency : perhatian
yang dinyatakan dalam kaitan dengan menggunakan istilah tanggung-jawab dan
standard tinggi.
4.5.
Aktivitas untuk Diskusi
1.
Setiap orang mempunyai
suatu pandangan yang filosofis tentang hidup meskipun mungkin tidak telah
secara menyeluruh dilafalkan.
a)
Mencerminkan pandangan
filosofis tentang yang hidup dan meringkas nya dalam beberapa alinea-alinea.
b)
Apakah pandangan mu
yang filosofis serupa dengan setiap yang
digambarkan itu di dalam bab ini? yang mana?
c)
Bagaimana cara
filsafat hidup mu mempengaruhi perilaku yang profesional?
2.
Kembangkanlah untuk
diri anda "profesional platform" bahwa dapat bertindak sebagai satu
kerangka operasional untuk pengambilan keputusan. Termasuk:
a)
suatu uraian sistim diri
sendiri kepercayaan-kepercayaan
b)
suatu statemen dari
pendapat mu menyangkut misi pendidikan yang diterima di sekolah sebagai suatu
proses sosial
c)
suatu statemen
menyangkut pertimbangan anda ingin menjadi suatu pengurus sekolah
d)
suatu statemen dari
pandangan-pandangan mu di peran dari pengurus-pengurus di sekolah-sekolah,
hubungan-hubungan mereka yang ideal dengan para anggota yang lain sekolah
tersebut dan sistim, dan bagaimana mereka perlu menerapkan peran mereka.
3.
Banyak
proposal-proposal telah diperkenalkan karena memperbaiki pendidikan.
Identifikasi nilai-nilai yang makro berhubungan dengan masing-masing dari :
»
perubahan yang
diusulkan didaftarkan di bawah dan
»
menunjukkan bagaimana
masing-masing menandai suatu keberangkatan dari nilai-nilai yang tidak bisa
dipisahkan yang makro di dalam keadaan tetap pada suatu saat tertentu.
a)
pilihan keluarga dari
sekolah negeri
b)
voucher-voucher bidang
pendidikan tidak dibatasi
c)
kredit pajak untuk
uang kuliah sekolah swasta
d)
pengambilan keputusan
berbasis sekolah
e)
pembiayaan negara
penuh pendidikan yang diterima di sekolah
f)
kurikulum negara yang
diamanatkan

|
Inquiry Process
|
|
|
The
inquiry process is just that: a process. No one model can encapsulate
inquiry-based education and the range it encompasses. We are fully aware of
the dangerous line we tread when we try to describe a process that is
dynamic; and we must stress that any one description is not the only-or the
ideal-model.
Our
intention is to present some of the important aspects of inquiry that ought
to be supported in a successful learning environment. For example, we should
remember that inquiry often does-and should-lead to the creation of new
ideas. And constructively communicating those ideas within the context of our
classroom environments is central to the whole inquiry process.
That
said, below you will find a basic outline of what the inquiry process
includes.
|
|
|
It
begins with the desire to discover. Meaningful questions are inspired by
genuine curiosity about real-world experiences. A question or a problem comes
into focus at this stage, and the learner begins to define or describe what
it is.
Some real examples of questions in this stage in the process are:
Of
course, questions are redefined throughout the learning process. We never
fully leave one stage and go neatly to the next. As one teacher at a recent
Inquiry Workshop pointed out, "It's messy, but it works!"
Questions naturally lead to the next stage in the process: investigation. |
|
|
Taking
the curious impulse and putting it into action is what we call the
investigation process. At this stage the learner begins to gather information:
researching resources, studying, crafting an experiment, observing, or
interviewing, to name a few. The learner may recast the question, refine a
line of query, or plunge down a new path that the original question did
not-or could not-anticipate. The information-gathering stage becomes a
self-motivated process that is wholly owned by the engaged learner.
|
|
|
As
the information gathered in the investigation stage begins to coalesce, the
learner begins to make connections. The ability at this stage to synthesize
meaning is the creative spark that forms all new knowledge. The learner now
undertakes the creative task of shaping significant new thoughts, ideas, and
theories outside of his/her prior experience.
|
|
|
At
this point in the circle of inquiry, learners share their new ideas with
others. The learner begins to ask others about their own experiences and
investigations. Shared knowledge is a community-building process, and the
meaning of their investigation begins to take on greater relevance in the
context of the learner's society. Comparing notes, discussing conclusions,
and sharing experiences are all examples of this process in action.
|
|
|
Reflection
is just that: taking the time to look back at the question, the research
path, and the conclusions made. The learner steps back, takes inventory,
makes observations, and possibly makes new decisions. Has a solution been
found? Do new questions come into light? What might those questions be?
And
so it begins again; thus the circle of inquiry.
|
|
What Is Inquiry?
Inquiry is a
dynamic process of being open to wonder and puzzlement and coming to know and
understand the world. As such, it is a stance that pervades all aspects of life
and is essential to the way in which knowledge is created. Inquiry is based on
the belief that understanding is constructed in the process of people working and
conversing together as they pose and solve the problems, make discoveries and
rigorously testing the discoveries that arise in the course of shared activity.
Misconception Alert
“Inquiry is not a “method” of doing science, history, or any other subject, in which the obligatory first stage in a fixed, linear sequence is that of students each formulating questions to investigate. Rather, it is an approach to the chosen themes and topics in which the posing of real questions is positively encouraged, whenever they occur and by whoever they are asked. Equally important as the hallmark of an inquiry approach is that all tentative answers are taken seriously and are investigated as rigorously as the circumstances permit.”(1)
“Inquiry is not a “method” of doing science, history, or any other subject, in which the obligatory first stage in a fixed, linear sequence is that of students each formulating questions to investigate. Rather, it is an approach to the chosen themes and topics in which the posing of real questions is positively encouraged, whenever they occur and by whoever they are asked. Equally important as the hallmark of an inquiry approach is that all tentative answers are taken seriously and are investigated as rigorously as the circumstances permit.”(1)
Inquiry is a
study into a worthy question, issue, problem or idea. It is the authentic, real
work that that someone in the community might tackle. It is the type of work
that those working in the disciplines actually undertake to create or build
knowledge. Therefore, inquiry involves serious engagement and investigation and
the active creation and testing of new knowledge.
There are
several dimensions of inquiry:
·
Authenticity
o
The inquiry
study emanates from a question, problem or exploration that has meaning to the
students.
o
An adult at work
or in the community might actually tackle the question, problem, issue or
exploration posed by the task/s.
o
The inquiry
study originates with an issue, problem, question, exploration or topic that
provides opportunities to create or produce something that contributes to the
world’s knowledge.
o
The task/s
require/s a variety of roles or perspectives.
·
Academic Rigour
o
The inquiry
study leads students to build knowledge that leads to deep understanding.
o
Students are
provided with multiple, flexible ways to approach the problem, issue or
question under study that use methods of inquiry central to the disciplines
that underpin the problem, issue or question.
o
The inquiry
study encourages students to develop habits of mind that encourage them to ask
questions of
§
evidence (how do
we know what we know?)
§
viewpoint (who
is speaking?)
§
pattern and
connection (what causes what?)
§
supposition (how
might things have been different?)
§
why it matters
(who cares)
·
Assessment
o
On-going
assessment is woven into the design of the inquiry study providing timely
descriptive feedback and utilizes a range of methods, including peer and self
evaluation. Assessment guides student learning and teacher’s instructional
planning.
o
The study
provides opportunities for students to reflect on their learning using clear
criteria that they helped to set. The students use these reflections to set
learning goals, establish next steps and develop effective learning strategies.
o
Teachers, peers,
adults from outside the classroom and the student are involved in the
assessment of the work.
·
Beyond The
School
o
The study
requires students to address a semi-structured question, issue or problem,
relevant to curriculum outcomes, but grounded in the life and work beyond the
school.
o
The study
requires students to develop organizational and self management skills in order
to complete the study.
o
The study leads
students to acquire and use competencies expected in high performance work
organizations (eg. team work, problem solving, communications, decision making
and project management).
·
Use of Digital
Technologies
o
Technology is
used in a purposeful manner that demonstrates an appreciation of new ways of
thinking and doing. The technology is essential in accomplishing the task.
o
The study
requires students to determine which technologies are most appropriate to the
task.
o
The study
requires students to conduct research, share information, make decisions, solve
problems, create meaning and communicate with various audiences inside and
outside the classroom.
o
The study makes
excellent use digital resources.
o
Students and
parents have on-going, online access to the study as it develops.
o
The study
requires sophisticated use of multimedia/hypermedia software, video,
conferencing, simulation, databases, programming, etc.
·
Active
Exploration
o
The study
requires students to spend significant amounts of time doing field work, design
work, labs, interviews, studio work, construction, etc.
o
The study
requires students to engage in real, authentic investigations using a variety
of media, methods and sources.
o
The study
requires students to communicate what they are learning with a variety of
audiences through presentation, exhibition, website, wiki, blog, etc.
·
Connecting
With Expertise
o
The study
requires students to observe and interact with adults with relevant expertise
and experience in a variety of situations.
o
The study
requires students to work closely with and get to know at least one adult other
than their teacher.
o
The tasks are
designed in collaboration with expertise, either directly or indirectly. The
inquiry requires adults to collaborate with one another and with students on
the design and assessment of the inquiry work.
·
Elaborated
Communication
o
Students have
extended opportunities to support, challenge, and respond to each other’s ideas
as they negotiate a collective understanding of relevant concepts. Students
have opportunities to negotiate the flow of conversation within small and large
group discussions.
o
Students have
opportunities to choose forms of expression to express their understanding.
o
The inquiry
provides opportunities for students to communicate what they are learning with
a variety of audiences.
These are taken
from the Inquiry Rubric
Misconception Alert
“Inquiry is not to be thought of in terms of isolated projects, undertaken occasionally on an individual basis as part of a traditional transmissionary pedagogy. Nor is it a method to be implemented according to a preformulated script.”(1)
“Inquiry is not to be thought of in terms of isolated projects, undertaken occasionally on an individual basis as part of a traditional transmissionary pedagogy. Nor is it a method to be implemented according to a preformulated script.”(1)
There is a
difference between Projects as conventionally understood in education circles
and Project-based Learning that fosters inquiry. When using projects within
inquiry it is important to note the differences.
|
Project
|
Project-based
Learning
|
|
loose set
of activities
|
inquiry-based
|
|
supplements
the curriculum
|
part of the
regular curriculum and instruction
|
|
thematic
|
focused
|
|
broad
assessments
|
maps to
specific outcomes
guided by assessment for learning |
|
no
management structure
|
uses
project management tools
|
______________________
Reference
(1) Wells, Gordon (2001). Action, talk & text: Learning & Teaching Through Inquiry. New York, NY: Teachers College Press.
(1) Wells, Gordon (2001). Action, talk & text: Learning & Teaching Through Inquiry. New York, NY: Teachers College Press.
![]() |
Welcome to Inquiry-based Learning. Start
here in the "Explanation" section, which is all about the CONCEPT.
Then go on to "Demonstration" and the following sections, where we
move from CONCEPT TO CLASSROOM!
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
What is inquiry-based learning?
An old adage states: "Tell me and I
forget, show me and I remember, involve me and I understand." The last
part of this statement is the essence of inquiry-based learning, says our
workshop author Joe Exline 1. Inquiry implies involvement that leads to
understanding. Furthermore, involvement in learning implies possessing skills
and attitudes that permit you to seek resolutions to questions and issues
while you construct new knowledge.1.
A Context for Inquiry Unfortunately, our traditional educational system has worked in a way that discourages the natural process of inquiry. Students become less prone to ask questions as they move through the grade levels. In traditional schools, students learn not to ask too many questions, instead to listen and repeat the expected answers. Some of the discouragement of our natural inquiry process may come from a lack of understanding about the deeper nature of inquiry-based learning. There is even a tendency to view it as "fluff" learning. Effective inquiry is more than just asking questions. A complex process is involved when individuals attempt to convert information and data into useful knowledge. Useful application of inquiry learning involves several factors: a context for questions, a framework for questions, a focus for questions, and different levels of questions. Well-designed inquiry learning produces knowledge formation that can be widely applied. Importance of Inquiry Memorizing facts and information is not the most important skill in today's world. Facts change, and information is readily available -- what's needed is an understanding of how to get and make sense of the mass of data. Educators must understand that schools need to go beyond data and information accumulation and move toward the generation of useful and applicable knowledge . . . a process supported by inquiry learning. In the past, our country's success depended on our supply of natural resources. Today, it depends upon a workforce that "works smarter." Through the process of inquiry, individuals construct much of their understanding of the natural and human-designed worlds. Inquiry implies a "need or want to know" premise. Inquiry is not so much seeking the right answer -- because often there is none -- but rather seeking appropriate resolutions to questions and issues. For educators, inquiry implies emphasis on the development of inquiry skills and the nurturing of inquiring attitudes or habits of mind that will enable individuals to continue the quest for knowledge throughout life. Content of disciplines is very important, but as a means to an end, not as an end in itself. The knowledge base for disciplines is constantly expanding and changing. No one can ever learn everything, but everyone can better develop their skills and nurture the inquiring attitudes necessary to continue the generation and examination of knowledge throughout their lives. For modern education, the skills and the ability to continue learning should be the most important outcomes. The rationale for why this is necessary is explained in the following diagrams.
2. Human society and individuals within society constantly generate and transmit this fund of knowledge. Experts, working at the boundary between the known and the unknown, constantly add to the fund of knowledge. It is very important that knowledge be transmitted to all the members of society. This transmission takes place through structures like schools, families, and training courses. Certain attributes are necessary for both generating and effectively transmitting the fund of knowledge. The attributes that experts use to generate new knowledge are very similar to the qualities essential for the effective transmission of knowledge within the learners' environment. These are the essential elements of effective inquiry learning:
(The list above was adapted from "How People Learn," published by the National Research Council in 1999.)
We propose that the attributes experts use to generate new knowledge are very similar to the attributes essential for the effective transmission of knowledge within the learner's environment -- the essentials of effective inquiry learning. Inquiry is important in the generation and transmission of knowledge. It is also an essential for education, because the fund of knowledge is constantly increasing. The figure below illustrates why trying to transmit "what we know," even if it were possible, is counterproductive in the long run. This is why schools must change from a focus on "what we know" to an emphasis on "how we come to know."
3.
4. The Application of Inquiry While much thought and research has been spent on the role of inquiry in science education, inquiry learning can be applied to all disciplines. Individuals need many perspectives for viewing the world. Such views could include artistic, scientific, historic, economic, and other perspectives. While disciplines should interrelate, inquiry learning includes the application of certain specific "ground rules" that insure the integrity of the various disciplines and their world views. Outcomes of Inquiry An important outcome of inquiry should be useful knowledge about the natural and human-designed worlds. How are these worlds organized? How do they change? How do they interrelate? And how do we communicate about, within, and across these worlds? These broad concepts contain important issues and questions that individuals will face throughout their lives. Also, these concepts can help organize the content of the school curriculum to provide a relevant and cumulative framework for effective learning. An appropriate education should provide individuals with different ways of viewing the world, communicating about it, and successfully coping with the questions and issues of daily living. While questioning and searching for answers are extremely important parts of inquiry, effectively generating knowledge from this questioning and searching is greatly aided by a conceptual context for learning. Just as students should not be focused only on content as the ultimate outcome of learning, neither should they be asking questions and searching for answers about minutiae. Well-designed inquiry-learning activities and interactions should be set in a conceptual context so as to help students accumulate knowledge as they progress from grade to grade. Inquiry in education should be about a greater understanding of the world in which they live, learn, communicate, and work. There are several variations on inquiry-based learning. Among the most widely used are the Future Problem Solving Program 5 and the Problem-based Learning Approach 6. See the "Resources" section for more on these approaches. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
About This Product
DESCRIPTION
In a time of high educational
expectations and professional accountability, today’s educational leaders need
to possess a broad variety of skills that enable them to function comfortably
and effectively in changing environments and under highly politicized
conditions. Under these circumstances, change is the only constant. The mission
of this book is to foster understanding of this reality among those preparing
for administrative and managerial careers in pre-collegiate educational
institutions and to help them develop skills necessary for working competently
within those institutions.
This text is eclectic in
approach, not ideological, and emphasizes an action-research perspective that
compels readers to consider critically the theoretical underpinnings of current
educational practice and motivates them to seek practical alternative
approaches to solving both common and unique problems.
This book addresses general
principles underlying the knowledge base of leadership and management as
specifically applied to educational institutions. It stirs learners' thoughts
through the review of scholarship in a wide range of areas, encouraging them to
critically consider the theoretical underpinnings of administrative practice.
Thursday, January 10, 2013
Process of Inquiry
This
was written by my friend and colleague Larry Hartel who is principal of
Glendale Middle School in Red Deer, Alberta, Canada. Larry blogs here and tweets here. This post was originally found here.
by Larry Hartel
“Tell me and I forget, show me and I remember, involve me and I understand” is the foundation for why inquiry based learning is so important. Inquiry based learning involves seeking truth, information, or knowledge by questioning.
What is the process for inquiry? This question may in fact not be a straight forward answer. As I will share there are a few common features of all plans and a variety of models being used in school.
Inquiry involves the human senses: seeing, hearing, touching, tasting, and smelling. Infants make connections to the world by inquiring. They observe faces that come near, they grasp objects, they put things in their mouths, and they turn toward voices. It is natural. Although it is most often associated with science, inquiry-based learning is used to engage students of all ages, in all subject areas, to learn by exploration and discovery.
Memorizing and regurgitating information and facts is not a critical skill in the world today. Facts change and will change rapidly and information is available anywhere, 24/7. Inquiry based learning allows students to learn how to build their own understanding of a problem and thus produce deeper connections. Because the connection to the learning is deeper the chances are that the student will remember the concept and then be able to apply the understanding to new situations as they arise.
There are a wide variety of models for what “Inquiry” looks like in the classroom. It seems that most have five things in common, questioning, planning and predicting, investigating, recording and reporting and reflecting.
Here is an example from the Inquiry Page.
This diagram based on John Dewey’s model uses a spiral path of asking good questions, Investigating solutions, creating new knowledge, discussing and sharing our discoveries and experiences and then reflecting on the new-found knowledge.
There are many models for inquiry learning. Great inquiry learning will never be linear. Inquiry by its very nature is all about insights and making connections. The learner will revisit steps along the process and scaffold as they build the learning.
This model from Inquirylearn.com has similar steps to the process that Dewey uses. The observation that they make that I find interesting is:
“If the question, investigation, and outcome(s) are truly meaningful to the learner, she or he will apply this newly-acquired knowledge in her or his own life by sharing knowledge and by taking concrete action in the world.”
Great questioning is the key to inquiry. To start the inquiry cycle the question, or questioning is key. Asking the right questions at the right moment in a lesson or activity will turn up the learning, or slow it down. The art of questioning is an area that one needs to explore further to really build a successful inquiry project. Here is a great wiki that I find has some fantastic information on questioning.
So in the true spirit of inquiry we should continue to ask, "what are the questions we need to be asking to become the inquiry based, science and technology school we dream of?"
Boldly going where only a few schools have gone before.
by Larry Hartel
“Tell me and I forget, show me and I remember, involve me and I understand” is the foundation for why inquiry based learning is so important. Inquiry based learning involves seeking truth, information, or knowledge by questioning.
What is the process for inquiry? This question may in fact not be a straight forward answer. As I will share there are a few common features of all plans and a variety of models being used in school.
Inquiry involves the human senses: seeing, hearing, touching, tasting, and smelling. Infants make connections to the world by inquiring. They observe faces that come near, they grasp objects, they put things in their mouths, and they turn toward voices. It is natural. Although it is most often associated with science, inquiry-based learning is used to engage students of all ages, in all subject areas, to learn by exploration and discovery.
Memorizing and regurgitating information and facts is not a critical skill in the world today. Facts change and will change rapidly and information is available anywhere, 24/7. Inquiry based learning allows students to learn how to build their own understanding of a problem and thus produce deeper connections. Because the connection to the learning is deeper the chances are that the student will remember the concept and then be able to apply the understanding to new situations as they arise.
There are a wide variety of models for what “Inquiry” looks like in the classroom. It seems that most have five things in common, questioning, planning and predicting, investigating, recording and reporting and reflecting.
Here is an example from the Inquiry Page.
This diagram based on John Dewey’s model uses a spiral path of asking good questions, Investigating solutions, creating new knowledge, discussing and sharing our discoveries and experiences and then reflecting on the new-found knowledge.
There are many models for inquiry learning. Great inquiry learning will never be linear. Inquiry by its very nature is all about insights and making connections. The learner will revisit steps along the process and scaffold as they build the learning.
This model from Inquirylearn.com has similar steps to the process that Dewey uses. The observation that they make that I find interesting is:
“If the question, investigation, and outcome(s) are truly meaningful to the learner, she or he will apply this newly-acquired knowledge in her or his own life by sharing knowledge and by taking concrete action in the world.”
Great questioning is the key to inquiry. To start the inquiry cycle the question, or questioning is key. Asking the right questions at the right moment in a lesson or activity will turn up the learning, or slow it down. The art of questioning is an area that one needs to explore further to really build a successful inquiry project. Here is a great wiki that I find has some fantastic information on questioning.
So in the true spirit of inquiry we should continue to ask, "what are the questions we need to be asking to become the inquiry based, science and technology school we dream of?"
Boldly going where only a few schools have gone before.
BAB 5
PROSES PEMERIKSAAN/PROSES INQUIRY
5.1.
Pemeriksaan Pendahuluan
Riset pendidikan terdahulu dan sudah berlabel “Yang
terbaik, yang belum terselesaikan, yang terburuk, yang menghambat” (Tom, 1984, Hal 2). Dalam riset kelas sebagai
contoh, Barrow (1984) isinya adalah jika kita mengetahui sedikit saja tentang
sesuatu hal penting yang akan membuat kita sedikit lebih aman. Metode latihan
seperti yang disertai oleh para pengajar pendidikan seperti Thorndike, Barr,
dan Ryan jika dilihat dengan seksama akan terlihat sama dengan sistem
birokratis weberian. Mempelajari korelasi didalam riset pendidikan dengan
dibatasi variabel dan dikombinasikan
dengan beberapa studi penelitian dalam bagian yang besar namun bukan
persuasive.
Ketika kita melakukan pemeriksaan pembelajaran,
pendidikan akan mengenal kompleksitas dan kerancuan yang ditingkatkan oleh
pendidikan hanya dalam satu hari, banyak orang mungkin memberi kesimpulan dari
akal-sehat bahwa metode latihan tidak akan pernah menyadari kebenarannya dimana
mereka mengklaim meraka yang menemukannya.
Kita mungkin akan mengajukan pertanyaan, ketika tidak
sedang mengajar dan belajar yang terikat pada niat, sasaran, dan berasal dari
tujuan pendidikan yang mana ? Bagaimana mungkin kita mengaku telah melakukan
terbaik yang menyebabkan bahwa kita ada di mana-mana, mengetahui bahwa pada kenyataannya
kita merasa dan bertindak dengan cara yang berbeda? Atau barangkali kita hanya
dapat mendekati riset di dalam karena secara ilmiah mengkondisikan kita pada
metodologi melalui proses dari ilmu pengetahuan normal (Kuhn, 1970).
Lebih lanjut bukanlah kita yang mulai melakukan tanya
jawab, kemanjuran dari terjemahan
terbaru, apakah struktur pengetahuan sudah dipusatkan pada apa yang
disebut paradigma teori kritis dan interpretivistic/tidak
mempunyai paradigma? Meskipun beberapa usaha para pelajar hanya merasakan
kemajuan dari zaman sebelumnya maka ketika para pelajar tersebut mencoba untuk
menggantikan fitur yang meragukan dari paradigma-paradigma pemeriksaan yang
lama dengan model-model yang lebih baru. Melding paradigma yang berikutnya.
Tetapi, pada waktu yang sama, ajaran-ajaran lain menantang
untuk menggantikan model kuno. Interpretivists, sebagai contoh, menolak
asumsi-asumsi dasar suatu keseragaman secara alami dan menolak secara linear
hal-hal yang menyebabkan. Interpretivists sebagai ganti untuk
mencari dan memahami perilaku dari suatu perspektif pendekatan sebagai hasil
suatu proses konstruksi sosial (Erickson, 1985). Dari tindakan perspektif ini diciptakan bahwa ada dunia yang menjaring dan yang membalikkan. Didalam paradigma yang interpretivistic, yang menjadi
penyebabnya ditentukan dari lambang yang ditafsirkan dan pemahaman yang penuh
arti.
Contoh lain adalah gerakan ahli teori yang kritis. Yang
merasa tidak senang dengan teknis, masuk akal,efisien, dan pendekatan yang
diorientasikan objektif dari masa lampau, paradigma ini mendukung metoda-metoda
yang menyelidiki hubungan: sebagai contoh hubungan antara sekolah, mengajar,
dan masyarakat yang dasarnya ekonomis dan politis. Tanpa disadari pelajar
bidang pendidikan hanya bisa meniru ketidakadilan yang lazim dalam mengamati
struktur kelas sosial. Para peneliti pendidikan harus menaikkan kesadaran kita
pada ketidakadilan ini dan bukan pada mereka yang terlibat. Riset pendidikan
perlu menggerakkan masyarakat dan lingkungan
bidang pendidikan terhadap yang lebih besar dan tidak hanya mencerminkan
status yang ada. Suatu perubahan bentuk seluruh struktur dari pendidikan yang
di terima di sekolah harus menjadi tujuan dari riset yang efektif (Gage, 1989).
Gage (1989) artikel menunjukkan dengan tepat permasalahan
yang kita hadapi dimasa yang akan datang. Pertanyaan-pertanyaan di bawah
bermaksud membangun dan memperdayakan teks untuk bab ini dalam hal pemeriksaan.
Bagaimana suatu teori pengetahuan saling berhubungan dengan pemeriksaan ?
Bagaimana paradigma-paradigma dari pemeriksaan, sifat mereka, hubungan mereka
dengan mengetahui, dan metodologi yang menginformasikan mereka? Bagaimana
mengkritisi paradigma-paradigma tersebut ? Apa saja kekuatan dan kelemahannya?
Apakah ada maksud lain dibalik paradigma tersebut karena banyak kaum
intelektual yang membantah dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang sama
dari berbagai zaman? Apakah paradigma tersebut masih sesuai? Dan yang
bagaimanakah yang akan bertahan hidup? Atau hanya baru melanjutkan debat? Barangkali
kita akan mengenali paradigma pemeriksaan dalam diskusi yang berikut.
5.2.
Pemeriksaan Yang tersusun
5.2.1. Pemeriksaan awal
Pemeriksaan digambarkan sebagai proses mengetahui,
pemecahan teka-teki, penyelidikan, dan menemukan kebenaran (Guba, 1990; Kuhn, 1970;
Eisner, 1981). Dengan bermacam-macam derajat tingkat dari sarjana yang sukses
sudah mencoba menandai sifat alami pemeriksaan untuk menjawab pertanyaan, “Apa
yang terjadi di sini ?,” Dewey menggambarkan pemeriksaan adalah “Perubahan
bentuk yang diarahkan atau yang dikendalikan dari suatu situasi tertentu dan
terbatas dalam perbedaan-perbedaan yang konstituen dan hubungannya seperti
orang yang bertobat dari unsur-unsur situasi yang asli dalam satu kesatuan”
(Dewey. 1938, hal 104). Kuhn (1970) menunjuk ilmu pengetahuan yang normal
adalah pemecahan teka-teki. Bebe (1989)
memilih untuk lebih sedikit memberikan pandangan lain yang lebih kompleks dan
menggambarkan pemeriksaan sebagai suatu pencarian keteraturan. Terlebih
baru-baru ini, Guba dan Lincoln (1989) dan yang lain menyatakan bahwa
pemeriksaan mencerminkan system melalui
kepercayaan dari penyelidik.
Little john (1992) percaya pemeriksaan adalah
"Pemesanan tertib sistematis, pengalaman memimpin ke arah pengembangan
tentang pemahaman dan pengetahuan" (Hal 8). Pemeriksaan adalah suatu alat
yang direncanakan,fokus pada proses dan metoda untuk tiba pada satu hasil.
Dalam satu proses tanya jawab,
pengamatan, dan tahapan penyamarataan pengembangan yang dilanjutkan dari
ciptaan pengetahuan dan penemuan. Proses itu tersusun dan diperintahkan oleh
suatu masyarakat berpendidikan yang memastikan bahwa pengalaman ilmiah adalah
“benar atau cukup untuk mengimbangi permintaan tentang suatu kultur, waktu,
atau orang. Dengan demikian, kekuatan yang berdasarkan norma dan logika adalah
yang diterapkan oleh masyarakat yang selalu mengungkapkan pemeriksaan proses
tersebut (Dewey 1938). Pemeriksaan seperti yang digambarkan oleh masyarakat
berpendidikan, hanya dapat difahami dalam konteks suatu kultur. Dewey juga
memelihara bahwa logika dari teori adalah tunduk kepada yang metafisis dan epistemological prasangka-prasangka
penyelidik. Proses pemeriksaan adalah bangun dari suatu lingkungan budaya dan
historis. Sementara itu ciptaan
pengetahuan didalam dan tentang diri sendiri boleh kelihatannya seperti suatu
tugas keduniaan dan para orang-orang yang melihat pengembangan dari pengetahuan
dari keadaan yang berbeda. Apa yang dapat dikenal dan bagaimana pengetahuan
muncul bukanlah hal yang sama dan nyata dari suatu pandangan yang sepintas lalu
merupakan suatu tanda.
Meski banyak paradigma ttg pemeriksaan, pengetahuan
secara umum dipikirkan untuk berkembang dari ke tiga pendekatan
sebelumnya. Little john (1992) memberi
mereka pengetahuan tentang penemuan penafsiran, dan pengetahuan tentang kritik.
Pandangan Little john, pendekatan adalah penemuan untuk mencari dan mencapai
pengamatan objektif ketika yang disuling adalah kejadian-kejadian dari
kenyataan struktural yang kontras, pendekatan interpretive mencari untuk membangun gambaran dari kenyataan
melalui mata dari kedua peserta dan peninjau. Pengetahuan kemudian adalah
merekonstruksi kejadian yang berikutnya dari kenyataan. Pendekatan yang kritis
untuk menggambarkan pengetahuan melalui penilaian-penilaian kritis yang
kemudian menjurus kepada perbaikan sosial yang berubah.
Dari tempat yang menguntungkan yang lain, Eisner (1991)
menjelaskan bahwa membangun dan melukiskan asal-muasal dari pemeriksaan lebih
lanjut. Objektifitas adalah kepercayaan yang dibela dunia. Obyektifitas mencari
untuk melihat berbagai hal, jalan yang mereka tempuh untuk melihat dan untuk
mengetahui. Didalam konteks ini, tujuan dari pemeriksaan adalah untuk mencapai
kebenaran dan pengetahuan tertentu. Sebagai tambahan, pemahaman berasal dari
masyarakat. Pemeriksa mengatakan bahwa hal tersbut mempunyai arti yang sama
pentingnya. Sama pentingnya seperti pemahaman bahwa pengetahuan
digunakan dan dikembangkan melalui metodologi tertentu. Pada sebagian
pengetahuan dibebaskan dari penilaian pribadi sebagai hasil pilihan dari
metoda.
Penyajian yang
meragukan bahwa pengetahuan lebih lanjut ditawarkan melalui suatu sistem simbol
(Eisner, 1991). Penyajian pengetahuan menyatakan dan pada waktu yang sama
dirahasiakan tergantung pada batasan-batasan dari sistem simbol. Dalam semangat
ini, kita mulai dapat merasakan bagaimana kualitas moral pandangan yang
subjektifnya. Pengetahuan subjektif menjadi satu pandangan khusus yang penting
Tetapi dengan cara yang sama, ketika kita sudah mengembangkan pandangan yang
objektif di atas, demikian juga kita dapat mengikis media informasi yang
meliputi kesubyektifan Eisner (1991) menyingkat perbedaan disini ketika ia
menjelaskan bahwa ontological
kesubyektif-an adalah mungkin jika kita menerima gagasan di mana kebenaran
melebihi kepercayaan. Adalah suatu kepercayaan dengan sendirinya. Pikiran aktif
didalam perdagangan dengan dunia itu adalah produk dari suatu pikiran yang
aktif. Untuk mencari lebih dari sekedar apa yang pada akhirnya mengacu pada
kepercayaan kita sendiri setelah menggunakan ukuran-ukuran yang sesuai untuk
memegang mereka untuk mundur kepada suatu pihak atasan atau untuk mencari suatu
pandangan yang dominan bahwa membypass pengamatan atas sifat pikiran tersebut
(Hal 51).
Eisner
menyimpulkan bahwa suatu struktur kepercayaan yang berbeda diperlukan untuk
menghindari dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas. Apa yang mungkin
diperlukan dalam suatu proses dimana kita mendaftarkan diri dengan kekuatan
obyektifitas dan subyektifitas dari konsekuensi mereka yang terpisah dan bergerak
ke suatu penggabungan pemahaman dan prinsip. Karena apa yang kita ketahui bahwa
dunia itu adalah suatu produk dari kesewenang-wenangan hidup kita yang
subjektif dan satu dunia objektif secara aksioma, kehidupan dan dunia tidak
bisa dipisahkan. Untuk memisahkannya diperlukan melibatkan pemikiran dan karena
pikiran itu dipekerjakan untuk membuat pemisahan, memisahkan apapun dan sebagai hasil
penggunaannya akan mencerminkan pikiran seperti juga apa yang terpisah darinya
(Eisner, 1991, Hal 52). Pemeriksaan didalam ketidakhadiran dari kenyataan
hanyalah suatu gambaran. Kita dapat telah merasakan bahwa pemeriksaan sudah
menjadi suatu hal yang kontroversial dan
sulit. Bagaimana pengembangan-pengembangan baru ini terbentuk dari masa
lampau dan bagaimana mereka diperlihatkannya saat ini?
5.3.
Pengembangan Historis
Dewasa ini versi
pemeriksaan dapat ditelusur balik kepada masa Yunani. Kultur Yunani memandang
dunia secara utuh. Pemeriksaan sebagai suatu pengembangan ilmu pengetahuan,
yang dilibatkan “Bermanuver untuk mendapatkan suatu pandangan yang lebih baik”
dari sesuatu yang telah ada (Dewey, 1938, Hal 88). Semua pengetahuan dilihat
secara keseluruhan apakah lebih baik dan lebih besar. Apapun yang dapat
dihitung tunduk kepada perubahan dan oleh karena itu bukan pantasnya dari studi
yang didukung yunani dalam mencari perintah dan struktur didalam alam semesta,
dasar religius dan filosofis yang didasarkan pada suatu pandangan dorongan.
Tujuan dari ilmu pengetahuan mengenai ini untuk membedakan pengetahuan dari
kepercayaan. Apapun juga yang kita ketahui benar. Apakah itu adalah tidak benar
jika kita tidak mengetahuinya (Eisner, 1981). Oleh karena itu ilmuwan adalah
seorang penemu dari hukum yang memerintah alam semesta. Praktek ilmiah untuk
membongkar fakta-fakta.
Selama Abad
Pertengahan, perubahan empirisme mencakup pandangan dorongan yunani. “ilmuwan yang baru” digantikan ahli filsafat
dan pendeta. Descartes dan filsafat
Cartesian mendapat kepastian sejak itu dan telah mendominasi pengetahuan.
Newton, Bacon, Galileo, dan yang lain menekankan kebutuhan untuk menemukan
gambaran yang bersifat konfirmasi percobaan (Polkinghorne, 1983). Untuk
menemukan gambaran di alam semesta, pengukuran, dan hitungan menjadi penting.
Paham positifisme dan pengembangan
dari metode latihan sebagai suatu cara penemuan kebenaran yang tidak berubah
mengumumkan ilmu-ilmu eksakta dan kemajuan teknologi dari abad yang ke-19.
Di tahun
1800an suatu pengembangan paralel, paham positifisme berlaku untuk tingkah laku
manusia. Compte, menulis antara 1830 dan 1850, diusulkan bahwa studi manusia
menempati metoda yang digunakan dalam studi ilmu pengetahuan alami (di
Polkinghorne, 1983), Yohanes Stuart Sistem dari Mill Logic (1843), mendukung
pendekatan positivistic dalam studinya
“tingkah laku manusia, menyatakan bahwa negara mundur dari ilmu
pengetahuan, moral hanya dapat diperbaiki dengan menerapkan kepada mereka
metoda-metoda dari ilmu eksakta, yang
diperluas dan disamaratakan” (di Polkinghorne. 1983). Dewey mendukung
dan berpendirian positivistic ini,
menyatakan bahwa ketidak-mampuan ilmu-ilmu sosial dan ilmu pengetahuan alam
untuk bertindak dan cocok dengan kondisi-kondisi logis yang telah ditunjukkan
paham positifisme yang menyatakan
negara yang kuno (1938, Hal 487). Pendekatan positivistic ini
mengusulkan bahwa permasalahan manusia yang akhirnya akan dipecahkan dengan
satu koreksi pendekatan kepada pemeriksaan; paham positifisme.
Pandangan bahwa ilmu-ilmu sosial perlu mengadopsi
metodologi dari ilmu-ilmu eksakta dikembangkan sepanjang abad ke duapuluh
Polkinghorne (1983) mengenali lima tahap dari arus “Pandangan yang diterima”
dari ilmu pengetahuan postpositivism.
Tahap yang pertama mengusulkan bahwa ilmu pengetahuan hanya perlu menguraikan
yang tampak. Tahap yang kedua perluas teori ini untuk termasuk non observable
dari kesatuan dan mencari aksioma yang didasarkan pada statemen yang universal. Tahap yang ketiga terdiri
dari kritik paham positifisme yang
membiarkan pemasukan sistem yang lain dari ilmu pengetahuan sejarah dan ilmu
pengetahuan di dalam tahap yang keempat. Tahap yang ke lima didasarkan pada
alasan dan pemasukan pragmatis pertimbangan-pertimbangan termasuk pemeriksaan.
Pendekatan positivist
yang ada sudah meluaskan metodologinya dan definisi kebenaran. Bagaimanapun,
ilmu pengetahuan masih dipandang sebagai mencari perkiraan yang semakin dekat
dan kebenaran melalui aplikasi keras metode latihan. Meski sering ditolak oleh positivists yang ada, ilmu pengetahuan
masih sangat diidamkan Cartesian dari kepastian, bagaimanapun, positivists akan menghubungkan, “Aku
secara relatif pasti” dibanding “Aku yakin.” Secara metodologis, pandangan ini
menghasilkan lebih banyak garis lintang.
Pada waktu yang sama bahwa Mill mengusulkan pemakaian
metoda-metoda yang positivistic untuk
studi dari perilaku, gerakan antipositivist
muncul. Itu berargumentasi bahwa individu menjadi bagian dari suatu struktur
kompleks menyusun dari kenyataan sosial dan historis yang dipercaya bahwa hidup
bisa berada dalam koridor hukum atau bagian yang dapat dianalisa dan diterobos.
Istilah ini menandakan apa yang paling
menyentuh hati dan terbiasa, diwaktu sama, paling gelap, bahkan paling yang tak
dapat dipertimbangkan, seseorang dapat menggambarkan yang ganjil dan ciri-ciri
karakteristik. Seseorang dapat bahkan menanyakan tentang nada, irama, dan
nyanyian. Tetapi tidak bisa secara total meneliti ke dalam semua faktor, sebab
tidak secara total dapat larut di dalam cara ini. Itu tidak bisa dinyatakan
oleh lisan secara sederhana rumusan atau penjelasan. Pemikiran adalah satu ungkapan
hidup, tetapi tidak menggantikan hidup. 1983 Polkinghome) tulisan berisi
pemeriksaan yang interpretivistic.
Mereka mendiskusikan suatu pendekatan yang holistic
kepada pemeriksaan dan mengamati setiap bagian sebagai dari keseluruhan kultur
mencari arti sesuatu. Semua bersifat dasar kepada naturalism, tetapi sebagian
besar diabaikan sampai sekarang ini.
Weber, secara umum mendukung pandangan tersebut, tidak
menerima perbedaan yang lain, menciptakan antara yang secara fisik dan
ilmu-ilmu sosial (Smith & Hesusius. 1986). Weber percaya bahwa kedua ilmu
pengetahuan yang diperlukan untuk berpikir dalam kaitan dengan menggunakan
istilah pengintegrasian (Aron, 1967; Benton, 1977; Outhwaite, 1975; Simey,
1969; Tukang besi & Hesusius, 1986), Weber lebih lanjut percaya bahwa
penjelasan dan mengerti dua bagian penting dari penelitian sosial. Keduanya
penting untuk mengerti kedua strata dari manusia, binatang dan tingkatan
mekanistis, dan tingkat evaluasi yang dari maksud-maksud subjektif. Meski ia
menyadari bahwa ilmu pengetahuan manusia lemah dengan penyimpangan ia percaya
bahwa kedua pendekatan dapat disatukan.
5.3.1.
Paradigma ?
Sekarang ini,
metoda pemeriksaan yang ilmiah dapat digambarkan sebagai penderitaan satu
krisis identitas. Masing-masing dari ke tiga metoda menggambarkan sebelumnya
mempunyai murid dan kritikus memiliki kegemaran yang sama. Pola-pola yang umum
dari pemeriksaan, baru-baru ini disebut paradigma dan sudah menerima perhatian
khusus di atas masa lampau tiga puluh tahun. Kuhn. didalam Structure Scientific Revolutions (1970), mempunyai pandangan yang
tradisional dari ilmu pengetahuan ketika mengembangkan pengetahuan oleh
akumulasi atau pengetahuan tentang fakta. Ia mengusulkan bahwa pertumbuhan dari
pengetahuan juga terjadi melalui revolusi yang ilmiah dan memungkinkan para
pemikir untuk menggerakkan asumsi yang ada kedalam paradigma baru tentang
pemahaman. Ilmu pengetahuan normal menurut Kuhn adalah pembangunan pengetahuan
yang ada dalam suatu pengembangan pertunjukan. Pertumbuhan dari pengetahuan ini
menduga dibatasi oleh filsafat pemikiran dari para ahli dan para pendidik
didalam masyarakat termasuk suatu paradigma sebelumnya, ilmu pengetahuan
menghimpun pengetahuan yang dihubungkan dengan filsafat, pemikiran itu,
menggunakan lambang paradigma sendiri, instrumen, dan nilai belajar dari
masyarakat yang ilmiah. Bagaimanapun, dalam urutan kemajuan telah terjadi ilmu
pengetahuan dan harus mengalami suatu revolusi. Ilmu pengetahuan dalam
pandangan Kuhn merupakan hasil positif
dari keganjilan di suatu peta yang ada, berjuang untuk sebuah paradigma, untuk
krisis dan akhirnya revolusi. Selama periode krisis, lambang paradigma yang
ada, instrumen, dan. nilai-nilai dibuang sebagai pertukaran yang baru. Revolusi
membebaskan masyarakat dari keterbatasan paradigma yang kuno untuk membiarkan
munculnya pertanyaan-pertanyaan baru.
Maka paradigma
pemeriksaan membentuk dasar bagaimana kita sebagai ahli teori dan praktisi
dalam melihat dunia. Ketika kita menyimpan paradigma kita, mereka menerima
kekuasaan besar dan menentukan bagaimana kita, saling berhubungan dengan dunia.
Pemeriksaan bidang pendidikan seperti pemeriksaan secara umum, berputar-balik
di sekitar paradigma. Paradigma pemeriksaan kita jadinya akan sangat tangguh
sehingga lebih banyak perhatian diberikan kepada metoda-metoda dari pemeriksaan
dibanding untuk menentukan apa yang benar-benar telah terjadi. Praktisi
paradigma yang positivistic sering
kali mengacu pada yang ilmiah, bersifat percobaan, atau tingkah laku, atau,
terlalu bebas, seperti kuantitatif. Gaya dari yang kedua pemeriksaan yang interpretivistic, dikuasai oleh riset
yang etnografi, dan pemeriksaan yang constructivistic
atau kualitatif. Akhirnya paradigma pemeriksaan ahli teori yang kritis,
kadang-kadang menyebut teori konflik, menjelajah tenaga, kekuasaan, dan konflik
di dalam masyarakat.
Salah satu dari
berbagai kesulitan di dalam melukiskan pemeriksaan adalah kepercayaan paradigma
masyarakat terhadap tujuan argumentasi sebagai alat untuk memperkuat berbagai
sudut pandang. Sementara model ilmiah dari pemeriksaan yang valid dalam konteks
yang tepat, pemeriksaan dalam model ini lebih dari satu hasil yang disetir oleh
suatu rangkaian atau himpunan makna. Pemeriksaan sebagai suatu proses
menyiratkan suatu sistem dari pemeriksaan dengan komponen, hasil-hasil, metoda-metoda untuk
berubah, dan suatu dasar filosofis di sekitar proses yang dibangun.
5.4.
Teori Postpositivistic dan
Positivistic
Karena Descartes,
pemeriksaan menjadi kuat dan kukuh dalam paradigma postpositivistic dan positivistic.
Keduanya bersifat paradigma mendasar dan berakar dalam suatu ontologi realis,
suatu sistem kepercayaan bahwa suatu kenyataan ada di luar sana. Sifat benar
dari ilmu pengetahuan adalah untuk menemukan kebenaran yang memungkinkan
ramalan dan kendali. Sebagai suatu konsekuensi dari ontologi ini riset realis
mempraktekkan rsifat sasaran. Seperti para penyelidik, realistik memisahkan nilai mereka dari
kenyataan. Baru setelah itu percobaan dapat
memanipulasi yang mengakibatkan kemerdekaan penting dunia/alam untuk
secara sungguh-sungguh dapat penyingkapan diri sendiri. Pemeriksaan yang ilmiah
seperti mencari untuk membongkar hukum alam yang kemudian meringkas dalam wujud
penyamarataan atau penyebab dan mempengaruhi hukum (Guba, 1990).
Postpositivism meningkatkan hasil ajaran-ajaran yang
meragukan dari paham positifisme. Kritik dan paham positifisme yang dimiliki oleh ahli teori positivistic dipaksa untuk mengubah dan mengurangi cara
berpendirian ontological positifisme.
Walaupun dunia nyata itu ada, adalah mustahil untuk realis menghakimi nilai
diri sendiri. sebagai hasilnya postpositivist
adalah suatu realis kritis yang mengenali obyektifitas itu pada pihak
peninjauyang tidak pernah dapat sungguh-sungguh dicapai. Didalam tradisi yang
kritis pemeriksaan postpositivistic
harus lebih konsisten seperti yang ditentukan oleh tradisi yang ilmiah didalam
suatu paradigma riset. Semua pemeriksaan diperlakukan pada tinjauan ulang
masyarakat yang kritis. Secara metodologis, postpositivist
juga pindah dari persyaratan obyektifitas yang sebelumnya dan mengusulkan
sebagai fakta pengembangan dari penemuan yang telah ditunjukkan banyak sumber
metodologis. Pemeriksaan didalam riset ini merupakan usaha untuk mengisolasikan
pengetahuan yang objektif dan menerapkan pengetahuan baru untuk mempraktekkan
kebijakan. Penekanan ditempatkan untuk menciptakan pengetahuan secara lebih
lanjut dalam ramalan dan kendali proses dan produk bidang pendidikan (Soltis,
1992). Metodologi bersifat percobaan dan statistik yang bersandar pada
penciptaan kebenaran melalui ujian sasaran, kekakuan matematika, dan
instrumen-instrumen pengamatan yang dapat dipercaya.
Ilmu pengetahuan Postpositivistic
sudah mengatur siasat dari banyak ajaran-ajaran positivistic asli. Meski kritikus telah tidak menaruh kasihan, postpositivists sudah bekerja dengan
rajin menunjuk ketidak seimbangan yang berlaku dari gambaran mereka yang baru
melingkupi obyektifitas Guba (1990) mengutip empat ketidakseimbangan mereka
antara kekakuan dan keterkaitan, ketepatan dan, kesempurnaan, kerapian dan aplikabilitas,
penemuan dan verifikasi. Sebagai contoh suatu pergeseran dapat dicatat dan
terlihat pada pemeriksaan dan penyelidikan alam dalam hubungan dengan perbedaan
kekakuan dan keterkaitan. Seperti kekakuan diperlonggar untuk mendapatkan
kebenaran eksternal lebih besar, kemampuan generalisasi yang meningkat,
keterkaitan yang diasumsikan untuk meningkatkan biaya kebenaran yang internal.
Didalam pengembangan-pengembangan paling terbaru, paham positifisme sudah menjadi yang tak dapat
dipertahankan dan postpositivism
lebih saksama tentang itu memiliki ajaran-ajaran. Abad pertengahan Hempel (1966) dan ahli teori lain
mengakui ilmu pengetahuan secara operasional harus mulai mencabut diri sendiri
dari konsep masing-masing dan statemen pengamatan. Lebih sewajarnya,
konsep-konsep ilmu pengetahuan mengikat
dalam suatu jaringan hubungan timbal balik yang sistematis dan
termasuk pemusatan yang mengikat dan konseptual dan sistematis. (Hempel,
Hal 94).
Kejadian-kejadian yang mengubah pandangan dari ahli teori
seperti yang ditunjukan di atas menyebabkan ada jarak dari riset yang positivistic. Sementara beberapa
peneliti tidak boleh meninggalkan pandangan lama ke arah yang paling baru ilmu
pengetahuan yang postpositivistic
sebagai ilustratif fleksibilitas.
Firestone (1990) menetapkan pandangan dari Phillips (1990) dan menantang para
ilmuwan itu seperti umumnya para pekerja didalam bisnis tentang menyediakan
pembelaan yang layak untuk pernyataan-pernyataan mereka. Dewey (1938)
mencoba menjelaskan prinsip yang sama
dalam menjamin assertibilas sebagai pengganti kebenaran. Dalam hal ini
obyektifitas merupakan ketercukupan yang dihakimi melalui satu proses
kompetitif yang internal dan mengesampingkan kesalahan. Secara keseluruhan postpositivism menghambat sesuatu yang disebut "Ratu ilmu
pengetahuan” (Firestone. 1990), tetapi dengan kuat dan kukuh namun mungkin bermanfaat dalam
praktek. Sebenarnya, kebanyakan mengakui perbedaan antara paradigma ini dan
mengikisnya dalam forum debat filosofis.
5.5.
Teori Kritis
Teori kritis bekembang di tengah abad ke-19. Baru-baru
ini sudah dirumuskannya oleh Frankfurt School (Marcuse, Adorno, Horkheimer, dan
yang lain) dan dihidupkan kembali paling akhir oleh Habermas (1970- 1987).
Teori kritis memusatkan diri pada permasalahan bidang pendidikan dan peran
mereka dalam hubungan dengan sosial, politis, budaya, dan pola ekonomi yang
membawa hasil. Menurut teori kritis pemeriksaan adalah pertentangan yang
sistematis dalam praktek pendidikan. Agger (1991) menantang, bagaimanapun,
teori kritis bahwa harus ada peremajaan dan menyesuaikan diri. Teori kritis
meneliti pembaharuan permasalahan
sosial. postmodernas di
masyarakat, khususnya dalam dunia pendidikan. Teori kritis mungkin perlu untuk
dibentengi dengan mata uang tambahan, dari suatu post stcructural, postmodern,
dan perspektif pejuang hak wanita.
Teori kritis sudah menunjukkan kesulitan yang dimulai
seperti terjemahan dan aplikasi pengarang yang memerlukan klarifikasi lebih
lanjut karena variabilitas mereka yang ekstrim (Agger, 1991). Seperti yang
dikembangkan oleh Frankfurt School, awal usaha teori kritis untuk menjelaskan
kegagalan dari revolusi orang sosialis Marx. Visi mereka mereka adalah usaha
ahli teori untuk menghubungkan ekonomi, budaya, dan analisis ideologis untuk
menjelaskan, kegagalan revolusi itu. Di awal versi teori kritis, Frankfurt
School percaya bahwa Marxisme digagalkan untuk mengenali kemampuan sistem
ekonomi kapitalis yang memanfaatkan kelas pekerja. Kapitalisme itu didalilkan
memperdalam kesadaran yang palsu dari kelas pekerja atau buruh dengan
mengembangkan sendiri menghadapi mekanisme-mekanisme yang mencegah revolusi
sosial.
Ini disebut dominasi oleh Frankfurt School Workers
mengadopsi nilai-nilai dan kepercayaan yang dibagi bersama, yang kelihatannya
masuk akal pada waktu yang sama sistem yang kapitalistik memanfaatkan politik
social dan kebebasan ekonomi sebagai pertukaran dengan kebebasan untuk pilihan
konsumen. Paham positifisme, mereka
membantah, hanyalah yang menghadapi
mekanisme. Paham positifisme, suatu keturunan dari Age dari Enlightenment, juga
menjadi yang dibagi bersama memecahkan masalah metodologi dan mengasumsikan
“dunia sebagaimana adanya” adalah kenyataan yang terkemuka sistem yang positivistic, oleh karena itu
mengabadikan diri.
Teori kritis bagaimanapun, rincian dari sudut pandang
kenyataan yang masuk akal (paham positifisme)
dan mengembangkan ke dalam suatu gaya dari kesadaran dan berpikir bahwa
memandang fakta sosial ketika sejarah dapat diubah (Jay, 1973). Teori kritis
kelihatan di luar penampilan dari pencarian fakta sosial dan mencari cara untuk
mencapai pemahaman sosial yang baru. Lebih tepat, teori kritis menyesuaikan
peneliti pada kepercayaan dasar empiris mereka sendiri melalui cerminan diri
sendiri yang ketat (Horkheimer &Adorno, 1972).
Guba (1990)
menguraikan secara singkat teori kepercayaan kritis dasar. Meski teori label
kritis kelihatannya memiliki pemandangan yang filosofis yang berisikan
pandangan luas ini, semua kepercayaan tentang teori kritis memusat untuk
memecahkan suatu penolakan “kebebasan nilai.” Nilai kita tidak terelakkan yang
mencerminkan banyak cara didalam memilih masalah untuk dipelajari, dalam
pilihan instrumen untuk analisa, penafsiran, dan kesimpulan, dan pujian
rekomendasi yang diciptakan. Dengan nilai tanah dan bangunan yang mungkin
menjadi pemeriksaan yang politis dan
bertindak sebagai peserta yang tidak diberdayakan atau yang dikuasakan melalui
pilihan dari penyelidikan dalam suatu sistem nilai. Beban dari pemeriksaan
adalah menurut definisi untuk menaikkan derajat orang yang ditindas kepada
suatu tingkat kesadaran yang benar (Guba, 1990). Begitu mereka mengakui
bagaimana mereka ditindas, mereka dapat bertindak untuk mengubah dunia
dengan cepat (Guba, 1990, hal 24.). Perubahan bentuk ini meluas diluar typically manipulative interventionist
methodology sebagai ahli teori kritis yang mencari establish-a-commonness, melalui pendekatan penafsiran Firman Tuhan
yang analogi. Fitur dunia nyata itu diteliti melalui penilaian yang diciptakan
lalu mengubah kenyataan dan memberi tenaga yang memudahkan tindakan masa depan.
Teori sangat kritis juga telah ditingkatkan.
Teori kritis di
akhir ini dapat dilihat untuk ada di bawah aturan yang berbeda. Poststructuralism adalah suatu
teori tekstual dan pengetahuan. Didalam
kerangka ini, Derrida (1981, Culler, 1982)
mengusulkan fakta maka suatu proses menyebut dekonstruksi teks
merahasiakan konflik antar suara yang berbeda antaran teks dan subtext. Orang
sering kali membuat asumsi penting tentang sesuatu dengan menyembunyikan maksud
dan asumsi mereka yang ditindas atau mereka diam saja. Hal ini mengalihkan
suatu perhatian pembaca dan pendengar, pembuatan teks yang tak dapat dibaca.
Jadi dengan demikian maksud poststructuralist
yang diselenggarakan didalamnya menurut konstitusi bahasa. Deconstruction demystifies dengan pernyataan mengira nilai-nilai
dan minat. Poststructuralists percaya bahwa, “...setiap isyarat retoris dari
teks berperan menyeluruh” (Agger, 1991, Hal 30).
Postmodernism terjemahan lain teori kritis, memerlukan
penyelidikan kultur masyarakat dan sejarah tradisi ini, dunia sosial diuji dari
perspektif yang ganda menurut kelas, ras, jenis kelamin, dan keanggotaan lain.
Tambahan pula, postmodernists
bersandar pada heterogen “hal memposisikan” untuk menjelaskan gejala sosial
(Agger, 1991). Sebagai hasilnya, “...pengetahuan diusut melalui pelatihan bahwa
membingkai pengetahuan merupakan rumusan” (Foucault. 1976, 1980, di Agger,
1991, Hal 32). “Hal memposisikan” pengalaman dunia dibingkai melawan terhadap
perspektif sendiri. Didalam dunia ini ilmu sosial menjadi satu akuntansi
perspektif yang ganda dibanding suatu kebenaran yang universal. Ilmu sosial
didalam dunia bidang pendidikan menjadi suatu ceramah, mengusulkan bahwa
“membaca” suatu sekolah, kita dapat “mengerti” ilmu sosial (Agger, 1991).
Didalam praktek
bidang pendidikan, ilmu pengetahuan kritis melibatkan kondisi bahwa kepandaian
memilih hasil sedang dalam proses pengajaran dan organisasi pendidikan yang
diterima di sekolah (Popkewitz, 1990). Mengenai ini, Popkewitz melampirkan ilmu
pengetahuan kritis kepada pemeriksaan dari hal yang biasa dan secara sosial
menerima pertentangan yang mungkin mengakibatkan berbagai perjuangan di dalam
lingkungan pendidikan. Eksplorasi batasan menghasilkan suatu hubungan di
sekolah, terjadi melalui pemahaman bagaimana batasan dan struktur membatasi
potensi kita. Berdebat sekitar konstruksi dari pendidikan yang diterima
disekolah mengakibatkan penyajian struktural berbeda, disekitar isu seperti
etnisitas, kelas, dan jenis kelamin, sebagai contoh. Jadi, dengan demikian rasa
hormat menciptakan kepekaan kepada konsep berpotensi baru dan membangun suatu
hubungan antara pengetahuan dan identitas.
Popkewitz (1990)
lebih lanjut berargumentasi bahwa suatu metoda kesanggupan untuk kritis
memerlukan tanggung jawab lebih besar pada pihak peneliti untuk mencerminkan
aturan yang tepat dan standar pekerjaan dari ilmu pengetahuan. Suatu cara
berpendirian yang kritis merekonstruksi pendidikan dengan menyediakan
keterkaitan kepada sejarah sebab ini berhubungan dengan metodologi dan
mengakomodasi pengaruh tanya jawab, pengembangan konseptual, dan strategi
kenilai sosial,perjuangan dan minat. Ia yang dinyatakan lebih lanjut bahwa 6
tema perlu membingkai setiap diskusi praktek-praktek dari suatu ilmu
pengetahuan yang kritis pendidikan.
1.
Praktek-praktek kelembagaan yang mendukung
pertentangan pemeriksaan bidang pendidikan terdiri atas secara penuh di dalam
praktek prosedural. Didalam praktek nyata, kita bisa secara tidak sesuai
memisahkan gerakan sosial, isu historis, atau minat politis dari strategi dari
riset. Sebagai suatu filsafat dari ilmu pengetahuan tradisi cendekiawan dan
kondisi kelembagaan yang berasal dari sumber yang sama. Peraturan tentang
pemeriksaan dibatasi didalam tradisi. Metodologi berubah terus menerus melalui
hubungannya dengan pertanyaan, konsep, dan prosedur yang mengarahkan pada
gejala empiris. Metodologi
muncul dari pemeriksaan didalam pengertian ini bukan sebaliknya.
2.
Popkewitz
(1990) juga mengklaim, meskipun kepercayaan konvensional tentang logika sebagai
suatu proses dari klarifikasi dilanjutkan, bahwa logika dari ilmu pengetahuan
merupakan suatu permasalahan filsafat
sosial. Konsep, aturan atau prosedur dari pemeriksaan bukanlah tak bisa
terelakkan, tetapi diwujudkan didalam lembaga, institusi dan melalui konstruksi
sosial. Ilmu pengetahuan kritis berhubungan dengan pertanyaan yang menjadi
bagian dari suatu ladang ilmu pengetahuan
termasuk ontologi dan filsafat, apa yang dikenal dan diketahuinya.
3.
Di
tema lain, Popkewitz (1990) memperingatkan kita dan kesediaan kita untuk
menyederhanakan konteks dari pemeriksaan pada suatu sasaran dan dikotomi
subjektif. “Obyektifitas tidak ada hubungannya dengan hukum eksternal atau
sifat untuk ditemukan atau dibuktikan” (Hal 56). Obyektifitas digunakan untuk pertanyaan
penting, untuk mengurangi kegagalan secara dinamis dan mengubah pola. Sejajar
dengan hal ini, kesubyektifan mengarahkan fokus kita dalam pikiran dari orang
yang tidak dapat menghadapi kompleksitas dalam hubungan sosial dan dalam
kombinasi mereka yang mampu untuk menyediakan penyelidikan dengan kemampuan
yang lebih besar untuk menghadapi interrelations
sasaran dan kondisi subjektif. Pemeriksaan harus tidak menurunkan pada bagan
individu yang dibentuk oleh yang tak terduga atau aturan tak diakui yang
bertindak sebagai suatu kaki langit untuk alasan individual (Popkewitz, Hal
57).
4.
Penolakan
tersebut suatu bentuk tunggal untuk mengevaluasi produk dari ilmu pengetahuan
adalah yang disertai oleh kepercayaan ilmuwan, adalah suatu peninjau yang tidak
mengejar untung. Dalam wujud yang paling dalam, paling menggali menyiratkan,
relatifitas, tetapi Popkewitz menentang bukan tanpa batasan skema merumuskan
dalam praktek atau kepercayaan dari paradigma sendiri. Tetapi ini tidak bisa
berarti bahwa “. . .kurangnya komitmen atau gagasan bahwa tidak memiliki lokasi
atau konsekuensi sosial...”(Hal 59). Dewasa
ini riset pendidikan harus menyelidiki lebih dari sekedar pengajaran,
pelajaran. Organisasi, dan mencari lebih dari sekedar satu pemahaman konflik
berharga.
5.
Serba ragam berharga harus dilihat sebagai bagaian
dari pengetahuan. Ciptaan pengetahuan dan ciptaan dinilai bersifat ideologis.
Ketika kita memisahkan ciptaan pengetahuan yang menghargai konteks dan yang
menciptakan kemiskinan. Secara metodologis, ketika nilai tersebut dipisahkan
untuk mengendalikan atau mengidentifikasi penyimpangan yang interaktif dalam semua ilmu
pengetahuan. Dalam pandangan ini, teori kritis mengusulkan sebagai fakta satu
panorama sistemik yang ditambahkan.
6.
Akhirnya, Popkewitz membandingkan kemampuan ilmu
pengetahuan masa sekarang yang dibentuk sebagai suatu metoda untuk mengerti
batasan bahwa ada atau sudah hidup dengan kemampuan generalisasi ilmu
pengetahuan untuk memungkinkan suatu kondisi di masa depan. Sementara ilmu
pengetahuan dapat meramalkan dan mengendalikan dengan pemekaan kita untuk
mengeluarkan, teori kritis lebih sewajarnya mengenali bahwa ilmu pengetahuan
adalah satu konstruksi yang berkelanjutan bahwa menantang kita untuk menemukan
hubungan kita kepada hal tersebut.
Teori kritis membuat suatu sumbangan kemasyarakatan dalam
dua tatakrama yang berbeda secara metodologis, peneliti menulis dan
membaca, negara, ideologi, kultur,
ceramah, dan erakan sosial (Agger1991). Keterlibatan Agger adalah (1)
Interogasi angkatan teori kritis kepercayaan dalam kebebasan nilai; (2) Teori
kritis menetapkan suatu ilmu pengetahuan yang
mampu mengenali minat yang dikandaskan sendiri; (3) Poststructuralism dapat deconstruct
paling retorik dengan pengujian menyembunyikan maksud; (4) Poststructuralism mengungkapkan bagaimana bahasa dapat melembagakan
kenyataan dan (5) Postmodernism menolak
jalan terbaik yang substantsial, Agger menetapkan bahwa teori kritis boleh
menyarankan cara baru berteori sekitar peran dari negara dan budaya. Tawaran
yang berharga.memberikan kontribusi studi dari ceramah, menyarankan studi
empiris dari cara berbicara yang bersifat tersusun oleh jenis kelamin, tema,
dan teori gerakan penawaran sosial baru yang mempertunjukkan pengertian
mendalam bahwa menjelaskan maksud dan pajangan historis berdampak.
Teori kritis mengusulkan fakta suatu pandangan yang antifoundational,
yang memantulkan cahaya, dan mengenali perspektif. Dalam hal ini, pemeriksaan
dapat menuang kembali antara obyek dari studi/pembelajaran dan peninjau
kondisi. Didalam pengertian lain, hal ini menetapkan pemeriksaan
kritis sebagai katan. Penekanannya yang utama bisa lebih saksama dibanding kita
mengharapkan ketika kita menyadari bahwa pengetahuan dilahirkan dari segi
keterbukaan bagi berbagai dimensi kenyataan. Tugas untuk masa depan bisa untuk
menggerakkan di luar perbedaan yang tegas dalam defines, skema melalui ceramah
dan untuk menyatukan kembali pendidikan yang diterima disekolah dengan
demokrasi dan keadilan (Skrtic, 1990).
5.6.
Teori Interpretivistic
Ahli teori yang paling interpretivistic percaya sudut pandang ahli teori kritis dan positivistic bersifat cacat. Sebagai
contoh Guba (1990) menantang itu; (1) Kenyataannya hanya sebagai suatu kerangka
mental untuk berpikir tentang kenyataan didalam pandangan, landasan pemikiran
yang utama dari pendekatan yang interpretivistic
yang dapat dicatat dan terlihat. Kenyataan dibangun disuatu saat demi saat
dasar, bukan suatu dasar historis atau budaya seperti dugaan realis kritis; (2)
Tidak ada penjelasan yang tegas untuk
mengejar pemeriksaan dan menemukan kebenaran. Didalam pandangan ini, kerangka
yang interpretivistic mengusulkan
sebagai fakta teori yang mungkin, bahwan menyediakan suatu penjelasan yang
layak fakta. Kenyataan lalu menjadi jendela dari pandangan teori hanya karena
akan terjadi; (3) Seberapa banyak konstruksi-konstruksi yang berbeda dari teori
bersifat yang mungkin, itu juga mengikuti bahwa pemeriksaan harus kepada
nilai-nilai dari peneliti; (4) Dan akhirnya karena teori adalah nilai yang
dimuati pemeriksaan yang dibentuk oleh interaksi penyelidik dan isu-isu dari
studi. Bahkan hari ini, ilmu-ilmu eksak sudah membuktikan balik cara
berpendirian mereka sendiri pada obyektifitas.
Dengan kritik-kritik didalam pikiran, panorama yang penuh
dari kerangka interpretivistic dapat
diselesaikan. Pendekatan yang interpretivistic
adalah antifoundational dan relativistic. Kenyataan ditemukan
didalam konstruksi ganda, anti memerlukan yang dilanjutkan mencari, lebih
memberi tahu rekonstruksi kenyataan dengan kata lain, posisi yang interpretivistic bersandar pada
konstruksi yang sosial dari peneliti dan referensi agen. Mengenai ini, filsafat
hal asal yang interprerivistic adalah
subjektif, sebagai interaksi sosial tidak bisa mungkin tanpa ada yang
diperiksa. Akhirnya, interpretivist
mencari untuk memahami dengan mengidentifikasi variasi dari
konstruksi-konstruksi yang mungkin dari pengetahuan. Variasi ini
diselidiki dengan tujuan tentang membawa konsensus untuk mengerti. Secara
metodologis penalaran penafsiran Firman Tuhan interpretivist mencari untuk melukiskan konstruksi yang individu
dengan sangat teliti sebagai yang mungkin selagi diperjalanan dialektis
membandingkan konstruksi yang individu untuk memungkinkan penyelidik dan datang
klien untuk menggenggam dengan konstruksi mereka. Lebih memberi tahu pilihan
menghasilkan seperti proses metodologis memungkinkan komunikasi lebih dalam
secara terus-menerus untuk terjadi dalam hal ini, interpretivist mencari untuk memperoleh pemahaman lebih seksama
melalui satu proses rekonstruksi perjalanan (Guba, 1990).
Pemeriksaan Interpretivistic
seperti teori kritis, pasti mempunyai suatu sejarah yang kompleks sering
menggunakan pemeriksaan naturalistic,
kepalsuan posisi interpretivist
didalam kontras yang langsung kepada realis mengambil sikap yang ditemukan
didalam kerangka pemeriksaan postpositivistic
atau positivistic. Sementara aksioma
dari paham positifisme dihasilkan didalam nilai “cuma-cuma dari lingkungan,”
aksioma dari kerangka yang interpretivistic
diciptakan dan yang dibentuk didalam proses yang sosial dari pikiran yang
saling berinteraksi. Kenyataan adalah oleh karena itu produk dari pengamatan
yang kolektif pemeriksaan nilai dimuati (Levine, 1985, 1992). Riset tidak bisa
saksama tanpa pertimbangan kepada nilai, kepercayaan, dan prasangka himpunan
dari pemeriksaan para aktor. Proses interpretive
ini menyebut Versteben mengakui adanya dan menggunakan perubahan terus menerus
yang tidak bisa dipisahkan yang tetap didalam aktivitas manusia dan dengan
demikian menyertakan perilaku dalam
pengaturan yang alami.
Paradigma riset yang naturalistic
adalah baru dalam lingkaran bidang pendidikan dan lebih penting masih
berselisih dengan paradigma yang berurat akar positivistic yang ada melalui waktu. Banyak peneliti bidang
pendidikan masih sebagian besar diikat kepada paradigma mereka yang tua.
Sebagai contoh Babbie (1989) menawarkan suatu teks yang penuh di riset
kemasyarakatan sebagian besar berdasar pada metodologi realis Borg dan Gall
(1989) menawarkan penjelasan tidak cukup paling metoda riset arus
kemasyarakatan dengan jelas orang yang berkepentingan didalam mengembangkan,
mengadaptasikan, atau mengubah kepercayaan pemeriksaan mereka dan metodologi
tidak bisa secara penuh menyimpan satu filsafat hal asal yang interpretivistic. Kepercayaan mereka
yang dasar masih sebagian besar diberitahukan oleh tradisi nilai yang
sebelumnya, metodologi riset dan teori-teori (Smith &Hesusius. 1986).
Banyak lebih suka tinggal tetap sekitar dan melanjutkan untuk operasikan
didalam paradigma mereka yang sebelumnya. Mereka juga melanjutkan kepada kritik
metoda riset dari posisi interpretivist
dengan kegairahan. Kritik mereka akan termasuk kurangnya kebenaran dan
keandalan paralel membangun (Guba, 1978; Mil &Huberman, 1984). Kurangnya
instrumen untuk menyediakan uraian dan perbandingan etnografi, modifikasi peran
dari peneliti, manajemen peran didalam konteks riset, strategi penelitian, dan
lebih. Tetapi kemajuan sudah tercapai ketika mereka mengadopsi pandangan lebih
baru berjuang keras untuk mengatasi suatu generasi metoda yang lebih baru.
Lebih umum lagi hari ini, peneliti sedang menjelaskan
teknik lading, menguraikan tradisi penelitian, mekanisme penambahan bahwa
menggelincirkan batasan orang dalam orang luar, mengembangkan ukuran lebih baik
sekitar apa yang harus diamati melawan apa yang harus disimpulkan, anti menjadi
semakin yang disesuaikan kepada perubahan terus menerus yang tidak bisa
dipisahkan didalam proses interaksi yang sosial.
Pengarang terdahulu dan ahli filsafat sudah menjadi yang
dibingungkan oleh metodologi riset pengukuran bahwa bersandar pada perspektif
pengukuran dan hitungan di mana indeks (jamak) dari suatu peristiwa
kelihatannya lebih penting dibanding peristiwa diri sendiri” (Giorgi, 1970, HAL
291). Di dalam pekerjaan yang paling
awal mereka, Guba dan Lincoln (1981, 1982, 1985) bergulat dengan asumsi
konvensional berhubungan dengan paradigma yang lebih tua. Lebih dengan tepat;
Guba dan Lincoln (1989) menguraikan fitur meragukan dari paradigma yang
positivistic. Didalam terminologi mereka, Patokan untuk Praktek Evaluasi
(Rossi. 1982), seperti yang dikembangkan oleh Evaluation Research Society;
bersifat tak dapat diterima dari sudut pandang suatu generasi yang baru menjadi
para penilai. Berbicara dengan keras tentang praktek yang evaluatif, Guba dan
Lincoln pandangan-pandangan Critiqued
Society itu dan menguraikan dasar pemikiran di balik ketidak-mampuan mereka
untuk menerima cara berpendirian kecocokannya. Posisi mereka meliputi berikut
dibawah ini :
1.
Mereka
tidak sesuai dengan peran yang interaktif dari .penilai dalam hubungan dengan
klien. Sementara metodologi tradisional mendalilkan suatu peran perumusan dan
negosiasi, peneliti-peneliti hari ini melihat riset aktivitas sebagai suatu
yang siklus dan proses iteratif.
2.
Dengan
kata lain penting, Guba dan Lincoln tidak berpatokan waktu untuk praktek
meringankan/menerangi ajaran yang metodologis dari pendekatan yang interpretivistic, seperti patokan tidak
secara langsung mengidentifikasi atau menetapkan ukuran yang sesuai kepada
usaha-usaha evaluasi constructivist.
Yang paling sering kali, perawatan-perawatan, berkenaan dengan metodologi
kuantitatif bersifat lazim, berbadan dalam hal seperti sampling, kemampuan
generalisasi keandalan, dan lebih. Kekurangan bersifat terminologi interpretivistic Guba dan Lincoln (1989)
melihat sebagai terminologi bisa diterapkan atau sama seperti keaslian,
kepercayaan, kredibilitas dan sebagainya.
3.
Seperti
filsafat yang interpretivistic karena
permulaannya, keheningan standar positivistic
lebih tua mempercayakan hampir eksklusif hubungan sebab dan akibat bahwa Guba
dan Lincoln berkelahi penilai-penilai dan klien-klien buta dari angkatan
pembedaan lebih sosial tangguh, yang beroperasi dalam situasi yang individu.
Didalam pandangan mereka, construction
sosial adalah paling sedikit dengan
sama sepenting seperti hubungan-hubungan sebab dan akibat yang mungkin.
4.
Guba
dan Lincoln (1989) tambahan pula mengutip terbentang konstan dilema etis,
seperti klien dan peneliti didalam model tradisional dari pemeriksaan pada
umumnya meninggalkan ketersediaan informasi, pengambilan keputusan, dan
hubungan kekuasaan dalam kekuasaan klien. Tetapi model yang lebih baru dari
pemeriksaan mengharuskan memindahkan pengungkitan ini dari sponsor lebih secara
penuh memungkinkan suatu spektrum lebar pengambilan keputusan untuk bangun dari
lebih siap tersedia informasi dan interaksi berikut dengan stakeholders yang lain.
5.
Akhirnya,
Guba dan Lincoln (1989) buat suatu permohonan didalam pertahanan dari tubuh
kerja pemasangan dari bukti bahwa mengusulkan sebagai fakta suatu nilai ikat
pendekatan kepada evaluasi. “Bila melihat peristiwa lalu, kemungkinan tindakan
untuk ‘nilai’ suatu proyek (program, kurikulum, dan seterusnya) selagi
bertindak sebagai meskipun demikian nilai tak penting atau merusak kepada
penilaian (evaluasi) usaha perlu sudah menyerang kita sebagai yang bertingkah,
jika bukan kontradiktori perilaku” (Hal
233).
Untuk memecahkan hal ini banyak fitur yang meragukan,
Guba dan Lincoln (1989) dan Lincoln dan Guba (1986) melanjutkan didalam penyelidikan
mereka untuk menciptakan ukuran untuk menghakimi ketercukupan evaluasi dan
lebih pantas kepada paradigma yang interpretivistic.
Suatu tinjauan ulang yang singkat dari pemikiran mereka
mengenai ini dapat sangat menolong. Kepercayaan mereka dapat diringkas kedalam
tiga kategori yang luas : kepercayaan ukuran, sifat alami proses penafsiran
Firman Tuhan, dan ukuran keaslian. Ukuran-ukuran diharapkan kepada patokan
paralel untuk riset yang ketat didalam kerangka yang positivistic (yaitu : kebenaran, keandalan, dan objektifitas).
Sementara masing-masing ini dikandaskan dengan kuat didalam kerangka postivistic dan sangat terbiasa, tidak
ada terjemahan yang langsung dari ukuran ini kepada dunia yang interpretivistic.Suatu ontologi realis
tidak bisa menganggap diri bahwanya ada suatu pertemuan antara penemuan ke
suatu penemuan dunia nyata maupun terdapat didalam tradisi yang interpretivistic lalu adalah generalizable.
Terlalu banyak konstruki yang mungkin bersifat lain.
Lincoln dan Guba (1986) mengusulkan sebagai fakta bahwa menetapkan keadaan
dapat diserahkan kredibilitas, keterkaitan dan mengkonfirmasikan kemampuan
lebih ukuran yang sesuai kepada kerangka yang interpretivistic.
Mereka menyerahkan bahwa menetapkan suatu konsep yang
paralel dari kredibilitas menetapkan suatu persamaan lebih yang sesuai,
pemadanan membangun kenyataan dari responden kepada kenyataan penilai.
Teknik-teknik bahwa meningkatkan kemungkinan kredibilitas yang lebih besar
lebih diperpanjang perikatan buka peluang hubungan lebih besar, pengamatan
gigih yang membiarkan lingkup lebih besar, panutan mewawancarai utusan sebagai
suatu pengendalian mutu yang tidak mengejar untung. ujian kasus negatif yang
meyakinkan keyakinan subjektif, kesubyektifan progresif untuk menangkap
pandangan yang diistimewakan dari yang lain dan menyokong yang lain, dan
anggota memeriksa untuk mendaftarkan diri konstruksi dari stakeholders.
Dengan kata lain kritis, keadaan dapat diserahkan
mendasar kepada paradigma yang interpretivistic.
Hal itu ukuran kemampuan generalisasi parallel dari paradigma yang positivistic. Kemampuan generalisasi
didalam kerangka yang positivistic
berasal dari kesetiaan ke teknik percontohan acak. Keharusan membuktikan berada
dengan penyelidik. Tetapi ini tidak bisa kasus dengan pendekatan yang interpretivistic. ketika keharusan membuktikan berada dengan
agen dan klien oleh karena itu, selalu sanak keluarga. Konsekuensi-konsekuensi
dari area keadaan dapat diserahkan tidak mempertimbangkan relevan kepada
pembatasan keyakinan lazim disuatu pengertian yang positivistic. Sepertinya derajat tingkat dari keadaan dapat
diserahkan dibentuk dengan menyediakan sama seperti melengkapi suatu database
yang mungkin (uraian-uraian tabel) untuk memudahkan melintasi kepada
konteks-konteks yang lain.
Ukuran lain paradigma yang interpretivistic adalah keandalan atau stabilitas data dari waktu
ke waktu. Perubahan-perubahan desain dan bergeser ke dalam hipotesis akan
memandang studi-studi riset yang tidak stabil didalam paradigma riset yang
tradisional, tetapi mempertimbangkan berdasarkan norma didalam kerangka yang interpretivistic. Kemampuan ini untuk
berubah atau tujuan perancangan ulang adalah hal yang biasa mempertimbangkan
karakteristik yang muncul bahwa menggambarkan naturalism. Untuk menghormati
pentingnya keandalan, interpretivists
perlu untuk menjamin suatu pengertian dari sifat suka menurut. Metoda ini dari
pemeriksaan perlu untuk secara terus-menerus diteliti ketika usaha yang lain
untuk membuat ulang untuk peneguhan iman mereka, keputusan dan penafsiran
penyelidik. Sebagai contoh, dapatkah yang lain menjejaki proses
logika dari penyelidik itu ?.
Akhirnya, Lincoln
dan Guba (1986) serahkan bahwa pemeriksaan harus memelihara suatu pengertian
dari obyektifitas untuk meyakinkan data itu, penafsiran, dan produk dari
pemeriksaan itu bersifat memperbaiki dalam konteks dan orang yang dapat
dipisahkan dan yang berbeda dari penyelidik. Tetapi tidak seperti objektifitas
dari tradisi sebelumnya, pemeriksaan yang interpretivistic
bersandar pada konfirmabilitas data diri sendiri. Dalam hal ini, integritas
dipelihara dan dipertahankan dengan meyakinkan bahwa data mudah untuk
ditelusuri kepada berbagai sumber dan penafsiran padu itu secara khusus maupun
dan disiratkan.
Hermeneutic Process. Didalam proses hermeneutic/dialectic, masukan data dengan segera tersedia bagi
umpan balik, pengembangan, koreksi, revisi, atau perluasan. Dengan demikian,
masukan bersifat yang lain wujud tentang meyakinkan mutu di dalam proses
pemeriksaan. Ketika data memulai dan dikunjungi kembali, mereka dengan segera
menjadi dapat diakses kepada usaha-usaha rekonstruksi hubungkan kering yang
muncul. Persekutuan adalah mekanisme informasi dan pengembangan membiarkan data
untuk secara terus-menerus ditantang oleh bermacam klien yang pada gilirannya
mendukung kredibilitas di dalam hasil. Penyekatan hal ini merupakan
persyaratan pemeriksaan mencegah pelemahan informasi.
Ukuran Keaslian.
Sementara pendekatan tersebut kepada pemeliharaan, dari “kesehatan” di dalam
proses interpretive bermanfaat, mereka
juga pada umumnya memulai dari asumsi positivist
metodologis paralel tentang kebaikan. Pemeriksaan interpretivistic memerlukan himpunan tegas dari ukuran-ukuran
berdasar pada constructivist asumsi
(Lincoln & Guba, 1986). Ukuran keaslian ini akan perlu termasuk kewajaran,
ontological keaslian keaslian mendidik, katalitis, keaslian dan keaslian taktis
Fairness bangun dari persyaratan itu untuk menyediakan suara sama” dan
keseimbangan kepada pluralisme nilai bahwa bangun dari bermacam-macam
konstruksi. Dalam hal ini, peran penyelidik itu adalah satu penyelesaian
sengketa dengan penengahan, seperti berlawanan dengan konstruksi yang mereka
punyai “hari di dalam pengadilan.” Kewajaran juga memerlukan bahwa perilaku
penyelidik apa yang Lincoln dan Guba memasukkan satu mekanisme yang naik
banding, dengan mana stakeholders dapat memutuskan sewenang-wenang
prosedur-prosedur proses dan kebijakan. Derivativenya sisa dari keaslian
membangun kekuasaan dari proses ini. Setiap pemeriksaan memproses harus mampu
diperbaiki atas dan jatuh tempo. Secara ontologi keaslian mencari untuk secara
terus-menerus meningkatkan kesempurnaan keduanya stakeholders dan para penyelidik. Keaslian mendidik memerlukan
penyelidik yang memenuhi tanggung jawab
moral mereka kepada stakeholders dengan
meyakinkan bahwa suatu variasi di dalam sudut pandang desain hadir.
Keaslian
katalitis menuntut bahwa proses pemeriksaan bukan istirahat semata-mata sebagai
suatu experiential berlatih, tetapi bahwa proses menghasilkan pengambilan
keputusan dan tindakan. Teori harus meningkatkan melalui praxis (komitmen dan
mengerti) untuk mempraktekkan. Akhirnya, keaslian taktis memerlukan kompetisi
komplet dalam memproses tambahan pula termasuk mengabulkan kekuasaan stakeholders itu untuk berbuat sesuatu.
5.7.
Pemeriksaan dan Administrasi Bidang
pendidikan
Setelah setelah dijelajahi ke tiga paradigma yang utama
sungguh-sungguh mendalam, lebih saksama memperhatikan pemeriksaan didalam
praktek bidang pendidikan adalah yang sesuai. Evers Lakomski (1991) sediakan
suatu sarana angkut bagi kita untuk menghubungkan tiang penyokong yang
filosofis menggambarkan di atas kepada praktek bidang pendidikan. Ketiga bidang
utama yang ditujukan oleh Evers dan Lakomski berpasangan dengan mereka yang
sebelumnya membahas: gerakan teori, pendekatan paradigma, dan lekat. Gerakan
teori di dalam administrasi bidang pendidikan melambaikan ditahun 1980an.
Selama peneliti-peneliti tahun bidang pendidikan ini melihat ke “struktur
mengurangi hipotetis dengan hukum ada di puncak dan fakta pada dasarnya” (
Evers &Lakomski, 1991, Hal 3). Tujuan dari riset untuk menyediakan
pengelola bidang pendidikan dengan penemuan bahwa akan membiarkan mereka kepada
lebih dengan teliti meramalkan kejadian dan untuk kendali lebih baik mereka
yang kejadian. Unsur organisatoris dikenali, operasional, dan mengukur dalam
percobaan untuk daya guna dan tepat guna peningkatan didalam lingkungan yang
bidang pendidikan.
Didalam paradigma klasik ini, organisasi bidang
pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana, hirarkis, dan mekanis.
Ramalan kejadian dipertimbangkan dan riset dengan setia mengikuti praktek
ilmiah mendasar pemeriksaam sasaran tanpa perubahan obyek dari pemeriksaan
kedalam bagian yang terpisah, menguji mereka, dan sampai di
penyamarataan-penyamarataan untuk meluas kepada daerah lain. Sehubungan dengan
mengubah praktek di dalam gelanggang organisatoris yang lain, bagaimanapun,
administrasi bidang pendidikan juga mulai suatu pergeseran. Literatur adalah replet dengan contoh dari usaha yang
berkelanjutan untuk mengubah fungsi organisasi-organisasi jalan dan menciptakan
pengetahuan baru. Pasti penalti hukuman mati ajaran dari paradigma yang positivistic didalam pemeriksaan
organisatoris sudah tidak lagi satu contoh yang sempurna yang bisa diterima
(Howe & Eisenhart, 1990; Cziko, 1989). Tetapi selagi postpositivism lebih enak kepada peserta riset kelihatan muda,
empirisme kuno tetap kukuh (Howe &Eisenhart, 1990).
Guba dan Lincoln (1989) sediakan ilustrasi lain keturunan
akibat dari usia pemeriksaan didalam administrasi bidang pendidikan. Sementara
masing-masing generasi berkonsentrasi pada metoda tertentu sendiri untuk
memenuhi pemeriksaan dan riset mereka mewakili satu penguasaan, permasalahan
menyebar tinggal. Koleksi data untuk pengukuran asas. Sebagai contoh, didalam
lingkaran bidang pendidikan, pengukuran dari atribut anak-anak sekolah primer
Tujuan dari pendidikan yang diterima disekolah untuk mengajar apa dikenal
sebagai benar dari dasar itu dan untuk meyakinkan bahwa para siswa kemudian
adalah mampu menunjukkan pengetahuan mereka di test-test yang distandardisasi.
Seperti gerakan yang bersifat kemanusiaan yang terkemuka. Perbedaan penemuan
individu ketika bereaksi bahwa
pengukuran sungguh menjadi suatu jalan kecil pemeriksaan wajar baru. Bisnis dan
industri juga mendukung zaman dari pengukuran sebagai peneliti berhasil baik
untuk ukuran daya guna dan tepat guna. Sementara generasi pertama ini
penelitian administrasi bidang pendidikan menyediakan data yang berharga,
dibatasi lingkup dari penemuan yang menyimpan panggilan yangs luas yang lebih
besar. Uraian program, material, strategi pengajarna dan pola teladan
organisatoris untuk mencoba meluaskan lingkup hasil pemeriksaan, tetapi juga
menahan banyak pengukuran jaman hampir kepercayaan religius atas hitungan. Riset ini hampir bisa dipastikan
menimbulkan perubahan yang menguntungkan seperti kurikulum lebih berbasis luas
timbul, pemahaman lebih dalam para siswa terjadi, dan menguji diungkapkannya
apakah para siswa belajar yang para guru telah berniat. Bagaimanapun lebih
banyak perubahan diperlukan. Penentuan nilai menjadi, area studi untuk
generasi penyelidik berikutnya.
Didalam periode baru ini, peneliti menjadi penimbang dan
pemutus yang dibumbui dari metoda riset yang berbeda sebagai tambahan terhadap
penguasa pengukuran dan uraian. Didalam gelanggang ini, tidak hanya kinerja
masalah perhatian kepada penyelidik, tetapi sasaran hasil menjadi pokok
pemeriksaan. Peneliti sekarang diwajibkan untuk berhubungan dengan kebaikan,
didalam dan diluar perspektif riset sekolah pendidikan itu. Peneliti-peneliti,
meski bukan didalam naungan tempat peristiwa ini, memasuki “dunia yang
politis.”
5.8.
Kesulitan dalam Pemeriksaan.
Sebelumnya dalam bab ini, kita membahas kemunculan dari
berbagai paradigma pemeriksaan. Sekarang perlu juga mendiskusikan satu baris
dari permasalahan praktis yang muncul dalam pendekatan riset, Eisner (1981),
Agger (1991), dan Guba dan Lincoln (1989) menyediakan diskusi penuh pengertian
kegagalan riset secara umum dan riset pendidikan secara rinci.
Eisner (1981) mendalilkan beberapa poin dari perhatian.
Dengan kepercayaan pada pemeriksaan yang interpretivistic
menemukan hari ini, penghisapan, kekuatan kepunyaan yang unik penyelidik itu
bersifat tertinggi. Sementara sebagian orang melihat hal ini seperti masalah
politis yang bentuk tunggal, yang lain menunjuk perhatian etis lebih luas.
Peneliti didalam kelas atau sekolah atau dari universitas masing-masing harus menunjuk kehormatan dari
kedua agen dan klien. Didalam cahaya ini, seksamanya dari pelatihan riset;
aatribut individu peneliti, dan pengaturan sesuai kontrak yang masing-masing
mencerminkan suatu perhatian yang perlu bahwa pemeriksaan lebih seksama.
Pertimbangan lain melibatkan ketepatan waktu dari hasil riset. Riset dengan
seksama dalam bingkai yang interpretivistic
sering familier, pada “Tindakan Ilmu pengetahuan” orientasi Argyris (1985),
pengambilan minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum penutupan studi yang
tersedia. Dengan demikian riset sering kali menarik dalam prosedural : pengaruh
disembowels dari pemeriksaan menjadi
terlalu pendek aplikabilitas istilah dari waktu ke waktu. Untuk memelihara
fleksibilitas yang tidak bisa dipisahkan metoda interpretive, dunia yang lengkap dari pemeriksaan tujuan ke
penemuan, harus tersedia bagi penyesuaian. Untuk memecahkan. tersebut, Eisner
menyerahkan bahwa riset kualitatif sering dipandang sebagai deterministic dibanding metodologi yang
sebelumnya. Klien boleh menjadi yang ditakut ketika hasil tidak bisa segera
menghasilkan perubahan efektif seperti yang diasumsikan di zaman yang positivistic.
Guba dan Lincoln (1989) menantang bahwa tiga cacat yang
utama sudah mendominasi pemeriksaan administratif didalam pendidikan : suatu
kecenderungan terhadap managerialisme, kegagalan itu untuk mengakomodasi pluralisme
dari nilai, dan atas pemeriksaan kesanggupan ilmiah (Hal 32). Didalam kasus yang pertama, Lincoln
membantah bahwa managerial menghasilkan sejumlah kesalahan yang pada
hakekatnya, disempowering peserta stakeholders, disenfranchising penemuan penilaian, dan kekurangan kemampuan itu
untuk menyatakan tanggung-jawab dalam kumpulan, managerial yang dikombinasikan
beberapa fitur tidak disukai yang dapat berkompromi suatu keseluruhan skenario
riset. Juga penting adalah perwujudan bahwa pluralisme adalah nilai tertinggi
didalam semua riset tak mengindahkan ajaran nilai menyisihkan warisan berbeda
dari para siswa disekolah, daftar biaya pengiriman barang pelajaran berbeda,
dan disassociates penyimpangan
peneliti mungkin karena keperluan yang mendesak dan medadak, antar permasalahan
yang lain. Akhirnya menurut Guba dan Lincoln, pemeriksaan bidang pendidikan
masih sebagian besar merasa terikat dengan pendekatan ilmiah. Dari buku teks
mengeluarkan secara ringan sebelumnya untuk lulus memprogram keheningan itu resonate dengan kursus metodologis yang
sebagian besar banyaknya difokuskan, metode latihan itu adalah dengan kuat
kukuh. Didalam administrasi pendidikan dan keseberang pengetahuan manajemen,
metode latihan itu dipandang sebagai cara yang benar untuk meyakinkan.
Kepercayaan ini seringkali mengevaluasi jalur dari konteks mereka dan memandang
hasil riset nilai yang diragukan. Guba dan lincoln (1985) membantah untuk constructivisism yang mau mendengarkan,
diluar pandangan awal dari pendekatan yang constructivistic.
Agger (1991), seorang ahli teori yang kritis, aplikasi
yang ditantang itu postmodernism dan
teori kritis bahwa kita lihat sekarang dipecahkan oleh modifikasi kultur yang
populer. Sementara mungkin saja penting untuk mengubah bentuk sstruktur
masyarakat, ini tidak bisa tercapai oleh hanya ingat pengalaman yang kolektif
dari kejadian. Itu harus mengembangkan dengan mengidentifikasi artinya dan
identitas kejadian kedua teks dan jalinan mereka. Konsentrasi pada kejadian
dari pengalaman yang populer menciptakan kemungkinan bahwa seperti kejadian
menjadi lebih bernorma, mereka yang dijadikan ideal dan norma yang berperilaku.
Penyelidikan kita dalam beberapa hal perhentian dan tidak lebih lanjut
dengan kritis menguji itu kejadian kecuali poin dangkal dari pandangan. Postmodernism, menggantikan unsur pokok
dengan gaya dapat dilihat pada banyak kejadian yang cepat menentukan
penyesuaian seperti pemberdayaan, pemilihan sekolah, atau manajemen berbasis
sekolah. Setiap orang kelihatannya bertujuan untuk memperoleh akses kepada
Bandwagon untuk menggambarkan versi mereka sendiri yang unik dan
diperlukan untuk berubah.
Guba dan Lincoln
(1985) menguraikan gerak paralel dari paradigma pemeriksaan sebagai hasil
perubahan yang berkelanjutan didalam organisasi. Membandingkan tujuh konsep
menyediakan dasar untuk satu eksplorasi yang mendalam sebagai dampak dari
perubahan yang berkelanjutan didalam cara kita membangun pengetahuan. Mengerti
kesamaan ini dapat lebih lanjut sebenarnya membantu kearah yang menetralkan
sebagian dari lingkup masalah yang sebelumnya dikutip atau diambil
kesimpulan.
»
Dari sederhana ke kompleks.
Perubahan ini menyiratkan dan sebagian besar suatu hasil
dari suatu ketidak-mampuan organisasi untuk merubah dan kecenderungan untuk
melanjut dan memandang dunia simplistically. Di jaman sebelumnya kemampuan untuk
mengidentifikasi, memahami, mengukur keseluruhan suatu masalah telah
diasumsikan. Sebagai contoh :
Namun
tidak mungkin bahwa kita akan secara penuh memahami dampak dari tingkat tarip
hilang-data tinggi dengan hanya dengan survey yang mereka tinggalkan atau lebih
lanjut dengan termasuk suatu urutan dari
yang lain variabel mencari-cari surat menyurat. Suatu pertanyaan yang lebih
rumit menuntut pendekatan lebih rumit kepada ilmu pengetahuan, satu termasuk,
dalam kasus ini, suatu panorama yang sistemik dari sekolah tersebut, lingkungan
pengajaran keluarga, dan lebih. Yang lebih penting, situasi ini menuntut
eksplorasi hubungan diantara variabel. Yang paling penting perwujudan bahwa
mungkin ada atau tanpa obyektifitas didalam contoh tersebut. Mengidentifikasi
pengajaran yang lemah sebagai satu penyebab atau banyak penyebab yang meniadakan
hubungan dan merahasiakan penemuan lebih sesuai.
Didalam
riset bidang pendidikan, pengingat-pengingat kuat tentang akomodasi yang
sederhana kepermasalahan ada dimana-mana. Rasionalitas seperti yang dituntut
oleh gambaran realis yang masih meragukan. Bahkan hari ini kita temukan
instruksi pengajaran universitas memusatkan pada lebih awal, mungkin riset
sebagian besar tidak relevan berlatih bahwa telah melewati masa lampau waktu
mereka. Kompleksitas mengharuskan dramatis berubah. Pada masa
depan, mereka yang mengajar riset metoda harus mengakui adanya pemeriksaan yang
meliputi arti yang penuh “Sejarah dan detil membandingkan dengan ketetapan dan keadaan
umum” (Guba &
Lincoln. 1985. Hal 89). Huff menjelaskan bahwa dalam rangka “… memahami
kompleks ... aspek dunia, harus mempunyai sumber informasi kompleks" (Huff
1985, Hal 165).
»
Hirarkis ke Heterarchical
Jika
kita memperhatikan organisasi hari ini, kita menemukan banyak contoh dari
struktur organisasi yang tidak biasa. Hubungan erat, jaringan, piramida atas
piramida bawah, menyambungkan sambungan, dan lebih adalah penyajian perubahan
didalam struktur organisasi yang diharuskan oleh angkatan yang lain. Dengan
cara yang sama, dalam lingkaran bidang pendidikan, revisi lebih lanjut struktur
organisasi sudah muncul didalam contoh seperti manajemen berbasis sekolah, dan
lebih banyak interaksi pengambilan keputusan antara pelajar dan guru. Bahkan
sekolah tanpa para pemegang saham tidak susah untuk menemukan. Pluralisme atau
multiplism sedang menggantikan “tingkatan sosial” organisasi yang sudah
membatasi penciptaan pengetahuan. Didalam pandangan dunia baru, setiap himpunan
dari faktor dapat menjadi suatu peristiwa pengendalian, tergantung pada
konteks.
Didalam
pandangan yang tradisional, sistem bidang pendidikan diorganisir menurun, dari
level pemerintah pusat disemua jalan sampai dengan guru. Hoy dan Miskel (1987)
menggambarkan teori administratif sebagai “Satu set konsep yang saling
berhubungan, asumsi dan penyamarataan bahwa secara sistematis menguraikan dan
menjelaskan keteraturan didalam perilaku dalam organisasi pendidikan” (1987.
Hal 2). Literatur membebani dengan skema organisasi mencerminkan suatu kepala
organisasi, penuh dengan yang sequential-linear-systematic
pengembangan kurikulum menggambarkan, dan yang dipenuhi dengan model yang
menurut langkah struktural praktek. Pemeriksaan pada waktunya masa lampau
mensahihkan sifat yang hirarkis dari organisasi sekolah dan pendidikan yang
diterima di sekolah.
Paradigma
yang lebih baru memandang organisasi bidang pendidikan sebagai heterarchical, yang diorientasikan
kepada pluralisme dan suatu prinsip
dasar heteracas (Guba&Lincoln,
1985). Sebagai contoh, perwujudan bahwa bahasa adalah deskriptif, atau seni
visual bahwa melukiskan, membuka pengetahuan baru menciptakan tempat peristiwa
bahwa tidak bisa digolongkan sama yang bentuk tunggal, ketika kepala menurun,
atau menurut langkah. Garis bantu harus tersedia untuk peneliti yang mendesak
lebih baru saling berhubungan metoda riset, garis lintang bahwa membiarkan
bermacam pendekatan untuk menyusun kembali pemahaman kita.
»
Mekanik ke Holographic
Didalam
bab yang akan datang, organisasi sekolah akan digambarkan sebagai satu “sangkar
besi” atau sebagai yang seperti mesin. Kiasan sambung gambaran-gambaran mental
dengan kenyataan sekolah bersifat seperti mesin : kelas adalah 45-50 menit,
lima atau enam kelas perhari umum, sekolah tersebut tahun adalah 180-plus
hari-hari panjang, dan diperlukan dua belas tahun untuk melengkapi pendidikan
yang dapat diterima disekolah; kecuali jika, tentu saja test yang
distandardisasikan mencerminkan kemampuan lebih besar dan merencanakan berlaku
bagi perguruan tinggi, dimana waktu anda kemudian bisa meningkatkan banyaknya
tahun dari pendidikan yang diterima disekolah kepada enam belas. Bahkan guru
seperti robot. Agenda dari pemeriksaan didalam lingkungan tidak yang berbeda
ini. Adakah tidak cukup studi dari panjangnya kelas dalam jurnal telah?
Kebutuhan kita berkata lebih?
Holograms
bersifat gambaran-gambaran dimensional dari cahaya yang terpantul, tetapi lebih
penting menguasai kekayaan yang unik. Konseptualisasi organisasi sekolah
disebut sebagai suatu hologram adalah usaha untuk mengkhayalkan suatu sekolah
yang holographic sering kali
mengakibatkan kekacauan dan kebingungan. Hologram, setiap bagian berisi
informasi cukup untuk menyusun kembali keseluruhan. “bagian itu didalam
keseluruhan dan keseluruhan didalam bagian... bagian mempunyai mengakses kepada
seluruh” (Wilbur, 1985, Hal 2). Ketika cahaya ditunjukkan pada gambaran yang holographic, gambaran itu dapat disusun
kembali dari setiap bagian atau puzzle. Pertimbangkan, menganggap organisasi
sekolah yang holographic, satu organisasi dimana compartmentalisasi tidak ada, dimana para guru berbagi informasi
dengan luas, atau dimana para siswa bisa disebut para rekan kerja. Pelajaran
adalah isu didalam sekolah ini seperti keseluruhan sekolah dibangun untuk
memudahkan pelajaran. Didalam pengertian yang holographic, ketika anda memasuki suatu sekolah dapat anda
merasakan pelajaran berlangsung, atau begitu merasakan itu kandang besi? Dengan
cara yang sama, pemeriksaan bidang pendidikan yang miliki, haruslah yang
dimulai untuk mempertimbangkan; menganggap keterkaitan tentang fitur pengaturan
bahwa mengilhami ciptaan pengetahuan holistic.
»
Determinacy ke Indeterminacy
Apakah mungkin untuk meramalkan dan mengendalikan? Atau
adalah segala hal yang sanak keluarga? Pandangan yang berlainan berkembang dari
paradigma teori organisasi dan pemeriksaan yang berbeda dengan jelas dan
mempunyai keterlibatan-keterlibatan berjangkauan luas. Jika seperti kaum
tradisional percaya, ada satu cara yang benar untuk mengorganisir dan mengurus
pendidikan, dibanding pemeriksaan mengurangi yang hipotetis akan mengakibatkan
tubuh dari pengetahuan tentang itu “cara benar.” Weber memperkirakan sistem
yang birokratis adalah “atasan didalam ketepatan, didalam stabilitas, didalam
kekerasan tentangnya disiplin, dan keandalannya.” (Pendeta. 1947, hal 337). Waktu belajar dan efisiensi
model juga berfungsi untuk mengesahkan suatu pendekatan yang mantap kepada
administrasi.
Muncul riset paradigma, bagaimanapun, menyediakan suatu
kritik dari empirisme logis dan mengasumsikan satu alam semesta yang tak tentu
dimana ramalan bukanlah yang tidak mungkin. Sasaran pemeriksaan organisatoris
mau tidak mau harus “Mewujudkan satu pemahaman interpretive orang artinya memberi kepada situasi mereka sendiri
dan interaksi mereka dengan yang lain” (Smith&Blase, 1991, Hal 11).
Penyamarataan seperti hukum bukanlah mungkin karena dunia sosial bukanlah
terbatas. Oleh karena itu, yang terbaik yang diharapkan untuk menguraikan
kompleksitas organisasi dalam konteks sejarah mereka, orang-orang, dan
lingkungan. Hal-hal dari makna manusia akan memandang interpretive pemahaman yang mungkin (Smith&Blase1991).
»
Linier ke Mutual Causality
Kejadian
dari skenario sebab dan akibat yang bentuk tunggal didalam hidup riil, jika
kita menggunakannya sulit untuk dibayangkan. Tetapi riset tradisional
menetapkan hanya hubungan sebab akibat seperti itu yang mendasar. Dengan
sungguh jika tujuan kita untuk mengurangi asal-muasal dari kejadian untuk
variabel-variabel yang terbatas. Tetapi generalisasi dari ini keadaan yang
terbatas kembali lalu untuk mengeluarkan lebih rumit harus dilakukan dengan
kepedulian yang ekstrim. Jika kemudian
hubungan adalah menetapkan pemeriksaan berdasarkan norma dan menghadirkan suatu
yang lebih spesifik sebagai satuan variabel untuk suatu hubungan maka diaganggap sah/benar. Pergi keyakinan dari hubungan memimpin
kearah kesalahan.
Pemeriksaan
Naturalistic, sebaliknya, mengasumsikan hubungan sebab akibat timbal balik,
nonlinear, dan hubungan berorientasi pertumbuhan antar variabel. Sebagai satu
studi kasus metodologi pemeriksaan dibangun dengan sengaja sebagai suatu sket
budaya historis sebagai contoh, suatu lingkungan sekolah atau kelas. Dalam hal
ini, studi kasus adalah suatu contoh hidup dari tindakan yang dihubungkan
kepada lingkungan total mereka. Begitu tindakan dipahami untuk terjadi didalam,
satu ceramah interpretive dapat
menyusun kembali lingkungan sekolah tersebut atau kelas, tetapi pandangan dari
penyelidik. Suatu pemahaman yang lebih dalam lingkungan yang total dapat muncul.
»
Assembly ke Morphogenesi
Dalam
paradigma pemeriksaan, perakitan menyiratkan konstruktor mesin dari sederhana
ke kompleks. Didalam penurunan pandangan, keseluruhan yang dipisahkan dalam
segmen lebih kecil dan yang lebih kecil sebagai suatu metode kepada parameter
kontrol bersifat percobaan dan sampai pada kebenaran. Penemuan bersifat
percobaan lalu menyamaratakan kasih sayang dengan keseluruhan yang lebih besar
dan lebih besar lagi. Satu kumpulan dari penemuan harus tidak bagaimanapun,
sebagai gantinya untuk lisensi untuk menerapkan ke seberang lebih besar dan
cakupan lebih besar. Matematika yang lemah mencetak prestasi didalam sekolah
tertua kota New York mungkin tidak ia berhubungan dengan matematika lemah
mencetak prestasi di Los Angeles atau dimana pun selain itu. Penyamarataan
hanya dapat memindahkan ketika kita dapat dengan penuh percaya diri
menghubungkan setian lingkungan-lingkungan yang ada.
»
Morfogenesis
Adalah
suatu perubahan yang timbal balik bahwa terjadi ke seberang bagian dan
keseluruhan suatu struktur. Itu dapat dipertimbangkan penggunaan yang
dikombinasikan dari obyektifitas dan kesubyektifan suatu keseimbangan kekakuan
dan keterkaitan, atau paradoksis dari pemeriksaan. Sementara suatu sekolah yang
ketat mendasarkan eksperimen boleh berfungsi kepada alamat suatu isu yang
lokal, keterkaitan dari isu yang lebih luas kepada seluruh isu kemudian adalah
kekurangan. Wajar keseimbangan dua
kebenaran ini berhubungan dengan menciptakan suatu keseluruhan yang
berbeda. Jadi, dengan demikian, ukuran berlainan kombinasikan untuk membuat
ulang suatu keseluruhan yang lebih besar. Dengan cara yang sama, organisasi
sekolah yang dipikirkan untuk berputar-balik disekitar bangunan, fungsi yang
tepat kedalam lingkungan dan berfungsi untuk menerapkan dan menambahkan kemudian mengoperasikan. Dalam hal ini
sekolah tersebut tidak pernah mampu menyesuaikan diri sendiri dan menciptakan
hubungan-hubungan pengaturan perlu yang baru sebagai hasil pertumbuhan atau
ukuran lain manapun. Tanpa orientasi hubungan proses ini sekolah yang besar
menjadi susah, yang tidak fleksibel, prosedural, dan birokratis. Jika
pengambilan keputusan ang sebelumnya dan memecahkan masalah telah berhubungan
perhatian untuk wujud dan fungsi, barangkali mekanisme fleksibilitas bisa
dikembangkan, atau prosedur yang bisa menyesuaikan diri dengan meliputi
hubungan lebih baru. Dalam hal ini, pendidikan yang diterima di sekolah
bisa menjadi pengaturan diri sendiri dan diri sendiri. pembaharuan.
»
Objective ke perspectival
Sebagai
suatu korolari kepada perubahan membahas diatas, paradigma pemeriksaan lebih
baru mencari untuk mengungkapkan, menyingkapkan perspektif ganda melalui
pemeriksaan dan memungkinkan penemuan ganda. Jika kita secara terus menerus
mengurangi variasi peredaran bank dapat berdampak pada suatu usaha/riset, kita
juga mengurangi kemampuan penyelidik itu untuk mengejar kebanyakan usaha yang
diberitahukan. Pemeriksaan memerlukan variasi keperluan untuk berfungsi secara
efektif.
Aksioma
ini sebagai Guba dan Lincoln (1985) mereka menguraikan mengembangkan suatu
pandangan yang baru dari ciptaan pengetahuan didalam organisasi dibidang
pendidikan sebagau satu proses yang berkelanjutan. Metodologi tradisional
melanjutkan untuk memiliki suatu dampak yang kuat di pemeriksaan yang
administratif (Smith & Blase, 1991). Bagaimanapun, telah ada suatu dengan
mantap bertumbuh tubuh dari riset berdasar pada perspektif yang interpretivistic dan diantara “baru”
aksioma-aksioma seperti yang digambarkan oleh Schwartz dan Olgivy (1979) dan
Guba dan Lincoln (1985). Kita harus terbiasa dengan keduanya yang tradisional
dan pandangan yang lebih baru pemeriksaan organisatoris. As Gage (1989)
menunjukkan, kita mungkin masih ditengah suatu perjuangan demi supremasi
paradigma atau, secara berurutan, kooperasi. Pendidik di masa datang harus
memperhatikan ini pendekatan yang ganda kepada riset administratif bidang
pendidikan.
5.9.
Proses Pemeriksaan dan Paradigma Yang
Diperdebatkan
Proses dari pemeriksaan tidak debat filosofis hanyalah,
hanya, sebagai gantinya diharapkan untuk menjawab pertanyaan spesifik yang
mengakibatkan pengetahuan spesifik. Untuk menggambarkan proses dari pemeriksaan
beberapa contoh dikembangkan dalam satu usaha untuk mengamati pemeriksaan
proses dalam perang.
Salomon (1991) menganalisa beberapa himpunan dari studi
dalam argumentasi yang menimbulkan pemiikiran untuk pemeriksaan sistemik
dan analitik dalam studi pertamanya,
suatu eksperimen yang dikendalikan, ia dan para rekan kerjanya menguji
interaksi hipotesis itu dengan komputer yang interaktif, Writing Partner, akan memperbaiki kemampuan penulisan. Para siswa
diwajibkan diuji : variabel, internalisasi, pembelanjaan dari usaha, mutu
penulisan, dan perpindahan setelah penggunaan yang berikut dari alat penulisan.
Penulisan sebelum dan sesudah esei ditempatkan pada pos yang sudah
dikembangkan. Para siswa secara acak ditugaskan menjadi dua kelompok. Hasil
mendukung hipotesis mereka. Suatu zaman yang baru dari pemakaian komputer
dilahirkan. Didalam test yang terpisah yang lain, dalam eksperimen yang menggunakan
suatu desain yang serupa, membaca ketrampilan-ketrampilan adalah juga
ditingkatkan. Akhirnya, sepertiga belajar didalam geografi menggunakan database
komputer menghasilkan yang serupa. Yang diilhami oleh semua hasil tersebut,
suatu test yang keempat memperkenalkan bentuk data base untuk mempelajari
Konstitusi Amerika Serikat yang menjadinyata bahwa dibatasi lingkup dari model
yang bersifat percobaan tidak akan mencukupi untuk suatu pengerjaan dari
besaran ini. Sebagai gantinya, suatu rangkaian yang baru dari
aktivitas kelas ilmu sosial akan perlu dikembangkan: kejadian regu, suatu
konvensi konstitusional, dan lebih. Seperti proyek maju, kejadian baru menuntut
on the-spot lain berubah. Dengan jumlah yang banyak ini dari aktivitas yang
berbeda datang kebutuhan akan pemakaian instrumen yang berbeda dari pengukuran:
wawancara, laporan diri, daftar pertanyaan; daftar tilik, dan ukuran yang
rendah hati; yang tidak menarik perhatian lain.
Peran guru
diubah, terlalu, ketika mereka menunggu dekat di sekitar para siswa,
mengarahkan mereka, memandu mereka, dan mengusulkan dan menasehatkan jalan baru
eksplorasi. Parameter pemeriksaan tidaklah berdasarkan norma dengan jelas
bermanfaat. Hal ini sungguh-sungguh menyarankan pemanfaatan paradigma
pemeriksaan yang berbeda. Tetapi, sebelum kita secara rinci menjelajah
perbedaan ini di sini, beberapa tambahan anekdot yang diperlukan untuk secara
penuh menyerap sifat alami proses pemeriksaan.
Karena decade studi, dari kepemimpinan terungkapkan dalam
dua daerah riset yang berbeda, yang empiris dan penafsiran Firman Tuhan (Smith
&Blase, 1991). Didalam tradisi yang empiris, pemimpin yang berpendidikan
dilihat sebagai suatu pembuat keputusan, suatu pengontrol, dan seorang manajer
sumber daya. Para pemimpin memenuhi tugas yang serupa bahwa berputar-balik
disekitar intervi menuntut. Pandangan dari ini kepemimpinan sebagai keahlian
teknis disamakan dengan efektivitas dan melihat untuk menjadi efisiensi
dingorientasikan. Didalam skenario ini, para pemimpin mencari untuk secara
rasional memilih antara bersaing opsi. Pemimpin belajar mengorganisir
organisasi dan belajar proses untuk sampai pada penyamarataan seperti hukum,
teori, dan sebagainya. Hukum yang generalizable
lalu, membiarkan mereka untuk meramalkan lebih lanjut mengubah program dan
kebijakan. Yang lain, bagaimanapun, pendekatan konteks ini ketika mereka
mengutip kejadian ganda dimana penyamarataan bukanlah yang mungkin. Apa yang
hilang adalah penemuan dari hubungan sebab-akibat yang kronis antara dan antar
kejadian dan proses. Didalam paradigma baru ini, tidak ada yang seperti hukum,
garis dasar dunia diluar sana. Karenanya, himpunan aneka pilihan masuk akal
tidak bisa ada tersedia kepada pemimpin yang bidang pendidikan.
Secara kontras, pandangan penafsiran Firman Tuhan
menguraikan, kepemimpinan dalam kaitan dengan menggunakan istilah pemimpin
bertindak sebagai berbagai situasi. Didalam penyajian yang sebelumnya,
kepemimpinan menekankan kalkulasi makna dan tujuan, selagi suatu pandangan
makna mencari interpretive pemahaman
hal-hal dari makna manusia. Kepemimpinan lalu adalah keterbukaan akan isu-isu
dari makna manusia. Keputusan tentang apa dan bagaimana caranya mengajar bukan
masalah pengembangan teknis tetapi didasarkan pada diberi alasan ceramah,
pembagian pengalaman pribadi, dan mempertimbangkan pengalaman dari orang lain.
Kepemimpinan bukan suatu peristiwa yang dikendalikan, satu pemesanan, atau
ketertiban, tetapi yang diikat kepada siapa diri kita dan bagaimana kita
memimpin hidup kita. Kepemimpinan didalam tradisi yang dialogikal mencari
pemahaman lebih dalam sehingga kita dapat hidup dalam bidang pendidikan lebih
dengan sukses. Apa yang harus dikerjakan, dan mengapa kita harus melakukan itu,
menerima manfaat lebih dalam pada ceramah ini. Dua pandangan ini, kelihatannya
berselisih satu sama lain, mempunyai suatu pengaruh yang dramatis pada
pemeriksaan.
Dalam sebuah naratif yang terakhir, suatu audit lebih
lanjut dari proses pemeriksaan membentang dijelaskan. Stevenson (1993)
menujukan permasalahan mendidik administratif dan mengajar para profesional dan
mengembangkan untuk pendekatan pembaca semakin khas kepada pengembangan
pengurus. Didalam orientasi yang cerdik (suatu kiasan) para profesional
prospektif diperlakukan seperti orang baru dan bekerja seperti pada waktu
magang. Pada suatu pendekatan ilmiah yang tradisional, mengembangkan
profesional nampak oleh adalah satu agen diluar pengembangan kurikulum itu
proses hanya tanggungjawab siapa adalah dengan pengalaman pengujian pengetahuan
yang ditugaskan oleh satu staf pengajaran sewajarnya berorientasi riset.
Akhirnya, Stevenson menguraikan suatu pendekatan yang memantulkan cahaya dengan
mana para profesional yang mulai menanjak karir mengembangkan kemampuan itu
untuk membuat diberitahu, yang memantulkan cahaya, dan penilaian kritis diri
sendiri tentang praktek mereka. Lebih
lagi sangat para profesional ini siap diunjukkan kepada makna yang sistemik
lain dari analisa ketika mereka saling berhubungan dengan kondisi iklan hidup
struktural budaya riil disekolah-sekolah. Itu ada di tradisi
akhir ini bahwa suatu program persiapan menjadi dengan kritis yang memantulkan
cahaya. Persiapan menerima satu orientasi tindakan sebagai cerminan/pemantulan
para profesional yang kritis termasuk “artikulasi dan memberi alasan
pertimbangan bidang pendidikan (untuk menciptakan pertimbangan lebih dapat
dipertahankan untuk tindakan) dan pengujian hubungan antara itu keinginan dan
konsekuensi dari tindakannya" (Stevenson. 1993, Hal 107).
Konvensi lebih
baru ini menuntut bahwa persiapan profesional memprogram, selagi dengan baik
memelihara suatu tradisi riset yang kuat, harus pula mulai untuk mengembangkan
tujuan para profesional yang baru untuk melibatkan pengetahuan sebagai bagian
dari program intervi mereka. Sebagian
orang akan memerlukan jumlah keseluruhan kesanggupan untuk hanya tempat
peristiwa ini. Stevenson (1993) mengusulkan bahwa perguruan tinggi dan
universitas perlu kepada belajar untuk melakukan keduanya secara kolaboratif.
Anekdot yang
sebelumnya menyarankan kumpulan metoda dengan orang yang menunjuk permasalahan
pemeriksaan. Seperti Stevenson (1993) yang tersirat, teori dan praktek maupun
dari perhatian. Barangkali pada waktu yang sama ketika debat itu terjadi kita
mendapat pencerahan yang sangat berharga. Meski isu menujukan anekdot diatas mereka
yang kompleks, kompleksitas mempunyai keputusan penelitian bagaimana caranya
berproses. Salomon (1991) dan para rekan kerja nya tidaklah terutama sekali
tertarik akan pemilihan suatu proses pemeriksaan. Pemilihan Proses nampaknya
diakibatkan oleh tradisi mereka yang
meneliti permasalahan yang digambarkan oleh satu rangkaian pertanyaan peneliti
yang harus dijawab. Sementara peneliti ini kiranya terbiasa dengan banyak
metodologi riset, mereka kebanyakan ahli pada riset yang ilmiah.
Pada setiap kasus yang dibahas diatas,
bagaimanapun, peneliti memindahkan permasalahan pada paradigma dalam
pemeriksaan yang ilmiah untuk dipertimbangkan, menganggap aplikabilitas
pendekatan riset mereka pada suatu masyarakat. Memperdebatkan filosofis dari
pandangan bisa bermanfaat, tetapi debat tingkatan praktis harus berakhir
seperti penelitiandan stakeholders
perlu untuk menjawab pertanyaan arti penting pada masyarakat. Anekdot kita menunjukkan penting membangun
yang dikembangkan mempunyai keterkaitan pada para profesional dan para siswa . Berdebat
ke samping, satu orientasi hasil menggolongkan dari penerimaan dari “logika
menggunakan” (Firestone, 1987) dan lokal perlu sendiri. Dan, seperti Goodman
(1978) tersirat, dunia dalam serbaragamnya mempunyai banyak cara untuk menguraikannya.
Salomon (1991) menantang bahwa ini
mendorong suatu serbaragam metoda dan menambahkan suatu serbaragam tempat dan
peristiwa.
Praktek
metodologis seringkali berhubungan dengan diri sendiri dengan kebenaran. Dalam
kasus yang spesifik, mencakup perhatian
yang ekstrim untuk kebenaran dan perhatian yang lebih kecil. Bahkan kebutuhan
pendekatan yang kualitatif untuk melukiskan adanya rasa kebenaran, beberapa
kesetiaan pada kebenaran atau sebagai Guba dan Lincoln (1989) memberi label
keasliannya. Dalam pemakaian metode latihan, kebenaran adalah “Yang direncanakan” peristiwa. Kejadian
terpisah meminjamkan diri mereka kepada ukuran tradisional dan hasil nampak
sangat yang sesuai. Tetapi, didalam kasus yang lain, kita mulai untuk merasakan
keperluan yang riil untuk keaslian mengukur sebagai kejadian dan konteks yang
sistemik harus menggunakan suatu lebih banyak pendekatan ekologi kepada yang
peraya akan kemampuan. Dengan selalu berhubungan, bagaimana cara kita juga
meyakinkan trustworthiness atau keadaan
dapat diserahkan sebagai penemuan? Sementara patokan adalah suatu perhatian dan
pertimbangan, mereka bukanlah sepenting seperti pembuatan hasil kritis dan
memantulkan cahaya yang berharga yang dihakimi masyarakat pemakai. Keaslian dan
kepercayaan dan ukuran lain tidak diciptakan untuk suatu masyarakat auditor
yang ilmiah, tetapi lebih pada ukuran valid untuk riset kualitatif ketika
aplikasi riset memperoleh hasil yang
memuaskan untuk stakeholders.
Jika kita
mendengarkan banyak pengajar ilmu pengetahuan bidang pendidikan, kita mungkin
mendengar mereka menyiratkan bahwa riset perlu digunakan untuk menguraikan,
menghargai, menginterpretasikan, atau menjelaskan secara sosial dibangun
peristiwa. Dalam kejadian yang lain, positivists
memproklamirkan bahwa semestaan yang mendasar.
Cziko (1989) kelihatannya mengambil kedua sisi dari isu yang menyarankan
satu cara berpendirian interpretive,
yang diikuti oleh suatu keinginan untuk melihat riset menjurus kepada
implementasi dan penghamburan praktek bidang pendidikan yang inovatif (Hal 23). Pengajar tidak ada bantahan bagi
keduanya bukanlah mungkin bersama-sama, tetapi suatu tinjauan ulang dari proyek
riset yang berbeda yang menunjukkan persamaan dari keduanya. Ada usaha untuk
sampai di satu tujuan akhir paradigma yang berbeda didalam suatu kerangka yang
lebih besar dari sebuah komplemen. Dalam pengertian yang lebih besar, ketika
pemeriksaan terjadi dari suatu sudut pandang ekologis yang lebih besar, itu
hanya dapat menyediakan kegunaan dan pengaplikasiaannya. Didalam pengertian
yang terpisah, kombinasi variabel dapat ditunjukkan untuk memiliki kegunaan
yang lebih luas dan karenanya mungkin secara umum.
Meneruskan
lebih banyak orientasi proses yang berhubungan
dan memahami lebih lanjut. Sementara kebenaran berhubungan dengan riset terapan, dan pembedaan alami
melawan percobaan dan beberapa pertimbangan penting lainnya dalam aplikasi
pemeriksaan. Bertalanffy (1968) berargumentasi bahwa sistem biologi adalah
suatu pendekatan yang sangat berbeda
pada penemuan. Warisan rasional mengerjakan aplikasi, Bertalanffy menyatakan,
bukan sebelum kita sudah menyelidiki dinamika keseluruhan. Dalam contoh diatas,
Salomon (1991) dan para rekan kerjanya menemukan bahwa untuk memperluas model
riset mereka dalam satu proyek yang bersifat percobaan yang lebih besar,
kecenderungan mereka untuk mencari variabel terpisah dalam material pendukung
yang dipelajari.Dalam diskusi Stevenson persyaratan pendidikan profesional,
mengembangkan struktur yang hebat atau menyelidiki proses individu yang tidak
bisa sendirian mendukung suatu program pemeriksaan dengan kritis yang
memantulkan cahaya. Bahwa studi ini bersikap variable yang meragukan (metode
statistik sudah sangat ingin mengalahkan hal ini), hanya seperti diskusi kita
yang sebelumnya holografi menyarankan, membentuk dan fungsi belajar didalam
kehilangan yang interaktif penting yang terpisah dari mereka, mereka inti sari
bersama dengan pengoperasian keseluruhan. Pemisahan mekanis untuk kenyamanan
dari perhatian metodologis hanyalah efektif ketika kita secara penuh
mempertimbangkan, menganggap dan memahami
wujud dan fungsi.
Pemeriksaan
yang sistemik disebut inti kasus ekologis. Didalam mempertimbangkan lebih
lanjut tersebut, kita melihat konsekuensi Bartlett's (1932, di Iran Nejad et
al, 1990) penyederhanaan oleh pengasingan melawan pengintegrasian (lihat juga
Bertalanffy 1968). Sebagai contoh, didalam kepemimpinan belajar, pengarang hari
ini hanyalah memulai realisasi keperluan untuk mempelajari kepemimpinan dari
suatu konteks perspektif dan peran ganda yang sistemik didalamnya
(Smith&Blase, 1991: lihat juga Hunt, 1991; Rost, 1991; Senge, 1991). Untuk
membantu peneliti mengejar pemeriksaan sistemik Salomon (1991) sarankan suatu
proses pemetaan, Senge (1991) mengembangkan contoh sempurna, dan yang lain
mengembangkan pemetaan sebangun model.
Sebagaimana Salomon (1991), empat pertimbangan bersifat
penting ketika memilih suatu proses pemeriksaan: asumsi satu skema mengadopsi,
sifat dari peristiwa yang dipelajari, pertanyaan dianalisa, dan metodologi
riset yang dipekerjakan. Pemilihan yang berbeda, dengan mengabaikan dimana
memulai proses, hasil memisahkan macam pengetahuan. Secara epistimologis sistem
pilih membenarkan “terminology” dari keseluruhan proses. Didalam cahaya ini,
sistem pemeriksaan berbeda diharapkan untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan himpunan mereka
sendiri yang unik dari persyaratan metodologis. Seperti Lakatos
(1978) juga berkata, setiap sistem pemeriksaan yang terpisah berdasar pada yang
lain. Secara teoritis pemeriksaan memimpin kearah kemajuan empiris melalui uji
coba hipotesis, dan teori berkembang dari suatu pendekatan lebih sistemik. Shulman (1985) sarankan sejenis sistem meta
untuk riset mengajar, dimulai dengan paradigma yang kualitatif dan melangkah
maju kepada percobaan yang dikendalikan.
Untuk peneliti
dan mereka yang belajar pemeriksaan mungkin saja waktu untuk menyadari bahwa
tidak satu paradigma pun dapat memenuhi semua kebutuhan iset kemasyarakatan.
Tetapi untuk sampai pada kesimpulan ini dengan mengumpamakan berbagai wujud
dari pemeriksaan kemudian adalah tidak lengkap/terpisah dan keliru. Pemeriksaan
bukanlah hanya keberuntungan. Struktur kepercayaan jenis ini memimpin ke arah
yang sama dan dibatasi pandangan posited
sepanjang sejarah dari paham positifisme.
“Studi yang sistemik dari
lingkungan-lingkungan pelajaran kompleks tidak bisa beranak-cucu dan pasti
tidak bisa menghasilkan penemuan dan
kesimpulan dalam ketidakhadiran secara hati-hati mengawasi studi analitik dari
aspek yang terpilih di mana kebenaran yang internal dimaksimalkan” (Salomon, 1991, Hal 16).
5.10. Studi Kasus
5.10.1.
Pemeriksaan; Bagaimana Anda Mengetahuinya?
Dalam kejatuhan 1985, sekretaris pendidikan William
Bennett mengunjungi suatu sekolah menengah dekat Washington D.C. untuk mengajar
tentang Yakobus Penganut Asas Federal Madison Papers. Sementara tujuan aslinya
untuk menunjukkan suatu yang bersentuhan dengan sistem pendidikan Amerika,
Bennett dalam kunjungannya sebagai suatu demonstrasi pengajaran betapa bermakna
dan berharga orang muda Amerika. Eisner (1991) adalah bidang pendidikan, analis
meminta riset kinerja Bennett. Ia menyediakan sesuatu yang unik dan melihat
kedalam sekretaris pendidikan melalui suatu analisa yang naratif dari cara
bekerja. Analisa Eisner mempunyai studi yang sesuai. Setelah membaca adaptasi,
mempertimbangkan; latihan pada akhir studinya.
5.10.2.
Suatu Adaptasi; Eisner's Secretary dalam
Kelas
Sekretaris Bennett mempersiapkan untuk mengirim suatu
pengajaran tentang Federalist Paper dari siswa sekolah menengah. Seorang profesor
filsafat, masuk kelas pada awal tahun pelajaran yang baru untuk mengajar di
satu kelas dengan siswa yang beragam. Bagaimana nantinya ia? Dapat manusia ini
mengajar anak remaja? Bagaimana nantinya para guru didalam sekolah tersebut
bereaksi?
Dari awal, pengertian dari tujuan dan intensitas Bennett.
Menyesuaikan peralatan elektronik yang disediakan untuk seluruh negara yang
menyiarkan dengan televisi dan merekam peristiwa, Bennett membuka,mengetahui
dengan menyindir, “Ini hari yang tidak biasanya,” lalu mengatakan pada kelas, “Jika anda ingin
berpaling dan berkata hallo.” “Permisi Bu" ia berkata, dan kelas dari para
siswa sungguh demikian juga. Sebagai satu kapal pemecah es, ini bekerja dan
membantu kearah melepaskan/membebaskan ketegangan yang sudah berkembang.
“…Baiklah,
marilah kita mulai belajar. Saya akan menaruh nama saya dimeja supaya anda
dapat menulis sesuatu jika saya membuat kekeliruan.”
Bennett maupun
para siswa. Dengan pendahuluan atas, Bennett menggantungkan mantelnya dikursi
disebelah meja tulis, dan lengan baju atasnya, ketika ia mulai lompatan
mondar-mandir didepan dari ruang ke kamar. “Mengapa baca Federalist Why
mengganggu? Mengapa bukan tangkapan -Georgia-Alabama game ?” Ia meninggalkan
tidak diragukan bahwa ini suatu
pertemuan yang serius. “Marilah kita memulai pekerjaan.” Dewasa ini pelajaran
ketika berada diatas dengan enteng tanpa diskusi dangkal yang terbuka apapun
dipikiran siapapun, hanya suatu pengujian serius tentang gagasan yang sangat dipedulikan .
Tugas sekretaris
menetapkan para siswa itu untuk baca dan memahami Federalist Papers, secara
rinci. kertas nomor 10. Tujuan dari pelajaran itu adalah dua kali lipat. 1-Ic
berbagai keinginan untuk menyampaikan kepada para siswa gagasan dan asumsi
tentang pemerintah “kemarahan yang dibangun diatas konsepsi sifat manusia,
khususnya. pandangan dari Madison, sifat manusia dan kepercayaan pemerintah
yang bagaimana yang harus dibentuk. Yang kedua, Bennett tertarik untuk
mengembangkan kemampuan pemikiran siswa
yang kritis dan analitik itu. Ia sudah merencanakan taktik pengajaran yang pada
umumnya sebagai strategi pengajaran yang mempekerjakan dumat manusia. Ia tertarik akan gagasan pembagiannya sekitar
sifat dari pemerintah yang adil dan kegembiraan tentang membantu yang muda dan
menemukan apa yang ia pelajari. Bennett tidak asing pada material pengajaran
karena ia mengajar Federalist Papers sebelumnya.Ia mengatakan pada siswa kelas,
adalah “Dengan baik halaman sudutnya berlipat.” “Apa yang dimaksud dengan
fraksi?” ia tanya, “dan mengapa itu menjadi suatu masalah di masyarakat kita? Mengapa kebebasan
menyebabkan permasalahan fraksi?” Kebebasan, fraksi, dan kepentingan diri
adalah permasalahan dalam waktu Madison namun ada sekarang.
“- Kebebasan
menyediakan peluang itu untuk menjaga pendapat yang berbeda,” satu siswa
menanggapi. “Jika anda mendapat kebebasan dan memberinya kepada orang, orang
akan memiliki pandangan yang berbeda tentang kebebasan. Akan ada fraksi.”
“- Bagaimana cara
kita memecahkan permasalahan fraksi?” Bennett bertanya. “Mencabut kebebasan” ia
menanggapi dengan lalu, cepat mengikuti dengan suatu pertanyaan. “Kemenangan
tidak mencabut kebebasan?”
Hal ini
permasalahan fraksi mempunyai sedikitnya dua solusi. Pertama untuk mencabut
kebebasan. Tetapi melakukan itu dan negeri kita seperti kita ketahui itu
menghilang dengan cepat. Kesembuhan itu, untuk mengutip Madison, lebih buruk
dibanding penyakit. Yang kedua, memberi semua orang pendapat yang sama. Tapi
itu tidak mungkin juga. Lalu bagaimana mengerjakan satu nafkah suatu diri
sendiri menarik mayoritas dari pemanfaatan minat dari suatu minoritas selagi
memelihara kebebasan bahwa semua ingin mempunyai?
Pola dari jawaban
tepat isu ini dapat diprediksi. Bennett bertanya satu pertanyaan terbuka, bahwa
memerlukan kemampuan mengingat material baca dan satu pemahaman interpretive tentangnya. Para siswa
menanggapi dengan meminta pengembangan dan klarifikasi. Setelah suatu periode
seloroh, Bennett memperluas atas pengembangan para siswa disuatu konteks bahwa
tidak satu pun dari para siswa itu mampu memahami.
Tanggapan Bennett
biasanya sekitar sepuluh-kali lebih panjang dibanding tanggapan siswanya.
Bennett menggunakan dua gerakan yang bersifat pendidikan yang sering diakui
tetapi jarang digunakan. Ia meringkas poin utama kelas yang sudah dibahas pada berbagai interval dan
ia mengajar untuk penjelasan. Intensitasnya galak, ia melangkah, kadang-kadang
mengepalkan tinjunya, malamnya bergerak cepat dari sisi ke sisi. Ia pada
kamera, hanya satu pikiran sehat bahwa ini lebih dari sekedar suatu pertunjukan
untuk kamera. Bennett kelihatannya untuk sungguh mempedulikan apa yang sedang
ia ajarkan. Gagasannya mengatakan
menjadi bagian dari dia, kesungguhannya mengambil keseluruhan urusan diluar
peristiwa media, tujuannya untuk membantu para siswa memahami betapa penting
hal ini.
“-Aku mendapat
halangan ketika aku mendengar orang memperbicangkan tentang minat khusus
menggolongkan seolah-olah mereka adalah suatu hal yang baru. Madison harus
berhubungan dengan mereka di dalam waktunya sendiri. Ambil surat kabar mu dan
anda membaca surat kabar setiap hari iya kan? ia cocok kelas, menyiratkan bahwa
mereka harus membacanya. Ambil setiap surat kabar dan anda akan menemukan kasus
pembelaan, permohonan kelompok-kelompok minat khusus mereka.” Ia menunjukkan
titiknya dengan suatu surat kabar, ia membawa kepada kelas untuk bahwa
bermaksud. Ia menggambarkan titiknya sekitar diri sendiri menarik sifat dari
manusia dengan menguraikan suatu situasi dimana suatu kerumunan dari 150 orang
sedang berusaha untuk membeli 25 karcis pada suatu konser Bruce Springsteen. Ia
menggambarkan kompleks dan memisahkan dari Federalist Papers dengan satu contoh
dari hari ini bahwa yang muda ini dapat memahami.
Tidak hanya
Bennett mencoba untuk menghubungkan masa lampau itu kepada hadiah, tetapi
adalah juga menghubungkan permasalahan kepentingan diri dan kekerasan kepada
perguruan tinggi hari-harinya sendiri. Ia membawa kredibilitas kepada dirinya
iklan pada waktu yang sama menunjukkan manusianya sendiri. Bennett juga
menggunakan menggenapkan melengkapkan tentang kelas untuk keuntungan miliknya,
seperti contoh lagu bagus kepada para siswa yang tertentu. Adalah Union simpan ia tanya. Ia
memperbicangkan tentang keinginan Lincoln untuk selamatkan Union dan tegangan antara barang, kebebasan dari para budak dan
pemeliharaan dari Union. Sedikitnya hidup waktu selama pelajarannya koneksi
seperti itu dibuat. “Madison adalah bertujuan untuk pengamatan yang laten
penyebab fraksi ditaburkan berujud manusia.” Sifat manusia, oleh karena itu,
menyimpan banyak konflik dan kekerasan/kekejaman potensial. Pemerintah adalah
bermakna dengan mana diri sendiri minat dapat didamaikan kepada publik baik.
Bennett menunjuk pemerintah dan kebaikan dari pandangan dari kita orang-orang
dan pemerintah. Bennett mempunyai suatu misi dan suatu pesan dan bagian mereka
keduanya siap dengan para siswa. Ia menikmati perkelahian itu, tanami
pertanyaan, pemeriksaan, dan menantang para siswa secara terus-menerus.
Pertanyaan ditanya dengan sungguh dan masing-masing membuat suatu titik, yang
dirancang untuk memimpin para siswa melalui gagasan utama dan untuk suatu
pemahaman yang lebih dalam material.
Pertanyaan-pertanyaan
1.
Apa
paradigma pemeriksaan mu?
2.
Yang
didasarkan pada paradigma mu, bagaimana akan anda meneliti lingkungan
pengajaran menggambarkan diatas?
3.
Apakah
yang merupakan ajaran-ajaran yang utama dari paradigma pemeriksaan mu bahwa
akan menolong kita untuk mengajar lebih secara efektif?
4.
Sebagai
hasil riset, anda akan memenuhi dibawah paradigma pemeriksaan mu, apakah
sebagian orang penyamarataan lebih lanjut kita bisa membuat?
5.
Bisakah
anda membuat setiap penyamarataan-penyamarataan setelah mengamati rekaman asli
dari peristiwa ini? Apa hipotesis mu?








Tidak ada komentar:
Posting Komentar